Life-After-Life: Misunderstanding [6/?]

Standard

life-after-life

a fanfiction by Tsukiyamarisa

Cast(s): [CNBlue] Kang Min Hyuk, [f(x)] Jung Krystal, [SHINee] Lee Taemin, [EXO-K] Kai || Minor Cast(s): [EXO-M] Luhan, Kris, Lay and [EXO-K] Suho || Duration: Chaptered || Genre: AU, Romance, Family, Fantasy, slight! Angst-Thriller || Rating: PG ||

Summary:

Min Hyuk. Soo Jung. Taemin. Kai.

Mereka semua memiliki masa lalu dan masa depan yang saling terikat satu sama lain. Tidak ada satupun dari mereka yang paham, bagaimana catatan takdir akan memutuskan akhir dari kisah ini. Happy end or… not?

Disclaimer:

All casts belong to themselves. Storyline and poster belong to me. Inspired by: Black Butler and SHINee’s song – 1000 Years Always By Your Side. Do not plagiarize or repost without permission.

*****

Life-After-Life: Misunderstanding

 

Every single thing in this world happen for a reason

.

.

Even for the death and separation,

there is a reason hidden behind it

.

And my reason is:

To make sure that there wasn’t any past misunderstanding left between us

Because no matter what happen,

 I won’t let any tears, sadness, or pain exist in our precious memories

.

.

Teng!

Bunyi berdentang itu menggema ke seluruh penjuru Outsiders, menunjukkan pukul satu tepat pada dini hari. Kai berdiri di bawah menara jam besar itu dengan gelisah, kedua matanya masih setia menembus kegelapan malam untuk mencari sosok Taemin.

Plop!

“Tidak istirahat, Kai?”

Suara Luhan menembus kebisuan yang ada, nada cemas terdengar kentara di dalam suaranya. Sebenarnya, bukan suatu hal yang aneh bagi Luhan untuk melihat beberapa shinigami masih berkeliaran pada jam selarut ini–mengingat adanya jadwal kerja yang baru berlangsung di saat hari sudah gelap. Namun, setahu Luhan, para shinigami yang kebetulan bebas dari pekerjaan atau tidak memunyai tugas apapun akan lebih memilih untuk menghabiskan waktu luang mereka dengan berisitirahat. Satu yang pasti, bukan untuk melamun tak tentu arah di bawah menara jam seperti yang tengah Kai lakukan.

“Tidak. Kau sendiri? Anggota House of Warden jarang ditugaskan selarut ini, kan?”

“Ada kecelakaan bus yang terjadi di bawah sana. Bisa dibilang, mereka membutuhkan tenaga bantuan.” Luhan mengendikkan kepalanya ke arah pintu gerbang Outsiders, menunjukkan sekumpulan jiwa manusia yang terlihat linglung dan ketakutan serta beberapa shinigami yang sibuk mengarahkan mereka untuk mengantri di halte.

“Apa Taemin Hyung ikut bertugas?”

“Taemin? Setahuku tidak. Bukankah biasanya ia selalu bersama denganmu?” Luhan balik bertanya dengan kening berkerut. Aneh rasanya melihat mereka berdua terpisah. Semua penghuni Outsiders tahu bahwa Taemin adalah penolong Kai, bagaimana keduanya terikat dalam sebuah perjanjian dan bagaimana Taemin selalu bersikap protektif terhadap Kai.

Lalu, sekarang? Apa yang terjadi dengan mereka?

Luhan bisa mencium adanya masalah di sini.

“Kau bertengkar dengannya?”

“A-apa? Tentu saja tidak!”

“Lalu?” Luhan kembali mendesak Kai, sorotan matanya penuh rasa ingin tahu.

“Taemin Hyung menjauhiku. Ia berpura-pura sibuk ketika aku mencoba berbicara dengannya. Sekarang, ia menghilang entah kemana. Aku mencoba untuk menggunakan telepati, tetapi percuma saja. Ia seolah memblokirku, menolak kehadiran suaraku di dalam kepalanya.”

Untuk kedua kalinya, Luhan kembali mengernyitkan keningnya.

Ini aneh.

Taemin menjauhi Kai? Itu bukan hal yang biasa terjadi. Apapun masalah yang sedang mereka hadapi, Taemin tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya. Apa ada sesuatu yang sedang Taemin rahasiakan dari Kai?

“Lalu… Taemin Hyung terus-menerus membawa sebuah buku putih. Dia bilang… itu sebuah tugas dari Master Kris. Tapi, bukankah Cinematic Life Record itu warnanya hitam?”

Kali ini, kedua bola mata Luhan membelalak lebar hingga nyaris keluar dari rongganya. Ekspresi wajahnya dihiasi rasa terkejut yang teramat besar.

“Bu-buku putih? Maksudmu… Book of Fate?”

Book of… apa? Aku belum pernah mendengar nama itu sebelumnya.”

Book of Fate. Buku itu.…” Luhan menggigit bibir bawahnya, tampak sedikit ragu. Ia menghela napas panjang, kemudian melanjutkan, “Itu buku yang memuat takdir manusia. Kau tahu… baik dan buruknya nasib mereka, kaya atau miskin, bahagia atau tidak, juga siapa jodoh mereka.”

“Untuk apa….”

“Itulah yang membuatku bingung, Kai. Tidak sembarang shinigami boleh membawa buku itu. Butuh izin dari Master Kris untuk meminjamnya. Kami –para shinigami –hanya diperbolehkan membuka buku itu jika ada sesuatu yang mendesak.”

“Mendesak seperti apa?” Kai kembali bertanya. Apa Taemin sedang terlibat dalam sesuatu yang penting? Kalau begitu, apa? Mengapa Kai tidak boleh tahu?

“Mendesak karena manusia yang bersangkutan membutuhkan kekuatan kita. Bisa dibilang, kita membantu mengarahkan mereka menuju jalan takdir yang sudah ditetapkan.”

Kai mengangguk paham. Ia mencerna semua pengetahuan baru tersebut, pikirannya kembali melayang pada sosok Taemin. Membantu manusia? Manusia mana yang begitu membutuhkan bantuan Taemin saat ini? Apakah orang itu –siapapun dia –begitu berharga bagi Taemin?

Tetapi, Taemin tidak pernah memunyai masa lalu sebagai seorang manusia. Berbeda dengan Kai yang pernah hidup sebagai manusia, Taemin diciptakan sebagai shinigami sejak ia lahir dulu. Bagaimana mungkin Taemin bisa memiliki hubungan yang akrab dengan seorang manusia? Dia kan, belum pernah hidup di bumi sebelumnya.

“Kau sendiri… kenapa mencari-cari Taemin?”

Kai mendongak, menatap Luhan yang masih berdiri di sampingnya dengan setia. Tanpa sadar, ia mulai memainkan ujung jasnya, merasa tidak yakin untuk membicarakan masalahnya sendiri dengan Luhan.

“Itu… kautahu cara melihat masa lalu?”

“Ha?”

“Aku ingin… memperlihatkan masa laluku pada seseorang. Ada suatu kesalahpahaman yang harus kuluruskan.”

Luhan mengangkat sebelah alisnya, mempertimbangkan permintaan Kai barusan. Tentu saja ia tahu jawaban atas permohonan itu. Ia bisa membantu Kai. Hal seperti itu cukup mudah untuk ia lakukan –mengingat posisinya sebagai salah satu anggota dewan pengawas di tempat ini.

“Apa ini ada hubungannya dengan Kang Min Hyuk? Dengan perjanjian dan masa lalu kalian?” bisik Luhan rendah. Kai mengangguk mengiyakan, matanya memancarkan sinar penuh harap. Tanpa disangka-sangka, Luhan pun menepuk pundak Kai dengan sikap menenangkan, menyatakan bahwa permintaannya itu bukanlah sesuatu yang tidak mungkin dikabulkan.

“Kurasa Master Kris tidak akan keberatan jika aku membantumu… sedikit.” Luhan berucap riang, mengulurkan telapak tangannya ke depan wajah Kai.

“Jadi?”

“Berikan jam sakumu. Aku akan mengajarimu bagaimana cara memutar waktu.”

***

“Soo Jung! Tolong satu iced moccachino-nya! Meja nomor lima, ya!”

Soo Jung buru-buru meletakkan segelas besar iced moccachino ke atas nampannya, kemudian berjalan menyusuri deretan meja café. Siang ini,café tempatnya bekerja penuh sesak oleh pengunjung. Gadis itu nyaris tidak punya kesempatan untuk berhenti barang sejenak dan menghirup napas panjang.

Meja nomor lima.

Manik Soo Jung bergerak cepat ke seluruh penjuru café, mencari-cari meja yang dimaksud. Kakinya melangkah dengan sigap ke pojok belakang café, dimana seorang lelaki bertopi hitam dengan rambut kecokelatan sedang duduk sendirian seraya menatap ke luar jendela. Jemarinya bermain-main dengan sebuah jam saku emas yang tergeletak di atas meja.

“Satu iced moccachino.”

Lelaki itu menoleh cepat, pandangan matanya bertemu dengan milik Soo Jung. Ia meraih gelas berisi minuman yang dipesannya, menyedotnya perlahan tanpa melepaskan kedua iris kelam itu dari sosok Soo Jung.

Dan Soo Jung berani bersumpah bahwa jantungnya baru saja berhenti berdetak dan dunianya mulai dijungkirbalikkan.

Ini tidak mungkin terjadi, ‘kan?

Ini tidak nyata. Ini tidak nyata… ini tidak–

“Lama tidak berjumpa, Soo Jungie.”

Haruskah Soo Jung berteriak sekarang? Lelaki di depannya ini… bohong kalau Soo Jung berkata bahwa ia tidak mengenalnya. Ia merindukan suara itu. Ia masih ingat persis bagaimana cara lelaki ini memanggil namanya dengan penuh rasa sayang. Lelaki itu adalah salah satu orang yang begitu berharga dalam hidup Soo Jung. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan dan membenci kakaknya sendiri?

“Jong In Oppa….

“Hei,” Jong In melempar seulas senyum singkat, kemudian menundukkan kepalanya sembari memutar-mutar sedotannya dengan tampang kikuk.

“Apa yang… kenapa Oppa… ini bukan mimpi, kan?” ucap Soo Jung terbata-bata. Ia bisa merasakan otot-otot di kedua kakinya melemas begitu saja. Semua ini terlalu indah, terlalu mengejutkan untuk dibilang nyata.

“Maaf, Soo Jungie. Aku… ada sesuatu yang harus kubicarakan.” Jong In masih menolak untuk memandang Soo Jung, kedua tangannya kini sibuk membolak-balikkan jam saku di atas meja. Soo Jung bisa menangkap aura gelisah yang memancar dari tubuh kakaknya itu.

“Soal? Saat ini aku sedang… well, sibuk. Kau bisa lihat sendiri,” sahut Soo Jung sambil menunjuk ke seluruh penjuru café yang dipadati pengunjung.

“Apa kau bisa memberiku waktu sehari? Sehari saja, aku perlu menjelaskan sesuatu kepadamu.”

Soo Jung menarik napas, kemudian mengembuskannya panjang-panjang seraya memikirkan sebuah jawaban. Ia merindukan Jong In, namun ia juga tidak mungkin meninggalkan pekerjaannya begitu saja.

“Soo Jungie?”

“Besok,” putus Soo Jung akhirnya, “aku akan menemui Oppa besok. Bagaimana?”

Jong In mengangguk menyetujui, tampak puas dengan keputusan itu. Ia bangkit berdiri, kemudian menepuk puncak kepala Soo Jung sekilas. Rasa hangat mengalir ke seluruh tubuh Soo Jung, semua ingatannya akan masa lalu kembali membanjir keluar.

“Besok,” ulang Jong In. “Aku akan menunggumu di depan café ini.”

“Oke.”

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Jong In sudah melangkah menuju pintu café. Soo Jung membalikkan badannya cepat, menatap kepergian sang kakak dengan tatapan nanar. Secepat itukah? Tidak bisakah Jong In singgah di café ini barang sebentar lagi? Apa begini sikap kakaknya itu setelah sekian tahun tidak berjumpa? Jong In memang berkata bahwa mereka akan kembali bertemu besok, namun adakah jaminan bahwa pemuda itu akan menepati janjinya? Soo Jung tidak mau dikecewakan. Ia sudah cukup mendengar janji-janji palsu terlontar dari mulut orang-orang di sekitarnya.

“Jong In Oppa! Kau tinggal dimana sekarang?”

Jong In menoleh sekilas, kemudian menggeleng kecil.

“Kau… tidak perlu tahu. Yang pasti, aku akan kembali menemuimu esok hari. Aku berjanji. Saat ini, ada pekerjaan yang harus aku lakukan.”

Soo Jung mengangguk patuh, kedua pupilnya mengikuti punggung Jong In yang tengah berjalan keluar dari café dan mulai menghilang di tengah kerumunan orang.

Oh, betapa Soo Jung benci jika ada seseorang yang berjanji kepadanya.

Tetapi, entah kenapa, Soo Jung bisa merasakan adanya ketulusan di dalam kata-kata dan janji Jong In barusan. Seolah-olah ia bisa meraba masa depan dan mengetahui bahwa janji itu bukanlah sebuah kebohongan. Ia tidak tahu apa yang salah dengan dirinya, namun untuk sekali ini, ia mendapati akal sehatnya tidak lagi bekerja seperti biasa.

Soo Jung percaya pada Jong In.

Apapun yang terjadi di antara mereka, ia selalu memercayai sang kakak.

Itu ‘kan yang harus ia lakukan sebagai adik?

***

“Apa yang kau lakukan di Afterlife, Taemin?”

Suara itu terdengar tenang, namun nada menyelidik sangat kentara di dalamnya. Taemin mendengus pelan, pandangannya teralih kepada sosok Lay dan Suho yang tengah bersedekap di depan pintu gerbang menuju Afterlife.

“Menemui seseorang, tentu. Memangnya apa lagi?” jawab Taemin sembari mengangkat bahu, seakan-akan hal itu sudah teramat jelas.

“Kautahu sendiri bukan, untuk memasuki Afterlife kau butuh izin dari–“

Master Kris. Ya, aku tahu. Dan aku membawanya,” potong Taemin cepat. Ia mengulurkan tangan, menyodorkan selembar perkamen ke tangan Suho. Kedua pengawas Afterlife tersebut langsung mencondongkan tubuh mereka, berbisik-bisik seru dan sibuk memperdebatkan isi surat yang dibawa Taemin.

“Kang Min Hyuk?”

“Lihat! Ini ada hubungannya dengan takdir seorang manusia!”

“Kalau begitu kita harus memberinya izin masuk?” Lay bertanya dengan wajah tak yakin. Suho memainkan gulungan perkamen itu dengan kedua tangannya, kemudian mengangguk pelan. Toh, isi surat itu sudah teramat jelas. Mana berani mereka mengabaikan perintah langsung dari sang Master?

“Jadi?” Taemin masih berdiri di sana dengan raut bosan. Suho melambaikan tangannya ke arah pintu gerbang sebagai jawaban, membiarkan pintu megah tersebut terbuka tanpa suara.

“Silakan. Lay akan mengantarmu.” Suho melemparkan seulas senyum bersahabat. Taemin mengangguk singkat sebagai tanda terima kasih, kemudian bergegas memasuki Afterlife. Tujuannya hanya satu, bertemu Kang Min Hyuk dan menghilangkan kegundahan hatinya.

Taemin dan Lay berjalan menyusuri Afterlife tanpa banyak kata. Khusus untuk Taemin, matanya tidak bisa berhenti memandang setiap detail dari Afterlife yang tampak begitu berbeda dari dunia tempatnya tinggal.

Ini adalah kali pertama bagi Taemin untuk berada di tempat ini. Afterlifedunia bagi roh-roh manusia yang sudah meninggalkan bumi –adalah sebuah tempat yang jauh lebih sederhana jika dibandingkan dengan Outsiders. Tempat ini terlihat seperti ruang kosong yang teramat luas. Semuanya begitu putih dan bersinar. Ada awan-awan putih yang berarak di sekeliling mereka, menimbulkan kabut tipis yang kadang menghalangi pemandangan. Sang surya bersinar dengan teriknya di atas sana, jauh lebih panas daripada yang biasa Taemin rasakan di Outsiders. Akhirnya, pemuda itu pun terpaksa melepaskan jas hitamnya karena merasa gerah.

“Seharusnya kau tidak memakai pakaian setebal itu,” canda Lay sembari terkekeh geli. Taemin melempar pandangan tak terima, gerutuan kesal terlontar dari bibirnya. Ia ‘kan seorang shinigami. Jas hitam panjang sudah menjadi bagian dari pekerjaannya. Jauh berbeda dari Lay dan Suho yang hanya mengenakan kemeja tipis dan celana panjang –semuanya berwarna putih, tentu –karena mereka berdua memang tinggal di Afterlife.

“Sudahlah, Lay. Sekarang tunjukkan dimana Kang Min Hyuk berada.”

Masih menertawakan Taemin, Lay mengarahkan telunjuknya ke samping kanan mereka, di mana seorang pemuda bermata sipit sedang duduk sendirian dan sibuk merenung.

Itu Min Hyuk.

Thanks, Lay.”

“Aku akan meninggalkan kalian untuk sementara. Satu jam lagi, aku akan datang dan menjemputmu. Cukup, kan?”

“Menjemput,” ulang Taemin dalam desisan rendah. Ck, seperti anak-anak saja.

“Tentu saja. Memangnya kau bisa keluar dari tempat ini tanpa bantuan? Semuanya terlihat sama di sini. Tidak ada petunjuk arah sama sekali,” balas Lay panjang lebar. Taemin buru-buru mengangkat kedua tangannya, menunjukkan bahwa ia paham dan tidak ingin mendengar ocehan Lay lebih jauh lagi.

“Oke, oke! Asalkan kau pergi jauh-jauh dari kami, sekarang. Aku tidak ingin ada yang mencuri dengar.”

Lay mengangkat bahunya dengan tampang tidak peduli, kemudian buru-buru menyingkir dari tempat itu. Butuh beberapa saat bagi Taemin untuk memastikan bahwa sang pengawas Afterlife sudah benar-benar menjauh darinya, sebelum ia berbalik dan melangkah menghampiri Min Hyuk yang masih asyik dengan dunianya sendiri.

“Kang Min Hyuk?”

Pemuda itu terlonjak kaget, matanya semakin menyipit saat ia berusaha mengenali sosok Taemin yang berdiri tegap di hadapannya.

“Taemin?”

“Boleh aku bertanya sesuatu kepadamu?”

“Tentu saja. Apa?” sahut Min Hyuk sembari menepuk-nepuk ruang kosong di sampingnya, mempersilakan Taemin untuk duduk di sana. Kedua alis Min Hyuk terangkat tinggi, rasa penasaran tergambar jelas di wajahnya.

“Ini soal Soo Jung.”

“Soo Jungie?”

“Ya,” kata Taemin pelan. Ia mengambil napas panjang, kemudian melanjutkan kata-katanya dalam suara rendah, “Tolong beritahu aku bagaimana cara merelakan gadis itu bersama orang lain.”

***

“Jong In Oppa…”

“Ya?”

Soo Jung melirik sosok tinggi Jong In dari sudut matanya, mendapati kakaknya itu tengah berjalan lurus tanpa menatapnya barang sekalipun. Gadis itu menghela napas panjang, merasakan satu firasat buruk merambati sekujur tubuhnya tanpa bisa dicegah.

Kemarin, ia tidak bisa memercayai penglihatannya sendiri saat melihat sosok Jong In di depan matanya.

Pagi ini, ia merasa teramat bahagia karena Jong In benar-benar menepati janjinya tempo hari.

Sekarang, ia merasa begitu cemas dan nyaris menumpahkan semua kegelisahan hatinya pada sang kakak.

Mereka sudah berjalan-jalan mengelilingi kawasan ini sejak pagi. Selama itu pula, Jong In membiarkan Soo Jung mengisi sebagian besar percakapan mereka dengan cerita mengenai hari-hari yang ia jalani setelah kepergian Jong In. Pemuda itu hanya bergumam sesekali, terkadang tertawa kecil saat Soo Jung menceritakan sesuatu yang lucu, atau ikut memasang raut wajah bersimpati saat sesuatu yang buruk keluar dari mulut adiknya.

Tetapi, berkebalikan halnya dengan Soo Jung, Jong In belum mengucapkan sepatah kata pun tentang hidupnya selama ini. Soo Jung sudah mencoba bertanya, namun Jong In selalu berhasil membalikkan pertanyaan Soo Jung itu dan mengelak dari kewajibannya menjawab.

Sebenarnya, kemana Jong In menghilang selama ini?

Soo Jung tidak bisa menghentikan aliran rasa ingin tahunya begitu saja. Apakah Jong In menjalani hidup yang berat? Apakah ada sesuatu yang buruk terjadi? Mengapa sang kakak memutuskan untuk menemui Soo Jung sekarang?

Gadis itu sungguh-sungguh ingin tahu.

“Belok kiri di ujung sana.” Jong In menunjuk ke sebuah persimpangan jalan yang berada di depan mata mereka. Soo Jung mengangguk mengerti, kendatipun benaknya saat ini disesaki oleh beribu pertanyaan. Ia mengedarkan pandang ke sekelilingnya, kemudian terkesiap pelan begitu menyadari tempat di mana mereka sedang berdiri saat ini.

Untuk apa Jong In mengajaknya ke tempat seperti ini?

Mereka sedang berada di pinggiran kota Seoul, tempat di mana kerumunan manusia sudah teramat jarang ditemui. Ada gedung-gedung tinggi yang sudah tampak kusam dan tak terawat, apartemen kumuh tempat tinggal masyarakat kelas bawah, dan juga gudang-gudang kotor yang sudah tidak layak pakai.

Oppa, untuk apa–“

Jong In mengulurkan jari-jarinya untuk mengenggam pergelangan tangan Soo Jung, menarik gadis itu menuju sebuah persimpangan. Soo Jung hanya bisa pasrah, membiarkan dirinya melangkah di belakang Jong In. Kini, mereka berada di sebuah gang sempit yang diapit bangunan-bangunan tinggi. Tidak ada seorang pun yang selain mereka berdua yang mau menyambangi tempat itu. Mereka benar-benar sendirian.

“Aku harus memperlihatkan sesuatu kepadamu, Soo Jungie. Kumohon, jangan menjerit atau meninggalkanku begitu saja, ya?”

Soo Jung memandang ekspresi memelas yang tercetak begitu jelas di wajah Jong In. Ada apa ini? Apa yang ingin Jong In tunjukkan kepadanya? Kenapa mereka harus berada di tempat seperti ini?

“Tolong, Soo Jungie….”

“Baiklah.” Tanpa sadar, Soo Jung pun membiarkan kata itu melucur keluar dari bibirnya. Kedua lengan gadis itu melingkari tubuhnya sendiri, berusaha agar ia terlihat tetap tenang dan siap menerima kenyataan –apapun itu –yang hendak disodorkan oleh Jong In.

“Perhatikan. Dan jangan panik, oke?”

Soo Jung tidak melepaskan pandangannya barang sedetik pun dari Jong In, namun ia bisa melihat tubuh kakaknya itu mengabur menjadi bayang-bayang dan mulai menghilang bagaikan ditelan udara.

Ini gila.

Ingatan Soo Jung langsung terlempar ke masa lalu, di mana ia masih dapat mendengar suara Min Hyuk namun tidak dapat menggapai sosoknya. Kala itu, Min Hyuk sudah meninggal dunia dan arwahnya sedang mengunjungi Soo Jung untuk yang terakhir kalinya.

Lalu, bagaimana dengan ini?

Apa Jong In… ia sudah meninggal?

“I-ini… tidak mungkin, kan? Katakan ini… ini tidak benar! Ja-jangan bermain-main denganku, Oppa!”

“Aku tidak bercanda, Soo Jungie,” bisik Jong In perlahan. Bersamaan dengan itu, Soo Jung dapat melihat tubuh Jong In yang kembali memadat dan tengah berdiri di hadapannya dengan secercah senyum penuh kesedihan.

“Jangan membohongiku, Oppa!” teriak Soo Jung histeris. Jong In menggeleng kecil, tangannya terulur untuk menangkap tubuh Soo Jung yang limbung dan hampir terjatuh ke atas tanah.

“Aku tidak berbohong. Tidak.”

Apa ada yang lebih buruk dari ini?

Batin Soo Jung bergolak, menolak untuk percaya. Setelah Min Hyuk, lalu kakaknya sendiri? Sebenarnya, apa kesalahan yang pernah ia perbuat di masa lalu hingga layak mendapatkan hukuman semacam ini?

O-oppa… kau… kau bukan….”

“Aku bukan manusia lagi, ya. Hari ini, aku mendapat kesempatan untuk menjelaskan semuanya kepadamu. Karena itu, tolonglah Soo… tolong dengarkan aku. Seperti kau mendengarkan Min Hyuk dulu, bisakah kau melakukannya untukku?”

Min Hyuk?

“Oppa, kau mengenal Min Hyuk Oppa?”

“Ya, tentu saja.”

“Bagaimana–“

“Kalau kau mau mendengarkan, aku akan menjelaskan segalanya.”

Soo Jung menundukkan kepala, memainkan jari-jarinya dengan perasaan tak karuan. Ia butuh penjelasan, namun ia terlalu takut untuk menyelidiki kenyataan yang ada lebih jauh lagi. Apa masih ada hal-hal lain yang belum terungkap di dalam hidupnya? Kapan ia bisa hidup tenang dan bahagia? Kapan?

“Aku tahu ini membingungkan, Soo Jungie… tapi…”

Tapi, Soo Jung juga tidak bisa terus-menerus menghindar dari realita, bukan?

Menghadapinya sekarang atau nanti, apa bedanya?

Soo Jung mengangkat kepalanya perlahan, berusaha mengusir rasa takut yang menyelinap di dalam hati. Ia mengangguk cepat seraya mencengkeram ujung kaos Jong In. Kekhawatiran terpancar jelas pada kedua iris itu, namun ia tak lagi punya pilihan lain.

Ia harus menguraikan semua benang-benang kusut yang membelit hidupnya.

Ia harus meluruskan semua kesalahpahamannya dengan Jong In.

“Baiklah. Aku siap.”

Soo Jung menarik napas panjang, memenuhi paru-parunya dengan pasokan oksigen. Ia berusaha untuk mempersiapkan dirinya sendiri, sementara Jong In sedang sibuk memutar-mutar jarum penunjuk angka pada jam sakunya.

“Apa itu?”

“Kita akan menjelajahi masa lalu.” Jong In masih memutar jarum jam sakunya beberapa kali seraya menggumamkan sebuah mantra yang tidak dapat Soo Jung pahami.

“Kembali ke masa lalu?” pekik Soo Jung dengan nada tak percaya. Ia beringsut mendekati Jong In, seolah takut terjebak di dalam semua keanehan ini. Oh, sebenarnya dia memang takut.

Semua ini terasa tidak masuk akal, namun Soo Jung tengah mengalami dan menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Ia tidak punya alasan untuk merasa ragu atau semacamnya. Kalau ia bisa memercayai Min Hyuk, kenapa tidak dengan Jong In? Mereka berhak mendapatkan kesempatan yang sama.

“Tiga, dua, satu….”

Dan dunia di sekeliling mereka pun mulai berputar.

Seluruh warna seolah bercampur-baur menjadi satu, kilasan-kilasan adegan yang pernah terjadi di tempat ini berkelebat di depan mata mereka. Soo Jung memejamkan kedua kelopaknya rapat-rapat, sesekali ia berusaha mengintip keluar melalui sudut matanya. Mereka terjebak di dalam pusaran itu selama kurang lebih lima menit lamanya, sampai akhirnya putaran itu pun melambat dan berhenti sepenuhnya.

Soo Jung membuka matanya perlahan, menatap dunia di sekelilingnya yang tampak sama persis dengan apa yang baru saja ia tinggalkan. Satu-satunya perbedaan adalah kehadiran rembulan yang menggantung di atas sana, pertanda bahwa hari sudah malam.

“Inilah yang terjadi padaku dua tahun lalu. Inilah yang menyebabkan diriku tidak kembali ke rumah.”

“Malam ini… malam dimana Oppa meningg–“

 

 

BRAAAK!!

               

 

Soo Jung terlonjak kaget, tangannya terayun untuk mencengkeram lengan Jong In sementara kepalanya menoleh ke belakang untuk melihat apa penyebab suara berisik itu. Tak jauh dari mereka, nampak empat orang lelaki dengan gaya berpakaian serampangan, rambut acak-acakan, dan wajah murka sedang mengerumuni seseorang yang jatuh terduduk di atas jalanan.

“Apa yang–“

“Mereka tidak bisa melihat ataupun menyentuh kita, kau tenang saja,” bisik Jong In lirih.

 

“JANGAN MACAM-MACAM ANAK MUDA! BERIKAN SAJA UANGMU!!” bentak salah seorang dari preman-preman itu. Soo Jung buru-buru mengalihkan pandangnya dari Jong In, berusaha melihat peristiwa macam apa yang sedang terjadi di depan mata mereka.

“Sudah kubilang aku tidak punya apa-apa!”

 

Kening Soo Jung berkerut tatkala suara yang amat familiar itu memasuki gendang telinganya. Ia tidak mungkin salah mengenalinya. Itu suara Jong In. Tetapi, bukankah Jong In kini sedang berdiri di sampingnya dan ikut menyaksikan kejadian itu tanpa berkata-kata?

“Kau berani melawan kami, hah?!”

 

BUGHHH!!

 

Suara hantaman itu bergema di tengah keheningan malam. Keempat pria itu mulai berjalan menjauhi tubuh korban mereka, kekehan tawa puas menguar dari bibir masing-masing. Soo Jung memanfaatkan kesempatan ini untuk melihat lebih jelas identitas sang korban. Ia sudah punya dugaan tersendiri. Namun, menyaksikan prediksinya itu benar-benar menjadi kenyataan ternyata jauh lebih berat daripada yang ia pikirkan sebelumnya.

Itu kakaknya.

Itu Jong In. Tergeletak tak berdaya di pojokan gang, dengan wajah lebam di sana-sini dan setetes darah di sudut bibirnya. Sebelah tangannya mencengkeram pinggang kanannya erat-erat, erangan dan rintihan meluncur keluar dari mulutnya.

Mata Soo Jung membelalak lebar, sarat akan kengerian. Ia menatap sosok kakaknya di masa lalu itu tanpa berkedip, akhirnya mengerti alasan dibalik kepergian Jong In dua tahun yang lalu. Ia meninggal. Dengan cara yang teramat sadis. Satu hal yang tidak pernah dibayangkan oleh Soo Jung seumur hidupnya.

“Oppa, kau….” Soo Jung menoleh untuk memandang Jong In sejenak dengan tatapan berkaca-kaca. Kakaknya itu tetap mengarahkan kedua maniknya lurus ke depan, bibirnya terkatup rapat dan kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya. Hati-hati, Soo Jung pun mengulurkan tangannya sendiri untuk mengelus lengan Jong In lembut.

“Kau tidak perlu melihat adegan selanjutnya, Soo Jungie,” Jong In berkata pelan seraya menarik tubuh adiknya menjauh.

“Memangnya kena–“

 

 

JREEEEBB!!

 

“ARGGHHHH!!”

 

 

 

“Apa yang terjadi?!” Soo Jung berseru panik dan berusaha membalikkan tubuhnya sendiri untuk melihat kekerasan macam apa yang tengah diderita kakaknya di masa lalu. Namun, ia kalah sigap dengan Jong In yang kini menyeretnya semakin jauh dan mulai berkutat dengan jam sakunya lagi. Belum sampai semenit waktu berlalu, dunia sudah kembali lenyap dalam pusaran cepat yang menghalangi pandangan Soo Jung dari peristiwa itu.

“Kenapa?” Soo Jung bergumam lirih ketika mereka sudah kembali mendarat di masa kini. Jong In memang bertindak cepat, tetapi itu tidak cukup untuk melindungi indera penciuman Soo Jung dari bau amis dan pekat yang menguar di udara pada malam itu.

Darah di mana-mana.

Soo Jung memang tidak melihat apa yang sebenarnya terjadi di gang sempit itu, namun ia bisa merasakannya. Hidungnya tidak mungkin berbohong, kan? Ia mencium bau darah, mendengar teriakan kesakitan Jong In, dan ia mendengar seruan kejam para lelaki itu ketika mereka berhasil menghabisi korbannya.

“Mereka membunuhku, Soo Jung. Menusukku dengan pisau tajam tanpa ampun, memastikan bahwa aku tidak akan bisa melaporkan mereka ke polisi.”

“Kenapa?” ulang Soo Jung lagi, kali ini dengan suara bergetar menahan tangis. “Ke-kenapa ha-harus Oppa yang….”

“Itu takdirku, Soo Jungie,” balas Jong In singkat. Mereka mulai berjalan menjauhi daerah itu, berusaha menyapu pergi memori buruk yang pernah bercokol di sana. Soo Jung mengikuti langkah Jong In dengan kaki gemetaran, sedu sedan masih meluncur keluar dari bibirnya.

Jauh di depan mata mereka, senja mulai menampakkan dirinya. Matahari yang tenggelam di ufuk barat memantulkan bias sinarnya ke segala arah. Warna langit yang tadinya cerah kini mulai meredup, tanda bahwa malam telah tiba.

Soo Jung memejamkan sepasang kelopaknya, peristiwa pembunuhan sang kakak kembali berkelebat di dalam benaknya. Dua tahun yang lalu, pada saat-saat seperti ini, Jong In tengah berjalan sendirian tanpa tahu apa yang menantinya beberapa jam kemudian. Ia bertemu dengan segerombolan preman, dipojokkan, dan disiksa hingga meninggal dunia.

Sebutir air mata kembali meluncur turun dari sudut mata Soo Jung.

“Jangan menangis, Soo… kumohon,” pinta Jong In lembut seraya menghapus air mata Soo Jung dengan ujung jarinya. Gadis itu membuka matanya, maniknya bertemu pandang dengan milik Jong In. Tanpa pikir panjang, ia pun membenamkan diri ke dalam pelukan hangat Jong In, sadar bahwa ia merindukan semua ini.

Ia merindukan sesuatu yang tidak mungkin ia gapai kembali.

Sshhh, sudahlah… sudah. Itu semua sudah berlalu.”

“Mengapa mereka tega? Mengapa harus kau, Oppa? Apa yang salah dengan kita?”

“Tidak ada yang salah dengan kita. Itu takdirku, Soo Jungie. Aku memang ditakdirkan untuk meninggal malam itu. Aku ditakdirkan untuk pergi dari dunia fana ini dan melanjutkan hidupku yang baru,” ucap Jong In panjang lebar, berusaha untuk menanamkan pengertian kepada sang adik. Soo Jung menyeka air mata yang mengalir turun di kedua belah pipinya perlahan, sedikit demi sedikit mencoba untuk menerima semua ini.

Jong In benar.

Itu sudah takdir.

Dan bukankah ia sudah siap untuk menerima semua penjelasan dan realita yang akan dipaparkan oleh Jong In? Kenapa ia malah menangis begini? Yang sudah pergi akan tetap pergi. Meskipun saat ini Jong In kembali untuk memberi penjelasan, ia tidak mungkin tinggal terlalu lama di bumi. Ia bukan manusia lagi. Cepat atau lambat, ia akan kembali menghilang dari pandangan Soo Jung.

Sama seperti dengan Min Hyuk dulu, Soo Jung harus menghadapi perpisahan untuk yang kedua kalinya.

Ia pasti bisa melakukannya, iya kan?

“Jadi, sekarang Oppa sama seperti Min Hyuk Oppa? Menjadi arwah? Tinggal di atas sana?”

“Tidak. Itulah yang perlu kujelaskan padamu, selain semua ini tentunya.”

“Masih ada lagi?” Soo Jung berseru tak percaya, serta-merta menarik dirinya dari dekapan sang kakak. Matanya melebar penuh rasa takut. Ia tidak siap jika harus menerima kenyataan pahit lainnya, tidak ketika ia baru saja menyaksikan bagaimana cara kakaknya meninggal dengan mata kepala sendiri.

“Tidak perlu khawatir. Bagian terburuknya sudah berlalu,” tambah Jong In dengan nada menenangkan. Mereka berdua berjalan menuju sebuah taman kecil di sudut kota, memilih sebuah bangku panjang yang berada di bawah naungan pepohonan rindang.

Soo Jung segera mendudukkan diri di atas bangku itu, menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali dengan irama teratur. Ia butuh menenangkan dirinya terlebih dahulu. Ia shock, tentu saja. Namun, seperti kata Jong In tadi, itu semua adalah takdir mereka. Semua kejadian buruk itu sudah berlalu. Yang ia butuhkan sekarang adalah berusaha bersikap ikhlas dan menerima segalanya.

Mungkin ini akan butuh waktu yang lama, tetapi ia akan mencoba. Ia harus tetap mencoba. Jong In pasti tidak mau melihatnya terus-menerus bersedih, bukan? Kakaknya itu datang kemari untuk meluruskan semua kesalahpahaman di antara mereka, bukan untuk disambut dengan deraian air mata yang tanpa henti.

“Sudah siap?”

Soo Jung mengangguk mantap.

“Kau pasti bertanya-tanya mengapa aku tidak memberitahukan hal ini kepadamu lebih cepat. Mengapa aku membutuhkan waktu dua tahun sebelum bertemu denganmu, mengapa aku harus menunjukkannya lewat cara seperti itu….” Kata-kata Jong In hilang ditelan desau angin. Lelaki itu menundukkan kepalanya, jemarinya sibuk memainkan rantai jam saku yang tergantung di lehernya.

“Aku memang bertanya-tanya,” Soo Jung memberi jeda sekilas pada kata-katanya sebelum melanjutkan, kali ini dengan senyuman tulus terpampang di wajahnya, “tetapi, kupikir kau pasti memunyai alasanmu sendiri.”

“Itu benar.”

“Jadi?”

“Aku bukan arwah penasaran, Soo Jungie,” sahut Jong In dengan tampang geli. Soo Jung mengangkat sebelah alisnya, bingung.

“Bukan?”

“Begini… ada seseorang, namanya Taemin. Dia adalah shinigami–pencabut nyawa manusia.”

“Dan Taemin ini adalah orang yang mencabut nyawamu?”

“Tepat sekali. Dia yang memisahkan roh dan ragaku, kemudian bertugas membawaku ke dunia selanjutnya. Namun, sesuatu terjadi. Malam itu, Taemin memutuskan untuk memberiku kesempatan kedua, memberiku hidup yang baru untuk dijalani.

Sekarang ini… aku juga seorang shinigami. Dan untuk menjadi shinigami, dibutuhkan sebuah pengorbanan. Merelakan semua ingatanmu sebagai manusia dihapus dan mengulangi semuanya dari nol. Itulah yang terjadi padaku. Ingatanku terhapus dan aku melupakanmu sepenuhnya.”

Soo Jung mengangguk paham, memutuskan untuk menelan bulat-bulat semua rasa penasarannya dan menunggu Jong In menjelaskan segalanya. Semua ini memang terdengar tidak masuk akal. Mendengarkan cerita mengenai sebuah dunia yang tidak pernah Soo Jung ketahui sebelumnya cukup untuk membuat seluruh bulu kuduknya bergidik.

Namun, ia percaya pada semua kata-kata Jong In barusan. Ia sudah melihat dan membuktikannya sendiri , baik kehadiran Min Hyuk sebagai roh maupun Jong In sebagai shinigami. Terkadang, percaya adalah satu-satunya hal yang bisa kita lakukan di saat akal sehat dan nalar manusia tak lagi bekerja.

“Sesaat setelah perubahanku sebagai shinigami, aku tak lagi mengingat apapun tentang hidup manusiaku. Satu-satunya peristiwa yang bisa kuingat adalah detik-detik kematianku, ketika para berandalan itu membunuhku. Taemin juga berkata bahwa polisi menemukan jasadku tiga hari kemudian dan mereka berusaha mencari-cari anggota keluargaku, namun….”

Oh, tidak.

“Maafkan aku!” potong Soo Jung cepat, maniknya kini kembali digenangi oleh air. Ia kembali teringat akan hari-hari yang ia lewatkan seorang diri, berusaha keras untuk mencari Jong In. Kalau saja ia berusaha sedikit lebih keras… kalau saja kondisinya waktu itu tidak begitu rapuh… kalau saja ia tidak menyerah… kalau saja….

“Tidak apa-apa, Soo Jungie. Itu bukan salahmu. Lagipula, orang-orang itu mengambil dompetku. Aku sendiri juga begitu ceroboh karena meninggalkan ponselku di rumah. Polisi tidak bisa menemukan barang bukti lainnya dan mereka memutuskan untuk menguburkanku begitu saja.”

“Tetapi, Oppa….

“Sungguh, Soo Jung, tidak apa. Aku tahu kalau kau pasti sudah berusaha, namun kesehatanmu jauh lebih penting. Kau sendirian dan kau sedang sakit parah. Aku tidak bisa menuntutmu lebih atau meminta macam-macam darimu. Yang terpenting adalah saat ini. Kau sudah sembuh, bukan?”

“Darimana Oppa tahu?”

Jong In mengulum senyum tipis, telapak tangannya terulur untuk menepuk kepala Soo Jung singkat. “Inilah yang harus kuceritakan padamu selanjutnya. Soal Min Hyuk dan hubungannya dengan diriku.”

“Min Hyuk Oppa? Ada apa dengannya?”

“Ya, Kang Min Hyuk. Apakah kau akan marah kalau aku berkata bahwa… akulah yang mencabut nyawanya?” bisik Jong In lirih. Mulut Soo Jung terbuka lebar seketika itu juga, ketidakpercayaan kembali merayapi sekujur tubuhnya. Masih adakah kejutan-kejutan lain yang harus ia terima?

Oppa….

“Saat itu, aku tidak tahu kalau Min Hyuk memunyai suatu hubungan yang dekat denganmu. Aku hanya menjalankan tugasku. Selanjutnya, kau bisa tebak sendiri, kan? Arwah Min Hyuk kembali mengunjungimu untuk mengucapkan perpisahan terakhirnya.”

“La-lalu… apa yang terjadi setelah itu? Apa hubungan antara semua ini dengan Oppa?” Soo Jung kembali bertanya dengan suara terbata-bata. Lagi, ia tidak bisa menyalahkan Jong In atas hal ini. Seperti yang telah mereka bahas tadi, semua ini adalah jalan takdir mereka. Tidak ada yang bisa mencegah, pun mengubah apa yang telah ditetapkan atas mereka. Jong In hanya melakukan pekerjaannya. Soo Jung sama sekali tidak punya hak untuk menghakimi kakaknya itu.

“Min Hyuk adalah penghubung antara diriku dan dirimu. Ia membuatku mengingat segalanya kembali. Ia menolongku, memberikanku sebuah kesempatan untuk menjelaskan semua kesalahpahaman yang pernah kita miliki. Kaulihat, semua ini saling berhubungan.”

Kini, semuanya tampak begitu jelas di mata Soo Jung.

Ya, semua ini memang saling berkaitan satu sama lain, layaknya rantai takdir yang membelit hidup mereka semua. Baik di masa lalu maupun masa kini, peran mereka bertiga senantiasa saling melengkapi. Bahkan, mungkin saja masa depan Soo Jung pun ada hubungannya dengan apa yang tengah ia alami saat ini. Tidak ada yang paham bagaimana cara takdir bekerja. Juga, tidak ada seorang pun yang tahu kemana semua ini akan berujung.

“Aneh,” komentar Soo Jung beberapa saat kemudian. Jong In mengangguk, tidak bisa menemukan kata-kata lain untuk membantah ucapan adiknya itu.

“Soo Jungie….”

“Ya?”

“Aku lega karena bisa menyampaikan semua ini kepadamu. Pada awalnya, aku begitu takut bertemu denganmu.”

Soo Jung tidak bertanya mengapa, namun sorot matanya begitu menggambarkan rasa ingin tahu tersebut. Dan Jong In mengerti itu.

“Aku takut jika kau tidak bisa menerimanya. Bagaimana jika kau marah padaku? Bagaimana jika kesalahpahaman ini semakin berlarut-larut? Aku sempat berpikir bahwa membiarkanmu dalam ketidaktahuan mungkin jauh lebih baik.”

“Tapi?”

“Tetapi, itu semua salah. Setelah beberapa hari, barulah aku menyadarinya. Bahwa mengetahui realita –sepahit apapun itu –jauh lebih baik daripada menyembunyikannya rapat-rapat. Menyimpan rahasia dan kebohongan tidak akan membuat segalanya jauh lebih baik, kan? Itu sama saja dengan menumpuk luka dan racun, yang pada akhirnya akan berbalik untuk menghancurkan dirimu sendiri.”

Soo Jung mengulas satu senyuman manis, kemudian mengangguk mantap. Itu benar. Meskipun hatinya kini terasa bagai diiris-iris, namun mendapatkan kebenaran jauh lebih baik daripada menutupinya dengan kebohongan manis.

“Kalau begitu, aku punya beberapa permintaan terakhir sebelum aku pergi.”

“Secepat itukah?” Soo Jung tahu bahwa Jong In akan segera pergi, ia tahu itu. Tetapi, ia tidak bisa mencegah dirinya sendiri untuk tidak melontarkan pertanyaan barusan. Perpisahan memang selalu terasa berat untuk dijalani, bukan?

“Aku juga punya kehidupan di atas sana, Soo Jungie. Bosku… well, dia bisa marah kalau aku terlalu lama menampakkan diri di hadapan manusia dan malah bersenang-senang di muka bumi. Aku hanya datang untuk membereskan segala urusan yang dulu pernah kutinggalkan.”

“Katakan. Apapun itu, aku akan mengabulkannya. Janji,” sahut Soo Jung ringan seraya mengulurkan jari kelingkingnya. Jong In menyambut jari itu, sedikit teringat akan masa kecil mereka.

Eummm, pertama, kautahu… soal makamku,” kata Jong In pelan sembari meringis kecil. Soo Jung mengangguk paham, memberi tanda bahwa ia mendengarkan.

“Yah, polisi tidak bisa menemukan identitasku. Mereka hanya menguburkanku, tanpa nama. Bagaimanpun juga, aku sudah mencari-cari dimana tepatnya aku dikuburkan. Jadi, bisakah kau mengunjunginya? Untuk mencantumkan namaku?” pinta Jong In sambil menyodorkan secarik kertas ke tangan Soo Jung. Gadis itu membukanya, membaca selarik alamat pemakaman umum yang tertera di sana. Buru-buru ia mengangguk mengiyakan.

“Tidak masalah.” Soo Jung akan membereskan hal ini sesegera yang ia bisa. Dua tahun yang lalu, ia sama sekali tidak tahu bahwa kakaknya sudah meninggal, pun hadir pada acara pemakamannya. Sebagai satu-satunya anggota keluarga, tentu saja Soo Jung akan melakukan hal ini dengan ikhlas. Setidaknya, ia bisa membayar rasa bersalahnya kepada Jong In dengan cara ini.

“Lalu, berikutnya, soal dirimu.”

“Ada apa denganku?”

“Apa kau marah padaku? Karena aku menghilang begitu saja di masa lalu?” selidik Jong In dengan nada sendu. Soo Jung sontak menggeleng, menyatakan pertidaksetujuannya pada perkataan sang kakak.

“Aku menyesal karena tidak berusaha lebih keras untuk mencarimu. Aku bersalah karena aku sempat berprasangka buruk, mengira bahwa Oppa memilih untuk pergi meninggalkanku sendirian. Tetapi, jawabannya adalah tidak. Aku tidak marah dan membenci Oppa, tidak akan,” ucap Soo Jung tulus.

Ia sudah memaafkan kakaknya itu, selalu.

Itulah sebabnya mereka disebut dengan keluarga, benar begitu?

Karena sebuah kesalahpahaman saja tidak akan bisa meruntuhkan kepercayaan dan rasa kasih sayang yang pernah mereka bangun. Toh, semua masalah itu kini sudah terselesaikan. Kebenaran sudah terkuak. Apa gunanya menyimpan dendam pada saat-saat seperti ini? Soo Jung juga lebih suka menyelesaikan semuanya dengan satu kata ‘maaf’.

“Terima kasih, Soo. Hanya itulah yang kuminta darimu. Untuk memaafkanku. Untuk melupakan semua salah paham yang ada. Dan untuk menjaga kenangan masa lalu kita tetap sempurna, jauh dari kata sedih, duka, maupun susah.”

“Tentu saja. Masa lalu yang pernah kita lewati mungkin tidaklah sempurna, Oppa. Tetapi, tahukah kau? Aku tidak akan membiarkan setitik kotoran pun jatuh menodainya. Aku memiliki masa kecil dan masa remaja yang bahagia bersamamu, dan itu cukup.”

Benar-benar cukup, ulang Soo Jung di dalam hatinya.

Ia memunyai masa lalu yang bahagia dengan Oppa-nya, Jong In. Beberapa saat yang lalu, ia sempat mencecap sedikit kasih sayang dan cinta bersama Min Hyuk. Dan sekarang, ia berjanji untuk terus melanjutkan hidupnya dengan senyum dan tawa. Itu ‘kan yang Jong In dan Min Hyuk inginkan? Melihatnya bahagia?

Jong In mengelus rambut panjang Soo Jung, ujung-ujung bibirnya kini tertarik lebar. Rasa lega menelusup ke rongga dadanya, senang karena semuanya berakhir sesuai dengan yang ia harapkan. Urusan tertinggalnya di dunia kini sudah selesai.

 

 

Well, kerja bagus, Kai. Sudah kubilang, dia itu gadis yang baik. Semuanya lancar, kan?”

Master Kris,” batin Jong In menyahut saat itu juga. Ia bisa merasakan secercah rasa bangga terselip dalam suara Master-nya itu.

“Ingat, kau masih punya kewajiban di Outsiders. Selesaikan urusan terakhirmu, berikan benda itu kepadanya. Tugasmu cukup menumpuk di sini. Mau terus-terusan meminta Luhan atau Dio menggantikanmu?” sindir Kris langsung.

“Tidak, Master. Saya akan segera kembali.”

I’m waiting.”

 

 

“Jong In Oppa? Kau melamun?”

“Ha? Tidak. Bosku baru saja memanggil, memintaku kembali secepat mungkin,” balas Jong In sembari mengetuk kepalanya sendiri. Soo Jung mengerutkan keningnya dalam, berusaha agar terlihat paham dengan maksud ucapan Jong In. Lama-lama, ia menjadi terbiasa berurusan dengan segala macam hal gaib seperti ini.

“Soo Jungie?”

Mmm?”

“Apa kau… mau mengucapkan selamat tinggal padaku?”

Inilah saatnya. Sebuah perpisahan yang lain.

Entah mengapa, berpisah dengan Jong In membuat segalanya menjadi lebih nyata bagi Soo Jung. Setelah ini, ia terpaksa menelan kenyataan bahwa sang kakak sudah pergi untuk selama-lamanya. Ia tidak akan bisa mengobrol dan berjumpa dengan Jong In lagi. Ini adalah kali terakhir bagi mereka.

“Bisakah kita berjumpa lagi? Ketika aku sudah meninggal nanti dan pergi ke atas sana?” Soo Jung menyuarakan rasa ingin tahunya. Jong In menelengkan kepalanya sejenak, kemudian mengangguk kecil.

“Asalkan kau percaya, ya. Tapi, jangan pernah berpikir untuk membunuh dirimu sendiri hanya demi menyusulku atau Min Hyuk, paham?”

“Paham! Aku berjanji, Oppa! Aku akan menjalani hidupku sebaik mungkin dan aku tidak akan membuang-buang kesempatan yang aku miliki. Kalian berusaha keras untuk membuatku bahagia, jadi aku akan memastikan bahwa perjuangan kalian itu tidak terbuang sia-sia,” balas Soo Jung dengan nada bersemangat. Ia tidak ingin menangis. Ia tidak mau pertemuan terakhir mereka diwarnai dengan air mata dan kesedihan.

Ia ingin agar mereka bisa saling mengingat satu sama lain dengan senyuman.

“Aku pegang janjimu, Soo Jungie. Sampai kapanpun juga, kau adalah adikku yang terbaik! Mungkin kau tidak akan bisa melihatku, namun aku akan terus mengawasimu dari atas sana, layaknya seorang kakak yang bertanggungjawab,” janji Jong In mantap. Sebelah tangannya menarik keluar sebuah kalung dari dalam kantung celananya, kemudian mengalungkan rantai perak tipis itu pada leher Soo Jung. Sebentuk liontin tergantung di sana, dengan foto Jong In dan Soo Jung yang terpampang di tengahnya.

“I-ini….”

“Pada hari dimana aku meninggal, sebenarnya aku ingin memberikan benda itu kepadamu. Untunglah para perampok itu tidak mengambilnya. Selama ini, Taemin menyimpankan benda itu untukku. Sekarang, aku ingin kau memakainya.”

“Oppa….”

“Tolong, jangan pernah lupakan aku, ya?”

Soo Jung memamerkan senyum terbaiknya pada Jong In, menggeleng mantap sebelum berkata, “Tidak akan pernah! Aku menyayangimu, Oppa. Selalu.”

“Aku juga menyayangimu, Soo Jungie,” balas Jong In lembut. Ia memeluk tubuh mungil sang adik untuk terakhir kalinya, kemudian melangkah mundur sembari melambaikan tangannya. Soo Jung balas mengangkat sebelah tangannya untuk mengucapkan salam perpisahan, sementara jemarinya yang lain menggenggam liontin baru itu erat-erat.

“Terima kasih, Oppa. Untuk segalanya.”

Dan tubuh Jong In pun memudar, hilang ditelan kegelapan malam yang semakin pekat. Semenit kemudian, Soo Jung sudah benar-benar sendirian di tengah taman itu. Ia mencubit pipinya sendiri, mengaduh pelan ketika merasakan sakit yang berdenyut-denyut di sana.

Semua itu bukan mimpi.

Gadis itu mendongakkan kepalanya ke arah langit malam, menangkupkan kedua tangannya di depan dada, seolah-olah hendak berdoa. Kedua matanya terpejam perlahan, seiring dengan bisikan tulus yang keluar dari kedua belah bibirnya.

“Dimanapun kau berada, berbahagialah, Oppa. Berbahagialah, maka aku pun akan merasakan hal yang sama.”

 

***

Past. Sempurna.”

Kai memutar kedua bola matanya tatkala ia mendengar sambutan Kris yang teramat singkat itu. Sang Master menepukkan kedua tangannya sekali, kemudian berjalan ke balik meja besarnya dengan tampang puas.

Master? Apa Anda yakin Soo Jung akan baik-baik saja? Ia sudah mengetahui terlalu banyak tentang dunia kita.”

“Ia akan baik-baik saja. Tidakkah kau melihat bagaimana ia bisa menerima semua hal ini dengan baik?” Kris berkata santai sembari menggerakkan telunjuknya ke arah cermin bulat yang tergeletak di atas mejanya. Kai berjingkat maju, menatap gambaran yang terpampang di sana.

Itu Soo Jung.

Gadis itu sudah berada di kamar apartemennya lagi, duduk di depan jendela seraya menatap liontin yang tadi Kai berikan. Untuk sesaat, Kai mengira bahwa adiknya itu akan kembali menangis. Namun, ia salah.

Alih-alih membiarkan derai air mata membasahi wajahnya, gadis itu malah menampilkan satu senyuman manis. Seperti kata Kris tadi, ia terlihat baik-baik saja. Ia pasti bisa melalui semua hal gila ini.

Be happy, Oppa.”

Bibir Soo Jung bergerak pelan, membentuk kata-kata penyemangat itu. Kai –yang masih asyik menatap cermin penghubung antardunia –ikut tersenyum saat menyadari bahwa perkataan itu ditujukan kepadanya.

“Kau juga, Soo Jungie.”

 

 

BRAAAKKK!!

 

 

“Kai, kau sudah pulang? Tugasmu… sudah selesai?” Taemin tiba-tiba menyerbu masuk ke dalam kantor Kris, napasnya terengah-engah dan wajahnya diliputi rasa cemas. Kai memutar tubuhnya ke arah pintu masuk, bingung sekaligus heran saat melihat sosok Taemin. Setelah beberapa hari menghindarinya, mengapa kini sang partner terlihat sibuk mencari-cari dirinya?

“Ada apa?”

“Kau dan Soo Jung, sudah selesai?”

“Tenang, Taemin.” Belum sempat Kai menjawab, Master Kris buru-buru menyela pembicaraan mereka berdua sambil menepuk pundak Taemin ringan. “Kai sudah menyelesaikan urusannya. Kupikir, kau cukup pintar untuk tahu apa artinya ini?”

“Ya, aku harus segera melakukan bagianku,” desis Taemin ringan, ekspresi wajahnya kini menggelap seketika. Kai, yang merasa bahwa ia telah melewatkan sesuatu di sini, berjalan mendekat dan ikut meletakkan tangannya di pundak Taemin.

“Apa yang terjadi, Hyung? Luhan berpikir bahwa kau memiliki tugas khusus.”

Taemin mengangguk singkat.

“Boleh aku tahu?”

“Masa depan Soo Jung,” jawab Kris lagi, memotong percakapan mereka untuk yang kedua kalinya. Kai buru-buru memfokuskan pandangannya pada sang Master, siap mendengarkan penjelasan berikutnya.

“Kai, past. Min Hyuk, present. Sudah jelas bukan siapa yang bertanggungjawab atas future-nya?”

“Taemin Hyung? Ia juga memunyai hubungan dengan Soo Jung?” sambar Kai cepat begitu Kris menyelesaikan penuturan singkatnya. Kris menganggukkan kepalanya, memberi isyarat pada Kai untuk menanyakan perihal ini pada yang bersangkutan.

“Kai… Master Kris… kurasa aku tidak sanggup….”

“Kau mencintai Soo Jung, Taemin.” Itu pernyataan, bukan pertanyaan. Taemin mengiyakan, menunggu kalimat selanjutnya keluar dari mulut Kris. Master-nya itu menyunggingkan seulas senyum, kemudian berkata dengan nada memerintah, “Definisikan, kalau begitu. Seperti apa rasa cintamu kepadanya?”

Taemin kembali menundukkan kepalanya, memijat-mijat keningnya dengan raut frustasi. Ia tahu bahwa Kris baru saja memancingnya, menggali kelemahan terdalam Taemin. Jawaban untuk pertanyaan Kris tadi sudah teramat jelas. Satu kalimat itu sudah berada di ujung lidah Taemin, menunggu untuk dikeluarkan.

“Aku mencintainya dan itu berarti–“

Jeda sejenak. Taemin menghirup napas panjang, kemudian membiarkan jawaban itu meluncur keluar dari bibirnya seiring dengan sebulir air yang jatuh ke atas kulit wajahnya.

“Itu berarti aku akan melakukan apa saja agar ia bahagia.”

“Tepat. Dan bahagia untuknya hanya berarti satu hal. Ia sudah kehilangan orang-orang yang ia cintai. Sekarang, sudah saatnya bagimu untuk mempertemukan Soo Jung dengan orang yang mencintainya setulus hati,” sahut Kris bijak.

Kai melempar pandang, berganti-ganti antara Taemin dan Kris. Kedua alisnya bertautan, bibirnya mengerucut karena ia merasa diabaikan. Sebenarnya, apa yang terjadi di antara Taemin dan Soo Jung? Taemin bilang ia mencintai Soo Jung. Apa mereka punya masalah tersendiri yang tidak pernah Kai ketahui? Apa?

“Hyung….”

Taemin berpaling, matanya merah karena menahan tangis. Ia menghamburkan diri ke arah Kai, memeluk partner-nya itu erat untuk mencari sandaran. Ia sadar, Kai juga punya hak untuk mengetahui semua ini. Lelaki itu sudah Taemin anggap sebagai saudaranya sendiri. Lagipula, semua ini juga masih berkaitan dengan Soo Jung. Siapa tahu Kai bisa membantunya, bukan?

“Aku akan memberitahumu segalanya, Kai. Kali ini, maukah kau membantuku?”

***

A/N:

Akhirnya part 6 selesai jugaaaa *sujud syukur*

Oh iyaaa, LAL bakal tamat mungkin…. satu atau dua chapter lagi? Yang pasti, the end is already near~ Tapi aku masih nggak tahu ya kapan bakal nge-post chapter selanjutnya… habis UN mungkin? Sekitar tiga minggu lagi :)

Dan Master Kris is back! Ada yang kangen sama dia? Bahkan Min Hyuk pun aku kasih secuil part di sini… dan random-absurd couple a.k.a SuLay juga muncul lho di chapter ini ^^

Next chapter will be about Taemin and SooJung’s story! Stay tuned!!

:D

Advertisements

4 thoughts on “Life-After-Life: Misunderstanding [6/?]

  1. Thrillernya kurang berasa mer~~~ tambahin lagi detailnya /minta ditabok xD

    Why I got a goosebump when Soo Jung asked Kai how Kai know about Min Hyuk o.O aneh kan? .___.

    Okay, ini kayaknya aku lupa, kenapa Taemin ngediemin Kai? *baca lagi yg part 5*

    Saya penasarannnn itu kenapa si kai maenan di gang bisa sampe ketemu preman gitu??

    Maksudnya taemin future? Dia bakal balik ke bumi gitu buat “pacaran” sama soojung? Atau mereka sebelumnya pernah pacaran? Bzzzz aku penasarannnn~ please jangan tiga minggu, kelamaan -_____- (tan, inget, kamu bacanya juga suka telat) /tertampar xD

    Mer, kok kai manggil taemin hyung, pas nyebut luhan nggak make hyung? -_-

    Penasarannnnnnnn (lagi) apaan yang didiskusiin taemin sama minhyuk?????? >_____< tanggung jawab mer! Bikin penasaran saya berlipat ganda -_-"

    Aku kira "makhluk hidup" nggak boleh tau tentang dunia shinigami-afterlife…. Atau pengecualian buat soojung karna bakal ada hubungannya sama taemin???

    Merrrr~ part ini bener-bener bikin aku banyak bertanya-tanya, makin bikin penasaran. Buruan lanjutin~~~~

    Pfft~ baru nyadar, komen saya isinya pertanyaan semua xD semoga terjawab di part selanjutnya xD 2 part lagi? Kok sedikit -.-

    Sekian xDD

    Like

    • *claps* sebenernya, aku nunggu2 ada pembaca yang nanyain segala hal ini ke aku lhooo… dan kayaknya rasa penasaranmu udah meluap, membanjir kemana-mana kali ya tan… jadi karena aku baik, langsung kujelasin satu-persatu deh…

      1. Thrillernya kurang berasa mer~~~ tambahin lagi detailnya /minta ditabok xD
      >> whaat? kan aku udah nulis, semi-thriller… anyway, kai is still my biased dan aku ga setega itu buat nulis adegan bunuh-bunuhan atau naikin ratingnya -___-

      2. Okay, ini kayaknya aku lupa, kenapa Taemin ngediemin Kai? *baca lagi yg part 5*
      >> dari part 5, emang mereka udah sibuk sama urusan masing2 kok… semacam banyak pikiran, terlebih urusannya Taemin itu menyangkut soojung (yang otomatis ada hubungannya sama kai juga, pan dia kakaknya)

      3. Saya penasarannnn itu kenapa si kai maenan di gang bisa sampe ketemu preman gitu??
      >> seperti kata kai: takdir. Itu kan semacam slum area-nya seoul gitu, dan yah… namanya juga preman, mau ngerampok kek, mukulin, sampe ngebunuh juga gapapa kan ya… itu kai ga mainan di sana, dia diseret ke sana dan dihajar sama para preman (duh, ini kok aku tega bener sama bias? /brb peluk kai/
      terus inget kan waktu kai bilang dia mau pergi bentar ke soojung di part 5? nah waktu dia pergi itulah ga sengaja ketemu preman… and you know what happen next~

      4. Maksudnya taemin future? Dia bakal balik ke bumi gitu buat “pacaran” sama soojung? Atau mereka sebelumnya pernah pacaran? Bzzzz aku penasarannnn~
      >> semua readerku juga menanyakan hal yang sama… And I already gave some hint here, terutama di omongannya kris yang sok bijak… well, just wait and see xD

      5. Mer, kok kai manggil taemin hyung, pas nyebut luhan nggak make hyung? -_-
      >> basically, outsiders itu dunia yang universal (?) jadi mereka emang saling manggil nama doang, kecuali ke kris ya tentunya karena dia kan master mereka… jadi, kenapa kai manggil taemin hyung? disini tuh penekanannya bukan ke ‘Taemin lebih tua dari kai’ tapi karena Kai itu menghormati dia… inget, Kai kan dulu manusia, terus dia orang korea juga… waktu dia ketemu Taemin buat pertama kalinya, dia manggil Taem pake hyung karena dia merasa Taem itu semacam senior dan kakak buat dia… sedangkan Luhan – dio – dan para shinigami lainnya itu cuma dianggep temen kerja yg sepantaran gitu~ (well, kayaknya aku pernah nulis kalo kai-taemin saling menganggap satu sama lain sebagai kakak adik kan ya? ditambah ini kan AU… terserah aku dong mau bolak-balik umur mereka kaya apa xD)

      6. Penasarannnnnnnn (lagi) apaan yang didiskusiin taemin sama minhyuk?????? >_____> bakal di flashback di chapter 7 kok.. sekali lagi… SABAR :B

      7. Aku kira “makhluk hidup” nggak boleh tau tentang dunia shinigami-afterlife…. Atau pengecualian buat soojung karna bakal ada hubungannya sama taemin???
      >> Itu bukannya di akhir ada ya? Kai nanya ke Kris, khawatir soalnya dia udah cerita tentang Outsiders – shinigami terlalu banyak ke soojung. Masalahnya bukan boleh – nggak boleh… tapi lebih ke kasian manusianya kan… emang ada yg bakal percaya sama cerita begituan kalo ga liat pake mata kepala sendiri? adanya malah dikira gila dong -__-
      dan soojung itu boleh karena kris juga percaya dia bakal baik2 aja dan nyimpen rahasia… toh kalo dilihat2, soojung emang harus tau dan terbiasa… hidup dia kan tergantung sama tiga makhluk gaib itu xD

      haha, udah kan kejawab? mau tanya lagi silakan lhoo~ XD
      makasih ya intaaaan 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s