[7th Chapter] Vengeance

Standard

Vengeance

Main Cast:

  • [CNBlue] Jung Yong Hwa
  • [OCs] Catherine Kim
  • [CNBlue] Lee Jong Hyun

Minor Cast:

  • [EXO-K] Kim Jong In/Kai
  • [EXO-M] Kim Jong Dae /Chen

Genre: Family, Romance, Angst, Friendship, AU, Thriller

Rating: PG-16/17

Disclaimer: Storyline, OC, and picture belong to me. The main idea of the story is inspired by manga/anime Black Butler a.k.a Kuroshitsuji. This fanfic is only a fictional story.

Note: Bagi yang tahu anime/manga Kuroshitsuji a.k.a Black Butler, pasti tahu kalau tokoh butler dalam cerita itu (re: Sebastian) is a demon. But in this fictional fic, the butler‘s character isn’t a demon like Sebastian. He is just a kind of human butler after all xD

***

[Chapter 7]

Catherine Kim

Jeju-do.

Yang pasti, aku tidak pergi ke pulau yang terletak di ujung terbawah semenanjung Korea ini untuk bersenang-senang. Lebih tepatnya, aku melarikan diri. Mencari tempat untuk melupakan semua masalahku –walau hanya sementara saja –dan juga menjernihkan pikiranku.

Walau pada kenyataannya, semua masalah itu masih tetap membayangiku.

Kasus orangtuaku, LD Corporation, balas dendamku, dan Lee Jong Hyun.

Semua hal itu terus berpusar dalam otakku, satu bergantian dengan yang lain. Layaknya lingkaran yang semakin lama semakin menyempit, aku terhimpit dalam masalah-masalahku ini tanpa bisa menemukan jalan keluar. Belum.

Aku memeluk kedua lututku erat-erat, membiarkan angin sejuk pantai membelai kulitku. Kupejamkan mataku dan butir-butir air yang telah kupendam selama beberapa hari ini mulai mengalir keluar. Saat ini, aku telah begitu putus asa. Aku menghancurkan rencanaku sendiri, sahabatku sendiri, dan begitu pula dengan hidupku.

“Nona Cathy…”

Aku bisa mendengar langkah kaki Yong Hwa, namun aku tidak bergeming. Kubiarkan laki-laki kepercayaanku itu mendudukkan dirinya di sampingku dan mengusap-usap punggungku perlahan. Ia selalu tahu bagaimana cara menenangkanku.

“Kenapa kau begitu baik padaku, Oppa?” tanyaku setelah beberapa saat terdiam. Bekas-bekas air mata masih tercetak jelas di wajahku, namun aku memilih untuk mengabaikannya.

“Apa maksud Nona? Saya ini butler keluarga Kim… tentu saja saya…”

“Aku tidak ingin Oppa menyayangiku hanya karena Oppa merasa harus melakukannya. Tidak ada satupun orang yang memerintahkan Oppa untuk melakukan itu.”

“Saya melakukan ini semua bukan karena perintah Nona,” balasnya sembari memalingkan wajah. Nada suaranya terdengar malu, seperti anak kecil yang tertangkap basah sedang mencuri.

“Lalu?”

“Saya menyayangi Nona dari hati, bukan karena paksaan.”

Aku mengulum senyum dan menghela napas lega ketika mendengar jawabannya itu. Entah kenapa, kalimat itu membuatku sedikit merasa bersemangat. Perasaan dicintai, terlebih ketika rasa itu berasal dari dalam hati, selalu bisa membuat semua orang kembali tersenyum. Meskipun aku sudah tahu sejak lama bahwa Yong Hwa Oppa menyayangiku, mendengar kalimat penegasan itu terlontar dari mulutnya tetaplah menjadi hal yang membahagiakan.

“Jung Yong Hwa,” panggilku lembut. Yong Hwa menoleh perlahan, manik matanya menangkap pandanganku. Saat itulah barulah aku menyadari betapa dekatnya jarak di antara kami. Tetapi alih-alih menarik diri, aku tetap terduduk diam di sana. Kami masih bertatapan, seolah berusaha mengekspresikan segala pikiran dan perasaan kami melalui kedua bola mata ini.

Detik berikutnya, aku bisa merasakan bibir kami bertemu.

Aku tidak tahu siapa yang memulainya, pun tidak peduli akan hal itu. Saat ini, aku hanya ingin menikmatinya. Aku tahu ini salah –namun merasakan bagaimana ia menyentuh bibirku dengan lembut, bagaimana aroma maskulin tubuhnya melingkupi indra penciumanku, dan bagaimana ia membagikan perasaan hangat ini kepadaku –telah membuatku melupakan segalanya.

“Nona…” Yong Hwa Oppa melepaskan tautan bibirnya, memandangku dengan perasaan yang tak terungkapkan. Sekelebat perasaan bersalah muncul di raut wajahnya, namun aku berusaha mengabaikan hal itu.

“Tidak seharusnya kita melakukan hal seperti itu,” tambahnya dalam desahan pelan. Aku terpaku, rasa-rasanya aku ingin menggeleng dan menolak kata-katanya itu –meskipun di saat yang bersamaan aku tahu bahwa ia mengucapkan suatu kebenaran.

“Maaf…” ucapku akhirnya. Aku bangkit berdiri, berbalik dan berjalan menjauhinya tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

“Nona tidak perlu meminta maaf… kita hanya terbawa suasana, dan memang tidak seharusnya kita memiliki perasaan seperti itu.”

Aku mencerna perkataan itu lambat-lambat. Ia benar. Kami tidak mungkin memiliki perasaan ‘itu’, perasaan yang disebut sebagai cinta oleh sekian ribu orang di dunia ini. Aku memang menyayanginya, namun hanya sebagai seorang pelindung dan seorang kakak –tidak lebih dari itu. Ciuman tadi tak lebih dari sekadar luapan emosi sesaat, suatu kecelakaan yang tak seharusnya dilakukan antara seorang majikan dan bawahannya.

Masih menolak untuk berbalik, aku menghentikan langkah kakiku, kemudian menganggukan kepalaku untuk mengiyakan kata-katanya. Meskipun begitu, perasaan berat itu masih tertinggal di dasar hatiku, seolah aku menolak untuk mengakui bahwa ciuman singkat di antara kami hanyalah sebuah ketidaksengajaan. Kejadian itu bagaikan obat penenang bagi diriku, racun yang membangkitkan rasa senang untuk sekejap mata saja. Salah untuk dilakukan, namun terus menarik diriku untuk kembali melakukannya.

Aku mempercepat langkahku, ingin segera menjauh darinya. Satu masalah lagi yang telah sukses menjalinkan diri dalam rangkaian benang kusut di dalam otakku. Membuatku harus menyediakan waktu ekstra untuk menguraikannya. Mencari tahu bagaimana sebenarnya perasaanku terhadap Yong Hwa Oppa.

Jadi, apakah yang kurasakan ini adalah sebuah cinta yang telah lama ada? Ataukah hanya perasaan sesaat yang tidak bisa kumengerti?

***

Lee Jong Hyun

Getar-getar ketakutan mulai merambati tubuhku. Sepasang kaki yang seharusnya menjadi penopang berat tubuhku tampaknya mulai menolak untuk tetap menjalankan fungsi tersebut. Kupeluk diriku sendiri, berusaha mengalahkan hawa dingin yang menguar di tempat ini. Kedua mataku terbelalak lebar menyaksikan pemandangan brutal di hadapanku, enggan untuk menutup walaupun aku menginginkannya.

ARGHHH!!

Teriakan itu menggema lagi, bersamaan dengan bunyi sayatan pisau yang tertoreh di atas kulit. Pendengaranku tampaknya bertambah peka sepuluh kali lipat daripada biasanya. Bulir-bulir darah yang menetes di lantai terdengar bagaikan irama maut yang bergema di rongga telingaku.

Susah payah, aku berusaha menyembunyikan diriku sendiri di balik bayang-bayang kegelapan. Kurapatkan setiap inci tubuhku di balik meja rendah tempatku mengintai. Langkah-langkah berat sang pembunuh mulai mendekati meja yang kugunakan untuk bersembunyi, memaksaku untuk menahan napas dan mulai bergidik ngeri.

“To…tolong… hen… hentikan…”  rintihan itu menyayat hatiku sedemikian rupa. Suara yang amat kukenal, dan tak pernah barang sekalipun aku membayangkan sang pemilik suara akan mengeluarkan nada memohon yang memilukan hati seperti itu.

Suara ibuku.

PLAAKK!!

Alih-alih menghentikan aksi brutalnya, kali ini suara tamparan mulai mengisi keheningan di ruangan ini. Ragu-ragu, aku mulai mengambil risiko untuk mengintip dari balik tempat persembunyianku. Sesosok laki-laki berdiri membelakangiku, siluet tubuhnya tersamarkan oleh kegelapan. Di hadapannya, tampak ibuku yang sedang berlutut memohon, wajah kusutnya diterangi remang-remang pendar cahaya bulan yang menyusup melalui sela-sela jendela.

JREEEB!!

Mata pisau itu menyambar lagi, kali ini menoreh dada dan perut ibuku, nyaris merobeknya. Darah menetes semakin deras, bau anyir menerjang hidungku –nyaris membuatku memuntahkan isi perutku. Aku menutup mulutku erat-erat dengan sebelah tangan, mencegah diriku sendiri agar tidak berteriak histeris.

“To…long…”

Tawa sadis memenuhi seluruh ruangan, tanpa belas kasihan barang sedikitpun. Laki-laki itu melemparkan pisaunya, kemudian mengambil sebuah tali, dan berjalan mendekati ibuku dalam langkah-langkah lambat. Ia mulai melingkarkan tali itu di sekeliling leher ibuku dan saat itulah aku menyadari apa yang akan diperbuat lelaki itu setelahnya.

Ia akan membunuh ibuku.

“TIDAAAK!!”

Rasa panik menyergapku, mengendalikan akal sehatku. Tanpa pikir panjang, aku melangkah keluar dari persembunyianku. Aku tidak peduli jika pembunuh gila itu juga menghabisi nyawaku nantinya. Yang bisa kupikirkan hanyalah bagaimana cara menghentikan orang itu dan menjauhkannya dari ibuku.

AKHHH!!

Bersamaan dengan keputusanku untuk menampakkan diri, laki-laki itu menarik tali di tangannya dengan sekuat tenaga. Teriakan terakhir yang keluar dari mulut ibuku masih bergaung di seluruh ruangan, sementara sang pemilik suara tergolek dengan posisi canggung. Kepalanya terkulai ke satu sisi, matanya membeliak lebar. Darah masih mengalir keluar dari luka-luka sayatan itu, menghasilkan genangan merah pekat. Lebam-lebam kebiruan tersebar membentuk pola acak di sekujur tubuhnya, bekas-bekas penyiksaan yang didapatkan olehnya sebelum meregang nyawa.

“KAU! APA YANG KAU PERBUAT PADA IBUKU!?” raungku murka. Laki-laki itu membalikkan badannya, menghadapiku dengan seulas senyum kejam di wajahnya.

“Apa kau juga mau menyusul ibumu yang malang, Lee Jong Hyun?”

ABEOJI!!?”

***

Terengah-engah, aku menyibakkan selimut yang membungkus tubuhku dengan kasar. Keringat membanjiri tubuhku, nyeri di bahuku mulai menyerang lagi –akibat dari pergerakanku yang terlalu tiba-tiba. Kepalaku terasa begitu penuh, memburam akibat banyaknya masalah yang harus kupikirkan.

“Tidak… itu tidak mungkin…”

Itu semua hanya mimpi, bukan? Mana mungkin abeoji membunuh ibuku, istrinya sendiri?

Kugelengkan kepalaku kuat-kuat, berusaha menjernihkan pikiranku dari mimpi buruk yang baru saja kualami. Perlahan-lahan, aku bisa merasakan akal sehat kembali menguasai diriku, memaksaku untuk meyakini bahwa semua itu hanyalah mimpi.

Mungkinkah aku hanya terbawa oleh kata-kata Catherine tadi? Bahwa ayahku adalah seorang pembunuh?

Kesadaran itu menyentakkanku sedemikian rupa. Meskipun bayangan akan kematian ibuku tadi hanyalah sebuah mimpi belaka, namun kenyataan bahwa ayahku adalah otak di balik kematian kedua orangtua Catherine adalah sebuah kebenaran. Ayahku mungkin bukanlah seseorang yang rela menyakiti istrinya sendiri, namun ia tetaplah seseorang yang telah menghancurkan kebahagiaan sebuah keluarga lain.

Atau setidaknya, begitulah yang dikatakan Catherine kepadaku. Belum tentu ia benar akan hal itu, bukan begitu?

Tetapi ia memiliki bukti… bukankah kau sudah mendengarnya sendiri?

Untuk saat ini, aku sama sekali tidak tahu mana yang harus kupercayai. Seperti halnya dalam kasus ibuku dulu, aku masih menolak untuk meyakini kebenarannya. Aku tidak bisa begitu saja memercayai bahwa ibuku meninggal karena bunuh diri dan juga menerima begitu saja tuduhan yang dilayangkan Catherine kepada ayahku.

Aku harus mendengarnya sendiri dari mulut ayahku.

Dengan gerakan cepat, aku bangkit dan menyambar jaketku yang tersampir di atas meja. Aku melangkah keluar, setengah membanting pintu kamarku hingga menutup, dan nyaris menabrak Park Ajeossi yang sedang berdiri di depan kamar tidurku.

“Tuan Muda…”

“Mana ayahku?” tanyaku dalam geraman rendah. Park Ajeossi mengerutkan keningnya dalam, nampak sedikit terkejut mendengar nada suaraku yang tidak ramah. Aku berdeham pelan, berusaha untuk meredakan emosiku.

Ajeossi…”

“Lee sajangnim sedang ada kunjungan ke Jepang. Ia akan pulang ke Korea sore ini.”

“Saat beliau sampai di rumah nanti, katakan padanya bahwa aku perlu berbicara dengannya. Sampaikan juga padanya bahwa hal ini sangatlah penting,” perintahku tegas, memberi penekanan penuh pada kata ‘penting’. Park Ajeossi mengangguk paham.

“Aku akan keluar sebentar,” tambahku lagi. Laki-laki tua yang sudah lama mengabdi di keluargaku itu mengiyakan, tampaknya memaklumi bahwa suasana hatiku sedang tidak baik.

Saat ini, ada satu hal lagi yang masih harus kulakukan. Hal yang sama mendesaknya dan juga telah menghantui pikiranku selama beberapa hari ini. Aku harus mencarinya, mencari gadis yang telah memporak-porandakan hidupku. Gadis yang sudah menghilang dari pandanganku selama tiga hari ini.

Catherine Kim, dimana kau berada?

***

Felicite café.

Tempat inilah yang pertama kali muncul di pikiranku, menggerakkan kakiku untuk segera mengunjunginya tanpa benar-benar kusadari. Kini aku sudah berdiri di depan pintu café itu, teringat akan kata-kata Cathy bahwa tempat ini adalah tujuannya untuk melarikan diri dikala ia sedang merasa resah.

Berpegang teguh pada keyakinan bahwa Cathy berada di tempat ini –tempatnya menjauhkan dirinya dari masalah untuk kesekian kalinya –aku pun melangkah masuk. Kuarahkan manik mataku ke sekeliling café, berusaha mencari-cari sosok yang menyerupai Cathy.

“Kau… teman Cathy, kan? Yang waktu itu datang kemari bersamanya?”

Suara itu membuatku berhenti dari kegiatanku menjelajahi seluruh isi café, beralih untuk memusatkan perhatianku pada si pemilik suara. Salah satu sepupu Catherine –Jong In –berdiri di hadapanku dengan tatapan heran.

“Err… ya. Aku mencari Cathy. Apa dia datang ke café ini?”

“Apa kau bertengkar dengannya?”

“Itu… aku…” aku memandang Jong In yang tengah menatapku tajam, mendadak lupa akan pertanyaan yang tadinya akan kulontarkan. Laki-laki ini begitu mirip dengan Catherine saat masih bersikap dingin padaku dulu. Tampaknya, kedua kakak sepupu Catherine ini begitu menyayanginya. Bisa-bisa, akulah yang akan berakhir dikeluarkan secara paksa dari tempat ini jika sampai salah bicara.

“Kalau kau bertanya-tanya darimana aku bisa menarik kesimpulan itu, aku akan menjelaskannya padamu.”

“Eh?”

“Catherine hanya datang berkunjung ke café ini karena dua hal. Pertama, karena ia ingin bertemu dengan kami. Kedua, karena ia sedang punya masalah dan ingin melarikan diri walau hanya untuk sementara. Melihat dari caramu menanyakan keberadaannya, kupikir kau pasti sedang bertengkar dengannya. Apa aku benar?” tambahnya panjang lebar. Kedua iris gelapnya masih memandangku lekat-lekat, tanpa berkedip barang sejenak saja.

“Hentikan itu Jong In. Kau akan membuat tamu kita ketakutan.”

Aku menoleh, mendapati kakak Jong In sudah berdiri di belakangnya sembari menatapku ramah. Aku membungkukkan badanku sopan, memberinya salam.

“Tapi… hyung…”

“Kita tidak tahu apa masalah yang sedang mereka hadapi. Bagaimana kalau kita duduk terlebih dahulu?” tambah Jong Dae sembari mengendikkan bahunya ke arah salah satu meja kosong di samping kami. Aku mengangguk patuh dan langsung mendudukkan diri di salah satu sofa kosong yang ada.

Hyung…

“Kim Jong In, pergi ke pantry dan buatkan dua cangkir cappuccino, untukku dan teman Cathy,” perintah Jong Dae tajam. Sang adik hanya bersungut kesal, kemudian berlalu menuju pantry –masih dengan tatapan mengintimidasinya itu terpancang pada wajahku.

“Maafkan dia. Tetapi, apakah yang kudengar barusan itu benar? Kau bertengkar dengan Cathy?”

“Hanya masalah biasa antar sahabat,” gumamku cepat, tidak ingin menguraikan terlalu banyak detail kepadanya.

“Mungkin Cathy sudah pernah bercerita padamu bahwa ia sering ke café ini jika sedang ada masalah. Namun kali ini, dia sama sekali tidak datang kemari. Mungkin ia sudah mengira bahwa café ini adalah tempat pertama yang akan terpikir di kepalamu disaat kau ingin menemuinya.”

Aku menghela napas, pasrah. Ucapan Jong Dae itu benar adanya. Cathy pastilah berusaha keras menghindari tempat ini, sama seperti ia berusaha untuk memastikan keberadaan dirinya tidak terlacak olehku.

“Kuharap kau tidak membuat masalah berarti dengannya. Hidup anak itu sudah cukup menderita,” suara tajam itu kembali menyeruak, membuatku berjengit kaget saat menyadari keberadaan Jong In yang sudah berdiri di samping kami. Ia meletakkan nampan berisi gelas-gelas cappuccino ke atas meja, kemudian menghempaskan dirinya ke atas salah satu sofa.

“Kau… sudah mengetahui soal orangtuanya, kan?” tanya Jong Dae perlahan. Aku mengangguk pelan. Bagaimana mungkin aku tidak mengetahuinya? Kasus pembunuhan itu adalah awal dari semua masalah pelik ini.

“Kudengar pembunuhnya belum ditemukan hingga saat ini…” tambah Jong Dae lagi.

“Begitulah juga yang kudengar…” timpalku datar, berusaha untuk bersikap sewajar mungkin. Jantungku berdegup begitu kencangnya, keringat dingin mulai melapisi kedua telapak tanganku. Saat ini, hal yang paling tidak kuinginkan adalah kembali membahas topik ini.

“Kalau sampai pembunuhnya ditemukan, aku yakin Cathy tidak akan begitu saja memberi ampun kepada orang itu!” sela Jong In dengan nada berapi-api.

“Kau benar… setelah kekejaman yang dia lakukan, mana mungkin Cathy bisa melupakan dan memaafkannya begitu saja?” Jong Dae mengangguk menyetujui.

Lagi-lagi aku terdiam, sama sekali tidak berniat untuk menanggapi. Tanganku meraih secangkir cappuccino yang masih mengepul, menyesapnya tanpa benar-benar peduli pada rasa panas yang menyengat lidah.

Catherine Kim, sebenci itukah kau pada ayahku? Sebesar itukah keinginanmu untuk mencelakan diriku, demi membalas perlakuan ayahku?

***

BRAAAK!!!

Entah untuk yang keberapa kalinya, aku kembali menutup pintu rumahku dengan cara membantingnya. Emosi dan perasaan tak berdaya merasukiku, membuatku tak sanggup untuk berpikir jernih. Batas antara mana yang benar dan mana yang salah tampaknya sudah tidak berlaku bagi duniaku. Di mataku saat ini, semuanya terasa serba salah. Aku tidak tahu kebenaran macam mana lagi yang harus kupegang teguh dan kuperjuangkan.

“Tuan Muda…”

“Mana ayahku?!” tanyaku dengan nada membentak. Pelayan yang tadi menghampiriku saat mendengarku membanting pintu itu sontak menunduk kaget, takut jika aku mulai melampiaskan kekesalanku padanya.

“Dimana ayahku?” ulangku tajam. Gadis muda di depanku itu hanya menggeleng lemah, membuatku semakin kesal.

Sajangnim bilang ia akan menemui Tuan Muda besok pagi,” cicitnya dengan suara gemetaran.

Jadi abeoji masih memilih untuk menghindariku? Mungkinkah ia menyadari bahwa aku telah mengetahui sebagian dari kebenaran yang selama ini ditutup-tutupinya? Jadi ia takut?

Tanpa menghiraukan seruan-seruan bernada khawatir yang dilontarkan oleh pelayan itu, aku melangkah cepat menuju kamar kerja ayahku. Kubuka laci mejanya kasar, mengeluarkan sebuah berkas yang telah meruntuhkan kepercayaanku kepada ibuku beberapa hari yang lalu.

Kugenggam berkas kepolisian itu erat-erat, sementara otakku mulai berputar cepat memikirkan sebuah rencana. Haruskah aku mulai menggali kebenaran yang selama ini terkubur? Siapkah aku untuk menerima risiko itu, untuk menyakiti hatiku sendiri nantinya?

Kuhembuskan napas panjang, suatu kepastian mulai merayapi benakku. Dengan langkah-langkah penuh keyakinan, aku kembali berjalan keluar, kali ini sebuah perjalanan untuk menemukan jawaban atas misteri yang selama ini menaungiku.

Mencari kebenaran di balik laporan ini. Mencari kebenaran di balik kematian ibuku.

Ya, hal itulah yang harus kulakukan terlebih dahulu. Pangkal dari semua masalah ini adalah alasan di balik kematian ibuku. Suatu hal yang belum bisa kuterima dengan sepenuh hati, bahkan hingga saat ini. Sudah saatnya bagiku untuk menuntaskan segalanya, satu demi satu. Kematian ibuku, pembunuh orangtua Cathy, dan juga ayahku.

Aku tahu bahwa salah satu dari sekian banyak masalah itu akan membuatku tersakiti dan merasa dikhianati nantinya, namun aku tak peduli. Saat ini, aku hanya tidak ingin hidup lebih lama lagi di dalam kebohongan.

***

“Ya, kami ingat kasus ini. Bisa dibilang, waktu itu kami memang menemukan jasadnya dalam keadaan gantung diri.”

Aku menatap polisi itu lekat-lekat, berusaha mencerna semua penjelasan yang terlontar dari bibirnya. Meskipun begitu, aku tetaplah tidak merasa puas. Benarkah tidak ada penjelasan lainnya? Hati kecilku masih meyakini fakta bahwa ibuku tidak mungkin berakhir sebagai seorang pelaku bunuh diri.

“Apa Anda yakin? Apakah benar Anda tidak menemukan tanda-tanda lain pada jasad beliau?”

“Sudah kubilang ‘kan anak muda, kami menemukan tubuhnya dalam keadaan gantung diri. Satu-satunya penjelasan yang mungkin adalah ia memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri –dengan kata lain, bunuh diri.”

Kedua tanganku kini sudah mengepal erat, mencegahku untuk melakukan tindakan-tindakan bodoh. Suatu keyakinan masih tetap bertahan di dalam diriku. Instingku memberi tahu bahwa ada sesuatu yang lebih dibalik sekadar kasus bunuh diri biasa.

“Tapi…”

“Apa kalian membicarakan kasus bunuh diri Nyonya Lee? Istri dari pemilik LD Corporation?” sela seorang polisi yang tampak jauh lebih muda sembari berjalan menghampiri kami. Aku bergegas mengalihkan pandangku, berharap petugas kepolisian yang satu ini memunyai lebih banyak informasi yang dapat kugali.

“Ya. Apa Anda tahu sesuatu? Hal yang mencurigakan, mungkin?” sambarku cepat.

“Kau kerabatnya?” ucap polisi itu lagi sembari mendudukkan diri di hadapanku. Aku mengangguk cepat, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.

“Yah… memang kami menemukan jasadnya dalam keadaan gantung diri. Tetapi… beberapa dari kami melihat tanda-tanda penganiayaan pada tubuhnya. Ada beberapa luka sayatan dan lebam pada sekujur tubuhnya.”

“Penganiayaan? Kalau begitu kenapa Anda memutuskan untuk menutup kasus itu dan menyebutnya sebagai bunuh diri?” tuntutku keras, merasa tak terima.

“Tidak ada bukti maupun penjelasan lain yang bisa kami temukan. Satu-satunya penjelasan yang bisa kami simpulkan adalah korban memutuskan untuk melakukan aksi bunuh diri, jadi hal itulah yang kami tulis di dalam laporan. Meskipun begitu, aku tetap berpendapat bahwa luka dan lebam di tubuhnya amatlah janggal. Untuk apa ia menyakiti dirinya sendiri? Lagipula, ia juga akan mati saat ia memutuskan untuk menggantung dirinya. Benar begitu?”

Aku membisu, mendadak kembali teringat akan mimpi yang menghantuiku semalam. Mungkinkah mimpi itu adalah suatu pertanda? Mungkinkah ibuku meninggal karena sebuah aksi penganiayaan dan pembunuhan yang sampai sekarang juga tidak diketahui siapa pelakunya?

Bayangan wajah ayahku kembali terngiang dalam benakku. Ayahku. Orang yang kemungkinan besar telah membunuh orangtua Catherine. Orang yang membunuh ibuku, walaupun hanya di dalam mimpi belaka.

Mungkinkah ayahku menyimpan rahasia lain di balik semua ini?

Atau mungkin… beliau jugalah orang yang bertanggung jawab atas kematian ibuku?

***

Advertisements

10 thoughts on “[7th Chapter] Vengeance

  1. sooo, it is more likely that Jong Hyun’s father killed his mom, or Cathy’s parents killed her and he seek revenge on them?

    both are possible, i think ;p

    anyway, i like this intese chapter, the mysterious feeling really captive me.

    keep up,ameeru-chan!!~ *dan ngomong2 ini #soknginggris yak xDDDD*

    Like

    • hmmm… yes, both of them are possible…
      bahkan authornya sendiri masih bingung bagaimana cara mengakhiri cerita ini #dikeplak

      well, I enjoyed writing this chapter too xD
      mendadak kerasukan sama jiwa thriller dan misteri sih :p

      thanks deaaar~ *hugs*

      Like

  2. kimsungrin

    huaaaa amer mianhae baru bisa baca sekarang nih ._.v
    Kalo bener abeojinya jonghyun yang bunuh istrinya bener-benr deh -_- kasian beb aku kan *Jonghyun* huhuhu
    mer, semakin seru aja nih, dan kuharap updateannya tidak lama ya, seperti biasa haha.

    Like

    • hahaha, dan kuharap kak meg nggak lama ngomennya, seperti biasa #dikeplak #justkidding xDD

      jonghyun kasian dikit gapapa deh, kan ada saya yg setia menemani (?) /plaaak

      updatenya weekend ini yah kak, kalau nggak ya dua minggu lagi habis mid :p

      Like

      • kimsungrin

        hahahaha sip ditunggu 😀
        iyanih kemaren ada acara kampus jadi enggak ol dulu deh -,-
        semakin seru hehe, baiklah ditunggu ya 🙂

        Like

  3. Huaaaaaaa sadis amat itu mimpinya -_____-” curiga, polisi yg ngasih info singkat itu udah dibayar, tapi yang muda nggak kejebak xD

    Wahhhh~ ini ntar ujungnya si cath ama yonghwa nih, si jonghyun di penjara xDD

    ntar si jonghyun bunuh bapaknya sendiri xDD

    Buruan mer chap selanjutnya, penasaran nasib si jonghyun xD

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s