[Vignette] Insecurities

Standard

insecurities-tsukiyamarisa

insecurities.

a short movie by tsukiyamarisa

Min Yoongi x Park Minha

Vignette | Life, Hurt/Comfort, slight!Fluff | 17

.

.

.

“Minha-ya?”

Yeah?”

“Um, tidak. Tidak jadi. Lupakan saja.”

Minha mendongak, menghentikan kegiatannya membaca buku seraya maniknya terarah pada sosok Yoongi yang duduk tak jauh darinya. Dari posisinya yang sedang berbaring santai di sofa apartemen sang lelaki, Minha bisa melihat bahwa Yoongi sudah kembali memandangi layar laptopnya. Kelopaknya tak berkedip, namun Minha tahu benar bahwa atensi Yoongi sedang tidak berada di sana.

Menyadari itu, ia pun menghela napas dalam.

Gadis itu tahu kalau ia tidak bisa menyalahkan mood Yoongi yang sering naik-turun belakangan ini, tidak ketika ia sendiri pun demikian. Semester baru kuliah telah dimulai, dan lelaki itu juga memiliki proyek membuat lagu yang seakan tidak ada habisnya. Waktu tidurnya berkurang drastis, hingga terkadang Minha tak bisa menahan kecemasannya menyeruak tatkala ia mendapati ekspresi lelah Yoongi setelah seharian bekerja hingga melewatkan jam makannya.

“Yoongi-ya…” Minha memanggilnya, perlahan menutup buku kuliahnya yang setebal kamus dan mendudukkan diri. “Ada masalah?”

Tak langsung menjawab, Yoongi memilih untuk mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja. Kedua pupilnya menolak untuk menatap Minha, bahkan ketika gadis itu sudah beranjak menghampirinya. Perlahan-lahan bersila di sampingnya, mengulurkan tangan untuk menggapai jari-jari Yoongi yang masih tak bisa diam.

“Kamu tahu…” Jeda sejenak, sementara Minha menelengkan kepalanya. “Kamu bisa bercerita apa saja padaku.”

Yoongi tahu itu.

Ia tahu kalau Minha tak akan keberatan mendengar keluh-kesahnya, membiarkan tiap kata yang berbalut kegelisahan itu meluncur keluar tanpa harus takut dihakimi. Gadis itu adalah pendengar yang baik, namun untuk kali ini, Yoongi takut jika kata-katanya akan berakhir memancing amarah Minha.

“Yoongi-ya.”

Yang dipanggil memejamkan matanya sejenak, memijat kening dengan ujung jemari. Ia bisa merasakan kuriositas yang ada dalam diri Minha, sama menumpuknya seperti rasa gelisah yang ada di dalam dirinya.

“Ada—“

“Belakangan aku bertanya-tanya—” Yoongi memotong sebelum Minha sempat bertanya lagi, pada akhirnya memutuskan untuk jujur. Ia benci dengan kebohongan, dan tak peduli bagaimanapun reaksi sang gadis nanti, ia sudah terlanjur membuka mulutnya untuk melanjutkan, “—apa aku benar-benar lelaki yang baik.”

Hening menyambut pengakuan itu, selagi Minha mengerjap pelan dan berusaha mencerna kata-kata Yoongi. Sesungguhnya, bukan pernyataan macam itu yang ia harapkan akan keluar dari mulut sang lelaki. Minha sudah bersiap untuk mendengar serentetan keluhan mengenai tugas, omelan tentang lirik yang payah, ataupun irama lagu yang tidak sesuai dengan kehendak. Namun, alih-alih, Yoongi malah mengutarakan sesuatu yang sama sekali berada di luar dugaannya.

“Maksudmu?”

“Aku hanya…” Yoongi menggelengkan kepalanya sejenak lantas mengulas senyum miris. “Kurasa, aku ini bukan orang baik, Minha-ya.”

“Dan apa yang membuatmu berpikir begitu?”

Yoongi diam sebentar. Perlahan-lahan menarik tangannya dari genggaman Minha, dengan gugup menggigiti bibirnya sembari memproses jawaban. Ada banyak hal yang membuat ia berakhir dengan kesimpulan tadi, banyak perkara yang meresahkannya selama beberapa hari belakangan. Semuanya bercampur aduk menjadi satu, membuatnya sedikit bingung harus memulai dari mana.

“Hei, Min Yoongi—“

“Jangan,” sahut Yoongi cepat, membiarkan irisnya menatap Minha lekat-lekat. Tak memperbolehkan gadis itu untuk meralat atau menyanggah pernyataannya tadi, selagi ia lamat-lamat berkemam, “Tidakkah… tidakkah kamu merasa aku ini terlalu cuek? Aku tidak pernah memperhatikanmu dan—”

“Yoongi, kamu tahu kalau aku—“

“Bukan hanya itu saja, Minha-ya.” Yoongi kembali menyela, untuk yang kedua kalinya membuat sang gadis terpaksa bungkam dan mendengarkan. “Aku tidak pandai dalam banyak hal, aku hanya bisa bergantung pada musik. Hell, bahkan aku sendiri kadang masih merasa ragu, takut kalau nantinya aku berakhir menjadi orang tak berguna. Masa depanku terasa amat tidak pasti, dan aku tidak yakin kalau aku bisa membuatmu bahagia.”

Sunyi lagi, seraya Minha hanya mampu berkedip mendengarnya. Kalau suasananya tidak sedang seperti ini, gadis itu mungkin akan menggoda sang lelaki dan mengatainya tukang rayu. Tetapi, ini berbeda. Minha tahu kalau Yoongi serius, paham kalau kekhawatiran macam itu memang sungguh-sungguh sedang menghantuinya.

Maka, ia pun memilih untuk membiarkan Yoongi melanjutkan ceritanya lebih dulu.

“Selain itu, aku mulai berpikir kalau-kalau aku membawa pengaruh buruk bagimu.”

“Pengaruh… buruk…?”

Yeah.” Yoongi membenarkan, pupilnya bergerak untuk menatap lantai tempatnya duduk. “Lihat lirik-lirik buatanku? I cursed a lot, Minha-ya. Aku bukan seseorang yang pandai berkata manis, bukan pula ahli dalam bersikap optimis. Aku bukan laki-laki dengan segudang pencapaian yang bisa dibanggakan, lelaki yang memiliki sopan santun dan bisa memperlakukan gadisnya seperti putri. Aku ini tidak ada apa-apanya, tetapi mengapa kakakmu selalu berkata kalau aku pantas bagimu? Bagaimana kalau dia salah dan—“

“Hentikan.”

Tidak tahan lagi, Minha memutuskan untuk menghentikan ocehan Yoongi. Cukup untuk membuat lelaki itu sedikit mendongak, sementara Minha mengulurkan kedua tangannya untuk menangkup wajah Yoongi.

“Minha….”

“Apa kamu pikir aku ini gadis manis dengan perangai yang baik?” Minha memulai, menanyakan perihal tersebut sambil menjungkitkan kedua alisnya. “Karena aku tidak seperti itu, Yoongi. Sometimes, I also cursed. Aku mudah emosi, aku bukan gadis yang bisa selalu tersenyum di hadapan banyak orang. Ugh, aku bahkan tidak punya banyak teman, lantaran mereka selalu berkata bahwa berteman denganku itu tidak menyenangkan.”

“Itu tidak benar.”

“Kalau begitu, itu juga berlaku bagimu,” sahut Minha, salah satu tangannya bergerak untuk merapikan rambut Yoongi yang acak-acakan. “Aku tidak peduli, pun menginginkanmu untuk menjadi lelaki yang sempurna seperti di dalam drama. Kamu berkata kalau kamu memiliki banyak kekurangan, tapi itulah yang membuatmu menjadi seorang manusia. Itu juga yang membuatku—“

Mendadak, Minha menghentikan kata-katanya. Sang gadis agaknya baru sadar kalau ia sudah terlalu banyak berbicara; nyaris saja mengucapkan serentetan kalimat yang pastinya akan terdengar seperti rayuan. Berdeham gugup, Minha pun bermaksud untuk menarik dirinya menjauh dari Yoongi.

Yang lekas gagal, tentu saja.

“Kamu serius dengan perkataanmu?” tanya Yoongi, telapak tangannya tahu-tahu sudah menangkup tangan Minha yang masih berada di pipinya. Sukses membuat gadisnya terbata, diikuti dengan anggukan singkat sebagai jawaban.

“Mengapa?”

“Karena aku tahu kalau kamu tidak seburuk itu,” timpal Minha setelah ia berhasil menemukan suaranya kembali, kali ini membiarkan Yoongi membawa tangannya ke atas pangkuan. Menyelipkan jemarinya di sela-sela jemari Minha, Yoongi pun mengizinkan sang gadis melanjutkan, “Aku mengenalmu sejak masih kecil, Yoongi-ya. Kamu boleh berkata kalau kamu bukan lelaki baik, tapi aku tidak akan lupa kalau dirimulah yang membantuku untuk melalui banyak hal. Kamu adalah seseorang yang kadang bisa kuanggap sebagai kakak, juga sebagai keluarga. Tidakkah itu cukup?”

Selama beberapa sekon, Yoongi memikirkan pengakuan Minha itu. Menimbang-nimbangnya, sekaligus meyakinkan diri bahwa semua itu memang benar adanya.  Perkataan Minha tadi berhasil untuk membuatnya ingat bahwa setiap orang pasti memiliki dua sisi, bahwa tak akan ada orang yang bisa berlaku seratus persen baik atau seratus persen buruk.

Hanya saja….

“Minha-ya?”

“Ya?”

“Tapi, seandainya kamu bertemu dengan lelaki yang lebih baik dariku—“

“Kamu mau mendengarku mengumpat atau bagaimana, sih?”

Omelan Minha itu langsung terdengar sebagai jawaban, disertai dengan mimik wajah cemberut yang mau tak mau menghadirkan sedikit kekeh tawa. Mengulurkan lengan, Yoongi pun menarik Minha yang masih mengerucutkan bibir mendekat, tanpa permisi meletakkan kepalanya di atas pundak gadis itu seraya bergumam, “Itu hanya candaan. Maafkan aku, ya?”

Ugh, kamu menyebalkan, tahu.”

Yoongi tahu kalau ucapan itu tidak serius, tentu. Tidak karena ia baru saja memutuskan untuk menarik diri dan mencubit pipi tembam gadisnya sebagai tanggapan, sementara senyuman manis serta tawa singkat meluncur keluar dari bibir keduanya. Menghapuskan semua rasa rendah diri yang tadi sempat ada, mendorong Yoongi untuk kembali meletakkan kepalanya di atas bahu Minha seraya membisikkan satu frasa untuk mengakhiri perdebatan malam ini.

“Terima kasih.”

.

.

.

fin.

ehehehe, sedikit word-vomit karena insomnia menyerang ^^

Advertisements

2 thoughts on “[Vignette] Insecurities

  1. Weeeheeeee finally baca juga setelah semalem ditunda karna udah ngantuk ^^)V

    Aduh bunda(?) yein semalem udah kasih nasihat ya sama dek yoongi, jangan terlalu mikirin masa depan. Nikmatin yang ada sekarang dulu, ke depannya bisa ngikutin apa yang mas-e lakuin sekarang *tuh kan ceramah lagi ㅡㅡ

    Kalo bisa buat yunha………………… bikin full of fluff ya *hiks* kangen sama fluff-nya kalian *etapi udah keseringan mabok(?) kalo di line ya……………………* pokoknya kapan2 fluff ya. Tapi ini juga fluff ko, endingnya 😉

    Mungkin kalo aku mikir2 juga kaya syuga bakal kepikiran kaya gitu. Tapi yaudah jalanin yg sekarang aja. Perjalanan kalian kan masih panjang *tsaaaahh

    Yaudah daripada makin ngaco aku mau pamit dulu. Pokoknya ini tetep always keren. Aku ga tau kudu komen apa sebenernya soal ceritanya. Abisnya selalu pas, pas semua2nya dan berasa apa yg kudu dirasain *ini apasi makin ngaco* /.\

    Oke, see ya amer ^^)/

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s