Pick One!

Standard

a movie by Tsukiyamarisa

/ / P I C K  O N E ! / /

Cast: [EXO-K] Kim Jongin, [SHINee] Lee Taemin, and You || Duration: Vignette || Genre: Friendship, Fluff, Romance, slight! Comedy || Rating: PG

Note:

Aslinya sih saya lagi hiatus, tapi entah kenapa dua orang ini begitu mengundang untuk dinistai. Word vomit di tengah writer’s block, jadi maafkan isinya yang begitu absurd.

***

– When a friendship filled with love, jealousy, and stupid dance competition –

 

“Kaupikir kita sebaiknya menggunakan lagu ini?” Taemin bertanya padaku dengan alis terangkat, tangannya masih sibuk memilah-milah daftar lagu yang akan digunakan dalam kompetisi. Aku mengangguk, bibirku mengerucut maju sementara kedua manikku sibuk mengamati judul-judul lagu yang diberikan oleh pelatih kami.

“Setidaknya kita sudah pernah berlatih menggunakan lagu itu sekali, tidak akan butuh waktu lama untuk menguasainya,” ucapku seraya mengerutkan kening.

“Oke, aku setuju saja. Lagipula, Guru Hwang memang keterlaluan! Dance competition itu akan diadakan sepuluh hari lagi, dan ia baru memberitahu kita sekarang?” Taemin berseru dengan nada dinaikkan, tercabik antara rasa kesal dan tak mengerti.

Ssshh! Kalau dia sampai mendengarmu, bisa-bisa aku kehilangan partner dalam lomba besok,” gumamku memperingatkan sembari melirik ke kiri dan kanan.

“Hei, ayolah, kita hanya berdua di sini. Well, kecuali kau menganggap hantu penjaga tempat ini masuk dalam hitungan sih.”

Kontan aku pun mendelik ke arah Taemin, sebal. Anak ini… bukankah sudah kubilang aku benci segala pembicaraan yang ada sangkut pautnya dengan makhluk halus?

“Huuu, lihat ke belakangmu, Nona….” Taemin kini berusaha membuat bentuk-bentuk yang mengerikan dengan wajahnya, suaranya ia buat melengking tinggi untuk menakut-nakutiku. Aku memelototinya dan dalam waktu kurang dari sedetik, tasku pun sudah mendarat di atas kepalanya.

“Ouch!”

“Tidak lucu, Lee Taemin!”

Kami saling memasang tampang cemberut kepada satu sama lain, kemudian tawa pun mengambil alih segalanya. Ah, konyol seperti biasanya. Aku memang tidak pernah bisa marah atau bersedih terlalu lama jika sedang bersama dengan sahabatku yang satu ini.

“Baiklah, ayo kita dengarkan lagunya dan mulai berlatih,” ucap Taemin memotong canda tawa kami. Ia sudah memegang iPod-nya dan memasang sebelah headset di telinga kirinya. Aku beringsut mendekat, meraih headset yang satu lagi, kemudian memberi tanda bahwa aku sudah siap. Taemin langsung menekan tombol play dan musik berirama cepat yang sudah lumayan kukenal pun mengalir memasuki gendang telingaku.

Kami mengetuk-ngetukkan jemari di atas lantai kayu, berusaha menyesuaikan tempo serta membayangkan gerakan-gerakan yang harus dilakukan. Berputar, meloncat, lalu sedikit shuffle dance berpasangan, kemudian–

BRAAAK!!

Aku terlonjak kaget, semua pikiranku buyar seketika. Otomatis kuarahkan manikku ke arah pintu ruang latihan yang sudah terbuka lebar, mendapati sosok sahabat baikku yang lain, Jongin, tengah berdiri di sana.

“Oh, Jongin-a! Kau dari mana saja?” Taemin mengangkat sebelah tangannya untuk menyapa Jongin, senyum lebar terkembang di wajahnya. Namun, alih-alih menjawab, Jongin malah melemparkan pandangan menusuk ke arah kami berdua.

“Kenapa? Guru Hwang memarahimu lagi?” Kali ini aku yang bersuara, mencoba bersimpati. Guru Hwang memang terkenal dengan sikapnya yang tegas dan menyebalkan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa semua siswa di tempat les dance ini tidak menyukai beliau.

“Kalian sibuk?”

“Seperti yang kaulihat. Sedang memilih lagu dan berlatih untuk kompetisi mendatang.” Taemin mengedikkan bahu seolah hal itu sudah teramat jelas.

“Berdua?”

“Ini kan dance berpasangan, Jongin,” imbuhku cepat. Kedua alis hitam Jongin bertautan, matanya memicing tajam.

“Ya sudah, sepertinya kalian sibuk. Maaf menganggu.”

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Jongin langsung berderap cepat meninggalkan ruangan, lengkap dengan suara pintu yang dibanting dan memekakkan telinga. Aku berjengit, kaget. Kulirik Taemin dari sudut mata dan ia pun rupanya tengah memasang raut wajah yang sama persis sepertiku.

Anak itu kenapa sih?

***

“One, two, three, four….”

Aku berputar cepat, membiarkan lengan Taemin yang terjulur menangkapku erat. Musik masih mengalun tanpa henti, seolah tak memberi kami kesempatan untuk bernapas barang sejenak saja. Dengan sigap, kami sudah beralih pada gerakan selanjutnya di mana aku harus membiarkan Taemin mengangkat tubuhku ke udara.

“Five, six, seven, eight.” Sayup-sayup, suara Guru Hwang yang tengah memberi aba-aba memasuki telingaku. Kufokuskan pikiranku pada gerakan yang satu ini, tanganku siap menumpu pada bahu Taemin sementara kedua tangannya kini berada pada pinggangku. Tak butuh waktu lama, aku bisa merasakan badanku yang terangkat dengan mudah ke atas dan mendarat lagi ke atas lantai kayu dalam waktu beberapa detik saja.

Musik sudah mengalun menuju akhir dan sekilas aku melihat Taemin yang tersenyum untuk menyemangatiku. Aku membalas senyumnya sementara seluruh alat gerakku sudah bersiap untuk melakukan posisi final. Kukalungkan kedua lenganku pada leher Taemin sebagai tumpuan dan kubiarkan telapak tangannya menyangga punggungku yang melengkung ke belakang.

Dengan satu hentakan keras, musik pun berhenti bersuara. Guru Hwang mengangkat jempolnya membentuk tanda ‘oke’ dan aku pun menghela napas lega. Akhirnya hasil latihan kami bisa memuaskan beliau juga.

“Tadi itu sudah bagus. Namun, seperti yang sudah kalian tahu, masih ada dua hari lagi sebelum lomba berlangsung. Kuharap kalian tidak lantas berpuas diri dan berhenti berlatih. Pertahankan kerja kalian, mengerti?”

Kami mengangguk bersamaan kemudian membungkuk dalam untuk memberi hormat. Guru Hwang menepuk pundak kami dengan sikap tegas, kemudian bergegas keluar dari ruangan tanpa berkata sepatah kata pun lagi. Benar-benar hari yang melelahkan!

“Ini,” Taemin berjalan menghampiriku seraya menyodorkan tas dan sebuah botol minum. Aku menggumamkan ucapan terima kasihku dan langsung meneguk air itu. Napasku masih terengah-engah dan seluruh sendiku terasa pegal karena terlalu banyak berlatih.

“Omong-omong, kautahu apa yang terjadi pada Jongin?” Taemin memulai pembicaraan sembari menyeka keringatnya dengan handuk kecil.

Aku menghentikan keasyikanku menghabiskan isi botol minum, helaan napas lesu keluar dari kedua belah bibirku. Pikiranku langsung tertuju pada Jongin yang tiba-tiba saja menjauhi kami berdua selama beberapa hari terakhir ini, tepatnya sejak kejadian membanting pintu ruang latihan yang diiringi dengan omelan tidak jelasnya itu.

“Entahlah,” jawabku singkat.

“Kau sudah berbicara dengannya?”

Aku menggeleng pelan. Jujur saja, Jongin bisa berubah menjadi sangat merepotkan kala ia sedang merajuk seperti ini. Ditambah lagi, aku sama sekali tidak tahu masalah macam apa yang sebenarnya sedang menganggu pikirannya. Kalau sudah begini, aku harus bagaimana?

“Kau kan tetangganya. Coba kaucari dia nanti.”

“Tentu, asal dia tidak melarikan diri dariku saja,” balasku sembari mengangkat bahu. Sebenarnya, aku sudah berulang kali berusaha mengunjungi rumahnya, namun Bibi Kim –ibu Jongin –selalu berkata bahwa anaknya itu tidak ada di rumah.

“Oke. Sebenarnya aku sudah bisa menebak apa persoalannya sih, tapi….” Taemin menggantungkan kata-katanya, sementara aku menunggu dengan tak sabaran.

“Apa?”

“Tapi kupikir akan lebih asyik jika kau mencari tahu sendiri. Sungguh, lebih baik kalian bertemu dan berbicara baik-baik, ya? Aku yakin kau bisa melakukannya! Dah!” Taemin berkata tanpa jeda dan bergegas keluar dari ruang latihan sambil melambaikan tangan. Meninggalkanku termenung sendirian dengan tampang kebingungan.

Lebih asyik mencari tahu sendiri?

Sejak kapan menghadapi Jongin yang sedang marah-marah tidak jelas itu asyik?

Aku memutar bola mataku, heran. Sungguh, mereka berdua ini kenapa sih? Jadi Taemin sudah bisa menebak apa penyebab di balik semua keanehan Jongin? Kalau begitu, mengapa ia harus memintaku berbicara kepadanya? Kenapa bukan ia sendiri saja yang datang berkunjung ke rumah Jongin dan membantunya untuk menyelesaikan segala masalah? Oh, dan lagi, kenapa ia bersikap seakan-akan sedang menyembunyikan sesuatu?

Ck, Lee Taemin, Kim Jongin! Kalian benar-benar membuat hidupku susah saja!

***

Tuk! Tuk!

Aku melempari kaca jendela kamar Jongin yang terletak di lantai dua dengan batu-batu kecil yang tadi kutemukan, berharap agar ia bisa mendengarnya. Percuma saja jika aku berusaha masuk melalui pintu depan, paling aku hanya akan disambut oleh ibu Jongin dengan sejuta alasan bahwa anaknya sedang tidak berada di rumah. Memangnya ia kira semudah itu membohongiku, hah?

 

Tuk!

 

“Ayolah, Kim Jongin,” seruku gemas sembari melangkah mondar-mandir. Aku meraih beberapa batu yang lebih besar, bersiap untuk melemparkannya kembali. Anak ini benar-benar merepotkan!

 

Tuk! Tuk!

 

TUK!

 

Ya! Apa yang sedang kaulakukan, ha?!”

Kedua daun jendela itu mendadak saja berayun membuka, membuatku hampir jatuh terjungkal ke belakang. Aku buru-buru merundukkan tubuhku di balik semak-semak dan membuang semua batu yang menjadi bukti ‘kejahatanku’ barusan.

Ya! Kalau kau masih mau melempari jendela kamar–”

“Kalau kau mau berhenti bersikap kekanak-kanakan, aku akan berhenti,” potongku lantang seraya melongokkan kepala dari balik persembunyianku.

“Apa yang–”

“Turunlah kemari, Jongin. Aku mau berbicara denganmu,” tambahku dengan nada sedikit memaksa. Jongin menggeleng, kedua lengannya kini tersilang di depan dada.

“Tidak mau.”

“Astaga Kim Jongin, kau mau membuat tekanan darahku naik? Memangnya aku salah apa, sih?”

“Kau belum sadar?”

“Bagaimana aku bisa sadar kalau kau tidak mau berbicara padaku? Kau yang salah, bodoh! Kenapa kau menghindari aku dan Taemin? Kenapa kau merajuk tidak jelas begitu?” seruku bertubi-tubi seraya menudingkan telunjukku ke arahnya. Jongin memajukan bibirnya, kentara sekali ia tidak terima mendengar tuduhanku.

“Tapi kan aku–“

“Turun. Sekarang.” Aku ikut bersedekap, bertekad untuk memaksanya turun ke bawah sini. Jongin menundukkan kepalanya sambil mengeluarkan gerutuan tidak jelas, tangannya terayun untuk membanting jendela kamarnya hingga menutup. Kuketuk-ketukkan ujung sepatuku di atas tanah, berusaha untuk meredakan emosi sesaat yang tadi melandaku. Kali ini aku cukup yakin bahwa Jongin tidak akan kabur lagi. Ia tidak mungkin bisa terus-menerus mengabaikan kami seperti itu.

“Apa maumu?” Suara Jongin tiba-tiba saja terdengar begitu jelas. Aku menoleh, mendapati dirinya yang sedang berjalan keluar dan menghampiriku.

Bingo! Seratus untuk diriku!

Sudah kubilang kan, ia tidak mungkin melarikan diri.

“Bukankah sudah jelas? Aku ingin tahu apa yang salah denganku dan Taemin. Kau marah pada kami? Kenapa?” Aku kembali bertanya, kali ini dengan nada yang lebih lunak. Jongin memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, kakinya sibuk menendang-nendang butiran kerikil yang berserakan–hasil dari perbuatanku tadi.

“Aku tidak tahu apakah yang kurasakan ini bisa disebut marah atau tidak,” gumam Jongin pelan.

“Memangnya apa yang kaurasakan? Kalau kau menyimpannya sendiri, mana mungkin kami bisa membantu, hm?”

“Membantu? Bagaimana mungkin kalian bisa membantu jika masalahnya ada pada dance competition yang kalian ikuti?”

Alisku serta-merta terangkat mendengar ucapannya itu. Memangnya apa yang salah dengan kompetisi itu? Itu hanyalah lomba tahunan biasa, acara yang sudah sering sekali kami bertiga ikuti. Namun, khusus untuk tahun ini, Jongin sama sekali tidak bisa berpatisipasi. Cedera yang ia alami sebulan lalu rupanya belum sembuh benar, oleh karena itu ia sama sekali tidak mendapat izin dari pelatih untuk memamerkan bakatnya di arena lomba.

Itu dia!

Apa dia… iri?

“Kau… kesal karena tidak bisa ikut lomba?” tebakku dengan nada berhati-hati. Jongin mengangkat kepalanya, menggeleng pelan, dan sedetik berikutnya ia pun mengangguk ragu. Bimbang.

“Demi Tuhan, Jongin, jadi kau hanya… errr, iri?”

“Aku tidak iri!” bantah Jongin langsung. Aku menggembungkan pipiku, jengah. Kenapa ia tidak mau mengaku saja, sih?

“Lalu apa namanya kalau bukan iri? Kau marah karena kami ikut lomba dan kau tidak, iya kan?” selidikku lagi.

“Tidak!”

“Iya!”

“Kubilang tidak, ya tidak! Ngotot sekali sih!”

“Iya! Kau ingin memamerkan solo dance­-mu, kan?”

“Bukan!”

“Kim Jongin! Iya… iya… iya!”

“Bukan! Aku hanya kesal melihatmu berpasangan dengan Taemin! Biasanya, posisi itu jatuh padaku! Seharusnya, aku yang memeluk, menggendong, dan mengajakmu melakukan couple dance di atas panggung! Sudah mengerti?!” sahut Jongin panjang lebar. Ia melangkah maju menghampiriku, kedua tangannya mencengkeram bahuku erat-erat.

Sementara itu, aku hanya bisa terdiam dengan mulut terbuka lebar dan mata membelalak tak percaya.

Kata-kata Jongin barusan… apa dia… cemburu?

Pikiran itu menyentakkanku sedemikian rupa, memberi warna kemerahan pada kedua belah pipiku.

Aku tidak bisa memungkiri bahwa di balik persahabatanku dengan Jongin dan Taemin, ada sebuah ketimpangan yang selama ini selalu kusembunyikan. Aku menyayangi mereka berdua, sangat. Tetapi, rasa sayang itu sudah berubah entah sejak kapan. Aku sayang Taemin, tetapi aku mencintai Jongin. Satu perbedaan besar yang membuat segala tingkah-polahku begitu berbeda di hadapan keduanya.

Dengan Taemin, bisa dibilang bahwa kami sudah seperti saudara. Ia adalah orang yang bisa membuatku tertawa dengan candaannya, sekaligus membuatku kesal karena tingkah usilnya. Ia membuatku nyaman. Kami sudah mengenal satu sama lain selama bertahun-tahun lamanya, namun aku tidak pernah berpikir untuk menyimpan rasa kepadanya barang sekalipun. Persahabatan saja sudah cukup bagi kami.

Sebaliknya, aku tidak pernah merasa sebebas dan selepas itu dengan Jongin. Ia tahu bagaimana cara membuatku tersenyum dan juga bagaimana cara memberiku kenyamanan, tetapi apa yang ia berikan itu tidaklah benar-benar sama dengan apa yang Taemin sodorkan kepadaku. Selalu ada degup jantung tak beraturan, pipi yang merona, dan letupan-letupan kecil yang mengiringi semua perhatiannya kepadaku.

Sesederhana itu dan aku pun tahu bahwa aku sudah jatuh cinta kepadanya.

“Hei, sudah mengerti?” Jongin melambaikan tangannya di depan wajahku, mengembalikanku ke alam nyata. Tanpa kusadari, punggungku sudah bersandar pada batang sebuah pohon yang berada di pekarangan rumahnya, sementara kedua lengan kokohnya berada di samping kanan-kiriku layaknya perangkap.

Skak mat!

Aku benar-benar terpojok sekarang.

“Mengerti apa?” tanyaku balik, sedikit berpura-pura bodoh.

“Sudahkah kau mengerti bahwa aku tidak akan bisa memaafkan Taemin yang terus menyentuhmu seperti itu, sementara di sini aku terbakar api cemburu?” Jongin memajukan tubuhnya semakin dekat padaku, napas hangatnya kini membelai-belai sisi leherku. Tanpa peringatan, ia pun meletakkan kepalanya di atas bahuku, bisikannya masih terus menguar lembut di sana.

“Kim Jongin…”

“Aku tahu kalau Taemin itu sahabatku, tapi aku juga mencintaimu.”

Detik itu juga, aku bersumpah bahwa saluran napasku mendadak buntu dan jantungku serasa berhenti berdetak. Ia… apa? Mencintaiku? Selama ini aku berusaha menyembunyikan perasaanku rapat-rapat, tetapi lihat apa yang ia perbuat sekarang. Kalau sudah begini, aku bisa bagaimana? Menyangkal isi hatiku sendiri?

“Jongin, aku dan Taemin melakukan semua gerakan itu karena lomba. Tidak ada yang lain, sungguh. Kami hanya sahabat.”

“Tetap saja, aku masih cem–“

“Dengar Kim Jongin,” seruku tegas seraya mendorong tubuhnya sedikit menjauh. Kutangkupkan kedua tanganku pada pipinya, memaksa manik kelamnya untuk menatapku dalam-dalam. Aku menghela napas perlahan, kemudian melanjutkan, “Apa semua sikap anehmu ini akan berhenti jika aku berkata bahwa aku juga cinta padamu? Apa kau bisa berhenti marah-marah tidak jelas dan cemburu pada kami?”

Oh, astaga, aku benar-benar mengatakannya.

“Kau juga–“

“Ya. Aku menyimpan rasa yang sama kepadamu, Kim Jongin. Jadi bisakah kau berhenti bersikap kekanak-kanakan sekarang? Toh, kau sudah tahu isi hatiku.”

Jongin terkekeh riang, kedua lengannya tiba-tiba saja menarikku masuk ke dalam pelukannya. Ia membawaku berputar-putar sejenak, senyum lebar itu masih saja terpasang di wajahnya. Barulah ketika ia menghentikan pergerakan itu, kedua matanya yang memandangiku tanpa jeda berubah menjadi serius.

“Oke. Aku tidak akan menjauhi Taemin lagi. Aku tidak akan marah pada kalian lagi.”

“Itu bagus.”

Jongin tertawa lagi, kepalanya kini disandarkan di atas puncak kepalaku.

“Tapi, maaf… aku masih akan cemburu pada gerakan dance yang kalian lakukan.”

***

“Pokoknya aku tidak mau tahu. Kau sendiri yang jelaskan pada Taemin. Aku tidak ikut-ikutan,” protesku kesal seraya melangkah menuju ruang latihan. Lengan Jongin masih tersampir di atas bahuku, menolak untuk dilepaskan barang sedetik pun.

“Tidak masalah.”

Aku mengembuskan napas panjang, kemudian mendorong kenop pintu ruang latihan hingga terbuka. Taemin sudah berdiri di dalam sana, sedang melakukan pemanasan. Ia segera menoleh begitu melihat kami masuk, tawa bernada puas meluncur keluar dari mulutnya.

“Aku benar, kan. Lihat siapa yang baru saja jadian di sini,” seru Taemin seraya menepukkan tangannya. Aku mengerutkan kening, mendadak teringat pada kata-kata Taemin kemarin.

“Jadi kau… menyuruhku berbicara pada Jongin karena tahu bahwa ia cemburu?” tanyaku perlahan. Taemin mengangguk mantap, cengiran lebar terpasang di bibirnya.

“Memangnya apa lagi? Setiap tahun kalian selalu berpasangan dalam lomba dan tidak pernah ada masalah yang terjadi. Lalu, tahun ini, aku menjadi pasanganmu dan… bam! Masalah pun meledak,” gurau Taemin sembari mengedipkan sebelah matanya.

“Terserah kau saja. Yang pasti, ia sudah memilihku. Ingat itu, Lee Taemin,” desis Jongin sembari merangkulku lebih erat ke dalam dekapannya.

“Oh, begitu? Tapi untuk hari ini dan lomba besok, ia akan memilihku.”

Jongin mendelik kesal dan langsung mendorong bahu Taemin ke belakang. Ya ampun, dua orang ini….

“Ia milikku. Kau,” Jongin menunjuk ke arah Taemin dengan sikap mengancam, kemudian berkata, “jangan macam-macam. Kau boleh menyentuhnya, tapi bukan berarti ia milikmu. Paham?”

“Itu sih terserah padanya. Ia memilihmu atau aku?” Taemin melanjutkan gurauannya. Jongin langsung melepaskan lengannya yang sedari tadi membelitku, kemudian menatapku tanpa berkedip. Sorot matanya seolah mengisyaratkanku untuk segera memilihnya.

“Oke, oke. Ayo kita akhiri candaan tidak penting ini,” putusku pada akhirnya. “Kau tahu aku sudah memilihmu, Jongin, dan aku tidak akan berkhianat. Jadi, relakan dulu aku bersama Taemin selama dua hari ini, ya?”

Jongin memainkan ujung sepatunya dan menggigit bibir bawahnya, masih tampak tidak rela. Kutepuk punggungnya pelan, berusaha meredakan kecemasan tidak pentingnya itu. Sungguh, kekasihku ini harus belajar bagaimana caranya mengendalikan emosi dan rasa cemburu.

“Baiklah. Dengan satu syarat.”

Aku menunggu dengan sabar, sementara di belakang kami Taemin sudah kembali sibuk melanjutkan kegiatan pemanasannya. Well, meskipun begitu, aku yakin bahwa diam-diam dia pasti menguping.

“Ini syaratnya.”

Jongin memajukan tubuhnya, kemudian mendaratkan bibirnya di atas milikku tanpa aba-aba. Singkat, namun rasa manis dan getaran hangat itu langsung menjalar ke sekujur tubuhku seperti api. Membakar.

“Oke, aku percaya padamu dan Taemin. Sampai nanti.” Jongin langsung melesat pergi, meninggalkanku yang masih diam terpaku. Kudengar tawa terkikik Taemin yang menjadi latar belakang kejadian memalukan ini, sementara seluruh wajahku pun mulai memerah seperti apel.

Aku mengerjap beberapa kali.

Taemin masih tertawa sambil berguling-guling di atas lantai.

“DIAM KAU LEE TAEMIN! DAN KIM JONGIN, KEMBALI KEMARI!!”

 

– kkeut –

Advertisements

10 thoughts on “Pick One!

  1. olivpuput

    Cerita ini udah pernah di publish di IFK yah?
    Aku udah pernah komen disana atau belom yah? *mendadak amnesia gegara Lay (?)*

    Kai kayaknya disini Jealous banget…
    Taemin juga! -_- *Tadi mau bilang apa yah? Lupa T_T*

    Ada satu bagian dimana aku berasa bahwa hatiku jadi berbunga-bunga.
    Itu waktu Kai nanya, apakah dia sudah mengerti mengapa ia tak memaafkan Taemin yang terus menyentuhnya. T_T
    Errr… itu bikin … nggak bisa dijelasin dengan kata-kata. tapi pokoknya bikin jealous.
    *Pengen punya cowok kayak Kai T_T*

    dan terakhirnya, Taemin parah -_-”
    Masa’ cuma kayak gitu aja jadi ketawa guling-guling.-_-”
    Apa yang terlalu lucu di bagian itu?
    *Coba aja kalo di LAL dia kayak gitu, kurasa aku bakal ngakak setengah mati ngebayanginnya -_-“

    Like

    • iya ini juga pernah aku publish di IFK sih~
      ahaha, gapapa lah komen lagi, toh tetep aku terima kok xD

      Iya, kai disini jealous banget… kayaknya dia nggak terima kalo aku deket-deket sama Taemin dan harus ikut lomba dance sama dia gitu, huhuhu /apasihmer/
      ah! dan aku juga mau bangetlah kalo punya cowok kaya gini… cemburunya malah imut dan bikin berbunga-bunga gitu kan ya *o*

      hoho, dan jangan bayangin Taemin di LAL kaya gini -___- LAL kan versi dewasa dia, ini versi koplaknya dia aja xD

      thanks ya Oliv, dan maaf telat banget ini balesannya u___u

      Like

      • olivpuput

        Kkkkkkk~
        Eonnie deket sama Taem? O_O *tarik Kai*
        eonnie… bukannya Taem itu sama Naeun yah? O_o
        *Kayaknya aku sekarang Taeun Shipper gegara sering banget nonton WGM*

        Hehe… kan jadinya lucu banget kalo misal di LAL dia kayak gitu. tuh cerita pasti bakal berubah =.= #abaikan

        Sama-sama eonnie ^^
        nggak apa-apa kok ^^ aku selalu setia menunggu balesan komennya eonnie bersama Kai (?)

        Like

  2. Mahda탬

    ayay! pick one! i’ll pick taemin for sure kkk~ 😆
    haha lucu banget cerita ini, kalo cemburunya imut gini sih gapapa kyknya, malah enak liatnya. haha gapapa itu jonginnya diambil aja, tapi taemin buatku mwehehe 😈

    Like

    • ihihi, oke kamu Taemin biased ya? keliatan tuh dari uname kamu… aku juga demen Taem kok, tapi saudara kembar (?) dia yang satu ini aka Kai emang bikin aku lebih tergila-gila xD

      iyap silakan Taeminnya diambil, muehehehe xD
      thanks ya Mahda 😀

      Like

  3. hai, Kak Amer! kenalin, aku Isan (note: cewek! :’v), 97line. salam kenal ya kak! ^^ ini pertama kalinya aku berkunjung ke blog kakak, setelah beberapa waktu ini aku sibuk nyari blog pribadi kaka di IFK :’v
    pertama kali aku suka tulisan kakak pas baca drabblenya kakak di IFK. niatan pen komen tuh udah meledak banget/? cumaaa koneksinya astagfirulloh…. lelet banget 😥

    oke, sepertinya komen di atas tuh OOT, maapkeun kak ><

    yaampun, ini ff tahun '13 ya? tapi yaamvuuun kaaaakk.. tulisan kaka udah oke banget! apalagi sekarang, makin jossss!!!/? bayangin Jongin uring2an ga jelas gegara cemburu tuh bikin aku geleng2 kepala. Jongin tuh sebenernya masih bocah ato udah gede/? :'v

    pick one? eng… I'll pick both of them, actually :'v

    intinya, Kak, aku sukaaaaaaaa banget sama tulisan kakak! berasa baca novel dengan EYD sempurna! ^^
    keep writing, Kak Mer! ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s