[Ficlet] Coward

Standard

skr9-M

a short movie by tsukiyamarisa

starring [BTS] Park Jimin and [OC] Park Minha with [BTOB] Sungjae, [VIXX] Hyuk, [APINK] Namjoo, and [AOA] Seolhyun genre Family, Fluff, Friendship duration Ficlet (800+ wc) rating G

thanks to Tiwi aka thelittlerin yang kemarin barusan publish fic Choi Siblings mendadak akur ^^

.

.

“Kalian yakin mereka benar-benar bertengkar?”

“Menurutmu itu terlihat seperti bercanda?” Sanghyuk balik bertanya pada Sungjae, telunjuknya ditudingkan ke arah sepasang saudara kembar yang tengah sibuk beradu argumen. Mereka kini sedang berada di taman bermain guna mengisi waktu liburan, dan menyaksikan dua kawan mereka yang terkenal selalu akur mendadak saling melempar emosi seperti ini jelas tak ada di dalam rencana.

“Aku baru tahu kalau Minha bisa marah pada Jimin,” imbuh Seolhyun seraya mengernyitkan kening, memandang si gadis berambut sebahu yang kini sedang memelototi sang kakak. “Dan sejak kapan Jimin bisa marah?”

“Sejak kita menantangnya untuk masuk rumah hantu.” Kali ini Namjoo yang menimpali, terlihat lelah. “Sudah kubilang ‘kan, itu tadi bukan ide yang ba—“

“JADI MENURUTMU INI SALAHKU?!”

“KAMU YANG MENERIMA TANTANGANNYA, BODOH!”

Keempat orang itu serentak menutup telinga mereka rapat-rapat, ingin sekali berpura-pura tidak kenal pada sepasang saudara yang masih sibuk mempertahankan ego masing-masing tersebut. Namun, walau bagaimanapun juga, mereka juga tahu bahwa sebagian dari pertengkaran ini adalah kesalahan mereka. Meminta seorang Park Jimin yang terkenal penakut untuk memasuki rumah hantu awalnya memang terdengar mustahil, sampai Sungjae turun tangan dan mulai mengejek sifat pengecut Jimin di depan kawan-kawannya. Kontan saja lelaki itu tak terima, suatu hal yang berujung pada tindakannya menyeret masuk sang adik ke dalam antrean dan malah berakhir seperti ini.

“Lagipula kenapa kamu harus mengajakku masuk, sih?!”

“Yang lain juga berpasangan, tahu!” Jimin memprotes sambil menunjuk ke arah Sungjae-Namjoo serta Sanghyuk-Seolhyun. “Kamu tega membiarkanku masuk sendiri?”

“Pengecut.”

“Kamu juga sama penakutnya!”

“Aku ‘kan perempuan! Kamu yang laki-laki!”

“Ini bukan masalah jenis kelamin! Tidak adil sekali!” Jimin menyedekapkan kedua lengannya, lantas membalikkan badan dan melangkah pergi tanpa pamit. Wajahnya memerah menahan kesal, selagi keempat temannya mengamati pemandangan ajaib itu dengan tampang keheranan.

“Jimin-a… Minha-ya… Ayo—

“BAIK! TERSERAH KAKAK SAJA KALAU BEGITU!!”

Usaha Sanghyuk untuk mendamaikan keduanya sebelum terlambat berakhir begitu saja. Jimin sudah menghilang entah ke mana, sementara Minha buru-buru menggamit lengan Seolhyun dan Namjoo serta mengajak kedua gadis itu pergi. Meninggalkan Sanghyuk dan Sungjae berdua saja, saling melempar tatap canggung dan menyalahkan.

“Kurasa Namjoo benar, Bung. Tidak seharusnya kau memancing Jimin tadi.”

“Jadi sekarang ini salahku?”

Well, asal kautahu saja, aku datang ke sini untuk berkencan dengan Seolhyun,” jawab Sanghyuk sambil menoyor kepala temannya itu dan memasang tampang bersungut-sungut. “Dan kini, salah apa aku hingga harus berduaan denganmu saja, hah?!”

***

“Ini konyol, tahu.” Namjoo bergumam seraya menyeruput jus jeruknya, sementara Seolhyun sibuk memainkan ponsel—mungkin berkirim pesan dengan Sanghyuk. “Ayolah, Minha-ya, maafkan saja kakakmu itu. Lagi pula, sebagian besar dari masalah ini ‘kan, disebabkan oleh Sungjae.”

“Tapi—“ Minha menggigiti bibir bawahnya, masih terlihat sebal. Well, siapa juga yang tidak marah jika diajak masuk ke rumah hantu secara paksa dan berakhir ditelantarkan oleh yang mengajak? Minha jelas masih belum bisa melupakan rasa takut—yang juga bercampur dengan malu—saat Jimin berteriak terlampau kencang dan meninggalkannya terjebak di antara kerumunan setan-setan gadungan tadi. Sudah tahu penakut, kenapa juga dia sok-sokan menerima tantangan Sungjae?

“Omong-omong”—Seolhyun tiba-tiba menyela sambil menunjukkan jarinya ke arah wahana permainan yang berseberangan dari tempat mereka berdiri—“agaknya mereka sudah menemukan kita.”

Baik Namjoo maupun Minha sama-sama menoleh, mendapati sosok Sanghyuk dan Sungjae yang tengah melambaikan tangan dengan riang serta Jimin yang masih berekspresi muram.

“Mau pulang sekarang?” tanya Sungjae langsung begitu posisi mereka sudah cukup dekat, lengannya otomatis merangkul Namjoo dan menarik gadis itu mendekat. “Sudah mau malam, nih.”

Namjoo lekas-lekas mengiakan, begitu pula halnya dengan Seolhyun dan Sanghyuk. Menyisakan Jimin dan Minha yang masih diam membisu, bergeming dalam aura canggung yang ada. Kedua orang itu hanya bertukar lirikan sekilas, sebelum akhirnya sama-sama mengangkat bahu dengan kompak dan mengikuti langkah kaki teman-temannya.

Suasana itu bertahan selama beberapa menit lamanya, sampai suara bersin kecil terdengar dan langkah kaki Jimin pun sontak terhenti karenanya. Kepalanya otomatis tertoleh ke belakang, mendapati adik kembarnya yang berjalan beberapa langkah lebih lambat sedang menggigil kedinginan.

“Dingin, ya?”

Minha mendelik ke arahnya, seolah hendak berkata ‘sudah-tahu-kenapa-masih-bertanya?’ kepada Jimin. Mengabaikan kakaknya itu, ia pun mempercepat derap langkahnya untuk menyusul Seolhyun serta Sanghyuk di barisan depan dan—

“Oke, Kakak minta maaf.”

Iris gadis itu pun kontan melebar, pergerakannya terhenti akibat jemari Jimin yang melingkari pergelangan tangannya. Detik berikutnya, ia pun menyadari bahwa Jimin sudah melepas jaketnya dan menyampirkan benda itu pada pundaknya, menyalurkan rasa hangat yang sudah familier di sana.

“Itu tadi salahku—well, Sungjae juga jika kamu mau menghitungnya. Intinya, aku minta maaf, oke?”

Minha masih bungkam, tetapi ia jelas merasakan bagaimana lengan Jimin merangkulnya erat tatkala mereka melangkah berjejeran. Mau tak mau, sudut-sudut bibirnya pun berjingkat, selagi rasa sebal yang ia pendam seharian tadi pun perlahan memudar.

“Oke. Walau menurutku kakakku ini adalah seorang penakut—” Jimin sontak mendengus, tapi Minha hanya terkikik kecil dan melanjutkan, “—tetapi setidaknya ia bukan pengecut dan berani meminta maaf duluan. Aku juga minta maaf, ya?”

“Tentu saja.” Jimin mengacak puncak kepala Minha sekilas, merasakan senyum penuh kelegaan terbentuk di bibirnya. “Lagi pula, aku tidak mau gelar kita sebagai saudara paling akur jatuh ke tangan orang lain. Iya, ‘kan?”

 fin.

Advertisements

One thought on “[Ficlet] Coward

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s