Life-After-Life: Extended [2/?]

Standard

life-after-life

a fanfiction by Tsukiyamarisa

Cast(s): [CNBlue] Kang Min Hyuk, [f(x)] Jung Krystal, [SHINee] Lee Taemin, [EXO-K] Kai || Minor cast: [EXO-M] Kris & Luhan, [EXO-K] D.O. || Duration: Chaptered || Genre: AU, Romance, Family, Fantasy || Rating: PG ||

Summary:

Min Hyuk. Soo Jung. Taemin. Kai.

Mereka semua memiliki masa lalu dan masa depan yang saling terikat satu sama lain. Tidak ada satupun dari mereka yang paham, bagaimana catatan takdir akan memutuskan akhir dari kisah ini. Happy end or… not?

Disclaimer:

All casts belong to themselves. Storyline and poster belong to me. Inspired by: Black Butler, Fateful by Claudia Gray, and SHINee’s song – 1000 Years Always By Your Side. Do not plagiarize or repost without permission.

*****

Life-After-Life: Extended

a new guardian

for extended time…

.

.

thirty days of another chance

what will you do?

.

Kang Min Hyuk sudah meninggal.

Ia sudah pergi dari dunia yang fana ini.

Benarkah?

Min Hyuk mengerjap-ngerjapkan kedua kelopak matanya, tubuhnya serasa ringan mengambang di tengah udara. Ia mencoba menggerak-gerakkan kedua lengan dan kakinya, menelengkan kepalanya ke kanan dan kiri. Semuanya terlihat normal, kecuali satu fakta bahwa Min Hyuk masih bisa mengingat rasa sakit akibat mata pisau yang sempat menghunjam tadi.

Masih hidup setelah ditebas seperti itu, mana mungkin?

“Kau sudah meninggal, kalau itu yang kau pikirkan.”

Pemuda itu tersentak, merasakan seluruh bulu kuduknya berdiri tegak saat nada dingin dan datar itu menyapa pendengarannya. Ia menoleh bingung, mendapati dua orang laki-laki berbalut jas hitam berdiri tegak di depan matanya.

“Kalian… siapa?”

Kedua sosok itu tak menjawab, hanya memandang Min Hyuk dari atas ke bawah dengan sorot menyelidik. Kengerian mulai merambati tengkuknya.

Well, selamat datang di dunia barumu, Kang Min Hyuk.”

***

Kai melempar pandang ke arah roh manusia bernama Kang Min Hyuk, merasakan ketakutan yang menyelimuti diri pemuda itu. Ia memilih untuk diam saja, membiarkan Taemin membalas semua pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh Min Hyuk. Ia tidak pernah menyukai saat-saat seperti ini.

Padahal, ia sudah cukup lama menjejaki dunia baru ini. Satu tahun masa pelatihan yang dilanjutkan dengan masa tugasnya hingga kini. Tetapi, tidak. Kai tidak akan pernah bisa merasa baik-baik saja setiap kali ia selesai melaksanakan tugasnya.

Demi Tuhan, dulu ia juga manusia! Ia tahu, ia mengalami, dan ia paham bagaimana rasa sakit itu menusuk tatkala jiwa dan ragamu dipaksa untuk berpisah!

Kai menghela napas panjang, memilih untuk membaca keterangan di Cinematic Life Record-nya lebih lanjut. Manik matanya mengarah pada foto Min Hyuk yang sedang merangkul seorang gadis. Gadis yang tiba-tiba saja terasa begitu familiar di mata Kai.

Jong In…

Kai menggelengkan kepalanya, bingung. Entah mengapa ia merasa terpanggil oleh suara itu. Suara lembut milik seorang wanita…

Kim Jong In…

Tapi, itu bukan namanya. Selama ini ia selalu dipanggil dengan nama ‘Kai’. Lalu, mengapa benaknya mendadak harus terusik oleh panggilan tak dikenal itu?

“KAI!”

Satu pukulan ringan mendarat di bahunya, membuat pemuda itu segera mengerjap kaget. Taemin sudah menghalangi arah pandangnya, berdiri tegap dengan raut kesal karena diabaikan. Sementara itu, kepala Min Hyuk tertunduk dalam, tampak sedang menyesali sesuatu.

“A-ada apa?”

Taemin mengarahkan telunjuknya pada Min Hyuk, meminta Kai untuk bertanya sendiri kepada si sumber masalah. Ragu-ragu, Kai melangkah maju. Ia menelengkan kepala, mengucapkan keingintahuannya itu tanpa suara.

“Kumohon, satu saja kesempatan untuk memenuhi janjiku…” Min Hyuk berbisik lirih, membuat Kai serta-merta membelalak. Di sampingnya, Taemin hanya bisa memutar bola mata. Bosan.

“Kau tahu, ia sudah meminta-minta hal itu sedari tadi. Seolah-olah kita belum cukup sering mendengar rengekan para manusia saja…”

Kai menatap Min Hyuk lagi, kali ini seraya mengulurkan Cinematic Life Record-nya yang terbuka lebar. Manik mata Min Hyuk langsung membesar, ujung jarinya bergetar ketika ia meraba foto gadisnya yang terpampang di sana.

“Kau menginginkan satu kesempatan. Apa itu untuk memenuhi janjimu padanya?” Kai pun akhirnya buka suara. Min Hyuk menelan ludahnya karena gugup, kemudian mengangguk kecil.

“Tolonglah… janji itu begitu berharga baginya… jadi…”

“Apa kau tahu? Manusia mengucapkan beribu janji selama masa hidupnya. Dan dari semua itu, hanya sebagian kecil saja yang terpenuhi,” bantah Taemin sinis. Kai cepat-cepat mengangkat sebelah tangan, meredakan pertengkaran yang bisa terjadi kapan saja. Ia mengerutkan keningnya, berpikir keras.

Taemin benar, Kai tahu itu. Semua manusia yang pernah mereka ambil nyawanya selalu mengemis hal yang sama. Belas kasihan dan waktu tambahan di dunia. Tak heran jika reaksi Taemin barusan terlihat begitu menyebalkan. Siapa yang tidak merasa muak jika harus menghadapi rayuan-rayuan palsu umat manusia hampir setiap hari?

Tetapi, lelaki ini berbeda. Kai… bisa merasakannya.

Ketika Kang Min Hyuk berkata bahwa janji itu berhubungan dengan gadis yang ada di foto, saat itu jugalah pendirian Kai berubah sepenuhnya. Ada sesuatu yang membuatnya merasa terikat dengan dua insan manusia itu. Ada sesuatu hal yangpasti akan membenarkan tindakan Kai ini.

“Kupikir… extended time tidak akan menjadi masalah…”

“Kai! Apa-apaan… apa kau tahu apa yang sedang kaulakukan, hah?!” suara Taemin meninggi, sarat akan ketidakpercayaan. Ia menolak tentu saja. Pengampunan kepada roh manusia bukanlah sesuatu yang sederhana untuk dilakukan. Ada jalur rumit yang harus ditempuh dan ada tanggung jawab yang harus diemban setelahnya.

“Taemin hyung… tolonglah…”

“Tidak, Kai. Master Kris akan murka jika ia tahu,” Taemin mengatupkan bibirnya rapat-rapat, memutuskan untuk mulai bertindak tegas.

Master Kris mengijinkanmu untuk memberikan second life padaku!” Kai berkata keras. Taemin, yang tidak pernah mendengar Kai membentaknya barang sekalipun, langsung memasang tampang terkejut.

Taemin bungkam, otaknya mulai bekerja untuk memproses kata-kata Kai barusan. Satu hal yang tidak bisa dibantahnya, ia memang pernah memohon pada Master Kris untuk memberikan kesempatan kedua bagi Kai bertahun yang lalu.

Ia masih mengingat segalanya dengan jelas, tentu. Taemin ingat bagaimana ia mengerjakan tugasnya pada suatu malam, bagaimana ia menarik keluar nyawa Kai dari raga manusianya. Setiap detailnya terekam dengan jelas di dalam lapisan-lapisan memori miliknya.

Ekspresi kesakitan Kai malam itu, sinar harapan di matanya, dan juga perasaan Taemin atas pengampunan yang ia berikan….

Taemin merasa… ia telah melakukan hal yang benar.

“A-apa yang kau rasakan, Kai? Padanya?” Taemin pun berucap, rasa mengerti itu mulai mengalir di dalam dirinya. Dirinya sadar, situasi yang sedang mereka hadapi ini serius. Taemin jarang melihat sisi kekanak-kanakan dan usil Kai menghilang seperti ini. Laki-laki itu hanya melakukannya jika ia sedang menghadapi sesuatu yang penting.

“Aku hanya tahu bahwa… ini patut untuk dilakukan. Tepat.”

“Baiklah,” putus Taemin akhirnya, melemparkan satu anggukan persetujuan ke arah Kai. Ia mendesah berat, sebelum akhirnya kembali berkata, “Kita kembali ke Outsiders. Biarkan Master Kris yang memutuskan kelanjutan perkara ini.”

***

Kalau saja Min Hyuk bisa mengabaikan realita bahwa dirinya sudah meninggal, mungkin saat ini ia sudah menyuarakan seluruh kekagumannya.

Saat ini, mereka bertiga sedang berdiri di ambang sebuah gerbang besar yang terbuat dari besi serta dilapisi emas. Dan tepat di depan mata Min Hyuk, adalah sebuah dunia yang tak pernah sekalipun ia bayangkan semasa hidupnya.

“Selamat datang di Outsiders.”

Min Hyuk berbalik, melihat salah seorang dari para pencabut nyawa itu terkekeh ringan sembari menunjukkan dunia tempat mereka tinggal. Kalau ia tidak salah ingat, sepertinya nama pemuda itu Kai.

“Ah, kau bisa memanggilku Kai. Dan partner-ku ini, namanya Taemin,” seolah bisa membaca pikiran Min Hyuk, Kai buru-buru memperkenalkan diri. Min Hyuk membalasnya dengan gumaman pelan, merasa tak perlu ikut-ikutan menyebutkan namanya sendiri. Toh, kedua makhluk ini sudah tahu segalanya mengenai diriku, pikir Min Hyuk dalam hati.

“Aku akan mencari Master Kris. Kau… awasi dia, mengerti?”

“Mengerti, hyung!”

Mata Min Hyuk mengikuti sosok Taemin yang berjalan menjauh, kemudian ia segera mengembuskan napas panjang. Ia tidak menyukai kehadiran lelaki penggerutu itu di sampingnya. Seakan-akan, ancaman kematian itu bisa kembali datang kepada dirinya kapan saja.

Ck, bodoh, kau ini ‘kan sudah mati, Min Hyuk. Mana bisa ia mencabut rohmu untuk yang kedua kalinya?

Eumm… kau mau berkeliling?”

Min Hyuk mendongak, mendapati Kai masih berdiri di sana sembari melambaikan tangan ke seluruh penjuru Outsiders. Alis Min Hyuk langsung bertautan, heran. Dulu, ia selalu mengira bahwa hal-hal yang lebih mengerikan akan menantinya di alam baka. Tetapi ini? Ajakan untuk berjalan-jalan?

“Kalau permintaanku dikabulkan… kau harus tinggal disini untuk sementara waktu. Kau tahu, untuk menepati janji pada gadismu.”

Ah, benar juga. Soo Jung.

Mau tak mau, Min Hyuk pun mulai bertanya-tanya. Bagaimana kabar gadis itu sekarang? Apa operasinya berjalan lancar? Lalu, reaksi seperti apakah yang akan dikeluarkannya jika ia mengetahui Min Hyuk telah tiada?

Min Hyuk belum benar-benar memikirkan semua hal itu. Semuanya terjadi begitu cepat, membuatnya bingung untuk memutuskan mana yang seharusnya ia percayai. Ia butuh waktu sendirian untuk mencerna segalanya, untuk menentukan sikap apa yang kini harus diambilnya.

Ia harus mulai menerima kenyataan bahwa ia tidak akan pernah bisa bertemu Soo Jung lagi.

Kesadaran itu menghantamnya, membuat pandangannya mulai berkabur. Apa arwah masih bisa menangis?

Kalau iya, Min Hyuk ingin menangis saat itu juga. Ia merasa semakin kesal dan marah pada dirinya sendiri. Ia telah mengumbar janji pada Soo Jung tanpa memikirkan sanggup atau tidaknya ia dalam memenuhi janji tersebut.

“Kang Min Hyuk?”

Kai menepuk bahunya, memaksa Min Hyuk untuk memendam dalam-dalam gumpalan kesedihannya. Min Hyuk buru-buru mengusap wajahnya dengan kedua tangan, berusaha meyakinkan diri bahwa segalanya akan berjalan lancar.

“Tentu saja. Darimana kita akan memulainya?”

***

“Ini adalah gedung utama. Record Library dan tempat tinggal Master Kris –dia pemimpin kami –berada di tempat ini,” Kai berucap riang saat mereka melewati sebuah gedung persegi panjang dengan atap berbentuk kubah. Dinding-dindingnya terbuat dari marmer, memancarkan kilau sinar matahari yang kala itu cukup terik. Min Hyuk memanjangkan lehernya, berusaha menemukan ujung lain dari gedung di hadapannya. Nihil. Bangunan itu terlalu besar untuk dilihat secara utuh oleh mata manusia.

“Yang itu… sekolah. Kurasa begitu bukan kalian menyebut tempat untuk belajar di dunia manusia?”

“Ya. Kalian juga bersekolah?”

Kai mengangguk mantap, menganggap hal itu sudah teramat jelas untuk dipertanyakan. “Kami tidak bisa bertugas menjadi shinigami begitu saja. Ada berbagai macam latihan yang harus dilakukan sebelumnya.”

Mereka berjalan lagi, kali ini memutari sebuah taman yang dipenuhi semak-semak hijau dan bunga aneka warna. Beberapa pepohonan tumbuh di sudut-sudut taman, memberikan kerindangan bagi beberapa shinigami yang saat itu sedang duduk bersantai.

Ah, ini kawasan rumah penduduk. Jarang digunakan sebenarnya, mengingat betapa banyaknya tugas kami. Mungkin kau bisa tinggal di salah satunya untuk beberapa saat ke depan.”

Min Hyuk memandang berkeliling, mendapati dirinya sudah berdiri dikelilingi rumah-rumah berukuran mungil yang tampak minimalis. Ia menganga lebar, tidak percaya dengan semua peradaban yang dimiliki para shinigami ini. Min Hyuk selalu mengira bahwa malaikat pencabut nyawa bermukim di tempat yang kelam dan mengerikan, bukan dunia yang indah seperti ini.

“Baiklah. Ini sudah semuanya. Oh ya, masih ada halte bus di samping gerbang tadi. Mungkin kau sudah melihatnya. Itu tempat untuk mengantar para arwah sepertimu menuju ke dunia selanjutnya,” tambah Kai lagi.

Serta-merta Min Hyuk pun teringat pada antrian yang ada saat ia berjalan melewati gerbang masuk tadi. Barisan itu teramat panjang, mungkin terdiri dari ratusan–tidak, ribuan jiwa yang kesemuanya memasang ekspresi pasrah. Sebuah bus bertingkat dengan cat kuning pucat berhenti di sana, mengangkut mereka secara berkala menuju ke dunia yang baru.

“Begitu… tempat ini…  indah,” Min Hyuk berkata jujur.

Outsiders memang tempat yang mengagumkan. Lingkungan yang ada pun tidak begitu berbeda dengan bumi. Ada tanah, pepohonan, rerumputan, bahkan langit biru pun masih menaungi di atas sana. Satu-satunya perbedaan adalah letaknya. Outsiders berada di luar dimensi manusia, tempat yang hanya bisa terjamah oleh para shinigami dan manusia yang sudah meninggalkan dunianya.

Min Hyuk kembali mengedarkan pandang, menyerap semua pengetahuan yang baru saja diberikan Kai. Record Library yang berkilauan, gedung sekolah yang tersusun dari batu bata kemerahan dengan atap meruncing dan menara jam besar, serta kumpulan rumah-rumah mungil yang dicat dengan warna krem pucat….

“Kai! Kau tidak bersama Taemin?”

Suara ceria itu menyapa indera pendengaran mereka, membuat keduanya menoleh serempak. Dua orang shinigami lainnya sedang berjalan menghampiri Kai dan Min Hyuk, wajah mereka terlihat seperti anak-anak. Yang satunya berambut pirang cerah dan lumayan tinggi, sedangkan yang lainnya lebih pendek dengan rambut hitam cepak. Untuk kesekian kalinya, Min Hyuk kembali tercengang. Dengan penampilan polos seperti itu, pekerjaan asli mereka sebagai shinigami tampak begitu tersamarkan.

“Luhan! Dio!”

Luhan berlari kecil, mengacungkan sebuah gulungan perkamen yang tersegel rapi. Melihat itu, Kai hanya bisa menampakkan cengirannya, terlihat seperti bocah sekolah dasar yang tertangkap basah mencuri permen.

“Apalagi yang kau perbuat kali ini, Kai?” Dio berujar dengan nada maklum. Mendapati Kai berbuat ceroboh adalah makanan sehari-hari bagi mereka. Tidak heran jika Taemin sering sekali habis sabar karenanya.

“Memberi extended time… mungkin? Hanya jika Master Kris memberi izin…”

“Bodoh! Tidak heran Taemin terus-menerus menggerutu sepanjang jalan. Ia bahkan menjadi lebih cerewet daripada Key!” Luhan kembali berseru, mendaratkan kertas di genggamannya ke atas kepala Kai.

“Tetapi, kalian sudah mengurusnya bukan?”

“Kau tahu, House of Warden langsung gempar karena sebelumnya kami selalu menganggur. Dan secara tak langsung, kau baru saja menambah tugas Dio sebagai messenger,” cerocos Luhan panjang lebar. Kai mengernyitkan dahi, kali ini benar-benar memasang ekspresi menyesal.

“Maaf…”

“Kai, siapa dia?” Dio buru-buru menyela sebelum Luhan bisa kembali mengeluarkan keluh-kesahnya mengenai pekerjaan. Ketiganya langsung terdiam dan mengarahkan bola mata mereka pada Min Hyuk yang sedari tadi menutup bibirnya rapat-rapat.

“Kang Min Hyuk. Dia–

“Jiwa yang kau beri kesempatan?” potong Dio cepat. Kai mengangguk sementara kedua temannya itu sibuk memerhatikan Min Hyuk dari ujung rambut hingga ujung kaki, membuat Min Hyuk bergidik karenanya.

“Ayolah, guys… jangan menakutinya,” Kai menegur pelan, memaksa Luhan dan Dio untuk segera mengalihkan pandangan. Min Hyuk yang masih merasa sedikit risih, segera melemparkan tatapan penuh tanya ke arah Kai.

“Yang berambut pirang itu Luhan, dia anggota House of Warden–Dewan Pengawas. Tugasnya, tentu saja, adalah mengawasi kerja para shinigami.”

Yeah, dan biasanya kami lebih sering menganggur karena shinigami itu cenderung taat pada aturan,” tambah Luhan dalam nada mencela. Kai langsung mendelik ke arahnya, namun Luhan malah tertawa makin keras.

“Yang berambut hitam adalah Dio. Ia… messenger. Pembawa pesan dan berita di Outsiders. Ia bertugas menyampaikan semua hal penting yang ada ke seluruh shinigami.”

“Jadi, Kang Min Hyuk… berita yang kudengar adalah kau memunyai hal yang cukup penting untuk kau lakukan di dunia. Boleh aku mengetahuinya?”

Belum sempat Min Hyuk membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Dio, Taemin sudah berlari-lari kecil ke arah mereka. Ia menggerak-gerakkan kedua tangannya, sebuah gestur agar Kai dan Min Hyuk cepat-cepat menghampirinya. Telunjuknya diarahkan pada gedung terbesar di tempat itu, cukup untuk membuat Kai segera paham akan maksudnya.

“Sepertinya Master sudah menunggu…”

Kai mengambil napas dalam-dalam, berusaha mengeluarkan sebanyak mungkin keberanian yang ia miliki. Tak bisa dipungkiri, kekhawatirannya selalu memuncak setiap kali ia harus bertemu dengan pimpinannya tersebut. Kris bisa tampak begitu… mengintimidasi. Tambahkan fakta bahwa Kai ingin memberikan Min Hyuk sebuah kesempatan–satu alasan yang cukup untuk m embuat dirinya terkena ceramah sepanjang hari.

“Min Hyuk, kau siap?”

Yang ditanya hanya mengangguk pasrah, sebisa mungkin menampakkan wajah tak berdosa. Dari cara Kai dan Taemin menyebut nama Kris tadi, Min Hyuk bisa membayangkan bahwa pimpinan mereka itu pasti teramat tegas dan patuh pada aturan. Seorang lelaki tua dengan sorot tajam dan hobi memerintah, itulah bayangan Min Hyuk tentang Kris. Bukan jenis makhluk yang menyenangkan.

“Baik, ayo kita menghadapi ini…”

Kai melangkah cepat menghampiri Taemin, sementara Min Hyuk cepat-cepat mengekor di belakangnya. Kalau saja Min Hyuk masih hidup, mungkin saat ini juga jantungnya sudah akan meledak karena berdetak di luar ambang batas normal. Samar-samar, terdengar suara Luhan dan Dio yang berteriak memberi semangat kepada mereka.

“Good luck!”

Yah, mereka benar-benar butuh keberuntungan itu.…

***

Record Library adalah pusat kegiatan bagi seluruh shinigami.

Tempat itu berisikan rak-rak panjang yang membentuk lorong-lorong, dengan tinggi sekitar dua puluh meter–hampir mencapai langit-langit. Semua buku yang tersusun rapi disana adalah Cinematic Life Record, disusun berdasarkan tahun. Mulai dari kematian yang sudah lama terjadi, hingga masa depan yang tak pernah diketahui oleh satupun umat manusia. Seluruh pengetahuan itu ada di sana, menjadikan gedung megah itu selalu diawasi dan dijaga oleh berbagai macam bentuk pengamanan.

Dan di dalamnya, jauh di sudut paling belakang, tampaklah sebuah pintu kayu lebar berwarna cokelat kemerahan. Ukiran-ukiran membentuk simbol tak dikenal tersusun melingkar di atasnya, gagang pembuka pintu itu terbuat dari emas murni.

Disanalah mereka bertiga berdiri. Menahan napas dan saling melempar pandang penuh kekhawatiran. Taemin mengangkat kepalan tangannya, mendaratkan ketukan ringan di atas kayu tersebut.

“Masuk.”

Deritan halus terdengar saat kedua daun pintu itu terayun membuka, memperlihatkan ruangan kantor berbentuk melingkar dengan meja tinggi terpajang rapi di tengahnya. Karpet tebal berwarna abu-abu muda tergelar di seluruh penjuru ruangan, sofa-sofa merah tua berjajar rapi di depan meja tersebut.

Seorang lelaki jangkung berambut pirang berdiri membelakangi mereka, jubah hitam pekatnya menyelubungi seluruh tubuh. Ia berbalik perlahan dan melemparkan sebuah senyum singkat, wajah tampannya semakin bersinar di bawah siraman mentari yang menembus melalui kaca-kaca jendela.

Detik itu juga, Min Hyuk bisa merasakan tenggorokannya tercekat.

Pria yang dipanggil Master Kris itu tidak seperti apa yang dibayangkannya. Ia menawan bak dewa, ia memunyai pesona dan kharisma tersendiri. Jika ia adalah manusia, umurnya mungkin saja baru menginjak pertengahan dua puluhan. Tetapi, matanya tajam. Tegas dan memberikan kesan bahwa ia dapat menelanjangi pribadi seseorang hanya dalam sekali tatap.

“Jadi, Kai… sudahkah kau mengingatnya? Urusan tertinggalmu?”

“Apa?”

Kris mengeluarkan tawa berat, jemarinya mengetuk permukaan meja dengan irama beraturan. Sementara itu, Kai hanya bisa terdiam di tempatnya. Bingung.

“Kau tidak menjadi shinigami untuk sebuah kesia-siaan belaka saja, bukan?”

“Tetapi, Master, saya pikir ini semua tidak berhubungan–

“Kau yakin? Kau lupa, jika aku mengetahui segalanya?” Kris berujar santai, kini melangkah maju menghampiri para tamunya itu. Jubahnya sedikit tersingkap, memperlihatkan kemeja putih, dasi hitam, dan celana panjang yang dikenakannya.

“Ya, tapi saya kira ini soal Kang Min Hyuk…”

Seolah-olah baru saja diingatkan, Kris segera memalingkan wajah untuk mencari-cari Min Hyuk. Lelaki itu cepat-cepat menunduk, badannya gemetaran saat Kris mempersempit jarak di antara mereka. Rasa-rasanya, Min Hyuk ingin segera melarikan diri saja.

“Dan Kang Min Hyuk ini… mempunyai sesuatu yang terikat dengan masa lalumu. Apa aku benar, Kai?”

Yeah, bisa saja. Apa Master akan mengabulkan permohonan ini? Bagaimanapun, saya tahu bahwa ini adalah hal yang tepat…” suara Kai semakin mengecil, membuat Min Hyuk mau tak mau mulai melepaskan harapannya.

Mungkin Min Hyuk memang belum beruntung, mungkin ia tidak dibolehkan untuk mengucapkan selamat tinggal pada Soo Jung, mungkin….

Extended time, tidak masalah. Kau tahu syaratnya, kau tahu tanggung jawab yang harus kau lakukan.”

Master bersungguh-sungguh?” teriak Kai dan Taemin bersamaan. Keduanya sama-sama tidak menyangka bahwa Kris akan bersikap semurah hati ini. Apa manusia bernama Kang Min Hyuk itu benar-benar mempunyai pengaruh bagi takdir mereka? Khususnya, bagi Kai?

Sure. Kai, if you don’t mind…

Kris melepaskan pandangannya dari Min Hyuk, tangannya menelusup ke balik jubah untuk mencari sesuatu. Sejurus kemudian, sebuah belati perak telah digenggam erat olehnya, ujung lancip belati itu mengarah kepada Kai.

“Tentu saja, Master,” Kai dengan cepat memberikan persetujuan. Ia menggulung lengan kiri kemejanya, menyodorkan tangannya tepat di bawah pisau suci milik Kris. Di sampingnya, Taemin berjingkat ingin tahu. Ia sudah pernah mengalami proses ini sebelumnya. Menarik untuk melihat bagaimana Kai akan mengatasi semua ini.

Novum custos, pro extensa tempus…”

Bersamaan dengan diucapkannya mantra tersebut, Kris menggoreskan ujung belati itu ke atas kulit Kai. Membentuk sebuah pola berbentuk bintang dengan alfabet-alfabet kuno dan simbol-simbol aneh lain yang saling mengelilingi. Satu gerakan terakhir membentuk lingkaran–menyegel semua tanda yang telah terukir menjadi satu.

Darah mengalir keluar dari luka itu, tetapi alih-alih merah tua, cairan itu kini berwarna biru muda cerah. Kris mengulurkan satu jarinya, menangkap setetes darah sebelum buliran itu menyentuh karpet di bawahnya. Ia ganti menarik lengan Min Hyuk mendekat, menggunakan darah Kai untuk melukis pola yang sama di atas kulit putih sang pemuda.

Fine de processus…”

Kris mengucapkan kalimat penutup itu dengan jelas, mengaktifkan sihir yang baru saja ia perbuat. Seberkas sinar terang melingkupi raga Kai dan Min Hyuk, nyaris membutakan mereka dalam prosesnya. Taemin mundur selangkah, namun tampak sepenuhnya siaga. Ia tahu hal macam apa yang pasti terjadi setelah ini…

Duuuk!!

Suara berdebum itu terdengar cukup keras, karpet tebal yang ada tak cukup mampu untuk meredamnya. Taemin bergegas maju, mengulurkan tangan untuk menangkap tubuh Kai sebelum kepalanya sempat terantuk lantai. Min Hyuk masih berdiri di sana, tampak terguncang. Cahaya itu sudah menghilang tanpa bekas, keadaan telah kembali normal seperti sebelumnya.

“Tadi itu… apa?”

“Sudah kubilang, bukan… dia itu masih terlalu pemula untuk hal-hal seperti ini. Memangnya aku ini penjaga bayi yang harus selalu siaga dua puluh empat jam sehari?” Taemin mendengus pelan, pandangannya belum terlepas dari Kai yang kini tergeletak lemas di pangkuannya–pingsan.

Suara tawa kembali terdengar menggema, membuat omelan Taemin terhenti seketika. Kris, duduk di salah satu sofa miliknya, menyeringai puas melihat pemandangan itu.

“Ia tidak bisa menghindar, Taemin. Kau tahu itu sama baiknya dengan diriku. Dan lagi, ia hanya membutuhkan waktu tiga hari sebelum pulih total. Aku akan menjamin itu.”

“Master…”

“Maaf, sebenarnya apa yang ter–

“Ah, aku lupa. Kang Min Hyuk, extended time yang diberikan padamu berlaku mulai hari ini, dengan jangka waktu tiga puluh hari bumi. Kai akan bertanggungjawab sepenuhnya atas dirimu, sesuai sumpah yang telah ia berikan,” Kris menjelaskan dengan nada datar, dagunya terarah pada dua simbol serupa yang kini membekas di atas lengan kiri Kai dan Min Hyuk.

“Kalian boleh pergi sekarang. Taemin, kurasa kawan-kawan kalian ada di balik pintu, ia bisa membantumu untuk membawa Kai keluar,” imbuh Kris lagi, kali ini perhatiannya terarah pada Taemin.

Pintu terbuka dengan sendirinya, mengizinkan Luhan dan Dio untuk segera berlari masuk. Keduanya memperlihatkan ekspresi ingin tahu, yang segera dibalas Taemin dengan anggukan singkat. Tanpa basa-basi, mereka memapah tubuh Kai keluar, diikuti dengan Min Hyuk yang masih setia memasang wajah shock.

Master… apa kau yakin? Membiarkan ingatan manusia Kai kembali secepat ini?” satu pertanyaan terakhir itu terlontar dari bibir Taemin. Ia sungguh-sungguh ingin tahu. Kai adalah orang yang harus dijaganya, orang yang sudah seperti adik sendiri baginya. Apapun yang berhubungan dengan pemuda itu, Taemin merasa ia memiliki hak untuk mengetahui detail pastinya.

Kris tersenyum lagi, kali ini meninggalkan kesan misterius di benak Taemin. Mendadak saja ia tersadar, ia tidak mungkin langsung mendapat jawaban yang ia inginkan. Tidak semudah ini.

Bukankah kau itu sama saja dengannya, Taemin?”

“Maksud Master?”

“Kau pun memiliki masa lalumu sendiri… is that right?

***

Jung Soo Jung membuka kedua kelopak matanya yang terasa berat akibat pengaruh obat bius. Ia berkedip beberapa kali, berusaha menyesuaikan jumlah cahaya yang menyerbu masuk.

Aku masih hidup, batinnya berkata pelan. Seketika itu juga, kelegaan membanjiri tubuhnya. Ia selamat, ia berhasil melewati ini semua, ia akan hidup normal…

Ia harus memberitahu Min Hyuk.

Bola mata gadis itu langsung melebar, kini tampak lebih terfokus. Dibiarkannya kedua manik itu berkelana, memindai seisi ruangan yang didominasi warna putih tersebut. Desahan panjang keluar dari bibirnya seiring dengan kesadaran yang mulai merasuk. Ia tidak menemukan Min Hyuk di sisinya.

Mungkin sedang pergi keluar?

Bisikan itu muncul begitu saja, seolah mengingatkan Soo Jung bahwa Min Hyuk masih harus melakukan kegiatan lainnya selain terus-menerus menjaga dirinya. Masuk akal, tetapi Soo Jung tetap tidak bisa ditenangkan. Instingnya mulai bekerja, mengalahkan akal sehat yang biasanya dijunjung tinggi.
Ia bisa merasakan ada sesuatu yang salah disini.

Tetapi, apa?

Soo Jung menoleh ke arah meja yang terletak di samping ranjangnya, kecurigaannya terbukti saat itu juga. Tidak ada satupun pesan yang ditinggalkan oleh Min Hyuk disana. Padahal, tidak pernah barang sekalipun lelaki itu pergi tanpa memberi kabar. Sekecil apapun itu, Min Hyuk akan selalu meletakkan catatan kecil berisi kegiatan yang sedang ia kerjakan.

Kang Min Hyuk, kau kemana?

“Nona Jung, sudah bangun?”

Seorang perawat muda berdiri di depan pintu, membawa nampan berisi obat-obatan. Soo Jung membalas sapaan itu singkat, pikirannya masih melayang-layang memikirkan Min Hyuk. Ia merasa cemas dan tidak tenang. Ia tahu, pasti ada sesuatu yang terjadi selama ia tidak sadarkan diri.

“Maaf, apa kau melihat lelaki yang biasanya selalu bersamaku itu?” Soo Jung bertanya dalam bisikan lirih. Perawat itu tampak sedikit terperanjat, namun ia buru-buru menggelengkan kepala.

“Tidak, Nona. Sudah beberapa hari ini… dia tidak pernah datang.”

Dia tidak pernah datang.

Rasanya sakit. Jauh lebih menyakitkan daripada operasi yang baru saja ia jalani. Kebenaran itu tidak pernah menyenangkan, iya ‘kan?

“Oh…” hanya itu tanggapan yang keluar dari mulut sang gadis. Perawat itu membungkuk rendah, menggumamkan sesuatu tentang dokter yang akan memeriksa Soo Jung beberapa saat lagi, kemudian bergegas keluar dari kamar.

Min Hyuk tidak pernah datang lagi.

Mungkin ia sudah lupa pada Soo Jung.

Soo Jung berdecak, sekuat mungkin menahan butir-butir air matanya agar tidak menetes. Seharusnya ia sudah bisa menduga hal ini dari awal mula perjumpaan mereka. Cepat atau lambat, Min Hyuk pasti akan pergi menjauhinya. Gadis bodoh dan penyakitan sepertinya tak pernah layak untuk dipedulikan, bukan?

Semua anggota keluarganya menghilang begitu saja, muak untuk mengurusi anak tak berguna seperti dirinya. Kang Min Hyuk datang di kemudian hari, bersikap baik, bahkan rela membayar sebagian dari biaya pengobatan Soo Jung. Dulu, gadis itu mengira bahwa semua pengorbanan Min Hyuk itu tulus.

Kini, ia tahu bahwa semua kebaikan itu tak lebih dari kebohongan belaka. Topeng yang digunakan oleh Min Hyuk untuk mengolok-oloknya.

Kalau saja ia tahu semua akan berakhir seperti ini, mungkin mati dalam proses operasi akan lebih baik. Jauh lebih baik.

Tidak ada manusia yang mau hidup sendiri. Melepaskan hidup terasa amat mudah jika dibandingkan dengan kesendiriaan.

Soo Jung menekuk kedua lututnya, membenamkan kepalanya di sana. Ia ingin memaki dan menyumpahi Min Hyuk, tetapi hati kecilnya tidak mengijinkan itu semua. Satu isakan kecil terlepas dari bibirnya, membuat tangisannya pun pecah tak terbendung. Ia tahu jika menangis bukanlah pemecahan dari masalah ini, namun satu-satunya bentuk pelarian yang ia miliki sekarang adalah mengeluarkan semua kesedihannya.

Untuk pertama kalinya dalam dua tahun belakangan, Soo Jung menangis tanpa kehadiran Kang Min Hyuk di sisinya. Pecah, rapuh, dan kehilangan.

Ia benar-benar sendirian.

***

Satu hari….

Dua hari….

 

Mungkin Soo Jung masih bisa sedikit berharap….

 

Tiga, empat, lima….

 

Haruskah ia menyerah?

 

Seminggu….

 

Ia harus benar-benar berhenti.

 

Dua minggu….

Tiga minggu….

 

Soo Jung akan melupakan Kang Min Hyuk mulai sekarang.

 

“Nona Jung, bagaimana perasaan Anda hari ini?”

Soo Jung mengulas senyum simpul, menunjukkan bahwa ia baik-baik saja. Sebuah tas besar sudah tergeletak rapi di sampingnya, siap untuk dibawa pulang. Seharusnya hari ini menjadi salah satu momen terpenting dalam hidup Soo Jung. Seharusnya ia merasa bahagia tak terkira karena kesembuhan itu sudah menjadi miliknya. Seharusnya, Kang Min Hyuk berada di sini… saat ini juga….

Ia menggelengkan kepalanya, berusaha untuk membuang jauh-jauh pemikiran itu. Bukankah ia sudah memutuskan kemarin? Ia akan hidup sendiri mulai sekarang. Ia sudah bukan gadis yang lemah lagi. Jung Soo Jung pasti bisa hidup sendiri tanpa Kang Min Hyuk.

Ia bisa.

“Sudah mau pulang?”

Dokter Kim berjalan menghampiri Soo Jung, menarik sudut-sudut bibirnya ke atas dengan tampang puas. Ia menepuk pundak sang gadis sekilas, seakan-akan ia sedang berusaha untuk menyalurkan kegembiraannya pada Soo Jung.

“Ya. Terima kasih banyak.”

Hmmm, bukan bermaksud untuk merusak suasana, tetapi… ada sesuatu yang harus kubicarakan denganmu.”

Soo Jung mengangkat alisnya, heran saat mendapati senyum dokternya itu mendadak lenyap. Raut wajahnya sedikit prihatin, membuat gadis itu ikut menahan napas tanpa disadarinya.

“Ada masalah?”

“Kau tidak harus mendengarkannya sekarang, mungkin kau bisa kembali esok hari…”

“Tidak. Beritahu aku. Kumohon,” Soo Jung memotong cepat, tidak sanggup untuk menyembunyikan rasa penasarannya lebih lama. Lagipula, ia sudah mempelajari sesuatu. Lebih cepat mengetahui mana yang nyata itu jauh lebih baik daripada terjebak dalam imaji yang bersifat fana.

Dokter Kim mengembuskan napas panjang, kemudian menarik sesuatu keluar dari dalam kantong jas putihnya. Sebuah dompet hitam dan jam tangan. Bukan sembarang dompet dan jam tangan.

Itu milik Min Hyuk.

Soo Jung sangat mengenal kedua benda itu. Barang-barang kesayangan Min Hyuk yang selalu dibawanya kemanapun ia pergi. Ia mengulurkan tangan untuk menerimanya, mengamatinya dengan penuh rasa rindu. Dan pada detik itu juga, ia bisa merasakan kedua lututnya melemas.

Ada percikan noda darah di atas permukaan jam tangan itu.

Apa yang sedang terjadi?! Jangan katakan… jangan….

“Lelaki yang selalu bersamamu itu, namanya Kang Min Hyuk?”

“Ya.”

“Ia dibawa kemari tepat pada hari kau menjalani operasi transplatasi jantung. Kecelakaan.”

Tidak mungkin. Min Hyuk… apa?

“Kami ingin memberitahumu lebih awal, tetapi melihat kondisi kesehatanmu sewaktu itu–

Soo Jung yakin ia bisa jatuh pingsan kapan saja. Dicengkeramnya erat-erat ujung jas sang dokter, penglihatannya mulai mengabur, dan otaknya serasa buram. Ia tidak bisa berpikir.

“Min Hyuk oppa… dimana?”

“Kau bisa mengunjungi keluarganya.”

“DIMANA?! Min Hyuk oppa tidak mungkin, tidak….

Bentakan itu keluar begitu saja. Soo Jung sudah melupakan semua sopan santun yang dimilikinya. Saat ini, hanya nama Min Hyuk-lah yang terus-menerus berpusar di rongga kepalanya. Ia butuh jawaban, butuh kepastian….

“Kang Min Hyuk sudah meninggal dunia. Maaf, kami tidak sanggup menyelamatkannya.”

Soo Jung mengerti sekarang.

Hidupnya sudah berakhir. Ia telah jatuh ke dalam jurang kegelapan yang tak berdasar. Terus meluncur jauh tanpa ada jalan kembali.

Satu-satunya alasan baginya bertahan hidup kini sudah pergi. Untuk selamanya.

Sekarang ia harus bagaimana?

“Kang Min Hyuk… bisa apa aku tanpa dirimu?”

-tbc-

Advertisements

6 thoughts on “Life-After-Life: Extended [2/?]

  1. Loh, proses jadi shinigami nggak sama ya sama jadi arwah ato apalah si minhyuk ini? Kok bisa si kai lupa ingatan? Ato, kok bisa shinigami lupa ingatan?

    Wah, nampaknya taemin, kai, minhyuk, sojung ini berhubungan satu sama lain ya xD

    Jongin ini nama aslinya kai kan 😛

    Curiga, sojung bakal bunuh diri, aku kira awalnya malah nggak berhasil tuh operasi xD

    Lanjut mer!!!! Seru!!! Penasaran. Jangan lama2 ya 😀

    Like

    • penasaran? huahahaha.. sukses dong kalo gitu aku xD
      soojung bunuh diri? nggak laaaah~ dia satu-satunya cewek disini, masa iya aku bikin mati T T

      lanjutannya aku publish besok! besok balik lagi kemari ya tan buat baca 😀
      thankyouuuu~

      p.s: komen yang lain kubales ntar, aku lagi banjir komen yg harus dibalein :p

      Like

      • Sukses kok mer, sukses bikin penasaran >______<

        Loh brarti nanti soju ng nggak mati? Yahhh *loh? *minta digampar* xD

        Merrrrr ini udah besok~~~ mana lanjutannya~~ xD

        Wahhh, pasti balesin komenan di ifk 😛 selamat ber thankyou-thankyou ria wkwkwk

        Like

  2. ♥ Tafunazasso ♥

    Jadi, kenapa Min Hyuk bisa nggak lupa ingatannya kayak Kai? Oke, ini makin bikin penasaran -.-
    Lanjut baca ya~~

    Like

    • ahahaha, karena aku suka membuat reader penasaran, mungkin?
      penjelasannya udah ada kok di chapter selanjutnya~

      selamat melanjutkan dan.. ditunggu ya reviewnyaaa 😀
      thankyouuu 😉

      Like

  3. ini si soojung siuman pasca operasi kok berasa ‘cuma’ habis pingsan gara-gara anemia ya… ._.
    ah btw, ini konsep shinigami-nya mirip scedhuler di 49days ya? jadi shinigami buat meneruskan(?) hal-hal yang belum selesai di dunia.
    tapi mer, kenapa disini disebut shinigami??? kenapa bukan malaikat maut aja, atau… bahasa koreanya malaikat maut apa ya? bayangan saya shinigami tuh monster kaya di death note je ><
    okedeh.. lanjut baca chap selanjutnya xDD

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s