[Life-After-Life] Life and Afterlife [9/9]—Final/Epilogue

Standard

life-after-life4

a fanfiction by Tsukiyamarisa

Cast(s): [f(x)] Jung Krystal, [SHINee] Lee Taemin, [EXO-K] Kai/Kim Jongin, [EXO-K] Oh Sehun, and [CNBLUE] Kang Min Hyuk || Minor Cast(s): [EXO-K] Byun Baekhyun || Duration: Chaptered/Epilogue || Genre: AU, Romance, Family, Fantasy || Rating: PG ||

Summary:

Min Hyuk. Soo Jung. Taemin. Kai.

Mereka semua memiliki masa lalu dan masa depan yang saling terikat satu sama lain. Tidak ada satupun dari mereka yang paham, bagaimana catatan takdir akan memutuskan akhir dari kisah ini. Happy end or… not?

Disclaimer:

All casts belong to themselves. Storyline and poster belong to me. Inspired by: Black Butler and SHINee’s song – 1000 Years Always By Your Side. Do not plagiarize or repost without permission.

Recommended Song:

My inspiration and official (?) soundtrack of this fic:

SHINee – 1000 Years, Always By Your Side

.

.

ENJOY!

.

.

EPILOGUE

Life-After-Life: Life and Afterlife

.

.

Whether in Life or Afterlife

In the end, what we need to do is just smile and believe…

.

.

…that everything’s gonna be fine

 

8 years ago

February, 2013

 

“Bagaimana keadaanmu?”

Soo Jung menoleh, bibirnya membentuk seulas senyum simpul. Pandangannya bertemu dengan Sehun, sang lelaki yang sudah sekian tahun tak dijumpainya.

“Baik. Kau sendiri?”

Mmm, baik.”

Keduanya kembali bungkam, tak tahu harus berkata apa. Semilir angin menerpa anak-anak rambut mereka, membawa semerbak aroma bunga yang tumbuh di taman itu. Soo Jung menyelipkan seberkas rambutnya ke balik telinga, kakinya mengetuk-ngetuk tanah berumput dengan ragu.

Ia bingung.

Setelah pertemuan mendadak di café tempat Soo Jung bekerja beberapa hari yang lalu, komunikasinya dengan Sehun perlahan kembali terjalin. Mereka saling bertukar nomor dan berkirim pesan, berjanji untuk kembali bertemu saat keduanya memunyai waktu luang.

Dan di sinilah mereka sekarang.

Kalau boleh jujur, Soo Jung sama sekali tidak tahu bagaimana perasaannya terhadap Sehun sekarang. Ia sudah mengubur dalam-dalam semua rasa tertarik dan suka yang pernah ia rasakan, berusaha untuk melupakannya di kala itu.

Lalu, bagaimana dengan saat ini? Masihkah perasaan itu ada di dalam sana?

Errr… jantungmu, bagaimana?” Sehun kembali memecahkan keheningan seraya menggaruk-garuk belakang lehernya, tak yakin jika ini adalah topik yang tepat untuk ditanyakan.

“Oh,” gumam Soo Jung, bibirnya melepas tawa ringan. “Aku sudah sembuh. Beberapa bulan yang lalu, aku mendapat kesempatan untuk melakukan transplatasi jantung.”

“Begitu. Aku senang mendengarnya.”

“Terima kasih.”

“Soo Jung-a….”

“Ya?”

“Apa kau merindukanku?” tanya Sehun lirih, memaksa Soo Jung untuk berhenti sejenak dan memikirkan jawabannya. Sebuah pertanyaan yang sederhana, namun tak semudah itu untuk dijawab.

Apa ia merindukan Sehun?

Merindukannya dalam artian apa?

Soo Jung bukan orang bodoh. Ia tahu persis apa arti tatapan Sehun yang selalu ditujukan kepadanya. Baik sekarang, saat perjumpaan mereka di café, maupun bertahun-tahun yang lalu—semuanya memiliki makna yang sama. Sehun masih berharap agar Soo Jung mau menerima hatinya, tidak peduli berapa pun lamanya dia harus menunggu.

“Aku….” Soo Jung menggantungkan perkataannya, bimbang. Sebagian kecil dari dirinya mungkin merindukan Sehun, tetapi—entah karena alasan apa—kalimat “aku juga merindukanmu” tidak mau terucap dari bibirnya semudah itu. Ia tak ingin memberikan harapan pada Sehun, tidak ketika perasaannya sendiri masih belum dapat dipastikan.

Tanpa sadar, Soo Jung mengangkat sebelah tangan dan melarikan ujung jarinya di atas kedua belah bibirnya. Ada satu memori hangat dan manis yang tersimpan di sana, sesuatu yang terlambat untuk ia sadari, sesuatu yang disebut dengan… cinta.

Min Hyuk Oppa….

Ingatan Soo Jung terlempar kembali pada malam terakhir itu, waktu dimana ia dan Min Hyuk saling mengungkapkan perasaan masing-masing. Mereka terlambat, itu sudah pasti. Namun, hal itu tetap tidak menghalangi Min Hyuk untuk mendaratkan satu kecupan manis di atas bibir Soo Jung. Sebuah ciuman pertama yang tidak akan pernah Soo Jung lupakan—kendati sosok Min Hyuk saat itu hanyalah berupa arwah yang tak kasat mata.

Sementara itu, Sehun—yang sedari tadi mengamati gerak-gerik Soo Jung—menyadari kegelisahan gadis tersebut. Alih-alih memaksa Soo Jung untuk menjawab pertanyaannya tadi, Sehun malah berdeham pelan dan bergumam, “Ah, kau sudah punya kekasih, ya?”

“Eh?”

“Kau… sudah punya kekasih?”

“Tidak.” Soo Jung menggelengkan kepalanya cepat-cepat, kemudian menambahkan, “Lebih tepatnya, ia sudah tidak ada di dunia ini.”

“Ah, maaf… aku….”

“Tidak apa,” balas Soo Jung ringan seraya menepuk lengan Sehun lembut. “Aku sudah merelakannya. Namun, aku belum benar-benar melupakan rasa suka dan sayangku kepadanya. Jadi, Sehun, aku merindukanmu… tetapi….”

Soo Jung menggigit bibir bawahnya, sadar bahwa berkata jujur kepada Sehun mungkin adalah yang terbaik. Ia memang merindukan pemuda itu. Namun, Soo Jung juga tahu bahwa rasa cintanya pada Sehun sudah tak lagi sebesar dulu. Waktu telah mengikisnya, dan kehadiran Min Hyuk pun sempat menggantikan sosok Sehun dalam hidup Soo Jung.

“Aku mengerti, Soo Jung-a. Tetapi, kita masih berteman dekat, iya ‘kan?”

Teman.

Untuk saat ini, kata teman mungkin lebih tepat untuk menggambarkan hubungan mereka.

Soo Jung tersenyum simpul, kepalanya mengangguk mantap. Setelah semua kejadian penuh duka dan kejutan tidak masuk akal yang silih berganti mengisi hidupnya, memiliki seorang teman dekat seperti Oh Sehun pasti akan terasa menyenangkan. Pemuda itu selalu baik pada Soo Jung. Meskipun Soo Jung pernah menolaknya sekali dan meskipun Soo Jung masih menggantungkan perasaan Sehun hingga saat ini, tetapi lelaki itu tidak pernah menjauhinya barang sedikitpun.

“Kauyakin, Sehun? Kau… tidak merasa terluka?”

“Tidak. Asalkan kau memberiku izin untuk tetap menyukaimu….” Sehun bergumam polos sembari memainkan ujung-ujung jarinya. Soo Jung tertawa renyah, kepalanya kembali dianggukkan tanda mengerti. Sehun memilih untuk memberinya waktu. Satu kesempatan bagi Soo Jung untuk menghapus duka, menyembuhkan luka, dan membuka hatinya pada suatu kisah cinta yang baru.

Itu cukup.

Memangnya, apa lagi yang bisa Soo Jung minta? Sehun sudah memberikan segalanya. Sebagai seorang gadis, ia tahu persis bahwa membiarkan rasa sukamu mengambang tak tentu arah itu bukan hal yang menyenangkan, tetapi, toh Sehun tetap mau melakukannya.

“Oke.”

“Terima kasih, Soo Jung-a. Aku—”

“Tidak, tidak,” potong Soo Jung cepat. “Seharusnya akulah yang berterima kasih. Mungkin sekarang bukan saat yang tepat, Sehun. Namun, suatu hari nanti, aku berjanji bahwa aku akan membalas semua perasaanmu itu. Kaubisa menunggu, kan?”

Satu senyuman langsung terukir di atas bibir Sehun, tulus dan penuh kelegaan.

“Tentu saja. Aku akan menunggumu.”

 

***

“Min Hyuk!”

Siang itu, mentari bersinar sedikit lebih cerah di Afterlife. Bus yang mengantar para arwah manusia baru saja tiba di depan gerbang, menurunkan sejumlah besar penumpangnya yang bertampang kebingungan. Di antara mereka, tampak dua orang pemuda yang berpakaian serba hitam—kontras dengan warna putih yang melingkupi seluruh Afterlife.

“Kai? Taemin?” Min Hyuk, yang kebetulan sedang asyik mengobrol dengan penghuni Afterlifelainnya, menyipitkan kedua mata dengan tampang tidak percaya. Ia melambaikan tangan ke arah kedua shinigami itu, mengundang mereka untuk bergabung.

“Hai, Min Hyuk! Lama tidak bertemu!”

“Kai! Tentu saja, bukankah seharusnya kau tidak diizinkan kemari?” balas Min Hyuk ceria seraya memeluk Kai singkat. Ia beralih kepada Taemin, lega ketika shinigami yang satu itu juga bersikap ramah kepadanya. Pertemuan singkat mereka beberapa saat yang lalu rupanya cukup untuk membuat kedua makhluk itu berteman akrab.

“Izin khusus dari Master,” timpal Taemin seraya duduk bersila. “Kami punya kabar baik, soal Soo Jung.”

“Yep! Semuanya sudah berjalan lancar sesuai rencana, dan Soo Jung—”

“Ia sudah bertemu dengan Sehun?” Min Hyuk memotong perkataan Kai, yakin bahwa tebakannya pasti benar. Kai mengangguk dengan penuh semangat, mengiyakan perkataan Min Hyuk barusan dengan tampang berseri-seri. Sementara itu, dari sudut matanya, Min Hyuk bisa menangkap lirikan penuh arti yang dilemparkan oleh Taemin ke arahnya.

“Jadi, kau… merelakannya?”

Taemin menarik sudut-sudut bibirnya sekilas. Min Hyuk bisa menangkap sedikit rasa sedih yang terpancar pada sepasang manik kelam itu, namun ia tahu bahwa Taemin sudah benar-benar ikhlas dalam merelakan Soo Jung. Senyuman simpul itu sudah menjelaskan segalanya.

“Terima kasih banyak, Min Hyuk. Tanpa nasihatmu waktu itu, mungkin aku tidak akan bisa berpikir sejernih ini dan memilih jalan yang benar.”

“Bukan masalah. Lagi pula aku….” Min Hyuk menggantungkan kata-katanya, ingatannya kembali pada masa-masa dimana ia masih menjadi manusia. Bahkan sejak dulu, Min Hyuk sudah bisa melihat kedekatan yang tercipta di antara Soo Jung dan Sehun. Ada sesuatu di antara mereka berdua, sesuatu yang terkadang membuat Min Hyuk iri sekaligus senang karena ia tahu bahwa Soo Jung tidak sendirian di dunia yang keras ini.

“Kenapa?”

“Firasatku mengatakan bahwa Soo Jung akan bahagia dengan Sehun. Itulah sebabnya aku bisa merelakan Soo Jung dengan mudah,” ucap Min Hyuk jujur. “Kau melakukan hal yang tepat, Taemin. Aku senang karena dua orang itu akhirnya bisa bertemu lagi. Meskipun sempat saling berjauhan, namun aku selalu tahu bahwa terkadang Soo Jung pun merindukan Sehun.”

Hening menyelimuti suasana di antara mereka. Perkataan Min Hyuk tadi seolah memberi kekuatan pada Taemin, menguatkan dirinya akan setiap keputusan yang telah ia ambil. Bayangan wajah Soo Jung yang berbinar cerah kala ia berjumpa dengan Sehun tempo hari kembali mengisi benak Taemin, membuat seulas senyum lebar terukir di bibirnya.

 

Cinta itu bukan tentang memiliki, ini tentang bagaimana membuat orang yang kaucintai bahagia.

 

“Omong-omong… ini artinya semua masalah sudah terselesaikan, bukan?”

Taemin mengangkat kepala, fokusnya kembali teralih pada Min Hyuk yang sedang memasang wajah bahagia. Ia mengangguk singkat untuk menjawab pertanyaan Min Hyuk tadi, membuat senyum yang bersangkutan makin terkembang lebar.

“Baguslah. Setelah semua yang dia alami, seudah sepantasnya kalau Soo Jung hidup bahagia, bukan?”

“Tentu saja. Tapi—Ouch! Apa sih, Hyung?!” Kai sontak mendelik kesal kala ucapannya terpotong lantaran Taemin baru saja menyikut pinggangnya keras-keras. Ia mengelus-elus bekas sodokan Taemin sembari mengerucutkan bibir, tampak tidak terima.

“Nanti, Kai.”

Hyung, tujuan kita kemari ‘kan—”

“Kim Jong In!”

Kai semakin memelototkan matanya, lengkap dengan sebelah tangan yang sibuk merogoh kantung jas demi mencari death scythe milik—oh, sialan! Ia lupa kalau senjata andalannya itu ia tinggal di atas meja kamar setelah dibersihkan tadi.

Eumm… tapi apa?” Min Hyuk berusaha memotong pertengkaran kecil di hadapannya, lengkap dengan kedua tangan terentang dan sebelah alis terangkat. “Apa ada yang tidak kuketahui?”

Taemin memalingkan wajahnya, lantas mulai menggerutu pelan. Pertanyaan Min Hyuk barusan tepat pada sasaran. Ya, tujuan mereka datang kemari memang untuk memberitahu Min Hyuk mengenai hal itu. Kendati begitu, senyum Min Hyuk barusan telah membuat Taemin merasa sedikit urung untuk cepat-cepat menyampaikan kabar yang tidak begitu mengenakkan ini. Ia tidak tega menghapus senyum dan aura ceria yang baru saja ada—belum saatnya.

“Taemin, apa ada sesuatu yang tidak kuketahui? Sesuatu yang hendak diungkapkan Kai tadi?”

“Lihat akibat perbuatan mulut bodohmu yang tak bisa direm itu!” desis taemin sebal ke arah Kai seraya mengacak-acak rambutnya sendiri, frustasi.

“Hei, aku hanya berkata jujur!” bela Kai cepat sambil memasang ekspresi cemberut. “Lagipula, menundanya tidak akan membuat hal ini menjadi lebih baik, ‘kan?”

“Iya sih, tapi—”

Guys, tolong,” ujar Min Hyuk letih sambil berusaha menghentikan adu argumen antara duashinigami di hadapannya. “Please, Taemin, katakan saja. Kai benar, menunda tidak akan membuat sebuah kabar buruk menjadi lebih baik. Kai mengenalku dan ia tahu persis kalau aku tidak suka menunda-nunda hal seperti ini.”

Taemin mengembuskan napas panjang, lelah. Sementara itu, Min Hyuk sudah berpaling ke arah Kai dengan wajah bertanya-tanya, menanti kabar macam apa lagi yang harus dia terima kini. Apa pun itu, Min Hyuk sungguh berharap bahwa ini tidak ada sangkut-pautnya dengan hidup Soo Jung di bumi sana.

“Kau tidak akan bisa bertemu dengan kami lagi.”

Keheningan menyertai ucapan itu, membiarkan waktu untuk bergulir lebih lambat sementara Min Hyuk sibuk meresapi makna di baliknya. Tidak akan bisa bertemu dengan Kai dan Taemin lagi? Apa maksud dari semua itu?

“Maksudku, hari ini adalah terakhir kalinya. Benar-benar terakhir,” lanjut Kai sembari memberikan penekanan pada kata “terakhir”. Pemuda itu menundukkan kepalanya dalam, tampak sedang menahan rasa sedih. “Kautahu mengapa aku ingin lekas-lekas mengatakan hal ini? Karena aku sendiri pun membencinya. It’s another farewell, Min Hyuk.”

“Maksudmu….”

“Ya.” Seolah bisa membaca pikiran Min Hyuk, Taemin pun lantas ikut bergabung dalam percakapan itu. “Kau tentunya tahu bahwa kami hanya bisa ke Afterlife setelah mendapat izin khusus dari Master. Setelah hari ini, kami tidak akan mendapat izin lagi.”

“M-mengapa….”

“Seperti katamu tadi, semua masalah sudah terselesaikan. Kami tidak lagi punya alasan untuk datang ke tempat ini dan menyampaikan kabar tentang Soo Jung. Rantai yang berisi semua perkara dan hubungan rumit di antara kita berempat sudah tak lagi ada,” jelas Taemin sambil menepuk pundak Min Hyuk dengan sikap menguatkan. Seulas senyum sedih terpasang di raut wajahnya, teramat kontras dengan keceriaan yang beberapa menit lalu masih melingkupi.

Min Hyuk mengusap wajahnya perlahan, tampak lebih tenang setelah mendengar penjelasan Taemin. Sejujurnya, ia pun tahu persis bahwa—cepat ataupun lambat—hal ini akan segera terjadi. Bagaimanapun juga, ia bukanlah manusia lagi. Ia juga bukan shinigami. Ia hanyalah arwah manusia, jiwa yang harus menetap di Afterlife tanpa kecuali. Siapa ia hingga layak untuk terus-menerus mendapat perlakuan istimewa dan bisa tetap mendengar kabar tentang gadisnya di muka bumi?

Takdir tidak mengenal belas kasihan. Dan sayangnya, takdir meminta Min Hyuk untuk berpisah dengan Soo Jung.

Min Hyuk paham itu.

Itulah kuncinya, satu prinsip yang ia bawa hingga kini.

Ia paham bahwa perpisahan memang tak bisa dielakkan. Bahkan sejak hari pertama ia bertatap muka dengan Soo Jung dulu, ia sudah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi perpisahan itu sendiri. Setiap pertemuan adalah awal dari perpisahan. Min Hyuk amat mengerti dengan hal itu, salah satu penyebab mengapa ia tak lagi terkejut kala Kai dan Taemin mengangkat topik soal perpisahan ke dalam percakapan mereka.

It’s just another farewell, Min Hyuk. It’s okay.

“Min Hyuk….”

“Ya?” Min Hyuk menyahut cepat, lamunannya buyar begitu saja. Kedua pupilnya menangkap wajah Kai yang tampak sedih, membuatnya tak tahan untuk berkomentar, “Kau tidak akan menangis, bukan?”

“Tidak akan!” bantah Kai sambil menggunakan ujung lengan jasnya untuk menghapus sebutir kristal air yang menggantung di sudut mata. “Aku hanya ingin berkata kalau—”

“Terima kasih,” potong Min Hyuk sambil merangkul Kai dan menepuk punggung pemuda yang sudah ia anggap sebagai teman dekat itu. “Untuk kesempatan kedua yang pernah kauberikan, dan juga untuk semua bantuan yang pernah kausodorkan agar aku bisa menyatakan cinta pada Soo Jung… terima kasih banyak. Aku hanyalah arwah biasa, bukan? Namun, kau memberiku kesempatan yang begitu istimewa jika dibandingkan dengan roh-roh lainnya di tempat ini.”

“Kau tak perlu berterima kasih,” ucap Kai sembari memeluk Min Hyuk singkat lantas menatap matanya lekat-lekat, “kalau bukan karena kau, aku tidak akan mendapat ingatan masa laluku kembali.”

“Dan kalau bukan karena kalian berdua, aku pun tidak akan bisa melepaskan Soo Jung dan merelakan dia bersama pria lain,” imbuh Taemin, seolah tak mau kalah. Ia merangkul kedua pria yang lebih tinggi darinya itu, mendesakkan tubuh kecilnya di antara Kai dan Min Hyuk.

“Intinya, kita bertiga dan juga Soo Jung memang tak dapat dipisahkan.” Min Hyuk menundukkan kepala seiring dengan terucapnya kalimat itu, mendadak kembali teringat akan fakta bahwa sebuah perpisahan sedang disodorkan di depan matanya. Kesedihan menyambanginya, tetapi ia berusaha keras untuk mengusir peraasan itu jauh-jauh. Ia bukanlah seorang pria lemah.

Namun, ia juga tidak bisa memungkiri fakta bahwa ia akan sangat merindukan Soo Jung. Seluruh ikatannya dengan gadis itu akan terputus hari ini juga, dan sejujurnya Min Hyuk takut membayangkan betapa hampanya hari-hari ke depan yang akan ia lalui. Ia tidak akan mengetahui apa-apa soal hidup Soo Jung—bagaimana gadis itu bertumbuh makin dewasa, bagaimana ia akan menikah dengan pria yang pantas, dan juga bagaimana ia akan memiliki keluarga yang bahagia—Min Hyuk tidak memiliki kesempatan untuk memandang semua itu dengan mata kepalanya sendiri.

“Min Hyuk….”

Ternyata, rasa kosong yang datang setelah perpisahan itu sendiri jauh lebih menyiksa.

“Ada satu hal lagi yang belum kami sampaikan.”

Uh? Apa?” Seketika kepala Min Hyuk terdongak kala Taemin melontarkan kata-kata tersebut dengan nada misterius. Ia juga mendapati tangan Kai yang sudah terjulur di depannya, lengkap dengan sebuah pena hitam dan kertas perkamen kekuningan di atasnya.

“Kau boleh menulis surat terakhirmu untuk Soo Jung,” jelas Taemin sembari melempar seulas senyum menenangkan. “Apa pun yang ingin kaukatakan, semua harapanmu tentang kebahagiaannya. Tulis saja, dan kami akan menyampaikan surat itu pada waktu yang tepat nanti.”

Kai menyodorkan pena dan kertas itu ke tangan Min Hyuk, meminta yang bersangkutan untuk segera menuliskan pesan terakhirnya. “Selain itu, kami juga berjanji untuk mengawasi Soo Jung dan memastikan ia baik-baik saja. Itu ‘kan, yang kau cemaskan sejak tadi?”

Yeah, bagaimana kalian—”

“Bagaimana kami tahu?” sela Taemin sembari mengedikkan bahu seolah hal itu sudah teramat jelas. “Bukankah kita semua menginginkan hal yang sama untuk Soo Jung? Cukup mudah ditebak, sebenarnya.”

Min Hyuk mengangguk paham, lalu kembali mengalihkan pandangnya ke arah selembar perkamen yang siap untuk ditulisi. Ia menarik napasnya panjang-panjang, membiarkan sudut-sudut bibirnya berjingkat dengan tulus. Tangannya mulai bergerak dengan lancar di atas selembar kertas yang akan menjadi penghubung terakhirnya dengan Soo Jung, menuangkan semua curahan hatinya tanpa kurang suatu apa pun.

Dear Soo Jungie….

 

***

 

December, 2016

 

Seorang wanita melangkah keluar dari bakery tempatnya bekerja, meregangkan kedua tangannya ke atas sembari mendesah pelan. Hari sudah cukup larut, terbukti dari jarum jam di pergelangan tangannya yang menunjuk ke angka sembilan dan membentuk sudut siku-siku sempurna. Perempuan itu—Jung Soo Jung—lantas mengeluarkan ponselnya kala benda mungil tersebut berdering kencang, mendapati sebuah nama terpampang di layarnya sebagai identitas penelepon.

Eo, Sehun-a.”

“Aku di depan bakery.

Soo Jung mengangkat kepala dan mulai mengedarkan tatapannya ke seberang jalan. Tak butuh waktu lama, maniknya sudah menangkap sedan hitam milik seorang Oh Sehun. Ia pun bergegas berlari-lari kecil sembari merapatkan syalnya, lantas membuka pintu mobil dalam satu sentakan ringan.

“Maaf membuatmu menunggu.” Soo Jung menyelipkan seberkas rambutnya di balik telinga, kemudian menoleh ke arah Sehun yang sedari tadi sibuk memperhatikannya. Pemuda berkulit putih itu seketika berdeham kencang, malu karena tertangkap basah telah memandangi Soo Jung tanpa berkedip barang sedikitpun.

Eung, tak apa. Omong-omong, besok kau libur, ‘kan?” Sehun mulai menginjak pedal gasnya dan membiarkan keempat roda mobilnya bergulir perlahan. Sedan hitam itu melaju di jalanan dalam kecepatan stabil, berbaur dengan puluhan kendaraan lainnya yang berlomba-lomba menyesaki ruas jalan raya. Maklum saja, semua orang tampaknya begitu bersemangat untuk sekadar berkeliling kota atau berbelanja demi menyambut malam tahun baru yang akan datang esok hari.

“Yep. Memang kita mau pergi kemana?”

Sehun menggelengkan kepala dan mengulum senyum misterius, tanda bahwa ia sedang ingin berahasia. Sikapnya itu membuat Soo Jung sontak mengerucutkan bibir, sebal. Gadis itu tidak suka dibuat penasaran rupanya.

“Lihat saja besok, Soo Jungie,” tambah Sehun sambil mengerlingkan matanya, bermaksud menggoda Soo Jung lebih jauh. “Pasti kau tidak akan menyesal.”

Soo Jung hanya mengedikkan bahunya, pasrah. Sehun memang kelewat senang menggoda dan memberi Soo Jung kejutan. Di satu sisi, ia selalu merasa kesal karena hal semacam ini selalu membuat rasa penasarannya berlipat ganda—asal tahu saja, ia adalah gadis dengan rasa ingin tahu yang tinggi.

Namun, di sisi lain, Soo Jung juga tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Oh Sehun terlampau mengenal dirinya dan tahu persis bagaimana cara membuat Soo Jung terpukau. Hanya lelaki itulah yang mampu membuat debaran jantung Soo Jung perlahan meningkat dan mengirimkan rona merah ke sekujur pipinya. Hanya lelaki itu jugalah yang mampu membuat Soo Jung tersenyum dan melupakan beratnya hidup ini.

Soo Jung menyayangi Sehun. Tetapi, hingga detik ini, ia masih tidak merasa yakin apakah rasa sayang di hatinya dapat didefinisikan sebagai cinta. Ia tidak tahu apakah ia siap membalas perasaan Sehun kepadanya, pun apakah ia bisa mencintai pemuda itu sama besarnya.

“Sehun.”

“Hm?”

Soo Jung mengamati ekspresi wajah Sehun yang tampak serius berkonsentrasi pada jalanan di hadapannya, lantas mengembuskan napas panjang-panjang. Pemuda sebaik Sehun rasanya tak pantas untuk mendapat perlakuan seperti ini. Soo Jung sudah berjanji bahwa ia akan membalas perasaan Sehun suatu hari nanti, dan ia tidak akan mengingkari janji itu.

Dan untuk menepati janji itu, maka ia harus mencoba. Memulai segalanya dari sekarang.

Sudah tiga tahun berlalu sejak kematian Min Hyuk. Soo Jung sudah mendapat cukup banyak waktu untuk menata dan membenahi hidupnya, memastikan perasaannya tak lagi kacau balau. Mungkin, sekarang sudah saatnya bagi Soo Jung untuk mulai melangkahkan kaki ke tahap selanjutnya. Mungkin, ini adalah saat yang tepat baginya untuk belajar membuka hati dan mencintai Sehun lebih dalam.

“Sehun,” panggil Soo Jung lagi sembari memainkan jemarinya, tampak sedikit gugup. Ia berdeham beberapa kali, kemudian menambahkan, “Aku ingin menepati janjiku kepadamu.”

“Janji apa?”

“Aku….” Soo Jung kembali menarik napas dalam, kemudian memejamkan kedua matanya erat-erat. Berusaha keras untuk menenangkan diri, sekaligus memastikan suaranya terdengar mantap tanpa sepercik pun keraguan. “A-aku ingin—”

“Soo Jung,” desah Sehun pelan sembari menepuk punggung tangan Soo Jung lembut. Sepasang kelopak mata sang gadis pun sontak terbuka, mengizinkan manik Soo Jung bertemu pandang dengan milik Sehun. Mobil mereka rupanya sudah berhenti tepat di depan apartemen Soo Jung, membuat Sehun leluasa untuk mencampakkan roda kemudi dan memusatkan seluruh perhatiannya kepada sang gadis.

“Ada apa? Tidak biasanya kau gugup begitu.”

“Aku….” Soo Jung kembali berusaha menemukan keberaniannya, membiarkan sepasang irisnya tetap terpaku pada wajah Sehun. Jemarinya tanpa sadar balik menggenggam telapak tangan Sehun, membiarkan keduanya bertautan dengan pas.

Satu lagi fakta yang baru Soo Jung sadari kini. Jari-jari mereka terasa begitu tepat dan benar kala berpegangan tangan, seolah keduanya memang diciptakan untuk saling mengisi hidup satu sama lain.

“Soo—”

“Sehun-a, bolehkah aku belajar untuk mencintaimu?”

 

***

 

July, 2018

 

“New York?!” Soo Jung memekik kaget, serta-merta menjatuhkan sendok kayu yang tadi digenggamnya. Sedikit adonan cokelat yang sedang diaduknya ikut memercik ke kulit wajahnya, namun ia tak lagi peduli. Perhatian Soo Jung kini sepenuhnya berada di tangan Sehun, sang pria yang baru saja membuatnya seperti terkena serangan jantung mendadak.

“Iya.” Sehun mengangguk pelan, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk menghindari tatapan Soo Jung. “Kautahu sendiri, ayahku begitu ingin—”

“Kenapa tidak memberitahuku lebih awal?” potong Soo Jung cepat, kini benar-benar melupakan keasyikannya membuat kue cokelat. Alisnya meliuk ke atas, sementara keningnya berkerut dalam—tanda bahwa ia sedang kesal.

“Surat penerimaanku baru saja datang kemarin.” Sehun mendesah pelan, lantas berjalan mendekati Soo Jung. Ia melingkarkan kedua lengannya di bahu sang gadis, menarik Soo Jung ke dalam dekapannya. “Kau marah?”

Soo Jung menggeleng pelan, membiarkan punggungnya bersandar di dada bidang Sehun. Ia bisa merasakan embusan napas Sehun yang hangat di puncak kepalanya, kedekatan yang membuat dirinya semakin merasa sesak. Padahal, ia tidak marah pada Sehun. Tidak akan bisa.

Sejujurnya, ia hanya merasa takut. Soo Jung selalu takut untuk menghadapi sebuah perpisahan—apa pun bentuknya. Memori akan masa lalunya yang kelam begitu membekas, membuatnya merasa begitu kecil dan tak berarti di hadapan takdir. Soo Jung benci perpisahan.

“Soo Jung-a….

“Berapa lama?”

“Kautahu kalau aku pasti akan kembali.”

“Berapa lama, Sehun?”

“Dua tahun,” bisik Sehun tepat di samping telinga Soo Jung. Lelaki itu kini meletakkan dagunya di atas lekukan bahu sang kekasih, kemudian bergumam pelan, “Jangan khawatir, Soo Jung-a.Pegang janjiku, aku tidak akan meninggalkanmu untuk selamanya.”

“Sungguh?”

Sehun membalikkan tubuh Soo Jung, meminta gadis itu untuk menatap matanya dalam-dalam. Ia bisa melihat bulir-bulir air yang mulai terbentuk di sudut mata gadisnya, membuat jemarinya refleks terangkat untuk menghapus air mata itu. Sungguh, jikalau bukan karena tuntutan dari keluarganya, Sehun juga tidak akan mau meninggalkan Soo Jung sendirian. Mereka sudah saling mengenal selama bertahun-tahun—cukup bagi Sehun untuk mengerti pribadi gadis itu seutuhnya.

Soo Jung tidak suka ditinggal sendirian.

Dan Sehun tahu persis soal itu.

“Apa kau… sungguh tidak akan meninggalkanku?”

“Ya,” jawab Sehun tegas, menyelipkan semua rasa yakin dan kesetiaannya di dalam satu jawaban singkat itu. Kedua tangannya kini terulur untuk merengkuh pipi Soo Jung, seiring dengan bisikan lembut yang terlontar dari bibirnya, “Aku berjanji. Kumohon, percayalah padaku karena aku percaya padamu. Tunggu aku, dan aku akan memastikan bahwa pengorbanan itu tidak sia-sia.”

“Sehun, a-aku….”

Sehun tidak mengizinkan Soo Jung melanjutkan ucapannya, karena ia sudah terlebih dahulu berlutut di hadapan gadis itu sembari melepas cincin perak yang melingkar di salah satu jarinya. Soo Jung sontak terkesiap, kaget melihat tindakan Sehun yang sama sekali tidak ia sangka. Setelah semua kabar mengejutkan tadi, apa lagi yang akan terjadi kini?

“Ini adalah tanda bahwa aku tidak akan melanggar semua ucapanku barusan,” jelas Sehun seraya menyelipkan cincin itu pada jari Soo Jung dan bangkit berdiri. “Dan juga, ini adalah tanda bahwa aku akan selalu menjadi milikmu. Always, Soo Jung-a. You believe me, right?

“Tentu saja,” timpal Soo Jung singkat. “Aku—”

Perkataan Soo Jung terpotong untuk yang kedua kalinya, kali ini karena sesuatu yang lembut sekaligus hangat baru saja membungkam mulut gadis itu. Rupa-rupanya, Sehun baru saja sukses menghapus semua jarak yang tadi terbentang dan menautkan bibirnya dalam sentuhan seringan kapas dengan milik Soo Jung. Membiarkan keduanya terbuai dalam sebuah ciuman manis yang baru sekali ini mereka lakukan.

“Sehun.”

Sehun bergegas menarik diri. Ia bisa melihat rona merah muda yang merambati pipi Soo Jung, membuat gadis itu terlihat semakin cantik di matanya. Malu, ia pun lantas berdeham pelan dan berusaha mengembalikan pembicaraan mereka ke topik semula.

“Jadi, yeah… kau….”

“Aku percaya.” Soo Jung mengangguk cepat, lalu mengulurkan lengannya dengan sikap sedikit merajuk. Sehun hanya bisa terkekeh pelan melihatnya, namun ia memutuskan untuk mengabulkan keinginan sang gadis. Setelah Sehun berangkat ke New York, tentunya mereka tidak akan punya kesempatan untuk melakukan hal-hal seperti ini lagi.

“Aku akan merindukanmu, Soo Jungie,” ucap Sehun seraya membiarkan Soo Jung kembali memeluknya erat. Keduanya kembali terlena dalam kehangatan yang menguar di antara mereka, pun dengan aura romantis yang melingkupi. Hening menyambangi mereka selama beberapa saat, sampai akhirnya Soo Jung pun mengambil inisiatif untuk memecahkan keheningan tersebut dengan cara berjinjit dan mengecup pipi Sehun.

“Aku juga. I’m gonna miss you so much, but I will always wait for you.

 

***

 

January, 2021

 

Soo Jung tahu persis bahwa Sehun tidak akan pernah melanggar janjinya dua tahun yang lalu.

Dan ia tak pernah menyesal telah memberikan kepercayaannya pada pria itu karena….

 

“Marry me, please?”

 

Hari itu, bertepatan dengan kepulangan Sehun dari New York, Soo Jung mendapatkan sebuah kejutan yang tak pernah ia sangka. Lelaki yang sudah bertahun-tahun menjadi kekasihnya itu mendadak saja melamar dirinya di tengah kerumunan banyak orang, tepat pada saat Soo Jung menjemputnya di terminal kedatangan.

“Sehun-a! Apa yang sedang kaulakukan?” Soo Jung sontak memekik kaget sembari menekap mulutnya dengan kedua tangan, tak percaya. Maniknya kini mulai berkaca-kaca, terlebih kala Sehun menggenggam tangannya dan mengeluarkan sebuah cincin bertatahkan sebutir permata mungil.

“Jung Soo Jung, aku sedang menepati kata-kataku dulu. Would you marry me, please?”

Beberapa orang di sekitar mereka berhenti melangkah, tertarik dengan adegan khas drama yang kini sedang terjadi di depan khalayak umum. Berpuluh-puluh pasang mata mulai terarah kepada Soo Jung dan Sehun, lengkap dengan teriakan-teriakan heboh yang semakin meramaikan suasana. Tak ayal, pipi Soo Jung pun kini sudah berubah menjadi sewarna tomat, tidak jauh berbeda dengan kulit putih pucat Sehun yang mulai merona kemerahan.

“Kautahu Sehun-a….” Soo Jung melepas cincin Sehun yang telah setia melingkar di jemarinya selama dua tahun belakangan, lalu mengulum senyum malu. “Aku akan selalu berusaha untuk membalas semua perasaanmu kepadaku. Nah, sekarang katakan padaku, jawaban macam apa yang kauinginkan?”

“Kurasa aku tidak akan sanggup menerima jawaban selain ‘ya’.”

Soo Jung menarik sudut-sudut bibirnya ke samping, semakin melebarkan senyum manisnya. Ia meraih cincin yang digunakan Sehun untuk melamar dirinya, membuat detak jantung sang lelaki semakin bertambah cepat. Lamat-lamat, Sehun pun menelan salivanya dan bertanya, “Apa itu berarti kau menerimaku?”

“Kurasa—” Soo Jung terkikik jahil sembari memasang cincin baru itu di jari manisnya, “—aku tidak akan bisa menolakmu, bukan? Terlebih, cincin ini tampak begitu pas di jariku.”

Sehun mengembuskan napas panjang, lega. Kerumunan orang di sekitar mereka pun ikut bersorak kegirangan, meneriakkan ucapan selamat bagi sepasang sejoli yang kini sedang berpelukan erat. Melepas rindu, menyalurkan rasa bahagia yang agaknya makin meluap-luap. Semua pengorbanan yang telah Soo Jung berikan selama ini mendadak tak lagi terasa berarti, begitu pula halnya dengan semua kesusahan hidup yang pernah ia alami sebelumnya.

Sehun memberi tahunya soal arti bahagia, dan kalau boleh jujur, Soo Jung belum pernah merasa sebahagia ini seumur hidupnya.

***

“Terima kasih banyak, Baek Hyun Hyung!” Sehun membalas jabatan tangan Baek Hyun, lengkap dengan seulas senyum lebar tak kunjung lepas dari bibirnya. Lengan sebelah kanannya merangkul pinggang mungil Soo Jung, seolah menegaskan status baru mereka sebagai sepasang suami-istri.

“Aku tak percaya kalian benar-benar menikah,” seru Baek Hyun sembari melepas tawa. “Sehun ini benar-benar setia menunggumu lho, Soo Jung-a!”

Soo Jung ikut tertawa geli, sementara Sehun hanya bisa menggaruk-garuk belakang lehernya untuk menyembunyikan rasa malu. Ia mendorong bahu teman baiknya itu dengan sikap bercanda, lantas menambahkan, “Kau sendiri kapan menyusul, Hyung? Masih betah hidup sendiri,ha?”

Baek Hyun mendelik kesal, namun detik berikutnya mereka kembali tertawa terbahak-bahak. Teman baik Sehun semasa kuliah itu pun lantas menepuk pundak sang mempelai pria, mengucapkan ‘selamat berbahagia’ untuk yang terakhir kalinya sebelum menenggelamkan diri di tengah kerumunan manusia. Meninggalkan Soo Jung dan Sehun sendiri, mengizinkan keduanya untuk mengobrol barang sejenak.

“Lelah?”

Mmm, lumayan. Tapi aku merasa sangat senang hari ini, Sehun-a. Kurasa itu cukup setimpal,” sahut Soo Jung sembari bergelayut manja di lengan Sehun dan menyandarkan kepalanya di sana. Maniknya ia edarkan ke seluruh penjuru ruangan, mengamati setiap tamu yang datang ke acara pernikahan mereka. Soo Jung baru saja melambaikan tangan ke salah seorang temannya di tempat kerja, ketika kedua pupilnya malah menangkap sesosok manusia yang tampak begitu familiar sekaligus membuat keningnya berkerut heran.

Tidak mungkin.

 

Tidak, tidak, tidak.

 

Ia pasti sedang berhalusinasi.

 

“Sayang, kau kenapa?”

Soo Jung menoleh cepat, mendapati tatapan khawatir Sehun yang ditujukan kepada dirinya. Ia menggerakkan kepalanya ke segala arah, kebingungan tercetak jelas di raut wajahnya. Seolah tak mendengar panggilan Sehun, matanya kembali berkelebat ke segala penjuru. Mencari dan mencari. Terus menelisik setiap sudut hingga akhirnya—

“Jongin Oppa,” bisik Soo Jung lirih. Kedua bola matanya kini terfokus pada pojok kanan ruangan, mengamati seorang pria bersetelan hitam yang tengah bersandar di dinding sembari mengetuk-ngetukkan sepatunya di atas lantai. Tak jauh darinya, tampak pula seorang lelaki lain yang lebih pendek dan mengenakan sebuah topi bulat berwarna hitam kelam.

Tapi, mungkinkah itu?

“Soo Jung….”

“Sepertinya aku melihat sesuatu, Sehun-a. Tunggu sebentar,” jawab Soo Jung cepat sembari melepaskan rangkulan Sehun pada pinggangnya. Ia berlari kecil ke arah sudut kanan, berusaha keras menerobos kerumunan tamu undangan yang memenuhi seluruh ruangan.

 

Jongin Oppa….

 

Oppa….

 

Apa kaudatang untuk memberiku selamat? Kaubisa melihat kalau aku hidup bahagia, bukan?

 

Soo Jung menundukkan kepala sembari mengucap permisi kepada dua orang wanita muda yang sedang bercakap-cakap dan menghalangi pandangannya, lantas buru-buru melangkah melewati mereka tanpa banyak kata. Napasnya kini sedikit terengah-engah, matanya bergerak panik untuk mencari-cari figur seorang lelaki yang teramat mirip dengan sosok kakak tirinya.

Nihil.

Sedetik yang lalu, Soo Jung yakin bahwa lelaki itu masih berada di sana—berdiam diri sembari bertukar bisikan dengan pria pendek di sampingnya. Namun, detik ini, pojok kanan ruangan itu telah kosong-melompong. Lelaki yang serupa dengan kakak Soo Jung itu telah lenyap tanpa jejak, meninggalkan sang gadis dalam kebingungan yang teramat sangat.

Yang tadi itu…. apa?

Mungkinkah itu hanya bayangan Soo Jung semata?

Tetapi, ini sudah bertahun-tahun lamanya! Soo Jung sudah merelakan kepergian kakaknya pada hari itu, hari dimana mereka terakhir kali dipertemukan. Tidak mungkin jika halusinasinya kini mulai timbul dan bermain-main dengan realita yang ada. Ini semua tidak masuk akal, kecuali jika…

 

 

… jika kakaknya kembali memunculkan diri dalam bentuk manusia.

 

 

Lantas, mengapa dia cepat-cepat menghilang? Tidakkah ia rindu pada Soo Jung?

 

“Soo Jungie!” Sehun berlari ke arah Soo Jung, tampak cemas. Keheranannya semakin bertambah kala ia mendapati tubuh Soo Jung yang hanya diam terpaku sambil memandangi dinding dengan tatapan kosong.

“Soo!”

“Sehun-a, a-aku….” Soo Jung menoleh perlahan, kali ini matanya tertambat pada sepucuk surat yang tergeletak di samping sebuah pot tumbuhan—salah satu dekorasi ruangan pada pernikahannya hari ini. Mengikuti kata hatinya, ia pun mengulurkan tangan untuk meraih amplop berbahan perkamen kuning tebal itu. Seakan belum cukup, rasa bingung yang dialami Soo Jung semakin menjadi tatkala ia mendapati nama lengkapnya tercetak jelas di kolom penerima surat.

 

 

Untuk:

The one that we loved, Jung Soo Jung

 

 

“Dari siapa itu, Soo Jungie?” Sehun melangkah mendekati istrinya, lalu merengkuh tubuh ramping itu dari belakang. Soo Jung hanya bisa menggeleng pelan, tanda bahwa ia juga sama sekali tidak memunyai petunjuk soal siapa pengirim surat ini. Dengan hati-hati, ia membuka amplop tersebut dan mengeluarkan tiga lembar kertas putih kekuningan yang terlipat di dalamnya.

Tangan Soo Jung sedikit gemetar saat ia membuka surat pertama. Isi surat tersebut bisa dibilang cukup singkat dan padat, bahkan nama pengirimnya pun hanya berupa inisial semata.

 

 

Hai!

Kau mungkin tidak mengenal, pun mengetahui siapa aku. Namun, di hari yang bahagia ini, aku hanya ingin mengucapkan selamat untukmu dan Sehun. Kuharap pernikahan kalian dapat menjadi awal untuk membangun hidup yang lebih baik ke depannya.

Ah, aku tahu kalau kau pasti merasa bingung saat menerima surat ini, Soo Jung. Kuharap kau tidak terlalu serius memikirkannya dan terus bertanya-tanya tentang siapa identitasku sebenarnya. Satu yang perlu kautahu, aku adalah seseorang yang selalu mengamati dan menjagamu dengan setia—tidak peduli apa pun rintangan yang menghadang.

Wish you a happy life, and keep smiling!

 

Your guardian,

T

 

 

Soo Jung mengerutkan keningnya dalam, tampak seolah-olah sedang berpikir keras. Tanpa sadar, ingatannya kembali terlempar ke sebuah memori yang terjadi berpuluh tahun lalu. Saat di mana ia sering sekali diganggu oleh teman-teman sepermainannya, sekaligus masa di mana ia selalu merasa bahwa ada seseorang yang selalu mengikutinya.

Permen itu, batin Soo Jung seraya mengingat-ingat permen lollipop yang pernah ia temukan dulu. Entah karena alasan apa, Soo Jung yakin kalau orang yang dulu sengaja meninggalkan permen itu di sampingnya adalah seseorang yang sama dengan penulis surat ini.

“Siapapun kau, terima kasih,” gumam Soo Jung lembut seraya melipat kertas itu seperti semula. Tangannya kini beralih untuk membuka lipatan surat yang kedua, lembaran yang berisi lebih banyak kalimat jika dibandingkan dengan surat pertama tadi.

Detik itu juga, Soo Jung bisa merasakan tenggorokannya tercekat dan matanya mulai memanas karena menahan tangis.

 

 

Dear my sister,

Ini kakakmu, Jongin! Apa kabar? Ah, aku tahu kalau kau pasti baik-baik saja. Soo Jung yang kukenal adalah gadis yang tegar, bukan?

Kau mungkin bertanya-tanya soal surat ini—ya, aku bisa menebak hal itu secara pasti. Well, bisa dibilang aku mendapat satu kesempatan untuk menampakkan diri sejenak dan meninggalkan surat terakhir ini di pesta pernikahanmu. Maaf jika aku tidak sempat mengobrol atau bertatap muka denganmu secara langsung, Soo Jungie. Atasanku sudah berpesan agar aku segera pulang setelah memastikan dirimu menemukan amplop ini.

Soal pernikahanmu, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik dari atas sini. Kau telah membuat pilihan yang tepat, dan aku yakin kalau Sehun pasti akan bisa membuatmu bahagia. Itu ‘kan yang kauinginkan sejak dulu?

Untuk sekarang dan selamanya, berbahagialah. Aku menyayangimu dan aku tidak ingin melihat rasa sedih itu terpampang di raut wajahmu lagi, oke?

 

The best brother ever,

Jongin

 

 

“Jadi itu benar dirimu….” isak Soo Jung pelan sembari menatap lembaran kedua di tangannya dengan sorotan nanar. Setelah dua surat yang sama sekali tak disangka-sangka ini, mau tak mau ia pun mulai berasumsi mengenai identitas pengirim surat yang terakhir. Sebuah nama yang selalu dikenangnya perlahan kembali muncul ke permukaan, mengingatkan Soo Jung akan seorang pria tinggi dengan eye smile-nya yang begitu khas. Lelaki yang akan selalu Soo Jung rindukan, lelaki yang pernah ia cintai dulu….

Kang Min Hyuk.

Soo Jung memejamkan kedua matanya, membiarkan tetes air mata meluruh turun membentuk sepasang anak sungai. Ketika ia membuka kedua kelopak itu lagi, maniknya langsung berhadapan dengan baris-baris tulisan tangan yang sudah lama sekali tidak ia lihat. Coretan tangan sedikit berantakan yang dulu amat ia kenal.

Surat itu benar-benar berasal dari Min Hyuk.

 

 

Dear Soo Jungie,

Hai, Cantik! Masih ingat denganku, bukan? Hahaha, aku tahu kalau kau tidak akan semudah itu melupakanku.

Bagaimana hidupmu di bumi sana? Aku tidak tahu kapan kau akan bisa menerima suratku ini. Kakakmu, Kim Jongin, hanya berkata bahwa ia akan memberikan surat ini di waktu yang tepat. Aku menurut saja padanya, toh mendapat kesempatan untuk menulis surat ini saja sudah merupakan sebuah kemewahan bagi diriku.

Omong-omong, sudahkah kau menemukan kebahagiaanmu? Aku benar-benar berharap bahwa—ketika kau membaca surat ini—kau sudah menemukan siapa lelaki yang tepat untuk mendampingi hidupmu dan menghadirkan senyum dalam duniamu. Yah, aku memang tidak bisa mengelak bahwa aku merasa sedikit cemburu. Namun, asalkan kau hidup bahagia dengan orang yang kaucintai, mengapa tidak? Kau hanya perlu tersenyum dan itu sudah cukup bagiku, Soo Jungie.

Oh ya, aku juga ingin berkata bahwa aku baik-baik saja di atas sini. Tidak perlu memikirkanku, pun merasa khawatir dengan kondisiku di tempat ini. I’m doing fine as long as you’re fine. Ini sudah takdir dan aku tidak akan menyesalinya. Asalkan kita bisa ikhlas dan menerima semuanya dengan lapang dada, aku pikir semuanya akan berjalan dengan lancar.

So, be happy, Soo Jungie!

Jangan biarkan bahagia itu terlepas dari genggamanmu lagi!

 

Your beloved man,

Kang Min Hyuk

 

P.S: Aku selalu tersenyum kala memikirkanmu di bumi sana. Bagaimana denganmu?

 

 

 

“Soo, kau tak apa?”

Soo Jung tak membalas pertanyaan Sehun barusan. Ia memilih untuk membalikkan tubuhnya dan lekas-lekas membenamkan kepala di dada Sehun, menyembunyikan isak tangisnya yang semakin menderas. Tidak, ia sama sekali tidak merasa sedih. Sebaliknya, ia malah merasa begitu terharu.

Ternyata, ada banyak orang yang selalu memperhatikan dan mencintainya. Kendati ia pernah merasa begitu terpuruk dan terabaikan dulu, namun sejatinya selalu ada mereka yang tak pernah beranjak dari sisinya. Orang yang selalu menjaga, menyayangi, dan juga mengharapkan dirinya hidup bahagia.

Soo Jung merasa beruntung, sekaligus menyesal karena ia tak menyadari hal ini lebih cepat.

 

Terima kasih.

 

Untukmu yang tak pernah kukenal, untuk Jongin Oppa yang rela mengorbankan banyak hal, dan untuk Min Hyuk Oppa yang tetap memberiku semangat dalam kondisi apa pun… Aku menyayangi kalian semua dan aku tidak akan pernah menyia-nyiakan semua ini.

 

“Sayang, kau menangis?”

Soo Jung menggeleng cepat, lalu mendongakkan kepalanya sembari menghapus bekas-bekas air mata yang menghiasi wajah cantiknya. Ia mendaratkan satu kecupan singkat di bibir Sehun, lantas berbisik sepelan yang ia bisa. Memastikan agar hanya Sehun seoranglah yang mampu mendengar kata-katanya.

“Terima kasih banyak karena telah datang dalam hidupku, Sehun-a. Untuk segalanya di masa lalu dan masa yang akan datang, aku benar-benar berterima kasih.”

Sehun tersenyum lembut, tangannya terulur untuk menangkup wajah Soo Jung. Bibirnya kini semakin mendekat, membiarkan jarak di antara mereka menyempit dalam laju konstan. Lelaki itu berhenti sejenak di sudut bibir Soo Jung, kemudian bergumam, “Sama-sama, Sayang. Aku mencintaimu.”

Dan bibir mereka pun bertemu setelahnya. Menimbulkan decak lembut dan aura manis yang teramat kental, juga sorakan dari para tamu undangan yang kini menjadi penonton mereka. Kamera-kamera mulai mengeluarkan bunyi “klik” pelan, mengabadikan momen indah tersebut tanpa kenal lelah.

Momen yang akan selalu Soo Jung kenal sepanjang masa hidupnya, menjadi sebuah pengingat tersendiri bahwa mencapai sebuah kebahagiaan itu tidaklah sesusah yang ia bayangkan.

Sederhana saja.

 

Bersyukurlah, relakan semua yang menjadi keputusan takdir, tetap berusaha, dan—

 

 

KLIK!!

Soo Jung tersenyum selebar dan setulus yang ia bisa, membiarkan gurat ceria itu terpasang di wajahnya dengan setia.

 

 

—tersenyumlah. Karena seburuk apa pun keadaanmu, satu senyuman dapat memperbaiki segalanya dan membawa sejuta perbedaan.

.

.

.

just smile, and believe that everything’s gonna be fine

 

– END –


The end is hereeee!! /nangis mewek berjamaah sama Soo Jung, Min Hyuk, Taemin, Sehun, dan Jongin/

Aku tahu kalau ini sangat sangat terlambat, but hey! I tried my best to finish this fic. Ini pertama kalinya aku menulis hampir 20 halaman penuh lewat notes HP, memanfaatkan waktu luang di sela-sela tugas kuliah yang asdfgjkasl <– ceritanya curhat

Dan… aku juga mau bilang: TERIMA KASIH BANYAAAAK!!! Untuk semua readers yang masih mau baca ini, yang setia nunggu ini, yang kemarin di twitter pada antusias waktu aku bilang mau publish epilognya… serius, kalian berarti banget buat aku! Fic ini nggak bakal menemui kata “END” tanpa kalian :”)

Finally, don’t forget to leave your last comment for this fic!! Entah itu isinya tentang scene favorit, tokoh favorit kalian, atau malau couple terfavorit kalian, anything! Aku mau dengar pendapat kalian soal mereka, karena sejujurnya aku nyaris nangis waktu ngedit ini untuk yang terakhir kalinya T.T

Keep smiling and be happy!

See ya in another fic!!

regards,

Tsukiyamarisa

Advertisements

4 thoughts on “[Life-After-Life] Life and Afterlife [9/9]—Final/Epilogue

  1. vellavelve

    Thorr aku baru baca ff ini!! Telatnya pake banget banget kan!!!! Wohohoho
    Ini bagus pake banget thor!!! Aku suka aku suka !!!!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s