Everybody Makes One

Standard

IMG_00301

Everybody Makes One

Park Jimin x Park Minha

Fluff, Family, slight!Life | 15 | Ficlet

based on prompt “Pudingnya beku” from snqlxoals818

.

.

.

Hal pertama yang Minha lakukan ketika ia terbangun adalah berlari keluar dari kamar.

Napasnya terengah, tengkuknya berkeringat. Gadis itu baru saja bermimpi buruk, satu yang mengingatkannya akan suatu perkara. Oh, well, atau mungkin mimpi buruk adalah frasa yang sedikit berlebihan. Masalah Minha tidak seberat itu, kok. Bisa dibilang konyol malah. Hanya saja….

“Minha-ya? Ada apa?”

Tersentak dari keasyikannya menonton televisi di ruang tengah apartemen, Jimin menolehkan kepala untuk mengikuti derap langkah sang adik. Bingung, sementara saudarinya itu balas menatap Jimin dengan manik dilebarkan. Ia terlihat panik, sebelah tangan mengacak-acak rambut sebahunya hingga makin berantakan sembari berkata, “Aku lupa!”

“Lupa apa?”

“Pudingnya!”

“Puding apa?”

“Aduh, Kakak!” Minha kini mengentakkan kakinya, memandang Jimin dengan sedikit sebal. “Puding yang kubuat saat makan siang. Yang tadi sengaja kumasukkan ke freezer agar cepat dingin. Kenapa aku sebodoh itu, sih, sampai lupa seperti ini?”

Jimin mengangguk-angguk, paham akan inti masalahnya. Mereka memang berencana untuk memakan puding cokelat itu setelah makan, sehingga Minha memilih untuk memasukkannya ke dalam freezer sebelum nanti dipindah ke kulkas. Sayang, gadis itu malah tertidur, dan Jimin tidak tega membangunkannya lantaran Minha memang baru tidur tiga jam saja sejak kemarin. Nah, apa itu salah?

“Minha-ya….”

“Sekarang pasti pudingnya beku, menjadi es dan tidak bisa dimakan,” lanjut Minha, ekspresinya terlihat bersalah. “Padahal seharusnya aku tidak tertidur, apalagi sampai berjam-jam begini. Kalau saja aku tidak bermimpi bahwa gigi kakak sakit karena makan puding beku, aku pasti tak akan terbangun.”

Hening sejenak, dan Jimin memanfaatkan kesempatan itu untuk mengulum senyum. Sedikit geli dengan mimpi adiknya—kendati ia menjadi korban di sana—namun tak bisa menghentikan telapak tangannya untuk terulur dan menepuk-nepuk puncak kepala saudarinya. “Hei, Park Minha.”

“Pudingnya….”

“Sesekali, membuat kesalahan itu tidak apa-apa. Semua orang membuat kesalahan, ‘kan?” ujar Jimin perlahan, tangan bergerak untuk merapikan surai adiknya. “Tidak apa-apa, kok. Itu hanya puding cokelat.”

“Tapi—”

“Yuk, kita keluarkan saja agar tidak makin beku.”

Mengenggam pergelangan tangan Minha, Jimin pun mengajaknya menuju dapur. Berdiri bersisian di depan kulkas, dan Jimin bisa merasakan kekecewaan yang masih tersemat di benak saudarinya. Bagaimanapun juga, Minha sudah berkata kalau ia akan membuatkan puding cokelat yang enak untuk Jimin sejak minggu lalu. Gadis itu sendiri juga sedang menginginkan sesuatu yang manis, sehingga Jimin tak bisa menyalahkan mimik cemberut yang bertahan kala Minha membuka freezer

“Pudingnya ke mana?”

Dan Jimin pun tersenyum lebar.

“Pudingnya selamat, Minha-ya,” sahut Jimin santai, meminta Minha untuk bergeser. Telunjuk diarahkan pada rak kulkas yang berada tepat di bawah freezer, menunjukkan dua cup puding buatan adiknya yang siap untuk dimakan. “Bagaimana?”

“Kak Jimin… memindahkannya?”

Jimin mengangguk mantap. Mengiakan, selagi mengeluarkan sepasang puding cokelat tersebut dan meletakkannya di atas meja. Dua buah sendok menyusul kemudian, keduanya duduk berhadapan dan siap menikmati puding cokelat yang tampak menggiurkan.

“Aku makan, ya!”

Tanpa basa-basi, Jimin langsung menyendok puding tersebut dan melahapnya. Mengulumnya sejenak untuk menikmati rasa cokelat yang ada, perpaduan pahit dan manis yang sempurna. Mata menyipit karena senang, sementara Minha masih belum bergerak dan sibuk mengamati sang kakak sambil berpikir.

Ia teringat pada perkataan Jimin tadi, bahwa membuat kesalahan itu tidak apa-apa. Kalimat yang ia pikir hanya berupa peribahasa klise, lantaran tak ada seorang pun di dunia ini yang mau dengan sukarela membuat kesalahan. Pasti akan ada rasa menyesal, kecewa, dan takut yang datang mengikuti. Tetapi, insiden puding cokelat barusan memaksanya untuk kembali berpikir. Membuatnya memandang pernyataan tadi dari sudut pandang baru, memberitahunya akan sebuah alasan yang tersimpan di baliknya.

Membuat kesalahan itu tidak apa-apa.

Tidak apa-apa karena tak semua orang akan lantas membencimu karenanya. Karena beberapa orang dekatmu mungkin akan datang dan membantu, memberitahu atau membenarkan tanpa diminta. Karena mereka yang diam-diam peduli itu ada, dan melakukan kesalahan adalah salah satu cara bagi kita untuk menyadari perhatian mereka. Dan bagi Park Minha, membuat kesalahan itu tidak apa-apa karena….

“Terima kasih, Kak.”

…karena ia tahu, Park Jimin akan selalu ada di sisinya.

.

fin.

Sebelum ada yang tanya, nope, bekuin puding atau agar-agar dan kawan-kawannya di freezer itu nggak bisa. Kalau dulu sih, niatnya dimasukin freezer biar lebih cepet dingin aja, sebelum nanti dipindah ke kulkas. Ya gitu sih, intinya (ini notes pointless wkwk)

Anyway, do drop some review! ❤

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s