[Vignette] Of Homecoming and Surprising Party

Standard

1402836055796

 

a movie by tsukiyamarisa

of Homecoming and Surprising Party

starring [BTS] Suga (Min Yoongi) and [OC] Park Minha subcast [BTS] J-Hope (Jung Hoseok) and OC duration Vignette (1500+ wc) genre Fluff, Historical rating G

disclaimer I don’t know if I can called this one as prompter-fic or not. But, thanks to Arsya aka Sunflowershark who gave me the idea and said that I MUST write this story. Oh, and thanks to Merah Putih trilogy too, for the fluffy dialogue that I put as my first sentence in this fic.

.

Anyway, enjoy the story! ^ ^

.

.

“Pada masa seperti ini, wanita mana sih yang tidak tertarik pada lelaki berseragam?”

Minha mengulum senyum, menahan dirinya untuk tidak mengomentari atau menimpali perkataan segerombolan perempuan yang tengah berkasak-kusuk di dermaga. Cuaca hari itu cerah, dengan sinar mentari yang membuat air laut terlihat berkilauan dan burung camar yang beterbangan rendah di sana-sini. Aroma garam merebak masuk ke dalam hidungnya, dan di tengah seluruh gumam keceriaan yang terdengar, Minha mendapati jemarinya sibuk memainkan ujung pakaian terusannya dengan sedikit gugup dan berdebar-debar.

Sudah berapa lama sejak kali terakhir mereka bersua?

Ia tak terlalu ingat, karena perang agaknya telah mengacaukan orientasinya pada pergantian tanggal dan perpindahan bulan. Keselamatan selalu menjadi hal yang utama, pun dengan rasa rindu yang membalut erat dan tak pernah lekang dari hari-harinya. Jadi, wajar saja bukan jika ia tak pernah memikirkan hal-hal kecil semacam itu?

Ia dan orang-orang di sekitarnya hanya tahu, ini sudah tahun 1945. Udara yang panas dan sedikit kerontang menandakan bahwa ini adalah musim panas—tepatnya sekitar pertengahan bulan Agustus. Semua media sibuk menyerukan kabar bahwa Jepang baru saja mengumumkan penyerahan tanpa syarat mereka kepada Sekutu, selagi para pemimpin negara ini sibuk mengurus persiapan kemerdekaan dan memulangkan para pejuang yang berada di luar negeri.

Yang—itu artinya—lelaki itu juga akan segera pulang.

Sekali lagi, gadis itu mendapati senyumnya terkembang, sementara tungkainya bergerak lincah menembus kerumunan orang. Pelabuhan hari itu disesaki oleh mereka yang bernasib sama sepertinya—mereka yang setia menanti kepulangan orang terkasih selama bertahun-tahun, yang menunggu dalam rundungan kecemasan dan ketidakpastian. Namun, kegelisahan itu akhirnya bisa berhenti merecoki mereka sekarang. Bunyi peluit kapal dan suara kecipak air kala jangkar dijatuhkan terdengar bagai irama musik yang indah di telinga, menghantarkan kebahagiaan yang mampu menyingkap selimut kemuraman. Beberapa orang bersorak-sorai menyambut, dan Minha bisa merasakan tangan seseorang menepuk bahunya di tengah keramaian itu.

“Aku tak percaya hari ini akhirnya tiba!”

Kim Jinhee—sang gadis yang tadi berteriak keras—menggelayuti pundak Minha sembari melambaikan tangan ke arah kapal perang yang baru saja menepi. Ia adalah kawan baik Minha selama masa-masa penantian ini, mengingat fakta bahwa kekasihnya juga tergabung dalam Angkatan Laut dan bahkan berada di dalam pasukan yang sama dengan kekasih Minha.

Yah, sekarang kaubisa menagih janji-janji manis Hoseok dulu, bukan? Aku tahu kau akan melakukan itu, Jinhee-ya.

Jinhee sontak mencubit pipi kawannya itu dengan gemas, pura-pura memasang ekspresi cemberut kendati rona di pipinya berkata lain. Mereka kini berjalan mendekati kapal, teramat dekat dengan susuran tangga yang sudah diturunkan. Beberapa tentara mulai melangkah turun, menghambur ke arah keluarga masing-masing diiringi dengan derai air mata haru, pelukan, serta tawa.

“Kalau begitu, bagaimana denganmu?”

Di tengah suasana itu, Jinhee kembali bertanya seraya mengedarkan pandang ke arah dek kapal—mencari figur kekasihnya. Mereka menunggu selama beberapa jenak, menanti hingga sebagian besar pasukan telah turun dari kapal. Hiruk-pikuk suasana yang ada tampaknya telah melipatgandakan diri, dan di tengah semua euforia yang menggantung di udara, Minha merasakan lengan Jinhee menariknya menuju ke arah tangga kapal.

“Bagaimana apanya?” Minha bergumam tak mengerti, menyadari bahwa ujung sepatunya sudah menginjak anak tangga terbawah. “Hei, kaumau naik ke kapal?”

“Katamu aku boleh menagih janji-janji Hoseok, bukan? Aku ingat dia pernah berjanji untuk mengajakku naik ke atas kapal, jadi ayo!”

Membiarkan bola matanya berputar, mau tak mau Minha pun mengikuti langkah kaki Jinhee yang sedang bergegas menaiki tangga. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menginjakkan kaki di geladak utama, mendapati beberapa awak kapal yang berada di posisi tinggi masih sedikit bertukar cakap di sana-sini. Hoseok yang berpangkat second officer adalah salah satu di antaranya, dan hal itu membuat Minha yakin bahwa kekasihnya yang menduduki jabatan chief officer—setingkat lebih tinggi—pasti juga ada di sekitar sini.

Dan ia benar.

Tanpa perlu susah-susah mencari.

Gadis itu baru saja mengerjapkan mata dan hendak memanggil Jinhee, tatkala sesosok lelaki berjalan keluar dari anjungan kapal dan langsung melangkah ke arahnya. Jas seragam biru tuanya masihlah terpasang rapi kendati tidak dikancingkan, kontras dengan kemeja putihnya yang kusut di beberapa tempat. Rambut hitamnya tak lagi sependek saat mereka berpisah dulu, namun masih sama menawannya jika dipadukan dengan topi putih khas pelaut itu. Ia terlihat memesona, dan mau tak mau Minha pun jadi teringat pada perkataan gadis-gadis muda yang tadi ditemuinya di dermaga. Tanpa sadar, ujung-ujung bibirnya pun berjingkat naik ketika jarak di antara mereka tak lagi seluas samudra atau sedataran benua, melainkan sudah berganti menjadi sejangkauan lengan saja.

“Yoongi-ya….

“Aku mendengar suara Hoseok menyebut-nyebut nama Jinhee, jadi kupikir kamu juga pasti ada di sini.” Yoongi berujar santai seraya mengulurkan lengan, menarik sang gadis ke dalam dekapannya seakan itu hal paling wajar yang pernah ada kendati ia sudah tidak melakukannya selama bertahun-tahun. “Ternyata aku benar.”

“Kamu tidak merindukanku?” Minha berbisik lirih, membiarkan Yoongi membuai dirinya dalam pelukan. Secara refleks, ia menyandarkan kepalanya tepat di atas dada lelaki itu—kebiasaan favoritnya semenjak dahulu. Kedua lengannya balas memeluk, selagi telinganya sibuk mendengarkan irama detak jantung dan ritme napas teratur milik Yoongi. Tanpa sadar, bulir-bulir bening pun merebak begitu saja, jatuh menuruni lengkung pipinya karena—

“Hei, ada apa?”

—ia pulang. Lelaki yang amat dirindukannya ini telah kembali dengan selamat, dan rasa-rasanya, Minha tak sanggup menahan air mata penuh rasa syukurnya untuk tidak meluncur turun.

“Jangan menangis,” ucap Yoongi dengan nada datar—dia selalu seperti itu—dan Minha sedikit terkikik kala menyadari bahwa kebiasaan itu belum juga berubah. Namun, walau demikian, jemarinya yang terbenam di antara helai-helai rambut Minha jelas menghantarkan rasa tenang dan nyaman. Keduanya berdiam dalam posisi itu selama beberapa menit, saling meresapi kehadiran satu sama lain hingga suara teriakan Hoseok memecah suasana.

HYUNG! KAU SUDAH MENGATAKANNYA BELUM? KAMI SUDAH SIAP!”

Makian kesal spontan terlontar dari bibir Yoongi, selagi ia lekas menarik dirinya dan sibuk mencari-cari sesuatu di kantung celana. Minha mengamatinya dengan tatap tak mengerti, terlebih kala pupilnya malah menangkap sosok Hoseok dan Jinhee yang tengah berlari mendekat dengan ekspresi penuh arti. Tidak hanya itu, Minha pun bisa merasakan sorot mata dari anggota kru kapal lainnya yang kini terarah pada mereka, satu hal yang entah kenapa membuat rona merah langsung bersemi di pipinya.

“Di mana aku menyimpannya, di ma—“

“Bukankah kau menyimpannya di saku jasmu setelah kaupamerkan padaku selama seharian penuh?” Hoseok menyela, yang langsung dihadiahi oleh pandangan tajam membunuh dari Yoongi. Sambil mendorong kawannya itu menjauh, Yoongi pun kini meraih benda-entah-apa-itu keluar dari saku jasnya dan berbalik menghadapi Minha—yang masih terpana melihat situasi ini, tentu saja.

Eum, baiklah, maaf atas yang barusan. Hoseok benar-benar bukan perencana pesta yang baik dan—“ Yoongi menarik napas dalam-dalam, merapikan topi putih di atas kepalanya dan meluruskan jas yang ia kenakan dengan gugup. Sebelah tangannya terulur untuk menggapai jemari Minha, lantas memosisikan jari manis gadisnya itu tepat di hadapan sebuah benda mungil yang berkilau keperakan.

“Yoongi-ya… kamu….”

“Kamu tahu aku tak pandai berkata-kata, jadi kurasa kamu sudah bisa menebak maksudku?”

Minha menelengkan kepalanya sedikit, membiarkan cincin itu melingkar di jarinya dengan teramat pas. Sesuatu yang basah kini telah memenuhi kelopak matanya lagi, dan ia harus mati-matian menahan cairan itu agar tidak meluncur bebas seraya bertanya, “Kamu melamarku?”

“Ya. Dan—“ Yoongi melambaikan tangannya ke sepanjang geladak utama, menunjukkan beberapa kru kapal yang kini bertepuk tangan meriah, Hoseok yang sedang memilah-milah piringan hitam dan menyetelnya menggunakan gramofon, serta Jinhee yang berucap ‘aku-iri-padamu’ tanpa suara.

“Dan?”

“Menikahlah denganku.”

“Ten—“

“Sekarang.”

Jantung Minha nyaris saja melompat keluar dari rongganya kala ia kembali ditarik mendekat, lengkap dengan satu kecupan lembut yang ditanamkan pada dahinya. Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali, mendengar orang-orang di sekitar mereka meneriakkan kata ‘selamat’ diiringi musik bernada ceria yang diputar. Kedua irisnya bersirobok dengan milik Yoongi, penuh rasa tak percaya sementara lelaki itu malah tersenyum lebar bukan kepalang.

“Sekarang? Saat ini juga?”

“Kamu tidak keberatan bukan?”

Minha tak menjawab, lantaran ia tahu benar bahwa pertanyaan itu memang tak butuh jawaban. Ini hanya mengejutkannya, itu saja. Ia datang ke dermaga hari ini dengan tujuan untuk menyambut kepulangan kekasihnya; dan kini ia mendapatkan sesuatu yang tak pernah ia sangka, yang tak pernah berani ia harapkan di masa-masa genting seperti ini.

Ia tak bisa lebih bahagia lagi.

“Yoongi-ya?”

“Hm?”

Minha mendongak sedikit, masih membiarkan tangan Yoongi yang merengkuh pinggangnya menuntun mereka bergerak sesuai irama lagu. Pesta ini memang mendadak, bahkan cenderung terkesan tidak formal, namun Minha tak bisa meminta lebih. Ini sudah lebih dari cukup baginya, lebih daripada yang ia layak dapatkan di tengah situasi pascaperang seperti ini.

“Kenapa terburu-buru sekali?”

“Memang kenapa?”

“Maksudku, Perang Dunia baru saja berakhir dan….”

“Aku tak ingin membuang-buang waktu, itu saja.”

Yoongi menghentikan gerakan dansa mereka, menghela napas pelan, lantas menautkan jemari mereka sembari memandangi lautan. Ditingkahi suara beberapa awak kapal di latar belakang, lelaki itu pun mengangkat tangan gadisnya yang telah dihiasi cincin lalu berujar, “Aku sudah melewatkan terlalu banyak waktu di lautan sana.”

Minha menunggu, membiarkan tatap menerawang Yoongi tertuju ke arah cakrawala sebelum kembali pada dirinya. Keduanya bertukar pandang sejenak, sebelum akhirnya menutup momen itu dengan ciuman yang meninggalkan rasa manis di kedua belah bibir serta sebuah jawaban yang membuat hati Minha diselimuti oleh kehangatan berlebih.

“Dan kamu tahu, aku sudah muak dengan semua itu; dengan semua deru mesin kapal, alat navigasi, dan perintah-perintah yang ada. Sekarang, aku hanya ingin melewatkan setiap detak waktuku bersamamu, menebus apa yang kita telah kita lewatkan di masa lalu. Apa itu tidak boleh?”

.

.

fin.

note:

INI APAAN LAGI ((gelindingan di geladak kapal)) ((minta ditangkep mas Yoongi))

Oke, jadi ini semua bermula dari foto bangtan yang pake baju pelaut, lalu Arsya yang mendadak chat aku di LINE dan bilang: “Mer, dibikin cerita nih, asik kan kayaknya barusan pulang perang, masih pake seragam kece, terus ngajak nikah?”

Jadi… yaudah, jadilah cerita ini atas ide gilanya mba Arsya, mana kebetulan lagi rewatch trilogi merah putih (sebenernya buat belajar thriller pas movest tapi malah salah fokus) terus pick-up line-nya…. ugh! Tentara jaman dulu jago juga nggombalnya, guys -_-

Anyway, if you already read this one, mind to leave some review? 😉

p.s. Here you are, sailor!Yoongi with his sweetest smile O<-<

tumblr_inline_na6yglmR9W1r2zn28

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s