[Ficlet-Mix] Sports Day

Standard

20161016_233904

Sports Day

Park Jimin, Park Minha, Min Yoongi

ficlet-mix | AU, Childhood, Friendship, Family, Fluff | G

.

.

.

#1: Back Then…

“Lomba lari enam kaki! Ayolah, kita bisa mendaftar ini bersama! Tidak ada yang mengatakan kalau kamu harus satu tim dengan teman sekelas!”

Park Jimin nyaris melonjak-lonjak di tempat, kedua tangan terulur untuk menggengam lengan Park Minha dan Min Yoongi. Mengguncang-guncangkannya, lengkap disertai tatap memelas yang seharusnya cukup ampuh. Namun, mengenal Jimin, kedua orang di depannya tak bereaksi. Minha—sang adik—memilih untuk ikut memasang rupa merajuk, sementara Yoongi—kakak kelas mereka—menghela napas panjang-panjang.

“Minha masih lelah, Kak.”

“Tapi Minha—“

“Lagi pula,” Yoongi memotong, tanda bahwa ia setuju dengan Minha, “kami sudah punya hal lain untuk dilakukan.”

“Kalian mau ikut lomba yang lain?” Jimin memajukan bibir bawahnya, tampak patah semangat. “Lomba apa?”

“Ini bahkan lebih asyik dari sekadar lomba,” timpal Yoongi, selagi ia mengedipkan sebelah mata ke arah Minha dan memasang ekspresi penuh arti. “Yuk, kita ke sana, Minha-ya.

Dengan lengan Yoongi yang terkalung di pundaknya, Minha menurut saja saat lelaki yang duduk di kelas enam SD itu menggiring ia ke sisi timur lapangan. Biarkan Jimin mengikuti dengan langkah tersaruk, masih sebal namun juga penasaran. Memangnya, mereka berdua mau apa, sih? Bukannya ikut lomba dan memenangkannya di sebuah festival olahraga sekolah adalah hal terbaik yang pernah ada? Memang ada yang lebih asyik dari itu?

“Yoongi Hyung?”

Langkah ketiganya berhenti tepat di depan stand penjual makanan dan minuman, selagi Yoongi berjalan mendekat untuk memesan sesuatu. Tak butuh waktu lama, lelaki itu kembali lagi dengan dua gelas plastik di tangan. Lengkap dengan es serut warna-warni yang menghiasi bagian atas, juga sedotan besar warna kuning cerah. Yoongi mengulurkan salah satu minuman itu ke arah Minha—yang diterima dengan sorakan senang—sementara gelas yang satunya….

“Bagianku mana?”

Jimin memprotes sejurus kemudian, lengan tersilang sementara ia memelototi Yoongi yang sedang menyedot minumnya sendiri. Kedua pupil tampak tak bersalah, pun dengan ekspresi mukanya saat menjawab, “Lho, katanya kamu mau ikut lomba.”

“Tadi kalian tidak mau ikut lomba bersamaku!”

“Kamu kan, sudah mendaftar lomba yang lain.” Yoongi mengingatkan, menunjuk gelang di tangan Jimin yang berfungsi sebagai penanda. “Lomba lari enam puluh meter, bukan? Kurasa sebentar lagi—“

Tepat saat itu juga, pengumuman terdengar dari pengeras suara. Meminta seluruh peserta lomba lari enam puluh meter untuk bersiap di garis start, tanda bahwa Jimin harus lekas pergi.

“Tuh, sudah dipanggil,” ucap Yoongi lagi, kelewat santai. “Kamu saja yang ikut lomba, Jimin-a. Aku dan Minha akan menonton. Iya, kan?”

Seolah penderitaan Jimin belum cukup, Minha lekas mendongak dari keasyikannya meminum es serut. Dengan polos memberi senyum manis dan anggukan, diikuti dengan sebelah kepalan tangan yang teracung tinggi ke udara.

“Kak Jimin, semangat ya! Kami akan mendukungmu dari sini!”

.

.

.

#2: Present Day

“Oke, cukup. Aku mau beristirahat sejenak.”

Minggu pagi, dan Min Yoongi harus merelakan waktunya bercumbu dengan kasur diusik oleh Park Jimin. Tetangga sekaligus kawan dekatnya itu menggedor pintu apartemen pada pukul tujuh tepat, mengajak Yoongi untuk bermain basket di taman terdekat. Sesuatu yang tadinya hendak Yoongi tolak, kalau saja ia tidak bertemu tatap dengan Minha yang berdiri di balik punggung Jimin.

Gadisnya itu tampak sama merananya dengan Yoongi, wajah mengantuk sementara Jimin menyeretnya kesana-kemari. Jelas kalau Jimin menganggap bahwa ini adalah hari yang baik untuk berolahraga; sementara di sisi lain, Minha dan Yoongi kompak menyebutnya sebagai hari baik untuk tetap terlelap.

Pada akhirnya Yoongi mengalah, berpikir kalau ia bisa menemani Jimin sebentar dan lebih banyak mengobrol dengan Minha. Astaga, ia lelah bukan main saat ini. Setelah begadang selama empat hari berturut-turut, Yoongi hanya ingin ketenangan dan waktu untuk bertukar obrolan santai. Santai yang tidak melibatkan pantulan bola basket, juga teriakan mengeluh Jimin ketika ia berjalan ke tepi lapangan.

Hyung, beberapa menit lagi saja sampai aku bisa—“

“Aku mau beli minum.”

Berkata dengan tegas, Yoongi lantas mengambil dompet yang ia titipkan pada Minha dan bergerak menjauh. Tinggalkan sang gadis yang duduk di tepi lapangan, berusaha keras untuk tidak kalah dari Jimin yang kini sedang menarik-narik lengannya. Yoongi hanya bisa terkekeh, tapi diam-diam ia sudah punya rencana.

Butuh waktu lima belas menit bagi lelaki itu untuk kembali ke lapangan, lantas mendekati Minha yang terengah-engah dan menundukkan badan. Agaknya, Jimin berhasil membuat gadis itu terjun ke lapangan. Rupa Minha tampak kesal, tapi Yoongi tahu cara untuk membuatnya merasa lebih baik.

Menunggu sampai Jimin memusatkan seluruh fokusnya pada ring, Yoongi beringsut mendekati Minha. Membisikkan sesuatu di telinganya, lantas mengedikkan dagu ke arah dua cup es krim di tangan serta sebuah pohon besar yang berjarak sekitar sepuluh meter jauhnya. Mereka bertukar tatap, lantas sama-sama memasang cengiran penuh sekongkol.

“Kak Jimin, sini bolanya!”

Minha sengaja meneriakkan kalimat itu, selagi Yoongi berlari menjauh ke tempat pertemuan mereka. Mengamati bagaimana Minha menerima lemparan bola dari Jimin, lantas pura-pura men-dribble dan melemparnya—uh, wow, Yoongi harus mengakui kalau lemparan asal Minha cukup jauh juga ternyata.

Aish, Park Minha!”

“Maaf, maaf! Tolong ambilkan bolanya ya, Kak? Aku lelah sekali.”

Gadis itu sekarang mengusap keringat, berlagak ia tak lagi kuat berlari untuk mengejar bola. Berpolah sedikit manja, tahu bahwa ia akan selalu bisa meluluhkan hati kakaknya. Dan Park Jimin memang luluh. Mengacungkan jempol, ia lekas berlari mengejar bola yang dilempar Minha. Mengalihkan atensi, selagi Minha tergelak dan bergerak cepat menuju pohon tempat Yoongi menunggu.

“Ide bagus, Min Yoongi.”

Satu cup es krim Yoongi berikan pada Minha, lalu keduanya duduk bersandar di batang pohon besar tersebut. Menikmati dingin serta segarnya es, menandaskannya dalam waktu singkat. Detik berikutnya, Minha sudah menggunakan bahu Yoongi sebagai bantal, sementara sang lelaki merangkulnya dan memainkan helai-helai rambut sebahu sang gadis.

“Omong-omong, aku merasa situasi ini familiar.” Minha bergumam, kedua mata sudah nyaris terpejam. “Iya kan, Min Yoongi?”

Yoongi belum sempat menjawab, atau barangkali tak akan pernah menjawab. Tidak karena teriakan seseorang baru saja terdengar, mengejutkan beberapa pengunjung taman dan membuat mereka terpaksa menahan tawa.

Ya! Park Minha! Min Yoongi! Kenapa kalian selalu tega melakukan ini padaku, sih?!”

.

fin.

iseng karena kemarin pas bikin kolase nemu foto itu dan… berasa Jimin ngajak olahraga tapi dua orang lainnya terlalu (dan selalu) mager buat ikutan wkwkwk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s