To Let Your Worries Out

Standard

7_19_20131023162600f43s

Park Jimin & Min Yoongi

Series | Friendship, Hurt/Comfort, Life

17 (for trigger warning, cursing words, and some mainstream yet sensitive issue. You can read it, but (again) refrain yourself from making disrespectful comments)

Un-betaed.

.

.

.

Min Yoongi tahu ada sesuatu yang salah, tepat kala maniknya mendapati sosok Park Jimin yang tidak beranjak dari tepi lapangan basket.

Pukul enam sore, dan sebagian besar siswa—baik di sekolahnya maupun sekolah Jimin—tak lagi terlihat berkeliaran. Terlebih, ini adalah akhir minggu. Tak peduli apakah kau siswa SMP atau SMA, semuanya pasti hanya ingin bersenang-senang dan bertingkah layaknya anak muda. Bebas, tak perlu memikirkan tanggung jawab belajar, serta penuh tawa dan canda.

Namun, Park Jimin terlihat seolah ada yang baru saja menumpukkan beban seberat tiga karung beras ke atas bahunya.

Memutuskan untuk mencari tahu, Yoongi pun meraih tas dan bola basketnya. Lamat-lamat melangkah menghampiri Jimin, sahabat sekaligus teman masa kecilnya yang tampak sedang dirundung masalah itu. Oh, atau mungkin ia memang punya segudang masalah, lantaran Yoongi tahu benar bagaimana kondisi keluarga Park saat ini.

“Hei.”

Satu sapaan, dan Jimin mendongak sembari mengulas senyum singkat. Tidak mengatakan apa-apa, tetapi mengizinkan Yoongi untuk duduk di sebelahnya. Keduanya tak langsung bertukar cakap, memilih untuk memandangi lapangan basket yang terletak di antara perbatasan SMP Jimin serta SMA tempat Yoongi bersekolah. Terus membiarkan detak waktu berlalu, sampai Yoongi mulai memainkan bola basketnya dan menggumamkan tanya.

“Merindukan Minha?”

Jimin lekas menoleh. Ekspresinya tak tertebak, tetapi ia memutuskan untuk balik bertanya, “Memang Yoongi Hyung tidak?”

“Sejujurnya? Tentu saja iya.” Yoongi mengedikkan bahu. “Banyak hal berubah, dan kadang aku sedikit merindukan masa-masa ia merengek minta dibelikan es krim padaku.”

Yoongi menjawab semua itu dengan nada santai, bermaksud untuk sedikit bercanda dan membuat Jimin ikut mengingat-ingat kenangan manis saja. Namun, alih-alih, lelaki di sampingnya itu malah mengembuskan napas panjang. Seakan menyatakan bahwa masalahnya saat ini bukan hanya disebabkan oleh rindu semata, melainkan….

“Aku benci ibuku.”

Yoongi lekas menghentikan keasyikannya memutar-mutar bola basket.

“Aku rindu adikku, tentu. Tapi aku tak mengerti mengapa Ibu melarangku menemuinya, dan selalu marah-marah setiap kali aku berkata aku hanya ingin mengunjungi Ayah dan Minha. Aku tahu mereka tinggal di lain kota setelah perceraian itu, tetapi aku juga bisa pergi ke sana sendirian kemudian meminta Ayah menjemputku, bukan?”

Tak ada tanggapan. Yoongi menduga bahwa Jimin belum selesai bercerita, sehingga ia pun memutuskan untuk diam lebih dulu.

Dan ia benar.

“Tidak hanya itu, aku tak bisa memahami semua nasihat Ibu. Semuanya terdengar tidak masuk akal, terlebih saat ia membanding-bandingkanku dengan Minha dan berkata kalau aku pasti bisa menjadi anak yang lebih baik. Lalu…”

“Lalu?”

“Kemarin, Ibu marah saat mendapati aku makan ramyeon dan membeli es krim. Berkata kalau itu semua akan membuatku terlihat gendut, mengingatkan kalau aku terus seperti itu, maka aku tidak akan bisa menjadi anak yang dia banggakan. Ibu juga menyuruhku untuk berteman lebih dekat dengan anak lelaki lain di kelasku, tanpa ia tahu bahwa kebanyakan dari mereka tukang palak dan suka membeli rokok diam-diam. Selain itu, ia bahkan terus mengomeli nilai ulanganku yang jatuh, padahal aku benar-benar tidak bisa fokus belajar karena merindukan Minha. Di matanya, aku tak pernah cukup baik, ‘kan? Dan kalau dipikir-pikir, kurasa—“

“Bilang ke ibumu, kau akan menginap di rumahku malam ini.”

Yoongi menghentikan semua ocehan itu, tanpa banyak kata bangkit berdiri dan menunggu Jimin mengikutinya. Sukses membuat Jimin hanya bisa melempar pandang bingung, sementara Yoongi berdecak tak sabaran.

“Ibumu mengenalku, ‘kan? Itu sudah cukup dijadikan alasan agar ia tak marah meski kau tidak pulang.”

“Aku akan menginap di rumahmu, Hyung?”

“Tidak.” Yoongi menggeleng, memamerkan cengiran penuh persekongkolan. “Ayo kita habiskan malam ini melakukan apa pun yang kita mau, mungkin kabur ke pantai dan meluapkan segala kekesalan yang ada. Lagi pula, aku juga tidak ingin cepat-cepat pulang.”

Jimin hanya bisa melongo. Tetapi, ia tetap membiarkan Yoongi menariknya pergi. Menurut saja, lantaran memang itulah yang diinginkan hatinya saat ini.

Sebuah kebebasan.

Malam itu, mereka sibuk mengisi perut dengan tteokpokki, kimbap, dan ramyeon. Tidak lupa menutupnya dengan hotteok dan es krim, sebelum akhirnya menghabiskan malam di pantai. Sibuk berlarian, berteriak-teriak tanpa beban, kemudian mendudukkan diri di atas hamparan pasir dengan napas terengah-engah.

Jimin bahagia, meskipun dalam hati ia tahu bahwa ada puluhan kemungkinan ibunya akan mengetahui hal ini dan kembali menceramahinya. Ia merasa senang, kendati ia tahu bahwa esok hari ia akan kembali dihadapkan dengan realita serta ingatan bahwa saudarinya tak berada dalam jarak sejangkauan lengan. Ia punya banyak alasan untuk merasa cemas, tetapi kala ia mendapati Yoongi yang tengah mengulurkan sekaleng kopi ke arahnya, ia tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.

“Merasa baikan?”

“Yah….”

“Abaikan saja apa yang sudah terjadi dan akan terjadi,” Yoongi menyahut kemudian mengeluarkan tawa sarkastis. “Ah, menasihati itu mudah ya, memang?”

Hyung….

“Keluarkan saja semua, Jimin-a,” lanjut Yoongi, menepuk pundak kawannya itu dengan penuh semangat sampai-sampai Jimin nyaris terjungkal. “Kalau besok kau kembali mengalami hal-hal buruk, maka kau tinggal kabur dan mengeluarkannya lagi, ‘kan?”

Jimin tak menjawab. Ia hanya menyesap kopinya, sedikit menahan kekehan ketika Yoongi tahu-tahu meneriakkan beberapa kata makian sebelum akhirnya merebahkan diri.

Dammit, orang-orang dewasa memang suka seenaknya tanpa pernah ingat kalau masa muda itu berat ‘kan, ya?”

“Kau mengajariku untuk memaki, Hyung?” Jimin menahan sudut-sudut bibirnya agar tak berjungkit, sebelum menambahkan, “Apa aku juga perlu melakukannya?”

“Kadang, itu perlu dilakukan.”

Hanya itu jawaban Yoongi, namun Jimin kurang-lebih mulai bisa memahami artinya. Dari luar, apa yang mereka lakukan ini mungkin memang akan terlihat seperti polah anak-anak tak bertanggung jawab. Tapi, itu bukan masalah. Toh, mereka tidak sedang mabuk-mabukan, merokok, atau memakai obat-obat terlarang, ‘kan? Mereka hanya butuh pelampiasan, pelarian dari semua peliknya hidup yang menodai indahnya masa muda.

Maka, meskipun tidak mengeluarkannya lewat kata-kata secara langsung, Jimin pun memilih untuk melakukan hal yang kurang lebih serupa. Membiarkan telunjuknya menggores permukaan pasir pantai, sebelum akhirnya ikut merebahkan tubuh dan membiarkan dirinya terlelap di bawah hamparan langit kelam.

.

Shit, I’m ruined

.

But…

.

.

.

 I’m happy

.

fin.

Advertisements

4 thoughts on “To Let Your Worries Out

  1. Wetseh chimchim jadi ikut2an cursing > < tak apalah ya. Kaya kata syuga kadang2 gapapa memaki juga. Asal dengan alasan yang jelas. Gak tau2 ngumpat entah ke siapa dan karna apa *loh malah ceramah si yeni* skip!
    Yah intinya kapan2 bolehlah yein diajak main2 di pantai juga *GAK GITU* maksudnya kapan2 minha diajak juga main2 sama kalian di pantai. Jangan dicemplungin di bagian ikan2 tapi. Nanti ikannya kabur *eh* minha nya nangis maksudnya. Ehehehe ^^)V

    Like

  2. mbuh ah :” sahabat kece kayak yoongi bisa dicari dimana ya mer ? :” ((komennya ga kreatif)) dan get it banget deh sama message di cerita ini, so get it malah! HAHA

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s