[Vignette] Tale of Starlight

Standard

taleofstarlight

Tale of Starlight

Park Jimin & Park Minha

Family, Life, Hurt/Comfort | 15 | Vignette

.

.

.

“Minha-ya? Sedang apa?”

Pukul satu malam, dan Park Jimin baru saja terbangun dari tidurnya seraya mengusap kedua mata. Jam tidurnya akhir-akhir ini sedikit berantakan—ia sering terjaga mulai tengah malam, dan baru tidur ketika pagi menjelang. Hari ini bukan pengecualian, hanya saja Jimin tak menyangka kalau adiknya juga masih terjaga.

Lamat-lamat, ia pun melangkah menuju balkon di kamar apartemen kecil mereka. Menghampiri saudarinya yang tengah berdiri diam di sana, kepala terdongak untuk menatap langit malam. Minha sama sekali tak menjawab pertanyaannya, namun ia menoleh sekilas dan mengulas senyum kecil untuk menyambut Jimin.

“Sedang apa?” Jimin mengulang lagi, tersadar kalau adiknya itu hanya mengenakan jaket di atas kaos tipisnya. Menghela napas, ia memilih untuk bergegas mencari syal abu-abunya di ruang tengah sebelum kembali ke balkon. Menggunakannya untuk melilit leher Minha, lantas memakai ujung satunya untuk menghangatkan lehernya sendiri.

“Kamu ini alergi dingin tapi—”

“Aku sedang mencari bintang, Kak.”

Memotong protes Jimin, Minha memilih untuk kembali mengarahkan maniknya ke atas sana. Menelisik gelapnya malam dengan teliti, sementara Jimin bergerak untuk merangkul adiknya dan ikut mencari. Lelaki itu tahu betapa besar Minha menyukai langit malam dan semua yang turut menghiasinya, kendati mencari bintang di tengah polusi cahaya kota bisa dibilang nyaris mustahil. Adiknya toh tetap menyukai rutinitas ini, terkadang menghabiskan bermenit-menit untuk mengagumi bulan yang—

“Oh, malam ini ada satu!”

Mengarahkan telunjuknya, Minha menunjuk pada satu titik di angkasa sana. Terlihat samar memang, tetapi setelah menyipitkan mata, Jimin pun turut bisa melihatnya. Kerlip bintang yang tergantung di atas pucuk pepohonan, tidak terlalu cerah tetapi cukup untuk membuat Minha berbinar senang.

“Mungkin, bintang itu mendengar permintaanmu.”

Yeah.” Minha mengangguk, menyetujui perkataan Jimin selagi ujung-ujung bibirnya berjingkat naik. Adiknya itu terlihat enggan berkedip atau berpaling, mungkin takut jika ia tak lagi bisa menemukan satu-satunya bintang yang bisa terlihat malam ini. Absennya konversasi mengizinkan hening untuk merambat masuk, membiarkan sepasang saudara itu sibuk dengan pikiran masing-masing sampai ekspresi sendu tiba-tiba muncul di wajah Minha.

“Kak?”

Hm?”

“Aku sedang berpikir…” Minha memulai, kata-katanya berubah lirih ketika ia bergerak untuk memandang Jimin. “…apa bintang itu masih hidup?”

Jimin tak menjawab. Ia hanya balas menatap Minha, mulai paham kemana kiranya arah pembicaraan mereka malam ini. Seharusnya, ia bisa menebak, bukan? Adiknya itu sering berkata kalau memandangi langit malam membuatnya merasa tenang, membuat ia lupa akan masalah atau kekesalan yang mungkin ada. Dan sekarang, setelah mendengar kalimat Minha barusan, Jimin tahu bahwa adiknya itu pasti ingin menceritakan sesuatu.

“Ada masalah apa?”

Ditanya seperti itu, Minha spontan mengeluarkan tawa kecil. Seakan membenarkan tebakan Jimin, karena detik berikutnya ia langsung memeluk lengan sang kakak. Menyandarkan kepalanya pada bahu Jimin, lalu lamat-lamat bergumam, “Hanya sedang berpikir, kok. Setelah sekian lama, aku baru sadar kalau aku ternyata punya kekhawatiran macam ini.”

“Kamu mencemaskan sesuatu?”

Minha mengangguk. Irisnya kembali bergerak mencari satu bintang tadi, memandanginya lagi seraya berujar, “Menurutku, sebagian besar manusia itu seperti bintang. Butuh beratus-ratus tahun bagi bintang-bintang itu sebelum cahayanya mencapai bumi. Itu waktu yang lama, dan keindahan mereka tidak akan bisa dilihat sebelumnya, bukan? Selain itu….”

“Selain itu?”

“Bisa saja, beberapa dari bintang-bintang itu sudah mati. Cahayanya mencapai bumi untuk dinikmati, namun sesungguhnya si pemilik cahaya telah tiada. Bukankah manusia… terkadang juga demikian?”

“Ah…” Jimin mengangguk, mengerti apa maksud Minha sepenuhnya. Analogi itu cukup mudah untuk dipahami, mengingat bagaimana sebagian besar orang tidak pernah peduli sampai benar-benar merasakan kehilangan. Rasa kagum serta pujian tulus itu baru akan muncul ketika yang bersangkutan—seringnya—sudah tiada; terlambat untuk diucapkan dan hanya ada untuk dikenang. Usaha seseorang juga kadang tidak dihargai, tidak sampai orang itu pergi sementara yang tersisa membangga-banggakan hasil dari usaha tersebut.

Menyedihkan, tetapi memang seperti itu bukan realitanya?

“Setelah mati, mereka juga sendiri, bukan?” Minha melanjutkan, mengeratkan rengkuhannya pada lengan sang kakak. “Di luar sana, dan butuh waktu lama sampai kita menyadari bahwa bintang-bintang itu sebenarnya sudah tak ada.”

“Itu yang kamu takutkan?”

“Memang Kakak tidak takut?”

Pertanyaan terakhir itu membuat Jimin seketika bungkam. Berpikir sejenak, berusaha mencari cara untuk menghilangkan kekhawatiran adiknya. Park Jimin tahu benar mengapa Minha sampai bisa membuat perumpamaan macam itu, terlebih mengingat bagaimana sebagian besar teman atau anggota kelompoknya di kampus berpolah. Mereka yang selalu memamerkan keahlian dan prestasi, namun tidak pernah menghargai usaha adiknya yang terkadang harus mengerjakan tugas kelompok seorang diri. Seakan orang-orang di luar sana adalah matahari yang tampak setiap hari, sementara mereka adalah bintang yang berada jauh di galaksi lain.

Namun, Jimin rasa, ucapan Minha tadi tak sepenuhnya benar.

“Minha-ya.” Jimin memulai, menyenggol kembarannya itu untuk menarik atensinya. Menunggu sampai Minha menoleh, dua pasang iris hitam bertemu sebelum ia melanjutkan, “Aku setuju dengan kata-katamu tadi. Aku juga takut, tetapi…”

“Tapi?”

“Cahaya bintang itu butuh waktu lama untuk terlihat karena jaraknya yang jauh dari bumi, bukan?” ucap Jimin, sementara Minha mengangguk membenarkan. “Kalau begitu, bagaimana dengan yang lainnya? Bintang lain, planet lain, atau apa pun yang mungkin lebih dekat dengan si sumber cahaya?”

“Oh.”

“Nah, kamu paham maksudku, ‘kan?”

Diam sejenak. Mereka masih berpandangan, dan kali ini Jimin bisa melihat bahwa kemuraman yang tadinya membayang mulai terangkat dari ekspresi wajah saudarinya. Menangkap apa makna di balik kata-kata Jimin, sang gadis pun mengangguk untuk mengiakan pertanyaan Jimin barusan.

“Orang-orang yang jauh darimu memang akan butuh waktu lama untuk melihat.”

“Atau bisa jadi, mereka malah sama sekali tidak akan melihat sinar kita.”

“Yah, itu juga benar.” Jimin mengedikkan bahu, telapak tangan terulur untuk menepuk-nepuk kepala Minha. “Tetapi, yang terpenting, kamu tidak pernah sendiri. Paling tidak, selalu ada satu atau dua orang di dekatmu yang akan melihat. Yang menemanimu untuk bercahaya, dan pasti akan mengingatmu sampai kapan pun juga.”

“Seperti Kakak?”

Jimin tergelak, ujung-ujung bibir ikut berjungkit naik selagi ia membenarkan ucapan Minha tadi.

“Tentu saja. Dan kamu juga akan selalu melihat cahayaku, ‘kan?”

“Kakak percaya diri sekali.”

Ya! Park Minha!”

Reaksi itu sukses membuat Minha tertawa, selagi Jimin memasang mimik cemberut dan memajukan bibir bawahnya. Gemas, Minha pun ganti mengulurkan tangannya untuk merapikan helai-helai rambut Jimin yang mencuat akibat bangun tidur tadi, sebelum akhirnya beringsut mendekat dan melingkarkan kedua lengannya pada pinggang Jimin.

“Minha-ya…

“Tentu saja aku akan selalu melihat Kakak,” ujar Minha, mengeratkan pelukannya sembari tersenyum senang. “Jadi….”

.

.

.

“…ayo kita bersinar bersama, ya?”

.

fin.

a/n:

Inspired by a quote: “Ketika kita melihat bintang, sebenarnya kita melihat masa lalu.”

Oke, nggak nyambung sama cerita, tapi idenya saya dapat dari sana. Karena cahaya bintang yang kita lihat itu adalah cahaya yang dipancarkan beratus-ratus tahun lalu, tapi baru sampai ke bumi sekarang. Tambahkan efek baper Kakak, jadilah fic ini /lah/

Anyway, mind to drop some review? ❤

Advertisements

2 thoughts on “[Vignette] Tale of Starlight

  1. halo, kak merr. kayaknya udah lama banget ga main kemari dan lama juga ga muncul di fic nya kak mer XD
    dan apalah background color-nya kak mer sama kayak punyaku. aduh, pengin ganti tapi lagi males, ya nanti aja deh haha
    duh, seperti biasa ya. sederhana tapi ngenaa bangett. aku baru tau tentang bintang itu dan menurutku kok nyambung sama inti ceritanya huhuu. aku lagi , terlalu, peka sama topik beginian hmm.
    sekian ya, kak! mangats nulis!

    Like

  2. mau bersinar sama yein juga ga, minha-ssi dan jimin-ssi? hahahahaha XD *lah pede banget si yein -.-

    lalu aku bingung mau komen apa…………………………..

    intinya, suka. suka sama perumpamaannya; bintang dengan manusia itu. gimana terkadang orang2 cuma menikmati kerlip bintangnya–apa yang udah dihasilkan sama seseorang–daripada presensi bintangnya–manusianya–itu sendiri *nah loh ngawur kan* /.\

    yasudah aku pamit. see ya amer ^^)/

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s