[#2] The Silver Age of Virgo

Standard

virgo-series2

the Silver Age of Virgo

.

starring 

Park Jimin as Alven, Park Minha as Aleta, Min Yoongi as Fyre, Kim Seokjin as Killian, Lee Yein as Icy, Kim Jinhwan as Axel, and Claire Jung as Rhea

Chaptered | Fantasy, Wizard!AU, Life, Friendship, Family | 15

.

Intro | #1: Obscured

.

.

.

#2: Presence

.

Mereka menyebutnya Virgo, konstelasi yang menjadi lambang bagi dewi keadilan. Pada masa keemasannya, kehadiran sang dewi berarti kebaikan pada muka bumi. Kemakmuran, kedamaian, musim semi yang tidak berkesudahan—semua itu ada karenanya.

Namun, sebagaimana kisah lainnya, waktu berjalan dan perubahan pun terjadi.

Mereka lantas menamakannya Silver Age, suatu masa ketika Virgo memilih untuk pergi. Ketika peperangan, perkelahian, dan pertikaian terjadi; ketika musim dingin yang kejam datang bersama kelaparan dan penyakit. Sang dewi telah dicampakkan, sehingga ia memutuskan untuk bergabung dengan langit dan memancarkan wibawanya dari atas sana.

.

.

.

Lantas, setelah beratus tahun berlalu, Virgo kembali.

Kami menyebutnya konstelasi Virgo, rumah bagi kekuatan sihir sekaligus pengingat atas tanggung jawab yang ada. Enam bintang utama telah meminjamkan sinar mereka pada kami, dan itulah yang membuat kami berbeda dari manusia lainnya. Ada berbagai macam hal yang dapat kami lakukan, hal-hal yang dapat membuatmu kagum dan terpana.

Kami—Spica, Alaraph, Porrima, Auva, Vindemiatrix, dan Heze—memang berbeda. Tapi, kami bukan pahlawan. Kejahatan toh tetap terjadi, perpecahan dan pertengkaran bukanlah sesuatu yang asing. Ya, bumi pada masa kini sungguh bergelimang perkara, bukan?

Namun, bukan berarti kami menyerah begitu saja.

Setidaknya kami bisa mencoba, memanfaatkan sihir yang ada untuk hal-hal kecil di sekitar kami. Untuk berbuat kebaikan, untuk menolong yang membutuhkan. Tidak apa jika hasilnya tidak sempurna, selama itu dilakukan tanpa maksud mempermalukan nama sang Virgo. Itulah yang kami perbuat selama beberapa tahun terakhir ini, tetapi…

…jikalau perubahan akhirnya kembali datang dan merusak keseimbangan kami, lalu apa yang akan terjadi selanjutnya?

.

-o-

.

“Ini gila, Killian! Tiga orang sekaligus? Heze, Auva, dan Porrima? Kamu tahu kan, seberapa besar kekuatan mereka?!”

Yang diteriaki hanya bisa menghela napas, menunggu sampai Rhea selesai mencurahkan segala kekesalannya. Lagi pula, ia sudah paham benar tabiat si gadis pemilik lambang Vindemiatrix itu. Kepanikan dan kekalutan dapat membuat emosinya menjadi tidak terkontrol; sehingga pada situasi seperti ini, diam dan mendengarkan menjadi pilihan terbaik.

“Heze dan Auva adalah pusat dari konstelasi!” imbuh Rhea beberapa sekon kemudian, sadar bahwa tak ada satu pun dari kawan-kawannya yang berniat menanggapi. “Dan Porrima, ia ahli dalam hal mengendalikan waktu, bukan? Tahukah kamu seberapa fatal akibatnya jika ia jatuh ke tangan lawan?”

“Rhea….”

“Siapa musuh kita ini, sampai ia bisa mengalahkan Fyre dan melawan pemilik bintang Spica?”

“Kami juga tak bisa melihat rupanya,” balas Alven lamat-lamat, akhirnya buka suara saat ia mendapati tatap tajam Rhea terarah kepadanya. “Berjubah kelam, dan ia jelas memiliki kekuatan sihir besar serta—”

“Serta mampu mengalahkanmu dan Aleta,” sambar Rhea cepat, tanpa basa-basi. “Kalian ini pemilik kekuatan Alpha Virginis! Bintang paling terang di konstelasi, dan masih saja—”

“Oh, jadi kamu menyalahkanku dan Kak Alven?” potong Aleta, tahu-tahu buka suara kendati ia masih terlihat sedikit pucat. Pertempuran tempo hari jelas membuatnya terguncang, pun dengan luka-lukanya yang belum sembuh benar. Kehilangan Fyre jelas memperparah keadaan, lantaran mereka bertiga biasanya tidak terpisahkan. Aleta sadar benar betapa kekuatan sihirnya—dan sihir mereka semua—terpengaruh oleh kondisi ini. Betapa mereka menjadi lebih rentan akan serangan, dan perpecahan lainnya bukanlah hal yang mereka butuhkan saat ini.

“Nyatanya, kalian berdua ada di sana dan kalian tidak bisa menghentikan—”

“Axel juga hilang, dammit!” bentak Aleta, tak lagi mampu memendam emosinya. Sang gadis kini telah ikut berdiri, lengkap dengan sinar tipis kebiruan yang melingkupi tubuhnya. Tanda bahwa ia siap menyerang kapan saja, sehingga Killian pun lekas melangkah mendekat dan berusaha menengahi.

“Teman-teman….”

“Icy juga hilang, jadi sebaiknya kamu diam, Killian.”

“Rhea, bertengkar tidak akan—”

“Kamu pemimpin, dan kamu tidak bisa mencegah ini! Jadi, diamlah dan—”

“Cukup!”

Satu perintah, yang langsung berbuah pada heningnya keadaan. Agaknya Killian baru saja menggunakan kekuatannya untuk memengaruhi situasi, lantaran baik Rhea maupun Aleta langsung bungkam dan memasang rupa datar. Menunggu sampai Killian mau melepas sihirnya, sementara sang pemimpin memilih untuk menggulirkan maniknya pada Alven lebih dulu.

“Bagaimana menurutmu?”

“Soal?”

“Perdebatan ini tidak akan berakhir begitu saja, Al,” balas Killian. “Dan aku tidak mau menyalahkanmu, Aleta, ataupun Rhea. Siapa pun yang melakukan ini, kurasa mereka masih akan menyerang lagi.”

Mimik muram Alven adalah tanda bahwa ia setuju, kendati bibir itu enggan untuk membuka dan mengakui secara langsung. Alih-alih, si lelaki dari bintang Spica itu malah menyandarkan tubuh pada sofa yang ia duduki. Sebelah tangan tanpa sadar mengeluarkan sepercik api, sementara Killian menghilangkan pengaruh kekuatannya pada Aleta dan Rhea.

“Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?”

“Yang terpenting, kalian harus berhenti berteriak-teriak lebih dulu,” sahut Killian, mendapati Aleta yang kini menggumamkan permintaan maafnya sementara Rhea memilih berjalan menjauh. “Lebih baik, kan?”

“Akan lebih baik jika kita bisa tahu siapa yang menculik mereka,” ujar Rhea, masih terdengar ketus kendati ia tak lagi menaikkan volume suaranya. Menyilangkan kedua lengan, gadis bersurai panjang itu memosisikan dirinya tepat di samping jendela apartemen Killian. Memandang ke luar, sembari melanjutkan, “Kita harus melacaknya.”

Hening kembali datang menyusul saran yang diutarakan Rhea. Masuk akal memang, tetapi tak semudah itu untuk dilakukan. Sebagai pemimpin sekaligus yang tertua di sini, tentu saja Killian sudah memikirkan hal itu sejak tadi. Namun….

“Aku tak yakin kita bisa melakukannya.”

Serentak, tiga orang lainnya pun langsung menolehkan kepala mereka ke arah Killian. Tatap terkunci, lengkap dengan raut tak paham serta rasa frustasi yang teramat kentara. Pernyataan dari sang Alaraph itu jelas menyiratkan pudarnya harapan—sesuatu yang sama sekali tak mereka harapkan di tengah kekacauan.

“Killian, apa maksud—”

Menghentikan laju pertanyaan Alven, seberkas sinar keemasan yang berpendar cerah sekonyong-konyong muncul di atas permukaan lantai. Spontan menarik fokus atensi mereka ke sana, mengamati lingkaran sihir milik Killian yang sedang terpampang. Lingkaran yang selalu muncul tiap kali mereka hendak melontarkan sebuah mantra, yang sejak tadi luput dari perhatian ketiga orang lainnya.

“Aku tahu jika kalian belum menyadari ini,” kata Killian, memulai sembari mengarahkan telunjuk pada simbol-simbol yang ada. “Hal yang wajar, mengingat lingkaran ini senantiasa ada sejak kali pertama kita bisa melakukan sihir. Tanpa pernah berubah barang sekali pun, tanpa pernah lenyap dari sisi sang pemilik kekuatan. Tetapi, dalam mimpiku….”

Mengikuti ujung telunjuk Killian yang kini berhenti di atas sebuah lambang, sontak Alven, Aleta, dan Rhea pun menahan napas mereka. Manik melebar saat menyadari adanya simbol-simbol yang tak menyala, hanya berupa garis hitam samar di tengah cahaya. Rasanya bagai dipaksa menghadapi mimpi buruk itu sekali lagi, seraya ketiganya berkonsentrasi mengeluarkan lingkaran sihir masing-masing dan mendapati hal yang serupa tengah terjadi.

“…dalam mimpiku, aku sudah melihat ini. Lalu Icy menghilang, kalian semua datang membawa kabar buruk, dan apa yang kulihat menjadi nyata.”

“I-ini…” Aleta meneguk ludah, selapis air muncul di kedua maniknya kala ia memandang Killian. “…sejak kapan lingkaran sihir kita menjadi seperti ini? Baru sehari berlalu sejak mereka hilang, dan tadinya aku tidak menyangka kalau… kalau….”

“Tidak ada yang menyangka memang.” Killian mengangguk setuju. “Kamu dan Alven berusaha untuk segera menemuiku, pun dengan Rhea yang saat itu sedang berada di Hong Kong. Kita panik, dan tak ada yang tahu kapan tepatnya lingkaran ini berubah. Satu-satunya yang pasti adalah arti dari semua ini.”

“Arti dari semua ini?”

“Bahwa mereka tidak bisa menggunakan kekuatan sihir,” jawab Killian mantap, mengepalkan tangannya untuk menahan kesal. “Siapa pun yang menculik Fyre, Icy, dan Axel, mereka berhasil menyegel kekuatan yang ada. Ini buruk bagi kita, dan kalian semua tahu kenapa. Saran Rhea tadi tidak akan berhasil.”

Berbeda dengan sebelumnya, Rhea tak lagi membantah ataupun bersiap menyanggah. Ia hanya bungkam, mencerna semua penjelasan Killian yang memang penuh dengan kebenaran. Untuk melacak seorang penyihir, kau harus memastikan bahwa kekuatan yang bersangkutan sedang aktif digunakan. Suatu hal yang sederhana, namun bisa menjadi krusial di saat-saat seperti ini.

Singkat kata, mereka buta dan tak tahu harus melakukan apa.

Menyadari hal itu, ekspresi mendung pun seketika hadir kembali di wajah mereka berempat. Memaksa decakan kesal dan keluhan untuk hadir kembali, kepala berdenyut berusaha memikirkan solusi. Tambahkan kecemasan dan kekhawatiran yang menumpuk, mendorong-dorong ambang batas kesabaran tanpa mau berbelas kasih. Hanya pandang kosong ke arah lingkaran sihir masing-masing yang bisa mereka berikan; memohon, mengharap, dan meminta agar solusi—

.

.

.

“Oh!”

.

.

.

“Ada apa?”

“L-lambang Axel….” ucap Rhea, kelopak mendadak terbuka lebar sementara ia menunjuk-nunjuk simbol Heze. “Aku baru saja melihatnya menyala!”

“Apa kamu—”

“Aku yakin, teman-teman!” sambar Rhea tak sabaran, melempar sorot penuh amarah saat ia melihat keraguan ketiga kawannya. “Oke, sekarang memang tidak lagi, tapi—”

Tak ada yang tahu pasti apa kelanjutan dari perkataan Rhea, lantaran suara berdebum keras tiba-tiba terdengar membelah malam. Merambatkan getarnya, serta mengguncang gedung apartemen tempat Killian tinggal. Serentak membuat keempatnya bertukar pandang, selagi suara pemicu kengerian itu terdengar lagi. Menggema, lantas berbaur dengan teriakan-teriakan orang yang panik dan kebingungan.

“Yang barusan itu….”

“Gempa?”

“Suaranya lebih mirip benda jatuh,” balas Alven dalam bisikan, lengan sudah terangkat untuk merangkul Aleta erat-erat ke sisinya. “Sesuatu yang besar, dan sepertinya tidak jauh dari sini.”

Killian mengangguk setuju, tanpa basa-basi bergerak menuju pintu. Diikuti oleh ketiga orang lainnya, secepat mungkin berusaha untuk menembus kerumunan manusia di koridor. Tujuan mereka hanya satu, secepat mungkin mencapai lantai dasar dan melihat apa penyebab dari semua keributan ini.

Butuh waktu kurang lebih lima belas menit bagi mereka untuk bisa keluar, napas terengah dan peluh lekat di pelipis. Beberapa penghuni apartemen lainnya pun sudah ikut keluar, berkerumun di halaman seraya menunjuk-nunjuk suatu objek. Kesiap kaget serta gumam-gumam penuh dugaan menguar di udara, membuat kening Rhea berkerut dalam sembari ia berusaha mendekati pusat tontonan dan—

.

.

.

“Killian, siapa yang bisa menumbangkan pepohonan dalam waktu sesingkat itu?”

.

.

.

Ngeri, kaget, dan panik adalah emosi yang bisa Killian tangkap kala ia menghentikan gerak tungkai di samping Rhea. Tubuh gadis itu membeku, tak bergerak di hadapan deretan pepohonan yang tak berdaya. Seseorang telah mengacaukan halaman depan apartemen dengan menjatuhkan semua pohon besar yang ada. Sebuah kejadian yang tentu akan menjadi buah bibir, mengingat penyebabnya pun amat tak jelas dan tak pasti.

Namun, bagi Killian, ketidakpastian itu telah lenyap seiring dengan pertanyaan retoris yang dikeluarkan Rhea tadi.

Mereka penyihir, dan bohong kalau mereka bisa menyangkal presensi kekuatan sihir yang ada. Sebuah aura yang kini menguar samar di udara, tinggalkan jejak-jejak penuh ejekan bagi mereka yang menjadi korban. Tidak salah lagi; Rhea jelas tak berbohong saat ia mengatakan bahwa simbol Heze sempat bersinar sejenak.

Karena siapa lagi di antara mereka yang memiliki kontrol terbaik di bidang kekuatan selain….

.

.

.

“Axel, kamukah yang melakukan semua ini?”

.

tbc.

Advertisements

3 thoughts on “[#2] The Silver Age of Virgo

  1. Nyampe ending tuh aku langsung “waeeeeeee???” Kenapa ko axel yg numbangin pohon?? Apa buat ngasih tanda?? *tanda apa pula aku gak tau > <
    Tanda dia dan yg lainnya masih idup, mungkin? *sok tau* makin menegangkan aja……. ga sabar next chap-nya 😀

    Semangat mer~ ^^)9

    Like

  2. Rizuki

    AXEL KENAPAAAAA………??? INI KENAPAA HUHUHU ENDINGNYA BIKIN PENASARAAN~ huhuhuhuhu axel kamu baikbaik aja kaan? Eh apa itu sihirnya axel yg dicuri…..? AAAAKKKK TSUKI-NIM KUDU TANGGUNG JAWAAABB HUHUHUHU T.T
    Kak killian, aleta, alven, maafin rhea yg cerewet yaa huhuhu mana suka sok pula sihir aja rhea jd jodoh axel selamanyaaaa /mabok/ biar kapok dia /EH

    Ditunggu chap selanjutnyaaaa!!! > <

    Like

  3. afi99

    New reader here. Bukan new lagi, sih. Saya kenalnya tulisan kak Amer di IFK. Gaya penulisannya nyaman dan enak dibaca. Alur ceritanya juga kadang unexpected. Jadilah saya cari tulisan kak Amer ke blog ini. Salam kenal :v

    TSAF-nya lanjutin yo wkwk

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s