To Fix A Broken One

Standard

1425293615181

Park Jimin & Park Minha

Series | Family, Hurt/Comfort, Life

17 (for trigger warning, and some mainstream yet sensitive issue. You can read it, but refrain yourself from making disrespectful comments)

Un-betaed, and long narration ahead!

.

.

.

Park Jimin harus mati-matian menahan kesiap kaget untuk tak meluncur keluar dari bibirnya.

Ia baru saja melangkah masuk ke kamar sang adik, berniat untuk mengajaknya mengobrol sejenak atau bertukar kisah mengenai kegiatan mereka seharian ini. Namun, yang didapatinya malah sosok Minha yang tertidur lelap dengan posisi menelungkup di meja. Sama sekali tak bergerak walau mendengar pintu kamarnya berderit membuka, sementara Jimin menunduk untuk mengamati kertas-kertas serta post-it yang bertebaran di atas meja.

Kertas-kertas yang berisikan tulisan tangan adiknya, yang membuat dada Jimin seketika terasa sesak bukan main.

.

Fuck

.

I’m tired of everything

.

People are so damn annoying

.

Kenapa orang-orang seperti itu harus ada dalam hidupku, sih?

.

Jimin bukannya terkejut melihat kata-kata bernada rutukan atau amarah itu—ia tahu itulah cara Minha melampiaskan kekesalannya. Bukan, bukan itu yang membuat ia merasa kecewa. Alih-alih, lelaki itu malah sibuk mengingat bagaimana rupa Minha ketika berangkat ke kampus pagi ini. Saudarinya itu tetap tersenyum, mengatakan bahwa ia akan sedikit sibuk tetapi semuanya baik-baik saja.

Bodohnya, Jimin percaya.

Ia ingin percaya bahwa adiknya itu tidak sedang dalam keadaan yang buruk; ingin percaya bahwa setelah menghabiskan seharian pergi menonton film dengan Yoongi tempo hari, keceriaan itu masih akan terbawa. Tetapi, agaknya ia salah. Ia salah besar karena perasaan cemas dan kesal itu ternyata masih bertahan di sudut hati Minha.

.

Let’s be happy

.

I really want to be happy

.

Dengan pandangan yang sedikit mengabur karena air mata, kali ini Jimin membaca dua baris kalimat tersebut. Tertulis di atas lembar post-it warna biru muda, ditempelkan adiknya pada tembok di depan meja belajar. Jimin tahu bahwa Minha meletakkannya di sana sebagai kalimat penyemangat, namun menilik dari coretan tinta merah yang nyaris menghapuskan kata-kata itu, Jimin juga paham kalau Minha mulai kehilangan rasa optimis yang ada.

Bahagia itu tidak mudah.

Sekian tahun hidup, dan Jimin telah mengerti kalau bahagia itu memang tidak konstan. Namun, yang tidak ia mengerti, mengapa dirinya dan sang adik susah sekali merasakan sekelumit kebahagiaan? Seolah selalu ada orang yang ingin membuat mereka lelah, yang memaksa mereka hingga batas pertahanan hingga air mata itu menetes keluar. Jimin benci itu, dan ia lebih benci lagi ketika mendapati…

.

I’m broken

.

I’m broken, right?

.

Mengepalkan tangannya, Jimin hanya bisa menarik napas lamat-lamat.

Minha sering mengucapkan kata-kata itu, bahwa ia tak akan pernah bisa dianggap sempurna lantaran ia jauh berbeda dari gadis-gadis di luar sana. Ia tidak akan mau berkata manis pada orang yang tidak ia suka, memilih untuk berterus terang walau itu menyakitkan. Ia suka menantang orang-orang yang hobi bertindak seenaknya, tak pernah peduli akan masalah yang akan menimpanya nanti. Ia terkadang mengeluarkan makian atau meluapkan emosinya secara langsung, enggan menahan-nahannya dan menutupi semua itu dengan senyum palsu.

Ya, Park Minha tahu kalau orang-orang sering berkata buruk atau membisikkan ejekan di belakang dirinya karena itu. Ia juga tahu kalau beberapa orang lain mengatainya kekanak-kanakan dan tidak bisa mengatur emosi. Minha tahu itu, Jimin pun juga mengetahuinya.

Tapi, Jimin memahami sesuatu yang lain.

Ia mengerti kalau itu adalah cara Minha mengeluarkan emosinya, sebuah pertahanan diri agar ia tak dipandang sebagai gadis yang lemah. Terserah apa kata mereka di luar sana, namun Jimin tahu bahwa kembarannya itu jauh lebih baik dari mereka semua. Sisi lain Minha yang tersembunyi—yang amat menyukai kucing dan pernah menangis akibat berpapasan dengan kucing terlantar, yang senantiasa menunggui atau mengingatkan Yoongi akan jam makan di kala sibuk, yang menyapanya dengan senyum manis setiap pagi sembari menyiapkan sarapan, yang terkadang hanya bisa diam ketika seluruh dunia seakan membencinya—Jimin mengenal itu dengan amat baik.

Dan itulah sebabnya, ia merasa terluka kala melihat kata-kata itu tergores dalam tulisan tangan adiknya.

Orang lain bilang, kau perlu menasihati seseorang agar mereka mau mengubah sikap mereka. Jimin ingat benar bagaimana orangtuanya—dua orang yang selalu sok perhatian pada mereka itu—selalu menyalah-nyalahkan Minha ketika kecil dulu. Beralibi bahwa itu semua dilakukan atas nama menasihati, tanpa mereka tahu bahwa ada luka yang tertoreh dalam di sana. Sesuatu yang membuat Minha makin ingin melawan, alih-alih menurut dan membiarkan dirinya diatur bagai boneka tak berguna.

Maka, Jimin pun tak akan melakukannya.

Ia tidak akan memberi Minha nasihat mengenai hal yang benar dan patut untuk dilakukan; bukan pula akan menceramahi adiknya itu mengenai cara-cara menjalani hidup dengan positif. Semua perkataan itu hanyalah omong kosong belaka, standar yang ada di dalam masyarakat dan sering diagung-agungkan oleh mereka yang merasa memiliki hidup normal dan terhormat. Bukan itu yang Minha butuhkan, tidak karena dunia ini dipenuhi oleh beragam orang dengan masalah berbeda-beda.

Seraya memikirkan itu semua, Jimin pun bergerak untuk memindahkan Minha ke atas kasur. Menyelimuti saudarinya, dengan lembut merapikan helai-helai rambut sebahunya. Ia lantas mendudukkan diri di sana, membiarkan tangannya dan Minha saling bertautan selama beberapa jenak. Oh, Jimin juga berjanji bahwa ia akan memesan makanan kesukaan mereka saat Minha bangun nanti, serta mengajaknya menonton film yang telah ia download tempo hari. Ia akan memastikan untuk mengisi hidup adiknya itu dengan sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang bisa membuat ia lupa akan kata ‘rusak’ itu.

Karena terkadang, yang dibutuhkan untuk memperbaiki seseorang yang rusak dan terluka itu bukanlah kata-kata penghakiman atau saran yang terlampau tinggi untuk dicapai.

Mereka hanya butuh hal-hal manis dan positif; apa pun untuk menggantikan semua rasa kesal, emosi, atau rendah diri yang ada. Mereka manusia, dan Jimin tahu kalau mengembalikan hati dan rasa yang telah rusak agar utuh kembali itu nyaris mustahil.

Namun, setidaknya, mereka bisa saling menguatkan dan melindungi, bukan? Membuat diri ini lupa akan kerusakan yang ada, serta pada saat yang bersamaan, saling mengingatkan bahwa semua orang di dunia ini berhak untuk bahagia.

Minha bukan pengecualian.

Sehingga, dengan sedikit harapan bahwa ia akan bisa membuat adiknya merasa lebih baik, Jimin pun melangkah perlahan ke meja belajar Minha. Meraih satu post-it berwarna pink muda, lantas menuliskan sebaris kalimat di sana.

.

Ada tteokbokki, drama favoritmu, dan semangkuk es krim, nih!

Makanya, senyum dong, Minha-ya!

.

fin.

Advertisements

4 thoughts on “To Fix A Broken One

  1. Wow……… 그냥……… wow……….
    Haduuuhh kenapa malem2 diajak baper sama park sibs ㅠㅠ setelah ngedrabble gaje 3 biji lalu diakhiri dengan baca ini……….. *jadi kangen dek taem > <

    MINHA-SSI FIGHTING! Nanti dipesenin es sebaskom/? deh ke seokjin *yein
    KAK MINHA SEMANGAT! Ini ada mangga tapi tteokbokkinya bagi dikit ya? 😀 *mony
    JIMIN-A SARANGHAE *loh* *author njelimet ditimpuk sama minha*

    굿밤 park sibs~ tidur yang nyenyak ya. Jangan lupa minha nya dipeluk ya jimin-a ^^)/

    Like

  2. mbuh ah :” pengen punya kakak kek jimin beli dimanaya ya, mer ? :”
    setelah aku absen nulis angst dan berharap bisa ngefluff eh mendadak nemu hurt begini jadi kepikiran bikin yang sedih sedih padahal pengen tobat akakak, duh Minha – Jimin tuh sibling terkeceeeeee karena pemikirannya dewasa banget gt! so niceee that I wonder to see them in the real world, nais mer naisssss *cari tissue

    Like

  3. Cry cry cry cry cry TT
    Suka banget haaaa TT

    Apalagi akhir2 ini aku sensitif(?) banget sama genre life

    Setuju banget! Orang yang broken itu emang fragile dan butuh untuk dikasihi(?)
    Bukan dimaki dan disingkirkan. Hati mereka sebenarnya lebih rapuh dari orang-orang yang ga merasakan penolakan..

    Fix lah ini manis banget :”))
    Keep writting ♥

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s