Life-After-Life: The Memory Box [4/?]

Standard

life-after-life

a fanfiction by Tsukiyamarisa

Cast(s): [CNBlue] Kang Min Hyuk, [f(x)] Jung Krystal, [SHINee] Lee Taemin, [EXO-K] Kai || Minor cast: [EXO-M] Kris & Luhan, [EXO-K] D.O. || Duration: Chaptered || Genre: AU, Romance, Family, Fantasy || Rating: PG ||

Summary:

Min Hyuk. Soo Jung. Taemin. Kai.

Mereka semua memiliki masa lalu dan masa depan yang saling terikat satu sama lain. Tidak ada satupun dari mereka yang paham, bagaimana catatan takdir akan memutuskan akhir dari kisah ini. Happy end or… not?

Disclaimer:

All casts belong to themselves. Storyline and poster belong to me. Inspired by: Black Butler and SHINee’s song – 1000 Years Always By Your Side. Do not plagiarize or repost without permission.

*****

Life-After-Life: The Memory Box

One by one,

the secret of past, present, and future will be revealed

.

.

click!

.

The key have been found

and

A box full of precious memories will soon to be opened

.

 

“Jangan katakan apapun padanya.”

“Tetapi, Master… ia sudah bertanya-tanya mengenai Soo Jung dan Jong In…”

“Kau dengar perintahku bukan, Taemin? Jangan katakan.”

Taemin meneguk ludah, mencengkeram ujung jasnya erat-erat. Ia tidak bisa mengerti apa alasan dibalik larangan yang baru saja diterapkan oleh Kris tersebut. Bukannya ia harus bertanggungjawab atas semua hal yang berhubungan dengan Kai? Kenapa pula di saat yang penting seperti ini, sang Master malah menyuruhnya untuk bungkam?

“Kenapa? Apa Kai tidak boleh tahu masa lalunya sendiri? Lalu, apa gunanya second life yang pernah kuberikan?” Taemin menuntut lagi, napasnya terengah-engah dan emosinya makin meningkat seiring dengan kalimat demi kalimat yang ia ucapkan.

“Semua itu ada waktunya. Bersabarlah sedikit.”

Kris memutar badannya menghadap Taemin, separuh bibirnya terangkat membentuk senyum misterius. Ia melarikan jemarinya di atas sebuah cermin berbentuk bundar, matanya menyipit tajam. Kaca cermin itu berpendar terang, mengeluarkan pusaran sinar biru-keperakan. Beberapa detik kemudian, cahaya itu telah lenyap sepenuhnya. Sebagai gantinya, sebuah gambaran akan masa depan berkelebat  dalam gerakan cepat dan kabur.

“Tadi itu…”

“Aku sudah melihatnya,” Kris menyahut dengan nada datar. Taemin hanya bisa diam tak berkutik. Sang ketua sudah tentu memiliki kemampuan yang melebihi bawahan-bawahannya. Melihat ramalan akan masa depan melalui cermin itu adalah salah satu keistimewaannya.

Master, jadi bagaimana dengan masa lalu Kai?”

“Sang pembawa kunci telah mendapat kesempatan. Dan mantra yang nantinya ia ucapkan akan membuka kotak memori milik Kai.”

“A-apa?”

“Tak usah repot-repot memahaminya, sampaikan saja pesan itu pada Kai tanpa kurang suatu apapun,” perintah Kris langsung seraya melambaikan tangannya dengan gestur mengusir. Taemin mendengus pelan, tanpa berani membantah ia pun segera berlalu dari ruangan bundar tersebut.

“Ah, ya. Satu lagi…”

Langkah Taemin pun terhenti begitu saja.

“Ini pesan untukmu, Taemin.”

Napas pemuda itu semakin memburu cepat. Tangannya terkepal erat, telinganya ia pasang setajam mungkin untuk menangkap kalimat yang akan dilontarkan oleh Sang Master.

“Bagaimana kalau kau mulai mencari orang yang tepat untuknya?”

***

“Kencan sehari?”

Min Hyuk mengangkat kedua bahunya dengan santai, mengabaikan ekspresi terkejut Kai. Dua puluh sembilan hari sudah terlewati dengan begitu cepatnya, memaksa Min Hyuk untuk segera  mengucapkan salam perpisahan terakhirnya pada Soo Jung.

“Kenapa? Itu tidak dilarang, bukan?”

“Tidak sih… tetapi…” Kai menggantungkan ucapannya, terselip secercah nada enggan dan ragu di sana. Akhir-akhir ini, ia merasa ada sesuatu yang aneh sedang terjadi pada dirinya. Ia –tanpa disadari –mulai menumbuhkan rasa sayangnya pada Soo Jung. Kai mulai bisa memahami bagaimana perasaan Min Hyuk pada gadis itu. Ia juga tidak ingin melihat Soo Jung terluka, menangis, dan hidup menderita karena semua masalah duniawi ini.

“Tetapi?”

“Bagaimana kalau orang-orang menganggapnya gila? Maksudku, dia boleh saja percaya pada kehadiran rohmu dan sebagainya…”

Min Hyuk mengangkat sebelah alisnya mendengar penilaian Kai tersebut, kemudian mengeluarkan kekehan ringan. Tentu saja ia tidak sebodoh itu. Ia punya rencana, sesuatu yang sudah ia persiapkan sejak beberapa hari yang lalu. Ia akan membuat Soo Jung tersenyum sebelum ia benar-benar pergi.

“Tenang saja, Kai. Aku sudah memikirkan hal ini, kok. Tidak perlu khawatir begitu.”

“Tetap saja, aku…”

“Kau bertanggungjawab atas diriku. Kau juga harus memastikan bahwa aku tidak membuat keributan dan mengganggu kehidupan normal di bumi sana. Aku tahu itu, sungguh. Jadi, jangan terlalu mencemaskan diriku, ya?”

Kai mendengus pelan, namun akhirnya ia mengangguk untuk menyanggupi keputusan Min Hyuk. Ia tahu kalau Min Hyuk tidak akan mengecewakannya. Ia pasti bisa membuat seorang Jung Soo Jung kembali merasa bahagia dan ikhlas dalam menghadapi kepergian dirinya.

“Baiklah. Apa kau butuh bantuanku untuk hari esok?”

“Tidak perlu. Aku benar-benar ingin melakukannya sendiri. Lagipula, kau sudah cukup banyak membantuku,” Min Hyuk menjawab mantap. Ia sudah sangat yakin dengan keputusannya ini. Apapun yang terjadi, Min Hyuk akan memastikan bahwa sebuah perpisahan itu tidak harus diiringi oleh derai air mata. Pemuda itu akan memastikan agar Soo Jung selalu mengingatnya dengan senyuman.

“Oke. Kalau begitu aku akan menjemputmu besok malam, pukul dua belas tepat. Semoga sukses,” ucap Kai sembari bangkit berdiri dan berjalan menjauh. Mencari tempat untuk sendiri, memikirkan berbagai macam perkara yang akhir-akhir ini menyesaki benaknya.

Soo Jung. Jong In. Rumah tua itu.

Semua yang berhubungan dengan masa lalu, tersebar di dalam benak Kai tanpa adanya rantai pengikat yang bisa menyatukan segalanya. Abstrak, masih tak tertebak. Seolah-olah, memorinya sendiri menolak untuk bekerjasama dalam memecahkan hal ini.

“Kai…” suara Taemin berdengung pelan di dalam rongga kepalanya, membuat fokus pikiran Kai teralih begitu saja. Ia buru-buru memusatkan perhatiannya pada Taemin, mengabaikan setumpuk masalahnya sendiri yang tak kunjung terselesaikan.

“Ya?”

“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan…”

***

Min Hyuk menggerakkan tangannya dengan cepat di atas selembar kertas, menggoreskan pesan-pesan singkat untuk Soo Jung. Seulas senyum terus tersungging di bibirnya, tak sabar untuk segera menghadapi esok pagi.

Sedikit aneh, memang. Besok adalah hari terakhinya–kesempatan terakhir yang ia miliki untuk bertatap muka dengan Soo Jung. Setelah itu ia akan pergi, menapaki dunia baru yang sama sekali berbeda, melanjutkan lika-liku perjalanan hidupnya yang masih terselubungi kabut. Ia tak akan menjejakkan kaki di bumi lagi.

Ia tahu itu. Dan, entah mengapa, ia sama sekali tidak berkeberatan.

Kai selalu berkata bahwa semua keputusan Master Kris pasti memiliki tujuan tersendiri. Kini, Min Hyuk paham akan maksud dari perkataan tersebut. Ada alasan sederhana mengapa ia diberi waktu tiga puluh hari untuk menyatakan perpisahannya pada Soo Jung.

Logikanya, akan lebih masuk akal jika pemimpin dari para shinigami itu memberikan waktu satu atau dua hari tambahan saja bagi Min Hyuk. Tujuannya hanyalah sekadar mengucapkan kata ‘selamat tinggal’ saja, bukan? Seharusnya, hal itu tidak membutuhkan waktu yang terlampau panjang.

Lalu kenapa?

Karena Kris tahu bahwa Min Hyuk membutuhkan waktu untuk mengumpulkan keberaniannya? Atau, karena ia tahu bahwa seorang Jung Soo Jung akan mampu mendengar ucapan-ucapan dari roh Min Hyuk setelah beberapa saat lamanya?

Entahlah. Min Hyuk tidak pernah sanggup untuk mencerna alasan demi alasan di balik tindakan unik dan tak terbaca dari Master Kris. Ia memilih untuk bersikap seperti Kai dan Taemin, memercayainya tanpa perlu memperdebatkan pun mempertanyakannya–seberapapun anehnya keputusan yang diambil.

Namun, hari ini, mendadak saja ia mengerti.

Mungkin –hanya mungkin –Master Kris ingin agar Min Hyuk belajar untuk melepas dan mengikhlaskan Soo Jung selama tiga puluh hari ini. Dan jika perkiraan Min Hyuk ini benar, maka rencana lelaki jangkung itu telah berhasil dengan sukses.

Karena Min Hyuk sudah merelakan semua kehidupannya sebagai manusia. Besok adalah hari terakhirnya, hari dimana ia harus membuktikan kesungguhan cintanya pada Soo Jung. Dan demi apapun di dunia ini, Min Hyuk bersumpah bahwa ia akan meninggalkan Soo Jung dalam suasana bahagia. Ia berjanji untuk membuat hidup Soo Jung menjadi lebih baik dan memastikan bahwa segalanya akan berjalan lancar setelah ia pergi nanti.

Min Hyuk merobek kertas itu dan memandang ke sekeliling kamar Soo Jung. Ia melangkah menuju meja rias gadisnya, kemudian meletakkan secarik kertas putih itu di atasnya. Memastikan agar sang gadis menemukannya di saat ia pulang nanti.

“Sampai bertemu besok Soo Jung-a…

***

“Sang pembawa kunci telah mendapat kesempatan?”

Yeah. Dan mantra yang nantinya ia ucapkan akan membuka kotak memori milikmu,” Taemin menambahkan dalam nada rendah. Alis keduanya bertautan, membentuk sebuah gurat kebingungan. Kai menghembuskan napas panjang, berusaha keras untuk memecahkan pesan aneh dari Master-nya tersebut.

“Pembawa kunci? Dan kesempatan apa pula yang Master maksud?”

Second life atau extended time, mungkin?” suara itu terdengar dari balik gerumbul pepohonan, membuat Kai sontak menolehkan kepala dan mulai mencari-cari.

“Di atas sini, bocah.”

Kai dan Taemin mendongak, mendapati salah satu rekan mereka, Dio, yang sedang duduk santai di atas cabang pepohonan. Kakinya terjulur ke bawah dan berayun ringan, sementara tangan kirinya memeluk setumpuk perkamen kekuningan.

“Aku bukan bocah,” Kai membalas sengit, menendang batang pohon tempat Dio berada. Lelaki itu mengeluarkan tawa renyahnya lagi, melompat turun dengan tangkas, dan langsung mendarat di hadapan Kai.

Ck, anak baru yang ceroboh dan merepotkan, akui sajalah kalau kau ini lebih pantas disebut bocah,” Dio berdecak seraya mendorong pundak Kai pelan. Yang diejek hanya bisa memberengut kesal. Padahal Dio berbadan lebih mungil dan lebih pendek darinya. Kenapa pula ia yang harus mendapat julukan ‘anak kecil’ disini?

“Sudahlah, Kai. Terima saja kalau kau ini memang masih pemula,” Taemin berusaha menengahi, akhirnya buka suara karena ia tak lagi mampu menahan rasa penasarannya. Maniknya menyorotkan pandangan ingin tahu ke arah Dio, menanyakan perihal ‘kesempatan’ yang tadi disebut-sebut oleh pemuda itu.

“Yang dimaksud dengan ‘kesempatan’ di dunia ini hanyalah second life atau extended time, bukan? Mungkin pembawa kunci yang dimaksud adalah seseorang yang pernah mendapat kesempatan itu dari Master Kris.”

“Kau bermaksud mengatakan kalau aku adalah seorang pembawa kunci? Untuk membuka ingatanku sendiri?” Kai bergumam tak mengerti. Teka-teki dan pesan yang disampaikan oleh Taemin hanya menambah kusut benang-benang pikirannya yang belum sempat terurai.

“Bukan kau satu-satunya. Masih ada beberapa shinigami lain yang hidup karena second life. Juga ada beberapa arwah seperti Min Hyuk yang sedang menjalani extended time mereka,” Taemin menambahkan sambil berusaha mengingat-ingat daftar manusia yang pernah diberikan kesempatan kedua oleh Master-nya.

“Bicara soal Min Hyuk, aku kemari untuk memastikan jadwalnya.”

Kai mendongak, mendapati Dio sudah mengacungkan selembar kertas perkamen bertuliskan nama Min Hyuk dan jadwal keberangkatannya menuju Afterlife–dunia bagi para jiwa yang sudah mati. Dengan cepat, bola matanya memindai seluruh data yang ada dan menyetujuinya dalam satu anggukan.

“Tidak ada percepatan jam, kan? Bisa-bisa Xiumin marah besar kalau ia mendapati jumlah penumpangnya tidak sesuai daftar.”

“Tidak. Aku akan mengantarnya tepat pada tengah malam. Biarkan saja ia menikmati hari terakhirnya.”

“Oke. Pastikan kau tidak mengacau, ya,” Dio menambahkan dalam kekehen geli, membuat delikan Kai serta-merta terarah kepadanya. Teman mereka itu melambaikan tangannya tanpa berniat menanggapi kekesalan Kai lebih lanjut, kemudian bergegas melangkah menjauh menuju Record Library.

“Benar-benar… memangnya aku masih sering mengacau, ya? Taemin hyung, aku sudah lebih baik, iya ‘kan?” Kai berbalik menghadapi Taemin, bibirnya mengerucut minta diperhatikan. Namun, alih-alih ditanggapi, mata Kai malah menangkap ekspresi Taemin yang tampak begitu serius.

“Hyung?”

“Kang Min Hyuk…”

“Kenapa dengannya?”

“Apa kau tidak mengerti kata-kata Dio tadi? Pembawa kunci adalah orang yang pernah mendapat second life atau extended time. Ya ampun, kenapa kita bisa sebodoh ini, sih? Ayolah Kai, satu-satunya makhluk di Outsiders yang dekat denganmu dan sedang menjalani masa extended time-nya hanyalah Min Hyuk. Iya ‘kan?” Taemin berseru penuh semangat, iris matanya berkilat saat jawaban itu muncul begitu saja di dalam benaknya.

Kai ikut diam terpaku, memikirkan kemungkinan yang baru saja diutarakan oleh Taemin dengan secercah harapan baru. Jadi, kunci semua ini adalah Min Hyuk? Selama hampir sebulan ia melewatkan waktu bersama pemuda itu, namun kenapa baru sekarang ia menyadarinya?

“Hyung, tolong gantikan tugasku hari ini!”

“Kau mau kemana? Hei, Kai!” Taemin berseru keras saat ia menyadari bahwa dirinya tengah ditinggalkan sendirian di bawah pepohonan. Ia melihat sosok adik kesayangannya itu sudah melesat menjauh tanpa mengucapkan salam perpisahan barang sepatah kata pun.

“Mencari Min Hyuk!”

***

“Sebuah mantra? Apa maksudmu?”

Min Hyuk menatap Kai dengan sebelah alis terangkat. Ia tidak bisa memahami omong kosong yang diucapkan oleh laki-laki itu. Mantra? Memangnya Min Hyuk ini sudah berubah menjadi seorang penyihir?

“Min Hyuk, kau sungguh tidak tahu apa-apa?”

“Tahu soal apa?” Min Hyuk membeo dengan polosnya. Kai tampak begitu frustasi, bola matanya bergerak-gerak gelisah dan ia terus mondar-mandir tanpa sebab di hadapan Min Hyuk. Mereka berdua sedang berada di depan gerbang pembatas antara Outsiders dan dunia manusia yang dipenuhi oleh puluhan shinigami.

Ouch! Kai, bisakah kau tidak menghalangi jalan?” protes seorang lelaki bertubuh kurus dan berambut pirang yang mendadak saja muncul di hadapan Kai. Ia mengelus keningnya yang hampir berbenturan dengan punggung Kai tadi, memicingkan mata tajamnya seolah mengharapkan kata ‘maaf’ terucap dari bibir si pemuda. Percuma saja. Kai hanya mengibaskan tangannya, bersikap seakan-akan ia tak punya waktu untuk memedulikan hal sekecil itu.

“Kai, ada apa? Mantra apa yang sedang kita bicarakan?”

Master Kris. Menurutnya, kau harus mengucapkan sebuah mantra yang nantinya bisa mengembalikan ingatanku,” Kai menjelaskan secara singkat, masih tidak bisa melenyapkan kegelisahannya. Ini adalah hari terakhir Min Hyuk di Outsiders. Jika ia tak sanggup menemukan jawabannya pada penghujung hari ini, maka pupuslah sudah semua harapan yang pernah ia miliki.

Min Hyuk harus membantunya. Ia adalah satu-satunya yang bisa. Kai yakin akan hal itu.

“Tetapi, aku benar-benar tidak tahu. Sungguh!”

“Yakin?”

“Sangat yakin,” Min Hyuk menjawab mantap. Sebenarnya, ia pun merasa iba melihat keadaan Kai saat ini. Ia paham seberapa besar keinginan yang dimiliki oleh penyelamatnya itu untuk mengingat kembali masa lalunya sebagai manusia. Min Hyuk ingin membantu, namun ia sendiri tak tahu harus melakukan apa.

“Maaf, Kai… tetapi Soo Jung menungguku, dan…”

“Astaga, kau benar! Ini hari terakhirmu! Seharusnya kau cepat-cepat pergi, benar begitu?”

“Kau baik-baik saja ‘kan? Tidak apa-apa jika aku pergi?” Min Hyuk kembali menyuarakan kekhawatirannya. Ia harus segera menemui Soo Jung, tentu saja. Tetapi, ia juga tidak rela jika harus meninggalkan Kai sendirian–mengingat banyaknya masalah yang sedang ia hadapi.

“Tentu. Itu hakmu, Min Hyuk. Aku akan menemuimu nanti malam, saat waktumu sudah habis.”

“Dan mantra itu?”

“Berjanjilah. Kalau kau mengingat sesuatu, beritahu aku, ya?”

Min Hyuk mengiyakannya tanpa ragu. Kai sudah banyak membantu dan mengorbankan berbagai hal untuknya. Mungkin, inilah saatnya bagi Min Hyuk untuk membalas semua kebaikan Kai tersebut. Tanpa diperintah pun, Min Hyuk pasti akan melakukannya.

“Baiklah.”

Percayalah padaku, Kai. Selagi extended time-ku masih berlaku, aku pasti akan membantumu.

***

“Hei, cantik. Sudah siap?”

Soo Jung terbangun pagi itu oleh bias sinar mentari yang menelusup masuk melalui celah-celah tirainya. Hari masih pagi dan udara dingin merambat ke seluruh tubuh melalui lantai yang dipijaknya. Gadis itu mengedarkan pandang ke seluruh kamar tidurnya yang kosong melompong, namun bibirnya membentuk segaris senyum ketika suara Kang Min Hyuk menyapa indera pendengarannya.

“Pagi, Tuan Hantu,” Soo Jung menjawab dengan suara seceria mungkin, berusaha melupakan fakta yang disodorkan ke bawah hidungnya tempo hari.

Ya, karena sejujurnya, pertahanan dirinya nyaris luluh lantak di saat ia membaca pesan singkat yang ditinggalkan oleh Min Hyuk. Soo Jung ingat bagaimana air matanya mulai mengalir turun dan bagaimana ia terisak keras saat memikirkan hari-hari penuh kesendirian yang akan segera ia hadapi.

 

Soo Jungie, aku akan mengajakmu pergi kencan besok. Sehari penuh! Waktuku untuk terus menjadi roh gentayangan sudah hampir selesai, jadi aku harus mengucapkan selamat tinggal kepadamu. Kuharap kau mau pergi bersamaku esok hari. Dan berjanjilah, jangan menangisiku. Aku ingin melihatmu tersenyum di hari terakhirku.

 

Kalimat-kalimat itu kembali berkelebat di benak Soo Jung, menciptakan buliran air di sudut kelopaknya. Ia mulai menyadari bahwa jalan pemikirannya selama ini amatlah polos dan naïf. Bagaimana mungkin ia bisa mengharapkan Min Hyuk untuk terus berada di sisinya? Ia saja yang terlalu bodoh, mengira bahwa roh Min Hyuk akan selalu mendampinginya untuk jangka waktu yang tak terbatas.

Masih terekam jelas dalam lapisan-lapisan otak gadis itu, hari dimana suara Min Hyuk mulai bisa tertangkap oleh telinga manusianya. Awalnya, Soo Jung mengira bahwa kewarasannya mulai perlu dipertanyakan. Mungkinkah semua itu hanya delusi semata? Efek samping dari kerinduan yang terlalu mendalam dan tidak tersampaikan?

Belum sempat Soo Jung menemukan jawaban untuk semua keingintahuannya, Min Hyuk malah lebih dulu menyodorkan bukti yang dibutuhkan oleh Soo Jung. Pemuda itu mulai meninggalkan pesan-pesan singkat yang ditempelkan di seluruh penjuru kamar Soo Jung. Tanpa perlu bertanya-tanya lagi, Soo Jung pun langsung memercayainya begitu saja. Ia mengenali tulisan tangan Min Hyuk, merindukan kata-kata manisnya yang selalu bisa menghibur dan mencerahkan hari.

Sejak saat itulah, Soo Jung sadar. Ia mungkin tak lagi bisa melihat Min Hyuk, tetapi ia bisa merasakan kehadirannya. Karena terkadang, meyakini hal-hal yang terdengar tak masuk akal akan membawa kebahagiaan tersendiri di dalam hidupmu. Itu sudah cukup baginya.

“Hei, hantu mana yang tampan seperti ini?” Min Hyuk membantah cepat, merasa tidak terima. Mendengar hal itu, Soo Jung pun sontak terbahak keras. Min Hyuk oppa-nya ini masih memunyai kadar kepercayaan diri yang di melebihi batas rupanya.

“Memangnya kita mau kemana, oppa? Bisa-bisa aku dikira orang gila jika berbicara sendiri di luar sana.”

“Kemanapun itu, yang pasti, hanya akan ada kita berdua di tempat itu.”

Soo Jung mengangkat sudut-sudut bibirnya semakin lebar, merasa tertarik mendengar ucapan Min Hyuk yang dipenuhi rahasia. Ia bergegas bangkit berdiri dan melangkah menuju kamar mandi, melupakan kesedihannya untuk sesaat. Min Hyuk sudah memintanya untuk tersenyum, maka Soo Jung pun akan melakukannya.

Ia tidak akan menyia-nyiakan hari terakhir ini.

***

“Tutup matamu, manis,” sambut Min Hyuk seraya melemparkan secarik kain ke arah Soo Jung. Gadis itu berdiri terpaku di ambang pintu kamar mandinya, menatap kain di tangannya dengan heran. Hal macam apa lagi yang sedang direncanakan oleh Min Hyuk? Bukankah mereka akan pergi berkencan?

“Eumm, kita tidak akan pergi keluar?”

“Sudah, gunakan saja,” perintah lembut Min Hyuk terdengar begitu dekat di telinganya. Soo Jung juga bisa merasakan aliran angin yang berhembus dan menggelitik tengkuknya. Dengan itu, ia bisa mengira-ngira dimana posisi Min Hyuk saat ini.

“Jadilah anak baik, mengerti? Pakai penutup mata itu,” Min Hyuk kembali menyuruh Soo Jung untuk menuruti keinginannya. Tanpa banyak kata, ia pun segera mematuhinya. Soo Jung mengikatkan kain itu di sekeliling kepalanya dan duduk manis di atas kasurnya. Menunggu kejutan macam apa lagi yang akan diberikan oleh lelakinya.

“Baiklah. Sebentar, ya.”

Soo Jung bisa mendengar bunyi meja yang bergeser dan meninggalkan deritan pelan di atas lantai kayu, juga pintu yang terbuka dan tertutup kembali beberapa saat kemudian. Kemana Min Hyuk pergi? Batin Soo Jung menyerukan pertanyaan itu, membuat kedua tangannya semakin tak sabar untuk segera membuka penutup yang membelenggu penglihatannya.

Soo Jung mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas lutut, menghitung detik demi detik yang berlalu. Semenit, dua menit… mungkin saja lima belas menit kini sudah berlalu. Soo Jung mulai kehilangan perhitungannya akan waktu. Sudah berapa lama ini terduduk sendirian di sini? Apa yang sedang dilakukan oleh Min Hyuk sekarang ini?

“Kau boleh membukanya.”

Setelah sekian lama, suara Min Hyuk kembali terdengar di seluruh ruangan. Soo Jung mengangkat tangannya untuk menarik lepas simpul yang menyatukan kedua ujung kain tersebut, membiarkannya jatuh ke pangkuan.

Detik itu juga, ia terperangah. Apa yang kini tengah tersaji di depannya adalah salah satu hal terindah yang pernah ia lihat semasa hidupnya. Soo Jung selalu menyukai taman bunga dan menyimpan keinginan terpendam untuk piknik bersama orang yang disayanginya suatu hari nanti. Sekarang, Min Hyuk telah memberikan semua hal itu kepadanya.

Min Hyuk membawa taman bunga itu ke dalam kamar tidurnya.

Berpuluh-puluh bunga aneka jenis dan warna bertebaran di seluruh penjuru kamar Soo Jung. Paduan warna-warni yang membentuk permadani seindah pelangi, menguarkan semerbak harum nan lembut. Sebuah tikar tergelar di atas lantai kamar Soo Jung, lengkap dengan keranjang berisi makanan. Jendela kamarnya kini terbuka lebar, menyiramkan sorotan cahaya mentari yang menari-nari di seluruh ruangan. Soo Jung mengerjap pelan, kagum.

“Ini…”

“Mungkin kau tak lagi bisa melihatku, namun inilah hadiah terakhir dariku.”

“Min Hyuk oppa, bagaimana kau–

“Ada seseorang yang membantuku dari atas sana. Ia juga berharap agar kau menikmatinya,” jawab Min Hyuk seraya mengulum senyum. Ia teringat pada saat-saat dimana dirinya dan Kai sibuk mengumpulkan berbagai bunga yang mekar di taman Outsiders. Untung saja hal itu tidak dilarang oleh Master Kris.

“Begitukah? Kau juga harus menyampaikan ucapan terimakasihku kepadanya, ya.”

“Tentu.”

Soo Jung bangkit berdiri, menyapu setiap kelopak bunga yang ada dengan ujung jemarinya. Ia membentangkan seulas senyum bahagia, tak mampu menahan perasaannya pada Min Hyuk yang semakin meluap-luap. Soo Jung berjanji, apapun yang terjadi kelak, ia tak akan pernah melupakan hari penting ini.

“Terimakasih banyak, oppa. Aku mencintaimu.”

***

“Saya tidak mengerti.”

“Bagian mana yang tidak kaupahami?”

Kris berjalan santai mengitari seluruh Record Library, memantau tugas-tugas yang dilakukan oleh para bawahannya. Di belakangnya, tampak Kai yang sedang mengekori langkah kakinya dengan raut tak sabaran.

“Mantra macam apa yang Master maksud? Min Hyuk itu… hanya arwah manusia biasa.”

“Kau yakin?” Kris melemparkan pertanyaan itu dengan nada tajam, membuat lidah Kai terkunci seketika. Segala jawaban dan argumen yang sudah ia persiapkan sebelumnya terpaksa ia telan bulat-bulat.

“Manusia bukan makhluk yang bisa diremehkan, Kai. Mereka memiliki kepekaan yang tidak pernah bisa kita gapai. Yang perlu kau lakukan hanyalah bersabar,” Kris memberi nasihat lagi. Ia menapakkan langkah demi langkahnya semakin cepat, menaiki tangga untuk menuju ke bagian teratas dari Record Library.

Master, untuk apa Anda mengunjungi bagian ini? Future section? Apa ada kasus penting?” Kai nampak sedikit tidak yakin untuk mengikuti langkah kaki Kris. Future section adalah bagian dari Record Library yang menyimpan catatan mengenai masa depan. Tidak sembarang shinigami boleh mengakses tempat ini. Ruangan yang memiliki langit-langit kubah dan beralaskan karpet kecokelatan ini adalah gudang penyimpanan bagi segala jenis catatan mengenai masa depan manusia. Terkadang, pemimpin mereka itu akan mengunjungi future section untuk melihat-lihat manusia mana yang pantas hidup lebih lama dan bisa menerima penangguhan waktu kematian.

“Hanya melihat-lihat. Sedikit membantu tugas sampingan milik Taemin.”

“Maksud Master?

Ck, ck. Kai, kau benar-benar membutuhkan tambahan dosis kesabaran. Tunggu saja waktu yang tepat, Taemin pasti akan memberitahumu.”

Kai memutar kedua bola matanya, berusaha menutupi perasaan jengkelnya yang semakin meluap. Mungkin Master-nya itu benar. Ia harus sedikit bersabar. Tetapi, sampai kapan? Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Waktu yang ia dan Min Hyuk miliki hanya tersisa lima jam saja. Bagaimana kalau semua ini berujung pada kegagalan?

“Jangan khawatir, Min Hyuk akan memahami mantra itu tepat sebelum waktunya habis.”

“Master…”

Kris mengibaskan jubahnya dengan angkuh, menyelipkan sebuah buku tebal berwarna putih bersih di baliknya. Sebuah buku yang terlihat begitu kontras untuk berada di sana–mengingat banyaknya buku-buku lain yang lebih sering didominasi dengan warna dan corak gelap.

“Sepertinya aku harus meminjam buku ini,” Kris berkata tak acuh sambil berjalan mengitari ruangan. Ia menepuk pundak Kai sekilas saat bersinggungan dengan pemuda itu, bibirnya terangkat membentuk seringai puas.

“Lagipula, mantra itu belum tentu akan terdengar seperti mantra sungguhan, bukan?”

Kening Kai berkerut seketika tatkala ucapan Master Kris itu menembus otaknya dan berpusar-pusar ringan di sana. Tidak harus terdengar seperti mantra?

“Jadi, ini tidak serumit yang saya bayangkan?”

Kris terkekeh lagi, kali ini lelaki tinggi itu berhenti melangkah tepat di depan wajah Kai. Ia menangkupkan telapak tangannya di atas kepala Kai dengan sikap menggurui, decakan pelan terus terlontar dari bibirnya.

“Siapa juga yang menyuruhmu untuk berpikir terlampau jauh, Kai?”

***

“Sudah jam sebelas malam,” Soo Jung bergumam lirih. Iris cokelatnya tak kunjung lepas dari jarum jam yang terus berdetik maju, seolah-olah sedang mengejek dan mengikis kesenangan yang ia alami seharian ini.

“Tidak boleh ada airmata,” Min Hyuk cepat-cepat mengingatkan. Hari ini sangatlah menyenangkan baginya. Mereka mungkin hanya terkurung berdua saja di dalam kamar berukuran tiga kali empat meter milik Soo Jung, namun itu bukan masalah besar. Keduanya berbagi sejuta obrolan ringan dan canda tawa, saling menguatkan untuk menghadapi perpisahan ini.

“Aku tahu.”

“Apa ada hal lain yang belum kau sampaikan padaku?” Min Hyuk berbisik halus, memainkan helaian rambut Soo Jung menggunakan jemarinya. Anak-anak rambut gadis itu terlihat seperti menari di udara, kendatipun angin sedang tidak bertiup saat ini.

Soo Jung menggigit bibirnya, tanpa sadar ia membuka laci meja dan mengeluarkan dua lembar foto yang sudah menguning dimakan usia. Diletakkannya kedua foto itu di atas meja, bola matanya berkelebat memandangi gambar-gambar penuh kenangan tersebut. Helaan napasnya pun terdengar semakin berat.

“Siapa mereka?”

“Satu-satunya bagian dari diriku yang belum pernah kubagikan padamu. Keluargaku. Membicarakan mereka selalu terasa menyakitkan–

“Soo Jungie, kau tak perlu membicarakannya kalau begitu.”

“Tetapi, aku juga ingin agar oppa membawa setiap potongan dari diriku, tidak peduli itu suka atapun duka, baik maupun buruk. Kita mungkin tidak akan saling berjumpa lagi, tetapi kita masih akan saling mengingat.”

“Baiklah.”

“Ini ayahku. Laki-laki yang –pada awalnya –terlihat amat baik hati dan penuh perhatian kepadaku. Tidak kusangka, dia ternyata hanya seorang pengecut. Ketika ayah mengetahui aku mengidap kelainan jantung, beliau langsung pergi dari rumah tanpa meninggalkan pesan.”

Min Hyuk memandang sosok tinggi tegap yang menggunakan setelan jas hitam tersebut. Seperti kata Soo Jung, ia memang tampak penuh kasih sayang dan bijaksana. Siapa yang menyangka kalau pria tua itu tega meninggalkan anak gadis mereka yang nyaris sekarat? Rasa-rasanya, Min Hyuk ingin segera mendaratkan kepalan tangannya di atas wajah lelaki itu.

“Aku tidak membencinya. Tetapi jika aku bisa bertemu dengannya lagi, aku akan berkata bahwa dia telah melakukan kesalahan besar dengan membuangku yang saat itu masih berumur enam belas tahun.”

Min Hyuk tahu bahwa gadisnya itu sedang menahan tangis. Ia pernah mendengar cerita ini sebelumnya, namun baru sekaranglah ia mengetahui isi hati Soo Jung yang sebenarnya. Bagaimana mungkin gadis itu tidak menyimpan dendam pada orang yang telah mencampakkannya?

“Mengapa?”

“Karena hidup diiringi dengan rasa benci itu melelahkan. Lebih baik jika aku melupakannya saja, benar begitu?”

Min Hyuk mengangguk paham walaupun ia tahu bahwa Soo Jung tidak bisa melihatnya. Lelaki itu beringsut mendekat, memandang foto kedua lekat-lekat. Tampak Soo Jung berdiri berdampingan dengan seorang pemuda berbadan tegap dan berkulit kecokelatan. Mereka tidak sepenuhnya mirip, namun Min Hyuk bisa membaca aura kedekatan yang terpancar di antara kedua anak manusia tersebut.

Sejurus kemudian, Min Hyuk bisa merasakan hatinya mencelos kaget. Sesuatu yang teramat besar baru saja jatuh menimpanya, menyentakkannya ke dalam realita yang menyesakkan. Laki-laki di samping Soo Jung itu… Min Hyuk tahu wajah itu. Ia mengenalnya.

 

Kai.

 

“Soo Jungie… siapa?”

“Oh, dia. Namanya Kim Jong In. Dia kakak tiriku.”

“Kakak tiri? Kau tidak pernah bilang…”

Soo Jung membuang pandangnya, menyembunyikan raut sedihnya dari hadapan Min Hyuk. Bibirnya bergetar pelan dan terbuka, namun tak ada suara yang keluar dari sana.

“Karena membicarakannya jauh lebih menyakitkan. Ia merawatku setelah ayahku pergi. Dan pada suatu malam, ia tak pernah kembali lagi. Kupikir, ia sudah muak denganku. Seperti ayahku yang lelah dan memilih pergi, Jong In oppa mungkin juga berpendapat demikian. Aku tidak bisa menyalahkannya.”

 

Tidak. Itu tidak benar, Soo Jung.

Jong In oppa-mu adalah Kai. Ia adalah penyelamatku!

Dan ia sudah meninggal, Soo. Ia bukannya mengabaikanmu.

Tidakkah kau tahu itu?

 

Kebenaran demi kebenaran menyerbu masuk ke dalam alam pikiran Min Hyuk. Sedikit banyak ia bersyukur karena Soo Jung tidak bisa melihatnya. Kalau tidak, gadis itu pasti sudah bertanya-tanya karena melihat ekspresi wajah Min Hyuk yang mendadak dipenuhi kepanikan dan rasa simpati.

 

“Jangan memberitahunya.”

 

Deg!

 

Suara sang pemimpin itu menyerbu masuk, lebih jelas dan tajam dibandingkan yang lainnya. Min Hyuk bisa merasakan nada memerintah dalam suara Master Kris tersebut, membuat bibirnya segera terkatup rapat.

 

“Tugasmu adalah membantu Kai. Ingat, kau bertemu Soo Jung untuk memberikan salam perpisahan dan memastikan ia bahagia.”

 

“Min Hyuk oppa? Oppa?”

 

Jangan katakan, Kang Min Hyuk.”

 

Oppa? Apa kau harus pergi sekarang?”

Min Hyuk tersentak kaget mendengar nada suara Soo Jung yang mulai meninggi dan dipenuhi kecemasan. Ia bergegas mengeluarkan dehaman ringan, memberi tanda bahwa ia belum pergi dan masih berada di kamar Soo Jung.

“Jam berapa sekarang?”

Soo Jung menatap jam dindingnya, kesenduan memenuhi paras cantiknya seketika itu juga. Waktu mereka benar-benar sudah habis.

“Kita masih punya lima menit.”

“Soo Jungie, hari ini menyenangkan bagimu, bukan?” tanya Min Hyuk langsung, berusaha menghilangkan perasaan sedih yang tadi sempat menggantung di udara. Tinggal lima menit lagi. Min Hyuk harus memanfaatkan detik demi detik yang tersisa sebaik mungkin.

Master Kris benar. Ia tidak berhak untuk membongkar kenyataan yang baru saja ia ketahui di hadapan Soo Jung. Min Hyuk hanya diperbolehkan untuk mengucapkan selamat tinggal dan mengukirkan senyuman manis di wajah Soo Jung. Ia tidak memunyai hak untuk merusak kebahagiaan yang telah mereka bangun seharian ini.

“Aku tidak akan pernah melupakannya, oppa. Meskipun susah untuk memercayainya, tetapi aku tetap yakin kalau semua ini adalah nyata.”

“Terimakasih banyak, Soo Jungie. Untuk hari ini dan seterusnya, tersenyumlah. Untukku, agar semua yang telah kulakukan ini tidak terbuang sia-sia. Untukmu, karena kau layak hidup bahagia.”

Min Hyuk memijakkan kakinya setapak demi setapak, makin mendekati Soo Jung di tiap detiknya. Gema jarum jam terdengar begitu keras di telinganya. Inilah saatnya. Tanpa derai air mata, tanpa kesedihan, Min Hyuk akan pergi meninggalkan Soo Jung.

Ia melingkarkan kedua lengannya pada tubuh Soo Jung, berharap sang gadis bisa merasakan betapa hangat rengkuhannya dan seberapa besar rasa cinta yang ia miliki. Untuk sekali ini saja, Min Hyuk ingin agar Soo Jung bisa merasakan kehadiran raganya.

“Apa kau baru saja memelukku?” bisik Soo Jung heran. Meskipun tak tertangkap oleh mata, gadis itu bisa merasakan sesuatu yang berat dan hangat sedang bersandar pada tubuhnya.

“Ya. Aku senang kau bisa merasakannya.”

“Min Hyuk oppa…

 

Lima.

 

Empat.

 

“Waktuku tidak banyak.”

 

Tiga.

 

“Selamat jalan, oppa. Doaku mengiringimu. Kau tak perlu khawatir. Sekarang, aku akan baik-baik saja. Aku berjanji.”

 

Dua.

 

“Jung Soo Jung, sampai kehidupan yang keberapapun, aku tetap mencintaimu.”

 

Satu.

 

Bibir Min Hyuk menempel lembut di atas milik Soo Jung. Ciuman pertama dan terakhir yang mereka lakukan. Sesuatu yang tidak nyata secara fisik, namun meninggalkan kesan kuat dan manis di dalam relung hati masing-masing.

 

Teng!

 

Dan tubuh Min Hyuk pun memudar, tertarik kembali ke dalam pusaran kegelapan. Hilang sepenuhnya dari muka bumi ini, meninggalkan jejak-jejak terakhir hidupnya dalam genggaman tangan seorang Jung Soo Jung.

***

“Selamat datang. Afterlife menunggumu. Dan terimakasih karena telah mematuhi perintahku.”

Min Hyuk merasakan dirinya kembali terhempas di atas tanah, kamar Soo Jung juga telah menjelma menjadi halte bus yang berada di samping gerbang utama Outsiders. Di sampingnya, Kris berdiri tegak dan memandang Min Hyuk melalui ekor matanya.

“Min Hyuk? Sudah siap?”

Itu suara Kai. Lelaki itu berdiri di samping Master-nya, melambaikan tangannya ke arah Min Hyuk. Mendadak saja, Min Hyuk kembali teringat akan fakta yang baru saja ia peroleh. Maniknya kini kembali menatap Kris, berusaha untuk menanyakan pendapat sang Master mengenai hal ini.

“Eummm…”

 

“Nanti.”

 

Satu kata itu menyerukan perintah di dalam rongga pikirannya. Kris baru saja menggunakan telepatinya lagi, menghindari kecurigaan Kai yang mungkin saja timbul. Min Hyuk mengangguk cepat, bergegas bangkit berdiri seraya menepuk-nepuk celananya.

Present. Kang Min Hyuk, bertanggungjawab atas masa kini yang tengah dijalani oleh Jung Soo Jung.”

“Apa maksudnya?”

“Gadis itu sudah cukup menderita. Kehilangan orang-orang yang disayanginya seperti itu, tanpa ada yang memberinya semangat untuk melanjutkan hidup. Kau, Kang Min Hyuk, adalah orang yang terpilih untuk mendorong dan memastikan ia bisa terus melangkah maju. Wujudmu boleh tak lagi manusia, tetapi semangat dan rasa sayang yang kau berikan padanya tak akan pernah lekang oleh waktu.”

Min Hyuk dan Kai melongo lebar, kagum melihat Kris berbicara panjang lebar –dan untuk sekali ini –relatif mudah untuk dipahami. Kris hanya bisa mendengus saat mendapati penilaian mereka, tanpa banyak kata ia buru-buru berbalik dan melangkah pergi.

“Jadi, itu sebabnya kau mendapat extended time. Untuk memastikan Soo Jung hidup bahagia,” Kai menyimpulkan dengan nada puas. Min Hyuk menelengkan kepalanya, tak yakin harus memberi respon macam apa.

Yeah. Aku juga tidak menyangka. Soo Jung bilang ia juga berterimakasih atas segala bantuanmu.”

“Bukan masalah,” sahut Kai lagi. Ucapan Min Hyuk barusan –entah mengapa –sukses membuatnya merasa sedikit berbangga diri. Meskipun secara tidak langsung, setidaknya ia juga ikut mengambil andil dalam kebahagiaan yang baru saja dirasakan Soo Jung.

 

Tinnn!!

 

Serempak, mereka menolehkan kepala dan melihat sebuah bus bertingkat yang bergerak lambat menuju halte. Min Hyuk menarik napas panjang, berusaha menyiapkan diri. Tinggal beberapa saat lagi sebelum ia menjejakkan kaki di Afterlife.

“Selamat tinggal, kalau begitu?”

Kai menjulurkan tangannya ke arah Min Hyuk dan memamerkan cengiran bersahabat miliknya. Mau tak mau, Min Hyuk pun merasa sedikit terhibur. Ia menjabat tangan Kai dengan mantap, sebelum akhirnya berbalik dan melangkahkan kakinya menaiki tangga bus.

“Jadi ini jiwa yang kau selamatkan?”

“Begitulah. Selanjutnya kuserahkan padamu, Xiumin hyung!” Kai balas berbicara kepada sang pengemudi bus. Laki-laki bewajah bulat itu mengacungkan jempolnya, kemudian mengalihkan pandangnya ke arah Min Hyuk.

“Selamat datang, Kang Min Hyuk. Silakan pilih kursi yang Anda suka. Selamat menikmati perjalanan menuju Afterlife,” Xiumin berucap datar, seolah sudah bosan untuk terus-menerus mengucapkan kalimat tersebut.

“Eumm, oke. Baiklah, Kai. Aku harus pergi. Terimakasih dan…”

“Ada yang tertinggal?”

“Dan aku sudah menemukan mantra itu.”

Kai terdiam seketika, keseriusan mulai membayangi wajahnya. Nyaris saja ia melupakan hal sepenting itu. Tanpa mengulur waktu lagi, Kai mencondongkan tubuhnya mendekati Min Hyuk, siap mendengar kata-kata selanjutnya.

“Kai? Aku akan mengucapkannya sekarang…”

“Katakan.”

Suara Kai terdengar seperti berasal dari tempat yang jauh, hilang bersama angin yang bertiup lembut membelai kulit. Manik hitamnya terpancang pada Min Hyuk, antisipasi memenuhi gurat wajahnya.

“Jung Soo Jung adalah adik tirimu, Kim Jong In.”

 

Teng! Teng!!

 

Bel berdentang nyaring, tanda bahwa pintu bus akan segera menutup. Xiumin memberi  isyarat dengan tangannya, meminta Min Hyuk untuk segera beranjak masuk. Lelaki itu mengangguk mengerti dan berjalan menuju kursi yang telah disediakan. Sorotan matanya memandang cemas ke luar jendela, menatap Kai yang masih membeku di tempatnya berdiri.

“Semangat, Kai! Aku yakin kau bisa mengingatnya!” Min Hyuk meneriakkan kata-kata itu seraya mengacungkan kepalan tangannya ke atas. Kai mengangkat kepalanya, menyunggingkan seulas senyum samar.

Badan bus mulai bergetar, diiringi dengan deru mesin yang semakin keras. Sebelum Min Hyuk sempat menyadarinya, mereka mulai melaju dengan kecepatan yang tak pernah Min Hyuk rasakan sebelumnya. Lama-kelamaan, bus mereka pun terangkat menuju langit biru, menembus lapisan demi lapisan awan dengan laju lurus, dan siap mengantar jiwa-jiwa manusia yang ada di dalamnya menuju Afterlife.

***

Cklek!

 

Satu bagian telah terselesaikan, sementara yang lainnya mulai membuka diri.

Masa kini telah terjawab, meninggalkan bahagia dan senyum di wajah sang gadis yang selalu mereka kasihi.

Dan satu masa yang lain mulai terbuka, seiring dengan terucapnya kalimat sederhana dari bibir Kang Min Hyuk. Kalimat yang terdengar biasa-biasa saja, namun mengandung seribu makna mendalam dan melebihi kuatnya mantra yang diciptakan oleh sihir manapun.

Kai masih berdiri di sana untuk sekian saat lamanya. Menyatukan keping demi keping memori yang pernah jatuh berserakan. Membuka kotak kenangannya dengan satu mantra sederhana dari sang pembawa kunci.

Kai ingat siapa dirinya kini.

Namanya adalah Kim Jong In.

Jung Soo Jung adalah adik tirinya.

Ia sudah meninggal.

Dan gilirannya untuk menyatakan kebenaran pada Soo Jung telah tiba. Ia sudah mengerti segalanya–semua detail kejadian yang pernah ia alami sebagai manusia. Sepercik rasa sakit dan luka menetes ke dalam lubuk hatinya, takut jika pengungkapan ini akan berujung pada kesedihan belaka. Ia tak berdaya, ia tidak siap untuk menyakiti adiknya itu lebih dalam lagi.

“Maafkan oppa, Soo Jung-a…”

-tbc-

Advertisements

4 thoughts on “Life-After-Life: The Memory Box [4/?]

  1. Nahhh~ tetep jadi bacaan malem nih xD

    *deepbowss* lagi-lagi komen gaje nggak bakal keluar disini, because it just to DAEBAK!!!

    I hope the next part will come out quickly…

    Jadi, dari yang saya liat, ini selain inspired by black butler, death note, Harry Potter, twilight, what next? *lol *kicked*

    Mer!!!! Really waiting for next part!!!~
    Sekian xD

    Like

    • waaaaah~ kamu bikin aku terharu untuk yang kedua kalinya nih tan :’)
      padahal ini cuma fanfic modal nekat, ide nongol gitu aja habis liat PV-nya SHINee dan baca black butler… tapi kamu bilang ini daebak /pede dikit /nangis terharu /peluk intan/

      hahaha, inspired by black butler-nya bener… death note? aku belum pernah baca itu komik xD
      harry potter sedikit, dan juga semua novelnya Claudia Gray 😀
      eummm, tapi twilight-nya di bagian mana ya? *LOL* habisnya aku ga mikirin twilight sama sekali waktu nulis ini -,-

      ntar ku-mention deh kalo udah ada next part~ doakan saja sekolahku nggak tambah gila T T
      makasih sayaaang *hugs*

      Like

  2. *lol *tebar conffeti berhasil bikin amer terharu* xD yang nekat itu yang daebak mer 😀

    Death note dari shinigaminya… loh? Bukannya kamu udah baca ya o.O

    Claudia Gray bukunya apaan mer?

    Twilightnya? Yang bisa baca pikiran sama telepati itu xD

    Nikmatian aja mer last grademu 😛 ntar tambah tua kangen loh masa-masa jadi siswa… *ini curcol* xD

    Beneran loh ditunggu, ntar aku lupa sama kai sama teamin gimana?? xDD

    Like

    • beloooom, aku belum baca death note kok~ komik yang kubaca baru black butler doang xD
      Claudia Gray itu ada yang series bukunya.. judulnya Evernight, Stargazer, Hourglass, sama Afterlife.. terus yang nggak berseri judulnya Fateful~ fantasinya dia keren sumpah, gabungan antara twilight sama harpot~

      eummm, aku yang baca pikiran sama telepati itu mah bukan gara-gara twilight~ itu malah gara-gara kebanyakan liat MV-nya EXO (lol, padahal ga ada telepati disana dan adanya itu teleportasi dan telekinesis, mirip dikit lah xD)

      hahaha, iya aku akan berusaha buat nikmatin deh tan :’D

      okaay, mungkin habis tryout deh baru kugarap lagi~

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s