Sleepless

Standard

/ / S L E E P L E S S / /

Cast: [SHINee] Choi Minho and Lee Taemin, [f(x)] Choi Sulli || Duration: Vignette || Genre: Angst, Sad, Romance, slight!Fantasy || Rating: PG

Song recommendation:

SHINee – Sleepless Night (Don’t Leave)

*****

I’m waiting for you in every sleepless night that I spend alone

.

.

Ini bukan sekadar insomnia biasa.

Sudah beberapa hari terakhir ini, Minho mendapati matanya sulit untuk terpejam. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam otaknya, membuatnya tak kunjung tenang dan hatinya bergemuruh dalam kecemasan. Pikirannya terus melayang, memikirkan sosok seorang gadis berambut hitam sebahu dan bertubuh cukup tinggi. Seseorang yang akan selalu terpaut di hatinya, seseorang yang bernama Choi Jinri.

“Jinri-ya…”

Kala Minho membisikkan nama itu dengan nada sendu, angin bertiup semakin kencang dan gemerisik dedaunan yang bergesek pun seketika menjadi musik latarnya. Pemuda itu berdiri di depan pekarangan rumah Jinri, matanya memicing ke arah kamar sang gadis yang terletak di lantai dua. Daun jendelanya terbuka lebar, memberi sedikit akses kepada Minho untuk mengamati rupa manis itu.

Dari sini, Minho bisa melihat tubuh Jinri yang tengah membelakanginya, sibuk menyisir rambut menggunakan jari-jemarinya. Gadis itu sudah mengenakan piyama berwarna biru muda, siap untuk pergi ke alam mimpi.

Minho mendesah keras, manik kelamnya masih terpancang ke arah sana. Sedikit berharap agar penantiannya malam ini bisa berakhir, agar ia bisa segera mengistirahatkan raganya yang sudah terlampau lelah.

Sudah berapa hari Minho melewatkan waktu tidurnya? Ia sendiri juga tidak tahu. Mungkin tiga atau empat hari. Entahlah. Ia sudah cukup lama terjebak dalam kondisi seperti ini sampai-sampai detik waktu pun tak lagi terasa berarti.

“Jinri-ya, padahal aku hanya ingin memberitahumu sesuatu….” Minho berucap lagi, mendadak teringat pada frasa ‘aku mencintaimu’ yang tersimpan jauh di dalam lubuk hatinya. Bodohnya ia karena telah memendam rasa itu begitu lama. Kini, ketika ia hendak mengutarakannya, sang gadis malah berpaling dan tak mengakui eksistensinya. Menjatuhkan seorang Choi Minho ke dalam jurang sepi, membiarkannya terjebak dalam penantian setiap malam yang nyaris tanpa ujung.

Minho tahu bahwa ia tak akan bisa tidur dengan tenang sebelum Jinri mengetahui bagaimana isi hatinya yang sebenarnya.

Padahal ia sudah mencoba berbagai macam cara. Sejak beberapa hari yang lalu, ia sudah mengikuti Jinri kemana pun gadis itu pergi–mulai dari pagi hingga sore hari. Ia berusaha keras untuk menarik perhatian Jinri, membuat gadis itu tidak mengabaikan kehadirannya barang sejenak, dan memberi kesempatan pada Minho untuk menyatakan cintanya. Namun, nihil. Semuanya berakhir nihil dan sia-sia.

Jinri tidak mengacuhkannya dan satu-satunya cara terakhir yang mampu Minho pikirkan adalah dengan menunggu di depan rumah Jinri setiap malam. Berharap agar Jinri melihatnya yang sudah teramat setia menunggu, tidak peduli apakah angin dingin atau pekatnya kegelapan terkadang terasa begitu menganggu.

Sekali saja.

Satu kesempatan saja.

Hanya itulah yang Minho minta saat ini.

Tiba-tiba, Jinri melongokkan kepalanya ke luar jendela, kepalanya ditelengkan ke samping dengan ekspresi bingung. Sedetik kemudian, ia lantas menggeleng-gelengkan kepalanya seraya bergumam pelan, “Mungkin hanya perasaanku saja.”

Secepat kilat, Jinri pun berbalik dan bergegas menutup jendelanya, ciptakan bunyi berdebam pelan. Untuk kesekian kalinya, gadis itu tak menyadari kehadiran seorang lelaki di depan pintu gerbang rumahnya.

Minho mengembuskan napas pelan, tubuh tegapnya bersandar pada sebatang pohon yang kebetulan berjajar di sepanjang jalanan perumahan itu. Meskipun ini bukan kali pertama ia diabaikan, namun rasa sakit yang menyayat hati itu tetaplah ada. Ia sendiri heran mengapa sistem imunitas tubuhnya tak mampu membuat dirinya kebal akan rasa perih yang sudah berulang kali ia rasakan. Mungkin, virus bernama cinta ini memang membutuhkan jenis penanganan yang berbeda. Ini bukan jenis luka yang biasa ia rasakan kala terjatuh atau tergores benda tajam. Ini jauh lebih pekat dan menusuk daripada itu semua.

“Aku akan kembali besok, Jinri-ya.”

Dengan berat hati Minho pun memutuskan untuk melangkahkan kakinya menjauh dari rumah Jinri. Mungkin ini memang bukan saat yang tepat. Tidak apa-apa. Bukankah ia masih punya hari esok untuk mencoba?

Minho tersenyum kecut mendengar jalan pikirannya sendiri. Oh ya, ia memang masih punya kesempatan untuk mencoba. Namun, untuk melewatkan satu hari lagi penuh dengan penantian sama saja artinya dengan satu hal.

Malam ini, ia yakin bahwa kedua kelopaknya akan kembali menolak untuk menutup dan beristirahat.

***

“Aku bisa membantumu.”

Minho menatap lelaki bertubuh mungil di sampingnya, alis hitamnya yang bertautan menyiratkan rasa bingung. Taemin –nama lelaki asing ini –mengulum satu senyuman simpul dan mendaratkan tepukan pelan di atas pundak Minho. Ia memasukkan tangan ke dalam saku celananya, kemudian mengeluarkan selembar kertas dari dalam sana.

“Apa kau sudah mencoba meninggalkan surat?”

Minho menggeleng pelan.

“Kalau gadis itu tak bisa menyadari kehadiranmu, coba lakukan dengan cara ini. Setidaknya, masih ada kemungkinan bahwa ia akan membaca suratmu.”

Taemin mengulurkan kertas kosong itu ke tangan Minho beserta dengan sebuah pena berwarna hitam. Minho menggigit bibir bawahnya sejenak, memikirkan rangkaian kata-kata yang akan ia sampaikan melalui sepucuk surat ini.

“Bagaimana kau tahu kalau aku butuh bantuan?” Minho bertanya lirih, sebelah tangannya mulai menggoreskan mata pena membentuk untaian kalimat.

“Oh, kebetulan aku sering melihatmu menanti di depan rumah Jinri setiap malam. Kupikir, tidak ada salahnya untuk memberi sedikit pertolongan,” jawab Taemin sembari mengedikkan bahu. Minho mengangguk paham, pandangannya masih terfokus pada lembar putih di depan matanya.

Kali ini, ia tak boleh gagal lagi.

***

Tatkala Minho menginjakkan kakinya di halaman rumah Jinri malam itu, benaknya dipenuhi dengan secercah harapan dan rasa tak sabaran. Siang tadi, ia sudah meletakkan suratnya di depan rumah Jinri. Dan kini, ia datang lagi untuk menemui Jinri dan melihat apa tanggapan sang gadis terhadap pernyataan cintanya.

Apakah Jinri sudah menemukan surat sederhananya itu?

Sudahkah ia membacanya?

Bagaimana kira-kira reaksi gadis itu?

Berbagai pertanyaan berkecamuk di dalam benak Minho, membangun rasa cemas dan gugup yang berlebihan di dalam tubuhnya. Saat ini, ia hanya bisa berdoa agar Jinri menyadari keberadaannya dan mau berbicara empat mata dengannya.

“Kenapa kau tak pernah jujur, Choi Minho?”

Merasa namanya disebut-sebut, Minho lantas menghentikan langkahnya dan menyipitkan mata ke dalam kegelapan. Ia terpaku seketika itu juga, pupilnya melebar kala ia menyadari siapa pemilik dari suara yang baru saja melafalkan nama lengkapnya itu.

Choi Jinri.

Berbeda dengan malam-malam sebelumnya, gadis berambut pendek itu kini memilih untuk duduk di teras rumahnya sendirian. Pandangannya tertuju ke depan, kosong tanpa emosi. Di sebelah tangannya, ia memegang sepucuk surat yang sudah tampak kusut karena berulang kali dibaca.

Melihat pemandangan itu, Minho pun tak kuasa untuk menahan-nahan dirinya lagi. Kakinya bergerak maju tanpa dikomando, senyum di bibirnya perlahan-lahan mengembang. Apakah ini akhir dari penantian yang telah mengorbankan waktu tidurnya?

“Jinri…” Minho memanggil nama sang gadis, lirih. Diulurkannya lengan kokoh itu, berniat untuk mengelus puncak kepala Jinri dan melampiaskan kerinduannya selama ini. Namun, belum sempat Minho mendaratkan telapak tangannya di atas sana, gerakan itu malah terhenti akibat kata-kata membingungkan yang keluar dari mulut Jinri.

“Kalau saja kau tidak menutupinya… kalau saja kau mengatakannya sejak dulu…  mungkin kita masih bisa menikmati sisa waktumu bersama-sama.”

“Hei, Jinri… aku ada di sini.”

“Kau bodoh, sangat bodoh. Tetapi, aku mencintaimu. Walaupun ini sudah tak lagi mungkin, tapi aku tetap mencintaimu.”

Minho menarik tangannya kembali, merasakan sepercik kemarahan dan rasa kesal yang membakar dari dasar hatinya. Apa maksud Jinri berkata seperti itu? Apanya yang tidak mungkin? Minho berada di sini, menanti sebuah jawaban manis untuk didengar! Kenapa malah hal seperti ini yang ia terima?

“Apa yang tak lagi mungkin? Apa?! Jinri aku ada di sini! Tidak bisakah kau melihatku?” Minho berseru keras seraya jatuh berlutut di depan sosok Jinri yang tengah terduduk dan terisak tanpa suara. Rasa frustasi memuncak di dalam dirinya, kesabarannya habis sudah. Jinri harus menyadari kehadirannya! Maka, tanpa pikir panjang, pemuda itu pun mengulurkan kedua lengannya untuk memeluk Jinri.

Sayang, yang didapatkannya hanyalah angin belaka.

Ia tak bisa menyentuh tubuh Jinri.

Apa yang terjadi di sini?

Selain itu, Jinri pun tampaknya sungguh-sungguh tidak bisa menyadari keberadaan Minho, padahal lelaki itu berdiri dalam jarak yang teramat dekat dengannya.

Kenapa? Apa ada sesuatu yang salah?

“Apa kau belum menyadarinya?”

Seiring dengan desau angin, sesosok makhluk pun mulai memadat dan menampakkan wujudnya di depan mata Minho. Suaranya yang tenang dan damai menembus indera pendengaran Minho, nadanya sarat akan rasa pengertian.

“Taemin.”

“Choi Minho. Sudah kuduga. Kau belum menyadari apa wujudmu sekarang.”

“Apa maksudmu?” tuntut Minho, pandangannya kini teralihkan pada Taemin sepenuhnya. Sementara itu, suara isakan Jinri yang semakin menderas pun menjadi latar belakang percakapan mereka.

“Kau tidak bisa menyentuhnya. Bukankah itu sudah jelas?”

“Apa yang sudah jel–“

“Ke-kenapa di saat aku menerima suratmu i-ini… kenapa di saat kau me-menyatakan cinta… aku harus menerima kabar dari ibumu bahwa… bahwa kau sudah meninggal?” ucap Jinri terbata-bata, seolah bisa mendengar pertanyaan Taemin dan mengerti kebingungan yang dirasakan oleh Minho.

“Aku… apa?

Taemin mengendikkan kepalanya ke arah Jinri, mengindikasikan bahwa jawaban atas pertanyaan Minho barusan sudah terpapar dengan jelasnya dalam perkataan Jinri.

“U-untuk apa kaukirimkan surat ini jika pada akhirnya kau malah pergi?”

“Aku sudah… meninggal?” Minho berbisik pelan, tak percaya. Irisnya terarah pada Taemin untuk meminta penjelasan. Yang dilirik hanya bisa mengangguk datar, memberikan penegasan atas keraguan Minho.

“Aku adalah grim reaper–dewa kematian –yang bertugas untuk mengantarmu ke alam baka. Sudah beberapa hari ini aku mengikutimu, menunggu sampai kau menyelesaikan satu urusan tertinggalmu di dunia,” jelas Taemin panjang lebar. Minho tertegun sejenak, kali ini benar-benar mengabaikan sedu-sedan tanpa henti yang dikeluarkan Jinri.

Jadi, itulah alasan mengapa Jinri tidak bisa menyadari kehadirannya.

Ia bukan manusia.

Demi Tuhan! Ternyata ia hanyalah arwah, sebentuk jiwa yang sudah terpisah dari selongsong raganya. Apa ia mengharapkan seorang gadis manusia bisa membalas cintanya?

Sadarlah Choi Minho!

Minho memijat-mijat pelipisnya, kenangan terakhirnya sebagai manusia fana mendadak menyerbu masuk ke dalam rongga kepalanya. Sekarang, ia bisa mengingat dengan jelas semua detail kejadian yang ia alami pada hari terakhirnya.

Ia mengalami kecelakaan mobil.

Minho ingat, siang itu, ia tengah berkendara bersama dengan teman-teman sekampusnya di Jepang. Mereka hendak menghabiskan waktu liburan dengan bermain bersama, sayangnya nasib baik tak berpihak pada mereka. Sebuah truk barang berkecepatan tinggi melontarkan mobil sedan mereka ke bahu jalan hingga terbalik, merenggut nyawa seorang anak manusia.

Itu dirinya.

Minho meninggal hari itu dan –tanpa sadar –arwahnya malah berkelana kembali ke Korea demi seorang Choi Jinri. Lebih tepatnya, untuk menyampaikan pesan terakhir dan rasa cintanya kepada Jinri yang tak pernah terucapkan selama dia hidup.

Kalau begitu, apa gunanya semua penantian yang Minho hadapi selama ini? Berhari-hari ia membuntuti Jinri, melewati malam tanpa teman, hanya untuk dihadapkan pada sebuah kenyataan pahit seperti ini.

“A-aku bodoh! Aku bodoh, Jinri-ya… a-aku…” Minho mengeluarkan tawa miris sembari merangkak mendekati Jinri. Gadis itu masih setia mengeluarkan butir-butir kristal beningnya, sebuah pemandangan yang malah menambah sesak di dalam dada.

“Kau punya waktu satu menit. Kita harus segera melanjutkan perjalanan,” sela Taemin dengan suara pelan. Minho mengangguk paham, badannya kini beringsut semakin dekat dengan Jinri.

Ia tahu bahwa semua ini percuma. Pesan terakhirnya memang tersampaikan, namun realita tak akan mengizinkan keduanya kembali bersua. Semuanya sudah berakhir di sini. Minho akan segera pergi dan ia tak akan bisa melakukan apa pun untuk mencegahnya.

“Minho, waktumu sudah habis.”

Minho tahu itu.

Ia bisa merasakan tubuhnya yang semakin ringan dan melayang, ia juga bisa melihat cahaya terang yang bersinar dari dalam dirinya dan membuat bentuk raganya mulai memudar. Taemin mulai menghitung mundur, menggemakan sedikit kengerian di dalam sudut hati Minho.

“Tiga, dua….”

“Maaf Jinri-ya, tapi tolong… tolong jangan pernah sesali rasa cintamu kepadaku. Setidaknya itu akan membuat penantian terakhirku ini menjadi lebih berharga.”

“Satu.”

Dan semuanya pun pudar, hilang ditelan cahaya.

***

Pada akhirnya, Minho pun menyadari sesuatu.

Ia bukannya terserang insomnia akut atau mengalami semacam gangguan tidur.

Mana mungkin ia tidak bisa tidur, jika pada kenyataannya….

…ia memang sudah terjebak dalam tidur panjang yang abadi.

.

.

.

Because you’ve got my last message,

I think I can go to face my endless-and-forever sleep now.

 

So goodbye,

and I love you.

– END –

Advertisements

7 thoughts on “Sleepless

  1. shin sunghee

    SUKA BANGET!!!
    MINSULL! aaakkk (>o<) *ga nyantai*

    suka bgt jg sm kt2 terakhirnya yg

    "Mana mungkin ia tidak bisa tidur,
    jika pada kenyataannya….
    …ia memang sudah terjebak
    dalam tidur panjang yang abadi."

    busyeet. dewa bgt dah authornya..

    Like

  2. nadanstn

    aaaah tadinya aku pikir yang jadi arwah itu jinri… gataunya minho. aku baru sadar kalo aku ngeship kopel super imut sesama-visual-sesama-tinggi-sesama-choi ini setelah nonton to the beautiful you. kenapa ff ini sedih sekali.. kenapa… tapi ff ini keren. daebak banget deh pokoknyaa.. aku sukaa<3

    Like

    • eoh? O___O Jinri yang jadi arwah? nggak kok, dia masih manusia, ini Minho-nya yg jadi arwah makanya Jinri ga bisa liat dia gitu~

      nah, kamu sama kaya aku, hahahaha… aku juga habis nonton TTBY jadi ngeship mereka gitu, apalagi momen mereka di Running Man itu kan juga so sweeet > <

      makasih ya Nada (eh boleh panggil gitu?) udah baca ini 😀

      Like

  3. Mahda탬

    eoh? jadi mino udah meninggal disini? ahhh padahal aku mengharapkan akhir yg bahagia buat choi couple 😦
    well menurutku mereka emang keliatan cocok banget

    Like

    • iya udah meninggal T___T
      aku ada sih fic MinSsul satu yang happy, coba cari aja di Fic-Shelf itu /malahpromosi/
      iya mereka cocok, habis lucu sih kalo lagi berduaan :3

      thankseeuuu 😀

      Like

  4. kyaaaaaaa my fav kapel here! ><
    kak Amer juga suka TTBY? akuuu juga 😀
    j-jadi… Minho sebenernya udah—
    KAKAAAAA… KENAPA KAKA BUAT SAD ENDING SEPERTI INI??? NYESEK BINGGOOOOO T^T
    AKU KIRA MINRI/? BAKALAN BERSAMA, GATAUNYAA—

    ah, aku tak mampu mengatakan apapun lagi :""

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s