[Oneshot] A Little Spark Won’t Hurt

Standard

IMG_20150207_105652

A Little Spark Won’t Hurt

a movie by tsukiyamarisa

part of BTS Rapper-Line series

©20142015 project

starring [BTS] Suga (Min Yoongi), J-Hope (Jung Hoseok), Rap Monster (Kim Namjoon), Park Jimin, and [OC] Park Minha duration Oneshot (3400+ wc) genre Romance, Fluff, Friendship, slight!Family rating T

.

.

Hal semacam ini tidak seharusnya menjadi masalah, bukan?

.

.

.

Sudah hampir seminggu lamanya Yoongi tidak bertemu dengan Minha.

Itu bukan hal yang aneh, mengingat Yoongi sendiri sedang disibukkan oleh setumpuk proyek membuat lagu bersama Namjoon dan Hoseok sementara Minha memiliki segudang tugas kuliah. Mereka sudah terbiasa dengan hal-hal seperti ini, dan keduanya pun sama-sama tidak suka diganggu jika sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Bahkan, dalam kondisi normal pun, Minha sendiri bukan tipe gadis yang suka ditelepon atau dikirimi pesan setiap menitnya, sehingga wajar jika mereka hanya berkirim tiga sampai lima pesan per harinya.

Namun, tepat ketika minggu penuh tugas, lembaran kertas lirik, peralatan rekaman dan mixing, serta perdebatan dengan kedua rekannya itu berlalu, Yoongi merasa bahwa sesuatu yang tidak beres sedang terjadi di sini.

.

.

Tugasmu belum selesai?

.

.

Bukannya Yoongi suka merecoki urusan orang lain, tetapi ia merasa heran lantaran gadis itu tak kunjung muncul. Tadi pagi, ia sudah mengirim pesan pada Minha, mengabarinya bahwa ia punya waktu luang seharian ini. Sang gadis sendiri sudah mengiakan ajakan itu, berkata bahwa tugasnya sebentar lagi akan selesai. Selain itu, ini adalah hari Minggu. Hari yang sebenarnya selalu ingin Yoongi gunakan untuk bersantai, tetapi biasanya ia diganggu oleh celotehan Minha serta ajakannya ke toko es krim.

Dan kini, Yoongi baru sadar bahwa ia teramat ingin mendengar ocehan gadisnya itu.

“Tidak jadi pergi?”

Bukan hanya Yoongi, Hoseok pun tampaknya menyadari keanehan itu ketika ia memasuki studio bersama Jinhee. Kawan Yoongi yang satu itu masih merangkul Jinhee dengan sebelah lengan, sementara tangan lainnya sibuk mencari-cari sesuatu di tengah tumpukan kertas lirik.

“Tidak tahu,” Yoongi berujar ketus, memalingkan muka dari pemandangan sok romantis itu. Emosinya mendadak mendidih, sebal melihat sikap Hoseok dan Jinhee yang terkesan pamer karena bisa melewatkan akhir pekan bersama. Di luar kemauannya, ia pun kembali memutar kursi yang didudukinya ke arah komputer dan mulai mengaransemen sebuah lagu.

Sampai suara berisik Hoseok di latar belakang membuatnya kembali membuka mulut dan berkata, “Kau sedang apa sih, ribut-ribut di studio?”

“Mencari ponsel. Sepertinya tertinggal.”

Yoongi menoleh sekilas, mengamati temannya yang masih asyik membolak-balik tumpukan kertas. Namun, matanya lekas menyipit kala ia mendapati sebuah benda putih yang menyembul dari saku celana jeans Hoseok.

“Ponselmu ada di saku celana, idiot.”

“Eh?”

“Ponselmu ada di dalam saku,” ulang Yoongi datar, membuat Hoseok lekas-lekas memeriksa saku celananya dan memamerkan cengiran lebar.

“Ah, benar! Terima kasih Yoon—“

“Sudah selesai, ‘kan? Sekarang keluar.”

“Tapi…“ Hoseok menunjuk komputer yang bisa ia pakai, lantas menarik Jinhee mendekat seraya melanjutkan, “…aku mau menunjukkan lagu buatanku pada Jinhee du—“

.

.

.

“KELUAR SEKARANG, JUNG HOSEOK!! PACARAN SAJA DI TEMPAT LAIN SANA!”

.

-o-

.

“Untuk apa kau membuat aransemen lagu macam ini?”

Dua hari berikutnya, telinga Namjoon dikejutkan oleh irama lagu dan susunan nada-nada yang sangat tidak-Yoongi-sekali. Bukan hanya terdengar berantakan, musik yang berdentam keras itu cukup untuk membuat kepala Namjoon pening dan ingin cepat-cepat kabur dari sana. Namun, atas nama persahabatan, ia pun memilih untuk tinggal barang sejenak demi mengecek keadaan kawannya.

“Memangnya kenapa?” Yoongi balik bertanya seraya mendengus kesal, jelas terlihat bahwa ia sedang tidak mood berdebat dengan Namjoon. “Kurasa tidak ada yang salah dengan lagunya.”

Menghela napas, manik Namjoon pun bergerak mengamati wajah Yoongi yang terlihat lelah. Ada kantung mata yang tampak jelas di sana, padahal setahu Namjoon, semua tugas kuliah Yoongi dan proyek lagu mereka sudah terselesaikan. Lelaki itu tak seharusnya mengurung diri terus-menerus di dalam studio, tidak jika Minha ada di sini dan menarik Yoongi pergi kesana-kemari.

“Aku tahu kalau kau merindukan Minha—“

“Tidak.”

“Lantas, apa lagi yang bisa membuatmu frustasi? Nilai di kelas aransemen? Oh, setahuku Profesor Jung baru saja memberimu nilai tertinggi, ‘kan?”

Namjoon menyilangkan kedua lengan, menatap Yoongi dengan penuh selidik. Seperti dugaannya tadi, kawan baiknya itu hanya bisa bungkam. Pertanda bahwa tebakan Namjoon tadi memang tepat, kendati Yoongi jelas segan untuk mengakui bahwa ia sedang merindukan presensi gadisnya. Ck, khas seorang Min Yoongi yang memang terkenal cuek.

Well….

“Aku tidak merindukan Minha,” ulang Yoongi, tangannya bergerak untuk mengetik sesuatu di keyboard. “Aku hanya—“

“Hanya tidak bisa tidur, frustasi karena pesanmu tidak dibalas, dan berakhir membuat lagu yang tidak jelas?”

Konklusi Namjoon tersebut langsung berbuah kesialan. Karena, detik berikutnya, Yoongi langsung bangkit berdiri dan menghadiahi Namjoon dengan sepasang pelototan ganas. Tak hanya itu, Namjoon pun mendapati dirinya diseret kasar menuju pintu studio, sebelum akhirnya papan kayu itu terbanting menutup tepat di depan hidungnya.

.

.

BRAAAAKKK!!

.

.

Ya, Yoongi Hyung, aku hanya mencemaskan diri—“

.

.

“CEMASKAN SAJA KESELAMATANMU SENDIRI!!”

.

.

Dan hal terakhir yang Namjoon dengar sebelum ia beranjak pergi adalah dentum keras musik dari dalam studio. Membuatnya lekas-lekas angkat kaki dan menelepon Hoseok, selagi dirinya berdoa agar studio mereka masih utuh esok hari.

.

-o-

.

Park Jimin adalah korban berikutnya.

Kakak kembar Minha itu sedang asyik bersantai di sofa ditemani sekantung keripik kentang dan sebungkus biskuit. Matanya terpancang pada layar laptop, sibuk menonton drama yang kemarin sudah di-download adiknya. Kesibukan kuliah selama seminggu terakhir ini cukup membuatnya gila; dan Jimin pikir, hari Sabtu adalah waktu yang tepat untuk melepas penat.

Sampai Yoongi datang, memaksa Jimin untuk bangkit membuka pintu dan langsung dihadapkan dengan ekspresi wajah yang masam.

“Oh, Hyung?”

Jimin tak berani berkata macam-macam, membiarkan Yoongi menyelonong masuk dan langsung mengempaskan diri di atas sofa. Lamat-lamat, Jimin pun bergerak mengikutinya seraya menggumamkan tanya, “Hyung, ada perlu apa?”

“Adikmu mana?”

Bahkan dalam sekali pandang saja, Jimin tahu kalau Yoongi pasti sudah tidak tahan dengan absennya presensi Minha selama kurang lebih dua minggu ini. Sebagai kakak, tentu saja ia merasa sedikit puas karena saudarinya itu tidak terlalu banyak menghabiskan waktunya dengan sang kekasih lagi. Namun, sebagai orang yang masih ingin hidup—

“Er—ia baru saja pergi. Mengerjakan tugas dengan temannya.”

—Jimin memilih untuk berucap jujur dan mengimbuhinya dengan raut wajah bersimpati.

“Sampai jam berapa?”

“Tidak tahu,” Jimin mengedikkan bahu, kini ikut mendudukkan dirinya di samping Yoongi dan mulai melanjutkan kegiatannya menonton drama. “Mungkin sampai sore, mengingat tugasnya cukup banyak dan mereka harus melakukan wawancara dengan beberapa orang. Kenapa?”

Yoongi menggeleng, lalu memajukan bibirnya sambil menimbang-nimbang pertanyaan yang akan ia lontarkan selanjutnya. Ia tidak ingin terlihat seperti lelaki yang mudah curiga atau terlalu mengekang sang gadis, tetapi mengingat ia sudah tidak mendapat kabar dari Minha selama hampir seminggu lebih, perasaan negatif itu pun mencuat begitu saja ke permukaan. Yoongi memang sengaja menahan dirinya untuk tidak sering-sering mengirim pesan ke Minha atau memaksa gadis itu untuk membalas—ia tahu benar Minha tak suka itu dan akan langsung membenci orang-orang yang berani memaksanya. Namun, jika dibiarkan tanpa kabar seperti ini, apa wajar jika ia merasa baik-baik saja dan sama sekali tidak frustasi?

Ng, dia pergi dengan siapa saja?”

“Tadi dia dijemput seorang lelaki,” jawab Jimin, sedikit tak jelas karena mulutnya sibuk mengunyah keripik. “Namanya Seungyoon, kalau tidak salah.”

Yoongi nyaris tersedak mendengarnya. Tanpa sadar, ia pun mengulurkan tangan untuk menutup laptop di pangkuan Jimin hingga menghasilkan bunyi ‘tak’ keras. Sukses membuat lelaki yang lebih muda itu menoleh, atensinya terfokus pada ekspresi Yoongi yang terlihat menahan amarah.

“A-apa?”

“Kenapa Minha pergi dengan Seungyoon?”

“Mereka ‘kan, satu kelompok,” jawab Jimin langsung, seakan hal ini sudah jelas. “Ada Ellie juga, kok. Memang kenapa?”

Memang kenapa?! Apa Jimin tidak tahu betapa gelisahnya Yoongi saat ini?!!

Ingin rasanya Yoongi berteriak seperti itu, namun otaknya memaksa kedua belah bibir itu tetap bungkam selagi maniknya melempar sorot tajam. Bagian rasional dari dirinya mengingatkan bahwa marah itu sama sekali tak ada gunanya, menimbang—seperti kata Jimin tadi—Minha tidak berdua saja dengan Seungyoon. Namun, ia juga tak mampu mencegah dirinya untuk berpikir bahwa di luar sana, sang gadis mungkin sedang asyik menghabiskan waktunya dengan berdiskusi, bertukar tawa, bahkan melewatkan jam makan siang bersama dengan seorang lelaki lain.

Membayangkannya saja sudah membuat Yoongi merasa kesal setengah mati. Jadi, Minha memilih untuk menghindarinya selama hampir dua minggu dan malah pergi dengan Seungyoon, begitu? Lantas, ia ini apa? Teman bermainnya?

Hyung?”

“Hm.”

“Kau sedang ada masalah dengan adikku?”

Pertanyaan penuh selidik dari Jimin itu sukses membuat keningnya berkerut. Seingat Yoongi, mereka baik-baik saja. Mereka tidak sedang bertengkar, pun berselisih pendapat pada kali terakhir mereka bertemu. Sama sekali tak ada yang salah; jadi, masalah macam apa yang sedang Jimin bicarakan ini?

“Tidak.”

“Kauyakin?”

“Memangnya kaupikir aku sudah membuat masalah?!” Yoongi menaikkan nada suaranya lagi, tidak terima karena dituduh macam-macam. “Aku tidak melakukan apa-apa—“

“Mungkin, Minha lelah dengan sikapmu yang kelewat cuek,” potong Jimin, jelas-jelas menyindir Yoongi. “Terkadang, ketika adikku sudah susah-susah meluangkan waktu, kau malah tidak memedulikannya, ‘kan?”

Alih-alih mendebat, Yoongi hanya bisa diam dan membenarkan tuduhan itu. Kendati ia amat ingin meluapkan kekesalannya pada Jimin dan mengomeli kakak Minha itu, ia tahu benar bahwa kata-kata Jimin tadi tak sepenuhnya salah. Kalau begitu, inikah penyebab mengapa Minha tak mau menemuinya? Apa gadis itu diam-diam marah? Apa ia merasa diabaikan dan sudah bosan dengan sikap Yoongi yang seperti ini?

Itu… bisa saja terjadi, ‘kan?

Yoongi lekas menggeleng-gelengkan kepalanya, menolak berpikir macam-macam. Namun, tatkala tatap matanya bertemu dengan sorot menuduh Jimin, suasana hatinya pun seketika kembali memburuk. Merasa sebal dengan dirinya sendiri, Yoongi pun memilih untuk mendesiskan umpatan seraya buru-buru bangkit berdiri dari sofa.

 “Aku pulang dulu, Jimin-a.”

.

.

-o-

.

.

“Kalian yakin ini tidak kelewatan?”

Minha menghela napas panjang, menatap tiga orang lelaki di hadapannya seraya mengerucutkan bibir. Ia sendiri tak tahu mengapa dirinya sampai bisa terlibat dalam permainan macam ini, pun mengapa ia mau dengan mudahnya setuju pada usul Jimin, Namjoon, dan Hoseok.

“Asyik juga melihat Yoongi Hyung begitu, meskipun telingaku harus jadi korbannya,” komentar Namjoon santai, dengan penuh semangat menceritakan insiden yang dialaminya di studio beberapa hari lalu. “Kautahu, ia benar-benar rindu padamu, Minha-ya.

“Tapi—“

“Dan kamu harus tahu betapa kesalnya ekspresi Yoongi Hyung saat datang ke rumah tadi,” kekeh Jimin sambil merangkul Minha mendekat. “Ia jelas-jelas cemburu saat aku berkata bahwa kamu sedang pergi dengan Seungyoon.”

“Kami hanya mengerjakan tugas, Kak!”

“Tetap saja, intinya pacarmu itu cemburu. Titik.”

Sang gadis hanya bisa menggelengkan kepala, memikirkan bagaimana kiranya keadaan Yoongi saat ini. Ia tahu kalau lelaki itu pasti marah—terlebih jika ia tahu bahwa ini semua hanyalah akal-akalan Jimin, Hoseok, dan Namjoon. Namun, di sisi lain, Minha juga mulai mengkhawatirkan Yoongi. Ia tahu persis bagaimana perangai lelaki itu jika pikirannya sedang dipenuhi oleh sesuatu yang tidak menyenangkan. Besar kemungkinan, Yoongi akan mengurung dirinya di dalam studio untuk mengalihkan perhatian dan—

“Bagaimana kalau dia sakit?”

Eiii, jangan berlebihan, Minha-ya.” Kali ini Hoseok yang menanggapi, melempar kekeh tawa meremehkan. “Paling-paling, ia hanya akan membuat beberapa track penuh makian.”

Minha sontak melempar pandang horor ke arah kawan baik Yoongi itu.

“Selain itu, bukankah kamu sudah setuju dengan rencana ini? Anggap saja pelajaran untuknya karena terlalu sering bersikap cuek. Siapa suruh ia tidak pernah peduli dengan adikku yang manis ini?” imbuh Jimin dengan semangat berapi-api, memaksa Minha untuk memutar bola matanya sebagai tanggapan.

Memang benar kalau pada awalnya ia setuju pada permainan konyol ini lantaran ia merasa penasaran dengan perasaan Yoongi terhadapnya. Bukan, bukannya Minha membenci sikap cuek Yoongi atau apa. Tapi, seperti kata ketiga lelaki di hadapannya ini, Minha juga ingin tahu bagaimana kiranya reaksi Yoongi jika ia menghilang tanpa kabar. Dan menilik dari cerita Hoseok, Namjoon, serta Jimin tadi, Minha kini tahu kalau Yoongi merindukannya.

Itu sudah cukup.

Cukup untuk membuatnya merasa bersalah, sekaligus ingin lekas-lekas membongkar semua kebohongan yang ada di hadapan Yoongi. Walau pada mulanya ia tidak berkeberatan, namun lama-kelamaan ia merasa bahwa tindakan mereka ini sudah keterlaluan. Ditambah lagi, Minha sendiri sudah mulai merindukan presensi lelaki itu di dalam hidupnya.

“Aku akan menemui Yoongi besok.”

“Tapi, Minha-ya….”

“Tidak ada tapi!” balas Minha galak, enggan bersikap patuh dan menuruti saran gila dari ketiga lelaki pembuat onar ini. “Aku sudah tidak membalas pesannya selama berhari-hari, dan ia pun tidak pernah menuntutku untuk membalas atau marah-marah padaku. Itu saja sudah cukup untuk membuatku merasa tidak enak hati, tahu!”

“Kau terlalu baik,” timpal Namjoon seraya mendesah, menampakkan ekspresi kalah. “Tidak seru, ah.”

“Seru apanya?” Minha menjungkitkan kedua alis, bingung. Ia mulai mencium sesuatu yang tidak beres di sini. Terlebih, Hoseok spontan menyikut rusuk Namjoon seakan memperingatkan lelaki itu untuk segera diam. Merasa perlu menyelidiki lebih lanjut, Minha pun kembali membuka mulutnya dan berkata, “Bukankah kalian bilang, kalian hanya ingin membuat Yoongi mengakui rasa rindunya padaku sehingga ia menjadi lebih peduli?”

Menelan ludah, Hoseok dan Namjoon pun spontan saling melempar pandang penuh arti sementara Jimin beringsut mendekati Minha. Suasana mendadak tegang, selagi Minha menyipitkan matanya dan menatap ketiga orang itu bergantian dengan penuh rasa ingin tahu.

“Apa ada yang tidak aku ketahui?”

“E-eh….”

“Apa aku perlu menelepon Ellie dan Jinhee sekarang untuk mengorek kebenaran itu dari kalian?”

Mendengar nama gadis mereka disebut-sebut, Namjoon dan Hoseok pun hanya bisa diam mematung. Tak berani membuka mulut, kontras dengan Jimin yang kini tengah menepuk pundak Minha pelan dan melempar tatap mata penuh persengkongkolan.

Well?”

“Kata Hoseok Hyung dan Namjoon Hyung, kalian selalu terlihat baik-baik saja meskipun Yoongi Hyung itu cuek setengah mati dan kamu sendiri sering bersikap galak padanya. Makanya, mereka penasaran, apa jadinya kalau kalian—eum, kamu tahu—“

“Jadi kalian pikir, kami ini semacam permainan?” Minha memotong penjelasan kakaknya sembari menahan emosi, membuat Namjoon dan Hoseok makin tak berkutik. Terlebih, gadis itu langsung meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja dan menggerakkan jemarinya untuk mengetik sebuah pesan singkat.

“Minha-ya… kami ‘kan, hanya bermaksud bersenang-senang sedikit….”

“…lagi pula, sedikit gangguan dalam hubungan kalian itu bukan suatu masalah besar, ‘kan?”

Minha melempar sorot datar, lantas mengulurkan ponselnya ke arah Namjoon dan Hoseok tanpa banyak kata. Di layarnya, terpampang sederet kata yang baru saja ia kirimkan ke Ellie dan Jinhee, sebuah kalimat yang sukses membuat dua lelaki itu panik dan bergegas mencari ponsel untuk menelepon kekasih masing-masing.

“Kau sudah gila? Kenapa kau memberitahu Ellie dan Jinhee kalau kami sedang membaca majalah rated?!”

“Ini dusta, Minha-ya! Bagaimana kalau kedua gadis itu langsung menguburku dan Hoseok hidup-hidup?” seru Namjoon, merasa makin tak berdaya kala suara operator terdengar dan menyatakan bahwa pulsa Namjoon tidak cukup untuk melakukan panggilan. “Damn! Aku pinjam telepon rumahmu, ya, Jimin!!”

Jimin hanya bisa mengangguk, menahan tawa melihat nasib sial kedua lelaki itu. Ia pikir, keputusannya untuk membocorkan semua rencana mereka pada Minha tadi adalah hal yang benar. Namun, belum sempat ia merayakan kemenangan itu, deham keras Minha sudah lebih dahulu terdengar dan membuatnya menoleh takut-takut.

“E-eh… Minha-ya… Kakak ‘kan, cuma bercan—“

.

.

“JANGAN HARAP AKU MAU MEMBANTUMU MENYELESAIKAN TUGAS KULIAH, PARK JIMIN!!”

.

-o-

.

“Yoongi-ya?”

Kala Minha melangkah masuk ke dalam studio di hari berikutnya, ia mendapati bahwa Yoongi sedang terlelap di atas salah satu sofa panjang yang ada. Lelaki itu terlihat lelah, lingkaran hitam di bawah matanya makin kentara dan pipinya pun terlihat sedikit lebih tirus. Suatu pemandangan yang seketika membuat Minha makin merasa bersalah, selagi ia melangkah mendekat dan menyusupkan jemari di sela-sela rambut Yoongi.

“Tahu begini, aku tidak akan setuju pada ide teman-temanmu itu.”

Minha berbisik lamat-lamat sambil mengelus kepala Yoongi, tak bermaksud membangunkan lelaki itu. Namun, agaknya gerakan itu cukup untuk membuat sang lelaki menyadari kehadirannya. Perlahan, Yoongi pun mengerjapkan kedua kelopaknya sebelum membiarkan sepasang mata itu benar-benar terbuka lebar. Iris hitamnya langsung bertemu pandang dengan milik Minha, sementara bibirnya terbuka tanpa kata lantaran terkejut.

“Hai.”

Eum—hai.” Yoongi menggaruk belakang lehernya, merasa bahwa acara saling sapa ini teramat canggung. “Sedang apa di sini?”

Serupa dengan Yoongi, Minha pun tampaknya tak tahu harus memulai percakapan ini dari mana. Di satu sisi, ia sangat ingin meminta maaf dan menjelaskan semuanya pada Yoongi. Namun, di sisi lain, ia juga perlu tahu apakah Yoongi marah padanya atau tidak.

“Yoongi-ya?

“Hm?” Yoongi menoleh, kini telah memosisikan dirinya untuk duduk di atas sofa seraya tangannya menepuk-nepuk ruang kosong di sebelahnya agar Minha bisa ikut duduk. “Ada yang ingin kamu katakan?”

Menilik dari nada bicaranya saja, Minha bisa menebak bahwa Yoongi pasti menyimpan berjuta tanya dan rasa kesal di dalam sana. Lelaki itu jelas sedang menahan diri, ditambah lagi ia baru saja bangun tidur beberapa menit yang lalu. Tapi, Minha tak ingin memperpanjang perkara atau menunggu-nunggu lagi. Maka, kendati sesungguhnya ia merasa sedikit takut, ia pun memutuskan untuk balik bertanya, “Kamu marah padaku?”

“Kalau dibilang tidak marah, sama saja artinya aku berbohong.”

Minha menelan ludah, gugup. Ia tahu persis kalau Yoongi itu bukan tipe orang yang suka menahan-nahan perkataan dan lebih memilih untuk bersikap jujur. Tetapi, melihat lelaki itu memandangi dirinya tanpa berkedip barang sedikit pun cukup untuk membuat Minha duduk mematung di tempat. Tak tahu harus menanggapi dengan cara apa, selain membiarkan Yoongi meluapkan semua kekesalannya yang menumpuk selama dua minggu belakangan.

“Lain kali, jangan lakukan itu lagi,” lanjut Yoongi, tangannya bergerak meraih ponsel yang tersimpan di saku celananya. “Namjoon dan Hoseok tadi sudah menjelaskan semuanya, jadi kamu tak perlu repot-repot mengulanginya.”

“Tapi…” Minha menggigit bibirnya, merasa bahwa penjelasan dari Namjoon dan Hoseok saja belumlah cukup. “Aku benar-benar minta maaf Yoongi-ya. Dan soal Seungyoon, kami hanya kebetulan sekelompok dan—“

“Tidak usah dibahas,” pungkas Yoongi datar, spontan membuat Minha kembali menutup mulut. Keduanya lantas kembali tenggelam dalam keheningan, sampai akhirnya Yoongi pun sadar bahwa gadis di sampingnya itu sudah nyaris menangis. Ada bulir-bulir air yang menggumpal di pelupuk matanya, menanti untuk jatuh jikalau saja Yoongi tidak buru-buru mengulurkan jemari untuk mengusapnya.

Seberapa pun sebalnya Yoongi pada kejadian yang baru saja ia alami, ia tetap tidak bisa membiarkan dirinya bersikap abai pada kehadiran gadisnya. Ia tahu kalau Minha menyesal, dan itu sudah cukup. Bukankah ia sendiri juga sebenarnya memiliki andil dalam perkara ini? Andaikan saja ia tidak bersikap terlalu cuek, mungkin Hoseok dan Namjoon juga tidak akan memutuskan untuk mengerjainya. Toh—mengutip kalimat penutup Namjoon di pesan singkat yang diterimanya tadi—ini hanyalah sebuah gangguan kecil di dalam hubungan mereka. Jadi, tidak seharusnya mereka masih membahas dan membesar-besarkan masalah ini, bukan?

“Minha-ya, kenapa kamu menangis?”

“H-habisnya….” Minha menepis tangan Yoongi, lalu mengusap air matanya sendiri dan berujar, “Aku merasa kesal dengan diriku sendiri. Untuk apa sih, aku melakukan hal bodoh seperti itu? Padahal selama ini aku nyaman-nyaman saja dengan sikapmu itu. Kalau saja kamu seperti lelaki lain yang suka membanjiri ponsel gadisnya dengan pesan-pesan tidak penting, mungkin aku malah akan membencimu. Tapi, kamu tidak begitu, ‘kan, Yoongi? Dan aku malah—“

.

.

“Aku merindukanmu.”

.

.

Pengakuan Yoongi tersebut spontan membuat Minha berhenti berkata-kata. Terpana, ia pun hanya bisa menutup mulutnya sembari mengamati ekspresi Yoongi yang terlihat sedikit malu. Lelaki itu lantas buru-buru bangkit berdiri, memosisikan dirinya agar ia tak perlu bertukar pandang dengan Minha.

“Kamu… apa?”

“Uh—“ Yoongi berdeham-deham tak perlu, masih membiarkan dirinya memunggungi Minha. “—haruskah aku mengulanginya lagi?”

Well, aku akan senang jika kamu mau mengucapkannya lagi.”

Yoongi menimbang-nimbang permintaan itu selama beberapa sekon lamanya, sebelum akhirnya memutuskan untuk memutar tubuhnya menghadap Minha dan berkemam dengan suara lirih, “Iya, aku merindukanmu, Minha-ya. Puas?”

Jawaban itu datang dalam sebentuk kehangatan, lantaran Minha baru saja melompat untuk memeluknya seraya melonjak-lonjak seperti anak kecil. Mau tak mau, Yoongi pun ikut tersenyum dan mengulurkan kedua lengan untuk balas mendekap gadisnya. Membiarkan Minha menyandarkan kepala di atas dadanya barang sejenak, selagi telinganya menangkap suara gadis itu.

“Kamu terlihat berantakan, Yoongi-ya.

“Hm.”

“Ini salahku, ya?”

“Bukan, kok.” Yoongi menarik badannya menjauh, tangannya bergerak untuk menepuk-nepuk kepala Minha. “Aku mendapat beberapa proyek membuat lagu tambahan, tugas kuliahku pun mulai menumpuk lagi. Ini tidak ada hubungannya denganmu, tenang saja.”

Namun, Minha mengerucutkan bibirnya kala ia mendengar alasan itu. Seolah tak percaya, ia pun lekas menarik tangan Yoongi yang masih berada di atas puncak kepalanya dan menyusupkan jari-jarinya di atas jemari sang lelaki.

“Kapan terakhir kamu makan?”

“Tidak ingat.”

“Tuh, ‘kan,” Minha menghela napas, pipinya digembungkan tanda tak suka. “Kamu ini selalu saja—“

“Baiklah, baiklah. Ayo kita cari makan.” Yoongi buru-buru memotong sebelum Minha mengomel lebih jauh, dengan sigap merangkul gadisnya itu dan menyeretnya keluar. “Atau kamu mau memasak untukku, sebagai tanda permintaan maaf?”

“Tadi katanya aku tidak perlu meminta maaf lagi?”

“Kalau begitu… kita sebut ini kencan? Sudah lama ‘kan, kita tidak menghabiskan waktu berdua?” Yoongi mengedipkan sebelah mata, sementara Minha berlagak mual mendengarnya.

“Jangan merayuku, Yoongi-ya.

“Aku tidak merayumu, kok.”

“Lalu apa?” Minha mengangkat alisnya, bermaksud menggoda. “Kamu kerasukan setan mana sampai mendadak manis begini? Atau jangan-jangan… kamu hanya bersikap seperti ini karena kita baru saja berteng—“

Celotehan Minha tersebut terhenti di tengah jalan, lantaran Yoongi tiba-tiba saja mencondongkan tubuh dan mendaratkan satu kecupan di dahinya. Hanya sekilas memang, namun cukup untuk membuat Minha mendadak menghentikan langkah di tengah jalan sambil mengerjap-ngerjapkan matanya karena tidak percaya.

“K-kamu… barusan….”

“Kamu terlalu banyak omong, Minha-ya. Yuk, pulang. Tidak dengar perutku sudah berbunyi?”

Minha menggeleng-gelengkan kepalanya, masih terbengong-bengong akibat kejutan singkat itu. Yoongi amat jarang melakukan hal semacam ini padanya; dan mengingat fakta bahwa lelaki itu tiba-tiba sedikit berubah setelah mereka saling mendiamkan selama dua minggu lamanya….

“Yoongi-ya?”

“Apa lagi?”

“Apa mungkin… aku harus sering-sering membuatmu merasa rindu dan cemburu?”

.

.

.

.

.

Ya!! Park Minha!”

fin.

 Yoongi-ya, happy birthdaaaaay!! (/^-^)/

Walau belakangan baper Leo terus, tapi untung masih inget ya buatin kamu birthday fic ((lho)) Sekalian ini bagian dari rapper-seriesnya Bangtan, akhirnya bisa kelar semua juga 😀

Thanks for reading and do leave some review! ^^

Advertisements

3 thoughts on “[Oneshot] A Little Spark Won’t Hurt

  1. Yo yo yo ayem bek XD
    Oke jadi ini syuga edisi galau karna kangen minha ya? Ecieeee syuga bisa panik juga. Hihihihihi 😛

    Pas baca bagian hoseok nyari hape trus ternyata ada di kantongnya sendiri ini udah mikir ko kayanya dia sengaja ya. Soalnya kayanya (lagi) hoseok ha sepelupa jinwoo. Dan lagi pake rangkul-rangkulan ama jinhee gitu. Hadeeeehhh kura2 juga pasti iri ya liat mereka mesra gitu *pfft*

    Trus ini mbahjun udah kaya peramal banget dah ampe tau seluk-beluknya syuga gitu. Hiiiiiii patut diwaspadai, ilmu dia semakin bertambah /.\ atau emang syuga keliatan ya kalo lagi galau gitu? *lah emang biasanya dia invisible turtle?*

    Ini yg sama jimin lagi di rumahnya kan ya? Cie jimin pasti nonton kmhm tuh. Trus nanti nangis juga kaya minha XD kenapa ga nangis di pelukan syuga aja? *eh*
    Pas nama ksy disebut………………………hah udah menanti perang dunia kesekian nih. Ya sapa tau syuga ama ksy mau tanding kan gitu XD Tanding catur misalnya? *kenapa harus catur?!*

    Syuga kalo lagi disindir2 gitu serem ya. Atau kalo lagi galau aja? Minha-ssi, jangan ditinggal lagi dong syuganya. Kura2 marah serem tuh. Nanti anak orang nangis. Hahahahahaha XD

    Yap! Dan ternyata itu semua akal2an tiga pria itu ya? Pantesan yg bagian jhope bikin curiga, tapi yg laennya gak ko 😀
    Wah wah wah ternyata yg spoiler jhope mbahjun gelgapan itu buat fic ini? Aku kira mau ada edisi pembulian mereka sendiri. Hahahahaha mang enak dilaporin ke pacarnya. Ellie pasti shock tuh dapet kabar itu XD Kayanya jimin ga dibuli itu ga afdol ya, dan bener aja akhirnya dia kena semprot minha juga 😛

    Scene-nya yunha ini……………………………ROMENS FLUFFY ABIS DAH 😥 *ko nangis?*
    Segala peluk-peluk gitu kan, trus pukpuk, trus kecup-kecup…………………DAN SYUGANYA NGEGOMBAL HAHAHAHAHA XD Kalo dia punya cangkang, mungkin abis gombal itu dia bakal masuk cangkang ya *pfft* trus diketok-ketok minha atau minhanya nemplok di atasnya 😀
    Eh iya kirain pas terakhir itu syuga mau cium bibir loh abis kata2 dia selanjutnga kan bilang kamu terlalu banyak bicara. Tapi inget kalo yunha kan ga ada cium2 bibir ya jadi yasudahlah kecup kening pun udah bikin minha klepek-klepek XD

    Oke oke kayanya ngerusuhnya dicukupkan saja. Dan ini kayanya udah panjang banget. Daripada makin ngelantur gaje mending aku pamit. See ya minha dan syuga ^^

    Oh! HAPPY BIRTHDAY SLEEPY-SYUB ^^ TERUS BAWA VIRUS MAGER KE SELURUH DUNIA YA HAHAHAHAHA XD

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s