[Ficlet] Stop Acting!

Standard

뿌요

a short movie by tsukiyamarisa

starring [BTS] Park Jimin and [OC] Park Minha genre Family, Fluff duration Ficlet (500+ wc) rating G

.

.

“Berhentilah berpolah sok keren, Kak.”

.

.

“Kamu sedang apa?”

Jimin nyaris saja terlonjak ketika pintu kamarnya terayun membuka dan ciptakan bunyi debaman, lengkap dengan kemunculan sang adik yang sekonyong-konyong sudah bersandar di birai pintu. Gadis itu tengah mengamat-amatinya dengan cermat; melempar pandang menilai yang membuat Jimin merasa jengah karenanya.

“Kamu mencari sesuatu?” Jimin balik bertanya, berusaha mengalihkan atensi Minha pada hal lain. Sedikit memalukan memang, tetapi Jimin yakin benar bahwa kembarannya itu sempat menangkap basah dirinya yang sedang berpose di depan cermin tadi. Hal itu tampak jelas dari senyum usil yang terulas di wajah Minha, lengkap dengan kekeh tawanya kala ia melangkah mendekati Jimin.

“Tidak usah berpolah sok keren, Kak,” ucap Minha sembari menelengkan kepala untuk mengamati sang kakak, kentara sekali ia sedang menahan diri agar tidak menertawakan Jimin lebih jauh. “Tidak akan membantumu untuk mendapat pasangan prom juga, kok.”

Jimin memandang Minha dengan mata disipitkan, tersinggung. Seraya meluruskan pakaian dan mengacak-acak rambutnya dengan sikap sok, ia pun membalas, “Aku berniat mencari pasangan saat sudah di prom nanti, oke? Penampilanku sudah sekeren ini, gadis mana sih yang tidak mau?”

“Jangan kelewat percaya diri,” dengus Minha sambil menarik dasi yang melingkar di leher Jimin dan mulai merapikan simpulnya. “Pakai dasi saja tidak benar, kamu berharap ada gadis yang mau denganmu?”

“Kamu meragukanku?”

“Aku berniat membantumu agar terhindar dari rasa malu.”

“Maksudmu?”

“Yoongi tidak akan datang ke prom, omong-omong,” balas Minha sambil lalu, mengedikkan bahunya seakan itu bukan masalah besar. “Kakinya terkilir saat main basket tadi, jadi ia tidak bisa datang bersamaku.”

Jimin menjungkitkan sebelah alisnya, selama sejenak terlihat kebingungan. “Lantas, apa hubungannya dengan—“

Minha masih berdiri di hadapannya, bergeming dengan sorot mata dan ekspresi datar. Gaun selututnya yang berwarna biru tua sudah melekat sempurna, pun dengan make-up tipis yang menghiasi tiap lekuk wajahnya serta rambut sebahunya yang dibiarkan digerai. Ia—walau Jimin tentu saja enggan mengakuinya keras-keras—memang terlihat memesona dan….

….dan apa katanya tadi?

Yoongi tidak akan datang?

Jadi, Minha tidak punya pasangan untuk prom nanti, begitu maksudnya?

Well…” Minha kembali membuka mulutnya selagi Jimin masih sibuk memutar otak, dengan santai menepuk-nepuk pundak kakaknya dan bergumam, “atau aku harus mencari pasangan lain saja? Mungkin masih ada teman sekelas kita yang belum punya pasangan sepertimu dan—“

“TIDAK BOLEH!”

Jimin tanpa sadar berteriak, dengan tegas menggamit lengan adiknya itu sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia tidak bisa membayangkan itu; memikirkan Minha berduaan dengan lelaki lain, berdansa bersama, dan bahkan mungkin juga berpelukan di tengah acara prom nanti. Ia tidak bisa. Mengizinkan adiknya berkencan dengan Yoongi saja ia masih setengah tidak rela; terlepas dari fakta bahwa ia amat menghormati seniornya yang satu itu. Jadi, mana mungkin ia membiarkan Minha bersama dengan salah satu teman sekelasnya yang terkenal hobi membuat kerusuhan itu? Tentu saja Jimin tidak akan mengizinkannya.

“Jadi… Kakak mau berhenti bersikap sok keren?”

Masih tenggelam dalam rasa kesalnya sendiri, Jimin pun lekas menoleh dan memasang tampang tidak mengerti. “Apa?”

“Berhentilah berpolah sok keren seperti tadi. Kalau kamu melakukannya untuk menarik gadis-gadis dan meninggalkanku sendiri, maka aku akan—“

“Tidak akan.” Jimin buru-buru bersumpah, merangkul bahu Minha erat-erat dengan sikap protektif. “Aku tidak akan melakukannya, sungguh.”

“Janji?”

Mmm-hm.

So, will you stop acting cool and be my prom?”

Jimin mengacak rambutnya, gemas. Kerja kerasnya dalam memilih baju, berpenampilan serapi mungkin, hingga berlatih pose-pose keren di depan kaca mendadak terbuang sia-sia. Dan lagi, ketika ia menilik manik Minha yang tengah menatapnya dengan binar-binar penuh harap, ia tahu bahwa ia tak akan mungkin bisa menolak permintaan adiknya itu. Seharusnya ia marah, semestinya ia menuntut dan mengeluarkan protes, tetapi ia tidak sanggup melakukannya. Toh, kalau dipikir-pikir lagi, tidak ada salahnya bukan pergi ke pesta prom dengan saudarimu sendiri? Setidaknya, ia sudah memiliki pasangan dan tidak akan berakhir mempermalukan diri sendiri.

Okay, then. I’ll be your prom. Happy?”

fin.

um, well, singkat aja….

I supposed to do my study and assignment for tomorrow class, tho… but that picture of Jimin is just…. ugh! Rasanya tiap liat foto itu pengen teriak “GAUSAH SOK KEREN” terus berakhir marah-marah sambil ngetik dan terciptalah ff ini .___.

Anyway, aku nggak yakin kapan bisa ngepost lagi karena kerjaan kuliah mulai numpuk, tapi semoga bisa segera deh mengingat draft yang sudah menumpuk juga -_-

and mind to leave some review? 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s