Life-After-Life: His Past and Her Life [5/?]

Standard

life-after-life

a fanfiction by Tsukiyamarisa

Cast(s): [CNBlue] Kang Min Hyuk, [f(x)] Jung Krystal, [SHINee] Lee Taemin, [EXO-K] Kai || Duration: Chaptered || Genre: AU, Romance, Family, Fantasy, slight! Angst || Rating: PG ||

Summary:

Min Hyuk. Soo Jung. Taemin. Kai.

Mereka semua memiliki masa lalu dan masa depan yang saling terikat satu sama lain. Tidak ada satupun dari mereka yang paham, bagaimana catatan takdir akan memutuskan akhir dari kisah ini. Happy end or… not?

Disclaimer:

All casts belong to themselves. Storyline and poster belong to me. Inspired by: Black Butler and SHINee’s song – 1000 Years Always By Your Side. Do not plagiarize or repost without permission.

*****

Life-After-Life: His Past and Her Life

 

It’s a story about his past and her life

.

.

Some memories about their past life

about love and hate between family,

about smile, happiness, and promises

but also about pain, tears, and misunderstanding

.

.

One precious memory that they won’t forget…

Will they be able to make a ‘happy ending’ for their story?

 

“Kai….”

Tidak ada jawaban.

Taemin menghela napas panjang, berusaha untuk tetap bersabar dalam menghadapi rekannya itu. Bayangkan saja, Taemin sudah memanggil nama Kai berulang-ulang sejak setengah jam yang lalu, namun yang dipanggil hanya bisa diam merenung tanpa menunjukkan tanda-tanda bahwa ia mendengar suara Taemin.

“Kai, ayolah. Kau bahkan tidak mau memberitahuku apa penyebab semua ini,” Taemin mendesah keras sembari melempar pandang prihatin ke arah Kai. Ia bingung, ia ingin tahu apa yang terjadi pada temannya, dan –lebih dari semua itu –ia khawatir pada keadaan Kai saat ini.

“Tidak ap–”

“Dan berhenti mengatakan kalau kau baik-baik saja! Aku bukan orang bodoh!” Taemin membentak keras, memotong ucapan Kai dengan sorotan tajam. Tentu saja ia tahu kalau perkataan ‘aku tidak apa-apa’ atau ‘semuanya baik-baik saja’ itu hanyalah bualan belaka. Ia mengenal Kai, ia tahu bagaimana pribadi pemuda itu.

Jadi, demi Tuhan, apa yang sudah membuat adik kesayangannya itu menjadi pendiam seperti ini? Kemana perginya semua tingkah kekanak-kanakan dan senyum usil di wajah Kai? Kemana hilangnya keceriaan itu? Apa terjadi sesuatu di antara Kai dan Min Hyuk?

Benar juga! Kang Min Hyuk, manusia merepotkan itu….

“Ini ada hubungannya dengan Min Hyuk, iya ‘kan? Aku benar bukan, Kai?”

Kai mengangkat kepalanya, memandang Taemin datar. Ia menggeleng singkat, kemudian mengangguk kecil, dan melanjutkannya dengan gelengan kepala penuh kebimbangan.

“Kalau ini semua gara-gara Min Hyuk, aku akan mencari Xiumin dan menyuruhnya untuk mengantarku ke Afterlife sekarang juga! Berani-beraninya dia membuat masalah dengan–”

“Cukup, Hyung. Sungguh, Min Hyuk sama sekali tidak bersalah. Ia sudah banyak membantuku.”

“Membantu? Apa kau yakin? Membantu merubahmu menjadi seorang Kai yang hobi bermuram durja, itu maksudmu?” Taemin membantah dengan nada sarkastis, memutar bola matanya dengan sebal.

Kai terdiam, membenamkan kepalanya di dalam kedua telapak tangannya. Melihat hal itu, Taemin buru-buru mendudukkan diri di samping Kai, mengulurkan lengannya untuk merangkul dan menepuk-nepuk Kai dengan sikap bersahabat. Tidak ada yang bisa menggambarkan perasaan Taemin saat ini. Ia panik, benar-benar panik.

“Kai….”

Hyung… ba-bagaimana caraku menjelaskan kalau….”

Taemin menutup mulutnya rapat-rapat, kali ini tidak sampai hati untuk menyela perkataan Kai. Ia masih menyandarkan lengannya di pundak Kai dan mendengarkan kata-kata Kai yang keluar dengan nada sendu.

“Bagaimana caraku menjelaskan pada Soo Jung kalau aku sudah meninggal?”

Mulut Taemin terbuka begitu saja, ekspresi terkejut terpancar jelas di wajahnya. Mendengar nama gadis itu disebut-sebut selalu berhasil membangkitkan sejuta kenangan indah di dalam benak Taemin. Dan mendengar nama itu terlontar dari bibir Kai telah membuat Taemin mengingat sesuatu yang lain. Suatu tugas tambahan yang masih ia kerjakan hingga saat ini.

“Jadi, kau sudah mendapatkan ingatanmu kembali.”

“Ya,” Kai menjawab dalam bisikan lirih, mengubur kepalanya semakin dalam demi menahan isak tangis yang bisa keluar kapan saja.

“Min Hyuk bisa melakukannya dengan baik, ‘kan? Membuat Soo Jung menerima kenyataan kalau dia sudah meninggal, maksudku. Jadi… gadis itu… dia pasti bisa menerima penjelasanmu dengan baik juga.”

“Apa kau bercanda, Hyung? Kau yang mencabut nyawaku, kau tahu setiap detail kejadiannya, dan kau bisa berharap bahwa semuanya akan berjalan lancar?” ucap Kai seraya tertawa getir. Bola matanya tampak kosong kala ia menatap ke arah Taemin.

Seketika itu juga, Taemin tahu bahwa ia telah salah bicara. Kai sudah mengingat segalanya, termasuk kejadian tragis di malam itu. Malam dimana Kai masih hidup sebagai seorang Kim Jong In, sekaligus malam terakhirnya sebagai seorang manusia.

Hyung, kau tahu bagaimana caraku mati. Kau menyaksikan itu dengan mata kepalamu sendiri. Jadi, bagaimana caraku menjelaskan pada Soo Jung tanpa membuatnya bersedih, hah?”

Kai bangkit berdiri dengan cepat, menggerakkan kakinya lebar-lebar untuk menjauhi Taemin. Sementara itu, Taemin hanya bisa terpaku tanpa mengatakan sepatah kata pun atau berusaha mencegah kepergian Kai. Ia tahu seberapa beratnya masalah yang sedang di hadapi oleh Kai.

Dan ia sendiri tidak tahu bagaimana cara menjawab pertanyaan Kai barusan.

***

Soo Jung melirik album foto tuanya dari sudut mata. Ia tidak mengerti apa yang salah dengan dirinya, namun perasaan sesak dan penuh sesal itu terus menghantuinya selama beberapa hari belakangan.

Awalnya, gadis itu mengira bahwa semua perasaan ini berhubungan dengan kepergian Min Hyuk. Kekasihnya itu baru saja meninggalkan Soo Jung beberapa hari yang lalu, satu jenis kepedihan yang cukup berat untuk ditanggung manusia manapun. Wajar bukan, jika seorang manusia berduka atas kepergian seseorang yang paling dia cintai?

Tetapi, perasaan ini –rasa bersalah dan kesedihan –yang menggumpal di dalam dada Soo Jung bukan ditujukan untuk Min Hyuk. Soo Jung tahu itu. Tatkala ia mengunjungi kuburan Min Hyuk tempo hari, ia menyadari bahwa hatinya telah mengikhlaskan Min Hyuk sepenuhnya. Ia telah merelakan pemuda itu dan bertekad untuk menjalani hari-hari di depan matanya dengan bahagia.

Lalu, apa yang salah di sini? Soo Jung sudah berusaha keras untuk mengabulkan keinginan terakhir Min Hyuk, mencoba agar senyuman indah selalu terpatri di wajahnya. Namun, kenapa hal itu menjadi terlampau susah untuk dilakukan? Mengapa selalu ada satu perasaan mengganjal yang menghalangi Soo Jung dari kata bahagia?

Dari ekor matanya, Soo Jung kembali menatap album foto itu. Mengembuskan napas panjang-panjang, kemudian meraihnya dengan tangan bergetar. Jemarinya membuka halaman pertama dari album itu, mengelus sebuah foto tua yang sudah berusia belasan tahun. Ingatannya melayang, otaknya mulai menyodorkan potongan-potongan film singkat mengenai kenangannya di masa lalu.

Jong In Oppa….

Apakah dia penyebab semua ketidaknyamanan ini? Apa ada sesuatu tentangnya yang tidak Soo Jung ketahui?

***

12 years ago…

Soo Jung berdiri di depan sebuah rumah mungil bercat putih bersih, matanya bergerak kesana-kemari dengan sorot takjub. Meskipun kecil, namun rumah itu memiliki halaman yang cukup luas dengan rumput hijau terbentang, bunga-bungan yang bergerumbul di satu sisi, dan pohon besar yang cukup rindang di pojok kanan sana.

“Baiklah, Soo Jungie. Ini rumah barumu. Apa kau senang?”

Sesosok laki-laki berbadan tegap yang mengenakan setelan hitam menepuk puncak kepala Soo Jung, membimbing gadis kecil itu untuk segera masuk ke dalam rumah. Soo Jung mengikutinya dengan senang hati, rasa penasaran menguasai dirinya. Dalam perjalanan ke tempat ini, Soo Jung sudah mendengar banyak cerita mengenai seseorang lainnya yang juga menghuni rumah ini. Ia tidak sabar untuk segera menjumpai orang itu.

“Oh, Ayah sudah pulang? Siapa gadis itu?” suara ceria seorang bocah laki-laki menyambut kedatangan Soo Jung, bersamaan dengan pintu rumah yang terbuka lebar. Soo Jung mengamati anak itu dari ujung rambut hingga ujung kakinya, matanya terpancang pada senyum lebar yang ditujukan kepadanya. Mau tak mau, bibir Soo Jung pun ikut mengembang karenanya.

“Namanya Jung Soo Jung. Mulai sekarang, dia akan menjadi adikmu. Jaga dia baik-baik, ya, Jong In?”

“Tentu!”

Bocah bernama Jong In itu menarik tangan kecil Soo Jung, mengajaknya masuk ke rumah dengan langkah-langkah lebar dan celotehan riang. Ia menunjukkan setiap sudut rumah tersebut pada Soo Jung, masih dengan tawa ceria yang terus terpeta di wajah polosnya. Soo Jung ikut terkikik kecil, teringat pada perkataan ayahnya tadi. Ayahnya bilang, ia harus memanggil Jong In dengan sebutan kakak.

“Jong In Oppa?”

“Ya? Waaaah, kau baru saja memanggilku dengan sebutan oppa? Iya ‘kan?” Jong In melonjak kegirangan, mata hitamnya berbinar-binar penuh rasa bangga. Soo Jung tertawa lagi, kemudian mengangguk kecil. Tanpa disangka-sangka, kedua lengan kurus Jong In sudah menariknya masuk ke dalam sebuah pelukan, merengkuh Soo Jung erat dan membuat gadis itu nyaris kehabisan napas.

O-oppa?”

“Aku akan menjadi Oppa yang baik bagimu Soo Jungie, sayang. Mulai sekarang, kau adalah adikku!”

***

Soo Jung selalu menganggap Jong In sebagai malaikat pembawa kebahagiaan di dalam hidupnya. Sebelumnya, ia tak pernah merasa sehidup dan sebahagia ini. Umurnya baru tujuh tahun, namun ia telah menjelma menjadi pribadi yang lebih pendiam dan tertutup dibandingkan dengan teman-teman sebayanya.

Sejak kecil, ia hanya hidup berdua dengan ibunya di sebuah rumah kontrakan yang berada di kawasan kumuh Seoul, tempat orang-orang miskin seperti dirinya tinggal. Ibunya selalu berkata bahwa ayah Soo Jung menghilang sesaat setelah gadis itu lahir–salah satu penyebab mengapa ibunya memberi nama Soo Jung menggunakan marganya sendiri, alih-alih menggunakan marga ayahnya.

Soo Jung tidak pernah berkeberatan hidup seperti itu. Teman-temannya boleh mengejek dirinya, berkata bahwa Soo Jung tidak memiliki ayah. Namun, Soo Jung selalu mengabaikan mereka. Ibunya menyayanginya, dan itu sudah cukup.

Sampai saat itu tiba. Ibunya yang sudah tua dan selalu bekerja keras membanting tulang setiap harinya itu jatuh sakit. Tak butuh waktu lama hingga kematian datang menjemput beliau, meninggalkan Soo Jung sendirian di tengah gelapnya dunia. Lalu, tanpa disangka-sangka, bantuan itu pun datang.

Seorang laki-laki dengan senyum dan mata yang persis seperti Soo Jung datang menjemputnya, memperkenalkan diri sebagai ayah Soo Jung. Gadis kecil itu langsung memercayainya tanpa ragu, toh ia sudah tidak lagi memunyai sanak saudara. Waktu itu, ia hanya bisa pasrah dan menyerahkan hidupnya pada seorang lelaki tua yang mulai ia panggil dengan sebutan ‘Ayah’.

Dan Soo Jung tidak pernah menyesali keputusannya kala itu. Kepercayaannya telah mengantarkan ia pada sebuah kehidupan baru, pada sebuah keluarga kecil yang hangat. Ia bertemu dengan seorang Kim Jong In, seseorang yang kini selalu dipanggilnya dengan sebutan ‘Oppa’, dan membuat masa kecil Soo Jung menjadi lebih berwarna.

Soo Jung pikir, semuanya akan baik-baik saja selama ia bersama dengan Jong In.

***

Umur mereka sudah tiga belas tahun, namun mereka masih sering bergandengan tangan dan saling berkejaran layaknya anak kecil.

Oppa!”

Jong In akan menoleh tatkala panggilan itu menyapa telinganya, tersenyum cerah untuk menyambut kehadiran Soo Jung yang selalu berhasil menyenangkan hatinya. Soo Jung menjatuhkan diri di sebelah Jong In, berbaring bersama di halaman rumah mereka sembari menatap bentuk-bentuk lucu awan putih di atas sana.

Oppa, boleh aku bertanya?”

“Tentu saja boleh. Kenapa?”

“Aku… ingin mengetahui tentang ibumu. Aku dengar dari ayah, beliau sudah meninggal sebelum ibuku, ya?”

Mata Jong In menggelap, namun ia tidak menangis atau memarahi Soo Jung karena telah menyinggung topik pembicaraan yang kembali membuka luka lamanya itu. Jong In hanya menarik napas perlahan, otaknya sibuk mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan hal ini kepada Soo Jung.

“Awalnya… aku begitu… membencimu.

Soo Jung tersentak kaget, kata ‘mengapa’ meluncur keluar dari bibirnya tanpa bisa dicegah. Jong In memejamkan matanya dengan sikap letih, jemarinya menggapai milik Soo Jung dan mengelusnya dengan sikap menenangkan.

“Maafkan aku, Soo Jungie. Tetapi, itu dulu. Kau ingin tahu mengapa? Karena aku mengira bahwa ibumu telah merebut ayahku.”

Soo Jung mengatupkan bibirnya rapat, menolak untuk berkata-kata. Ia masih menatap Jong In dengan sorot ingin tahu, meminta kakaknya itu untuk melanjutkan ceritanya.

“Ayahku jarang pulang ke rumah. Ibu bilang itu karena… karena ayah memiliki istri yang lain di luar sana, karena ayah punya keluarga lain yang selalu menantinya. Ketika ibu meninggal, lalu ayah malah mengajakmu tinggal di rumah ini, aku sangat ingin membencimu, Soo Jungie. Benci karena kau telah merebut ayahku dari ibu. Siapa kau, gadis kecil yang bisa seenaknya masuk ke dalam hidupku?”

“Tetapi Oppa tidak membenciku. Jong In Oppa selalu menyayangiku, iya ‘kan?”

“Ya. Dan kau tahu apa penyebabnya? Saat pertama kita berjumpa itu, ketika aku memandang sorot matamu untuk yang pertama kalinya, aku tahu bahwa kau sama sepertiku. Sama-sama kesepian dan kehilangan. Rasa sebalku luntur begitu saja, kemarahanku meluap entah kemana. Yang kupikirkan saat itu hanyalah satu. Aku tidak akan membuat gadis kecil ini menangis.”

“Terima kasih.”

Mereka terdiam sejenak, sibuk dengan pikiran masing-masing. Soo Jung meletakkan tangan kanannya ke atas dada kirinya, entah mengapa akhir-akhir ini ia sering merasa sesak dan nyeri di sana. Mungkinkah pembicaraan tentang masa lalu ini terlalu menyakitkan untuk ditanggungnya?

“Oppa?”

“Mmmm….”

“Ayah kita mungkin bukanlah yang terbaik. Beliau jarang bercengkerama dengan ibumu, begitu pula dengan ibuku. Orang-orang di sekitarku berkata bahwa ayah bukan lelaki yang baik. Mereka bilang… ayah sering bermain-main dengan wanita lain,” Soo Jung berbisik lirih, perkataannya sarat akan kepedihan. Jong In menoleh cepat, telunjuknya menangkap sebutir air mata yang mengalir menuruni lengkung pipi Soo Jung.

“Te-tetapi, ayah se-selalu menyayangi kita, b-bukan? Ayah tidak pernah membuang anak-anaknya sendiri….” ucap Soo Jung terbata-bata. Rasa sakit itu semakin menyerang dadanya, terlebih dengan tangisannya yang kini tak lagi bisa dibendung. Jong In segera menarik Soo Jung hingga terduduk, kemudian menepuk-nepuk punggungnya penuh dengan rasa sayang.

“Ya, ayah selalu memperhatikan kita.”

“Ba-bagaimana jika ayah membuang kita suatu hari nanti?” Soo Jung bertanya perlahan, tidak mengerti mengapa kata-kata tersebut bisa terbesit begitu saja di dalam benaknya.

“Tidak apa. Tidak apa-apa, Soo Jungie. Masih ada aku yang selalu menjagamu, benar begitu?”

***

Tiga tahun berlalu dan kini mereka sudah menjelma menjadi remaja tanggung berusia enam belas tahun.

Segalanya tak lagi sama, pun seindah yang mereka bayangkan sebelumnya.

Soo Jung sakit. Ayah mereka semakin jarang pulang. Dan Jong In ditinggalkan sendirian untuk mengurus semua kekacauan ini.

Rasa sakit yang sempat menyerang Soo Jung semenjak tiga tahun lalu telah semakin parah. Rupa-rupanya, gadis itu mengidap kelainan pada jantungnya sejak ia masih kecil. Kini, penyakit itu telah mengkronis, memaksa Soo Jung untuk mengunjungi rumah sakit berulang-ulang.

Keadaan di rumah pun tidak sebaik kelihatannya. Soo Jung selalu mendapati Jong In pulang larut malam dengan wajah lesu dan perasaan hati yang buruk. Soo Jung tahu bahwa kakaknya itu pasti lelah. Ia masih muda, namun keadaan memaksanya untuk ikut bekerja keras demi uang. Jong In seringkali menggunakan bakat dance-nya untuk menari di jalanan atau mengajari anak-anak yang lebih kecil di suatu klub. Semua itu dilakukannya untuk memperoleh penghasilan tambahan dan mengobati Soo Jung.

Malam itu, Soo Jung melangkah perlahan-lahan menuju kamar Jong In seraya membawa segelas susu hangat. Hanya satu hal kecil dan sepele memang, namun Soo Jung merasa ia harus sedikit membantu meringankan beban kakaknya itu.

Soo Jung baru saja hendak menaiki tangga, ketika suara bentakan itu menembus indera pendengarannya dan membuat gelas yang dipegangnya jatuh berkeping-keping di atas lantai. Sedikit cairan panas memerciki kulitnya dan meninggalkan bekas melepuh kemerahan, tetapi gadis itu mengabaikannya. Ia berjingkat pelan, menghampiri pintu kamar ayahnya yang setengah terbuka.

“Anak sepertimu pulang larut malam seperti ini? Kau mengira dirimu ini hebat?!”

“Setidaknya aku lebih baik daripada Ayah! Apa yang sudah Ayah lakukan untuk Soo Jung?”

Tangan Soo Jung mulai gemetaran, sebisa mungkin ia berusaha mengintip melalui celah pintu tanpa diketahui oleh ayahnya. Dari sini, ia bisa melihat punggung Jong In yang berdiri membelakanginya dan ekspresi wajah ayahnya yang diliputi emosi mendalam.

“Anak merepotkan itu? Ia hanya bisa menghabiskan uangku!”

Anak merepotkan? Apa mereka sedang membicarakan diriku? Soo Jung membatin dengan pahit.

“Ia anakmu! Ayah hanya bisa menelantarkan kami! Dan Ayah kira aku akan diam saja? Membiarkan Soo Jung sekarat karena tidak bisa berobat?!”

Jong In membelaku, benak Soo Jung kembali berbicara. Setitik rasa bahagia membuncah di dalam hatinya, senang karena kakaknya itu masih mau peduli terhadap kondisinya yang menyedihkan.

 

PLAAAK!!

“ANAK KURANG AJAR!!”

Kedua iris Soo Jung melebar seketika, tangannya menggapai gagang pintu dan mendorongnya hingga terbuka lebar. Ia menatap ayahnya dengan pandangan nanar, air matanya mengalir tanpa bisa dicegah. Rasa nyeri kembali menghunjam jantungnya, membuat napasnya terputus-putus dan pandangannya mulai mengabur.

“A-ayah, kenapa memukul Jong In Oppa?”

Pria tua itu berjalan dengan langkah terhuyung-huyung, nyaris menabrak tubuh ringkih Soo Jung. Aroma alkohol menguar dari kedua belah bibirnya, membuat tangis Soo Jung semakin deras. Gadis itu belum pernah melihat ayahnya mabuk hingga seperti ini.

“Kalian… hanya pengganggu! Anak-anak tidak berguna!”

Bentakan itu menyerukan gemanya di dalam rongga telinga Soo Jung, membuat gadis itu jatuh berlutut seketika. Alih-alih memedulikan reaksi Soo Jung, sang ayah hanya bisa mendengus dan memaki, kemudian berjalan melewati Soo Jung begitu saja. Tak lama kemudian, terdengar bunyi pintu depan yang dibanting menutup. Soo Jung tersentak kaget, berusaha mati-matian untuk tetap mempertahankan kesadarannya.

“Soo Jungie….”

Soo Jung mendongak, mendapati sudut bibir Jong In yang sedikit terkoyak dan kini dihiasi memar membiru. Matanya sedikit memerah, dan Soo Jung bisa melihat sebutir air yang tertahan di sudut-sudut kelopak mata kakaknya.

O-oppa… ke-kenapa?

Jong In menggeleng singkat, tidak sanggup untuk menjelaskan apa yang baru saja terjadi di sini kepada Soo Jung. Sedu sedan Soo Jung pun mulai terdengar lagi, kali ini jauh lebih menyakitkan dan menyiratkan kepiluan yang mendalam. Beberapa detik kemudian, pandangan Soo Jung pun menggelap dan dunianya serasa dijungkirbalikkan.

***

Ketika Soo Jung tersadar beberapa jam kemudian, ia mendapati dirinya tengah terbaring di atas sebuah ranjang putih bersih. Dinding ruangan yang melingkupinya juga berwarna sama, begitu pula dengan lantai dingin di bawah sana. Bau obat-obatan berpusar di udara, mencemari pasokan oksigen yang dihirup oleh sang gadis.

“Kau sudah bangun?”

Soo Jung menoleh, mendapati sorot penuh kecemasan Jong In yang terarah kepadanya. Ia mengangguk lemah, tangannya terulur untuk mengusap luka di sudut bibir kakaknya yang masih belum diobati.

“Tidak apa-apa, Soo Jungie. Semua akan baik-baik saja.”

Tetapi, Soo Jung bukan gadis bodoh. Jong In boleh berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja, namun Soo Jung tidak bisa memercayai hal itu. Firasatnya telah memberitahu jika hal-hal buruk akan mulai membuntuti dan mengacaukan hidupnya dari sekarang.

“Ayah pergi, ya? Kurasa ia sudah muak padaku. Ia tidak akan kembali lagi, iya ‘kan, Oppa?”

“Kenapa kau berbicara seperti itu?” Jong In balas bertanya. Soo Jung menghela napas panjang, tahu bahwa kakaknya itu sedang berusaha menghindar dari kewajibannya menjawab pertanyaan-pertanyaan Soo Jung.

“Jangan… jangan membohongiku. Katakan saja, Oppa. Aku tidak apa-apa, sungguh.”

Jong In memalingkan mukanya, jemarinya bergerak-gerak gelisah. Ia menimbang-nimbang sejenak, dan sejurus kemudian, jawaban itu keluar dari mulutnya dalam bisikan rendah.

“Mungkin… iya. Aku sudah mencoba menghubungi Ayah dan beliau sama sekali tidak mengangkat teleponku. Tetapi, Soo Jungie, masih ada aku di sampingmu, bukan? Jadi–”

“Jadi aku tidak perlu merasa sendirian. Aku tahu itu. Aku percaya padamu, Oppa.

Seutas senyum muncul di wajah Jong In ketika ia mendengar pernyataan Soo Jung barusan. Tentu saja, ia tidak akan pernah membiarkan adiknya hidup sendirian. Ia akan menjaga Soo Jung dan memastikan bahwa kepercayaan yang sudah ia dapatkan tidak berujung pada kesia-siaan belaka.

“Semuanya akan berjalan lancar, percayalah padaku,” Jong In bergumam pelan sembari menepuk-nepuk puncak kepala Soo Jung. Gadis itu memejamkan matanya, menikmati rasa hangat dan lembut yang memancar dari diri Jong In.

Saat ini, Soo Jung hanya bisa berharap agar ucapan Jong In itu segera menjelma menjadi realita kehidupan mereka.

***

Beberapa bulan kemudian, tepatnya dua hari setelah ulang tahun ketujuh belas Jong In, Soo Jung kembali dihantui oleh mimpi-mimpi buruknya yang seakan berputar tanpa akhir.

Malam itu, suasana sekitar tampak lebih mencekam daripada sebelum-sebelumnya. Bulan bersinar lemah, bersembunyi di balik awan kelabu. Bintang-bintang pun tak ikut bermunculan, membuat langit malam yang biasanya indah kini terlihat sekelam tinta hitam.

Soo Jung terbangun untuk yang ketiga kalinya, kaos putihnya basah oleh keringat dan napasnya mulai terdengar tak beraturan. Jarum jam menunjuk pada angka dua, pertanda bahwa malam sudah cukup larut.

Apakah Oppa sudah pulang?

Satu pertanyaan itu berkelebat di dalam benak Soo Jung tanpa bisa dicegah. Keningnya berkerut dalam, benaknya bertanya-tanya mengapa ia begitu mencemaskan Jong In malam ini. Apakah ada sesuatu yang salah? Mengapa rasa khawatir itu tak kunjung pergi?

Didorong oleh keingintahuannya sendiri, Soo Jung bangkit berdiri dan melangkah menuju kamar Jong In. Ia mendorong pintu kayu itu perlahan, menciptakan derit ringan di tengah kesunyian malam.

Oppa?

Kosong.

Alis Soo Jung terangkat tinggi, bingung. Kepanikannya makin menjadi dan keringat dingin mulai membasahi kedua telapak tangannya. Soo Jung menarik napas dalam-dalam, berusaha mengingat-ingat percakapan terakhir yang ia lakukan dengan Jong In tadi sore.

Oppa! Kau mau kemana?”

“Tidak akan lama, kok. Kau baik-baik di rumah, ya?”

“Jong In Oppa, hati-hati di jalan!”

Seingat Soo Jung, Jong In sudah berkata bahwa ia tidak akan pergi lama. Tetapi, faktanya? Ini sudah jam dua pagi dan kakaknya itu belum juga menampakkan diri. Soo Jung kembali mengeluarkan desahan panjang, membiarkan kedua kakinya memasuki kamar tidur Jong In. Kedua bola matanya menjelajahi seisi ruangan, mencari-cari kertas atau apapun yang berisikan pesan Jong In untuk dirinya. Mungkinkah ia melupakan sesuatu? Apa Jong In menginap di rumah temannya hari ini?

Nihil.

Alih-alih pesan, Soo Jung malah mendapati ponsel Jong In yang tergeletak di atas kasur. Ini aneh. Sang kakak hampir tidak pernah meninggalkan ponselnya di rumah seperti ini. Ia selalu membawanya, memastikan agar dirinya dan Soo Jung dapat berkomunikasi dengan mudah kapanpun mereka mau.

Apa yang sedang terjadi?

Soo Jung membiarkan dirinya jatuh di atas kasur Jong In, menghirup aroma kakaknya yang selalu terasa menenangkan. Kedua matanya menolak untuk terpejam, pikirannya berkelana memikirkan Jong In. Kecemasan dan kepanikannya semakin terakumulasi, membuat dada Soo Jung terasa sesak dan berat karenanya.

Semuanya pasti baik-baik saja, iya ‘kan?

***

Pagi menjelang dan Soo Jung tetap bertahan pada posisinya.

Satu hari terlewati begitu saja, begitu pula dengan hari kedua, ketiga, dan keempat.

Di akhir minggu itu, Soo Jung benar-benar tidak tahu harus melakukan apa lagi.

Sudah seminggu ini Jong In menghilang, tanpa pesan dan tanpa kabar. Ia sudah mencoba bertanya pada orang-orang di sekitarnya, menelepon teman-teman Jong In, dan mencari kesana kemari dengan segenap kekuatan yang ia miliki.

Semuanya berakhir tanpa hasil yang ia inginkan.

Jong In bagai lenyap ditelan bumi, menghilang sepenuhnya dari hidup Soo Jung. Kini ia benar-benar sendirian, tanpa teman maupun tempat bergantung. Pikiran-pikiran negatif mulai bermunculan, seiring dengan rasa dikhianati yang semakin menguasai hatinya.

Apa Jong In juga sudah bosan mengurusnya? Sama seperti ayahnya, apakah kakaknya itu juga sudah muak melihat rupa Soo Jung?

Apa ia memang pantas mendapatkan ini?

Semua kesialan di dalam hidupnya ini… bisakah mereka berhenti barang sejenak saja?

Soo Jung berjalan dengan lesu, semangat hidupnya telah menguap tanpa bekas. Ia baru selesai menjalani pemeriksaan rutin di rumah sakit, dan hasil yang keluar tidak sebaik yang ia harapkan. Dokter memberitahunya bahwa penyakit yang ia derita telah semakin parah–efek samping dari stres dan rasa khawatir yang akhir-akhir ini selalu mendekam di dalam benak Soo Jung.

Apa ini yang mereka inginkan? Melihat Soo Jung mati perlahan-lahan karena kesepian?

Toh, ia memang tidak layak untuk dipedulikan, bukan?

Tanpa ia sadari, badannya mulai limbung dan jatuh merosot di atas lantai rumah sakit. Soo Jung menyeret dirinya sendiri, bersandar pada dinding salah satu koridor yang kala itu tampak sepi. Ia menekuk kedua lututnya, menyembunyikan kepalanya di sana, dan mulai menangis tanpa henti.

Mengapa ia tidak mati saja? Apa gunanya terus bertahan di dunia ini?

Ayahnya sudah pergi. Kakaknya, Jong In, menghilang tanpa jejak.

Semua orang yang Soo Jung sayangi malah berbalik mencampakkannya, mengkhianati janji-janji yang pernah mereka buat di masa lampau.

“Kau… tidak apa-apa?”

Suara lembut seorang laki-laki menyapa telinga Soo Jung. Ia mendongak sekilas, melihat raut wajah seorang pemuda yang balik menatapnya dengan cemas.

Mengapa laki-laki ini peduli? Mereka bahkan tidak saling kenal. Apakah ini hanyalah sebentuk rasa iba dan kasihan yang ditujukan untuk sosok lemah seorang Jung Soo Jung?

Soo Jung tetap bungkam, menolak untuk menjawab. Beberapa saat kemudian, gadis itu merasakan sesuatu yang besar dan hangat melingkupi tubuh mungilnya. Sebelum Soo Jung sempat menyadari bahwa jaket lelaki tak dikenal itulah yang kini membungkus dirinya, ia merasakan tangan besar sang lelaki tengah menepuk-nepuk punggungnya dengan irama menenangkan.

“Kenapa? Kenapa… kau peduli padaku?” Soo Jung bertanya lirih, jemarinya mulai mencengkeram ujung pakaian laki-laki itu dengan eratnya. Soo Jung memang tidak mengenalnya, namun ia juga tidak mampu menolak aura kasih sayang dan rasa aman yang terus menguar dari diri pria itu. Ia bisa merasakan bahwa ini bukan sekadar iba. Ini adalah ketulusan.

Saat itu juga, Soo Jung tahu bahwa ia akan terikat dengan lelaki ini dan –mungkin– mencintainya pula suatu hari nanti.

Tetapi, ia tak pernah tahu bahwa masa bahagianya bersama Kang Min Hyuk –pria baik hati yang menolongnya malam itu –hanya akan berlangsung dalam kurun waktu dua tahun saja.

***

Kedua iris gelap Taemin masih menempel pada sosok Soo Jung yang sedang berjalan menyusuri trotoar menuju tempat kerjanya. Gadis itu tampak ceria, dengan senyuman mengembang dan bibir yang terus-menerus menyenandungkan irama-irama riang.

“Soo Jung….”

Taemin bergumam pelan, masih memperhatikan sosok Soo Jung tanpa henti. Kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya, kakinya serasa terpaku pada tanah yang dipijaknya. Sedikit-banyak, memori-memori dari masa lalunya kembali bermunculan, membuat rasa rindu yang ada di dalam hati Taemin semakin memuncak setiap detiknya.

“Apa yang harus kulakukan?” Taemin bertanya pelan pada dirinya sendiri, tangannya menyusup ke balik jas untuk mengambil sebuah buku berwarna putih yang dipinjamkan oleh Master Kris kepadanya tempo hari. Buku yang akan membantu dirinya dalam menghadapi tugas khususnya.

“Kalau kau tidak bisa melakukan ini, itu berarti kau tidak jauh berbeda dari Kai.”

Taemin mendengus geram, sindiran dari Master-nya kemarin kembali terngiang di dalam benaknya. Taemin tahu persis bahwa Kai masih memunyai kendala untuk mengatakan semua kebenaran di balik kematiannya terhadap Soo Jung, sama seperti dirinya yang masih memiliki masalah dalam merelakan hilangnya eksistensi seorang Jung Soo Jung di dalam hidupnya.

Taemin menginginkan masa lalunya kembali.

Demi apapun juga, demi hidupnya sebagai shinigami, Taemin ingin mencoba merasakan bagaimana indahnya menjalani hidup sebagai manusia fana. Taemin ingin berada di sana, di sisi Soo Jung, untuk menjaga gadis itu baik-baik. Ia ingin kembali merasakan genggaman tangan Soo Jung yang hangat, menikmati indahnya dunia tanpa ada beban dan penghalang yang mengganjal.

Tidak bisakah?

Mengapa takdir harus begitu kejam?

Mengapa takdir harus memisahkan Soo Jung dari orang-orang yang ia cintai?

Kalau Taemin bisa memilih, ia tidak akan mau tercipta sebagai shinigami. Kepuasannya dalam menjalankan tugas dan mencabut nyawa manusia, tidak pernah sebanding dengan kegembiraannya karena bisa mengenal sosok Soo Jung.

Helaan napas kembali keluar dari bibir Taemin. Pemuda itu membuka halaman pertama dari buku putih tersebut, berusaha menguatkan hatinya untuk menghadapi kenyataan.

Ia memang tidak diciptakan untuk seorang Soo Jung. Ia harus merelakan orang lain untuk menempati posisi itu.

“Soo Jung… tahukah kau bahwa aku masih mencintaimu?”

***

Advertisements

4 thoughts on “Life-After-Life: His Past and Her Life [5/?]

  1. Duarrr!!! Endingnya!!!!!! Jadi? Dibagian mana nih taemin masuk?? Sukses bikin penasaran >,<
    Efek selesai nonton SHINee World saya ngebayangin taemin kok jadi cewek ya? Cantik banget dia /plak -keluar jalur xD

    Tau nggak mer? Pas bagian si ayah nampar jongin, telingaku yang berdenging ._____. Ini feelnya dapet banget atau aku yang terlalu menghayati? Atau dua-duanya? xD

    Typo! Seulas senyum. Bukan seutas senyum. Utas itu tali. Ulas itu sedikit…

    Penasaran!!!! Saya kira di chapter ini bakal dijelasin gimana jongin mati –"

    Buruan lanjutin!!! Lanjutin yang ini dulu~ yang exo series belakangan /diketok xDD

    -sekian

    Like

    • muahahahahaha xD
      actually, ini emang sengaja aku potong di sana… tadinya sih mau bikin chapter 5 sekalian sama kejadian gimana jongin mati… etapiii, aku udah ngetik 15 halaman lebih dan blm kelar cobaaa… makanya terpaksa aku bagi jadi dua chapter deh -__-

      nah, padahal taemin sekarang udah manly tauuu > <
      liat shinee yg sekarang tuh udah ga ada taemin yg cute lagi, adanya cuma dia yg udah jadi (sok) dewasa /kicked/

      haha, maybe kamu terlalu menghayati?
      tapi aku seneng banget nih kamu bilang feelnya dapet, aku kok selalu ngira kalo LAL itu kadang gagal feelnya ya… -,-

      bagian 'seutas' itu bukan typo kok .__.
      itu emang diksi aku yang kaya begitu.. habisnya aku barusan baca karya penulis lain yang wow banget.. dan aku baru tau kalo pake seutas itu juga boleh :O
      lagian kan ini biar ga mainstream… masa dari dulu seulas mulu sih /dor/

      hummm, aku emang bakal lanjut LAL dulu kok (krn emang jadwalnya gantian sama exo series, dan aku barusan nerbitin exo series xD)
      mungkin dua minggu lagi? nunggu ujian sekolahku kelar dulu yaaaa T T

      makasih my ikatan batin yang udah mau repot2 komen di sini sama IFK!! maaf kalo aku terlalu cerewet promosi di twitternya :p

      Like

      • bzzzzzzz kenapa nggak dilanjutin??? Nanggung mer aku penasaran >,<

        Belum liat SHINee yang sekarang xD yah, masa nggak ada yang cantik lagi di SHINee -_-" apa ini efek ada jongin? Dia nggak mau kalah ama jongin? XD

        Dapet kokkkk~ dari chapter awal aja udah dapet feelnya, makanya aku ngebet banget minta lanjutannya xD

        Dua minggu mer???? Lama amat (kamu aja baca ini telat tan) /tertampar xD

        Senin ini kan mulai ujian sekolah? Semangat mer!!! Semoga hasilmu memuaskan 😉

        Oh bisa? Aku juga baru tau xD semoga aja karya penulis lain itu yang nggak typo (lah?) xD apa hubungannya mainstream sama utas dan ulas? -.-

        My pleasure dear 😀 sering-sering aja, biar aku ada bahan bacaan xD lagian tulisan kamu emang enak di baca kok xD

        Like

      • haha, karena aku males? /digampar/
        harus ngolah ide cerita dulu nih tan, mana aku otaknya lagi full begini, jadinya ga sempat mikir yang rumit-rumit -__-

        shinee? masih ada kok yang cantik… itu masih ada key kan disana *lol* mungkin taemin emang ga mau kalah sama sahabatnya itu kali.. malu kan, jongin lebih muda tapi lebih manly masa xD

        iya dua mingguuuu~ /tendang/
        mungkin malah lebih juga… tergantung kapan aku punya waktu nyentuh laptop (dan tergantung mood juga, wkakakak)

        eh, itu aku liat penulis lain dan lebih dari satu orang juga kok yang make seutas… masa typo-nya rame2 sih -__-
        ya, kan kalo seulas itu sering dipake makanya mainstream… kalo seutas kan jarang gituuuh~

        haha, tumben nih kamu muji aku kalo feelnya dapet dan enak dibaca :’D
        okaay, besok pasti ku-mention kalo udah terbit~

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s