It’s Okay

Standard

ic5vlQY - Imgur

It’s Okay

.

Min Yoongi x Park Minha x Min Yoonha

AU, Family, Fluff | Vignette | 15

.

.

.

“Yoonha kenapa?”

Berjalan memasuki ruang kerja Yoongi, Minha lantas menundukkan tubuh untuk memandang si anak lelaki. Mendapati adanya tetesan air mata yang membasahi kedua pipi, sementara isakan masih keluar dari bibirnya. Bocah berumur delapan tahun itu terlihat sedih bukan main, dan Minha bisa melihat tangannya yang gemetaran kala ia menunjuk ke arah meja kerja sang ayah.

“Y-Yoonha tidak sengaja, sungguh,” gumam bocah itu perlahan, sementara Minha menoleh untuk melihat kekacauan yang tersaji. Ada cangkir yang terletak di sebelah keyboard milik Yoongi, tak lagi penuh lantaran separuh isinya telah tumpah. Sukses membasahi beberapa peralatan membuat musik yang tertata di sana, juga kertas-kertas berisi lirik buatan sang lelaki. Padahal, mereka berdua sama-sama tahu kalau Yoongi sudah merelakan waktu tidurnya selama tiga hari belakangan demi semua itu. Tapi—

“B-bagaimana kalau Ayah marah?”

“Yoonha-ya….

“Habisnya Ayah sudah bekerja keras, ‘kan?” lanjut Yoonha, masih sambil meneteskan air mata kendati Minha sudah mengulurkan jemari untuk menghapusnya. “D-dan aku… aku hanya mau menyemangati Ayah. Aku tidak berniat merusakkan apa-apa. J-jadi—“

“Ada apa?”

Memotong obrolan mereka, Yoongi muncul di ambang pintu dengan tatap ingin tahu. Rambut masih basah karena ia baru saja selesai mandi, tetapi ekspresi wajahnya sama sekali tidak terlihat segar. Alih-alih, ada sepasang kantung mata yang tampak di sana. Bukti bahwa ia sudah bekerja terlampau keras selama beberapa hari terakhir; sebuah pemandangan yang otomatis membuat Yoonha kembali menunduk dan memegangi ujung kemeja ibunya erat-erat.

“Kenapa kalian berwajah muram begitu?”

Minha tahu kalau tanya itu ditujukan padanya, lantaran Yoongi kini telah berdiri di hadapannya dan memandanginya tanpa berkedip. Namun, bukannya menjawab, ia lebih memilih untuk menyejajarkan bibir dengan telinga Yoonha. Menepuk-nepuk pundaknya lembut, sebelum berbisik, “Yoonha-ya, kalau kamu yang menjelaskan dan meminta maaf, Ayah pasti tidak marah.”

“T-tapi….”

Kalau Ayah marah, nanti biar Ibu yang membalasnya, oke?”

Mengangguk kecil, Yoonha mengiakan perkataan itu. Lamat-lamat mengangkat kepalanya untuk memandang sang ayah, meneguk ludah lantaran gugup. Yoongi pasti sudah bisa melihat sendiri kekacauan macam apa yang terjadi. Namun, lelaki itu belum mengeluarkan emosinya. Ia hanya berdiri di sana, menunggu sampai Yoonha mau berbicara.

“Min Yoonha.”

“M-maafkan Yoonha, Ayah,” ucap Yoonha buru-buru, tanpa sadar membiarkan air mata itu kembali meluncur turun. “Yoonha tidak sengaja, sungguh. Yoonha hanya mau membawakan kopi untuk Ayah, tapi karena tidak hati-hati, Yoonha tersandung dan—“

“Kamu terluka?”

Memotong ucapan sang anak, Yoongi memilih untuk berlutut dan menyamakan tinggi mereka. Mata bergerak cepat untuk memandangi kaki Yoonha, memastikan tidak ada luka atau goresan di sana sebelum menambahkan, “Lain kali, hati-hati, oke?”

Eung….

“Dan terima kasih atas kopinya, Yoonha-ya.

Perkataan itu sontak membuat Yoonha tertegun, bingung akan reaksi yang ia dapatkan. Ragu-ragu, ia pun menggulirkan kedua pupilnya untuk mengamati ekspresi wajah sang ayah. Masih terlihat lelah, kendati kini ada sedikit senyum yang muncul di sana.

“Ayah… tidak marah?”

“Yoonha sudah minta maaf, bukan?” Yoongi balik bertanya, mengulurkan tangan untuk mengusap air mata si bocah sebelum beralih mengusap kepalanya. “Coba katakan pada Ayah, kenapa Yoonha membawa kopi itu kemari? Yang jelas, bukan untuk merusak hasil kerja Ayah, ‘kan?”

Ada nada menggoda dalam suara Yoongi, yang lekas dibalas gelengan mantap dari Yoonha.

“Yoonha hanya mau menyemangati Ayah. Tapi—“

“Tidak perlu tapi,” potong Yoongi untuk kali kedua. “Yang penting, maksud Yoonha itu baik. Lagi pula, siapa sih yang mau tersandung? Itu kan tidak sengaja, Yoonha-ya.”

“Jadi, Ayah tidak marah?”

Yoongi menggeleng.

“Meskipun Yoonha sudah mengecewakan Ayah?”

“Untuk apa kecewa kalau Yoonha sudah melakukan hal yang benar?” sahut Minha, akhirnya memutuskan untuk bergabung dalam percakapan. “Yoonha sudah berani meminta maaf, jadi itu cukup.”

“Benar?”

“Iya.”

Memandang kedua orangtuanya, lamat-lamat Yoonha pun mengulas senyum. Kedua lengan serta-merta terangkat untuk memeluk Minha, lantas beralih pada Yoongi yang membalasnya dengan tepukan di punggung. Rasa takutnya tadi hilang sudah, selagi ia menarik diri dan mengimbuhkan, “Kalau begitu, boleh Yoonha bantu bereskan?”

“Tentu saja boleh. Tetapi, bukankah besok Yoonha harus ke sekolah? Ini sudah larut malam.”

Mendengar tanggapan Minha tersebut, ekspresi murung kembali bertandang ke wajah Yoonha. Pandang diarahkan pada ibunya, terlihat ragu selama sepintas sebelum akhirnya berujar, “Jadi, Yoonha tidak boleh membantu?”

“Bukan tidak boleh. Yoonha sudah berniat baik, kok,” jawab Yoongi tanpa jeda. “Namun, bagaimana kalau besok Yoonha mengantuk di sekolah?”

Eum….

“Selain itu, bukankah besok kamu ada ulangan matematika?” imbuh Yoongi, sedikit tergelak kala ia melihat mimik wajah sang anak yang mendadak makin murung. “Tidak apa-apa, Yoonha-ya. Malam ini, kamu sudah melakukan hal yang benar. Dan besok, seandainya nilaimu jelek pun, kamu tidak perlu kecewa. Ibumu juga tidak pintar matematika, tapi semuanya baik-baik saja, ‘kan?”

Argumen Yoongi itu spontan berbuah pelototan Minha, sebelah tangan nyaris terangkat untuk menjitak Yoongi—kalau saja Yoonha tak ada di sana. Namun, walau bagaimanapun juga, usaha sang lelaki itu sukses mengembalikan senyum di wajah Yoonha. Mendatangkan rasa percaya dirinya, selagi ia kembali memeluk Yoongi dan Minha erat-erat.

“Terima kasih, Ayah! Untuk Ibu juga! Yoonha janji, kalau Yoonha tidak akan mengecewakan lagi!”

“Janji?”

Yap!”

“Walaupun nilai matematikamu jelek?” goda Yoongi, terkekeh ketika ia melihat rupa cemberut sang bocah. “Tenang saja, Yoonha-ya. Asal kamu sudah berusaha, itu artinya kamu tidak mengecewakan kami. Lagi pula, Ayah tahu kamu pasti pandai dalam hal lain. Iya, ‘kan?”

“Tentu!” balas Yoonha tanpa ragu, mengulurkan kelingkingnya ke hadapan Yoongi. “Kalau begitu, Yoonha janji akan mendapatkan nilai tertinggi di pelajaran bernyanyi.”

“Oke, ini janji,” balas Yoongi, mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Yoonha. “Nah, sekarang, Yoonha tidur, ya. Biar Ibu saja yang membantu Ayah di sini.”

Tanpa membantah, Yoonha pun bergegas mematuhi perintah Yoongi barusan. Kedua tungkai bergerak lincah keluar dari ruang kerja, menuju ke kamar tidurnya tanpa perlu ditemani. Tinggalkan Yoongi yang kini mengembuskan napas panjang-panjang, sementara Minha beralih mengambil sekotak tisu dari atas meja. Tanpa suara membersihkan meja kerja sang lelaki, seraya Yoongi beringsut ke sisinya dan mulai membantu.

“Kamu tidak marah,” komentar Minha setelah beberapa menit berlalu dalam hening, menatap tumpukan tisu yang kini bernoda kopi. “Padahal, aku tahu kalau kamu sudah bekerja keras untuk itu.”

“Aku bisa menulisnya ulang,” balas Yoongi yakin, sebelah tangan memunguti kertas-kertas yang basah dan memasukkannya ke dalam tong sampah. “Semua masih ada di dalam ingatanku, kok.”

“Min Yoongi….”

“Dan lagi, aku tahu kalau kamu akan menyemangatiku.” Yoongi mengedikkan bahu, mengambil alih tumpukan tisu di tangan Minha dan membiarkannya bergabung dengan sampah kertas yang ada. “Memarahi Yoonha rasanya tidak tepat, terlebih karena aku tidak mau… well, kamu tahu maksudku.”

Minha membalas perkataan itu dengan senyum singkat, paham benar dengan apa maksud Yoongi. Bagi dirinya yang dulu memiliki orangtua dengan sikap serba menekan dan menuntut, Minha tahu benar bagaimana beratnya menjadi seorang anak yang diharapkan untuk selalu sempurna. Tidak menyenangkan, dan juga tidak akan membawa dampak baik.

Sederhana saja, ia tidak mau Yoonha merasakan hal yang sama.

“Terima kasih.”

Mmm, mungkin seharusnya aku yang berterima kasih, bukan?” timpal Yoongi sambil terkekeh, mengulurkan kedua lengan untuk membawa Minha ke dalam pelukan. Tanpa ragu mendaratkan satu kecupan di keningnya, kemudian melanjutkan, “Nah, siap menemaniku begadang untuk malam ini?”

Balasan Minha adalah sebuah dorongan singkat pada bahu Yoongi, kendati ia pun akhirnya ikut tergelak dan mengangguk. Tanpa banyak kata mengambil alih salah satu kursi yang ada, lantas meraih selembar kertas putih dan pena—siap untuk membantu Yoongi menulis lirik.

“Selalu.”

.

fin.

Advertisements

5 thoughts on “It’s Okay

  1. Rizuki

    KALIAN KENAPA SIH TEGA BENER SAMA KLERI. HUHUHU YAKALI KLERI JUGA NGAPAIN BACA BEGINIAAAN ;;–;;
    jadi kangen jinha uhuhuhuhu jinha-yaaa~ XD
    Engga tau kenapa ini unyu sekali aku gemes sama yoonha minta banget diuyel gituu :3 udah mau baper lagi ajaa babay /.\

    Like

  2. well……. mungkin aku harus terbiasa dengan yoongi-minha as parents ya > <
    tapi tapi, aku nungguin scene yoonha pas mau bobo masa….. ya semacam ditemenin yoongi atau minha atau dua2nya gitu…? biasanya kan dinyanyiin nah ini ganti yoongi yg nge-rapp gitu kan anti menstrim ya XD

    sama kaya riris…. jadi baper tiga piyiknya yejin /.\

    Like

    • emang……………………… kita ga cocok ya as parents? 😦
      yoonha uda besar kok uda bisa tidur sendiri, lagian yunha yg dewasa (?) mau berduaan dulu wkwk (((orangtua macam apa)))

      ihihi kalo baper tulis yejin dong kaaak :3 apa stovenhale dulu? /nagih

      makasih kayeeen ❤

      Like

  3. Thia amali

    Haloooo autorku syng aku udh lama bngt jadi penggemar kamu maaf jadi silent rider ngk prnh commnt huhuhuhu tapi aku suka emang badaaaaaslah Btw autornim aku bisa post crta ini ngk di line@ aku?? Soalnya ini baper max huhuhuhu nanti aku kasih cr dan linknya bisa yah muacj autornim sarngheeeee

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s