[Greek Mythology Remake] Evergreen

Standard

apollo-n

evergreen

written by tsukiyamarisa; part of Greek Mythology Remake project

based on story of Apollo, Eros, and Daphne

.

VIXX’s N as Nathaniel Cha, OC’s Daphne Ashworth

Oneshot | AU, Romance, Tragedy, slight!Angst, slight!Fantasy | 15

.

Daphne-ku tidak akan berbuat seperti Daphne di dalam naskah drama.” 

.

.

.

 

Nathan baru saja membalik lembaran di tangannya, menandai satu nama, lantas mendongak ke arah panggung.

Sesosok lelaki bertubuh gempal berdiri di sana, mungkin sekitar seratus tujuh puluh senti—atau malah kurang—tingginya. Rambutnya yang pirang tampak seperti tak disisir, berantakan dan sedikit mencuat kesana-kemari. Sekilas, Nathan bahkan bisa melihat bahwa rupa orang itu amat kuyu, mengalahkannya yang hanya bisa tidur selama tiga jam. Pakaiannya yang serba hitam pun tak membantu, membuat Sang Sutradara mengernyit lantaran ketidakcocokan lelaki di atas panggung dengan karakter si peran utama sudah tampak jelas.

“Hei.” Nathan lekas memanggil, mengangkat sebelah tangan untuk menarik atensi. “Kau Dexter Ashworth? Mendaftar untuk audisi peran utama?”

Yang dipanggil lekas mengangguk, tampak bingung tapi memutuskan untuk balik menjawab, “Yeah. Ada masalah?”

“Untuk peran Apollo?” Nathan bertanya lagi, kepala ditelengkan dengan lagak menilai. Membandingkannya dengan para pendaftar sebelum, mengira-ngira tingkat kecocokan seorang Dexter Ashworth untuk mengisi peran sang Dewa Musik dan Matahari. Maklum saja, Nathan memang bukan jenis orang yang suka membuang-buang waktu.

“Boleh aku memulainya?”

Mengnterupsi keasyikan Nathan berpikir, lelaki bernama Dexter itu langsung melangkah ke sisi kiri panggung. Tanpa menunggu persetujuan meraih properti yang tersedia—sebuah busur dan panah—lantas mulai berpose layaknya seorang pemenang sembari memandang ke arah ruang kosong di sebelahnya. Berpura-pura bahwa ada sosok lain yang berdiri di sana, seraya ia mulai berucap lantang:

“O, mengalahkan Python, makhluk campuran ular dan naga rendahan macam itu, tentu adalah suatu pencapaian yang tak mudah! Panah ini memang ditujukan untuk melakukan hal-hal besar, bukan—“

“Busur panah itu bahkan tak cocok untuk kausandang!”

Seisi gedung teater seketika senyap, seraya Nathan melangkah mendekat ke panggung dan memberi tatap meremehkan. “Jangan berlagak seperti Apollo yang sedang merendahkan Eros, Mr. Ashworth. Kau, bermimpi mengisi posisi Apollo, si dewa yang terkenal akan kehebatannya itu?”

“Apa ada yang kurang dari—“

“Aku akan mempertimbangkanmu—” balas Nathan, memberi isyarat agar Dexter segera turun dari panggung. “—kalau saja kau mendaftar untuk peran Eros.”

Tidak ada yang berani membantah, tidak karena seluruh kru serta asisten sutradara yang hadir tahu betapa perfeksionisnya Nathaniel Cha. Bukan tanpa alasan lelaki itu duduk di kursi sutradara, memilih dan memilah setiap pemain dengan ketajaman serta ketepatan yang kadang terkesan tak berperasaan. Namun, inilah tanggung jawabnya. The Old Vic—gedung teater tempatnya bekerja—punya reputasi untuk dipertahankan.

Dan lagi, ia juga enggan jikalau estetika dari pertunjukannya dirusak oleh lelaki kumal macam Dexter.

“Pergilah,” putus Nathan akhirnya, tangan dikibaskan dengan tak sabar. “Lain kali, mendaftarlah untuk peran yang sesuai dengan… well, kemampuanmu.”

Terpaku, Dexter memilih untuk tetap di tempatnya berdiri. Sebelah tangan masih memegang busur, dalam hati separuh berharap agar semua ini hanyalah candaan belaka. Tapi, tatap menusuk Nathan tetap terarah padanya. Pun dengan beberapa kru yang mulai mendekatinya, membisikkan fakta bahwa ia tak akan bisa melawan dan sebaiknya segera turun dari panggung.

“Jangan buat aku mengulangi kata-kataku,” ucap Nathan lagi, netra sudah kembali memandang daftar peserta audisi di tangannya. “Baik, berikutnya!”

Tahu bahwa perintah Nathan tak bisa dibantah lagi, Dexter terpaksa membiarkan busur serta panah di tangannya dilucuti oleh salah seorang kru panggung. Badannya didorong secara tak sopan agar segera turun, selagi peserta audisi berikutnya—yang berbadan lebih tinggi, berkulit putih, dan mengundang desah kekaguman para gadis—ganti melangkah naik dengan penuh percaya diri. Dexter bahkan sama sekali tak mendengar keraguan dalam nada suara Nathan kala ia menyapa peserta itu, memintanya untuk segera menunjukkan kemampuan aktingnya.

Namun, terlanjur muak dengan apa yang ia terima, Dexter sama sekali tak tinggal untuk menonton kelanjutan dari audisi. Alih-alih, ia memilih untuk lekas berderap pergi. Berjalan keluar dari gedung The Old Vic, menyeberangi Waterloo Road, sembari memaki-maki tanpa henti.

Ia memang gagal, tapi Nathan tidak tahu satu hal.

Bahwa ia, Dexter Ashworth, bukanlah lelaki yang pantang menyerah.

.

-o-

.

“Harimu berat?”

Nathan baru saja selesai meregangkan lengan, dari sudut mata mengawasi para pemain pilihannya yang berjalan pergi dengan naskah di tangan. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, ia lelah setengah mati, tapi ia tak bisa menahan senyum untuk tidak terkembang di bibirnya.

“Aku ingin berkata tidak, tapi….” Nathan melirik ke arah orang yang menyapanya, menemukan rupa lelah yang dibingkai rambut panjang keemasan. “Kurasa kita semua lelah, kan?”

Ditanya balik seperti itu, sang gadis yang merupakan rekan kerja Nathan selama tiga tahun terakhir hanya tertawa kecil. Maniknya yang sewarna madu mengamati panggung, diikuti dengan gumaman, “Aku akan merindukan bermain di atas panggung. Tapi, bagaimanapun juga, ini pentas pertama di mana aku bisa menjadi penata musik.”

Daphne, si gadis berbakat itu, lantas berjalan menuju sisi panggung tempat alat-alat musik diletakkan. Berbicara dengan beberapa anggota paduan suara, mungkin tengah menjelaskan bagian-bagian yang perlu dipelajari lebih lanjut. Tak lama berselang, denting piano kemudian terdengar mengalun di seluruh penjuru gedung. Memanjakan telinga, sementara Nathan tersenyum puas.

Tidak salah ia meminta gadis itu, yang memiliki pengalaman memainkan berbagai macam peran serta mengisi tiap nyanyian di atas panggung, untuk menjadi koordinator bagian musik. Daphne nyaris bisa melakukan segalanya, mencurahkan hampir separuh hidupnya untuk segala hal yang berhubungan dengan teater. Ia mencintainya: panggung, pertunjukan, naskah demi naskah, alunan musik, dan tepuk tangan yang membahana.

Bisa dibilang, ia adalah orang lain yang bekerja sekeras dan seperfeksionis Nathan.

Nathan mengaguminya, tentu; sama seperti orang-orang lain yang bekerja di The Old Vic. Rasanya hampir tidak mungkin untuk tak mengagumi gadis itu, mengingat Daphne bukan hanya seseorang yang berbakat semata. Ia adalah seseorang yang banyak tersenyum, juga senantiasa menyapa setiap orang yang berpapasan dengannya. Beberapa kru lelaki bahkan suka berbisik-bisik mengenainya di belakang, menyatakan bahwa siapa pun yang bisa mendapatkan hati gadis sepertinya adalah lelaki yang amat beruntung.

Yah, Nathan hanya bisa menahan kekeh saja sih, saat mendengar semua itu. Ia memang mengagumi rekannya, tapi rasa kagumnya tak lantas berubah bentuk menjadi sesuatu yang lain. Lagi pula, banyak gadis cantik di teater. Dikelilingi para aktris, Nathan terkadang bertanya-tanya apa penyebab semua wanita yang ada di gedung ini mulai terlihat biasa-biasa saja. Besar kemungkinan ia sudah bosan dengan mereka—

“Nate?” Suara Daphne memanggilnya akrab, memotong lamunan Nathan yang konyol tadi. “Aku duluan, oke? Sampai besok.”

“Tentu,” balas Nathan, kepala terangkat untuk membalas pandangan Daphne. Biarkan irisnya bertemu dengan netra jernih sang gadis, menahannya sampai Daphne tahu-tahu berpaling sementara ia tertegun dan tak jadi mengucapkan “hati-hati di jalan” seperti biasa.

Tunggu sebentar.

Apa ia tadi berkata bahwa semua wanita di gedung ini biasa-biasa saja?

Karena kalau iya, Nathan mau meralat kata-katanya itu.

Ia telah membuat kesalahan besar.

.

-o-

.

Oh, ia benar-benar telah membuat kesalahan.

Mondar-mandir di ruang tengah flatnya, lelaki itu sibuk mencari alasan di balik peningkatan degup jantungnya yang cukup signifikan. Setengah hati berharap agar kakinya yang tidak mau diam dapat dijadikan sebuah pembelaan, kendati sesuatu di dalam otaknya mengatakan bahwa ia sedang melakukan sebuah penyangkalan.

Penyangkalan?

Penyangkalan atas apa? Atas Daphne yang tahu-tahu terlihat cantik dan menawan di matanya? Yang senyumnya tidak mampu Nathan hilangkan dari kepala, pun dengan segala detail kecil tentang dirinya? Lantas, apa pula artinya gelenyar ini, yang merambat ke seluruh tubuhnya dan membuat wibawa Nathan lenyap seketika?

“Kurasa aku bisa gila.”

Kalau saja Nathan punya teman sekamar, mungkin orang itu akan langsung mengiakan pernyataan barusan dengan anggukan mantap. Pasalnya, sang lelaki kini sudah beranjak menuju rak yang terletak di dekat televisi. Tangan meraih sebuah rekaman pertunjukan, satu yang ia sutradarai tahun lalu dengan Daphne sebagai pemeran utama. Tanpa membuang waktu memasukkan keping VCD-nya ke dalam alat pemutar, lantas memutar tombol play dengan ekspresi mendamba yang terlampau kentara.

“Dulu aku pasti buta.”

Menggumam-gumam tak jelas seraya mengulum senyum, Nathan terus melontarkan komentar semacam itu sambil menatap layar. Pupil bergerak mengikuti tiap aksi Daphne yang saat itu terbalut gaun merah marun, berjalan di atas panggung dengan langkah seorang putri. Suaranya yang merdu terdengar jelas melalui speaker, sementara Nathan turut berdendang mengikuti. Tak tanggung-tanggung, lelaki itu bahkan berujung menangis terisak-isak ketika peran yang dimainkan oleh Daphne akhirnya mati akibat gantung diri.

“Jangan tinggalkan aku seperti itu, Sayangku.”

Mengusap air matanya, Nathan berakhir tidur dalam posisi meringkuk di sofa. Masih sambil meracau tak jelas, kata-katanya sedikit teredam bantal yang ia peluk erat-erat. Lupakan fakta bahwa tak biasanya ia bersikap macam ini, abaikan setumpuk pekerjaan serta dokumen pementasan yang seharusnya ia kerjakan. Nathan hanya ingin lekas tidur, lekas menemui esok hari, lekas menemui Daphne yang duduk di balik piano seraya tersenyum manis.

Orang yang jatuh cinta, memang seperti itu, kan?

.

-o-

.

“Morning, Daphne.”

Menarik sudut bibirnya tinggi-tinggi, Nathan memulai pagi dengan bersandar pada grand piano yang ada di panggung khusus para pemusik. Pandang terpaku pada sang gadis, mengharap respons yang sekiranya dapat menghangatkan hati. Namun, bukannya membalas, Daphne malah membuang muka dan mulai memanggil anggota paduan suara yang kebetulan sedang melintas.

“Lakukan pemanasan dan bersiaplah untuk mempelajari lagu baru, teman-teman!”

“Daph?”

“Aku sibuk, Tuan Sutradara,” balas Daphne, tanpa menoleh. “Kalau ada yang penting, kita bicarakan nanti saja.”

Mungkin ia malu, begitu batin Nathan mengartikan arti kata-kata barusan, untuk sekarang ini sama sekali tak tersinggung. Maka, masih dengan senyum di bibir, Nathan pun memilih beranjak. Gerak tungkai terarah pada kursi yang terletak tepat berhadapan dengan panggung, kursi sutradara tempatnya mengarahkan dan mengatur ini-itu. Kalau Daphne sibuk mengatur aspek musikal dari pertunjukan, maka ia pun akan sekuat tenaga melatih para aktornya. Bersama-sama mereka akan membuat pertunjukan yang sempurna, sepasang kekasih yang dikenal karena keahliannya—

Hi, mate.

Ugh.

Sedikit menggerutu, Nathan berpaling ke arah Bryant—asisten sutradara satu yang bertanggung jawab membantunya melatih para pemain. Rekan kerjanya itu tengah memberi tatapan aneh ke arahnya, mungkin bertanya-tanya mengapa Nathan malah sibuk melamun sementara para pemain sudah berkumpul.

“Ya?”

Scene berapa yang harus kita coba hari ini?”

“Oh.” Nathan bergegas menyambar naskah yang tersedia, memindainya cepat. Detik itu juga, pipinya terasa menghangat. Bagai anak sekolah yang sedang kasmaran, ia hanya bisa berdeham-deham saat menyadari bahwa tokoh wanita di dalam naskah itu memiliki nama yang persis sama dengan si gadis pujaan.

“Nath?”

Er—“ Satu kerlingan singkat ke arah Daphne yang sedang asyik bermain piano, sebelum akhirnya Nathan berkata dengan lagak sok berwibawa, “Scene berapa yang memiliki Daphne di dalamnya? Kita mulai dari itu.”

Kalau pun perintah tersebut dianggap aneh oleh Bryant, rekan kerja Nathan itu agaknya memilih untuk bungkam. Dengan cepat memerintahkan orang-orang yang terlibat dalam scene untuk naik ke atas panggung, meminta mereka untuk membaca kalimat-kalimat dialog yang ada dengan lantang. Dalam waktu kurang dari lima menit, suara-suara pun sudah memenuhi hall The Old Vic. Keras dan membahana, tapi juga penuh perasaan. Semua pemain tampaknya berniat untuk memamerkan bakat mereka di hadapan Sang Sutradara, tetapi—

Cut!” Bryant-lah yang akhirnya memotong, menyenggol Nathan di sampingnya. “Bagaimana pendapatmu, dude?”

“Sudah oke,” jawab Nathan dengan kedikan bahu, mengejutkan semua yang ada. Tidak biasanya pemuda itu langsung menerima akting yang dipertontonkan, bahkan oleh pemain-pemain pilihannya sekalipun. Seharusnya ada komentar tajam yang terlontar, saran-saran perbaikan yang tak berkesudahan. Tapi, hari ini, Sang Sutradara langsung memberikan persetujuannya dan mengimbuhkan sesudahnya, “Alunan musiknya juga pas. Kerja bagus, Daphne.”

Senyap dan canggung serentak datang, salah seorang gadis yang sedang menggesek biola memunculkan nada sumbang. Seakan mengejek pujian yang diberikan Nathan barusan, seolah menganggap pernyataan sutradara mereka adalah sesuatu yang patut ditertawakan. Namun, faktanya, mereka memang sedang menahan tawa.

“Nath, kaubicara apa—“

“Aku bahkan tak memainkannya untuk mengiringi scene-mu,” seru Daphne keras, sorot matanya yang diarahkan pada Nathan tampak kesal. “Tolong, urusi saja akting dan para pemainmu.”

“Tapi aku bersungguh-sungguh memuji—“

“Aku bersungguh-sungguh, Mr. Cha. Aku tidak butuh pujianmu.”

Hening kembali merambat masuk untuk kali kedua, diiringi kesiap napas dari Bryant serta beberapa orang kru. Dengan bingung membiarkan bola mata bergulir dari Daphne ke Nathan, terus seperti itu layaknya sedang menonton pertandingan tenis. Jarang-jarang terjadi pertikaian secara langsung di tempat ini, terlebih antara Nathan dan Daphne, dua orang yang senantiasa melakukan segalanya secara profesional.

“Aku tidak peduli. Aku tetap menyukai permainan pianomu, Daphne.”

Disusul dengan kalimat itu serta reaksi Daphne yang lekas membalikkan badannya untuk menghadapi tuts piano, semua orang di dalam gedung mendadak mengambil konklusi bahwa sesuatu pasti sedang terjadi di antara keduanya. Entah apa, mereka juga tidak tahu. Daphne mungkin terkenal berhati baik, tetapi melihatnya berujar tegas menjurus galak seperti tadi cukup untuk menyiutkan nyali orang-orang yang ingin bertanya. Sementara Nathan….

“Nath, apa yang terjadi? Kau dan Daphne sedang bertengkar atau apa?”

Hanya saja, bukan jawaban yang didapat Bryant.

Bukan karena Nathan sudah kembali menatap podium tempat piano diletakkan dengan tatap nyaris memuja, mengabaikan proses latihan, dan malah sibuk mengamati setiap gerak-gerik sang gadis.

Aku sedang jatuh cinta. Mengapa kalian tidak juga paham, sih?

.

-o-

.

Perubahan itu bertahan sampai seminggu lamanya.

Kru teater dan semua pemain bahkan sampai bosan mengungkit-ungkitnya, kendati rasa penasaran mereka belum juga terpuaskan. Namun, perubahan pada sikap Daphne—terutama jika Nathan ada di sekitarnya dan, sialnya, Nathan selalu ada—serta Sang Sutradara sendiri telah membuat semua orang enggan bertanya. Maka, diam adalah sesuatu yang mereka lakukan. Dalam kebingungan berusaha melakukan aktivitas masing-masing, meskipun itu berarti beban para asisten sutradara menjadi bertambah berat.

“Aku tidak peduli kalau dia dan Daphne sedang bermusuhan atau diam-diam memainkan drama atau apa,” keluh Bryant suatu siang, sementara kedua asisten sutradara yang lain mendengarkan. “Hanya saja, belakangan aku harus berganti peran dari asisten baik hati menjadi asisten tukang kritik pemain.”

Tiga pasang mata lalu kompak melirik ke arah yang dibicarakan, disusul helaan napas lega karena Nathan sudah pasti tidak mendengar. Jam istirahat siang sudah tiba, dan lelaki berambut hitam itu kini sedang mendekati Daphne yang tengah mencoret-coret partitur musik. Sebelah tangan membawa segelas latte yang ia beli di kafe depan The Old Vic, senyum terpasang seraya dirinya menunggu Daphne menoleh.

“Sedang apa di situ, Nathaniel Cha?”

“Menolehlah dan kau akan tahu,” jawab Nathan, sementara beberapa kepala yang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya malah menoleh lebih dulu. Memperhatikan, lantaran rumor yang beredar adalah Nathan sudah membuat Daphne marah dan sedang berusaha memperbaiki situasi. Apa masalah sebenarnya tentu mereka tidak tahu; mengikuti perkembangan dari suatu gosip dengan mata kepala sendirilah yang menjadi daya tarik.

“Aku tidak mau memandang wajah bodohmu.”

“Daphne….”

“Oh, sudahlah! Kau selalu saja mengangguku belakangan ini dan—“ Menghentikan ucapannya, Daphne lantas memelotot kala ia menyadari sesuatu. Aksinya yang menoleh secara tiba-tiba sembari mengibaskan partitur—maksudnya untuk mengusir sang lelaki—ternyata berimbas pada tersenggolnya cup latte di genggaman Nathan. Praktis membuat benda berisi cairan kecokelatan itu terjatuh, sebagian isinya tertuang hingga membasahi partitur.

“Aku—“ Nathan terbata sesaat, menggaruk tengkuk dengan tangannya yang kini bebas. “Maafkan aku, Daphne. Aku akan mencari lap dan—“

“Tidak perlu.”

“Tanganmu basah dan—ya, ampun!—partitur itu pasti penting, kan? Aku akan membantumu untuk menuliskannya kembali, atau kau bisa menyuruhku—“

“Kubilang tidak perlu!”

“Tapi—“

“Kau sengaja, bukan?” tuduh Daphne, bangkit berdiri dan membuat semua penonton yang ada mendadak sibuk dengan kegiatan masing-masing. “Sengaja pura-pura baik, kemudian dengan sengaja pula menumpahkan kopi itu!”

“Tidak, dengar….”

“Apa? Apa tujuanmu?” Napas Daphne terengah-engah sekarang, selagi ia meraih tas tangannya dan menyampirkannya di pundak. “’Aku akan membantumu menuliskannya kembali’, begitu? Bilang saja kau ingin menghabiskan waktu denganku dan menganggu hidupku!”

Nathan tidak sempat membalas, membiarkan gadis yang sedang dipengaruhi emosi itu berderap menjauhinya. Meninggalkan gedung teater tanpa permisi, meninggalkan sisa-sisa kekacauan serta berbagai tanya yang makin menumpuk. Orang-orang yang tadinya melihat pun mendadak bersimpati, berjalan mendekati Nathan untuk menawarkan bantuan.

Mate, biar kami bereskan.” Bryant menepuk punggungnya, mengedikkan kepala ke arah lorong yang menuju backstage. “Pergilah ke kamar mandi atau apa, kau terlihat parah.”

“Aku….” Tersadar dari fase terkejutnya, Nathan menatap kursi piano yang kini tak lagi diduduki. “Apa aku membuat kesalahan?”

“Aku juga tidak tahu, okay?” Bryant membalas dengan helaan napas, kedua lengan tersilang di depan dada. “Serius, aku bingung. Kalau kalian sedang ada masalah pun, menurutku kau sudah berbuat banyak hanya agar dia memaafkanmu. Yang tadi itu sudah berlebihan, man….

“Apa dia membenciku?”

Embusan karbondioksida yang lain, seraya Bryant mendorong pundak Nathan dan menyuruhnya untuk pergi sejenak. Lagi pula, si asisten juga tak punya jawabannya. Ia hanya mampu memberi Nathan kesempatan untuk menghilangkan keterkejutan yang ada, sekali lagi berperan sebagai asisten sutradara yang siap mengambil-alih kendali.

Maka, diiringi pandang ingin tahu dari semua orang di dalam hall, Nathan pun akhirnya berjalan menyusuri koridor yang dicat hitam. Menuju backstage yang kosong melompong karena jam istirahat akan segera berakhir, memilih satu dari lima bilik kamar mandi pria yang tersedia. Ia sedang ingin sendiri, merenungi apa yang telah terjadi hari ini serta mengenyahkan rasa menusuk-nusuk di dadanya.

Seraya mengizinkan punggung bertemu dengan pintu bilik kamar mandi, Nathan memejamkan kelopaknya rapat-rapat. Membiarkan mekanisme pertahanan dirinya bekerja, otak secara otomatis memilah dan memilih fakta-fakta dari kejadian barusan. Cinta memang berhubungan dengan hati; tetapi di saat dirinya tersakiti, maka biarlah logika yang mengambil peran untuk sementara waktu.

Satu, dia sudah bersikap baik.

Kalau ada yang harus ia yakini, maka hal itu adalah sikapnya terhadap Daphne. Ia tidak merasa telah melakukan sesuatu yang buruk, ia tidak bertindak dengan niatan melukai atau membuatnya marah. Segala pujian, ajakan makan siang, gelas-gelas kopi, bahkan hingga tawaran mengantar pulang yang ia berikan selama seminggu terakhir adalah buktinya—bukti bahwa ia hanya ingin Daphne bahagia.

Dua, hal-hal yang di luar ekspektasi bisa saja terjadi.

Bukti konkritnya adalah insiden kecil tadi, ketika ia tak sengaja menumpahkan satu cup latte dan merusak pekerjaan sang gadis. Setelah dipikir-pikir, wajar saja Daphne marah. Partitur itu adalah sesuatu yang penting, sesuatu yang dibuat dengan usaha dan keringat. Sama sepertinya ketika terpaksa begadang demi menyelesaikan naskah drama dulu, Daphne mungkin juga demikian. Gadis itu punya hak untuk marah; toh Nathan juga pasti akan marah kalau ia dipaksa berada dalam posisi itu.

Tiga, dan yang terakhir, ia mencintainya.

Nathan sudah yakin sekarang, dengan segala gelitik dan reaksi hangat yang menyebar di tubuhnya. Ia bahagia jika Daphne tersenyum, ia merasa perutnya bergejolak tiap kali ia melangkah mendekatinya. Belakangan, fantasinya bahkan mulai melambung tinggi. Ia ingin menggenggam jemari itu, ingin mengajaknya berjalan-jalan memutari kota London, ingin merengkuh pinggangnya dan menariknya mendekat, ingin melihat rona di pipi gadisnya, ingin menanamkan kecupan di bibir merahnya. Singkat kata, Nathan ingin menjadikan Daphne sebagai miliknya—

.

BRAK!

 .

“Aku tahu kau di dalam, Tuan Sutradara.”

Sedikit terlonjak, Nathan bisa mendengar pintu bilik sebelah didorong hingga terbentur keras. Siapa pun dia, orang itu tampaknya tak akan memberi Nathan ketenangan yang tadi diharapkan. Praktis membuat sang lelaki yang masih berada di dalam bilik terpancing emosinya, kesal lantaran segala sesuatu yang terjadi hari ini tak berjalan sesuai harapannya. Maka, ikut membanting pintu hingga terbuka, Nathan pun memutuskan untuk menghadapi dan memaki sosok itu lebih dulu.

“Siapa yang mengizinkanmu berada di sini? Latihan sudah dimulai lagi, dan kau seharusnya—“

“Sayangnya aku bukan orang yang bisa kauperintah, Tuan Sutradara,” sambar orang itu, lelaki bertubuh gempal dan berambut pirang yang menyeringai menyebalkan. “Bukankah waktu itu kau yang menolakku?”

“Kalau begitu, kau tidak seharusnya ada di gedung ini,” timpal Nathan, masih mempertahankan otoritasnya sebagai sutradara. “Hanya orang-orang yang terlibat dengan proses produksi saja yang boleh masuk, dan kau telah melanggar aturan itu.”

“Dan kau bahkan tidak menyadarinya,” sahut si lelaki lancar, menirukan nada Nathan yang berwibawa. “Terlalu sibuk jatuh cinta dan mengamati adikku, huh?”

Bohong kalau jantung Nathan saat ini tidak langsung berdetak keras, seakan hendak menjebol rangka yang melindungi dengan menyakitkan. Nyeri serta perasaan seperti baru diguyur air es itu merambatinya, membuat Nathan hanya mampu mengerjap dan bertanya dengan bodoh, “Adikmu?”

“Daphne…” jawabnya, terkekeh sebelum menambahkan, “…Ashworth. Merasa familiar dengan nama keluarga itu?”

Nathan tak menjawab. Tentu saja ia tahu nama keluarga Daphne, tapi apa hubungannya nama itu dengan lelaki yang mengaku sebagai kakaknya ini? Lihat, dari fisik saja, sudah jelas kalau mereka tidak cocok bersaudara—

Yeah, aku tahu, aku tidak rupawan seperti adikku yang manis, yang selalu dipuja-puja, dan dianggap serba bisa,” desis lelaki itu, melangkah maju untuk mendorong Nathan mundur dengan sebelah tangan. “Daphne adalah adik tiriku, adik seorang Dexter Ashworth yang tak berguna. Meski begitu, kami berbagi ayah dan nama keluarga yang sama. Ashworth adalah nama kuno, dan hanya sedikit saja yang tahu kalau nenek moyang kami adalah klan penyihir yang ditakuti.”

“Penyihir,” ulang Nathan, alis berjungkit naik tanda ia tak langsung percaya. “Lalu kau hendak berkata bahwa kau—sebagai keturunan entah keberapa—bisa melakukan sihir? Ck—“

“Kau tidak sadar juga, wahai sutradara bodoh?!” Amarah Dexter sekonyong-konyong meluap, selagi ia mengacungkan sesuatu yang tampak seperti gulungan naskah drama dan membuangnya ke lantai dengan jijik. “Kau, manusia rendahan, seharusnya bersyukur karena aku telah membuat kisah Apollo favoritmu menjadi nyata!”

“Apa—“

“Apollo yang menghina Eros…” Dexter mulai berkisah, mengabaikan sepenuhnya sorot bingung di mata Nathan. “Apollo yang menganggap Eros tak bisa apa-apa, tak pantas menyandang busur serta panah. Oh, apa bajingan itu tahu bahwa Eros punya kekuatan yang lebih dari cukup untuk membalas dendam?”

“Kau gila.”

“Gila?” Kekeh sarkastis Dexter terdengar membahana. “Eros mungkin juga gila, tapi ia cukup pintar untuk menciptakan kekacauan. Panah berlapis emas ia tembakkan ke Apollo, bukan? Eros membuat Apollo jatuh cinta pada Daphne dalam sekejap mata. Dan tahukah kau apa yang dilakukan Eros kepada Daphne?”

Nathan tahu cerita itu, kisah yang kini sedang ia sutradarai. Ia tahu bagaimana kelanjutannya: bahwa Eros menembak Daphne dengan panah berlapis timah setelahnya, bahwa si Dewa Cinta dengan sengaja telah menanamkan bibit kebencian mendalam di hati gadis itu. Selamanya Daphne akan membenci Apollo, sementara Apollo….

“Daphne-ku tidak akan berbuat seperti Daphne di dalam naskah drama.” Nathan mengatupkan rahang, tangan terkepal di sisi tubuh. “Aku mencintainya, dan ia akan segera menyadari itu. Panah, huh? Jangan—”

“Tentu saja aku tidak menembakmu dengan panah sungguhan.” Dexter berdecak, berlagak bahwa ia tidak tahan dengan kenaifan Nathan. “Keturunan penyihir ingat? Aku hanya perlu membuat kalian saling berkontak mata; karena pada saat itulah kau akan jatuh cinta hingga tergila-gila padanya, sementara Daphne akan membencimu setengah mati. Ah, pembalasan yang indah, bukan? Dua orang yang kubenci dalam hidup akan terus saling mengejar, seperti kucing dan tikus yang tak kenal lelah.”

“Kau tidak tahu kalau cinta kami—“

“Cinta kalian menggelikan,” ejek Dexter terang-terangan, seraya tungkainya perlahan melangkah mundur untuk meninggalkan kamar mandi. “Yah, semoga beruntung saja kalau begitu.”

Butuh satu menit penuh sampai Nathan bisa mendapatkan kendali atas dirinya lagi, netra masih terpancang pada tempat Dexter berdiri tadi. Segala yang diucapkan lelaki itu berputar-putar di dalam benaknya, berkabut dan sedikit tak masuk akal. Tidak karena—untuk saat ini—Nathan hanya peduli pada perasaannya. Pada cinta yang menggunung di dalam hati, pada fakta bahwa Daphne belum juga bisa diluluhkan hatinya. Masa bodoh dengan mitos atau kisah dongeng macam tadi; Nathan selalu percaya bahwa cinta adalah hal yang lebih kuat dibandingkan kekuatan jahat.

Semua naskah dramanya toh menyatakan demikian.

Cinta bisa mengalahkan apa saja, membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Dan itu artinya, Nathan belum boleh menyerah di sini.

Ia harus membuat Daphne jatuh cinta kepadanya.

.

-o-

.

Tapi, tiga hari berlalu dan gadis itu sama sekali tak menampakkan diri.

Sebuah pikiran nekat merasuk ke dalam kepala Nathan, hampir saja mendorongnya untuk bergegas pergi ke rumah Daphne. Namun, mengingat bahwa mereka berpisah dalam keadaan yang tidak bisa dibilang baik, sang lelaki pun akhirnya mengurungkan niat. Memutuskan untuk menunggu, meskipun kadar kesabarannya dapat dibilang makin menipis dari waktu ke waktu.

“Untuk yang terakhir kali, lakukan dengan benar! Kau, seriuslah sedikit dengan peranmu sebagai seorang ayah! Kita ulang sekali lagi, lalu kita bubar setelah itu!” Nathan membentak, mengacungkan telunjuk pada salah seorang pemain yang sudah berulang kali salah mengucap dialog. “Dasar orang-orang tak berguna.”

“Nath—“

“Awasi mereka,” perintah Nathan pada Bryant, selagi ia memasukkan naskahnya dengan asal ke dalam tas selempang. “Kepalaku pusing, aku akan pergi duluan.”

Yang dititipi tugas lekas mengiakan, membiarkan Nathan melangkah pergi. Sang Sutradara sama sekali tak membuang waktunya, dengan sigap menyelinap keluar dan membiarkan pintu tertutup dengan bunyi debam pelan. Langkahnya mantap dan dipenuhi emosi, selagi ia menuju bagian depan The Old Vic dengan tatap tertuju pada kaca-kaca yang mengisi setengah bagian atas pintu.

Detik itu juga, manik Nathan melebar.

Berdiri bersandar pada salah satu dari pilar-pilar yang ada, Daphne tampaknya sama sekali tak menyadari kehadiran Nathan. Gadis itu membiarkan pandangnya berkelana mengawasi jalan raya yang mulai sepi, rambut keemasannya tampak semakin berpendar di bawah cahaya lampu oranye. Entah siapa yang ia tunggu, tapi Nathan jelas tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

“Hei.”

“Oh, kau.”

Canggung, itulah yang Nathan rasakan tatkala ia akhirnya berjalan mendekat dan berdiri tepat di samping Daphne. Secara terang-terangan menunjukkan rasa senangnya, kendati sang gadis masih tetap bertahan dengan mimik cemberut nan sebal miliknya.

“Daph—“

“Aku berharap orang lain yang keluar agar aku tak perlu menatap wajahmu,” balas Daphne, sedikit sinis, selagi ia merogoh sesuatu dari dalam tas tangannya. “Apa boleh buat.”

“Kau masih marah padaku?”

“Aku tidak marah.” Daphne menjawab tanpa jeda, menyorongkan sebuah amplop ke arah Nathan. “Aku benci dirimu.”

Menerima amplop putih tersebut, Nathan pun menundukkan kepalanya dan mengalihkan atensi. Dengan cepat membaca tulisan “pengunduran diri” yang tertulis di atasnya, frasa yang sudah cukup untuk menjelaskan maksud kedatangan Daphne kemari. Hatinya serta-merta mencelus, seolah ada yang sedang membenamkannya ke dasar danau hingga denyutan itu tak terasa lagi.

“S-sebesar itukah….” Nathan menelan ludah, mengembalikan fokus netra ke arah Daphne yang kini terang-terangan menolak bertukar tatap dengannya.  “Kau membenciku hingga sebesar itu?”

“Masih perlu kujelaskan?”

“Kakakmu… si Dexter itu….” Nathan mulai berbicara tak jelas, mengeluarkan segala kekecewaan dan rasa frustasi yang ada di benaknya. “Ia yang memengaruhimu agar membenciku, kan?”

“Jangan sok tahu!” bentak Daphne, mengibaskan rambutnya penuh amarah. “Aku dan dirinya bahkan tidak dekat! Kalian sama-sama menjijikkan!”

“A—“ Kehilangan kata-kata, Nathan pun membiarkan insting mengambil alih. Lengan terulur untuk menggapai sang gadis, mencengkeram bahunya ketika ia merasakan penolakan. “Jangan samakan aku dengan makhluk rendahan macam dirinya!”

“Jangan sentuh aku!”

“Kalau begitu, kauberitahu aku!” hardik Nathan, kehilangan semua kendali. Pertahanannya sudah runtuh, kesabarannya habis tak bersisa. “Beritahu aku, Daphne, salah apa yang sudah kuperbuat padamu? Apa aku pernah mengecewakanmu sebelum ini? Menyakitimu? Memperlakukanmu dengan kasar?”

“Kau sedang melakukannya sekarang!”

“Kau melakukannya lebih dulu terhadapku!” Nathan bergerak maju, memaksa untuk mendekap Daphne erat-erat seraya suaranya berubah menjadi isakan. “Aku berbuat baik padamu, Daphne! Aku mencintaimu! Namun, lihat dirimu! Kau sendiri yang sudah membuatku menjadi seperti ini!”

Daphne mendecak, emosi serta kebenciannya makin memuncak bagai tanpa batas. Kaki refleks bergerak untuk menendang Nathan menjauh, kedua tangan mendorong lelaki itu sejauh mungkin. Ekspresinya sama sekali tidak ramah, setiap kata yang ia lontarkan sebagai balasan terasa bagai duri yang menghunjam.

“Kautahu, lebih baik aku mati daripada harus hidup di dunia ini bersama—”

Kelanjutan ucapan Daphne tak terdengar, tidak karena Nathan sudah kembali bergerak mendekat, menangkup pipi sang gadis, dan membiarkan bibir keduanya bertemu. Menahannya dalam lumatan yang penuh kegilaan, penuh keputusasaan, penuh dengan harapan-harapan yang tak akan—

.

PLAAK!!

 .

Dan tamparan pun mendarat di pipinya.

“Kau lebih buruk dari yang kuduga.”

Diiringi kata-kata tersebut, kedua kaki sang gadis lantas berpacu cepat. Tak ingin segalanya makin berlarut-larut, Daphne pun berlari. Bergerak cepat menyeberangi Waterloo Road yang terletak di sebelah kiri gedung teater, dalam hati bersyukur karena tak ada kendaraan yang melintas. Waterloo Millenium Green kini tampak di depan matanya, sebuah bentangan taman kota yang berumput hijau dan dikelilingi pepohonan rimbun nyaris di semua sudutnya. Daphne tahu bahwa ia hanya perlu melintasi taman itu, mengambil jalan pintas ke Baylis Road dengan harapan ada bus yang bisa ia naiki di sana.

Tapi, nasib serta sepercik sihir yang ada di dalam tubuhnya tak mengizinkan hal itu untuk terjadi.

Alih-alih, keseimbangannya hilang tepat kala ia mencapai sebuah pohon yang ada di sisi paling kiri. Sebuah akar melintang telah menghadangnya, menghadirkan suara “bruk!” yang cukup keras selagi Daphne menyambut tanah. Nyeri pun menyebar di sekujur tubuh, bercampur dengan ketidaksukaan lantaran ia masih bisa mendengar suara Nathan yang memanggil-manggil dirinya—semakin dekat dan dekat.

“Daphne!”

Gadis itu jelas tak akan menyerah, tetapi keadaan telah menghalanginya. Kakinya yang tersandung telah terkilir, menghambat keinginannya untuk segera menjauh. Sumpah serapah kini ia luncurkan, sementara Nathan masih terus memanggil dan—

“Daphne!”

Sesuatu mencengkeram gadis itu.

Baik Nathan maupun Daphne melihatnya secara bersamaan, kengerian yang merambat di bawah remangnya lampu taman. Beberapa akar pepohonan telah membelit lengan dan tungkai gadis itu erat-erat, tak mengizinkannya untuk pergi sementara perubahan mulai terjadi. Kulitnya yang tadi mulus mulai mengerut, berubah menjadi kecokelatan layaknya kulit pohon. Warna keemasan di rambutnya memudar, pun dengan irisnya yang serupa madu. Hijau adalah warna yang perlahan-lahan menggantikan, sementara perubahan itu mulai bercampur dengan sebuah pertumbuhan.

Lantas, setelah enam puluh sekon berlalu, Nathan tak lagi bisa melihat sosok Daphne.

“Daphne?!”

Menjulang di hadapannya adalah sebuah pohon pinus, tegak dan penuh dengan keanggunan. Tertegun, Nathan hanya mampu menyaksikan embusan angin yang datang perlahan membelai tiap helai daun runcing pinus tersebut. Menggoyangkannya lembut, bergerak layaknya jemari yang sedang melambaikan selamat tinggal.

“Aku tidak tahu kenapa aku membencimu, tetapi ini lebih baik bagiku, Nathan.”

Bisikan itu menyapa rungu Nathan, sebelum senyap akhirnya mengisi. Meninggalkan sang lelaki dalam kesendirian, bulir-bulir air jatuh menetes tanpa bisa dicegah. Lubang kecil yang kemarin-kemarin terbentuk di dadanya akibat perlakuan Daphne mungkin kini telah membesar; dan sialnya, menjadi sesuatu yang permanen. Nathan tahu jika lubang itu, rongga menganga yang mengucurkan darah, tak akan pernah tertutup lagi.

Ia sama saja dengan Apollo.

Apollo yang akhirnya ditinggalkan Daphne, yang hanya bisa berduka karena rasa cinta akibat panah Eros akan bertahan untuk selamanya.

Itulah akhir dari naskah drama yang ada di dalam tasnya…

…sekaligus akhir dari perasaan cintanya pada Daphne Ashworth.

.

-o-

.

Satu bulan berlalu, dan segalanya berjalan seperti biasa.

Aneh rasanya, melihat bagaimana orang-orang lain tidak terpengaruh. Bagaimana semua pemain dan kru teater berkata bahwa mereka tak pernah mengenal Daphne Ashworth, bagaimana gadis itu seakan tak pernah menjejakkan kaki di dunia ini. Seolah hanya Nathan sajalah yang mengenal dan mencintai gadis itu; gadis yang dulu dikenal berhati baik sebelum kutukan menghantamnya, gadis berambut keemasan yang sekarang berdiri menjulang di Waterloo Millenium Green sebagai pohon yang tak akan pernah menguning.

“Aku merindukanmu, Daphne.”

Diiringi gemersik daun yang bertemu angin, Nathan melarikan jemarinya di atas batang pohon itu sebelum beranjak menuju gedung teater. Bagaimanapun juga, tak peduli meskipun raga sang gadis tak lagi seperti dulu, Nathan masih mencintainya. Rasa bersalah itu masih ada, keinginannya untuk terus mengungkapkan rasa sayangnya masih bertahan.

Maka, itulah yang ia lakukan.

Melontarkan satu atau dua kata penyesalan setiap pagi, membisikkan kata-kata manis tiap ia melintasi Pohon Daphne sepulang kerja. Menyedihkan memang, terlebih jika Nathan kembali teringat bahwa sebuah kutukanlah yang mengawali semua ini. Kutukan yang memang dimaksudkan untuk membuat perpecahan, menghadirkan kehancuran, membawa segala sesuatu yang buruk ke dalam kehidupan.

Namun, terlepas dari semua itu, Nathan tetap percaya akan cinta yang bersemayam di dalam dirinya.

Bahwa cinta adalah sesuatu yang indah serta patut dipertahankan….

.

.

.

dan bahwa kebaikan serta kecantikan Daphne adalah sesuatu yang akan menghijau abadi.

.

.

“Aku akan melindungimu, Daphne. Apa pun yang terjadi.”

.

fin.

akhirnya bisa selesai juga remake dari mitologi Yunani yang pertama ini :’)

ditulis berdasarkan cerita Apollo, Eros (Cupid), dan Daphne seperti yang sudah diceritakan di atas, bisa dibilang ini versi modern-nya (?). Semua latar tempat (The Old Vic, Waterloo Road, dsb.) nyata adanya, terima kasih pada Google Maps yang sudah membantu ❤

Bagi yang sudah bertahan membaca sampai sini, tolong tinggalkan komentar kalian, ya!

Sampai jumpa di remake berikutnya!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s