The Neighbors: Rain and Some Memories

Standard

the-neighbors-2

The Neighbors: Rain and Some Memories

.

“Sialnya, mereka sedang berada di dalam fase ketiga.”

.

.

 

Ia terbangun, meregangkan lengan, dan terbengong kala melihat sosok lelaki itu berdiri di dekat jendela.

Althea butuh waktu sekitar lima menit untuk mengamat-amati keadaan sekitar, sebelum akhirnya menyadari bahwa ia tak sedang berada di kamar apartemennya sendiri. Kehadiran sang lelaki juga seharusnyasudah bisa menjadi sebuah pertanda, bahwa dirinya pasti telah membuat sebuah kesalahan tadi malam. Apa pastinya, Althea tidak benar-benar tahu. Otaknya menolak untuk lekas berpikir, terlebih mengingat bahwa hari masih pagi dan—

Good. It’s been hours and I’m start to wonder about when you will wake up.”

—ups.

Menoleh perlahan, Althea bisa melihat rupa masam itu diarahkan kepadanya. Lengkap dengan alis berjungkit naik, juga bibir yang terkatup rapat membentuk garis tipis. Tanda bahwa suasana hati seorang Nick Williams pastilah sedang buruk—sesuatu yang membuat sang gadis lekas menelan ludah karenanya.

“Er—“ Althea berdeham-deham, berusaha abaikan pening yang masih mendera kepalanya. “—Hai, Nick. Long time no see?”

“Bullshit.” Nick mendengus, memutar tubuhnya untuk menatap Althea. “Sepasang tetangga yang sudah lama sekali tak bertemu. Ha ha, lucu sekali.”

Sarkasme itu meluncur keluar tanpa bisa dicegah. Mengambang di udara selama beberapa sekon, mengubah suasana menjadi semakin canggung. Sang gadis bahkan hanya bisa mengerjapkan kelopaknya, tangan terangkat untuk merapikan helai-helai rambutnya yang kusut masai. Ia bingung, tak yakin harus melontarkan apa sebagai jawaban.

Oh, dan omong-omong, ia tidak tersinggung, kok.

Tidak sama sekali; terima kasih pada fakta bahwa keduanya memang saling mengenal dekat. Sarkasme dan humor kelam adalah bagian dari cara Nick berkonversasi, sesuatu yang sudah dipahami Althea semenjak dulu. Lagi pula, ia memang sedikit merindukan candaan-candaan sinis lelaki itu. Sesuatu yang dulu akan ia timpali dengan tepukan di pundak atau kekeh kecil, tetapi untuk saat ini….

I’m sorry.” Satu tarikan napas panjang, selagi Nick masih tetap bertahan dalam posisi yang sama. “For what happened last night, I’m sorry.”

“Don’t,” jawab Nick cepat, nyaris tanpa jeda. “Permintaan maafmu, aku tak butuh itu.”

Bungkam, itulah yang Althea lakukan sembari lamat-lamat bangkit berdiri. Padahal, kalau boleh jujur, ia ingin sekali melempar lelaki itu dengan ponsel di kantongnya atau sepatu yang tergeletak di depan sana. Tapi, alih-alih melakukannya, Althea memilih jalan lain. Pandang diarahkan sekilas pada Nick yang sudah kembali menatap jendela, menatap derai hujan yang entah turun sejak kapan. Hujan yang biasanya Althea sukai, namun entah mengapa kali ini terasa mengejek dirinya.

Bagaimanapun juga, Althea tidak seegois itu. Ia tahu apa yang Nick benci, ia tahu kenapa perbuatannya semalam—mabuk sampai salah masuk kamar apartemen—telah memancing timbulnya perkara pada pukul tujuh pagi. Ia bersalah, tetapi…

Can we talk later?” Althea bergumam sebagai salam perpisahan, netra berkelebat sekali lagi ke arah tetes-tetes air yang menghiasi kaca jendela. “I… well, we’re still friend, right?”

Tidak ada jawaban. Nick memilih saat itu untuk benar-benar diam sepenuhnya. Jelas bahwa ia sedang tak ingin berbicara, pun membalas ajakan dari Althea untuk berbaikan. Namun, berbaikan seperti apa pula yang sebenarnya Althea harapkan? Keadaan mereka tak pernah benar-benar memburuk, tetapi tidak lantas bisa dibilang akrab dan baik. Keduanya hanyalah sepasang anak manusia yang sedang terjebak di siklus sebuah hubungan: saling mengenal, menjadi dekat, kemudian kembali renggang.

Sialnya, mereka sedang berada di dalam fase ketiga—fase yang tidak diinginkan Althea.

Thanks, then.

Maka, setelah beberapa jenak berlalu, percakapan mereka berakhir begitu saja dengan ungkapan terima kasih dari Althea. Diikuti pergerakan tungkainya menuju pintu depan, tanpa salam apa-apa bergegas pergi dari apartemen milik Nick. Suara pintu dibanting bahkan terdengar di dalam ruangan itu, gemanya jelas terasa sementara Nick mengembuskan napas panjang-panjang.

Fucking stupid.” Nick menggerutu pada dirinya sendiri, kedua iris masih bergeming menatap hujan yang turun makin deras. “You’re an idiot, Nick.”

Penyesalan yang terlambat. Sebuah rasa yang klise, namun tengah melanda benak sang lelaki saat ini. Membuatnya mendadak ikut terserang pening, padahal bukan ialah yang menenggak alkohol hingga mabuk semalam. Semua ini gara-gara Althea, tetangganya selama setahun belakangan sekaligus….

I do miss you too.” Satu telunjuk bergerak di atas kaca jendela yang dingin, efek samping dari hujan yang begitu mudah dirasakan. Sungguh tak biasa, mengingat dulu, hujan adalah sesuatu yang akan Nick kaitkan dengan waktu bertukar kisah sekligus kehangatan yang menenteramkan.

Namun, untuk kali ini, ia tak akan mendapatkannya.

Ia sudah membuat kesalahan.

Ia terpaksa merelakan Althea untuk menjauh lagi; menunggu waktu yang tepat sampai mereka bisa bertemu dan berbicara baik-baik. Tanpa alkohol atau hal-hal yang membuat emosi terpancing, tanpa keegoisan pribadi yang malah mengacaukan segalanya.

Karena Althea adalah tetangga yang lebih dari sekadar tetangga.

Dan karena mereka adalah sepasang sahabat yang sudah dekat semenjak usia kanak-kanak.

.

.

.

“We will meet again, right?”

.

.

Advertisements

2 thoughts on “The Neighbors: Rain and Some Memories

  1. Hai kak~
    Seriesnya, as always, bagus. Ada tanda tanya besar kenapa hubungan mereka jadi begitu. From besfriend to strangers? Some tragedy, maybe? Cepet lanjut ya kaaa. I really love Nick-fucking-stupid-William hahaha.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s