[9th Chapter] Vengeance

Standard

page

Main Cast:

  • [CNBlue] Jung Yong Hwa
  • [OCs] Catherine Kim
  • [CNBlue] Lee Jong Hyun

Genre: Family, Romance, Angst, Friendship, AU, Thriller

Rating: PG-17

Disclaimer: Storyline, OC, and picture belong to me. The main idea of the story is inspired by manga/anime Black Butler a.k.a Kuroshitsuji. This fanfic is only a fictional story.

Note: THE ENDING IS HEREEE!! YUHUUU~ akhirnya fic ini berakhir juga setelah hampir setahun… anyway, chapter 9 ini adalah pemecahan dari semua masalah… dan chapter 10 besok bakal jadi epilognya ^^

***

[Chapter 9]

Let me tell you this for the last time

No one ever comes from hatred

.

.

“Kau tahu, aku akan membayar berapapun juga untuk secarik kertas itu.”

“Seberapa pentingnya itu bagimu? Kau bahkan tak memiliki sangkut-paut dengan keluarga mereka.”

Yong Hwa menggertakkan giginya, menatap tajam sang Kepala Kepolisian yang tampak keras kepala itu. Ia membutuhkan kertas itu, petunjuk terakhirnya akan kasus pembunuhan ibu Lee Jong Hyun. Kalau saja bukan Nona-nya yang memberi perintah, mungkin sekarang juga Yong Hwa sudah angkat kaki dari tempat menyebalkan ini.

“Dan apa gunanya bagi pihak kepolisian untuk terus menyimpan bukti tanpa ada niat untuk menyelesaikannya? Kalian bahkan tunduk pada uang suap yang diberikan Tuan Lee. Penegak hukum? Cih, jangan membuatku tertawa,” balas Yong Hwa sinis. Ini adalah senjata terakhir yang ia punya. Membocorkan fakta bahwa kepolisian pun tak lagi patuh pada hukum yang berlaku.

Lelaki tua itu terperanjat, wajahnya dengan cepat kehilangan warna. Ia sadar bahwa kehormatan dirinya dan lembaga kepolisian tempatnya bekerja sedang terancam. Kekotoran yang tak pernah tampak itu bisa saja segera terbongkar.

“Baiklah… baiklah. Tetapi kami berhak mengetahui apa tepatnya yang ingin kau lakukan.”

“Sudah kukatakan sebelumnya, kami ingin menyelesaikan semua ini. Anak dari korban itu, Lee Jong Hyun, ia hanya ingin membaca surat terakhir yang ditinggalkan ibunya. Apa itu dilarang?” Yong Hwa berbisik rendah. Polisi itu menggeleng cepat, bulir-bulir keringat mulai tampak di pelipisnya.

“Tetapi… Tuan Lee memaksa kami berjanji….”

“Tuan Lee yang pengecut itu akan menjadi milik kalian sepenuhnya saat semua ini berakhir. Akan kutunjukkan bukti atas semua kejahatannya dan akan kupastikan bahwa ia pantas berakhir di ruang tahanan.”

Hening. Keduanya sama-sama terdiam, tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Satu fakta yang tak bisa ditolak, pemilik dari LD Corporation itu telah melakukan begitu banyak kejahatan. Semua orang dalam kepolisian tahu itu, hanya saja mereka tak pernah memiliki bukti cukup untuk menangkapnya secara langsung. Ditambah dengan uang sogokan dari Tuan Lee yang memaksa setiap petugas di sana untuk memilih: tutup mulut atau mati secara tragis. Sebuah kasus kejahatan yang sempurna.

Dan kini, seorang pemuda hadir di tengah mereka, memberikan jaminan untuk menyerahkan Tuan Lee beserta dengan seluruh bukti kejahatannya. Memberikan janji bahwa semua ini bisa diakhiri.

“Serahkan dia pada kami hidup-hidup. Itu cukup.”

Yong Hwa menyeringai, tahu bahwa ancamannya tadi sukses besar. Ia mengulurkan tangan, menjabat polisi tua itu dengan mantap. Bersamaan dengan itu, selembar kertas pun ikut berpindah kepemilikan. Bukti terakhir untuk menjatuhkan LD Corporation.

Skak mat.

Akhir itu sudah dekat.

***

Catherine Kim

Revolver. Pistol. Cadangan peluru. Kendaraan. Dan rencana yang matang.

Kutatap semua benda itu dengan perasaan puas. Kesiapan itu membara di dalam diriku, membuatku semakin merasa berapi-api untuk membalaskan dendam. LD Corporation boleh saja menghabisi orangtuaku, memporak-porandakan keluargaku, dan menghancurkan masa mudaku.

Tetapi, mereka tidak akan bisa melenyapkan tekadku. Tidak akan pernah.

Karena apa yang telah kusiapkan untuk mereka ini jauh lebih berbahaya. Melenyapkan pemimpin mereka, membuat perusahaan itu hancur, dan memastikan pewaris satu-satunya tak akan mau melanjutkan usaha busuk mereka.

Lee Jong Hyun.

Aku senang ia masih bisa melihat kebenaran, menentukan mana yang harus dibela dan mana yang harus diabaikan. Keputusan Jong Hyun untuk meninggalkan semua yang ia miliki di sini dan memulai hidup baru telah memberiku kekuatan. Secara tak langsung, ia telah mempermudah jalanku untuk melaksanakan semua ini.

Kulirik kamar yang ditempat Jong Hyun semalam, mendapati sebuah ransel besar yang telah dipenuhi berbagai barang tergeletak di atas kasur. Siap untuk dibawa pergi, tentunya. Kemarin, aku sudah  memberikan salah satu ranselku, beberapa baju milik Yong Hwa, dan juga sejumlah uang untuk dibawa pergi Jong Hyun. Cukup baginya untuk menjauh dari semua persoalan ini dan membangun masa depan yang lebih baik di luar sana.

“Cathy?”

Jong Hyun tiba-tiba saja berdiri di sana, membuatku berkedip cepat karena kaget. Aku berdeham pelan, berusaha menghilangkan kecanggungan yang mendadak menguar di udara. Setelah aku mengusirnya secara tak langsung, hubungan di antara kami tampaknya semakin merenggang. Baguslah. Setidaknya, ia tidak perlu ikut menanggung luka akibat balas dendamku.

“Kenapa?”

“Aku akan ke sekolah. Kau tahu… mengurus segalanya. Apa kau–

“Ya. Katakan bahwa aku… harus pergi karena urusan keluarga yang cukup mendadak. Mungkin selama seminggu.”

“Tentu,” Jong Hyun membalas ringan. Ia terdiam sejenak, ragu-ragu untuk mengungkapkan isi pikirannya yang masih mengganjal. Aku mengangkat alis, menantinya untuk kembali berkata-kata.

“Berarti ini… perpisahan?”

Perpisahan. Kumohon, bisakah kita tidak menggunakan kata itu?

Aku menghela napas, mendudukkan diri di salah satu sofa yang ada. Bohong jika aku berkata bahwa semua ini bukanlah perpisahan. Jong Hyun akan segera mengurus kepindahannya dari sekolah, kemudian pergi ke tempat lain yang hingga kini masih belum pasti ada dimana. London? Atau mungkin malah negara lainnya? Entahlah, ia tak pernah memberitahuku.

Sedangkan aku? Aku tidak yakin untuk kembali melanjutkan sekolahku disini. Tidak di Seoul, itu yang pasti. Setelah semua ini selesai, aku juga ingin melepaskan segalanya. Mengajak Yong Hwa oppa untuk pindah ke tempat lain, melupakan masa laluku yang kelam.

Meskipun berat, tapi pada kenyataannya… ini memang perpisahan. Kami tidak akan bertemu lagi.

“Mungkin…” kubiarkan satu kata itu mengambang di antara kami, memberikan sebuah ketidakpastian. Harapan. Tidak ada yang tahu masa depan, bukan begitu? Kami harus berpisah sekarang, namun jika waktu mengizinkan, aku ingin bertemu dengannya sekali lagi. Berjumpa dalam keadaan yang lebih baik, dalam suatu jenis kehidupan yang lebih layak.

Jong Hyun tidak berkata-kata lagi. Ia berbalik menuju kamar dan mengambil semua barangnya yang ada. Sejurus kemudian, ia sudah melangkah ke pintu depan, melewatiku begitu saja. Sempat terpikirkan olehku bahwa ia mungkin sama tak sanggupnya seperti diriku untuk menghadapi perpisahan ini.

Sampai ia berputar dan berlari menghampiriku. Memelukku erat-erat dan membuat asupan oksigenku berkurang drastis.

“Jong Hyun-a…

“Maafkan aku Cathy, untuk segalanya.”

“Kenapa kau harus meminta maaf? Kau bahkan tidak bersalah,” sergahku cepat. Jong Hyun tertawa kecil, lengannya masih melingkari tubuhku. Hangat.

“Sampai jumpa lagi, kalau begitu…”

Yeah, semoga saja…”

Jong Hyun menarik diri, menatapku dengan senyuman sedih di wajahnya. Rupanya ia juga memiliki harapan yang sama denganku. Kami masih ingin dipertemukan lagi, suatu saat nanti di masa depan.

Kubalas senyumnya itu, berusaha menunjukkan bahwa aku cukup tegar untuk menghadapi semua ini. Namun, Jong Hyun hanya menggelengkan kepala, seolah ia bisa membaca pikiranku dan tidak menyetujuinya. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya dengan berhati-hati dan sebelum aku sempat menyadarinya, bibirnya sudah menempel lembut di dahiku. Mengecupku dengan ringan dan manis.

“Kau–

“Aku selalu menyukaimu, Catherine Kim. Jika kita bertemu nanti, aku ingin kau sudah memunyai jawaban untuk itu.”

“A-aku…”

“Selamat tinggal,” ia tersenyum makin lebar, kini sembari berjalan mundur dan melambaikan tangannya ke arahku. Sementara aku sendiri hanya bisa diam terpaku, berusaha mencerna ucapan pemuda itu barusan. Jong Hyun… menyukaiku?

Kami saling berpandangan sampai sosok Jong Hyun akhirnya menghilang di ambang pintu. Menyisakan berbagai pertanyaan yang berkecamuk dalam benakku, mengacaukan isi pikiranku yang sebelumnya sudah mantap untuk menghadapi perpisahan.

Kalau kami bertemu lagi, apa yang harus kukatakan?

Aku tidak pernah mengetahui apa nama yang tepat untuk perasaan ini, untuk apa yang selalu kurasakan terhadap kehadiran Jong Hyun dalam hidupku.

Catherine Kim, apa kau mencintai Lee Jong Hyun?

Aku tidak tahu.

***

Jung Yong Hwa

Pada saat-saat seperti ini, waktu serasa berjalan berkali-kali lipat lebih lambat daripada biasanya.

Nona Cathy pun tampaknya mulai kehilangan kesabaran. Kami berdua duduk di dalam mobil, mengamati setiap kendaraan yang keluar-masuk tempat parkir gedung tersebut. Gedung yang merupakan kantor seorang Lee Dong Wook –pria tua sialan dan pemilik dari LD Corporation.

Rencana kami cukup sederhana dan lugas. Tidak bertele-tele. Menunggu pria itu keluar dari sana menggunakan mobilnya, membuntutinya, dan sebisa mungkin memojokkannya ke salah satu kawasan terpencil yang sebelumnya telah kami siapkan. Dilanjutkan dengan membongkar seluruh tindak kejahatannya dan menunggu reaksi macam apa yang akan ia keluarkan. Entah itu pasrah dan menyerahkan diri sepenuhnya pada polisi, atau malah akan terjadi baku-hantam di antara kami semua. Yang manapun itu, aku sudah siap.

“Sepertinya mobil itu tidak asing…” gumaman Nona Cathy memecahkan kesunyian yang ada. Aku mendongak, menyipitkan mata untuk mengamati sebuah mobil sedan hitam dengan nomor plat yang sudah kukenal baik. Tentu saja, aku menghabiskan hari-hariku dengan memata-matai seluruh kegiatan Lee Dong Wook.

Bingo! Siap berangkat, Nona?”

Anytime!

Aku terkekeh mendengar sambutan penuh semangatnya, sikap yang menunjukkan bahwa Nona Cathy sama sekali tidak takut pada pembunuh keji macam pria itu. Kutekan pedal gasku dalam-dalam, dengan cepat menyalip semua mobil lainnya, kemudian mulai membuntuti sedan itu dalam jarak satu meter.

Tanpa melepaskan pandang barang sedetik pun, kami mengikuti mobil milik Lee Dong Wook tersebut. Sesuai dengan rencana, aku mulai menambah kecepatan, berusaha untuk mendahului mobil itu dan memaksanya berbelok di tikungan terdekat.

Sedikit lagi… sedikit lagi…

Aku membanting kemudi ke arah kiri, menghalangi arah laju sedan hitam tersebut. Mereka menginjak rem tepat pada waktunya –harus kuakui sopir dari keluarga Lee cukup berpengalaman –kemudian dengan terpaksa membelokkan mobil mereka ke kiri.

“Nona?”

“Siap!”

Cathy membuka kaca jendela, melihat ke sekelilingnya untuk memastikan keadaan telah aman. Kini, kami sudah berada di sebuah jalanan yang tampak sepi, dengan gedung-gedung tua tempat penyimpan barang memenuhi sisi kanan dan kiri. Nona Cathy mengeluarkan revolvernya, membidik ke arah roda belakang mobil mereka. Satu tembakan lolos bersamaan dengan bunyi ban meledak.

Tahap awal dari misi kami sudah selesai.

Aku mulai menepikan mobil, bersiap-siap untuk memojokkan pria sialan itu di salah satu gudang barang milik perusahaan keluarga Cathy. Kami melangkah keluar dari dalam mobil, menyipitkan mata untuk memandang sopir keluarga Lee yang sedang berjongkok memeriksa ban. Nona Cathy kembali mengangkat senjatanya, melepaskan peluru berikutnya ke arah pundak lelaki muda itu.

Arghhh!

Ia jatuh terguling, memegangi bahunya yang kini berlumuran darah. Nona Cathy meringis kecil sembari berlari, seutas tali tambang berada di genggamannya. Dalam waktu singkat, sopir muda itu sudah terikat erat. Manik matanya menatap kami dengan pandangan takut dan tak mengerti.

“Maaf, sepertinya Anda bekerja pada keluarga yang salah. Tetap diam disini, dan kupastikan nyawamu akan selamat,” kudengar bisikan rendah Nona Muda-ku yang ditujukan pada pria itu. Ia hanya bisa mengangguk pelan. Di sisi lain, aku menatap pintu mobil yang mulai terbuka diikuti dengan penampakan sosok ayah dari Lee Jong Hyun.

“Nona…” aku menggeram pelan, tanda waspada. Catherine tampaknya segera tersadar. Ia bangkit dari posisi berlututnya, kemudian cepat-cepat berlari ke sampingku.

“Wah… wah, tindak kejahatan macam apa yang terjadi di sini?”

Aku berdecak, menahan keinginanku untuk segera melayangkan pukulan ke wajah licik itu. Lee Dong Wook berdiri di sana, kedua tangannya tersembunyi dalam saku jas. Jangan pikir aku bodoh, aku tahu pasti bahwa ia pasti juga menyimpan senjata di sana. Kata-kata manis dan raut tak bersalahnya itu hanyalah tipuan yang sudah dapat kami tebak. Pembunuh sepertinya mana mungkin menyimpan kebaikan hati?

Omong kosong.

“Tindak kejahatan? Bukankah hal itu jauh lebih patut untuk ditanyakan pada dirimu sendiri?” dengan tenang kubalas ucapannya itu. Belum saatnya pertumpahan darah terjadi di sini. Membongkar kejahatannya terlebih dahulu, itu adalah keinginan kami.

“Maaf anak muda, aku tidak mengerti maksudmu. Dan gadis itu… sepertinya ia tidak asing bagiku. Wajahnya cukup sering disorot berita beberapa tahun belakangan ini, bukan? Catherine Kim, pewaris keluarga Kim yang kehilangan orangtuanya. Apa aku benar?”

“KAU! BERANINYA–

Aku cepat-cepat mengulurkan lengan, menahan tubuh Nona Cathy yang sudah menghambur maju sembari mengucapkan kata-kata makian. Lee Dong Wook hanya tertawa sinis, sementara aku mulai mengeratkan genggaman pada pistolku. Tua bangka menyebalkan itu…

“Bukankah gadis manis sepertimu seharusnya lebih mengerti sopan santun?”

“Persetan dengan sopan santun! Dan jangan menyebut aku manis dengan mulut busukmu itu!”

Lee Dong Wook mengangkat sudut-sudut bibirnya, menciptakan sebuah senyum sinis. Satu tangannya mulai dikeluarkan dari dalam saku, jenis gerakan yang sudah bertahun-tahun kupelajari. Instingku mulai bekerja, keinginanku untuk melindungi Nona Cathy berlipat ganda. Kutarik tubuh Nona-ku itu ke belakang, siap untuk menghadang semua bahaya yang ada.

Ckrek!

Bersamaan, aku dan Lee Dong Wook menarik keluar pistol milik kami. Saling menodongkan ke arah masing-masing pihak. Tentunya, ia tidak akan sebodoh itu dan menarik pelatuknya begitu saja. Satu tarikannya akan berakhir dengan dua nyawa melayang. Nyawaku dan nyawanya. Aku juga akan menarik pelatukku jika ia melakukannya.

Well, kita tidak harus mengakhirinya seperti ini. Mau membicarakannya?” selaku dengan nada yang lebih santai. Aku melirik ke arah bangunan merah besar di samping kananku, memberikan undangan baginya untuk berjalan masuk ke sana.

“Tentu saja. Tidak ada yang lebih kuinginkan daripada berbicara baik-baik.”

“Baiklah. Simpan dulu senjatamu, kalau begitu.”

Ia kembali melontarkan tawa membahana, menyelipkan pistolnya di balik jas. Aku mengikuti gerakannya, dengan hati-hati mulai mengarahkan kaki ke gudang penyimpanan merah itu. Kubuka gembok pintunya dengan cepat, mendorong besi berat itu dalam satu sentakan. Kami bertiga melangkah masuk, membiarkan cahaya remang-remang menaungi wajah-wajah kami.

“Jadi, Lee Dong Wook… bagaimana cara kita mengawali pembicaraan menyenangkan ini?”

***

Lee Jong Hyun

Apakah yang sedang kulakukan ini benar?

Aku menggigit bibir bawahku, berulang kali melemparkan pandang ke arah pintu berwarna merah tua itu. Tempat dimana ayahku, Jung Yong Hwa, dan Cathy baru saja menghilang di baliknya. Kugelengkan kepalaku perlahan, berusaha menjernihkan pikiran atas pemandangan yang baru saja merasuk ke dalam sel-sel otakku.

Aku pasti sudah gila.

Ya, aku pasti sudah tak waras lagi.

Aku baru saja melepaskan kesempatanku untuk menjalani hidup yang lebih baik. Membuang tiket pesawat yang sudah diberikan oleh Cathy, melarikan diri dari bandara tepat satu jam sebelum penerbanganku, kemudian segera melesat menuju kantor ayahku.

Untunglah, aku cukup beruntung untuk datang tepat pada waktunya. Di saat taksi yang kutumpangi berhenti di depan kantor LD Corporation, saat itu jugalah aku mendapati sedan hitam ayahku melaju pergi diikuti dengan mobil lain–yang kuduga adalah mobil milik Cathy. Tanpa pikir panjang, aku pun memerintahkan sopir taksiku untuk mengikuti mereka.

Dan kini, aku berdiri di tempat ini tanpa tahu hal macam apa yang seharuskan kulakukan.

Aku berjingkat pelan, menghampiri bangunan berwarna merah itu. Dengan cermat, aku menyembunyikan diriku di balik pintu, berusaha mencuri-dengar pembicaraan mereka melalui celah sempit yang ada di antara pintu. Suara Yong Hwa terdengar menggema, memudahkanku untuk melakukan kegiatan ini.

“Membunuh, bekerja sama dengan sindikat pembunuh bayaran, mempekerjakan anak di bawah umur… apa perlu kusebutkan semuanya satu persatu?”

“Kau sudah melakukan cukup penelitian rupanya. Bagaimana dengan bukti?”

“Bukti? Kau kira kami bodoh? Tentu saja kami punya cukup bukti untuk memasukkanmu ke dalam penjara,” kali ini suara Cathy-lah yang tertangkap indera pendengaranku. Aku mengerutkan kening. Sebanyak itukah kejahatan yang telah diperbuat ayahku?

“Baiklah. Jadi apa mau kalian? Menyeretku ke kantor polisi?” seru ayahku dengan nada santai.

“Tanpa bermain-main terlebih dahulu? Kurasa itu kurang menyenangkan,” lagi-lagi suara Cathy.

Tanpa sadar, aku mulai meremas-remas kedua telapak tanganku. Jika ini semua bisa diakhiri secara baik-baik, tentunya tidak perlu ada kekerasan, bukan? Polisi tentunya bisa menemukan jalan damai untuk semua ini.

“Ibu Jong Hyun. Kau membunuhnya.”

Deg!

Serta-merta, aku mencondongkan badan untuk mendengar pembicaraan ini dengan lebih baik. Mereka sedang membicarakan ibuku. Apa ada hal lain yang belum kuketahui? Kebenaran yang jauh lebih pahit daripada sebelumnya?

“Jadi, anakku sudah memberitahumu?”

“Kau membunuhnya hanya karena beliau dekat dengan keluargaku! Alasan macam apa itu? Kecemburuan? Salah paham?”

Pertengkaran mereka semakin memanas, namun kini aku nyaris tak bisa menangkap kata-kata yang mereka ucapkan selanjutnya. Satu fakta lainnya baru saja terkuak, menyebabkan luka sakit hatiku terkoyak semakin lebar. Ibuku… dekat dengan keluarga Cathy?

 

WANITA JALANG ITU PANTAS MENDAPATKANNYA!

 

Ucapan ayahku beberapa hari yang lalu kembali terngiang di kepala. Wanita jalang katanya? Mungkinkah ibuku berselingkuh dengan ayah Cathy? Kedekatan yang baru saja dibilang Cathy tadi… dekat yang seperti apa? Atau ini hanyalah permainan licik ayahku seperti yang sudah-sudah? Suatu kebohongan yang lain?

“KAU PANTAS MENDAPATKAN INI!”

 

DORRR!!

 

“NONA!”

Aku terperanjat mendengar bunyi letusan pistol. Ini bukan saatnya untuk berdebat dengan isi hatiku sendiri. Ini saatnya untuk masuk ke dalam sana, bergabung dengan orang-orang yang kucintai, menemukan kebenaran yang final, dan menjumpai akhir yang sesungguhnya.

“CATHY?”

***

Catherine Kim

“KAU PANTAS MENDAPATKAN INI!”

Aku berlari maju, mengacungkan revolverku ke arah Lee Dong Wook. Sudah cukup pembicaraan baik-baiknya, aku sudah cukup muak untuk terus bermain-main. Ia tidak layak untuk hidup. Penjara pun masih akan menjadi tempat yang terlalu baik baginya.

DORRR!!

“NONA!”

Kedua pistol saling melepaskan timah panas itu pada saat yang bersamaan. Aku bisa melihat ayah Jong Hyun jatuh terhuyung ke belakang, bahu jasnya kini memerah karena darah yang mengucur. Ia meringis dan berdecak kesal, berusaha untuk bangkit berdiri dengan sisa-sisa tenaganya.

Aku masih terpaku di tempat, napasku terengah-engah. Lee Dong Wook menyeringai puas dan untuk sesaat aku dilanda kepanikan yang mendalam. Apa aku juga tertembak? Apa aku akan segera mati? Ia juga menarik pelatuknya bersamaan denganku, kan?

“A-anda… baik-baik… sa… ja, Nona?”

Manik mataku melebar seketika. Yong Hwa oppa jatuh terkapar disana, kemeja putihnya dibasahi cairan merah gelap. Ia terbatuk-batuk, memuntahkan darah dari bibirnya yang sudah memucat. Tentu saja, aku tidak tertembak. Yong Hwa oppa telah mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan nyawaku.

O… oppa…” aku bergetar hebat, pistolku terjatuh begitu saja, menciptakan bunyi berkelontang di atas lantai. Berakhir sudah. Ayah Jong Hyun akan bisa melihatku yang kini tidak berdaya dan ia akan segera menembakku hingga mati. Akhir dari keluargaku dan akhir dari Jung Yong Hwa.

“CATHY?”

Suara itu…

“Jo-jong Hyun!” aku balas berkata tak percaya, mendapati sosok sahabatku yang menerobos masuk ke dalam gedung. Matanya memandang berkeliling dan dengan segera ia melangkah ke sisiku. Jong Hyun berlutut disana, ikut terpaku saat melihat keadaan Yong Hwa.

“Keluar dari sini, Nak! Kau tidak ada hubungannya dengan semua ini!”

Bisa kudengar geraman keras terlontar dari mulut Jong Hyun. Ia menyambar revolverku begitu saja, kemudian bangkit berdiri dan mengarahkannya pada Lee Dong Wook. Aku menahan napas, tak berani untuk mengeluarkan suara. Apa Jong Hyun akan membelaku dan membunuh ayahnya?

“JELASKAN!”

Kami semua bungkam, menatap Jong Hyun yang berdiri tegak di pusat ruangan, air mata mengalir menuruni wajahnya. Aku meliriknya sekilas, pemahaman merayapi diriku pada saat yang sama. Ia ingin mengetahui segalanya, semua urutan kejadian yang telah menjebak kami dalam lingkaran setan bernama dendam.

“Ibumu… adalah teman baik ayahku…”

“Ibumu berselingkuh dengan ayahnya, anak bodoh!!”

“DIAM!”

Hening kembali menguasai. Jong Hyun menatapku nanar, sorot matanya tampak rapuh dan bimbang. Ia tidak tahu mana yang harus ia percayai. Aku mengangguk singkat, mencari-cari secarik kertas yang kusimpan di saku jaketku. Kertas yang didapatkan Yong Hwa oppa dengan susah payah dari pihak kepolisian. Surat terakhir dari ibu Jong Hyun yang menjelaskan segalanya.

“Itu… surat terakhir ibumu. Beliau berkata jujur, dan aku yakin kau akan mengenali tulisannya. Tolonglah Jong Hyun… kau akan memercayaiku, bukan?”

Janji itu. Janji yang kami buat untuk saling percaya. Jong Hyun mengangguk yakin, tangannya terulur untuk meraih surat itu.

“Mereka bisa saja memanipulasinya!”

“Aku bisa mengenali tulisan tangan ibuku. Ayah, hentikan semua kebusukan ini!”

Lee Dong Wook terlihat murka, sekaligus ketakutan pada saat yang sama. Sudah seharusnya, bukan? Keburukannya akan segera terbongkar dan hidupnya akan berakhir mengenaskan. Ia harus membayar semua ini. Untukku, orangtuaku, ibu Jong Hyun, dan Yong Hwa oppa yang kini terbaring lemah di pangkuanku.

“No… na…”

“Kau harus bertahan oppa, kau harus,” aku balas berbisik lemah, menggenggam kedua tangannya erat-erat. Samar-samar, suara Jong Hyun yang sedang membacakan surat itu mulai terdengar. Aku memejamkan mata, menyerap semua realita itu dengan perasaan tak rela. Sebutir air mulai menetes di sudut mataku.

 

Jong Hyun-a…

Ibu tahu, hidup Ibu tidak akan bertahan lama…

Kau tahu keluarga Kim Do Jin bukan? Ia adalah temanku semenjak kami di sekolah menengah. Aku, Kim Do Jin, dan Emily Lee, kami adalah sahabat baik. Do Jin dan Emily adalah pasangan yang sempurna. Mereka berdua berakhir di pelaminan dan memiliki anak perempuan. Dan Ibu menikahi ayahmu, kemudian melahirkanmu. Dahulu, kupikir kedua keluarga ini bisa menjalin persahabatan. Membangun kerjasama yang erat.

Tetapi, Ibu salah.

Do Jin dan Dong Wook –ayahmu –mereka tidak pernah akur. Bukan hanya pertengkaran biasa, tetapi suatu masalah rumit yang berhubungan dengan perusahaan. Ibu tidak pernah mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Yang aku tahu hanya satu: Ibu harus selalu mendukung Ayahmu sebagai istri yang baik.

Ternyata, keputusan Ibu kali ini juga salah. Suatu hari semuanya terbongkar begitu saja. Ibu dan Emily bertemu untuk membicarakan hal ini, dimana kebenaran akhirnya menjadi nyata di hadapan kami. Ayahmu tidak pernah menggunakan cara-cara halal untuk menjalankan perusahaannya. LD Corporation dan perusahaan milik keluarga Kim bukan hanya rival biasa. Do Jin rupanya merasa dicurangi oleh tingkah ayahmu itu.

Puncaknya, ayahmu mengira Ibu berselingkuh dengan Do Jin. Ia tidak mengerti. Dong Wook berpikir jika Ibu akan lebih membela keluarga Kim daripada keluarga Ibu sendiri. Diam-diam, aku pun tahu. Ayahmu ingin membunuh kami semua. Membunuh Ibu karena rasa cemburu dan salah paham, membunuh keluarga Kim karena takut kejahatannya terbongkar.

Jong Hyun-a…

Jika kau membaca surat ini, itu artinya ayahmu sudah berhasil membunuh Ibu, Do Jin, dan Emily. Aku tahu kau pasti kesal dan marah, tapi tolong… Ibu mohon… jangan sampai kau melakukan kesalahan yang sama.

Ibu tidak pernah membenci ayahmu. Ia boleh saja jahat dan curang, tetapi cinta itu buta. Ibu akan tetap mendukungnya. Kedekatan Ibu dengan keluarga Do Jin bukan berarti ancaman. Sesungguhnya, Ibu malah berusaha mencari cara untuk menyelesaikan perselisihan yang ada dan mendamaikan dua keluarga ini.

Namun, kau tahu sendiri bukan akhirnya? Ibu gagal. Ayahmu sudah kepalang basah membenci Ibu dan keluarga Kim. Amarah mengacaukan pikirannya, membuatnya mengambil jalan pintas dengan cara membunuh. Ibu tidak marah, tetapi Ibu tidak ingin kau melakukan hal yang sama.

Jangan menyimpan dendam Jong Hyun-a…

Jangan membenci ayahmu. Kau boleh melaporkannya ke polisi, meminta hukuman yang seadil-adilnya. Tetapi, kumohon… jangan melukainya dengan tanganmu sendiri. Ia tetap ayahmu, seberapapun buruknya dia.

Untuk yang terakhir kalinya, Ibu akan mengatakan ini.

No one ever comes from hatred.

Kau tahu arti kalimat itu, bukan? Tidak ada kebaikan yang datang dari dendam dan benci. Jadi, jangan pernah memperburuk keadaan yang sudah ada.

Ibu hanya bisa berharap kau akan menjalani hidup yang lebih baik, terlepas dari masa lalu kelam yang kau punya. Ibu tahu kau bisa Jong Hyun-a…

Ibu mencintaimu…

Dan untuk Dong Wook, jika kau ada di sisi Jong Hyun saat ini…

Tolong, hentikan semua perbuatan burukmu. Aku masih mencintaimu dan aku tidak pernah berselingkuh ataupun menusukmu dari belakang. Bahkan pada detik terakhir hidupku, detik dimana kau membunuhku dengan tanganmu sendiri… aku tetap mencintaimu.

Ibu menyayangi kalian. Hiduplah dengan bahagia… untuk Ibu.

 

“Tidak mungkin…” suara kasar itu terdengar lemah untuk pertama kalinya. Aku mendongak, mendapati seorang Lee Dong Wook jatuh berlutut dengan air membasahi kedua bola matanya. Untuk sesaat aku tercengang. Lee Dong Wook… bisa menangis?

“Ayah… ayah sudah mendengar apa kata Ibu. Ibu tidak pernah membohongi Ayah… jadi, tolong…”

“ITU SEMUA BOHONG!” kali ini pria tua itu kembali meraung, menutupi kedua telinganya dengan tangan, seolah menolak kebenaran yang baru saja dibacakan Jong Hyun.

“Itu semua nyata,” tambahku dalam bisikan. Aku menundukkan kepala dalam-dalam, berusaha memeluk Yong Hwa oppa yang masih mengucurkan darah. Masa bodoh dengan bajuku yang kini ikut ternoda. Aku hanya ingin semua ini berakhir.

Aku ingin hidup bahagia.

“Ayah…”

“Maafkan ayah, Jong Hyun. Ayah bodoh dan ibumu benar… ia selalu benar, bukan?”

“Ayah, kita bisa memperbaiki semua ini. Pengadilan bisa memberikan hukuman yang layak. Tidak perlu ada dendam dan amarah, bukan? Ayolah…” Jong Hyun kini mengulurkan tangan untuk membantu ayahnya bangkit berdiri.

Diam-diam aku menyetujui tindakannya itu. Sudah cukup aku hidup di tengah hawa buruk ini. Semua perasaan dendamku sudah lenyap tatkala aku mendengar Jong Hyun membaca surat itu. Yong Hwa sudah terluka, aku sudah lelah, dan Jong Hyun ingin akhir yang baik untuk semuanya. Tidak bisakah kami berhenti di sini?

“Ayah tidak bisa, Jong Hyun. Ayah tidak pantas hidup di dunia ini…”

“Apa maksud–

DORRR!!

Suara tembakan kembali bergema di seluruh ruangan. Aku terisak semakin keras, mataku berusaha mencari-cari sosok Jong Hyun. Tembakan itu tidak ditujukan pada Jong Hyun, bukan? Tidak… tidak boleh… tidak setelah Yong Hwa oppa menjadi seperti ini…

“AYAH!”

Jong Hyun berteriak, pilu merambati nada suaranya. Aku segera tersadar, paham bahwa Lee Dong Wook memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

“Ayah… akan menyusul ibumu. Ini adalah satu-satunya cara untuk menebus dosa ayah…”

Sunyi.

Jong Hyun menangis semakin keras, mungkin karena ayahnya kini telah benar-benar pergi. Rintihan Yong Hwa kembali terdengar, menyentakkanku kembali ke alam sadar. Ini sudah berakhir. Aku harus segera pergi dari sini, membawa Yong Hwa ke rumah sakit, menyelamatkan hidupnya…

“Nona…” suara parau Yong Hwa kembali terdengar. Aku buru-buru memandangnya, membiarkan mata kami bertemu. Yong Hwa menyunggingkan seulas senyum, membuat jantungku serasa berhenti berdetak.

Detik itu juga, aku mengerti bagaimana perasaanku pada Yong Hwa oppa.

Ciuman itu, semua pelukan yang pernah kami bagi, kehangatan, rasa nyaman, rasa takut akan kehilangan… semua itu bukan kesalahan.

Aku, Catherine Kim, memang mencintai seorang Jung Yong Hwa.

“Jangan… jangan panggil aku dengan sebutan Nona…”

“Ca… thy?”

Aku mengangguk ringan, berusaha memeluknya lagi tanpa menekan bekas lukanya. Yong Hwa terkekeh ringan, jemarinya membelai helai-helai rambutku dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.

“A-aku… harus… per… gi…”

Aku menggeleng, menolak perkataannya itu. Pergi? Tetapi, kau sudah berjanji! Kau akan selalu bersamaku hingga semua ini berakhir, iya kan? Kenapa kau harus meninggalkanku disaat aku sudah menemukan jawaban atas semua perasaan ini?

Semua ini sudah berakhir, bodoh.

Jawaban itu menyeruak begitu saja, membuat seluruh tubuhku bergetar. Benar, semua ini sudah berakhir. Tetapi, Yong Hwa tetap tidak boleh pergi. Tidak!

“Aku… men… cintaimu…”

Mataku membelalak mendengar pengakuan Yong Hwa. Tanpa berpikir lebih dahulu, kutempelkan bibirku pada bibirnya, berbagi ciuman ringan untuk yang kedua kalinya. Rasanya seperti darah. Bibir Yong Hwa oppa yang berlumur darah kini meninggalkan jejaknya di atas milikku.

“Aku juga mencintaimu, maafkan aku oppa.”

“Se… lamat… tinggal…”

Dan tubuh Yong Hwa oppa pun berhenti bergerak. Setetes air jatuh ke atas wajahnya, yang belakangan kusadari bahwa aku sedang menangisinya. Aku dan Jong Hyun yang sama-sama berduka untuk orang-orang yang kami kasihi. Aku yang dibutakan oleh dendam dan kini sudah mendapat balasan yang setimpal.

No one ever comes from hatred.

Kalimat terakhir dari ibu Jong Hyun itu terus berpusar di benakku, entah sampai kapan. Yang jelas, aku tahu bahwa frasa itu benar.

Benci tidak akan membawa akhir yang baik. Dendam adalah racun yang akan menghancurkan semua ikatan di antara kami. Semua ini sudah berakhir, tetapi aku masih terus bertanya-tanya dan mencari.

Apa ini akhir yang kuinginkan? Apakah sekarang aku bisa bahagia?

Aku mengangkat wajah, mataku bertemu dengan sepasang manik hitam. Jong Hyun melemparkan tatapan pilu, menyampaikan semangat terakhir yang ia miliki untukku tanpa suara. Aku kembali meneteskan air mata, namun kepalaku mengangguk untuk menyetujui arti dari tatapan Jong Hyun tadi.

 

Ini bukanlah akhir, ini adalah awal yang baru. Dan kami pasti bisa membangun sebuah awal yang lebih baik.

Aku yakin itu.

***

A/N:

The ending is hereee!! Akhirnya setelah susah-payah menulis adegan tembak-menembak (yang mungkin masih aneh itu, I know… I know, saya nggak bakat nulis begituan -,-)  fic  ini selesai jugaaa :D

eumm, masih ada chapter 10 sih, epilog dari fic ini… buat yang pada penasaran sama masa depannya Cathy – Jonghyun…

dan buat Cathy – Yonghwa shipper… maaf kalau mereka terpaksa tidak bisa bersatu pada akhirnya… habis dari awal bikin cerita, aku udah fix banget bikin Yong Hwa meninggal disini /dibuangboice/ maaaaaaf banget~ *bows*

okay, reading is over here… now give me some review! Udah mau berakhir nih, jadi berikan review kalian atas fic super complicated pertamaku ini ya! :D

and, I have some question:

  1. Karakter siapa yang paling kalian suka? Kenapa?
  2. Cathy – Yonghwa atau Cathy – Jonghyun? yah, meskipun Yonghwa udah nggak ada, tapi aku tetep penasaran apa alasan kalian jadi shipper mereka…

okay, that’s all!  :D

-kkeut-

Advertisements

8 thoughts on “[9th Chapter] Vengeance

  1. kimsungrin

    huaaahhh akhirnya bisa juga melihat kata-kata end (?) wwkwkwkwk
    btw aku puas dengan akhir ini, dijelaskan dan Lee Dong Wook si manly itu jadi tua bangka dan jahaaatt T.T tapi gapapa aku bener-bener tersenyum pas tau LDW merasa bersalah dan bunuh diri.
    tapi aku gak suka Yonghwa matiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii T.T kenapa harus ada kematian dibalik usaha kerasnya selama ini? kenapa mer kenapa? *guncang-guncang bahu amer* ._. dan aku dengan senang hati akan menjawab yang menjadi pertanyaanmu 😀
    1. karakter yang aku suka hmmmm Yonghwa mungkin, karena saat baca aja aku bisa bayangin wajah dia dan sifat coolnya itu kyaaaa. tapi Jonghyun juga oke awal-awalnya, tidak disaat dia galau gegara babe (?) nya seorang pembunuh ._.v
    2. Cathy-Ypnghwa, of course! why? karena (walaupun ini FF) tapi aku bisa merasakan Feel yang dirasakan Yonghwa dalam cerita saat memeluk, memandang, pokoknya perhatian dengan Cathy deh. dan alasan lain, karena Jonghyun. aku lebih suka liat jonghyun gak dipasangin sama siapa-siapa #plaaaaaakkkkk
    okelah akhiri saja review saya yang ngalor ngidul ini heheheu, mianhae ya .-.v
    dan, kutunggu EPILOG nya ~_^
    soooo niceee story 😀

    Like

    • akhirnya yah kak! aku juga bersyukur banget bisa ngeliat kata end setelah setahun lebih nulis fic ini, kirain nggak bakal bisa tamat /sobs/

      puas? aku juga puas banget pas si tua itu mati bunuh diri, rasanya pengen ketawa keras banget deh XD
      dan yonghwa… aku udah merancang dia mati di fic ini sejak awal nulis .__.v
      hohoho, maaf kak, tapi aku emang suka menyiksa para tokoh~ dan sayangnya yonghwa yang kebagian jatah dimari (dan krn aku ga bisa nyiksa jonghyun kelamaan) /slapped/

      jadiiii, jonghyun udah ga oke gitu kalo pas dia galau? aku malah suka pas dia galau tuh, rasanya pengen aku peluuuuk *lari ke jonghyun* :3

      dan, why? kenapa kak meg jadi cathy – yonghwa shipper? yonghwa kan udah nggak ada kak -__-”
      dan jonghyun itu manis, cocok buat cathy… udah emang si yonghwa takdirnya cinta tak berbalas gini kok u,u

      huahahaha, gapapa kok kak review-nya ngalur-ngidul~ aku ketawa sendiri baca komen sepanjang drabble ini~
      okay, epilog minggu depan yak 😀

      Like

      • kimsungrin

        hahahaha dasar yaaa. yah walaupun udah mati, Yonghwa sangat membekas dihati ini. karakternya kuat banget mer muahahaha.

        cathy dengan Jonghyun? tidak akan! hahaha 😀
        oke ditunggu yaaa :DDD

        Like

  2. Mer, rencana yang magang itu bukan benda -.- *komentar intro gaje*

    Kirain bakal ada tipuan gitu, misalnya: ternyata yang didalam mobilnya dongwook bukan dia *bikin sendiri aja tan*

    Loh? Jadi bapaknya jonghyun ini nggak tau tentang Surat terakhir ibunya -____-” kenapa polisinya bisa dapet tapi malah bapaknya kagak -.-

    Kenapa??? Kenapa Cathy malah beneran naksir apa yonghwa, cocokan ama jonghyun 😛

    Nebak nih, akhirnya mereka hidup dan tinggal bareng, tapi nggak pacaran. Cathy ketemu yang dia suka, jonghyun ketemu yang dia suka xD

    Sekian mer. Ditunggu epilognya~ jangan lama2 ntar saya lupa komennya gimana (?) xD

    Like

    • Oiya -____-” wkakakak, habis kamu bilang aku baru sadar itu bkn benda.. Oke anggap saja rencananya ditulis di kertas, jadi benda kan itu (?)

      Eumm yg surat itu… Yah kan polisinya yg nyelidikin kasus ibunya Jonghyun… Bapaknya pan pembunuh dia tan, mana mau repot2 nyari surat gituan -,-
      Hohoho, mau cathy-jonghyun bahagia yak? Aku jugaaaa (lah kan lu yg nulis –“)
      Ntar deh tunggu aja di epilog, mereka mau aku apain lagi.. Tenang aja, mau cathy suka sama yonghwa pun juga ga bakal jadi, kan udh mati dia /ditendang yonghwa/

      Okaay, thankyou ya taaan :*

      Like

      • Wkwkwk ngeles aja kamu mer 😛
        Tapi kenapa polisi bisa nemuin? Seharusnya polisi dapet Surat itu dari rumahnya bapaknya jonghyun kan? *ngotot xD

        Wkwk alhamdulillah yonghwanya mati *digentayangin yonghwa* xD

        Urwel merrrrr :*

        Like

  3. shin sunghee

    anyeong haseyo..
    aku reader baru, baca ff author mulai dari life after life, dan blogwalking.. eh ketemu deh vengeance ini! hehe

    aku cathy-jonghyun shipper! 😀

    maaf br bisa komen di chpt ini, soalnya pake hp, rempong. hihi

    Like

    • wah, kamu juga baca life-after-life? hehehe, maaf ya kalau yang itu bakal lama keluarnya, habis sekarang susah cari waktu nulis sih T T

      akhirnyaaa~ ada another Cathy-Jonghyun shipper disini, habis kebanyakan Cathy-Yonghwa shipper sih, entah ada apa sama couple yang ini sampe punya banyak penggemar /slapped/ -__-

      gapapa kok, yang penting kamu akhirnya komentar.. dan ya, aku tahu kok repotnya komentar lewat hape, udah sering ngalamin juga, hehe xD

      thanks yaaa 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s