The Neighbors: Things He Hates

Standard

196630

The Neighbors: Things He Hates

.

“I fucking hate butterflies, you know?”

.

.

Kedatangan tamu pada pukul tiga pagi jelas masuk ke dalam daftar hal-hal yang dibenci Nick.

Lelaki bersurai kelam itu bahkan baru saja meletakkan kepalanya di atas bantal beberapa menit lalu, goddammit—dan sekarang ia terpaksa menyeret-nyeret kaki menuju koridor depan. Mau bagaimana lagi, suara dering bel itu tak mau berhenti. Si “tamu”—entah siapa pun dia—agaknya butuh diberi omelan panjang lebar dulu agar ia mengerti, disertai dengan selipan beberapa makian kalau perlu.

Namun, Nick bahkan baru sempat mendesiskan satu kata makian kala sosok itu tahu-tahu ambruk dan sepenuhnya menyandarkan diri pada tubuh—well, tubuhnya.

Ow, crap!

Mengangkat kedua tangan, Nick meraih bahu sosok berambut panjang di hadapannya dan mengguncangkannya perlahan. Dengan susah payah berusaha untuk menatap wajahnya, diikuti dengan desah—entah lega atau kesal—kala ia mengenali siapa gadis yang telah berbuat seenaknya sendiri. Oh, Nick kenal dia tentu. Terlepas dari sifatnya yang sering dibilang tak ramah-ramah amat, tidak mungkin kan kalau ia tak mengenali tetangganya sendiri? Terlebih gadis ini—

Night, Nicky. What are you doing here?”

Mabuk; itulah hal pertama yang Nick sadari ketika si gadis—namanya Althea, omong-omong—membuka mulut dan melontar konversasi. Suatu ajakan yang tak perlu ia tanggapi, lantaran Althea sudah keburu memejamkan matanya dan tampak linglung setengah mati.

“This isn’t your room, Thea.”

“Mmm, you’re funny, ya’ know?”

Kali ini, Nick hanya bisa memutar bola mata. Pasrah, sementara Althea malah terkikik dan berjalan masuk dengan langkah sempoyongan. Gadis itu bukan hanya mabuk ringan semata, jelas bukan jika melihat bagaimana ia salah mengenali kamar apartemen. Kekesalan Nick bahkan tak ia hiraukan, seraya dirinya dengan santai menjatuhkan tubuh di atas sofa lelaki itu.

You’re funny.”

“Am not.”

“You’re,” balas Althea, memelototi Nick sejemang sebelum pengaruh alkohol kembali menghampirinya. “This world is funny.”

Nick bahkan tak memiliki niatan untuk bertanya mengapa, memutuskan untuk pergi mengambil segelas air dan aspirin saja. Meski kesal, ia toh tak sebegitu kejam. Ia dan Althea sudah cukup lama mengenal, sehingga asalkan gadis itu tak mengganggu serta membuatnya terpaksa menambah tanda centang di daftar “Hal-Hal yang Nick Benci dan Sialnya Baru Saja Terjadi”, maka ia tak akan setega itu menyeret Althea keluar. Mabuk saja sudah cukup menyebalkan, dan….

“Kautahu, Nicky… aku benci kupu-kupu.”

Nick hanya membiarkan jungkitan tercipta di alisnya.

I fucking hate butterfly,” gumam Althea lagi, jemarinya bergerak-gerak tak jelas di udara—mungkin maksudnya menirukan kupu-kupu yang sedang terbang. “I hate them, fucking hate them. You know why?”

Why?”

“Karena kupu-kupu mengingatkanku akan semua perubahan yang terjadi di dunia ini,” jawab Althea, susah-payah menegakkan diri selagi ia membuka kelopaknya dan menatap Nick lurus-lurus. “I hate that. Everything’s change, and I’m scared.

Dengan berat hati, Nick pun terpaksa melanggar ucapannya sendiri. Dalam diam memberikan tanda centang tambahan di daftar “Hal-Hal yang Nick Benci dan Sialnya Baru Saja Terjadi”, namun tetap tak mampu untuk benar-benar mengusir Althea. Well, ia memang tak terlampau suka membicarakan soal perubahan. Ia lebih memilih untuk menjalani hidup layaknya air—melakukan apa yang perlu dilakukan, mencoba hidup dari hari ke hari tanpa terlalu banyak berkontemplasi. Tapi, Althea sudah terlanjur mengungkit-ungkit topik itu. Membawanya ke permukaan—

You too, Nick. Kamu berubah. Apa yang kamu lakukan sekarang, huh? Pura-pura kalau kita tidak pernah akrab?”

—serta menghadirkan kembali rasa bersalah yang selama ini susah-payah Nick pendam.

Menelan saliva, Nick hanya melempar tatap ke arah Althea yang kini sudah mengganti posisinya menjadi berbaring di sofa. Mata terpejam erat, seakan sang gadis tengah berpolah tak acuh pada efek samping dari kata-katanya barusan. Padahal, bagi Nick, segala hal yang diucapkan Althea tadi amat mengganggu pikirannya. Memaksanya untuk masuk ke lubang kebimbangan, untuk sementara melupakan ketenangan hidup yang selama ini ada.

Sumpah demi apa pun, Nick tidak pernah secara sengaja pura-pura tak akrab dengan Althea.

Ia hanya… yah, ia….

Sebenarnya, apa yang terjadi padanya?

Althea bilang, kupu-kupu mengingatkannya akan perubahan. Tanpa perubahan, kupu-kupu tentu tak akan ada. Dan meskipun semua orang menganggap kupu-kupu sebagai sesuatu yang indah, tetapi Althea tidak demikian. Ia membencinya; atau tepatnya, ia benci karena hal itu mengingatkannya akan perubahan yang terjadi di antara mereka.

Perubahan yang tidak pernah Nick maksudkan, yang terjadi begitu saja, yang mengambil alih hidup layaknya air menerjang. Teramat tiba-tiba, amat tak disangka, serta tak mampu mereka hindari.

Jadi….

“Don’t hate me, Thea. Please.”

Hanya itu yang akhirnya bisa Nick kemamkan, seraya ia memilih untuk meraih selimut dan menyampirkannya di tubuh sang gadis. Dengan sendu menatap rupa yang tak lagi asing, mendadak sadar betapa ia tidak menginginkan rasa benci untuk tumbuh di antara mereka. Karena, pada nyatanya, seorang Nick memang masih peduli pada Althea.

Pada Althea yang merupakan tetangga apartemennya…

.

.

…juga pada Althea yang selalu lebih dari sekadar tetangga semata.

.

.

“Because I do care even though we start turning into butterflies. You know that, right, Thea?”

.

.

fin.

akhirnya orific ini kelar juga :”

Profil Nick x Althea dan kelanjutan series-nya akan coming soon, ya! ((baca: kalau ada waktu luang di tengah kkn lagi))

see ya! ❤

Advertisements

8 thoughts on “The Neighbors: Things He Hates

  1. jihyeonjee98

    Mereka ini…….kalau di bilang tetangga tapi punya perasaan lebih…. Mereka pernah pacaran, kak amer? >_<

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s