Simplicity At It’s Finest

Standard

167910

Kim Seokjin, Lee Yein

AU, Fluff, Marriage-life | 15

.

and I know, I just know,

that flowers, love letter, or those fancy things

are something that you won’t ever need

.

.

.

“Indah, ya.”

Embusan angin menyambut keduanya, tepat saat Lee Yein membuka pintu yang menuju beranda dan melangkahkan kaki keluar. Netra bergulir untuk mengamati pemandangan kota, menilik tiap cahaya lampu yang berpijar bagai titik-titik di kegelapan. Seoul di malam hari senantiasa tampak bagai lautan bintang, layaknya kerlap-kerlip di atas sana telah merelakan diri untuk jatuh agar lebih mudah dipandang.

Yein menyukai ini.

Yeah.” Yein mengiakan, lantas menoleh cepat untuk memberi tatap mengingatkan pada sang pria. “Tapi, awas saja kalau kamu mencoba merayuku dan—“

“Seperti ‘menurutku kamu lebih indah, Lee Yein’ atau semacamnya, kan?”

Ugh, aku merinding.”

Seokjin hanya tergelak, menggeleng-gelengkan kepalanya tatkala ia melihat bibir Yein yang dikerucutkan. Namun, wanita yang berdiri di sampingnya itu tak bisa lama-lama cemberut, lantaran panorama yang tersaji memang mampu meluluhkan segala emosi. Seokjin sendiri juga tak berminat untuk merusak keadaan atau memulai pertengkaran; memilih untuk ikut mengamati seraya diam-diam mengeluarkan ponselnya.

“Anggap saja aku sedang baik,” Seokjin berujar, memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku setelah ia mendapatkan apa yang ia mau, lantas melanjutkan, “dan kamu bebas menikmati pemandangan kota malam ini.”

“Anak-anak—“

“—sudah tidur,” sahut Seokjin tanpa jeda. “Kamu sudah mengurus El dan Leo seharian, Lee Yein. Istirahat saja, aku yang akan bertanggung jawab kalau Leo tahu-tahu terbangun dan menangis.”

Yein tak membalas, memilih untuk diam-diam mengulum senyum sebagai tanggapan. Leo memang baru berumur beberapa bulan, sehingga wajar jika ia tidak punya banyak waktu istirahat. Namun, perlakuan Seokjin malam ini telah berhasil membuat rasa lelahnya lesap seketika. Ck, pria itu bisa bersikap waras juga kalau ia mau ternyata.

“Yein.”

“Apa?”

Seokjin kini ikut melangkah ke beranda, berdiri tepat di samping Yein. Manik ikut mengamati keindahan yang ada, sebelum akhirnya ia membuka mulut dan memilih untuk mengekspresikan kebahagiaannya melalui untaian lirik dan nada. Menyanyikan sebuah lagu yang memang menjadi favorit Yein, dalam hati bersorak saat ia menyadari bahwa Yein sudah berganti memandanginya.

Thanks.”

Gumam singkat dari Yein itu sama sekali tak menginterupsi nyanyian sang pria. Seokjin tetap membiarkan suaranya berpadu dengan embusan angin, tanpa musik pengiring selain ketukan jemarinya pada pagar beranda. Biarkan detik demi detik berlalu, sampai Yein memutuskan untuk beringsut mendekat dan menyandarkan kepala pada bahu Seokjin.

“Jangan bergerak dan jangan macam-macam.”

Menutup nyanyiannya dengan sedikit gelak tawa, Seokjin menuruti permintaan Yein tersebut tanpa banyak protes. Biarkan kedua tangannya tetap bersandar pada pagar, sampai Yein lamat-lamat mengangkat kepala dan—

“Seokjin-a—“

—dan suara tangisan terdengar menggema di apartemen mereka.

“Biar aku saja.”

Kim Seokjin bergerak kilat menuju kamar tidur tempat Leo berada, meninggalkan Yein untuk kembali menikmati suasana malam seorang diri. Tetapi, bukan berarti kejutan dari Seokjin berhenti sampai di situ. Karena, tepat beberapa menit kemudian, Yein bisa merasakan ponsel di sakunya bergetar dan….

.

Aku tidak bermaksud merayu, tetapi foto ini memang indah dan aku akan menjadikannya sebagai  wallpaper-ku.

.

Mengiringi pesan itu adalah sebuah foto, foto yang menampakkan figur Lee Yein sedang menatap kerlip cahaya kota. Seokjin pasti mengambil foto itu diam-diam dari belakang, bermaksud untuk menjadikannya sebagai sebuah hadiah sederhana. Hadiah yang sukses meninggalkan kesan di benak sang wanita, selagi dirinya menyimpan foto tersebut dan bergegas menyusul Seokjin yang tengah menenangkan Leo.

Lee Yein mungkin memang tidak pandai dalam mengungkapkan perasaannya, tetapi tanpa berbicara pun, Yein tahu kalau Seokjin pasti mengerti.

.

Bahwa ia, Lee Yein, bersyukur karena bisa bertemu dengan Kim Seokjin.

 .

.

diperuntukkan untuk membuat Kak Yeni kejang malem-malem :))

Advertisements

One thought on “Simplicity At It’s Finest

  1. Ya berhubung lee yein nya lagi nyantai gitu, ini diwakilin sama leo aja ya komennya *gak 😄

    Duh aku ga sampe kejang2 gimana dong? Tapi udah sampe senyum2 kaya orang gila sih ya 😂

    btw…
    MAKASIH LOH MBAK FF NYA AWAS NANTI AKU BAKAL BALAS DENDAM 😎
    *lu masih webe yen diem aja!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s