[Pic-Fic] Black and White

Standard

tumblr_mt5yr6wLTa1snxvoho1_500-3054

requested by seoulovely

Kris, Chanyeol | Ficlet | Friendship

Ingat tidak mengapa kita bisa bersahabat dekat seperti ini?

“Kalian itu pasangan sahabat yang paling aneh sedunia.”

Kalimat itu terlontar secara random dari mulut Sehun pada suatu siang, membuat Chanyeol sontak menghentikan keasyikannya mengunyah ramyun. Di sampingnya, Yifan—sahabat Chanyeol sejak mereka masih berumur enam tahun dulu—ikut-ikutan berhenti menikmati makan siangnya, lantas melemparkan tatapan memicing tajam ke arah Sehun.

“Kami tidak aneh,” balas Chanyeol defensif. “Kami berdua sama-sama tampan, tinggi, menarik, dan juga baik hati. Bukankah wajar jika dua orang keren seperti kita ini bersahabat dekat?”

“Bukan itu yang kumaksud. Tahu sendirilah, kau ini berisik dan menyebalkan, sementara Yifan terlalu pendiam dan cool.

Mendengar ucapan Sehun tersebut, Chanyeol pun lantas melempar pandang ke arah Yifan, mendapati bahwa sahabat baiknya itu hanya mengedikkan bahu untuk menimpali ucapan Sehun barusan dan meneruskan menggigiti ayamnya tanpa banyak kata. Oh, ya, itu sangaaaat membantu, Wu Yifan.

Well, setidaknya kami tidak sepertimu dan Zitao,” balas Chanyeol pedas seraya mengarahkan telunjuknya ke pintu masuk cafeteria, tempat dimana seorang lelaki tinggi dengan rambut hitam kelam, mata memicing tajam, dan wajah garang layaknya pembunuh berdarah dingin sedang berdiri. “Bocah manja sepertimu bersahabat dengan Zitao yang mengerikan? Itu lebih absurd lagi.”

“Mereka sama-sama cengeng, omong-omong. Jangan tertipu penampilannya, aku pernah melihat kedua anak ini menonton film hantu hingga menangis.” Kris kembali buka suara, kali ini sambil bangkit berdiri dan meraih tasnya yang tergeletak di samping kursi. “Aku sudah selesai. Jadi mengerjakan tugas tidak, Yeol?”

Uh, oke,” balas Chanyeol cepat seraya ikut berdiri, dengan sigap melangkahkan kaki panjangnya untuk mengikuti langkah Yifan. “Sampai nanti bocah menyebalkan!”

Yifan mendengus pelan mendengar pertengkaran kecil Chanyeol dan Sehun, kepalanya digelengkan dengan ekspresi geli. Sepasang sahabat itu lantas merajut langkah menuju perpustakaan, masih diiringi dengan suara bass Chanyeol yang sedang mengomel panjang lebar.

Tidak apa. Toh, ia sudah biasa menghadapi racauan Chanyeol yang tak jelas itu. Yifan sudah mengenal Chanyeol sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar. Mendengar ocehan Chanyeol sudah menjadi makanan sehari-harinya, sebuah pengisi bagi hidup Yifan yang cenderung damai dan tenang—mengingat ia sendiri terlalu pendiam dan malas bersosialisasi. Jadi, mau Sehun mengatai mereka sebagai sepasang sahabat yang aneh pun, ia tidak akan ambil pusing. Yifan merasa nyaman bersama Chanyeol dan—

“Tapi… eum, menurutmu, apa kita benar-benar aneh? Seperti warna hitam dan putih yang terlampau berbeda?”

“Itu tidak masalah, ‘kan, Yeol? Sehun cuma bercanda, that little brat.

“Tetap saja…” Chanyeol menerawang, tampak sedang mengingat-ingat sesuatu. “Kauingat tidak mengapa kita bisa bersahabat dekat seperti ini?”

“Apa itu penting?” Yifan mengangkat sebelah alisnya sambil mendorong pintu perpustakaan. “Lebih baik kaupikirkan tugas kita, bodoh.”

“Itu penting,” balas Chanyeol dengan nada setengah merajuk. “Penting karena aku ingin tahu, mengapa kau mau bersahabat denganku? Dengan makhluk berisik dan aneh sepertiku? Ayolah!”

Yifan mengedikkan bahu, kemudian melangkah melewati Chanyeol untuk meletakkan tasnya di dalam loker. Tak berniat menanggapi, atau lebih tepatnya, tak tahu tanggapan macam apa yang harus ia keluarkan.

Kendati begitu, mau tak mau, ia pun jadi berpikir.

Mengapa kami bisa bersahabat dekat?

***

Ya! Beraninya kalian mengganggu yang lebih lemah!”

Chanyeol kecil berlari seraya mengacungkan kepalan tinjunya, berusaha mengusir anak-anak bertubuh tambun yang tengah mendorong seorang bocah lelaki hingga jatuh terjengkang di atas tanah. Dengan berani—meskipun tubuhnya jelas-jelas lebih kurus—ia pun mengarahkan tendangan keras ke tulang kering salah satu anak gendut yang bertampang menyebalkan, membuat yang bersangkutan menjerit kaget dan mulai mengeluarkan air mata.

“Pengecut!”

Kau berani mengganggu kami, ha?”

DUGH!

Chanyeol mengumpat pelan, merasakan salah satu kawan bocah yang ditendangnya tadi mendorong tubuh kurusnya hingga menabrak tiang ayunan yang kebetulan berada di belakangnya. Berusaha menahan rasa sakit yang berdenyut di sana, Chanyeol pun bangkit berdiri dan meraih sebuah bola—entah itu milik siapa—yang kebetulan berada di taman bermain tersebut. Lalu, dalam hitungan detik saja, bola sepak yang cukup keras itu sudah berpindah dari tangan Chanyeol ke atas kepala anak lelaki yang tadi mendorongnya.

“Ya!”

Sakit, kan?” Chanyeol menjulurkan lidahnya, lalu menghampiri bocah kurus lainnya yang masih terduduk di atas tanah. “Kalau begitu, jangan ganggu dia!”

Yifan itu aneh! Berbicara bahasa Korea secara benar saja ia tak sanggup!”

Kalau kalian yang berada di Cina, memang kalian bisa berbicara bahasa Cina?” balas Chanyeol tak kalah emosi. “Kalian lebih bodoh daripada Yifan, tahu!”

Kau ini yang bodoh, Chanyeol! Kami tidak mau berteman denganmu lagi!” Seraya mengucapkan ancaman khas anak kecil, kedua bocah bertubuh besar tadi pun segera melangkah pergi dengan kaki dientak-entakkan, sebal. Meninggalkan Chanyeol bersama Yifan—si murid pindahan dari Cina tersebut.

“Kau tak apa?”

“Xie xie….”

“Oh, aku tahu! Itu artinya terima kasih, bukan? Tenang, itu bukan masalah besar, kok! Omong-0mong, lututmu tergores. Kau butuh plester?” Chanyeol mengoceh panjang lebar sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Yifan berdiri, jelas-jelas mengabaikan fakta bahwa Yifan sama sekali tidak memahami perkataannya barusan.

Ng…”

“Tunggu sebentar, ya!” Tidak memedulikan Yifan yang masih bergumam tak jelas—mungkin berusaha mengingat-ingat kosakata bahasa Korea-nya yang masih minim—Chanyeol pun mengeluarkan sebuah plester luka bergambar hello kitty dan menempelkan benda itu di atas lutut Yifan.

“Xie xie…”

“Ck, kubilang itu bukan masalah. Oh, ya, aku Chanyeol. Kau Yifan, bukan?”

Mendengar namanya disebut, Yifan pun mengangguk mantap. “Ne. Eum…”

“Kalau begitu, mari berteman, Yifan-a! Aku akan melindungimu dari bocah-bocah menyebalkan itu!” Chanyeol membusungkan dadanya dengan bangga, kemudian melingkarkan lengannya di bahu Yifan tanpa meminta izin. Kedua bocah tersebut lantas berjalan beriringan, merasakan hawa sejuk musim semi membelai anak-anak rambut mereka dalam keheningan.

Sesederhana itu, dan persahabatan mereka pun terbentuk begitu saja.

***

“Yeol-a…

Kembali ke masa kini, Yifan mendapati bahwa dirinya masih terjebak di samping si cerewet Chanyeol tanpa bisa menemukan jalan keluar. Bertahun-tahun lamanya mereka melewatkan waktu bersama, saling berbagi suka dan duka dalam ikatan persahabatan yang ada. Meskipun—seperti kata Sehun tadi—mereka terlampau berbeda, tetapi Yifan tetap bertahan di sisi Chanyeol tanpa mengeluh atau memprotes.

Karena apa?

“Kenapa?” Chanyeol mendongak, matanya memasang sorot penuh tanya.

“Mungkin Sehun benar. Kita itu seperti warna hitam dan putih, terlalu berbeda.”

“Jadi…” Chanyeol mengetukkan ujung pensilnya ke dagu, tampak sedikit kesal. “Kau mau berkata bahwa kita tidak cocok bersahabat? Setelah melewati hampir dua belas tahun bersama?”

“Bukan itu,” kekeh Yifan geli. “Malahan, karena kita terlalu berbeda itu, aku jadi betah berada di sampingmu. Coba bayangkan kalau tidak ada kau yang mengoceh untuk mengisi hari-hariku, bagaimana rasanya?”

“Kau… seperti hidup sendirian di pulau terasing?” balas Chanyeol sambil menyeringai lebar, membuat Yifan sontak memutar bola matanya.

“Terserah.”

“Jadi… jadi, apa alasanmu? Kenapa kau mau bersahabat denganku?”

Yifan menarik napas panjang, sudut-sudut bibirnya sedikit berjingkat ke atas kala ia memikirkan satu kalimat simpel yang sudah tertahan di ujung lidah, menunggu untuk dikeluarkan. Sedikit cheesy memang, tapi kalau hal ini bisa membuat Chanyeol berhenti menggerutu dan merecokinya, kenapa tidak?

Karena mereka itu seperti hitam dan putih.

Berbeda, tapi tetap terlihat apik jika dijejerkan atau dipadukan. Berbeda, tapi tetap bisa saling melengkapi dalam hidup ini. Chanyeol dan Yifan adalah pribadi yang saling bertolak belakang, namun jika perbedaan itu malah membawa rasa senang alih-alih pertengkaran, maka itu tidak akan menjadi masalah, bukan?

“Yifan-a, cepat sedikit. Aku penasaran.”

Jadi, mau seaneh apa pun mereka di mata orang-orang, Yifan tidak akan menyesali persahabatan yang ia bangun dengan Chanyeol. Lelaki yang sama jangkung dengannya itu telah mengubah hidup Yifan, persis seperti hitam yang akan berubah menjadi abu-abu kala bertemu dengan putih. Dan begitu pula sebaliknya.

They are different. But they make a perfect combination.

“Kau benar-benar ingin tahu?”

“Ayolah!”

“Karena aku merasa tepat memiliki sahabat sepertimu. Itu saja.”

fin.

Note:

This is for you Sari! Maaf ya lama karena aku terbentur banyak halangan di sana-sini, dan maaf kalau feelnya ga dapet karena ini pertama aku nulis friendship krisyeol (you know lah biasanya aku lebih ke krisho sama baekyeol xD)

anyway, hope you enjoy this dear! 😀

Advertisements

8 thoughts on “[Pic-Fic] Black and White

  1. ohlusiana

    Aaaaaa, bagus kak ameerrr;A;
    tapi aku kok liat ada yang janggal ya disini /.\ entahlah, mungkin karena krisyeol nggak terlalu mencolok pairingnya di kehidupan real exo xD
    Tapi aku suka kok ceritanya :3

    Apaan banget sih kris disitu xD sok cheesy ah, padahal kalo udah di syotaim…. teng! Muncul makhluk berparas tampan tapi mengerikan(?) bak kris xD

    Eh btw, ati ati kak habis ini dirbaek ngambek sama kakak soalnya kakak merebut dobi dari sisi gogi /apa ini/

    Ehehehe, keep writing ya kak amer! Tetep kutunggu sehunkuh. Annyeongi!^^ ❤

    Like

    • furuchi

      Pasti kepotong commentnya 😦 yaudah deh intinya aku suka sama pairing krisyeol dan mereka bias aku 😀 disini kris nya cool tapi sweet dan cheesy banget apalgi yang dia bilang mereka tuh beda makanya saling melengkapi >o< ditunggu fic dengan pairing mereka lagi yaaa mer 🙂

      Like

  2. Zoenicorn

    Meski terbiasa melihat Kris pairing sama Tao,atau Luhan atau Yixing..
    tapi KrisYeol tetep yg tergokil,,hehehe.

    Jangan khawatir , feelnya dapet koq…cukup lucu…bumbu penyedap Sehun dan Tao,,terasa pas…hehehe

    Teru dan terus menulis kisah2 seperti ini,juga kisah2 yg lain,,cukup bagus…hehehe. ^_^

    Like

  3. AAA!! ini bagus banget loohh,friendshipnya kerasa banget jarang ada fic dengan pairing krisyeol ;;;___;;;
    emang mereka berbeda banget sama kayak di fic ini,tapi itulah yang membuat aku suka sama mereka
    keep writing yaa!!:) dan salam kenal ^o^

    Like

  4. Holllaaa Haloohaa Amer 😀 Jgn bosen yaa liat aku di komen box kamu xD hehe Iseng-iseng kemariii buat intip-intip ficnya Amer, lalu aku nemuin Krisyeol di sini xD {bahagia itu sederhana}
    Yaap, friendshipnya kerasaaaa! double jempol buat Yeol yg selalu mengisi hari-hari Kris. Ahaha emg bener sih diibaratkan itu Kris yg warna putih trs Yeol yg warna hitam tapi perpaduannya itu jadi passs xD well well… walaupun aku jg seringnya baca Chanbaek tapi tak menutup kemungkinan eksistensi Krisyeol jugaa banyaaak. Yg penting enjoy baca fic ini! 😀

    Eh iya btw Amer menerima request kah? aku liat note di atas ini request-an dari Sari xD ehehe. Lain waktu aku mau jg request wkwk. Tapi setelah project kamu selesai semuanya deh. I’m understand with youuu Mer. Selesaikan saja dulu EXOseriesnya yg telah lama kutunggu 😀 dan *ehem! aku liat tweet kamu melewati tl kalau fic Ken blm selesai? Aku berharap itu juga selesai xD Pokoknyaa selamaat menulis Mer^^ Suksesss selalu! 😀

    See yaa! ❤

    Like

  5. ooooww…..krisyeol!!!
    heboh heboh heboh,, ah senengnya minta diinjek supaya sadar XD
    maaf Mer, aku terlalu rusuh tiap komentar, tapi gimana dong, kamu mau buat bromance atau romance tetep aja bikin diabetes mellitus XD
    tapi sempet ngakak juga pas kris ngebocorin ke chanyeol kalo dia pernah liat taohun nangis berdua nonton film horor. kalo krisyeol tontonannya apa ya :* /komentar melenceng/
    hiks…terharu ngeliat pembelaan chanyeol ke kris…gak nyangka muka macem kris ternyata bisa dibully juga. hah…susah emang tinggal di negara orang Y.Y
    tapi Mer, ini chanyeol pahlawan apaan bawanya plester hello kitty XD
    tingginya aja kayak tiang listrik, aslinya mah berhati wanita /plakk/
    aku suka fanfic yg ini Mer, dua biasku pada gombal2an, sayang aja kris pake malu2 ngomong ke chanyeol alasannya dia tetep bersahabat sama bocah itu Y.Y
    tapi kapan sih aku gak pernah suka baca fanfic mua :*
    okee bongkar2 yang lain duluuu~ ;D

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s