[Vignette] Three-Nine

Standard

39

ThreeNine

Park Minha x Min Yoongi x Park Jimin

Vignette | T | Fluff, slight!Family

.

.

.

Tiga puluh sembilan menit lewat tengah malam.

Akhir-akhir ini, Minha menjadi sensitif dengan angka itu. Entah kebetulan macam apa, tetapi maniknya sering sekali menangkap dua angka itu terletak berdampingan. Angka yang mungkin tak bermakna bagi orang lain, tetapi bagi Minha, angka itu mengingatkannya akan tanggal ulang tahun sang kekasih.

Bukan, kegelisahannya ini bukan menyangkut masalah kado atau perayaan ulang tahun lelaki itu. Hari kelahiran Min Yoongi toh sudah berlalu, dan kala itu Minha sudah memberinya hadiah berupa jaket dan syal dengan warna favorit Yoongi. Masalah Minha jelas tidak terletak di sana, karena sesungguhnya ia hanya—

“Kalau rindu, sana pergi. Jangan mondar-mandir begitu, Minha-ya.”

Gemas melihat tingkah sang adik, Jimin pun akhirnya angkat suara. Walau biasanya ia kesal jika melihat Minha berduaan dengan Yoongi, namun kali ini ia sudah tidak tahan lagi. Bagaimana tidak, jika Minha terus-menerus mengeluh soal betapa seringnya ia melihat menit ke-39 dalam jam digital ponselnya seharian ini? Juga kala persentase baterai ponselnya menunjuk ke angka itu, dan ditambah dengan munculnya angka itu lagi di lembaran-lembaran esai yang tengah Minha terjemahkan.

“Ini tengah malam, Kak!”

“Paling Yoongi Hyung juga belum tidur.” Jimin mengedikkan bahu, lantas mengimbuhkan, “Kamar apartemennya tepat di sebelah, Minha-ya. Kamu mau terus-menerus merajuk atau perlu kupanggilkan, nih?”

“Aku tidak me—”

Namun, belum sempat Minha memprotes, Jimin sudah lebih dulu mengirim pesan pada Yoongi. Sukses membuat adiknya itu melongo lebar, selagi sang kakak hanya menggoyang-goyangkan ponselnya dan menunggu notifikasi pesan masuk.

“Kak Jimin….”

 .

.

Drrrt!!

.

.

“Oh, sudah dibalas!” Jimin berseru riang, menunggu getar di ponselnya berhenti sebelum ia beralih membuka kotak masuk. Sebaris pesan dari Yoongi tampak di sana, yang langsung Jimin sampaikan pada saudarinya dengan sorot ‘kubilang-juga-apa’.

 .

Aku belum tidur, kok. Ada perlu apa, Jimin-a?

.

“Tapi—”

“Kalau sampai nanti kamu tidak bisa tidur, Kakak tidak tanggung jawab, lho,” ujar Jimin sambil menepuk bahu Minha. “Lagi pula, kalian tinggal bersebelahan tapi jarang bertemu begitu.”

“Yoongi ‘kan, sibuk di studio.”

“Nah, sekarang dia tidak sibuk.” Jimin masih bersikeras. “Temui saja dia sebentar, tidak akan menganggu, kok.”

“Malam-malam begini?”

“Park Minha.”

Mendengar namanya disebut dengan nada datar itu, Minha hanya bisa menggigiti bibir. Ada keraguan datang menyambangi, namun faktanya, ia memang merindukan Yoongi. Ia ingin melihat senyum lelaki itu, membiarkan rambutnya diacak-acak jemari kekasihnya. Ia juga butuh memastikan bahwa Yoongi baik-baik saja, tidak terlalu sering melewatkan jam makan dan tidurnya hanya karena sibuk. Minha tahu kalau ia menginginkan semua itu, tetapi….

“Yoongi Hyung mengirim pesan lagi, nih.” Jimin menginterupsi, mengacungkan ponselnya. “Katanya, ia tidak sedang sibuk. Dan ia bertanya-tanya kenapa aku tidak membalas.”

Pernyataan itu agaknya cukup untuk menghapus keraguan yang ada, karena Minha pun lamat-lamat bergerak untuk memakai sepatunya dan membuka pintu. Dengan lirih berpamitan pada sang kakak, sebelum akhirnya melangkah menuju pintu yang terletak tepat di sebelah pintu apartemennya sendiri.

Aneh memang, tinggal bersebelahan tetapi tak sering bertemu. Namun, bagi Minha dan Yoongi, hal macam ini sudah biasa. Yoongi yang selalu sibuk dengan kawan-kawannya di studio hingga kadang lupa pulang, dan Minha yang senantiasa menulis hingga larut malam sampai lupa tidur. Bagai perjanjian tak tertulis, keduanya sudah sepakat untuk tak saling menganggu dan hanya bertemu di kala mereka sama-sama memiliki waktu luang. Bukan perkara besar, mengingat Minha sendiri juga bukan tipe gadis yang selalu ingin menghabiskan harinya dengan sang kekasih. Ia benci jika dikekang dan dibatasi, serupa dengan Yoongi yang juga berpikiran demikian.

Tapi, bukan berarti rindu itu tak pernah datang, ‘kan?

Seperti saat ini, misalnya. Ketika pintu apartemen Yoongi berayun membuka dan…

“Minha-ya?”

…mendadak, Minha tak bisa menahan dirinya untuk tidak meneteskan sebulir air mata.

“Hei, hei, kenapa menangis? Ada masalah?”

Bohong kalau Yoongi tidak merasa panik, melihat gadisnya tahu-tahu menangis walau hanya sekilas lantaran cepat-cepat dihapus. Sang gadis berambut pendek itu lantas melangkah masuk, sementara Yoongi hanya bisa mengikuti sembari mengusap punggungnya perlahan. Dalam diam sibuk bertanya-tanya, memikirkan berbagai macam kemungkinan sampai-sampai ia tidak mendengar pengakuan Minha yang baru saja terucap.

“….rindu kamu.”

“Apa?”

“Aku… aku merindukanmu, Yoongi-ya.”

Hening sebentar. Minha mengerjapkan matanya sekali, buru-buru menunduk untuk menyembunyikan rona kemerahan yang menyebar. Lidahnya mendadak terkunci, tak berani berkata apa-apa sementara Yoongi mengulurkan tangan untuk menyentuh dagunya. Meminta Minha untuk mengangkat wajahnya, pura-pura tak peduli dengan mimik wajah malu yang ada di sana.

“Minha-ya?”

“Lupakan saja, aku—“

“Kemarilah.”

Lalu, tanpa disangka-sangka, Yoongi sudah menutup jarak dan memeluk Minha sekilas. Tangan bergerak untuk mengacak-acak rambut gadisnya, hantarkan kehangatan di tengah dinginnya malam. Yoongi seolah tahu apa yang dibutuhkan Minha saat ini, dan ia memberikannya tanpa perlu bertanya atau berbasa-basi.

“Lebih baik?”

Menarik diri, Yoongi sedikit menundukkan kepalanya untuk menatap Minha lekat-lekat. Membiarkan iris bertemu, seraya Minha mengangguk-angguk kecil. Sang gadis tampaknya tidak tahu harus membuka konversasi dengan cara apa, sehingga ia pun menurut ketika Yoongi menyuruhnya untuk duduk di sofa dan berkata akan membuatkannya cokelat hangat.

Meskipun, tentu saja, Yoongi tak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya.

“Kenapa tiba-tiba?”

“Apanya?”

“Kamu tahu maksudku, Minha-ya,” balas Yoongi, meletakkan secangkir cokelat favorit Minha dan menyandarkan tubuh di samping gadisnya. “Kamu ada masalah? Atau…?”

“Tidak juga,” jawab Minha cepat. “Apa aku menganggu?”

“Aku sudah bilang, aku tidak sedang sibuk, ‘kan?” Satu helaan napas, dan Yoongi membiarkan jemarinya terulur untuk memainkan helai-helai rambut Minha. “Sebenarnya, semua pekerjaanku sudah selesai tadi pagi. Aku menghabiskan siang hariku untuk tidur, dan tadinya, malam ini aku mau mampir ke tempatmu.”

“Tapi?”

“Tapi, kupikir kamu yang sedang sibuk.” Yoongi membalas, mengulum senyum kecil selagi Minha menoleh dan memberinya tatap bersalah. “It’s okay, Minha. Aku tahu kamu memang sibuk, dan walau aku memang ingin bertemu, menunggu sehari lagi saja tidak masalah, kok. Sungguh, aku—“

“Aku konyol sekali, ya.”

“Park Minha….”

Tetapi, belum sempat Yoongi memprotes, Minha sudah lebih dulu membungkamnya dengan satu gelengan mantap. Dilanjutkan dengan kisah singkatnya mengenai insiden angka tiga dan sembilan, serta bagaimana pikirannya jadi terus-menerus merasa tidak tenang. Sang gadis menceritakan semua itu ditemani rona merah di pipi tembamnya, membuat Yoongi sedikit gemas dan harus terpaksa menahan kekeh karenanya.

“Sudah kubilang, ‘kan….”

“Itu tidak terlalu konyol, kok,” bantah Yoongi, menggaruk tengkuknya sekilas sebelum menambahkan, “Terima kasih.”

“Untuk?”

Sekali lagi, Yoongi memamerkan senyumnya. Menunjukkan bahwa ia sama sekali tak terganggu dengan kunjungan malam seperti ini, senang karena akhirnya ia bisa menghabiskan waktu dengan gadisnya. Maka, seraya menarik Minha untuk bersandar pada pundaknya, Yoongi pun kembali membelai puncak kepala gadis itu dan berbisik lirih:

.

.

.

“Terima kasih… karena sudah mengingatku.”

.

fin.

because it’s winter, and what we need is a little bit of fluffiness to keep us warm lol

see ya! ❤

Advertisements

3 thoughts on “[Vignette] Three-Nine

  1. dan aku ngakak sama a/n nya masa……………..
    bikos jauh di ujung jalan kenangan sana, kim seokjin abis dibuli sama lee yein *LAH CURHAT!* meanwhile yg di sini peluk-pelukan -.- (lalu inget typo amer yg pelukan jadi pelikan XD)

    sudah sudah kalian berdua bobo sana. yang nyenyak ya. jangan lupa kunci pintu. ntar ada chimchim nyempil lagi *pfft* atau mau yein yang jagain jimin dulu? ikhlas ko tanpa digaji. HAHAHAHAHA (yein ga waras)

    tapi, ini sedikit cheesy ya soalnya kalian kan biasa ga berkata jujur2an gitu. bukan cheesy yang ‘eeeww apa sih’ gitu ya, tapi cheesy dalam artian yang bagus (dan fluff (iya fluff fluff)) karna yunha hubungannya ada kemajuan. so, give applause for yunha! *keprok keprok*

    udah udah nanti aku makin nagco lagi. oke see ya amer ^^)/
    p.s selamat atas terobati kangennya sama mas-e 😀

    Like

  2. rizuki29

    ……….boleh ngumpat ga, minha-ssi? /APAAN RIS BARU DATENG MAU NGUMPAT/minha banting meja/
    aduuuh abisnya aku sepanjang fic cuma ngebatin ‘anjir anjir anjir dan anjir’ yaampun kalo tadi sore bapernya gegara yang sedih sedih………..sekarang tengah malem bapernya malah pengin dipeluk kak yoon /LOH/ XD
    engga tau ini manis banget. manisnya pass gitu /lu kata bikin teh apa ris/ hahahahaha aku suka yunha yang kaya gini /kaya apa/ yaampun………pokoonya suka. udah ah makin lama aku makin ngaco tar diketawain amer lagi huft.
    kalian selalu jadi favoriiit huhuhuhu sayang kaliaan ((……sayang siapa ris)).

    udah ya mer gitu aja. tengs buat waktunya yang mau baca curhatan gajelas ini. bubaaaay ❤

    Like

  3. jadi minha jimin sekarang nocturnal banget? kerjaannya mucul di tengah malem terus bacanya aduh gimana
    dan, aku juga pernah sih keganggu sama angka beda tipis sih, tiga-empat, tapi cuman banyak lihat aja ga ada arti arti khusus kayak minha ke yoongi.
    dah please (entah berapa kali aku udah mohon) biarin jimin jadi kakak akuuu /padahal sendirinya lebih tua /biar
    haha, yoongi menghangatkan angin yang berhembus diluar ❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s