A Brief Moment of Pain

Standard

121925861_17

BTS’ Park Jimin

Family, slight!Sad

.

It’s this kind of pain;

watching someone who seems better than you,

hold the person that you cherish with your whole life dearly

.

.

.

Ketika Park Jimin membuka pintu apartemennya sore itu, ia tertegun.

Langkah kaki seketika berhenti di samping sepasang sepatu yang bukan miliknya, sementara tatap langsung bergulir ke ruang tengah. Berharap untuk mendengar celoteh sang adik beserta kekasihnya, namun hanya sepi saja yang ia dapati. Suatu hal yang sebenarnya tidak aneh—toh Min Yoongi memang suka menumpang tidur di sini—tetapi entah mengapa mampu membuatnya merasa sedikit kesal kali ini.

Atau mungkin, kesal bukan kosakata yang sepenuhnya tepat.

Menggerakkan tungkainya maju, ia bisa melihat bahwa kedua orang itu memang sedang terlelap di sofa. Sama sekali tak terbangun, pun menyadari kehadiran Jimin yang kembali berdiri mematung. Oh, tentu bukan tanpa alasan Park Jimin berpolah demikian. Ia punya sebuah alasan; sebuah pemikiran yang sebenarnya sedikit kurang rasional. Tetapi, alih-alih mengenyahkan, Jimin lebih memilih untuk menggenggamnya erat.

Memalingkan pandang dari saudarinya yang masih tidur berbantalkan pundak Yoongi, Jimin lekas berderap ke kamar tidurnya. Menutup pintu rapat-rapat, tak lupa pula menguncinya. Punggung lantas bertemu dengan kasur, sementara embusan napasnya terdengar tak beraturan. Bahkan, sudut matanya kini mulai terasa panas.

Payah.

Tidak ada hal buruk yang terjadi, untuk apa kau menangis, Park Jimin?

Membatin kalimat itu berulang kali, Jimin berusaha berdebat dengan dirinya sendiri. Menghadirkan puluhan kontemplasi, mencoba mengusir sesak sebelum bergumpal di dalam benak. Sungguh, Jimin benci ini. Ia tidak suka memandang Yoongi—sahabat sekaligus lelaki yang sudah ia anggap sebagai keluarga—dari sudut yang sebegitu piciknya. Namun….

Toh, kamu tahu kalau ia menyayangi Minha.

Bagai pengingat, satu pernyataan itu tahu-tahu menyeruak ke permukaan. Lengkap dengan satu gambaran yang tadi sempat dilihatnya—bagaimana Yoongi merangkul Minha ke dalam dekapnya. Dua buah perkara yang saat ini terasa kontras bagi Jimin, selagi ia mengepalkan tangannya kuat-kuat dan menahan air mata.

Karena lebih dari apa pun juga, ini menyakitinya.

Well, Jimin tentu tahu bagaimana cara Minha memandangnya. Bagaimana sang adik selalu menganggapnya sebagai lelaki nomor satu dalam hidupnya, bagaimana gadis itu senantiasa mendahulukan Jimin dan memberi perhatian kepadanya. Sungguh serupa dengan dirinya, yang dulu pernah bersumpah untuk membahagiakan adiknya. Untuk memastikan agar masa lalu mereka yang penuh kesedihan tak terulang, untuk menjamin bahwa adiknya itu senantiasa merasakan cinta.

Dan Yoongi….

Yah, katakanlah Yoongi melakukan tugas itu dengan baik.

Mengakui dengan pahit, itulah yang sedang Jimin lakukan sekarang. Tidak mudah memang, tetapi ia juga tidak mau hal ini menjadi makin berlarut-larut. Ia toh tidak buta, ia bisa melihat bagaimana cara Yoongi meletakkan tangannya pada pinggang Minha saat mereka terlelap tadi. Bukan posesif, melainkan melindungi. Itu adalah cara Jimin merangkul sang saudari sejak dulu, sehingga mudah saja baginya untuk menyadari apa arti di balik perbuatan Yoongi.

Tapi, siapkah ia untuk berbagi?

Ataukah selama ini, ia hanya berpura-pura siap?

Jimin tidak tahu yang mana jawabannya, pun enggan untuk langsung mencari tahu. Sebut ia pengecut, karena memang itulah kenyataannya. Lagi pula, sebagai seorang kakak, bukankah wajar untuk berpikir demikian? Tidak ada yang lebih sakit daripada ini: menyadari bahwa ada lelaki lain di luar sana yang bisa menjaga saudarinya sebaik—atau mungkin lebih baik—dibanding dirinya.

Selain itu, memang ia bisa apa? Tujuan serta prioritasnya juga sudah terpenuhi tanpa perlu ia bersusah-payah. Selama Minha baik-baik saja dan bahagia, maka sudah sepantasnya ia ikut bertingkah sama, bukan? Terlebih—

“Kak Jimin? Sudah pulang kenapa tidak bilang-bilang, sih? Aku mau keluar mencari makan dengan Yoongi, ikut tidak?”

Berdeham kecil, Jimin lekas mendudukkan diri kala suara itu memotong jalan pikirnya. Telapak tangan bergerak cepat mengusap air mata, kekeh samar keluar dari bibir saat ia menyadari betapa konyolnya ia selama beberapa menit barusan. Oke, Minha boleh saja menyayangi Yoongi. Namun, itu tidak berarti ia akan melupakan Jimin, kan? Mereka bersaudara, mereka memiliki sesuatu yang tak akan pernah hadir dalam bentuk-bentuk hubungan lainnya. Jimin hanya perlu meyakini itu….

.

.

“Kak Jimin? Jawab, dong! Jangan membuatku khawatir! Kakak tidak sakit atau—“

“Oke, oke! Tunggu lima menit, Minha-ya!”

.

.

…jadi, tolong simpan kecemasan Jimin tadi sebagai rahasia, ya?

.

fin.

 

Advertisements

3 thoughts on “A Brief Moment of Pain

  1. Dan baca ini malah keinget ff-ku yg yunha nikah itu…….. ini kaya before atau side story ttg isi hatinya jimin gitu > <
    Chimchim jangan galau atuh. Namanya saudara atau keluarga (apalagi kalian kembar) ga akan saling ninggalin. Kalo kesepian sini sama nuna aja~ nuna available anytime ko XD *kabur sebelom dibom sama minha

    p.s: ini ga aneh absurd atau apa pun itu ya. Ini kece ko ^^)bb

    Like

  2. Udah lama gabacaaaa dan jimin gawawwww.
    Carikan mas jimin kekasih lah dek minha, terus nanti bapak mertua galaunya sama kayak jimin. Nah, sweet loveee yaa~~

    Like

  3. duh kak amer….aku juga pengen punya abang kayak jimin… so so sweet… huhuhu 😦 *nasib anak sulung* *waks* #abaikan saja
    akhirnya setelah berhari-hari otak dijejelin pelajaran dan mata dicolok monitor (?)… UN AKU UDAH KELAR LOH KAK AMER YESS AKHIRNYA BISA SINGGAH KE BLOG INI DAN I-EF-KA UYEAH ^^9 maapkeun aku suka curcol gapapa kan kak? 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s