To Make His Pain Gone

Standard

4

Min Yoongi & Park Minha

Series | Hurt/Comfort, Life, slight!Fluff

17 (for trigger warning, cursing words, and some mainstream yet sensitive issue. You can read it, but (again) refrain yourself from making disrespectful comments)

.

.

.

Ouch, shit!”

“Maaf.”

Park Minha hanya bisa menggumam pelan, sementara Yoongi lekas menggelengkan kepala dan membiarkan gadis itu melanjutkan pekerjaannya. Dalam diam membersihkan luka di sudut bibir sang lelaki, selagi yang bersangkutan mati-matian menahan tangannya yang masih gemetaran karena emosi.

“Yoongi?”

“Maaf, Minha, aku—“

Here.”

Menghentikan kesibukannya sejemang, Minha menangkup kedua tangan Yoongi dan mengusapnya perlahan. Seakan berusaha memberi ketenangan, sebelum akhirnya membiarkan kedua telapak itu mendarat pada pinggangnya. Yoongi serta-merta mencengkeram jaket yang digunakan Minha, mengembuskan napas dalam-dalam sementara rasa sesak itu masih ada di dalam benak.

Just hold me, okay?”

Satu anggukan, dan Yoongi sama sekali tak membiarkan posisi mereka berubah. Ia hanya membiarkan Minha memberikan obat pada lukanya, perih namun tak seberapa jika dibandingkan dengan guncangan kepanikan yang sempat mendera. Hell, Yoongi bahkan tak tahu mengapa dirinya bisa menjadi seperti ini, mengapa amarahnya mendadak harus meledak dan berakhir dengan sebuah perkelahian antara dirinya dan Namjoon.

Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, penyebabnya cukup sederhana.

Hari ini dimulai tanpa ada sesuatu yang memancing emosinya, datar dan sedikit membosankan. Yoongi menghabiskan tiga jam pertama di pagi harinya dengan memandangi layar komputer, mengutak-atik susunan nada tanpa hasil. Selanjutnya, ia hanya duduk di kursi seraya memainkan ponsel atau mencoret-coret kertas. Berusaha untuk mencari kesibukan, tetapi rasa hampa itu tetap tidak kunjung pergi. Menggerogoti dari dalam, sementara Yoongi terus-menerus teringat akan kegagalannya belakangan ini.

Yah, gagal itu memang bukan hal yang baru. Yoongi sering mendapat penolakan, sering pula merasa pesimis dan tak puas dengan dirinya sendiri. Satu kata itu sudah bagai sahabat, namun belakangan ini, Yoongi mulai merasa sebal dan muak. Tambahkan fakta bahwa ia jadi sering beradu argumen dengan Namjoon, membuat lelaki itu merasa bahwa semua langkah yang ia ambil adalah sebuah kesalahan.

Jadi, tanpa ia sadari, pukulan itu mendarat begitu saja.

Ketika Namjoon berkata bahwa ia terlalu melebih-lebihkan masalah dan terlampau memikirkan segalanya, pada saat itulah Yoongi lepas kendali. Tanpa sadar menjatuhkan kursi yang ia duduki, sebelum mendorong Namjoon hingga membentur dinding. Semua kata makian meluncur keluar dari bibirnya, diikuti dengan rasa kesal karena sesungguhnya ia tak menginginkan ini.

Tapi Namjoon tidak mengerti.

Orang-orang tidak pernah mengerti jikalau rasa panik dan takutnya itu nyata, mengira bahwa semuanya bisa diselesaikan semudah menarik napas atau menjentikkan jari.

Yoongi tidak seperti itu.

Terkadang, ada saat ketika ia merasa semuanya runtuh dan hancur berantakan. Ketika hidupnya terlihat tak berarti, masa depan dan langkah yang harus ditempuhnya menjadi seperti gulita. Gelap, pekat, dan Yoongi tak tahu harus melakukan apa selain membiarkan kekhawatirannya meluap keluar. Memang bukan jalan keluar yang terbaik, tetapi terkadang, Yoongi membutuhkan rasa sakit itu.

Seperti ketika Namjoon balas memukulnya, misal.

Alih-alih erangan, Yoongi malah mengeluarkan kekeh tawa dan balas mendorong Namjoon. Melayangkan satu hantaman, yang lantas dibalas pukulan pada rahangnya. Nyeri itu spontan menyebar, tapi Yoongi hanya tertawa makin keras dan menyumpahi Namjoon macam-macam. Sukses membuat sahabatnya itu memilih untuk berderap pergi, lengkap dengan pernyataan bahwa Yoongi sedang tidak sepenuhnya sadar.

Oh, tidak.

Yoongi tidak mabuk, kok.

Ia sepenuhnya sadar, tetapi rasa hampa dan sakit itu sudah terlanjur menelannya. Membuat ia jatuh terduduk di lantai studio, tubuh gemetaran seraya air mata perlahan merembes keluar dari kedua kelopaknya yang tertutup. Tidak ada yang tahu berapa lama ia berpolah demikian, lantaran Yoongi sendiri baru mengangkat kepalanya kala Minha datang dan mulai mengobatinya.

“Aku sudah selesai.”

Tarikan napas lega terdengar, diiringi bunyi ‘tuk’ ringan tatkala Minha meletakkan kotak obat di atas meja. Gadis itu lantas membiarkan dirinya kembali ke hadapan Yoongi, mengizinkan sang lelaki untuk merengkuhnya erat-erat.

“Yoongi-ya….

“Aku payah sekali, Minha-ya,” bisik Yoongi, tanpa sadar membiarkan air matanya kembali meleleh turun. Membasahi jaket yang digunakan Minha, selagi sang gadis menyusupkan jemarinya di sela-sela rambut Yoongi. Satu, dua tepukan ia daratkan di sana, berusaha untuk membuat Yoongi merasa lebih baik—kendati penyelesaiannya tentu tidak akan semudah itu.

 “Yoongi-ya, tidak apa-a—“

Goddammit, aku tidak baik-baik saja,” gumam Yoongi menambahkan, jemarinya bergerak untuk mencengkeram jaket Minha lagi. “Aku benci diriku, aku—“

“Hei, hei.” Minha memotong, menarik diri untuk menangkup wajah Yoongi. Lamat-lamat menghapus jejak-jejak kesedihan yang ada di sana, sembari ia pelan-pelan berujar, “Aku tahu Yoongi. Aku juga pernah merasakannya. It’s okay.

No—“

“It’s okay,” ulang Minha, tanpa banyak kata menarik Yoongi agar bisa bersandar pada pundaknya lagi. “Ini akan berlalu, oke? Rasa sakit itu akan hilang, pasti hilang. Kamu hanya perlu bertahan untuk melewati ini. Ayo…” Satu embusan napas, dan Minha sadar bahwa diam-diam ia sedang menahan air matanya sendiri. “A-ayo kita lakukan hal-hal yang kamu suka.”

Mmm…”

“Bagaimana dengan istirahat sejenak?” Minha menawarkan, membiarkan tubuh mereka mengambil jarak. Irisnya terarah pada sofa yang terletak di sudut studio, selagi Yoongi mengangguk setuju dan langsung melangkah ke sana. Membaringkan diri, kedua manik mengawasi Minha yang tengah meraih jaket milik Yoongi dari sandaran kursi.

“Minha?”

“Ya?”

Yoongi menggeleng, tidak berucap apa-apa sementara Minha menggunakan jaket hitam itu untuk menyelimutinya. Sang gadis lalu mengulurkan tangan, menautkan jemari mereka dan menyalurkan rasa tenang. Ada senyum yang terkulum di wajahnya, senyum yang membuat Yoongi perlahan-lahan melupakan emosi dan rasa sakitnya.

Ng—

“Kenapa?”

“Bolehkah aku… eum—

“Tentu.”

Tanpa perlu menyelesaikan kata-katanya, Yoongi bisa merasakan bagaimana kehangatan itu melingkupi kala Minha menundukkan tubuh untuk memeluknya. Menyandarkan kepala pada dada Yoongi, menguarkan aroma bak vanilla dan karamel khas seorang Park Minha. Sebuah perpaduan yang cukup untuk membuat Yoongi ikut menaikkan sudut-sudut bibir, abaikan rasa nyeri selagi kedua kelopaknya perlahan terpejam.

“Kamu akan baik-baik saja.”

Yeah.

“Aku bersungguh-sungguh.”

“Aku tahu,” balas Yoongi, kedua lengan terangkat untuk balik memeluk Minha sejenak. “Meskipun aku tidak akan berbohong; aku masih merasa sedikit kesal dan marah dan benci pada diriku sendiri—“

“Tapi?”

“Tapi, ini tidak sesakit tadi.” Yoongi menyelesaikan, tahu bahwa Minha pasti lega mendengar kata-katanya. “Kalau aku tidur, barangkali besok semuanya akan membaik, ‘kan?”

“Tentu.” Minha lekas menyetujui, masih sambil menepuk-nepuk pundak Yoongi. “Kita masih punya hari esok. Semuanya akan baik-baik saja.”

Setelah itu, Yoongi tak lagi menjawab atau memperpanjang konversasi. Ia hanya membiarkan dirinya terlelap, terbuai oleh kehadiran Minha yang terasa bagai obat pereda rasa sakit. Detik berlalu, dan Yoongi bisa merasakan kegelapan itu menyambanginya. Membawa ia dalam tidur tanpa mimpi, tidur tanpa rasa sakit lantaran sang lelaki tahu bahwa ada seseorang yang akan senantiasa mengobati luka-lukanya. Orang yang kini tak lagi merengkuhnya tapi masih ada di sana, merapikan helai-helai rambut Yoongi sembari bersenandung pelan dan membisikkan ucapan selamat malam.

“Sleep tight, Yoongi. Aku tidak akan kemana-mana.

.

Oh, well, Yoongi sudah tahu itu.

.

.

.

Tetapi, pada saat seperti ini…

.

.

.

…sedikit kata-kata manis adalah obat bagi segala luka, bukan?

.

fin.

Advertisements

One thought on “To Make His Pain Gone

  1. BOBO YANG NYENYAK DAN MIMPI INDAH YA MIN YOONGI 😀
    Jangan berantem lagi sama mbahjun. Berantem pake cypher aja jangan pukul2an nanti sakit > <
    Minha nya jangan dikasih cursing dong lagi diobatin malah bilang 'shit'. Lagi dipeluk malah bilang 'godammit' ㅡㅡ ya mungkin itu ungkapan cinta seorang min yoongi kali ya…………………… yasudah pokoknya kaya kata minha, masih ada hari esok kalo mau berantem lagi *GAK GITU!*
    Oke oke aku sudahiㅡuuuhhh ini bukan komen kayanya ya?ㅡmenyampahnya ya. Ehehehehehe ^^)/

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s