Piano and Her Definition of Romantic

Standard

a2c8d89dbe1d2000

Min Yoongi x Park Minha

Fluff, College-life | Vignette | 15

.

Min Yoongi memang bukan pria romantis.

Tapi bagi Park Minha, lelaki yang memainkan piano itu romantis.

.

.

.

Kala kejadian itu berlangsung, Park Minha sedang berada di sana.

Bukan kebetulan ia berada di gedung kuliah anak-anak jurusan Musik, karena memang hari ini ia berencana pergi dengan kekasihnya. Terlebih, mengingat jadwal kuliahnya yang tidak begitu padat, Minha pikir tak ada salahnya jika ia yang pergi menghampiri Yoongi. Lagi pula, ini bukan kali pertama gadis itu datang kemari. Kadang ia berkunjung untuk mengantarkan barang milik Jimin—kembarannya—atau kadang ia menumpang makan di kantinnya. Minha sudah terbiasa, tetapi kejadian hari ini….

“Dibandingkan membicarakanku di belakang, bagaimana kalau kita selesaikan sekarang?”

Suara Yoongi yang berat dan tegas terdengar, menghentikan langkah kaki Minha tepat di sebuah koridor. Menoleh cepat, Minha bisa melihat lelaki itu tengah memasang posisi bersedekap di hadapan sekumpulan mahasiswa lain. Ada aura tegang yang terasa, dan bohong jika gadis itu tak penasaran. Ia bisa melihat Yoongi berdebat sebentar dengan para mahasiswa itu, ekspresinya sedikit kesal ketika ia beralih membuka salah satu pintu yang ada di koridor tersebut.

Ingin tahu, Minha pun memutuskan untuk mengikuti.

Ruangan yang dimasuki Yoongi dan sekumpulan mahasiswa berwajah masam tadi adalah salah satu ruang latihan; agaknya yang dimaksudkan untuk pelajaran musik klasik. Mendorong pintunya sedikit terbuka, Minha bisa melihat cello dan biola yang disusun berjajar, sebuah harpa, beberapa saksofon dan terompet, serta alat musik lainnya. Namun, bukan itu yang menarik atensi sang gadis.

Alih-alih, netra Minha bergerak cepat ke arah sebuah grand piano berwarna putih. Ada Yoongi yang duduk di sana, jemari sudah diletakkan di atas tuts piano. Orang-orang yang tadi berdebat dengannya berdiri tak jauh dari sana, memberi tatap meremehkan yang membuat Minha mau tak mau ikut sebal.

Sampai Yoongi mulai menekan beberapa tuts, menyatukan chord dan nada, dengan lihai merangkai semuanya menjadi sebuah lagu. Minha sampai mengerjap tak percaya dan melongo mendengarnya, terlebih kala ia menyadari lagu apa yang sedang dibawakan oleh Yoongi. Minha kenal lagu itu, tentu. Baru minggu lalu Yoongi menyeretnya ke studio, menyuruh Minha untuk mendengarkan dan memberi saran atas hasil aransemen terbarunya. Tetapi, waktu itu, lagu tersebut tercipta dari dentuman bass, gitar, keyboard, dan irama khas software pembuat lagu milik Yoongi. Bukan dentingan piano.

Tapi sekarang….

Minha bisa melihat bagaimana jemari Yoongi menari di atas piano, bagaimana lelaki itu menunjukkan kemampuan yang selama ini dipendamnya. Yoongi tidak suka musik klasik, dan karena Minha pun memiliki selera yang kurang lebih serupa, sang gadis sama sekali tak pernah meminta Yoongi untuk memainkan musik klasik di hadapannya. Jadi, wajar bukan, jika ia terkejut—sekaligus merasa bangga—melihat Yoongi saat ini?

“Sudah cukup?”

Secepat permainan itu dimulai, secepat itu pulalah Yoongi menyelesaikannya. Oh, atau mungkin, Minha sajalah yang merasa kalau waktu berlalu terlampau cepat. Gadis itu bisa melihat Yoongi yang sekarang sudah bangkit berdiri, lengan kembali disilangkan seraya ia menambahkan, “Lain kali, pakai otakmu sebelum berbicara. Hanya karena kalian merasa terkenal, jangan pikir aku akan takut. Bersyukurlah karena aku belum melaporkan kalian, mengingat aku tahu bahwa kalianlah yang sesungguhnya menjiplak tugas akhir.”

Hening menyusul pernyataan tajam yang terlontar dari bibir Yoongi barusan, selagi para lawan bicaranya hanya diam tak berkutik. Mereka tampak geram, tapi mereka juga tak melakukan apa-apa saat Yoongi berjalan menerobos mereka. Dengan sigap melangkah ke pintu ruang musik, tetapi tungkainya mendadak berhenti ketika ia bertatap muka dengan sang gadis.

“Minha-ya?”

Masih dengan iris melebar, Minha tak menjawab apa-apa. Ia hanya balas memandangi Yoongi, yang sejenak kemudian mendadak mengerti apa maksud di balik tatapan gadisnya. Sedikit menahan kekeh tawa, Yoongi pun hanya mengedikkan bahu. Lengan lantas terulur untuk merangkul Minha, mengajaknya untuk berjalan menjauh dari sana.

“Kenapa, Minha-ya?”

“T-tadi….”

“Kamu terkejut?” Yoongi mengulum senyum, bergerak mengacak surai gadisnya yang sewarna cokelat hazel. Rasa kesalnya tadi sudah hilang, digantikan dengan kegembiraan tatkala ia menyaksikan ekspresi cemberut Minha.

“Apa yang terjadi? Kenapa kamu tidak pernah bilang?” Minha memberondong, menjauhkan kepalanya dari jangkauan tangan Yoongi sebelum menambahkan, “Dan lagi, katanya kamu tidak bisa melakukan hal romantis?”

Yoongi terbahak sebentar. Menghentikan langkah kaki mereka di halaman kampus, perlahan bergerak untuk berdiri di hadapan gadis itu sebelum menjawab, “Satu, orang-orang tadi adalah teman sekelasku di mata kuliah Komposisi Musik Klasik. Mereka menuduhku mendapat nilai tertinggi dengan cara yang tidak adil, hanya karena aku tidak pernah menunjukkan minat di musik klasik. Hell, mereka bahkan mengira kalau tugas yang kukumpulkan itu bukan buatanku.”

“Itu—“

Yeah, they’re fucking trash, right?”

Minha mengangguk, memberi isyarat bagi Yoongi untuk melanjutkan.

“Dua, aku juga baru tahu soal ini semalam. Aku belum sempat memberitahumu, dan aku hanya ingin cepat-cepat meluruskannya.” Yoongi menarik napas dalam, kali ini mengulurkan telapak tangannya untuk menepuk pundak Minha dengan sikap menenangkan. “Aku baik-baik saja, kok. Mana mungkin Min Yoongi takut dengan hal macam tadi, benar?”

Sang gadis lekas membenarkan, tertawa ringan sembari merangkul lengan Yoongi dan mengajak lelaki itu kembali berjalan. “Dan yang ketiga?”

“Ketiga?” Yoongi berpikir sejenak, mengingat-ingat pertanyaan gadisnya, kemudian cepat-cepat memberi gelengan dan tatapan bingung. “Aku memang tidak bisa melakukan hal romantis, Minha-ya. Bagian mana dari bertengkar dengan teman yang romantis, hm?”

Berbeda dengan dua jawaban Yoongi sebelumnya, Minha tak langsung menanggapi. Gadis itu malah menundukkan kepalanya, menarik-narik ujung lengan sweter Yoongi yang berada dalam jangkauan. Sukses memaksa sang lelaki untuk ikut menundukkan kepala, susah payah berusaha menangkap rona tanda malu yang mulai menyebar di pipi Minha.

“Hei, Minha-ya….”

Minha masih bungkam.

“Kenapa, sih?”

“Kamu,” gumam Minha, tangan bergerak untuk memainkan jemari Yoongi sembari berucap, “Kamu memainkan piano.”

“Lalu?”

“Menurutku, lelaki yang memainkan piano itu romantis.”

Diam menyambut perkataan itu, selagi Yoongi perlahan menarik tangannya dari jangkauan jemari Minha. Cukup untuk membuat gadis itu mendongak, sebuah kesempatan yang langsung dimanfaatkan oleh Yoongi untuk mengunci tatap mereka.

“Park Minha.”

Minha menelan ludah. “M-maksudku….”

“Maksudmu?”

Well, aku bukannya akan memaksamu untuk bermain piano untukku atau semacamnya. Sungguh, Yoongi-ya! Aku hanya kagum, dan menurutku tadi itu—“

“Jadi, semua lelaki yang memainkan piano itu romantis?” Yoongi memotong, memberi penekanan pada kata ‘semua’ sambil menjungkitkan alisnya. “Kamu suka dengan semua lelaki yang bisa memainkan piano atau bagaimana?”

“B-bukan itu!”

Yoongi tak menjawab lagi. Ia masih menunggu jawaban Minha, meminta klarifikasi dengan mimik wajah dibuat segalak mungkin. Padahal, sesungguhnya, ia hanya ingin sedikit menggoda gadis itu. Membuat Park Minha merona dan sedikit terbata-bata adalah hal favoritnya, lantaran bagi Yoongi, gadis itu jadi terlihat lebih menggemaskan.

“I… itu… itu tidak berlaku bagi semua lelaki, tahu!” sahut Minha akhirnya, bibir dimajukan sementara ia memukul pundak Yoongi pelan. “Yang tadi hanya berlaku untuk… untuk….”

“Untuk siapa?”

“Kamu kan, sudah tahu jawabannya!”

Uh, aku tidak tahu, Minha-ya. Aku lelah sekali hari ini dan—“

“Untuk Min Yoongi saja,” potong Minha, wajah dipalingkan selagi telinganya menangkap gelak tawa sang kekasih. “Sudah puas?”

Hmmm, bagaimana, ya?”

“Min Yoongi!”

“Makanya lihat sini, dong,” jawab Yoongi cepat, tangan terulur untuk meraih dagu Minha dan memalingkan wajah gadis itu. Jemari lantas bergerak untuk mencubit pipi tembamnya, raut muka dibuat sepolos mungkin saat ia mengimbuhkan, “Terima kasih, Minha-ya.”

Ugh. Kamu menyebalkan, kamu—”

Dan Yoongi—entah untuk keberapa kalinya hari ini—hanya memasang cengiran lebar. Tanpa basa-basi kembali menarik Minha dalam rangkulan, menikmati kehangatan yang mampu mengusir mood buruknya tadi. Insiden di ruang musik itu tidak begitu buruk, kalau dipikir-pikir. Terlebih—

“Aku tidak akan memaafkanmu kecuali kamu menghabiskan sisa hari ini denganku, Min Yoongi.”

—yah, kalau konsekuensi macam itulah yang harus ia tanggung, mana mungkin Yoongi keberatan, ‘kan?

.

fin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s