[Greek Mythology Remake] Much Like Lord of The Sea

Standard

greek-remake-ken

 

much like Lord of the Sea

written by tsukiyamarisa; part of Greek Mythology Remake project

based on story of Poseidon and Amphitrite

.

VIXX’s Ken as Kendrick Lee, OC’s Aelia Grace

Oneshot | AU, Romance, slight!Fantasy, slight!Comedy(?) | T

.

“Aku ingin tertawa sampai menangis karena ini konyol sekali.” 

.

.

.

“Oh, baguslah. Kupikir kau tidak akan bangun sampai Artemis bertugas nanti.”

Sang pemuda bermarga Lee mengerjap, berguling di atas alas tidur kecil yang sudah ia tempati selama seminggu belakangan. Pandang beredar ke seluruh kamar sempit itu, mendapati bahwa teman sekamarnya sudah berdiri bersandar di dekat jendela. Lengkap dengan senyum lebar, sementara yang disapa hanya menggerutu dan berusaha mencuri kesempatan untuk memejamkan kelopaknya lagi.

“Kau benar-benar akan tidur sampai bulan terbit nanti?” Lelaki berambut ikal kecokelatan yang sudah siap sejak tadi—Alex—mengulangi kalimatnya dalam bahasa yang lebih mudah dipahami. Mungkin mengira bahwa sindirannya yang pertama tidak dipahami oleh Kendrick Lee, kendati sesungguhnya lelaki yang masih setengah tertidur itu telah membiasakan diri dengan semua lelucon berbau dewa-dewi Yunani serta kawan-kawannya.

Yang mana mengingatkan Kendrick, bahwa dirinya telah pergi cukup jauh dari rumah dan harus mulai bertanggung jawab atas keputusan itu.

“Demi Zeus, memang ini jam berapa?” Kendrick akhirnya bergerak bangun, meregangkan kedua lengan seraya berusaha duduk. “Kurasa, menilik dari kata-katamu, matahari belum tenggelam, kan?”

“Zeus adalah dewa langit, omong-omong,” balas Alex, merujuk pada gerutuan Kendrick yang dirasanya kurang tepat. “Kau benar. Matahari belum tenggelam, tapi kau adalah pegawai baru di kafe Malvasia. Dan kurasa, itu berarti aku harus menjelaskan berbagai macam hal padamu sebelum shift kerja dimulai.”

Ken—sang lelaki lebih suka dipanggil begitu, omong-omong—terpaksa menurut. Manik melirik sebentar ke jendela, sementara telinganya mendengar gumam-gumam percakapan yang penuh semangat di luar sana. Monemvasia sejatinya memang tak pernah sepi, tidak karena pulau yang terletak terpisah dari daratan utama Peloponnesia ini memang dipenuhi oleh berbagai bangunan bergaya Abad Pertengahan. Kendati demikian, Ken bukan kemari untuk berwisata. Alih-alih, ia sedang melarikan diri dan—

Oy!”

“Oke, oke. Beri aku lima belas menit, dasar cerewet.”

“Seperti kau tidak cerewet saja,” balas Alex, sementara Ken bergegas bangkit dan melipat alas tidurnya dengan asal. Tungkai lantas bergerak menuju tasnya, mencari-cari sebuah celana panjang cokelat untuk dipakai berganti.

“Oh ya…”

“Ya?”

Thanks, kurasa,” ucap Ken seraya mengedikkan bahu, tatap tertuju pada Alex yang bertubuh lebih pendek darinya. “Kautahu kan, aku tak bisa melakukan apa-apa tanpamu? Satu-satunya orang yang menolongku di sini adalah kau dan—”

“Astaga, demi Eros dan panah cintanya! Kau tidak sedang terkena panahnya dan mau merayu, kan?”

“Lupakan saja,” balas Ken, tetapi bibirnya menyunggingkan cengiran selagi ia memasuki kamar mandi. Dengan sigap mencuci muka dan menggosok gigi, lantas berganti mengenakan seragam kerja yang telah ia terima tempo hari. Shift kerja pertamanya memang baru akan dimulai saat senja datang nanti; namun seperti kata Alex, ia harus menjalani masa orientasinya lebih dulu. Dan tidak, ia benar-benar tak mengeluh. Setelah kabur dari kota ke kota dan akhirnya berakhir di Monemvasia, Ken sudah mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia akan mencoba untuk tinggal di sini.

Ditambah lagi, ia punya teman sekarang.

Alex dan dirinya memang tak sengaja bertemu waktu itu, tepatnya di jalanan yang menghubungkan daratan Peloponnesia dengan Monemvasia. Keduanya mengobrol sejenak, sebelum akhirnya merasa akrab layaknya teman lama. Kala itu, Ken menyatakan bahwa dirinya sedang mengembara dan bermaksud untuk singgah sebentar di Monemvasia. Well, siapa sangka kalau Alex malah menawarinya untuk berbagi tempat tinggal dan akhirnya mengajak Ken untuk menetap sekalian?

Atau mungkin lebih tepatnya, “Mengapa kau tidak menetap dan bekerja saja, jadi kita bisa membagi biaya hidupnya berdua?”

Sekali lagi, Kendrick Lee tidak mengeluh.

Toh, rumah kecil ini membuatnya betah, dengan dinding yang terbuat dari tumpukan batu-batu berwarna krem keputihan. Orang-orang yang tinggal di sekitarnya pun ramah, seolah hendak membuktikan keindahan kota mereka yang terpencil. Oh, dan jangan lupakan jalan-jalan setapak yang membentang, lengkap dengan pot-pot kecil berisi bunga aneka warna serta pepohonan rindang di beberapa sudut.

Singkat kata, Ken menganggap pulau ini sebagai tempat yang tepat.

Tepat baginya yang ingin membuang jauh-jauh masa lalu, tepat baginya untuk berpetualang dan tenggelam dalam warna-warni kehidupan.

Jadi, apa lagi yang perlu dia khawatirkan?

Karena bagi Ken sekarang, hidupnya sudah dapat dikatakan sempurna.

.

-o-

.

Atau mungkin, ia salah.

Sedikit salah.

Malam mulai menjelang, bohlam-bohlam lampu memancarkan sinarnya di berbagai sudut. Monemvasia di kala gelap adalah suatu keindahan tersendiri, layaknya sebuah negeri yang menawarkan berbagai keajaiban. Terlebih dari Kafe Malvasia tempatnya bekerja, lantaran tempat yang terletak di bagian tebing itu memiliki halaman beranda yang cukup luas. Hamparan laut juga tampak jelas di depan mata, membentang damai sementara purnama bersinar terang di atas sana.

Ken baru saja mengantarkan dua gelas minuman dingin serta kue-kue ke salah satu tamu, menebar senyum sebelum beranjak pergi. Maksud hati hendak kembali ke bagian dalam kafe, mungkin meminta sebotol air dan beristirahat sejenak, tepat ketika….

Baiklah untuk musik malam ini, kurasa kalian sudah tak sabar, bukan?”

Oh, wow.

Sang lelaki bersiul dalam hati, manik spontan tertuju pada pemilik suara barusan. Seorang gadis bersurai sewarna cokelat padang pasir telah menangkap perhatiannya, berdiri di sebuah panggung kecil seraya membawa gitar. Rambut panjangnya yang dikepang dan dihiasi dengan kuntum-kuntum bunga kecil berwarna putih tersampir pada pundak kanan, tampak serasi dengan terusan putih selutut yang ia kenakan. Bibirnya membentuk senyum, menampakkan lesung di pipi kirinya. Netranya memiliki warna seperti laut, biru gelap yang mampu membuat Ken merasa seperti terperangkap di dalamnya.

Membiarkan maniknya terpancang pada gadis itu, Ken bisa merasakan sesuatu terjadi pada dirinya. Tiba-tiba saja, jantungnya berdegup lebih cepat. Pipinya memanas, ujung-ujung bibirnya enggan berjungkit turun. Dunia seolah kabur; tepuk tangan pengunjung Kafe Malvasia saat gadis itu mulai bernyanyi seolah tak berarti. Yang Ken inginkan hanyalah menunggu sang gadis selesai membawakan pertunjukkannya, karena pada saat itulah ia akan langsung memberikan pujian tulus.

Atau mungkin, ia bisa menyatakan perasaannya sekalian?

Gadis itu kini telah selesai membawakan satu lagu, menunggu sampai tepuk tangan mereda sebelum ia menyanyikan lagu lain. Tapi, Ken tidak membiarkan lagu berikutnya mengalir semudah itu. Tidak karena ia sudah melesat dan berdiri di hadapan sang gadis, memasang ekspresi terbaiknya seraya berucap, “Suaramu bagus sekali, Nona.”

“Oh. Eum, terima kasih.”

“Kau juga sangat cantik.”

Yang dipuji hanya memberikan senyum singkat, menggaruk tengkuk. Tidak tahu harus merespons apa, sampai Ken kembali membuka mulut dan mengucapkan sebaris kalimat paling bodoh di dunia:

“Kalau begitu, kita pacaran, yuk!”

.

-o-

.

“Kautahu Kendrick?”

Yeah?”

“Saat ini aku benar-benar berharap agar Nona Aphrodite muncul dan berkata ‘TARAA! Benar sekali! Aku baru saja menanamkan benih cinta dan menyuruh kawanmu berbuat konyol!’. Sesuatu yang semacam itu.”

“Bung, kenapa tidak pernah bilang kalau ada gadis secantik itu di tempat kita bekerja?”

Alex membalas dengan decakan, paham bahwa kata-katanya tidak akan didengarkan oleh sang teman. Insiden pernyataan cinta Ken yang teramat tiba-tiba tadi telah berujung pada sesuatu yang—sebenarnya—sedikit menyedihkan.

Setelah sukses menjadi pusat tontonan dari seluruh pengunjung kafe, sang gadis hanya memberikan senyum yang sedikit terpaksa dan langsung memalingkan wajah. Tangan bergerak lincah memetik senar gitar, abaikan Ken yang masih berdiri dan sepenuhnya terpana. Alex bahkan sampai harus datang untuk menarik Ken menjauh, mengatakan bahwa ia harus kembali bekerja (“Tentunya kau tidak mau dipecat di hari pertama karena ketahuan melamun sampai meneteskan air liur, kan?!”) dan berjanji akan mengenalkan Ken pada gadis penyanyi itu nanti.

Hanya saja….

“Maaf, tapi aku tidak mengenalmu.”

Itu adalah jawaban sang gadis, yang kemudian Ken ketahui—itu pun setelah ia memaksa Alex—bernama Aelia. Nama yang indah, begitu komentar Ken beberapa menit berlalu, lengkap dengan tatap menerawang. Agaknya masih belum bisa melupakan sang gadis, sesuatu yang bisa Alex pastikan kebenarannya lantaran Ken tahu-tahu menoleh dan menyambar lengannya dengan antusias.

“Apa?”

“Kau bisa membantuku, Alex.”

Itu adalah sebuah pernyataan, yang lantas membuat Alex menjungkitkan alis. Seingatnya, ia belum menyetujui apa pun selama dua jam belakangan. Rungunya terlalu sibuk mendengar ocehan Ken tentang Aelia, bagaimana lelaki itu terus berkata bahwa ia tidak akan menyerah begitu saja dan ….

“Kau pasti lebih mengenalnya dibanding diriku. Dia sering bernyanyi di kafe ini, kan?”

Alex menyumpah di dalam hati.

“Jadi, bantu aku untuk mendekatinya! Hal-hal apa yang ia sukai, bagaimana caranya agar ia memberikan perhatiannya padaku … kau pasti bisa, Alex!”

Alex kembali memaki, kali ini berharap agar ia bisa mencelupkan Ken ke Sungai Lethe di Dunia Bawah sana. Atau … apakah itu terlalu kejam? Alex tidak yakin mana yang lebih mudah: berurusan dengan teman yang mendadak amnesia atau teman yang sedang dimabuk cinta pandangan pertama.

“Aelia tidak akan melirikmu, Tuan Kendrick Lee,” balas Alex pada akhirnya, kendati Ken telah melempar tatap merana. “Astaga, gadis itu sudah hampir setahun melakukan pertunjukan di sini dan tak ada seorang lelaki pun yang menarik perhatiannya. Semua ia tolak. Nah, kecuali kau punya sesuatu yang istimewa …”

“Aku bisa mencoba!”

“Aku tetap tak yakin ia akan melirikmu. Sepertinya, ia sudah terlanjur punya kesan pertama yang buruk terhadap dirimu,” sahut Alex tanpa jeda, memberikan penekanan pada kata “buruk”. “Intinya, menyerah sajalah, kawan. Sebelum semuanya terlambat. Masih banyak gadis cantik di Monemvasia—oh, atau mungkin kau bisa mulai berkenalan dengan turis? Itu ide bagus, tahu!”

Namun, Ken hanya membalasnya dengan gelengan sopan. Kepala tertunduk, selagi ekspresi sedih sekaligus pantang menyerah bercampur di rupanya.

Trims. Tapi, aku masih belum mau menyerah, Alex.”

.

-o-

.

Kalau ada hal yang bisa Ken banggakan, itu adalah kemampuannya untuk selalu optimis.

Meskipun menurut Alex, itu adalah tanda bahwa Ken tidak mau mengakui kekalahan.

Lelaki itu masih mengamati Aelia setiap kali sang gadis melakukan pertunjukan, berusaha mengajaknya mengobrol kendati ia didiamkan. Beberapa kali, ia bahkan sengaja memberikan segelas minuman segar atau piring berisi kue-kue manis, yang semuanya ditolak dengan halus oleh Aelia. Begitu pula dengan hari ini, lantaran Ken sudah bersiap dengan beberapa tangkai bunga di balik punggungnya, siap menghampiri sang gadis yang berjalan menuju panggung kecil, tepat ketika bunyi “bruk” terdengar diikuti suara mengaduh.

Refleks Ken bergerak secepat kilat, tak peduli betapa pun klisenya adegan barusan. Lelaki itu bahkan sempat-sempatnya berterima kasih pada si dewi cinta, bersumpah akan menggunakan kesempatan ini untuk menunjukkan kebaikan hatinya. Tangan terulur untuk membantu Aelia berdiri (yang mana untuk sekali ini ia tak menemui penolakan), membawanya duduk di kursi terdekat sembari memastikan bahwa gadis itu tak terluka.

“Aku baik-baik saja,” gumam Aelia, berusaha menjauhkan tungkainya dari tangan Ken yang terulur. Gadis itu membiarkan manik biru lautnya untuk bertemu dengan milik Ken, seolah dari sana ia hendak menegaskan kata-katanya. Mereka bertukar tatap selama beberapa sekon, sampai Aelia lebih dulu berdeham dan bergegas bangkit berdiri. “Terima kasih, omong-omong.”

Ken mengangguk cepat, menatap bunga yang masih ia genggam di tangan (dan tetap berada di sana selama ia membantu Aelia berdiri tadi). “Baguslah kalau kau baik-baik saja. Em … mungkin … mungkin bunga ini bisa—“

Namun, alih-alih diterima, Aelia hanya mengedikkan kepalanya singkat dan lekas pergi. Kedua lengan terangkat untuk memeluk diri sendiri, bibir merapalkan sesuatu yang terdengar seperti “Tidak. Ini tidak mungkin terjadi. Ini tidak mungkin nyata” seraya terus berjalan. Jelas sekali bahwa ia tak lagi berminat untuk melakukan pertunjukan, meninggalkan Ken yang hanya mampu terbengong sementara Alex tergelak di kejauhan.

“Aku … tidak melakukan sesuatu yang salah, kan?”

“Aku sudah mengingatkanmu, Kawan.”

“Ayolah, aku hanya membantu!”

Alex mengangkat bahu sebagai jawaban. “Mungkin ia malu?”

“Karena aku tiba-tiba memberinya bunga?”

“Karena dia baru saja terjatuh, Bodoh.” Alex memutar bola mata, ingin sekali melempar Ken dengan nampan yang ia bawa. “Oke, oke, aku paham kalau kau belum menyerah. Tapi, mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk mencoba merayunya. Lagi pula, masih ada lain waktu, kan?”

Yang diajak berbicara bungkam sesaat, sebelum akhirnya membalas dengan lesu. “Kurasa begitu.”

Tapi, sementara Ken melanjutkan pekerjaannya—mengambil pesanan dari beberapa meja, mengantarkan pesanan, hingga merapikan kursi-kursi di saat kafe tutup—sebuah firasat buruk mendadak datang menghampirinya. Bergelayut di dalam kepala, membuat mood-nya yang memang sudah buruk menjadi makin buruk. Ini mungkin berhubungan dengan absennya pertunjukan dari Aelia malam ini, tetapi ….

… yah, entah mengapa, Ken merasa bahwa gadis itu akan makin susah ditemui.

.

-o-

.

Uh, seharusnya ia tidak berpikiran buruk kala itu.

Aelia menghilang.

Oke, mungkin ia sedikit berlebihan. Namun, intinya, Aelia telah menghilang dari jangkauan pandangnya. Gadis itu tak lagi datang untuk bermain gitar atau bernyanyi, seakan ia sedang mempertegas maksudnya untuk menghindari Ken. Sang lelaki bahkan sudah bertanya pada Alex (“Apakah dia pernah seperti ini? Semua lelaki ditolak dengan cara yang sama, kan?”), tapi sialnya ia menemui jawaban berupa tepukan di pundak dan tatap penuh simpati.

“Maaf, Bung. Kurasa kau yang pertama.”

Jadi, begitulah.

Ken menghabiskan harinya dengan menerawang di kala ia punya waktu senggang, memikirkan apakah ia telah berbuat sesuatu yang kurang berkenan di hati. Sebagian kecil dari dirinya merasa bersalah, lantaran ia merasa bahwa terusirnya Aelia dari Kafe Malvasia adalah tanggung jawabnya. Beberapa kali ia bahkan berpikir untuk mengelilingi Monemvasia demi mencari sang gadis—toh, kota tempat tinggalnya ini juga tak besar-besar amat.

“Kau jadi mengenaskan begini,” komentar Alex pada suatu siang, tepat saat keduanya sedang berjalan-jalan di pusat kota demi memanfaatkan hari libur mereka. “Sebenarnya, Kendrick—“

Perkataan Alex terpotong tepat saat Ken merentangkan sebelah lengan, menghentikan laju langkah mereka. Lelaki yang lebih tinggi itu nyaris saja melompat girang di tempat, telunjuk lantas diarahkan pada satu titik di seberang jalan. Tak jauh dari mereka, tampaklah Aelia yang sedang membeli roti di sebuah toko. Rambut dibiarkan tergerai, sementara terusannya yang berwarna biru muda sedikit tertiup angin.

“ASTAGA AL—“

Alex membungkamnya dengan sebelah tangan, dengan sigap menarik Ken ke balik salah satu pohon yang ada. Sorot mata dibuat setajam mungkin, memastikan Ken tidak melanjutkan teriakannya sebelum ia berkata, “Aku akan membantumu.”

“Apa? Sung—“

“Asal kau diam di sini. Percaya saja padaku, mengerti?”

Ken belum sempat memberikan jawaban, lantaran Alex sudah lebih dulu pergi dan berlari menghampiri Aelia. Mereka bertukar sapa sejenak, yang lantas diikuti dengan obrolan singkat. Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas Ken sempat melihat Alex menunjuk ke arah pohon tempat Ken bersembunyi seraya mengulas senyum (yang Ken harap, adalah senyum penuh permohonan).

Menit demi menit berlalu, Ken menggerak-gerakkan kakinya dengan gelisah sembari berusaha bersenandung. Tapi, suara yang keluar dari bibirnya terdengar begitu sumbang. Beberapa turis dan penduduk kota bahkan telah memberinya tatap aneh, yang dibalas Ken dengan cengiran gugup. Lelaki itu akhirnya berganti mengamati jumlah semut yang sedang merambat di dinding terdekat, baru saja menghitung sampai angka tiga puluh enam, ketika …

“Alex bilang, kauingin berbicara padaku.” Suara Aelia tahu-tahu terdengar, diikuti sosoknya yang sekonyong-konyong berada di sebelah Ken. “Aku juga punya sesuatu untuk dibicarakan.”

“Eh … itu … aku—“

“Tidak di sini,” imbuh Aelia tanpa menunggu ucapan Ken, lantas langsung berbalik dan mulai berjalan. “Kalau kau memang masih ingin berbicara padaku.”

Menelan ludah, Ken bisa melihat Alex yang mengacungkan jempol kepadanya. Mengisyaratkan agar ia mengikuti kemauan sang gadis, agar ia tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Rasa gugup melandanya lagi; membuat kupu-kupu beterbangan di dalam perut, tungkai bagai berubah menjadi timah dan susah digerakkan, suara nyaris hilang sampai-sampai ia tak bisa membalas ajakan Aelia barusan.

Namun, ia tak mungkin membuang kesempatan ini, bukan?

“T-tunggu aku, Nona!”

Maka, Ken pun langsung berlari menyusul sang gadis.

Sembari dalam hati bersumpah, bahwa ia akan mentraktir Alex jikalau semuanya berjalan lancar.

.

-o-

.

Aelia membawanya ke sisi pulau yang jauh dari jangkauan turis maupun penduduk.

Monemvasia adalah pulau yang tak terlalu besar, berbentuk seperti mata (itu menurut Ken), dan kotanya dibangun hanya pada tebing di sisi tenggara pulau. Orang-orang biasa berjalan kaki di sini, mengingat jalanan yang memang sempit dan senantiasa dipadati oleh kerumunan manusia. Untuk mencari tempat yang cukup sepi, maka kau harus susah-payah pergi ke sisi timur laut dari pulau. Mendaki beberapa karang-karang, sebelum mendudukkan diri menghadap pantai yang terbentang.

Itulah yang mereka lakukan sekarang.

Duduk di atas dua batu yang cukup datar, saling berhadapan sementara debur ombak terdengar di latar belakang.

“Alex menyuruhku melupakan apa yang terjadi di kafe, pada hari pertama kau bekerja.” Aelia membuka konversasi, mengetuk-ngetukkan jemari pada batu tempatnya duduk. “Oke, aku akan melakukan itu. Dengan satu syarat.”

“Syarat?”

“Oh, tapi pertama, namaku Aelia Grace. Kurasa sebaiknya kita berkenalan secara benar lebih dulu?”

“Oh.” Ken menggaruk tengkuk, yakin bahwa wajahnya sudah memerah saat ia mendengar penekanan pada kata benar. “Er—Kendrick Lee. Penduduk baru Monemvasia. Tinggal bersama Alex. Panggil saja aku Ken. Lahir 6 April 1992, umur 24 tahun. Aku bekerja di Kafe Malvasia—itu kau sudah tahu. Lalu, aku suka pantai, dan laut, dan berenang, dan seafood—

“Perkenalannya sudah cukup,” potong Aelia, menghela napas dalam. “Baik, Ken. Syaratku, seperti yang sudah kukatakan, adalah aku butuh alasan. Ini …” Aelia mengibaskan tangannya ke pemandangan kota yang ada di belakang mereka. “… Monemvasia memang memiliki bangunan ala abad pertengahan, oke? Tapi ini sudah abad 21, demi Hades! Kalau kaupikir menyatakan cinta secara tiba-tiba itu keren—“

“Kau marah?”

“Tidak. Aku ingin tertawa sampai menangis karena ini konyol sekali.”

Aelia menyilangkan kedua lengan di depan dada, memberi Ken tatap datar. Kendati demikian, ia sama sekali tak kabur atau memperlakukannya dengan dingin lagi. Ia menunggu, menanti sampai Ken membuka mulut dan menjelaskan segalanya.

Yang mana, penjelasan itu adalah sesuatu yang membuat sang gadis hampir tersedak.

“Aku … aku tidak tahu bagaimana cara mengajak perempuan berkencan atau semacamnya.”

“Hah?”

Ken meraih salah satu pecahan batu karang yang ada, memainkannya dengan kedua tangan sebelum melanjutkan, “Setiap kali ayahku tertarik pada seorang perempuan, ia akan langsung membawanya pulang ke rumah.”

“Ayahmu …?”

Untuk sekali ini, Ken tidak tampak gugup atau kelewat percaya diri seperti biasa. Alih-alih, ia malah tampak suram. Seolah tak mau membicarakan segala hal yang berkaitan dengan ayahnya, seolah malas menguak masa lalu yang telah ia tinggalkan. Namun, setelah menyadari bahwa Aelia masih memandanginya lekat, entah mengapa keengganan itu perlahan-lahan menguap pergi.

Tunjukkan padanya kalau kau ini lelaki sejati, Kendrick Lee!

“Jangan tahu-tahu menjerit atau kabur dariku, oke?”

Satu anggukan dari sang gadis sebagai respons.

“Yah, ayahku—atau mungkin tepatnya orang yang mengurusku sejak kecil—adalah seorang gangster. Ia mencari uang dengan cara memukuli orang atau semacamnya. Dan aku sudah begitu terbiasa tinggal sendirian di rumah, jadi—“

“Kau tidak tahu dan tidak terbiasa, apalagi dalam hal mendekati wanita.” Aelia menyimpulkan dengan cepat, seketika paham dengan maksud Ken. “Tapi, kau cukup berani. Menyatakan perasaanmu di depan umum seperti itu …”

“Aku baru benar-benar berinteraksi dengan manusia dan memiliki teman selama beberapa bulan terakhir, tahu.” Ken mengangkat bahu, mengerucutkan bibir sejenak. “Eum, sejujurnya aku juga tidak tahu kenapa aku berani. Rasanya seperti … seperti ada yang berbicara di dalam kepalaku dan mendorongku untuk melakukan itu. ‘Lakukan, kau tak akan menyesalinya’. Ya sudah, kulakukan saja.”

“Like father like son rupanya,” gumam Aelia, mendapati Ken yang mengerutkan kening tanda tersinggung sebelum mengimbuhkan, “Aku berbicara soal ayah kandungmu.”

“Ayah kandung?”

“Ayah kandungmu, yep.

“Kau mengenalnya?!” Ken nyaris memekik, mengejutkan beberapa ekor burung yang sedang bersantai di dekat mereka. “Apakah itu sebabnya kau menjauhiku? Kau mengenal ayah kandungku, dan bisa saja kalau dia adalah orang yang jahat—lebih jahat dari ayah angkatku—bukan? Astaga, kenapa hidupku—“

“Aku tidak mengenalnya secara personal, omong-omong,” sambar Aelia cepat, sementara Ken kembali duduk lantaran sang gadis sudah memelototinya. “Dan semua orang di sini, semua di Yunani, pasti mengenalnya.”

Um, ayahku terkenal?”

Aelia mengulum senyum penuh arti. “Tahu kisah cinta Poseidon dan Amphitrite?”

“’Si dewa lautan?” Ken memastikan, merasa pernah mendengar nama itu keluar dari bibir Alex. “Apa hubungannya hal ini dengan ayahku?” Apa juga hubungannya dengan kita?

“Poseidon menyatakan cinta tepat saat ia melihat Amphitrite untuk pertama kalinya,” Aelia berkisah tanpa diminta, tak mengacuhkan ekspresi bingung di wajah Ken. “Sang dewa ditolak, tentu saja. Amphitrite kabur dan bersembunyi, sampai Poseidon meminta salah satu anak buahnya untuk mendatangi gadis pujaannya dan membujuknya. Butuh waktu, tapi ia akhirnya menerima Poseidon. Mereka menikah tak lama setelah itu.”

Ken membulatkan bibir, bisa melihat kesamaan antara cerita mitologi itu dengan perbuatannya beberapa minggu silam.

“Yah, sederhana saja, Kendrick Lee.”

Apa yang sederhana?

Kebingungan itu pasti makin kentara di wajahnya, lantaran Aelia mengulum senyum geli sebelum melanjutkan, “Aku tidak mau menjadi Amphitrite, oke? Lebih-lebih karena kau ini …”

“Tunggu, tunggu!” Ken mengangkat sebelah tangan, menghentikan cerita Aelia. “Kenapa kau harus menjadi Amphitrite? Kita ini manusia, kan? Kita tidak seperti mereka.”

“Kita bisa saja ditakdirkan memiliki kisah yang serupa,” gumam Aelia, menyelipkan anak-anak rambut yang tertiup angin ke balik telinga sambil memasang ekspresi sebal. Ia terlihat seolah tak terima, nada suaranya sedikit berubah tatkala ia bergumam, “Terkutuklah nenekku dan ramalan yang ia berikan.”

Ng—“ Ken masih tak tahu harus berkata apa.

“Nenekku adalah naiad—peri penjaga sungai. Kedengaran tidak masuk akal, tapi begitulah nyatanya. Ia salah satu yang mengenal Amphitrite di masa lampau—sebenarnya masih sampai sekarang—dan ia memberiku sebuah ramalan mengenai kisah-cinta-yang-seindah-kisah-penguasa-lautan.”

“Wow, wow … tunggu dulu! Kau bermaksud berkata kalau aku ini adalah keturunan dewa atau peri atau—“

“Pernah dengar istilah demigod?”

Damn-i-god?”

Demigod,” ulang Aelia, melambaikan sebelah tangan dengan tak sabar. “Setengah manusia, setengah dewa. Mudahnya, salah satu dari orangtuamu adalah dewa.”

“Kau tidak bermaksud berkata kalau ayahku—“

“Kalau kau benar-benar menyukaiku, seharusnya bisa ditebak, bukan? Poseidon sang Penguasa Laut—“

“HAHAHAHAHAHAHA!” Ken terbahak keras, memaksakan tawa selagi Aelia menghentikan kata-katanya. Lelaki itu lantas menyipitkan mata ke arah sang gadis, tak menyangka bahwa orang yang ia suka bisa membuat lelucon semenarik ini. Kata-kata Aelia barusan tak mungkin nyata, kan? Ini sudah abad ke-21! Aelia pasti hanya ingin membuatnya terlihat bodoh; atau barangkali itu adalah cara sang gadis untuk …

“Kau menolakku?”

“Aku serius.”

“Seberapa serius?”

“Aku bersumpah atas Sungai Styx—artinya ini sumpah yang serius dan tak bisa dicabut, oke—bahwa aku tak berbohong. Sebagai dua orang yang sama-sama memiliki darah dari penguasa dan penghuni perairan, aku bisa merasakannya. Ingat saat kau membantuku berdiri di kafe? Itu adalah kali pertama kita benar-benar bersentuhan, dan aku merasakannya dengan sangat jelas. Auramu … berbeda.”

Ken tidak tahu apakah ia harus tertawa lagi atau bagaimana. Salah satu opsi yang terlintas di kepalanya adalah berkata bahwa Aelia sudah gila, namun mana bisa ia melakukan itu pada gadis yang ia sukai? Gadis yang saat ini masih memandanginya lekat, sebelum akhirnya bergerak mendekati salah satu ceruk kosong yang ada di dekat mereka dan meletakkan tangannya di sana. Kelopak terpejam seakan ia sedang berkonsentrasi, sampai beberapa sekon berlalu dan Ken bisa melihat beberapa tetes air mulai mengisi ceruk tersebut.

“Aku pasti berhalusinasi.”

“Pejamkan matamu kalau kau tak percaya,” perintah sang gadis, yang entah mengapa langsung dituruti oleh Ken. “Dengarkan suara lautan, kau mungkin akan mendengar suara yang lain pula.”

Suara lain apa yang Aelia maksud, Ken awalnya tidak mengerti. Lelaki itu hanya berdiri diam selama semenit, mendengarkan debur ombak dan pergerakan air di kejauhan. Sejauh ini sama sekali tak ada yang istimewa, sama sekali tak ada yang membuktikan bahwa ia adalah anak dari seorang dewa, sehingga Ken nyaris yakin kalau Aelia memang hanya ingin menolaknya. Kalau sudah begini, mungkin lebih baik ia—

 .

Hm, akhirnya kau menyadarinya, Nak.

.

Ken tersandung kakinya sendiri dan nyaris saja terjungkal dari bebatuan tempatnya berpijak.

Merasa bodoh, ia pun mencoba memanggil di dalam hati.

 .

Ayah?

.

Tak ada jawaban. Suara itu tak lagi terdengar menggema di benaknya, tetapi sesuatu di dalam dirinya telah mengambil alih keadaan. Bukannya membuka mata, Ken malah memejamkannya makin rapat. Seakan ia sedang mencari sesuatu, sampai sebuah suara kecil—bukan suara yang tadi menyapanya—terdengar di dalam hati.

Buat gadis itu terpesona denganmu, Ken!

Membayangkan lautan yang terbentang, kali ini Ken mengizinkan imajinasinya ikut bermain. Ia membuat gambaran ombak yang mengalun secara lebih teratur, lebih berirama layaknya lagu. Lantas, sekali waktu, salah satu ombak itu akan mengayun begitu tinggi. Lengkap dengan buih-buih putih di bagian atas, serta sekawanan lumba-lumba yang berenang mengikuti ombak. Satu persatu, mamalia laut tersebut lantas akan melompat. Menciptakan atraksi yang istimewa, kemudian—

“Astaga! Apa kau yang melakukan itu?”

Aelia tahu-tahu saja menyentuh lengannya, membawa Ken kembali ke realita. Tergagap, lelaki itu langsung membuka matanya dan mengamati lautan yang terbentang. Keterkejutan muncul di rupanya, lantaran apa yang tadi ia imajinasikan ternyata telah menjadi realita.

“Itu menarik sekali, Kendrick Lee!”

“Eh … aku ….”

“Sekarang, kau percaya padaku?”

“Tidak tahu.”

“Butuh waktu, memang.” Aelia memberikan senyum penuh pengertian, tahu-tahu menepuk pundak Ken. “Kau pasti—“

Tapi, Ken memotong perkataan gadis itu. Kepala ditolehkan ke samping, netra mengamati sang gadis yang masih memasang senyumnya seraya ia berujar, “Aelia Grace. Tadi, kau sempat berkata bahwa aku seperti ayahku. Like father like son.

“Seperti Poseidon, ya.”

“Apa ini berarti kau akan menerima cintaku juga?”

Aelia tampak salah tingkah, tak menyangka bahwa obrolan mereka akan kembali pada titik ini. “Sesungguhnya, Kendrick …”

“Kau sendiri yang berkata kalau kita mirip Poseidon dan Amphitrite.”

“Yah …” Aelia berpikir sejemang, menyilangkan kedua lengan di depan dada. “Kau sendiri juga berkata kalau kita ini manusia dan kita tidak harus menjadi seperti mereka.”

“Sial, kau masih mengingatnya, ya?”

Satu gelak tawa meluncur dari bibir gadis itu. “Kau harus berusaha lebih keras lagi, Kendrick Lee. Aku masih tidak mau serta-merta berkata ‘iya’ hanya karena kita dikatakan memiliki takdir serupa.”

“Tapi, kalau kita memang ditakdirkan—“

“Coba lebih keras lagi, oke?” ujar Aelia pada akhirnya, mengambil keputusan. “Yang terjadi di kafe, anggap saja aku sudah lupa. Aku juga minta maaf karena kabur begitu saja—waktu itu aku terlalu terkejut, mengetahui keturunan Poseidon benar-benar muncul di depan mataku. Jadi …”

“Jadi?”

Kedikan bahu adalah respons Aelia berikutnya, selagi ia kembali mendudukkan diri di atas salah satu bebatuan. Pandang diarahkan pada panorama yang membentang di depan mata, memberikan jeda keheningan selama beberapa saat, sampai akhirnya Ken ikut duduk dan ia pun memanggil nama sang lelaki.

“Kendrick Lee, bagaimana kalau kau mulai belajar mengambil hati wanita dengan cara yang benar, hm?”

“Maksudmu … aku ….”

“Aku baru saja memberimu kesempatan.” Aelia menebar senyum, memasang ekspresi wajah yang membuat Ken ingin meleleh di tempat. “Dan aku suka trik-trik seperti barusan. Kekuatanmu boleh juga, wahai Anak sang Penguasa Lautan.”

Kalimat itu sukses mengembalikan rasa optimis Ken ke permukaan, ujung-ujung bibir berjungkit naik secepat kilat. Masa bodoh dengan fakta mengejutkan yang baru saja ia terima, Ken bisa memikirkannya nanti malam saat ia hendak terlelap. Karena untuk saat ini, ia hanya ingin melompat kegirangan di tempat, berterima kasih pada sang Poseidon di dalam lautan sana, lengkap dengan kepalan tangan yang teracung dan teriakan penuh semangat.

.

.

.

“Tunggu saja, Nona Grace! Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku sebagaimana Poseidon meluluhkan hati Amphitrite!!”

.

fin.

dictionary:

  • Artemis: goddess of moon (and also hunter)
  • Zeus: the king of gods, ruler of the sky
  • Eros: also known as Cupid
  • Aphrodite: goddess of love, beauty, and lust
  • Hades: god of Underworld
  • Lethe River: river of forgetfulness in Underworld. One dip can erase your entire memories.
  • Styx River: one of the river in Underworld. “Swear upon the Styx River” means that the oath that you make is unbreakable.

a/n:

Authornya lagi mabok baca Percy Jackson dkk, jadi maafkan kalau ceritanya jadi menyimpang begini XD

Anyway, don’t forget to leave some reviews!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s