But You Don’t Know…

Standard

a2460a81b4892000

Orific | 17 | Life, slight!Dark

.

But You Don’t Know…

.

.

…that the world is fucking unfair.

.

.

Lana tak bisa menahan dirinya untuk tak membatin umpatan tadi. Pukul dua belas malam, dan ia masih belum bisa terlelap. Insomnia is a bitch, they say; dan si gadis bersurai panjang kelam tersebut mengiakan dengan sepenuh hati. Entah sejak kapan ia mengidap penyakit susah tidur itu, lantaran malamnya selalu dipenuhi oleh kegiatan menggelisahi diri atau merutuki orang-orang di sekitarnya.

Well, bicara tentang rasa sebal, objek kekesalan Lana hari ini adalah serangkaian kalimat yang di-post temannya di media sosial. Juga beberapa tulisan di blog yang sempat ia jelajahi, yang mengagung-agungkan bagaimana hidup normal itu seharusnya dijalani. Segala hal tentang menjadi sosok yang taat dan alim, yang harus patuh pada kehendak orangtua apa pun kondisinya, tokoh yang memiliki hidup sempurna meskipun mendapat tekanan dari berbagai sisi, serta kesimpulan-kesimpulan manis pada ujung cerita berbagai fiksi.

Bullshit.

Bukan tanpa alasan Lana berpikir demikian, kendati pada detik ini kau pasti akan mengira bahwa Lana adalah gadis pembuat onar. Oh, tidak, ia tidak begitu. Sekilas, Lana malah terlihat seperti gadis biasa. Normal; yang tersenyum saat sedang berkumpul bersama teman-temannya, yang pergi ke kampus seolah satu-satunya beban hanyalah tugas dan nilai.

Tetapi, Lana yang asli tidak seperti itu.

Ia punya kisahnya sendiri, cerita yang mungkin tidak ada artinya di mata orang lain. Ia punya orangtua yang menekannya sejak kecil, yang menilai dirinya secara kuantitatif semata—nilai, peringkat, pencapaian, dan lain sebagainya. Ia punya saudara-saudara yang berpikiran sempit, yang ikut-ikutan merendahkan mimpinya dan hobi memamerkan uang mereka. Ia punya sisi kelam; dan satu yang pasti, ia punya alasan untuk membenci cerita-cerita semacam tadi.

Tumbuh besar dalam lingkungan yang tak mengizinkannya untuk bebas, Lana belajar satu hal. Bahwa tidak selamanya keluarga itu patut dijadikan tempat pulang, bahwa ia benci dengan semua yang berpikir kalau ia anak kurang ajar. Apa mereka pikir, hanya ibu tiri seperti di dongeng Cinderella saja yang patut diberi label jahat?

Ah, betapa payahnya pikiran mereka kalau begitu.

Tidak tahukah mereka, bahwa sosok-sosok yang berbagi darah denganmu itu juga bisa menjadi mimpi buruk terbesarmu? Senaif itukah mereka, enggan menyadari bahwa kekerasan tidak harus dilakukan secara fisik? Bagaimana dengan apa yang tersimpan dalam raga? Kesehatan mental, jiwa, apa pun itu sebutannya? Karena bagi Lana, bagian itulah yang rusak. Hancur perlahan-lahan tanpa disadari, sampai-sampai orang-orang terdekatnya malas peduli.

Yah, itu menurut sudut pandang Lana, sih.

Sekali lagi, itu hanyalah pemikiran yang ada di benak sang gadis. Yang melintas pada malam-malam sunyi, ketika ia berbaring dan melamun sendiri. Sesuatu yang mengusiknya, sebuah perkara yang bertahan di sudut batinnya. Ia bukannya benar-benar membenci mereka yang punya cara pikir berbeda—toh, Lana juga sadar kalau ia adalah seorang pesimis sejati.

Tidak, tidak.

Lana tidak membenci mereka sebesar itu, kok.

Alih-alih, ia hanya mengharapkan beberapa hal.

Ia berharap agar orang-orang itu mau mengintip realita sejenak, kemudian menyampaikan kisah mereka dengan cara yang lebih mengenakkan. Agar mereka tak terus-menerus menekankan bahwa normal adalah baik, bahwa alim dan patuh adalah segalanya, dan bahwa dunia itu dapat dijalani dengan mudah dan damai. Tidak semua manusia seperti itu, sehingga Lana berharap agar kisahnya yang cenderung lebih gelap juga mendapat perhatian.

Lagi pula, tadi Lana juga sudah bilang, ‘kan?

Dunia ini tidak adil.

Dan sebagian orang terlalu malas untuk tahu atau peduli.

.

fin.

Advertisements

5 thoughts on “But You Don’t Know…

  1. Yeokshi Lana-nim/? jjang > <)b

    Tak apa Lana, menyuarakan pendapat itu bebas. Belum ada peraturan yg mengaharamkan berpendapat. Ini kisahmu, versimu, kalau yg tampak manis tak selamanya manis. Ada sisi pahit dan getirnya tentu. Terkadang beberapa orang emang perlu diingatkan untuk melihat dari sudut pandang lain. Untuk belajar, untuk bisa memahami; bukan cuma bisa terus2an mengejek atau menyalahkan tanpa tau yg sebenernya 😉

    Hayoloh aku ngomong apaan itu *pfft* udah ah. Bye Lana-nim/? ^^)/

    Like

  2. Okeee, aku udah comment dan hilang -___-
    Terus lupa tadi nulis apa aja saking excited nya.

    Yang jelas, aku ngerasain gimana posisinya Lana ini. Yaa 11,13 lah sama aku. Ada yang beda dikit. Haha jadi curcol.

    Betewe, pernah denger ga ka istilah “Kebebasan itu mahal” ?
    You know what i mean hihi

    Like

  3. Dunia ini tidak adil.
    Dan sebagian orang terlalu malas untuk tahu atau peduli.

    omaygat~ lana T.T plis iya sih emang, banyak orang yang lebih suka menceritakan segala sesuatu dari sudut pandang normal
    secara gak langsung malah bikin orang macem lana terluka /?/ gitu
    sumpah deh kata-katanya sederhana tapi nyes gitu :” berasa kek dengerin curhatan aja xD
    kak amer mah jago bikin baper ah :”

    keep nulis kak ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s