Life-After-Life: The Master’s Diary [side-story]

Standard

kris-exo-m-31902982-500-709

a fiction by Tsukiyamarisa

Cast(s): [EXO-M] Kris ||  Minor Cast (s): [EXO-K] Suho and [SHINee] Taemin || Duration: Chaptered (side-story) || Genre: AU, Fantasy, Friendship || Rating: PG ||

Disclaimer:

All casts belong to themselves. Storyline and poster belong to me. Inspired by: Black Butler, SHINee’s song – 1000 Years Always By Your Side, and some japanese tale about shinigami. Do not plagiarize or repost without permission.

*****

The Master’s Diary

This story is all from Kris’ POV

Five years ago

 

Menjadi seorang pemimpin itu tidak pernah mudah.

Oh ya, aku bahkan tidak pernah berpikir untuk menempati posisi teratas dari seluruh jajaran pengurus di Outsiders, namun rupa-rupanya Master Will lebih memilih untuk menghilang dan menyerahkan tanggung jawab tertinggi ini ke tanganku.

“Ada yang bisa saya bantu, Master?”

Aku memutar kedua bola mataku, jengah. Ayolah, bahkan orang-orang di House of Warden mulai memperlakukanku dengan hormat seperti ini. Apa mereka sudah lupa bahwa dulu aku juga bertugas sebagai seorang pengawas seperti mereka? Sejauh itukah dampak dari perpindahan posisi kekuasaan yang baru saja aku alami?

Kukibaskan sebelah tanganku untuk mengusir salah seorang anggota dewan yang masih cukup muda itu, mengisyaratkan bahwa aku baik-baik saja dan tidak butuh bantuannya. Tujuanku ke kantor utama House of Warden adalah mengambil beberapa barang-barang favoritku untuk dipindahkan ke ruang pimpinan. Sama sekali bukan pekerjaan yang berat. Aku masih sanggup melakukannya sendiri.

Seraya mengumpulkan beberapa barang yang ada di atas meja lamaku, otakku kembali memutar percakapan dengan Master Will beberapa hari yang lalu. Si pimpinan bodoh itu, apa yang sebenarnya ada di dalam otaknya hingga ia memilih untuk melanggar peraturan dan lenyap tak berbekas menjadi debu? Sungguh, aku tak bisa mengerti jalan pikirannya.

Kulangkahkan kakiku keluar dari gedung, masih merasa sedikit tidak rela untuk meninggalkan pekerjaanku sebagai pengawas. Dibandingkan menjadi pemimpin atau shinigami normal lainnya, aku jauh lebih suka menempati posisi sebagai pengawas. Setidaknya, aku tidak perlu repot-repot memikirkan bagaimana cara mengatur seluruh kehidupan dan tingkah laku para shinigami di Outsiders, ataupun harus terus-terusan turun ke bumi untuk mencabut nyawa manusia.

Menjadi pengawas itu menyenangkan. Yang perlu kulakukan hanyalah duduk dan mengecek laporan pekerjaan para shinigami, atau menemani calon-calon shinigami muda berjalan-jalan ke bumi. Well, terkadang kami juga diberi tugas untuk mencabut nyawa manusia sih, misalnya jika ada sebuah kecelakaan yang terlalu banyak merenggut korban jiwa dan kami ditugaskan untuk membawa arwah-arwah mereka dalam waktu bersamaan. Tetapi –tetap saja –hal semacam itu tidak terlalu sering terjadi.

Eummm Master?”

Aku menoleh, mendapati sosok Taemin yang tengah berdiri di sampingku dengan tampang ragu-ragu. Keningku berkerut lagi saat mendengar sapaan yang keluar dari mulutnya. Yah, mungkin aku memang harus mulai membiasakan diri mendengar embel-embel itu melekat di depan namaku.

“Kenapa?”

“Boleh aku bertanya sesuatu?” Taemin berbisik rendah, ekspresinya tampak sedikit tak yakin. Aku mengangguk cepat, mempersilakannya untuk mengucapkan rasa ingin tahunya. Meskipun umurnya sudah lima belas tahun, namun anak yang satu ini tidak pernah berubah. Ia selalu menjadi shinigami muda yang penuh rasa ingin tahu.

“Mengapa Master Will pergi? Bukankah kita tidak bisa mati?” Taemin bertanya dengan nada polos, membuatku tersenyum maklum. Ah, tentu saja. Shinigami yang masih muda pasti belum begitu paham dengan segala macam kekacauan yang terjadi di Outsiders beberapa hari terakhir ini. Shinigami baru boleh ditugaskan kala umur mereka sudah mencapai angka tujuh belas tahun. Dan pada saat itu jugalah, mereka akan diberitahu mengenai berbagai macam peraturan dan larangan-larangan yang harus dihindari dalam bertugas.

“Ceritanya panjang, Taemin. Kau mau mendengarnya?”

“Iya!” Taemin mengangguk bersemangat. Aku terkekeh pelan, memberinya isyarat untuk berjalan mengikutiku. Kami melangkah menuju Record Library bersama-sama –atau lebih tepatnya, menuju ruang kerja baruku.

“Jadi begini,” aku memulai seraya menaruh tumpukan barang-barang yang kubawa ke atas meja. Taemin sudah mendudukkan dirinya di atas salah satu sofa dengan nyaman, sorot matanya tak kunjung lepas dariku. “Kautahu kan bagaimana alur kehidupan kita?”

“Tentu saja! Kita diciptakan, lalu tumbuh dewasa hingga tiba waktunya pertumbuhan itu berhenti dan kita tidak akan pernah menua lagi. Master,kapan kiranya aku akan berhenti menua?”

“Waktumu masih lama untuk itu, bocah. Kita baru berhenti bertumbuh kala kekuatan kita sudah terbentuk sempurna sepenuhnya. Meskipun kau akan mulai ditugaskan pada usia tujuh belas, bukan berarti kau sudah bisa menyombongkan kekuatanmu pada saat itu. Rata-rata, shinigami baru akan berhenti menua pada usia dua puluhan,” jelasku panjang lebar. Taemin mengangguk mengerti, bibirnya dikerucutkan ke depan dengan tampang kecewa. Pasti anak ini sudah tidak sabar untuk segera menjadi dewasa.

“Begitu ya… lalu Master Will….”

“Apa kau merindukannya?”

“Errr… tidak begitu. Jujur saja, aku senang karena Master Kris adalah orang yang terpilih untuk menggantikan Master Will. Setidaknya, Anda tidak–“

“Tidak apa?” potongku cepat, mataku memicing karena rasa penasaran.

“Tidak segalak Master Will. Anda tahu kan, Master Will itu terlalu tegas dan hobi sekali memarahiku….” Suara Taemin mengecil dan tak lagi terdengar, membuat tawaku lepas seketika. Ah, itu benar. Mungkin satu-satunya kelebihan yang bisa kubanggakan saat ini adalah sikapku yang jauh lebih baik dan bersahabat jika dibandingkan dengan Master Will.

“Yah, tapi kau memang anak yang bandel, Taemin,” imbuhku kemudian, membuat anak itu kembali merengut kesal. Aku masih terkekeh pelan, pandanganku kini sibuk menelisik setiap sudut dari ruangan kerja baruku dan pikiranku melayang-layang pada Taemin yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri.

Seperti yang sudah kubilang tadi, ia adalah anak yang penuh rasa ingin tahu dan bisa dibilang memiliki kadar kenakalan yang melebihi para shinigami muda lainnya. Namun, ia berbakat. Ia pintar dan cepat menyerap semua pelajaran yang diberikan, serta selalu bersemangat dalam menjalani setiap latihannya.

Aku –yang dulu pernah bertugas sebagai pengawas –bisa dibilang cukup dekat dengannya. Semua tingkah-polahnya membuatku harus memberikan perhatian yang lebih ekstra kepadanya jika dibandingkan dengan anak-anak lain. Tanpa sadar, hal itu malah mendekatkan kami berdua dan membuatku menyayanginya lebih dari apapun di Outsiders ini. Setidaknya, bagi kami yang diciptakan secara individual dan tidak pernah memiliki sanak saudara, Taemin adalah orang terdekat yang kumiliki di sini.

“Jadi, Master Will….”

“Ia melanggar peraturan tertinggi yang kita miliki. Kautahu apa itu?” balasku sembari membalikkan tubuh ke arah Taemin. Ia menggeleng pelan, iris hitamnya lekat tertuju kepadaku.

“Menjalin hubungan dan mencintai manusia,” tambahku dalam gumaman pelan. Taemin masih belum melepaskan pandangannya dariku, jadi aku pun menarik napas dalam-dalam dan bersiap untuk menceritakan segalanya.

“Begini, kautahu apa pekerjaan kita.”

“Mencabut nyawa manusia,” bisik Taemin menyambung perkataanku.

“Ya. Itulah sebabnya kita tidak boleh menjalin hubungan cinta dengan seorang manusia. Mengikatkan diri kita pada emosi dan perasaan-perasaan semacam itu hanya akan membawa dampak buruk pada akhirnya. Master Will–“

“Tapi, Master Kris, bukankah kita tidak bisa mengontrol isi hati kita sendiri? Kita tidak bisa memilih kepada siapa kita akan menyimpan rasa, bukan?”

“Memang tidak. Itulah sebabnya ketika Master Will pertama kali mencintai seorang gadis manusia, ia sama sekali tidak mendapatkan hukuman. Barulah di saat ia memutuskan untuk kabur dari Outsiders, menampakkan dirinya di depan manusia, dan menjalin hubungan layaknya sepasang kekasih, ia mendapatkan hukuman itu. Semua ini bukan bergantung dari bagaimana isi hati kita, melainkan pada tindakan kita untuk mengekspresikan semua gejolak emosi itu.”

“Tindakan?”

“Mencintai seseorang itu tidak salah, Taemin. Tetapi, bagi makhluk seperti kita, satu-satunya pilihan yang kita punya di saat perasaan semacam itu datang adalah melepaskannya dan membiarkannya menjauh. Tentunya, tidak ada yang ingin terbakar dan lenyap menjadi abu seperti Master Will, bukan?”

“Tentu saja tidak, Master.” Taemin mengiyakan dengan nada lirih. Ia sibuk memainkan ujung-ujung jarinya, pandangannya tertuju pada karpet yang mengalasi lantai ruangan ini. Melihat hal tersebut, rasa penasaranku pun terpancing seketika. Ingatanku melayang pada hari-hari dimana kami berkunjung ke bumi untuk pertama kalinya. Waktu itu, Taemin terus-menerus memperhatikan seorang gadis manusia yang kurang-lebih seumuran dengannya. Jangan bilang ia….

“Taemin… kau….”

“Saya tidak akan menghilang menjadi abu seperti Master Will. Anda tenang saja, Master,” potong Taemin sembari menegakkan bahunya. Sorot matanya tampak sedih, namun aku bisa melihat ketegasan yang terpancar di baliknya.

Dan entah kenapa, aku pun percaya pada kata-kata itu.

 

***

 

Present day

 

“Kau mengkhawatirkan anak itu?” Suho bertanya dengan alis terangkat, membuatku segera mendengus kesal. Aku tidak bisa berbohong pada diriku sendiri bahwa aku memang khawatir pada Taemin.

Rasa cinta yang Taemin simpan pada manusia bernama Jung Soo Jung itu sudah terlalu besar, cukup untuk membuatnya bertingkah bodoh seperti Master Will dulu. Sungguh, kalau sampai hal itu terjadi, mungkin aku akan langsung mengurung diri di dalam kantor dan meratapi kegagalan kinerjaku dalam mendidik anak itu.

“Asal kautahu saja, menyaksikan orang terdekatmu berubah menjadi abu itu tidak menyenangkan, bodoh!” sentakku keras. Suho berjengit kaget, matanya memicing ke arahku. Aku mengembuskan napas keras-keras, kemudian menjatuhkan diriku ke atas sofa empuk yang berjajar rapi di ruang kerjaku. Menyebalkan.

“Begini, Kris, anggap saja itu salah satu rintangan di dalam pekerjaanmu,” sahut Suho santai sambil memainkan ujung kausnya. Aku mendelik lagi ke arahnya, namun si pemimpin Afterlife itu hanya terkekeh sekilas dan kembali mengabaikanku.

Oh ya, menjadi pemimpin Afterlife pasti jauh lebih menyenangkan, batinku sarkastis.

Setidaknya para guardian seperti Suho hanya perlu duduk dan menjaga arwah-arwah manusia yang bermukim di Afterlife. Hanya itu. Tidak ada acara turun ke bumi, berurusan langsung dengan manusia, atau harus membereskan masalah-masalah rumit yang menyangkut hubungan antara manusia dan dunia orang mati. Pantas saja Suho memiliki banyak waktu luang dan sempat mengunjungiku seperti ini.

“Sebenarnya, aku percaya bahwa ia pasti bisa melepaskan Soo Jung.”

Suho langsung mengembalikan fokusnya kepadaku.

“Dia sudah pernah berjanji kepadaku di masa lalu,” imbuhku seraya mengangkat bahu. Suho mengangguk-anggukkan kepalanya, paham. Ia melirikku sejenak dari sudut matanya, tampak sedang mempertimbangkan sesuatu.

“Kau tentunya sudah tahu hal ini. Taemin sempat mengunjungi Afterlife kemarin.”

“Tentu saja aku tahu.”

“Yah, dia mengobrol cukup lama dengan roh bernama Min Hyuk itu. Ketika dia hendak pulang ke Outsiders, aku sempat membaca pikirannya sekilas. Dia….”

“Jangan katakan bahwa pembicaraan itu gagal. Aku memberinya izin ke sana agar ia bisa mendapat saran dan mau melepaskan Soo Jung, jadi–“

“Astaga, Kris. Aku bahkan belum menyelesaikan kalimatku,” gumam Suho kesal. Bibirku pun langsung terkatup rapat, menunggu. Suho menarik napas panjang, kemudian melanjutkan, “Menurutku dia sudah mulai mempertimbangkan untuk melepas Soo Jung. Taemin tidak sebodoh itu, kan. Lagipula, bukankah ia terikat perjanjian second-life dengan seorang shinigami lainnya?”

“Dengan Kai, ya. Mereka benar-benar dekat seperti saudara dan–“

Suho menjentikkan jarinya, senyum kembali terkulum di bibirnya. Ia menepuk-nepuk bahuku dengan sikap menenangkan. Melihat ekspresi wajahnya itu, mendadak pemahaman pun merayapi benakku.

Ah, benar juga. Taemin masih terikat perjanjian dengan Kai. Hukum kami mengatakan bahwa dua shinigami yang terikat perjanjian second-lifeakan memunyai hidup yang saling bergantung. Taemin adalah sumber kekuatan Kai. Kalau ia memutuskan untuk melakukan hal-hal bodoh dan lenyap menjadi abu, itu sama saja artinya dengan mencabut sebagian besar dari sumber energi Kai. Apa yang dikatakan Suho tadi benar-benar tepat. Mana mungkin Taemin rela membahayakan Kai, orang yang sudah susah-susah diberinya hidup kedua?

“Mengerti maksudku?”

Aku mengangguk, lenganku pun kontan merangkul bahu Suho dan tawa penuh kelegaan keluar dari bibirku. Ada gunanya juga Suho berkunjung ke Afterlife hari ini. Setidaknya, ia telah meredakan sebagian besar dari rasa cemas yang menumpuk di dalam dadaku.

Ck, bodoh! Kau sudah tidak banyak pikiran lagi, kan? Kalau begitu, aku akan kembali ke Afterlife sekarang.”

“Tentu. Terima kasih banyak sudah berkunjung.”

“Tak masalah. Aku tahu bahwa menjadi pemimpin yang punya segudang tanggung jawab itu tidak mudah. Namun, kau tidak perlu khawatir seperti itu, Kris. Kau kan bisa mengundangku kapan saja untuk meminta pendapat.”

“Iya, iya, aku tahu. Masih mau berbangga karena posisi pemimpin di Afterlife itu lebih mudah untuk dijalani?” desisku kesal.

“Tentu saja aku bangga. Menjadi pemimpin itu adalah salah satu hal yang bisa kaubanggakan, Kris. Itu kan pencapaian besar. Mungkin kau memang ditakdirkan untuk menjadi pemimpin Outsiders. Dari apa yang kulihat, tempat ini jauh lebih terkendali di bawah pimpinanmu. Bisa kukatakan, kau membawa perubahan yang baik,” ucap Suho lagi. Aku mematung seketika, tidak percaya mendengar ucapannya yang penuh pujian itu.

“Kau… tulus, kan?”

“Tentu saja!” pekik Suho tak terima sembari meninju bahuku pelan dan berbalik pergi. Ia menarik gagang pintu ruang kerjaku hingga terbuka, kemudian bergegas berjalan ke luar sambil melambaikan tangan.

“Sampai ketemu lagi, Master Kris yang penggerutu. Omong-omong, kau mendapat tamu istimewa.”

Aku langsung melongok ke arah pintu yang terbuka lebar, mendapati sosok Suho yang sudah semakin menjauh dan juga Taemin yang tengah berdiri dengan ragu-ragu di ambang pintu.

“Taemin, ada apa?”

Master sibuk?”

“Tidak. Ada yang ingin kausampaikan?”

Taemin melangkah masuk, dan ekspresi wajahnya yang tertimpa cahaya mentari dari luar jendela tampak lebih jelas di mataku. Jelas sekali ia baru saja menangis. Apakah ini ada hubungannya dengan Soo Jung lagi?

Master, saya sudah memutuskan.”

Mendadak, aura di ruanganku pun berubah menjadi lebih tegang. Aku menatap Taemin tajam, berusaha mempertahankan wibawaku di hadapannya. Jangan bilang ia membuat keputusan yang salah… jangan bilang ia akan bertingkah bodoh seperti Master Will… jangan bi–

“Saya akan merelakan Soo Jung bersama manusia itu, Oh Sehun.”

Dan seulas senyum pun langsung terbentuk di wajahku. Kutepuk puncak kepala Taemin pelan, lega. Untunglah ia membuat pilihan yang benar.

“Itu bagus.”

“Terima kasih, Master. Mungkin Anda benar, melepaskan adalah yang terbaik bagiku, Kai, dan juga Soo Jung. Anda… Anda sudah mengajarkan banyak hal yang tepat kepada saya.”

Aku berdeham sekali, berusaha menyembunyikan rasa puasku yang meluap-luap. Lagi-lagi, Suho benar dalam hal ini. Menjadi pemimpin memang menghasilkan tanggung jawab yang teramat besar, namun ini adalah sesuatu yang bisa kaubanggakan.

Terlebih saat kau berhasil menjalankan tanggung jawab itu dengan baik.

Iya, kan?

 

-The Master’s Diary-

…end…

Advertisements

3 thoughts on “Life-After-Life: The Master’s Diary [side-story]

  1. puahahahahaha ngerti sekarang! Puas mer sama side storynya xD

    Kayaknya komenku bakal senasib sama kamu, lagi garing /kicked xD

    Ohiya, kenapa perasaanku si kris ama suho ini semacam couple? Dapet banget itu feel coupleannya /salah fokus/ xD

    Dan pas suho bilang “mengerti maksudku” itu kenapa aku berasa si kris bodoh banget -.- /sujud sama master kris/ xD

    Sepertinya sekian komen garing saya .___.v

    p.s mau diliat gimanapun itu kris kenapa miris woobin. Ahhhhh tampan sekali dua orang ini /kicked xD

    Like

    • Uyeaaaaah, akhirnya kamu puas dan akhirnya komenmu ga berisi pertanyaan2 karena kamu terlalu penasaran lagi *tabur conffetti* *kalungin intan pake bunga* 😀

      Uh, dan kamu dapet feel couplean-nya KrisHo /nangisterharu/ ㅠ ㅠ
      Sebenernya mereka itu jarang yg ngeship, tapi entah kenapa aku suka aja ngeship mereka.. Habis dua-duanya sama2 leader, yg satu tampang sangar dan yg satu muka angelic, pokoknya mereka itu couple unyu deh! Yay, hidup KrisHo!!! *semangat 45* *bawa banner*

      Dan itu master kris bukannya bego, maklum lagi banyak pikiran, mungkin tingkat kepintarannya menurun sedikit /heh /samaajakalimer -___- /ditendangkris

      Terus, aku masih ga liat miripnya woobin sama kris dimana :O
      Mungkin krn matanya sama2 tajem dan tingginya sama2 menjulang kali ya xD tapi ttp cakep semua sih :3

      Okaaay, silakan menunggu chapter 8 ya tan! Yg penting kamu udh ga penasaran sama dunia outsiders lagi kan~ 😉
      See ya 😀

      Like

  2. mer… kenapa disini master-nim kris kesannya ooc… kembalikan master-nim yg mirip albus dumbledore T..T /ditendang.
    sebagian pertanyaan di chap 7 udah kejawab, tapi masih ada yg belum. jadi… bedanya shinigami, supir bus, pengawas, sama penjaga gerbang afterlife apa? mereka satu jenis atau beda-beda o.O
    saya kaget disini suho jadi pemimpin afterlife, kupikir dia mas-mas penjaga gerbang afterlife xDD /ditendang
    ah~ satu lagi… disini kan taemin-kai saling berhubungan, kekuatannya kai diambil dari taemin. berarti kai minjem kekuatannya taemin, gitu?
    lah, padahal (kalau gasalah) tugasnya taemin butuh tenaga ekstra kan? apa kekuatannya taemin gak habis tuh? o.O
    cepetan deh mer chapter 8-nya. btw, kenapa saya jadi ketularan intan yah… komen banyak banget. hahaha xD

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s