[U-SERIES] #4: DYING MESSAGE

Standard

U-SERIES4

U-SERIES

a movie-series by tsukiyamarisa

starring [VIXX] Ravi (Kim Wonshik) and a girl duration 4 ficlets genre Romance, Sad, slight!Dark, slight!Thriller, slight!Horror rating 17

based on Primary (ft. Kwon Jina, Rap Monster) – U. All lyrics in this fiction belong to Rap Monster’s rap part.

.

-o-

.

verse 4 of 4: DYING MESSAGE

.

I’ll be your underline because you’re important

I’ll make your name my dying message

.

.

.

“Kamu… apa?”

Wonshik menelan saliva, dengan berat mendongakkan kepala untuk membalas tatapan gadisnya. Seluruh tubuhnya mendadak merinding, mimik wajahnya pucat pasi kala ia mendengar pengakuan itu. Memang benar kalau ia membutuhkan jalan keluar, tetapi apa harus jalan keluar yang seperti ini?

“Aku menghabisi tunanganku itu, Wonshik. Yang menghalangi hubungan kita.”

“Tapi—“

“Jangan kaget begitu. Lagi pula, dia memang bersalah dan patut mendapatkannya, kok.”

Sontak Wonshik pun bungkam, tak tahu harus berkata apa. Ia tahu kalau pasti ada alasan di balik semua ini, namun entah mengapa bibirnya tak kunjung terbuka untuk menyuarakan tanya. Membiarkan kuriositas itu terpendam dalam-dalam, sementara imajinasi liarnya mengambil alih.

Di satu sisi, Wonshik paham benar apa artinya semua ini. Gangguan itu tak lagi ada, mereka bebas untuk menjalin hubungan tanpa perlu menutup-nutupinya lagi. Namun, kali ini, berapa lama mereka bisa bertahan? Cepat atau lambat, bukankah orang-orang akan menyadari kalau Mark tewas dibunuh dan berusaha mencari pelakunya? Bukannya Wonshik ingin melihat gadisnya di balik jeruji besi; toh, ia hanya berusaha untuk berpikir rasional di sini!

“Wonshik-a…

Yang dipanggil lekas menoleh, mimik wajahnya sama kusutnya dengan pikiran-pikiran buruk yang tengah berkelana di dalam sana. Irisnya bergerak-gerak gelisah, sehingga wajar saja jika ia gagal menangkap perubahan ekspresi pada wajah sang gadis.

“Kamu tidak ingin kembali bersamaku lagi?”

Satu pertanyaan itu cukup untuk membuat Wonshik tersentak, selagi dirinya sontak dibanjiri oleh rasa bersalah. Entah mengapa, ia merasa bahwa dirinya memiliki andil di dalam perkara pelik ini. Tentunya, jika mereka tidak diam-diam berkencan, hal semacam ini tak akan terjadi, bukan?

Namun, penyesalannya datang terlambat. Pikiran-pikiran macam itu tak lagi ada gunanya; dan Wonshik menyadari itu kala ia mengikuti gerak sang gadis yang melangkah memutarinya dan memeluknya erat dari belakang. Kekasihnya itu lantas menyandarkan dahi pada punggung Wonshik, tak mengucap kata seraya menunggu Wonshik menjawab.

“Tentu saja aku ingin bersamamu lagi,” Wonshik mengaku, akhirnya memilih untuk jujur. “Tetapi, apa itu artinya kita harus kabur? Menjauh dari orang-orang yang mungkin mencurigai—“

“Tak perlu.”

“Tidak?” Wonshik melepaskan rengkuhan sang gadis pada pinggangnya, lantas cepat-cepat berbalik sembari menahan sedikit emosi yang mulai meluap ke permukaan. “Apa maksudmu dengan ti—“

Namun, ucapan Wonshik tersebut terhenti bersamaan dengan keluarnya erangan dari bibir yang bersangkutan. Irisnya melebar, setengah tidak percaya kala melihat sosok gadisnya yang perlahan-lahan berubah. Sepasang pupil itu berputar perlahan, pelipis yang tadinya mulus kini tergores dan meneteskan darah. Tak hanya itu, bukan hanya noda darah saja yang kini tampak di gaun krem sang gadis. Ada bekas-bekas luka tusukan di sana, teramat jelas hingga membuat Wonshik bergidik ngeri.

“K-kenapa….”

Ah, dan satu lagi.

Sebilah pisau kini telah menancap di tubuh lelaki itu. Mengoyak perutnya hingga darah menetes dari sana, menembus bagian vital hingga Wonshik dipastikan akan mati sebelum pertolongan bisa datang.

“Ini satu-satunya cara untuk bersatu, Wonshik-a. Setelah Mark lebih dulu melakukan ini padaku, kita bisa apa lagi?” ujar gadis itu, masih setia memasang mimik datarnya. Lalu, sebelum sosoknya benar-benar pudar, sang gadis pun bergegas mendekati Wonshik untuk menanamkan satu kecupan di bibirnya. Tak lupa membubuhi pesan itu dengan satu bisikan sendu, satu kalimat yang mengantar Wonshik untuk menutup mata.

 

“Sampai jumpa di alam sana.”

.

-o-

.

“Detektif Kim, saya menemukan dying message yang ditinggalkan korban.”

Mengalihkan perhatiannya dari tempat kejadian, Kim Seokjin bergegas meraih selembar foto yang disodorkan oleh bawahannya tersebut. Maniknya mengamati foto dinding apartemen Kim Wonshik—si korban—tanpa berkedip, membaca deretan aksara yang tertulis di sana dengan menggunakan darah.

“Apakah kita harus melacak perempuan yang namanya tertulis di dinding itu, Detektif? Kalau iya—“

“Tidak usah.” Seokjin bergegas menepuk lengan bawahannya itu, menggelengkan kepala perlahan seraya menghela napas. Sebut saja ia gila; sebut saja ia percaya pada hal-hal berbau supernatural. Namun, dengan bukti-bukti sekuat ini, masih adakah penjelasan yang masuk akal di balik dua kasus pembunuhan yang tengah ia hadapi?

“Mengapa tidak? Pelakunya—“

“Kalau benar pelakunya gadis itu, maka kita akan berakhir mengejar sesuatu yang sudah tiada,” gumam Seokjin, lamat-lamat membalikkan badannya dan melangkah meninggalkan tempat kejadian. “Aku sudah menyelidiki hal ini, dan masalahnya….”

“Masalahnya?”

“Gadis itu sudah tewas dibunuh seminggu yang lalu. Apa kau mau mengejar hantu?”

.

-o-

.

fin.

all done!!

setelah ini saya usahakan bawa fluff atau fantasy deh, nggak yang sedih-sedih lagi (mungkin) ._.v

dan buat yang masih agak bingung (?) intinya tuh Mark tahu kalo ceweknya selingkuh dan dia bunuh si cewek duluan tanpa Ravi tahu, baru deh yang habis itu ngebunuh Mark-Ravi adalah hantu si cewek .__.

thanks for reading and do leave some review, please ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s