Life-After-Life: Unknown [7/?]

Standard

life-after-life

a fanfiction by Tsukiyamarisa

Cast(s): [CNBlue] Kang Min Hyuk, [f(x)] Jung Krystal, [SHINee] Lee Taemin, [EXO-K] Kai, and ………….. (will be revealed later) || Minor Cast(s): [EXO-M] Kris, Lay, [EXO-K] Baekhyun, [f(x)] Choi Sulli || Duration: Chaptered || Genre: AU, Romance, Family, Fantasy, slight!Sad-Hurt || Rating: PG ||

Summary:

Min Hyuk. Soo Jung. Taemin. Kai.

Mereka semua memiliki masa lalu dan masa depan yang saling terikat satu sama lain. Tidak ada satupun dari mereka yang paham, bagaimana catatan takdir akan memutuskan akhir dari kisah ini. Happy end or… not?

Disclaimer:

All casts belong to themselves. Storyline and poster belong to me. Inspired by: Black Butler and SHINee’s song – 1000 Years Always By Your Side. Do not plagiarize or repost without permission.

[!!!] Note:

  1. Disini, Kai sama Soo Jung itu seumuran (19 tahun). Kai lebih tua beberapa bulan, tapi Soo Jung udah menganggap dia sebagai oppa.
  2. Umur Taemin disini 20, sedangkan umur Kris 28. Beda 8 tahun.
  3. Akan ada satu tokoh baru di sini.
  4. Banyak flashback. Yang ada keterangan tahun maupun dicetak miring, itu artinya flashback ya.
  5. HAPPY READING! 😀

*****

Life-After-Life: Unknown

I have a secret

It’s a hidden feeling that lying deep inside of me

Remain unknown

.

.

I tend to keep this one for myself

But however, time is keep ticking towards the future

And the mask that I put on will also start to fade away

.

.

At the time when the unknown starts to be known

I understand one thing:

 

I must let you go for your own happiness

.

.

Eung, dimana aku?”

“Anda sudah meninggal, Tuan. Enam puluh lima tahun, kanker paru-paru. Mari, kita lanjutkan perjalanan ke dunia yang baru,” gumam Kai malas seraya memberi tanda ‘mission completed’ pada pojok atas kertas. Ia membolak-balik Cinematic Life Record-nya, mendesah lega saat menyadari bahwa tugasnya untuk hari ini sudah beres. Dengan sebelah tangan, ia melambaikan death scythe miliknya –yang segera bertransformasi menjadi sebuah tongkat mungil –kemudian menggengam lengan arwah manusia yang tengah berdiri kebingungan di sampingnya.

Satu sentakan kecil dan mereka sudah menghilang dari muka bumi, kembali ke depan gerbang Outsiders dalam hitungan detik.

“Silakan, Tuan. Have a nice trip,” imbuh Kai lagi sembari menunjuk ke arah halte bus.

Plop!

“Lima tugas dalam dua jam! Master pasti sudah tidak waras!” Gerutuan itu menyapa telinga Kai, membuatnya segera berbalik ke arah asal suara. Taemin berdiri di sana dengan wajah letih, membawa dua arwah manusia sekaligus di masing-masing lengannya.

“Aku mendapat dua kali lipat dari itu dalam waktu yang sama, Hyung.” Kai memutar kedua bola matanya, memotong ocehan tidak jelas Taemin.

Sang partner menoleh, kemudian segera melemparkan tatapan penuh simpati ke arah Kai. Ia menepuk-nepuk pundak Kai, dan berkata, “Yah, bagaimanapun juga, kau sudah cuti terlalu lama.”

Kepalan tangan Kai mendarat di bahu Taemin, memberinya sebuah tinju ringan dengan sikap merajuk. Keduanya melepaskan tawa terkekeh beberapa saat kemudian, saling berangkulan seraya berjalan melintasi Outsiders untuk mencari tempat berisitirahat. Sepintas, rutinitas ini terlihat tidak jauh berbeda dari yang biasa mereka lakukan.

Kecuali fakta bahwa memang ada yang sedang mengganjal isi pikiran masing-masing.

“Jadi soal Soo Jung….” Kai memulai dengan nada rendah, pikirannya kembali melayang ke peristiwa kemarin malam. Ia teringat bagaimana Taemin tiba-tiba menerobos masuk ke dalam kantor Master Kris, bertanya-tanya tentang hubungan Kai dan Soo Jung, kemudian berakhir dengan sedu-sedannya sepanjang malam itu. Kai juga masih ingat pada satu janji yang diucapkan Taemin, janji bahwa ia akan segera menceritakan semua masalahnya pada Kai.

“Ah, ya. Dia baik-baik saja ‘kan, di bumi sana?”

Kai mengangkat sebelah alisnya, kentara sekali ia tidak menyangka bahwa pertanyaan semacam itu akan keluar dari mulut Taemin. Sejak kemarin, ia masih saja dibuat terkejut oleh fakta bahwa Taemin mencintai Soo Jung. Ditambah lagi, Master Kris juga berkata bahwa Taemin adalah seseorang yang bertanggungjawab atas masa depan adik perempuannya itu.

Sebenarnya, seberapa rumitkah jalinan rantai yang menghubungkan mereka semua?

“Sejauh yang aku tahu, Soo Jung baik-baik saja.”

Hmmm, begitu ya….”

Hyung, sebenarnya apa tugas rahasi–“

“Coba jelaskan lagi apa alasanmu memanggilku dengan sebutan ‘hyung’.” Taemin mengalihkan pandangnya dari Kai, bibirnya mengucapkan sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan dengan topik pembicaraan mereka. Dalam hati, Kai mulai menggerutu. Apa ini salah satu usaha Taemin untuk mengalihkan fokus percakapan mereka?

“Karena aku sudah menganggapmu sebagai kakakku. Karena kau memberiku kesempatan kedua. Dan kalau boleh kutambahkan, karena kau itu menyebalkan. Selalu saja sok bertanggungjawab dan bersikap protektif terhadapku di segala situasi. Memangnya aku ini anak kecil?”

Taemin sontak terbahak mendengar jawaban Kai tersebut. Laki-laki yang sudah ia anggap sebagai adik ini selalu berkata bahwa ia bukan lagi anak kecil yang butuh perhatian. Namun, bagaimana mungkin Taemin bisa melepaskan pandangnya dari Kai? Selain karena terikat oleh tanggungjawab, Taemin tahu persis bahwa Kai itu ceroboh dan masih suka bermain-main dengan pekerjaannya.

Well, mungkin untuk beberapa hari terakhir ini Kai sudah berubah menjadi cukup serius –mengingat banyaknya masalah pelik yang harus ia selesaikan. Tetapi, kebiasaan lama itu tidak mudah untuk diubah, bukan? Selamanya, Taemin akan memandang Kai sebagai adik kecil yang sangat ia sayangi.

Aish, Hyung, berhentilah tertawa! Bilang saja kalau kauingin mendengar pujianku,” gerutu Kai kesal. Taemin tertawa semakin keras, sejenak melupakan semua masalah yang sedang dialaminya.

“Tapi, aku memang pantas dipuji, ‘kan? Kalau bukan karena diriku, saat ini kau pasti sudah berada di Afterlife,” sanggah Taemin seraya menepuk-nepuk dadanya sendiri dengan penuh kebanggaan. Lagi, Kai pun mengeluarkan dengusan tidak setuju.

“Terus saja membanggakan dirimu sendiri.”

“Oke, oke… aku mengerti. Jangan cemberut begitu dong, katanya kau bukan anak kecil?” sahut Taemin cepat sambil menyiku perut Kai pelan, air mukanya mendadak kembali serius. Ia menghela napas beberapa kali, kemudian melanjutkan, “Tetapi, sungguh, aku senang kau memanggilku dengan sebutan itu. Membuatku tidak bisa berhenti tersenyum dan merasa bahagia.”

Kai mengerutkan keningnya dalam-dalam, bingung. Ia menatap partner-nya itu dengan pandangan aneh, tubuhnya perlahan beringsut menjauh dari Taemin seolah sang kawan sedang menyebarkan virus berbahaya.

“Kenapa?”

Hyung, apa kau baru saja merayuku?”

 

Pletaaak!!

 

Sontak, Taemin melemparkan tongkat death scythe-nya –yang untung saja tidak sedang berubah bentuk menjadi pisau –ke atas kepala Kai. Lelaki itu menggumamkan makian demi makian bernada jengkel, kedua matanya melemparkan tatapan tajam ke arah Kai.

“Aku serius, bodoh!”

“Habis Hyung mengerikan, sih!”

“Tapi aku serius!” bantah Taemin keras. Ia memalingkan sorotan matanya ke arah langit biru yang menaungi mereka, kata-kata berikutnya keluar dalam bisikan pelan. “Panggilan itu membuatku merasa… seperti manusia.

“Seperti manusia?”

“Panggilan itu adalah sesuatu yang kaubawa dari dunia manusia, bukan begitu? Karena kaupernah menjalani hidupmu sebagai manusia, tidak heran jika kau tidak bisa melepaskan diri begitu saja dari kebiasaan-kebiasaan lamamu. Tapi, seperti yang sudah kukatakan tadi, aku menyukainya.”

“Kenapa?”

“Karena setiap kali kau memanggilku dengan sebutan itu, entah mengapa aku bisa melupakan fakta menyebalkan bahwa aku ini seorang shinigami. Satu-satunya keinginan terpendamku yang tak akan bisa terwujudkan adalah menjadi seorang manusia sungguhan.”

Kai terdiam seketika, berusaha mencerna semua ucapan Taemin barusan. Ia tidak pernah mengira bahwa sahabatnya itu menyimpan rasa iri terhadap dunia manusia yang fana. Meskipun wujudnya sekarang adalah shinigami, tetapi sedikit-banyak Kai bersyukur karena dulu ia pernah menjalani hidupnya sebagai manusia. Rupa-rupanya, selama ini Taemin menginginkan semua itu.

“Kenapa? Kenapa kauingin menjadi manusia?”

“Karena shinigami tidak mungkin memunyai kekasih seorang manusia, itulah alasannya,” jawab Taemin dengan nada sendu. Kai menundukkan kepala, pemahaman merayapi benaknya saat itu juga. Seharusnya ia sudah bisa menebak ke arah mana pembicaraan ini akan bermuara. Jung Soo Jung, tentu saja.

“Kau… sungguh-sungguh mencintai adikku, ya? Sejak kapan?”

Taemin mengembuskan napas panjang, kemudian merebahkan dirinya di atas lapisan rumput hijau yang membentang layaknya permadani. Ia melirik Kai sekilas dari sudut matanya, dehaman pelan menyeruak keluar dari tenggorokannya.

“Kenapa? Apa kau, sebagai kakaknya, tidak setuju jika seorang Taemin yang tampan ini menyimpan rasa pada Soo Jung?”

“Aku serius, Hyung,” balas Kai datar. Ia sudah terlalu lama menyimpan rasa penasaran akan hal ini. Sekarang, yang ia inginkan hanyalah sebuah jawaban. Sejauh mana jalinan masa lalu dan takdir masa depan menghubungkan mereka semua?

“Sejak kau belum bertemu dengan Soo Jung. Aku pertama kali berjumpa dengannya saat ia masih berumur lima tahun.”

“Tunggu sebentar! Bagaimana mungkin kaubisa bertemu dengannya jika ia tidak bisa melihatmu? Manusia tidak bisa melihat shinigami tanpa alasan khusus, bukan? Bahkan, aku pun harus bersusah payah agar Master Kris mau memberiku izin untuk menampakkan diri di hadapan Soo Jung tempo hari,” oceh Kai panjang lebar. Ini semua terdengar semakin memusingkan baginya.

“Siapa bilang ia bisa melihatku? Ia tidak pernah menyadari kehadiranku, bodoh.”

“Bagaimana–“

Taemin memejamkan kedua matanya, pikirannya berkelana sejauh mungkin untuk menggapai potongan-potongan film masa lalunya. Masa dimana ia masihlah seorang kanak-kanak yang tidak mengerti arti tanggung jawab, masa dimana tugas demi tugas dan pekerjaannya sebagai shinigami belum terlalu mengikat. Ia merindukan itu semua, selalu.

“Pada waktu itu….”

***

 

14 years ago….

 

“Lempar bolanya kemari!”

“Tendang, ayo tendang!”

Hiruk-pikuk mewarnai sore di tengah taman bermain itu. Teriakan dan canda-tawa menguar ringan, menambah cerahnya suasana yang ada. Segerombolan bocah yang kira-kira masih berusia lima tahun tampak sibuk bermain bersama, saling mengoper bola putih kusam itu ke segala arah.

Semuanya tampak bahagia, kecuali seorang gadis kecil yang duduk di kursi pojok taman seraya melemparkan tatapan iri ke arah teman-teman sebayanya.

“Ngomong-ngomong, kalian tidak mengajak Soo Jung bermain?”

Seorang gadis berambut hitam pendek tiba-tiba saja bertanya kepada teman-teman sepermainannya. Mendengar namanya disebut-sebut, Soo Jung –si gadis cilik yang sedari tadi duduk sendirian di kursi taman –langsung mendongakkan kepalanya dengan penuh harap. Apakah anak itu akhirnya menyadari keberadaannya? Akankah ia mendapat teman bermain sekarang?

“Soo Jung? Si malang yang tidak punya ayah itu?”

Ck, aku sih malas bermain dengan anak itu!”

Alih-alih memberikan jawaban yang pantas didengar atau menyambut ajakan baik teman mereka, bocah-bocah yang lain malah sengaja menjelek-jelekkan Soo Jung dengan suara keras. Mereka saling melempar pandang satu-sama lain, terkadang melirik Soo Jung sekilas dari sudut mata mereka dengan tatapan meremehkan.

“Sudahlah Jinri-ya, tidak baik bergaul dengan anak seperti Soo Jung itu,” salah satu anak lelaki berambut cepak menepuk pundak gadis berambut pendek itu. Jinri diam saja, tampak sedikit ragu untuk membantah ucapan teman-temannya yang lain.

“Lagipula, ibuku pernah berkata bahwa ayah Soo Jung itu orang jahat. Kau mau berteman dengan anak penjahat?” sambung yang lain seraya menarik Jinri kembali ke tengah permainan. Jinri hanya bisa menggeleng pelan, perlahan-lahan kakinya pun kembali mengarah ke lapangan.

Meninggalkan Soo Jung dalam kesendiriannya lagi.

Soo Jung tahu bagaimana pandangan teman-temannya –baik di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal –terhadap keluarganya. Ia memang tidak punya ayah. Ia hanya hidup berdua dengan ibunya dan gosip-gosip semacam itu sudah lama menyebar, cukup untuk membuat dia merasa jengah.

Tetapi, apa lagi yang bisa ia lakukan?

Semua orang menolak untuk berteman dengannya. Ia selalu ditinggal sendirian, direndahkan dengan segala macam ejekan dan cemoohan. Ia hanyalah seorang anak kecil berusia lima tahun yang tidak berdaya menghadapi semua kepahitan ini seorang diri. Soo Jung selalu ingin melawan dan membela diri, namun kesempatan macam apa yang ia miliki jika tidak ada satu orang pun yang mau berdiri di pihaknya?

Tidak ada.

Soo Jung menggigit bibir bawahnya sendiri, menahan tangis. Bukan pertama kalinya ia merasa tersakiti seperti ini. Sudah berulang kali ia berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia bukanlah seorang gadis yang lemah. Namun, setelah berulang kali dilecehkan dan diinjak-injak seperti itu, bagaimana mungkin ia bisa mengharapkan pertahanan dirinya untuk tetap kuat bertahan? Ibarat perisai yang sudah dipakai berulang-ulang, tentu akan ada saat dimana perisai tersebut akhirnya patah dan tak lagi layak untuk digunakan.

Soo Jung mengangkat sebelah tangannya, bermaksud menyeka air mata yang nyaris membasahi wajah. Namun, tepat ketika ia hendak mengusap sudut-sudut matanya, kedua pupil itu malah menangkap sebatang lollipop yang terselip di sela-sela jemarinya.

Aneh.

Soo Jung tidak membawa-bawa permen ke taman ini. Dan lagi, ia juga tidak punya cukup uang saku untuk membeli permen layaknya anak-anak kecil yang lain. Lalu, ini milik siapa?

Soo Jung mengedarkan pandang ke sekelilingnya, berusaha mencari-cari siapa kiranya pemilik dari lollipop ini. Nihil. Sejak awal, memang hanya ia sendirilah yang duduk di pojok paling tersembunyi dari taman bermain ini. Tidak ada seorang pun yang menemaninya, jadi siapa yang menyelipkan permen lollipop ini di sela-sela genggamannya?

Apa ini untukku?

Pertanyaan itu bergema di dalam benak Soo Jung. Kalau boleh jujur, ia menginginkannya. Ia ingin mencicipi betapa enaknya rasa manis yang terkandung dalam permen ini, mencecap sedikit kenikmatan yang tak pernah diberikan oleh ibunya.

Bolehkah ia? Bagaimana kalau sang pemilik nanti mencari-cari permen ini?

Ah, tapi… siapa juga orang bodoh yang meninggalkan lollipop di atas bangku taman? Mungkin orang itu sudah tidak menginginkannya?

Soo Jung mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya ke atas tanah, bibirnya mengerucut maju kala ia memikirkan pemecahan untuk masalah sederhana ini. Setelah beberapa menit menimbang-nimbang, akhirnya gadis berperawakan mungil itu pun mengendikkan bahunya dengan tampang pasrah.

Ya sudahlah kalau begitu. Biar kumakan saja, pikir Soo Jung seraya membuka bungkus lollipop dan memasukkan permen bulat berwarna merah itu ke dalam mulutnya. Rasa manis menyebar di atas indera pengecapnya, sebentuk senyum manis pun terkembang di bibirnya.

Sementara itu, dari balik pohon, sesosok bocah lelaki berpakaian serba hitam sibuk mengamati gerak-gerik Soo Jung dengan seulas senyum lega yang tercetak di atas wajahnya.

***

“Taemin, tadi kauberikan permen itu kepada siapa?”

Taemin mendongak, menatap tubuh jangkung Kris –yang saat itu masih berusia 14 tahun dan bertugas sebagai pengawas –dengan mata polosnya. Ia menunjuk ke arah seorang gadis yang duduk sendirian di atas kursi taman, ekspresi wajahnya berubah sendu saat itu juga.

“Tadi gadis kecil itu menangis. Aku hanya ingin menghiburnya.”

Kris menghela napas panjang, kemudian menepuk puncak kepala Taemin pelan. Hari ini, ia bertugas untuk mengawasi para calon shinigami baru –yang semuanya masih berusia enam sampai tujuh tahun –turun ke bumi untuk pertama kalinya. Dan bocah ini, Taemin, nyaris membuatnya panik setengah mati karena telah kabur dari rombongan anak-anak yang lain.

“Sekarang gadis itu sudah tersenyum. Kau siap pulang ke Outsiders?”

Taemin menggembungkan pipinya, tampak sedikit tidak rela. Ia masih merasa penasaran dengan gadis kecil itu. Kalau tidak salah, tadi ia mendengar beberapa anak manusia lainnya yang memanggil gadis itu dengan nama Soo Jung. Itukah nama gadis cilik yang tadi dihiburnya?

Jujur saja, Taemin tidak ingin pulang ke Outsiders secepat ini. Entah atas dasar apa, ia ingin tinggal lebih lama dan memastikan manusia bernama Soo Jung itu baik-baik saja. Mengapa ia menangis? Mengapa ia duduk seorang diri tanpa seorang pun yang menemani? Rasa-rasanya, Taemin ingin sekali bisa menampakkan diri dan menduduki kursi kosong yang ada di samping Soo Jung itu.

“Minggu depan kita akan berkunjung ke bumi lagi. Ayo pulang, Taemin.” Kris kini menyodorkan lengannya untuk menggengam tangan mungil Taemin, mengajak anak laki-laki itu kembali berkumpul dengan shinigami lainnya. Taemin hanya bisa pasrah membiarkan Kris menarik dirinya, kepalanya masih tertoleh ke belakang dengan ekspresi penasaran.

Ia bersumpah, ia akan mencari tahu lebih banyak mengenai Soo Jung saat ia menapakkan kaki ke bumi lagi minggu depan. Ia tidak tahu perasaan apa yang mendasari perbuatan anehnya ini. Sedikit tidak masuk akal, karena seharusnya mereka tidak boleh terlalu menyimpan rasa iba dan belas kasihan kepada jiwa-jiwa fana itu–mengingat tugas shinigami sendiri sebagai pencabut nyawa manusia.

Saat itu, Taemin sama sekali tidak pernah mengira bahwa rasa ingin tahunya terhadap Soo Jung akan menjelma menjadi cinta di kemudian hari.

Ia hanya tahu satu hal.

Ia suka melihat senyum manis dan ceria itu terpampang di atas wajah cantik Soo Jung.

***

“Jadi, begitulah caraku mengenal Soo Jung.”

“Kalian tidak pernah benar-benar bertatap muka,” imbuh Kai sembari ikut membaringkan dirinya di samping Taemin. Taemin mengiyakan pernyataan itu dengan satu senyuman sedih, ingatannya kembali melayang-layang ke masa lampau.

Kai benar.

Ia dan Soo Jung memang tidak pernah saling bertatap muka.

Seperti kata Master mereka, shinigami seharusnya tidak diperbolehkan untuk menyimpan rasa kepada manusia. Yang Taemin lakukan selama ini hanyalah mengamati Soo Jung secara diam-diam, menyaksikan gadis itu tumbuh dewasa sementara perasaannya sendiri pun ikut berkembang dan berubah menjadi cinta. Sayangnya, jenis cinta yang satu ini sama sekali tidak akan pernah terwujudkan. Seberapapun kerasnya Taemin berusaha, Soo Jung tidak akan pernah menyadari kehadirannya, pun membalas rasa sayang Taemin yang sudah teramat besar.

Manusia dan shinigami seharusnya tidak ditakdirkan untuk saling jatuh cinta.

Taemin hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri untuk hal ini, merutuki hati terdalamnya yang –entah mengapa –memilih untuk menyimpan rasa terhadap gadis manusia bernama Jung Soo Jung.

Namun– seolah sudah kebal dengan rasa sakit itu sendiri –Taemin tidak pernah mencoba untuk menjauhkan dirinya sendiri dari kehadiran Soo Jung. Ia masih mengunjungi gadis itu secara berkala, memastikan bahwa Soo Jung bisa menjalani hidupnya dengan baik. Bahkan hingga saat ini pun, setiap kali ia memunyai waktu senggang, ia akan segera turun ke bumi untuk menyaksikan aktivitas Soo Jung sepanjang hari. Bagaikan candu, Taemin nyaris tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh memabukkan gadis itu.

Manusia berkata bahwa cinta itu buta.

Kini, Taemin bisa sepenuhnya mengerti makna di balik frasa itu.

Ia, si lelaki bodoh yang tidak akan pernah bisa mendapat secuil pun perhatian dari gadis yang dicintainya, memilih untuk terus bertahan walaupun rasa sakit itu terus menggores-gores dan menghunjam tajam ke dalam lubuk hatinya.

“Kalau begitu… kau juga mengenalku sejak lama, benar begitu?” Kai memecahkan lamunan Taemin dengan nada ingin tahu. Taemin menoleh ke samping, kepalanya mengangguk mantap.

“Tentu saja. Ketika Soo Jung pindah ke rumahmu, aku merasa sangat lega. Aku senang ia bisa merasakan kehidupan yang lebih layak, memiliki seorang kakak yang menyayanginya. Tahukah kau betapa besar penyesalan yang kutanggung ketika aku mendapat tugas untuk mencabut nyawamu, Kai?”

Tubuh Kai menegang seketika itu juga. Ia mengulurkan tangannya untuk menggengam milik Taemin, meremasnya pelan untuk memberi kekuatan. Sedikit-banyak, ia bisa memahami duka yang Taemin rasakan pada malam itu. Bagaimana orang yang sudah ia anggap kakak itu harus mengambil satu-satunya harta berharga dalam hidup Soo Jung, bagaimana rasa menyesal itu terus menghantui Taemin, dan bagaimana Taemin terus merasa bersalah karena telah membuat gadis yang dicintainya bersedih…. Kai memahami segalanya. Ia tidak menyangka bahwa semuanya bisa begitu… rumit.

“Karena itu, aku merasa bahwa memberimu hidup kedua adalah hal yang benar. Ketika Master Kris mengabulkan permohonanku kala itu, aku merasa bahwa ada satu beban berat yang baru saja terangkat dari pundakku. Detik itu juga, aku bersumpah untuk menjagamu sebaik mungkin, membantu kau mendapatkan setiap kenanganmu sebagai manusia kembali, dan juga memastikan bahwa semua kesalahpahamanmu dengan Soo Jung terselesaikan,” jelas Taemin panjang lebar. Kai mengerjapkan kelopaknya berulang kali, tak percaya.

“Aku tidak pernah berpikir sejauh itu. Kupikir… kau bersikap protektif terhadapku semata-mata karena perjanjian second-life yang mengikat kita.Hyung, apa itu berarti kau benar-benar menganggapku sebagai adik atau kau menyayangiku karena Soo Jung?”

Taemin mendaratkan satu jitakan pelan di atas kepala Kai, ekspresinya tercabik antara separuh kesal dan separuh geli. Ia meregangkan tubuhnya sejenak, kemudian bergegas mendudukkan diri. Sebelah tangannya terulur untuk menarik Kai agar ikut terduduk bersamanya. Sedetik kemudian, Taemin sudah melingkarkan kedua lengannya pada tubuh Kai, menarik lelaki yang lebih muda itu ke dalam pelukan bersahabat.

Hyung, apa-apaa–“

“Aku mencintai Soo Jung. Tetapi, aku juga senang karena kau berada di sini. Satu-satunya orang yang akan kuanggap sebagai adik hanyalah kau, Kai.” Taemin melepaskan rangkulannya, tangannya terulur untuk mengacak-acak rambut Kai.

“Oke, aku mengerti sekarang. Ishhh, jangan pernah bersikap seperti itu lagi, Hyung! Kau membuatku merinding.”

Taemin tertawa keras, telapak tangannya kembali mendarat di atas kepala Kai dan mulai menepuk-nepuknya dengan gaya menggurui. Partner-nya ini memang selalu sukses membuatnya kembali tertawa dan terhibur, tidak peduli seberat apa masalah yang sedang ia hadapi.

“Dan kau masih berutang penjelasan kepadaku, Hyung. Kemana kau pergi kemarin dan tugas rahasia macam apa yang sebenarnya sedang kaujalani,” ujar Kai dengan nada mengingatkan. Seketika itu juga, mulut Taemin pun terbungkam rapat. Ia tarik kata-katanya soal Kai tadi kembali. Kai memang bisa membuatnya terhibur, namun sifat tidak sabaran dan rasa ingin tahu pemuda itu terkadang cukup menyebalkan juga.

“Kemarin aku berkunjung ke Afterlife, mencari Kang Min Hyuk.”

“Min Hyuk?”

Taemin mendengus pelan, kepalanya terangguk untuk mengiyakan pertanyaan Kai. “Min Hyuk, manusia yang kautolong itu. Harus kuakui aku sedikit cemburu padanya, mengingat ia masih bisa bertemu dengan Soo Jung walaupun sosoknya sudah berupa arwah manusia.”

Kai memutar kedua bola matanya, kekehan geli keluar dari bibirnya. Pantas saja Taemin sering marah-marah tidak jelas dan mencari ribut dengan Min Hyuk. Alasan di balik kekesalan Taemin terhadap Min Hyuk rupanya bukan hanya karena jiwa manusia satu itu telah menyerap begitu banyak kekuatan Kai. Taemin juga jengkel kepada fakta bahwa Min Hyuk bisa berdekatan dengan gadis yang sudah ia idam-idamkan sedari dulu.

“Meskipun begitu, aku tidak punya pilihan lain. Min Hyuk adalah sosok yang tegar, dan ialah satu-satunya orang yang bisa membantuku untuk merelakan Soo Jung bersama orang lain,” tambah Taemin, masih dengan nada tidak suka.

“Maksudmu?”

“Masa depan Soo Jung. Tugasku adalah mempertemukan Soo Jung dengan lelaki yang sudah ditakdirkan menjadi jodohnya.”

 

***

“Tolong beritahu aku bagaimana cara merelakan gadis itu bersama orang lain.”

Min Hyuk menelengkan kepalanya ke samping, bingung. Merelakan Soo Jung bersama dengan orang lain? Apakah Taemin sedang membicarakan perpisahan yang baru saja mereka hadapi? Memangnya, apa hubungan Taemin dengan semua ini?

“Min Hyuk, aku benar-benar butuh bantuanmu. Bagaimana kau bisa merasa ikhlas, meninggalkannya seperti itu?”

“Errr, mungkin karena aku sudah mati? Aku tidak punya pilihan lain,” jawab Min Hyuk tak yakin seraya mengendikkan bahunya. Lagipula, jawaban macam apa lagi yang bisa ia berikan? Itu ‘kan realitanya? Ia memang sudah mati, dan dilihat dari sisi manapun juga, orang yang sudah meninggal tidak mungkin bisa menjalin kasih dengan manusia yang masih hidup.

“Bukan seperti itu yang kumaksud. Aku juga sudah tahu kalau kau ini hanyalah arwah,” balas Taemin cepat. Ia menyilangkan kedua lengannya di depan dada, menghela napas panjang-panjang sebelum melanjutkan, “Lebih tepatnya, bagaimana caramu menerima kenyataan bahwa kau dan dia tidak akan bisa hidup bersama?”

“Oh, itu. Yah, terima saja. Memangnya, aku bisa melakukan apa untuk menolak takdir?”

Taemin mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat kala ia mendengar jawaban Min Hyuk itu. Kata-kata yang diucapkan oleh Min Hyuk barusan menohoknya sebegitu rupa, diarahkan tepat kepada egonya yang terlalu tinggi. Kalimat macam itu jugalah yang sering diucapkan oleh Master Kris untuk menyindir dan memperingatkannya. Ia adalah shinigami. Terima sajalah jika ia memang tidak bisa merasakan indahnya merajut cinta dengan seorang manusia.

Ck, terkadang, Taemin muak mendengar segala obrolan tentang takdir ini. Ia tidak menyukainya. Semua hal yang berhubungan dengan takdirnya terasa begitu salah. Dan apa yang bisa ia lakukan untuk memperbaiki kesalahan itu? Tidak ada. Ia hanya bisa menerima dan berusaha beradaptasi dengan realita kehidupannya yang teramat menyebalkan.

“Memangnya ada masalah apa? Kenapa kau begitu ingin tahu soal hubunganku dan Soo Jung?” selidik Min Hyuk setelah lama terdiam. Taemin menolehkan kepalanya, sangsi. Haruskah ia berkata jujur kepada roh manusia ini?

“Eummm, karena… itu karena….”

Min Hyuk mengerutkan keningnya, kentara sekali ia merasa heran dengan sikap Taemin. Hei, ini Taemin yang dulu sering mengajaknya bertengkar dan selalu marah-marah kepadanya itu ‘kan? Kenapa ia jadi terbata-bata begini?

Min Hyuk memperhatikan Taemin dengan saksama, menangkap sedikit semburat merah dan ekspresi malu-malu yang terpampang jelas di wajah Taemin. Sebentuk pemahaman pun langsung merayapi benaknya, membuat mulutnya terbuka lebar karena tak percaya.

“Ja-jangan bilang kau… menyukai Soo Jung?”

Taemin terbatuk seketika, kepalanya ditolehkan ke arah lain untuk menghindari pandangan Min Hyuk. Itu sudah cukup. Reaksi Taemin yang berlebihan itu cukup untuk membuat Min Hyuk mengerti. Rupanya, bukan hanya ia saja yang sudah terperangkap dalam pesona seorang Soo Jung.

“Bagaimana bisa? Apa kau pernah bertemu dengan Soo Jung?”

“Itu bukan urusanmu dan aku juga tidak sudi membuang waktuku untuk bercerita kepadamu,” balas Taemin tegas setelah ia berhasil mengendalikan dirinya sendiri. Tatapan matanya yang mengintimidasi itu kembali kepada Min Hyuk, menuntut akan sebuah jawaban.

“Apa?”

 “Kau belum menjawab pertanyaanku. Takdir, huh? Dan kau bisa menerimanya tanpa rasa sakit ataupun sedih barang sedikitpun?”

“Tentu saja aku sedih,” ungkap Min Hyuk langsung seakan hal seperti itu sudah teramat jelas. “Aku sedih dan pada awalnya aku tidak bisa menerima ini semua. Namun, seiring berjalannya waktu, aku mulai paham bahwa terkadang kita hanya bisa menerima nasib yang sudah ditetapkan –tidak peduli apakah itu baik atau buruk.”

“Aku mengerti itu. Tetapi, untuk menerima nasib yang tidak pernah kita inginkan….”

“Hei, tidak semua yang ada di jagad raya ini dapat berlangsung sesuai dengan kehendakmu. Itulah sebabnya kita harus belajar merelakan. Apa kau berpikir bahwa takdir yang baik akan selalu berpihak kepadamu?”

Kedua alis Taemin bertautan membentuk ekspresi tidak suka. Meskipun menyebalkan, mau tidak mau ia harus mengakui bahwa kata-kata Min Hyuk itu benar adanya. Ternyata, arwah manusia yang satu ini cukup bijak juga.

“Kupikir… yang terpenting adalah bagaimana cara kita menghadapinya. Aku tidak ingin berpisah dengan Soo Jung, tetapi aku juga tidak ingin melihatnya menderita. Jadi, kuputuskan untuk melalui segalanya dengan senyuman. Aku berusaha agar ia tetap bahagia setelah aku pergi, dan aku juga mencoba untuk tetap tegar meskipun kami tak lagi bisa berjumpa.”

“Begitu ya….”

“Ya. Kalau kau juga menyukainya, itu berarti kau harus rela melihatnya bahagia.”

“Semudah itu?”

“Menurutku sih… iya. Setidaknya aku tahu bahwa Soo Jung pernah mencintaiku, meskipun kini ia harus belajar melepaskanku. Aku tidak menyesal karena pernah mengenalnya.”

Sayangnya, Soo Jung tidak pernah bisa merasakan kehadiranku, Min Hyuk. Bagaimana mungkin ia bisa mencintaiku? Taemin membatin dengan nada sarkastis. Ia mendongakkan kepalanya untuk menatap Min Hyuk lagi, berusaha keras menyembunyikan kepedihan hatinya di balik kedua iris hitam pekat tersebut.

“Baiklah, terima kasih kalau begitu.”

“Sama-sama. Dan Taemin….”

Taemin menolehkan kepalanya, menunggu.

“Jika kau bisa menghadapi ini semua dengan rasa ikhlas, aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Aku tidak tahu hubungan macam apa yang kau dan Soo Jung miliki, tapi aku yakin kau bisa membuat gadis itu bahagia.”

“Aku tahu,” balas Taemin seraya mengulum senyum. “Toh, aku juga tidak akan sanggup melihatnya menderita.”

“Taemin!”

Serentak, mereka berdua menolehkan kepala ke asal suara. Tampak Lay yang sudah berdiri tidak jauh dari mereka, siap untuk menjemput Taemin. Si penjaga Afterlife itu melambaikan tangannya ke arah mereka, senyum lebar terpampang di wajahnya.

“Kurasa ini saatnya kembali ke Outsi–

“Boleh aku tanya satu hal sebelum kaupergi?” potong Min Hyuk langsung. Taemin menghentikan langkah kakinya, memberi isyarat kepada Min Hyuk untuk melanjutkan pertanyaannya.

 “Siapa orang itu? Manusia yang akan mengisi hati Soo Jung?”

Taemin menggigit bibir bawahnya sejenak, menimbang-nimbang. Tentu saja Min Hyuk akan merasa penasaran. Tadi, ia sudah membongkar sebagian dari tugas rahasianya dengan mengatakan bahwa ia harus merelakan Soo Jung dengan manusia lain. Bagaimanapun juga, suka atau tidak suka, Min Hyuk juga pernah menyimpan rasa cinta kepada Soo Jung. Mereka berdua sama dalam hal ini. Setidaknya, Min Hyuk juga memiliki hak untuk mengetahui siapa pasangan hidup Soo Jung, bukan?

Setelah berpikir selama beberapa saat, Taemin pun menarik keluar buku putih tebal dari balik jasnya. Ia membuka buku itu dengan cepat, kemudian menyodorkan gambar seorang lelaki berkulit putih susu dan berambut hitam yang tengah tersenyum simpul.

“Tunggu, orang ini….”

“Kau mengenalnya?” sambar Taemin cepat begitu ia melihat ekspresi terkejut yang melintas di wajah Min Hyuk. Yang ditanya hanya bisa mengangguk, matanya yang sipit terbelalak lebar.

“Dulu, dia pernah menyatakan perasaannya pada Soo Jung. Namun, Soo Jung menolaknya dengan alasan ia memunyai penyakit jantung.”

“Apakah dia orang baik?” desak Taemin lagi.

“Ya. Ia selalu mengajak Soo Jung mengobrol dan mampu membuat gadis itu tertawa. Mereka kehilangan kontak setelah Soo Jung memutuskan untuk menolak pernyataan cintanya dan memilih untuk menjauhkan diri sebelum ada yang terluka.”

“Mungkinkan Soo Jung pernah menyimpan rasa suka kepadanya?”

Kali ini, Min Hyuk mengangkat bahunya. Ia tidak pernah tahu bagaimana isi hati Soo Jung pada masa itu. Ia juga tidak memiliki keberanian untuk bertanya, takut jika jawaban Soo Jung malah akan menyakiti hatinya.

“Aku tidak tahu, Taemin. Tetapi, aku tidak akan berkeberatan jika lelaki itu yang menjadi jodoh Soo Jung nantinya. Oh Sehun adalah orang yang baik, percayalah padaku.”

 

***

 

“Asalkan dia orang baik, aku sih tidak keberatan.”

Taemin mendelik ke arah Kai yang tengah bersandar dengan santai di salah satu batang pepohonan, sibuk memainkan jam sakunya dengan sebelah tangan. Padahal, Taemin baru saja menceritakan isi pertemuannya dengan Min Hyuk tempo hari, setengah berharap agar Kai bisa menghibur dan menunjukkan sedikit rasa simpati kepadanya.

“Baiklah, baiklah. Kau tidak peduli pada perasaanku. Asalkan adikmu bahagia, maka semuanya tidak akan menjadi masalah, bukan?” balas Taemin sinis sembari menampakkan ekspresi terluka.

“Memangnya aku harus menunjukkan reaksi yang seperti apa? Min Hyuk benar. Kau tidak bisa mengubah takdir, Hyung.

Yeah, aku tahu. Dan sebagai tambahan, kau tidak perlu memperjelas semua ucapan Min Hyuk tempo hari. Beginikah sikapmu terhadap sahabat baik dan penolongmu?”

Kai mendengus, geli mendengar tanggapan Taemin yang dirasanya terlalu berlebihan. Yah, orang yang sedang jatuh cinta dan patah hati memang merepotkan. Mendadak, semua ucapan mereka bisa menjadi puitis, tingkah laku mereka menjadi aneh, dan –yang terparah –mereka bisa berubah menjadi sok dramatis seperti ini.

“Jadi, tugasmu itu hanya mempertemukan Soo Jung dengan orang yang sudah ditakdirkan untuknya?” tanya Kai lagi setelah beberapa saat saling mendiamkan. Taemin kembali melempar tatapan ganas saat mendengar kata ‘hanya’ yang terucap dari bibir Kai, membuat pria yang lebih muda itu bergegas mengunci mulutnya rapat-rapat.

“Begitulah. Kaupikir bagaimana perasaanku, harus mempertemukan gadis yang kucintai dengan pasangan takdirnya, ha?!”

“Oke, maafkan aku,” Kai mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. Sementara itu, Taemin sudah kembali larut di dalam pikirannya, telunjuknya sibuk memijat-mijat ujung pelipisnya untuk meredakan rasa pusing yang mendera.

“Tapi, Hyung… kalau mereka memang sudah ditakdirkan, kenapa kau harus ikut campur? Bukankah mereka sudah pasti bertemu?” Kai kembali mengutarakan rasa ingin tahunya, mengungkapkan keanehan yang sudah ia rasakan sejak tadi. Bukankah seharusnya takdir sudah menjamin mereka untuk saling berjumpa dan mencintai?

“Itu benar. Tetapi, mereka harus menunggu tujuh tahun untuk itu.”

“A-apa?”

Taemin mengeluarkan buku bersampul putih yang langsung dikenali Kai sebagai Book of Fate tersebut. Tanpa banyak kata, ia langsung membuka buku itu dan menunjukkan sebuah halaman dimana nama Soo Jung terpampang di atasnya.

“Mereka baru akan dipertemukan kembali tujuh tahun mendatang, Kai. Master Kris memberiku sebuah penawaran untuk itu. Mengizinkanku untuk mempertemukan Soo Jung dengan Sehun lebih cepat, menyodorkan kebahagiaan itu sebelum waktunya tiba.”

“Bukankah itu berarti kau memunyai pilihan? Kau tidak harus melakukannya, bukan?”

“Itu benar. Dan itu jugalah pangkal dari semua masalahku. Apakah aku harus membiarkan egoku menang dan menyerahkan semuanya pada takdir, ataukah aku harus ikut campur tangan demi membuat Soo Jung bahagia.”

“Entahlah, Hyung. Aku tidak tahu harus memihak sisi yang mana.” Kai mengerucutkan bibirnya, bimbang. Di satu pihak, ia ingin agar Soo Jung cepat-cepat menemukan kebahagiaannya tanpa harus menunggu hingga tujuh tahun lamanya. Namun, di sisi lain, ia juga tidak bisa melihat Taemin menderita karena harus melepaskan Soo Jung.

“Aku tahu kalau kau pasti akan berkata seperti itu. Tentu saja kau tidak bisa memilih antara aku dan adikmu. Tapi, kau tidak perlu khawatir. Aku sudah menetapkan pilihan,” ucap Taemin sembari menelusuri data-data diri Sehun dengan ujung jarinya. Ekspresi sesal dan pilu tersirat jelas di raut wajahnya.

“Sudah? Apa?”

“Aku ingin mengunjungi orang ini –Oh Sehun. Min Hyuk berkata bahwa ia adalah orang yang baik, jadi aku ingin melihatnya dengan mata kepala sendiri.”

Kai mengangguk-anggukkan kepalanya, tangannya menepuk pundak Taemin dengan penuh semangat. Berusaha menguatkan sahabatnya itu.

“Aku pasti membantumu. Lalu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya setelah kita memata-matai pria ini?”

“Jikalau dia memang orang yang baik, jika saja ia benar-benar kurasa tepat untuk Soo Jung, maka aku…” Taemin menggantungkan kata-katanya sekilas, iris hitamnya kini dilapisi oleh kilau bening yang siap meluncur turun. Kai menanti dengan sabar, sebelah tangannya masih tersandar di atas pundak Taemin.

“Maka aku akan merelakannya untuk hidup bahagia bersama Sehun.”

***

Seorang lelaki berambut hitam kecokelatan berjalan dengan langkah ringan menyusuri koridor kampus, sebelah tangannya mengapit buku-buku tebal yang akan digunakan dalam mata kuliah bisnis hari ini. Segaris senyum tipis terpampang di wajah tampannya, sementara tubuh jangkung itu berulang kali menunduk untuk memberi salam kepada dosen-dosen yang kebetulan ditemuinya.

“Sehun-a!”

“O, Baekhyun Hyung!” Pria yang dipanggil Sehun itu balas berteriak, tangannya membentuk sebuah gestur mengundang ke arah sahabat baiknya. Yang dipanggil langsung berlari cepat ke arah Sehun kemudian merangkulkan lengan kurusnya ke pundak sang sahabat.

“Hei, hei… jadi, kau menolak Jinri lagi? Gadis secantik itu? Dia sudah menyukaimu sejak lama, lho! Ayolah, Sehun, kau sungguh tidak ingin merasakan indahnya berpacaran, huh?” Baekhyun langsung menghujani Sehun dengan berbagai macam pertanyaan, alis hitamnya ia naik-turunkan dengan ekspresi ingin tahu. Sehun tertawa kecil, dengan gesit ia melepaskan diri dari rangkulan Baekhyun.

“Tetapi aku tidak menyukai gadis itu, Hyung. Lagipula, bukankah kau sendiri tertarik dengan Jinri? Ayolah, aku ini bukan orang bodoh. Mana mungkin aku merebut jatah temanku sendiri?”

“Apa maksudmu, ha? Aku hanya menganggapnya cantik, itu saja,” bela Baekhyun sembari memukul pundak Sehun ringan. Sehun terkekeh pelan. Menilik dari merahnya raut wajah Baekhyun sekarang, ia tahu bahwa kata-katanya itu tepat pada sasaran.

“Sudahlah, Hyung. Tidak perlu malu begitu. Bagaimana jika aku membantumu untuk mendekatinya. Mau?”

“Oh Sehun!”

Sehun tertawa semakin keras, meninggalkan Baekhyun yang masih berdiri di tengah-tengah koridor dengan wajah bersemu seperti tomat. Ia melambaikan sebelah tangannya, memberi isyarat bahwa kelasnya akan segera dimulai dan ia harus pergi.

Yah, kalau boleh jujur, Sehun bukannya tidak ingin mengisi masa mudanya dengan berkencan dan memiliki kekasih. Ia juga mau merasakan hal itu, sungguh. Hanya saja, ada satu masalah di sini yang menghalangi niat Sehun untuk mencoba berpacaran. Ia belum bisa menemukan gadis yang benar-benar ia cintai. Gadis yang bisa menggantikan posisi cinta pertama di dalam hatinya.

Jung Soo Jung.

Sehun mengembuskan napas panjang, tangannya mendorong kenop pintu ruang kelasnya hingga terbuka. Ia melangkah menuju kursi yang terletak di pojok kanan depan kemudian menjatuhkan dirinya di atas bangku kayu, lengkap dengan bunyi berdebam pelan. Dosennya belum datang dan ini memberi waktu bagi Sehun untuk memutar kembali ingatannya ke masa lalu.

“Soo Jung-a….” Sehun berbisik pelan, mengeluarkan sebuah foto yang selalu ia simpan di dalam tasnya. Foto yang diambil beberapa tahun lalu, ketika ia dan Soo Jung sama-sama dirawat di rumah sakit. Waktu itu, kamar mereka bersebelahan. Mengunjungi Soo Jung menjadi sebuah kebiasaan dan hiburan rutin bagi Sehun selama dua minggu yang membosankan itu.

Soo Jung yang selalu tertawa kala mendengar candaannya, Soo Jung yang tidak pernah menyerah dan selalu optimis meskipun kelainan jantung yang dideritanya cukup parah, Soo Jung yang selalu memberi semangat pada Sehun, juga berkata bahwa Sehun adalah lelaki yang baik dan menyenangkan. Gadis itu adalah seseorang yang mampu membuat jantung Sehun berdebar sedemikian cepatnya, memacu aliran darahnya lebih deras, dan menimbulkan letupan-letupan perasaan aneh di dalam dada Sehun.

Soo Jung membuatnya jatuh cinta untuk kali pertama.

Dan ia jugalah yang membuat Sehun merasakan sakitnya patah hati untuk pertama kalinya.

“Maaf, tapi hubungan seperti itu tidak akan berhasil di antara kita, Sehun-a. Aku bahkan tidak tahu kapan aku bisa sembuh dan hidup seperti manusia normal.”

“Dimana semua rasa optimismu itu, Soo Jung-a?”

Waktu itu, satu-satunya hal yang terlintas di pikiran Sehun adalah menemukan cara agar Soo Jung tidak menolaknya. Soo Jung adalah gadis yang pantang menyerah. Kata-katanya tadi sama sekali tidak menunjukkan ketegaran yang biasa Soo Jung miliki.

“Aku masih optimis bahwa aku bisa sembuh, Sehun! Tapi, tidak ada yang tahu bagaimana masa depan itu. Apa kau tidak takut jika suatu saat nanti aku pergi?” Soo Jung balas berteriak, membuat Sehun berjengit mundur.

“Aku tidak peduli! Apa kau tidak mencintaiku, Soo Jung-a? Aku melihatnya, aku melihat rasa sayang itu terpancar di matamu setiap kali kita bertatapan!”

Soo Jung memalingkan wajahnya, dan Sehun bersumpah bahwa ia bisa mendengar suara  isak tangis yang menjadi latar belakang pertengkaran mereka. Hatinya serasa diremas-remas, sakit. Ia tidak suka membuat Soo Jung menangis.

“Soo Jung-a….

“Pergilah Sehun. Pergi sebelum kau tersakiti.”

“Tetapi, aku mencintaimu! Apa kau tidak merasakan hal yang sama?” tuntut Sehun lagi.

“Kau tidak perlu tahu bagaimana perasaanku. Kau hanya perlu tahu bahwa aku tidak ingin melihatmu menderita.”

Sehun membeku di tempatnya berdiri, membiarkan tangis Soo Jung semakin keras tanpa bisa berbuat apapun. Dan ketika Soo Jung akhirnya memutuskan untuk menolehkan kepalanya kembali  kepada Sehun, satu kata berisikan perintah keluar dari bibir pucat itu dengan nada dingin dan datar.

“Pergi.”

 

Sehun memijat keningnya, matanya terbuka lebar saat ia menyadari bahwa para mahasiswa lainnya sudah duduk di bangku masing-masing sembari sibuk memperbincangkan tugas mereka. Ia menyelipkan foto itu kembali ke dalam bukunya, matanya terasa panas saat ia memikirkan bagaimana keadaan Soo Jung sekarang.

Ck, baru sekarang Sehun menyadari bahwa ia tak pernah mendengar kabar barang sedikitpun mengenai kondisi Soo Jung. Ia menyimpan rasa kepada seorang gadis yang bahkan tidak ia ketahui keberadaannya. Kalau boleh ditambahkan, ia bahkan tidak tahu apakah Soo Jung masih hidup atau tidak.

Ya Tuhan, tolong biarkan Soo Jung hidup. Biarkan ia selamat dan hidup normal seperti orang-orang lainnya di luar sana.

Dan yang terpenting, tolong izinkan Sehun untuk bertemu dengan gadis itu sekali lagi. Karena ia masih mencintai Soo Jung. Ia masih menyimpan rasa itu setelah bertahun-tahun lamanya dan ia masih berharap agar mereka ditakdirkan hidup bersama.

“Soo Jung-a… apakah kautahu bahwa aku masih menyayangimu?”

               

***

 

Hyung….

Kai merangkulkan lengannya pada pundak Taemin, membiarkan sahabatnya itu meneteskan bulir-bulir air dalam diam. Dua pasang manik hitam mereka masih lekat pada sesosok anak manusia bernama Oh Sehun. Sedari tadi, mereka sibuk mendengarkan setiap detail dari jalan pikiran dan ucapan seorang Sehun. Mendalami bagaimana isi hati manusia yang ditakdirkan sebagai jodoh Soo Jung itu.

“Ia mencintai Soo Jung, Kai. Manusia bernama Sehun ini… sangat menyayanginya.

“Aku tahu. Kalau begitu, apa kau masih akan tetap memegang teguh keputusanmu tadi?”

Taemin menatap Sehun dalam, menelisik setiap sudut terdalam benak dan hatinya. Ia tahu bahwa Sehun juga menderita. Pria itu mendambakan Soo Jung, menyimpan rasa cinta yang terus menggerogoti bagai racun karena tak kunjung tersampaikan. Taemin tidak bisa memungkiri bahwa Sehun memang lelaki yang tepat untuk Soo Jung. Ia tidak punya pilihan lagi selain menjalankan tugasnya dan membiarkan kedua anak manusia itu saling bersua–secepat yang bisa ia lakukan.

“Ya. Aku masih memegang kata-kataku di Outsiders tadi.”

Hyung, kau yakin? Benar-benar yakin?”

Taemin menghirup napas panjang-panjang, kemudian mengangguk mantap. Seperti kata Min Hyuk tempo hari, ia harus belajar merelakan dan menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya masing-masing. Tempat kosong di samping Soo Jung itu bukan miliknya, oleh karena itu ia pun harus segera melepaskannya.

“Aku mungkin egois, tetapi aku tidak akan membiarkan keegoisan itu merenggut kebahagiaan Soo Jung.”

“Jadi?”

“Sepertinya aku harus segera menyelesaikan tugas rahasia ini.”

***

A/N:

Let’s say hello to our new cast, Sehunnie!! :)

mungkin kalian bertanya-tanya kenapa aku nggak pakai Myung Soo buat pairingnya Soo Jung… dan alasannya adalah karena Myung Soo besok udah dapet jatah sendiri di Myungstal Series xD

selain itu, kalau ada yang masih inget, dulu namanya Sehun kan udah pernah muncul di chapter awal, jadinya ya udah deh sekalian aku pake lagi~

next project will be another EXO series, and (I think) the next chapter of LAL will be the last one…

mind to give some review? since the ending is near, tell me… who is your favorite character and why? ;)

Advertisements

5 thoughts on “Life-After-Life: Unknown [7/?]

  1. Aku setuju sama taemin! Jelasin! Seharusnya kai pun di real life lebih cocok seumuran sama taemin /kicked xD

    Bagian taemin bilang suka kalo dipanggil hyung sama kai aku kira bakal bromance -_- tau-taunya…. pletak pfftt xD

    Aku penasaran, gimana shinigami ini tercipta? Bahkan punya umur? Aku kira shinigami ini ada karna diciptain langsung gede dan hidup abadi? Enggak ya?

    Anak umur 5 tahun??? Ngomong sesadis itu? :OOO /pukpuk soojung/

    Jangankan kai, aku aja merinding sama tingkahnya taemin -_- ini orang maunya apa, maen rangkul peluk aja ckck

    Gara-gara baca notenya, aku jadi penasaran sama tokoh baru itu, eh baru baca kalimat pertama, langsung lupa bakal ada kejutan xD dan nggak jadi mikir kalo taemin bakal jadi manusia karna keinget itu note xD

    Puahahaha sehun?? Nggak terlalu cantik mer???? /digampar xD sehun oppaaaaa~ /kicked xD

    Dan aku lupa sehun udah muncul di chapter awal, tapi aku inget ada cowok rumah sakit itu xD aku kira sehun malah udah meninggal ._.v

    Suka banget yg bagian taemin ngobrol sama minhyuk, kata-katanya minhyuk dalem. Kenapa taemin bisa lebih egois daripada minhyuk yg bahkan ngobrol aja gapernah? Mungkin karena minhyuk udah pernah ngerasain pacaran sama soojung? XD (nanya sendiri jawab sendiri xD)

    Selamat! Aku udah nggak ngambek sama kamu. Tapi kamu tetep gaje /ditendang xD

    Jangan lama-lama last chapternyaaaa~~~~~

    Like

    • eung, aku ga bakal komen di kalimat pertamamu karena… udah kubilang kan, kalo mau nanya pertanyaan itu, tanya aja ke ibu mereka masing-masing u___u /kabursamajongin/

      hahaha, jujur, tadinya bagian Taemin-Kai emang udah bromance, tapi habis kubaca ulang tuh aku malah jadi geli sendiri… jadinya kutulis ulang dan mending berakhir crack aja kali ya merekaaa… lagian aku suka interaksi yang begini sih, lucu aja XD

      eh, dan jangan heran anak umur 5 taun bisa ngomong sekejam itu… pengaruh lingkungan sama ortu kali, makanya jadi kebawa.. salahkan orangtua mereka yg membawa pengaruh buruk ke anak masing2 /kenapamalahceramahmer/ -__-

      hahaha, sehun? ihh, nggak dong…. sehun mah masih cowok, nah kalo aku masukin luhan kesini, baru deh dipertanyakan… ini cantikan soojunga apa luhan-nya? /dor /kicked xD
      lagian, sehun di chapter awal itu kan cuma patah kakinya, bukan penyakit yg bahaya gitu.. masa iya semua cowok di sekitarnya soojung mati gitu aja, ntar dia sama siapa dong? /pukpuk/

      yep, dan pertanyaanmu udah kejawab sendiri tuh xD emang karena minhyuk pernah sama soo (plus dia tahu gimana perasaan soojung ke dia) bikin dia lebih ikhlas buat ngerelain gitu… at least hingga saat terakhir pun dia tahu kalo soojung sayang sama dia… beda sama taem yg cuma bisa ngeliatin diem2 dan ga bakal pernah ngerasain cintanya soojung gitu T___T

      last chapternya di-pending ya xD /tendang/
      you know lah aku lagi bikin side-story-nya LAL demi menjawab semua pertanyaan tentang shinigami dan master kris, jadi kamu tunggu side story dulu aja yaaa… chapter 8 masih kususun alurnya nih .__.v

      see ya at LAL side-story, doakan WB-ku cepet ilang dan bisa kelar ya 😀

      Like

  2. ternyata belum tamat nih cerita, pfft -__- next chapter kalau keluar kasih kabar yak mer…

    mer, disini kamu jahat banget sama taemin. aku kasihan sama taemin… walaupun dari dua (?)chapter sebelumnya udah nebak kalau Taemin endingnya gabakal sama soojung. tapi… tetep garela, kenapa kamu jahat banget ke taemin!! ><
    ganyangka si sehun bakal nongol lagi disini, kupikir cuman jadi orang yg namanya numpang lewat doang, kalau gasalah di chapter-chapter awal namanya aja kan yah yang disebut lol

    dan… makin bingung sama shinigami buatanmu ini mer. jadi… shinigami itu bedanya apa sama manusia kalau mereka juga bisa tumbuh… trus berarti mereka juga bisa berkembang juga kah? terus mas-mas penjaga gerbang after life sama si abang supir xiumin ras-nya sama kaya taemin juga ataukah beda ras(?)
    oh, btw si taemin udah gak ooc lagi xD

    ditanya karakter favorit… saya suka kris. habis ini side-story-nya tentang kris kan yah? xDD
    kenapa? karena dia ngingetin saya ke albus dumbledore…. bahkan disini ngebayangin sosok master tuh mirip albus dumbledore /salah xD

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s