[6th Chapter] Vengeance

Standard

Vengeance

Main Cast:

  • [CNBlue] Jung Yong Hwa
  • [OCs] Catherine Kim
  • [CNBlue] Lee Jong Hyun

Minor Cast:

  •  No one for this chapter

Genre: Family, Romance, Angst, Friendship, AU, Thriller

Rating: PG-16/17

Disclaimer: Storyline, OC, and picture belong to me. The main idea of the story is inspired by manga/anime Black Butler a.k.a Kuroshitsuji. This fanfic is only a fictional story.

Note: Bagi yang tahu anime/manga Kuroshitsuji a.k.a Black Butler, pasti tahu kalau tokoh butler dalam cerita itu (re: Sebastian) is a demon. But in this fictional fic, the butler‘s character isn’t a demon like Sebastian. He is just a kind of human butler after all xD

***

[Chapter 6]

Segala sesuatunya bergerak layaknya adegan film yang diperlambat. Catherine berlari dan langsung menopang tubuh Jong Hyun yang jatuh akibat peluru yang ditembakkan oleh Yong Hwa. Sementara itu, sang penembak hanya bisa diam terpaku, masih menggenggam pistolnya dengan sebelah tangan.

“Jong Hyun-a! Ya! Lee Jong Hyun!”

“Nona Cathy…”

“Apa yang sudah kau lakukan, Jung Yong Hwa?!” bentak Catherine kencang. Yong Hwa hanya bisa menutup mulutnya rapat-rapat, tak berkutik.

“JAWAB!”

“Melaksanakan perintah Nona.”

“A… Apa? Apa maksudmu?” tanya Catherine terbata. Ia tidak mungkin salah dengar, bukan?

“Melaksanakan perintah Nona. Pemuda ini, dia adalah anak dari pemilik LD Corporation,” ulang Yong Hwa yakin. Catherine menatap Yong Hwa dan Jong Hyun bergantian, ketidakpercayaan membayangi raut wajahnya. Perlahan, gadis itu melepaskan pegangannya dari tubuh Jong Hyun, kemudian berjalan menjauh.

“Nona?”

“Bawa dia pulang ke rumah. Kita perlu memikirkan ulang rencana yang telah kita buat.”

***

Catherine Kim

Catherine Kim, apa yang sudah kau lakukan?

Ia adalah Lee Jong Hyun, sahabatku satu-satunya di sekolah. Jong Hyun yang selalu mengerti isi hatiku; yang bisa membuatku aman, nyaman, dan dihargai. Jong Hyun yang selalu berbagi penderitaan denganku, karena kupikir kami merasakan hal yang sama.

Jadi, semua itu… tidak nyata?

Semua perasaan senang yang kurasakan ketika aku bersama dengannya, detik itu juga menjadi kabur bagiku.

Lee Jong Hyun adalah target balas dendamku. Ayahnya adalah pemilik LD Corporation. Ayahnya-lah yang telah membunuh orangtuaku! Orang yang telah membuatku menderita adalah ayah dari sahabatku sendiri!

Kenapa? Kenapa dunia sesempit ini? Sekejam ini?

Dia adalah objek dari balas dendamku, obsesiku selama ini. Dia adalah orang yang selalu kuincar, orang yang kuinginkan untuk menanggung rasa sakit seperti yang sudah kualami. Mencelakainya adalah langkah pertama untuk mencapai kepuasan batinku sendiri.

Namun, di sisi lain, aku tidak bisa melakukan itu. Aku menyayangi Jong Hyun seperti halnya aku menyayangi Yong Hwa Oppa. Aku tidak akan sanggup menghancurkan orang yang telah berbaik hati padaku selama beberapa minggu ini.

Ingatanku berputar, mengingat semua kebaikan yang telah dilakukan Jong Hyun padaku. Semua pertolongannya, obrolan-obrolan kami, dan juga perasaan senang yang baru saja kami lewati bersama hari ini.

Tidak. Jong Hyun tidak pantas untuk mendapatkan ini semua.

Suara itu menyadarkanku, suara yang kurasa berasal dari hatiku yang terdalam. Perasaan bersalah mulai menyelimutiku. Aku bukanlah orang yang baik. Aku nyaris membunuh sahabatku sendiri.

Jong Hyun –ia memang anak dari seorang pembunuh, tapi apakah ia ikut memiliki andil dalam pembunuhan orangtuaku? Apakah ia bersalah dalam hal ini?

Tidak.

Jadi, kenapa semua harus menjadi serumit ini?

“Nona Cathy…”

Aku menoleh, mendapati sosok Yong Hwa yang berdiri di sampingku sembari menenteng selembar selimut. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia menyampirkan selimut itu di pundakku, kemudian ikut mendudukkan dirinya di tepi kolam renang.

Kami sama-sama terdiam. Aku menggerakkan kakiku dengan canggung, menciptakan riak-riak air pada permukaan kolam renang. Cahaya bulan menyoroti kami, memantulkan siluet indahnya di atas kolam.

“Bagaimana keadaannya?”

“Peluru itu hanya menggores bahu kirinya saja. Dia masih tidak sadar sekarang, mungkin shock akibat tembakan tadi. Nona Cathy, Anda tidak perlu khawatir. Laki-laki itu… dia akan baik-baik saja.”

Aku mendengarkan semua perkataan Yong Hwa Oppa, kemudian mengembuskan napas lega. Jong Hyun akan baik-baik saja. Setidaknya, hal itu bisa sedikit meredakan rasa bersalahku.

“Nona Cathy, siapa laki-laki itu? Salah satu teman sekolah, Nona?”

Aku hanya bisa mengangguk singkat, mengiyakan pertanyaan dari Yong Hwa Oppa yang tepat pada sasarannya itu. Jong Hyun bahkan lebih dari sekadar temanku. Ia adalah sahabatku. Satu-satunya orang yang mau mendekatiku dan berbagi segalanya denganku.

“Jadi, rencana kita…”

“Aku tidak mau membicarakan hal itu, tidak saat ini,” potongku singkat. Sejujurnya, aku bahkan tidak tahu lagi harus melakukan apa. Rencana yang telah kususun rapi telah hancur lebur hanya dalam waktu semalam. Bisa dibilang, obsesiku untuk membalas dendam harus ditangguhkan untuk sementara waktu.

Tanpa mengucapkan apapun kepada Yong Hwa, aku bangkit berdiri dan berjalan menuju kamar Jong Hyun. Aku bisa merasakan sepasang mata Yong Hwa yang mengikuti langkah-langkah kakiku, namun ia tetap bergeming di tempatnya. Sepertinya ia paham bahwa aku sedang ingin sendiri.

Kudorong pintu kamar Jong Hyun perlahan, dan aku langsung mendapati sosoknya yang terbaring di atas kasur. Perasaan bersalah itu menderaku lagi, mendorong bulir-bulir airmataku untuk menetes. Aku melangkah mendekati Jong Hyun, kemudian berlutut di samping ranjangnya. Aku hanya bisa terdiam, semua kata-kata yang tadinya ingin kuucapkan mendadak lenyap ditelan kebisuan.

Maafkan aku, Jong Hyun-a… Aku ini memang sahabat yang bodoh, ‘kan?

***

Lee Jong Hyun

Berkas-berkas sinar matahari pagi mulai menyusup di sela-sela kelopak mataku. Malas-malasan, aku mengerjapkan mataku berulang kali, berusaha untuk terjaga sepenuhnya. Kepalaku terasa sangat berat, seolah-olah aku baru saja meminum berbotol-botol soju pada malam sebelumnya. Masih sambil menguap lebar, aku berusaha untuk mendudukkan diriku sendiri ketika mendadak rasa sakit itu menyergapku.

Keningku sontak berkerut menahan rasa nyeri yang muncul ketika aku berusaha menggerakkan bahu kiriku. Ingatanku kembali terlempar ke masa lalu, berusaha mengingat-ingat kejadian kemarin malam. Masih tercetak dengan jelas di benakku, perasaan takut dan kaget itu saat mendapati bahwa orang yang menguntitku adalah sahabat baikku sendiri. Dan bicara soal kejadian semalam, mungkinkah aku juga tertembak? Setidaknya, hal itu bisa menjelaskan sakit yang menderaku.

“Anda sudah bangun, Tuan?”

Suara itu menarikku kembali ke alam sadar, mengalihkan perhatianku dari berbagai hal tak masuk akal yang berputar-putar di dalam otakku. Seorang laki-laki berjas hitam berdiri di depan pintu kamar yang kutempati sembari menyunggingkan seulas senyum ramah. Tetapi, aku sama sekali tidak membalas senyuman itu. Aku tahu siapa lelaki itu. Ia adalah orang yang bersama dengan Catherine semalam, orang yang mungkin telah melukai diriku. Menuruti instingku, aku pun beringsut menjauh meskipun aku tahu hal itu sia-sia –melihat posisiku yang kini berada di sudut ranjang. Mataku menatap laki-laki itu dengan pandangan waspada, siap untuk melawan jika ia berusaha mendekatiku.

“Sebaiknya Anda tidak banyak bergerak, luka Anda belum benar-benar sembuh. Selain itu, Nona Cathy mungkin akan terbangun,” ucapnya sembari menunjuk seseorang yang baru kini kusadari keberadaannya. Catherine Kim. Gadis itu duduk di atas sofa yang ada di samping tempat tidurku, kepalanya bersandar di atas kasur, dan matanya terpejam rapat.

“Siapa kau?”

“Jung Yong Hwa, butler pribadi Nona Cathy.”

Kerutan di keningku semakin bertambah dalam. Butler? Setelah apa yang ia lakukan semalam, ia lebih terlihat seperti seorang pembunuh bayaran di mataku, alih-alih sebagai seorang butler. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi disini?

“Semalam…” aku memulai dengan suara serak. Semuanya terasa tidak masuk akal. Cathy adalah sahabatku, untuk apa dia berusaha melukaiku? Membunuhku? Mungkinkah selama ini dia membenciku dan menyimpan dendam padaku? Setelah semua hal yang kita lalui bersama?

“Jong Hyun-a? Kau sudah sadar?” pekikan itu menenggelamkan sisa kalimatku, membuatku kembali bungkam. Aku mengarahkan pandanganku pada sosok Cathy yang sedang menguap lebar dan meregangkan otot-otot tubuhnya, belum menyadari suasana tegang yang tercipta antara diriku dan butler pribadinya.

“Nona Cathy yang akan menjelaskan hal ini kepada Anda, Tuan.”

“Oh, Yong Hwa oppa? Kau juga ada disini?”

Oppa? Baiklah, sepertinya orang bernama Jung Yong Hwa itu benar-benar seorang butler kepercayaan Catherine. Dan tampaknya hubungan mereka pun cukup dekat, melihat bagaimana cara gadis itu menyebutkan nama Yong Hwa.

“Jelaskan. Semuanya!” ucapku singkat. Terlalu banyak hal yang tidak sanggup kupahami disini. Catherine Kim, kau berutang penjelasan dan maaf padaku.

Sorot mata Catherine yang tadinya dipenuhi binar kelegaan setelah melihatku tersadar kembali pudar, digantikan dengan tatapan sedih dan kelam. “Pergi dan siapkan sarapan untuk kami,” perintah Catherine singkat. Dari sudut mataku, aku bisa menangkap anggukan sekilas dari sang butler sebelum ia berlalu dari hadapan kami.

“Cathy…”

“Aku tidak akan menutupi kebenaran. Tidak sedikitpun. Apa kau siap mendengarnya, Jong Hyun-a?” kata-kata itu terlontar dalam bisikan pelan, tapi aku bisa menangkapnya dengan jelas. Kebenaran? Kebenaran apa yang dia maksudkan?

“Aku tidak mengerti.”

Catherine menghela napas panjang, seolah berusaha mempersiapkan dirinya untuk menghadapi yang terburuk. Ia membalikkan tubuhnya membelakangiku, menghindari tatapanku. Firasatku langsung mengatakan bahwa sesuatu yang buruk –benar-benar buruk –akan segera terucap dari bibir gadis itu.

“Kau mungkin tidak akan langsung memercayai apa yang akan kukatakan nantinya, seberapapun banyaknya bukti yang kusodorkan di depan wajahmu. Kau mungkin juga tidak akan mengerti perasaanku begitu saja. Tidak apa-apa. Kau… Kau berhak marah padaku, kau boleh membenciku setelah mendengar kebenaran yang kuucapkan ini.”

“Aku tidak akan membencimu, Catherine Kim. Tadi malam, itu hanya sebuah kesalahan, bukan? Kau tidak mungkin melakukan hal itu, kan?”

“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Kau dan aku, kita ditakdirkan untuk saling membenci,” timpal Catherine dengan nada dingin.

“Apa maksudmu? Setelah semua yang kita lalui selama ini? Kau itu sahabatku!” teriakku kencang. Aku tidak tahan lagi menghadapi suasana tegang ini. Aku tidak bisa memahami fakta bahwa Catherine benar-benar ingin melukaiku.

“Kau… Kau tidak tahu apa-apa Lee Jong Hyun!” sentak Catherine keras. Ia membalikkan tubuhnya, menatapku dengan sorot mata penuh keputusasaan dan amarah. “Kau tidak tahu, hal keji macam apa yang sudah dilakukan oleh ayahmu! Kau memang sahabatku, tapi ayahmu… dia adalah musuhku!”

Ayahku?

Kesalahan apa yang sudah beliau lakukan? Selain menutupi penyebab kematian ibuku sendiri, hal buruk macam apa yang sudah ia perbuat? Orang yang membuat Catherine menjadi seperti ini… adalah ayahku?

“Aku…”

“Aku sudah bilang aku tidak akan menutupi kebenarannya. Kau ingin tahu hal busuk macam apa yang sudah ia lakukan padaku?! Ia menghancurkan hidupku! Ayahmu, dia adalah seorang pembunuh!!”

Pembunuh?

Bagai disiram seember penuh air es, aku terdiam membeku. Rasanya seakan jiwaku telah meninggalkan ragaku, sehingga hanya kekosonganlah yang tersisa. Semua kata-kata yang tadinya akan kuucapkan menghilang begitu saja. Kebenaran itu menyakitkan, tapi aku tidak pernah menduga bahwa rasanya akan sesakit ini.

Sebagian dari diriku tidak ingin memercayai perkataan Catherine begitu saja. Ia adalah ayahku, satu-satunya orangtua yang kumiliki. Meskipun beliau sering mengabaikanku, tetapi beliau tetaplah orang yang membesarkan dan mendidikku selama ini. Setidaknya, aku harus mengucapkan beberapa pembelaan untuk beliau, bukan?

Namun, di sisi lain, Catherine adalah sahabatku. Aku mengerti bagaimana sakitnya saat kau mengetahui orangtuamu meninggal karena dibunuh. Sebagian dari diriku yang lain selalu ingin merengkuh Catherine ke dalam pelukanku, meyakinkan bahwa ia tidak pernah sendiri. Sisi lain dari diriku ini memerintahkanku untuk membenci siapapun orang yang telah membunuh orangtua sahabatku.

“Aku tidak pernah mengharapkan kau untuk mengerti. Kau bisa membenciku sekarang, Lee Jong Hyun.”

“Apa kau mempunyai bukti?” tanyaku hampa. Hanya kata-kata itulah yang saat ini bisa kupikirkan. Aku butuh bukti yang bisa meyakinkan diriku bahwa ini semua bukanlah mimpi.

Catherine memandangku sekilas, kemudian melangkah keluar dari kamarku begitu saja. Aku kembali sendirian, tenggelam dalam fakta-fakta kejam yang berpusar bagai arus deras di sekelilingku. Ibuku yang meninggal karena bunuh diri, ayahku yang dituduh sebagai seorang pembunuh kejam, dan sahabatku yang tampaknya begitu membenci seluruh keluargaku.

Itu artinya, kejadian semalam bukanlah suatu kesalahan. Semuanya telah menjadi jelas sekarang. Catherine memang mengincarku. Catherine memutuskan untuk membalaskan dendamnya kepadaku, hanya karena aku adalah anak dari seorang pembunuh. Satu-satunya hal yang membuatnya berhenti adalah kenyataan bahwa aku ini sahabat baiknya. Aku bergidik ngeri. Jika saja aku tidak mengenal Catherine sebelumnya, mungkin gadis itu sudah menghabisiku semalam.

Tiba-tiba saja, pintu kamarku kembali terbuka. Aku mengangkat kepalaku, mataku bertemu dengan mata Catherine. Gadis itu melemparkan sebuah alat perekam kepadaku tanpa berkata sepatah kata pun.

“Ini…”

“Bukti yang kau inginkan.”

Dengan tangan gemetar, aku menekan tombol play dan mendekatkan alat perekam itu ke telingaku. Terdengar suara berat dan kasar yang sedang menyebut-nyebutkan nama ayahku dan perusahaan milik keluarga kami.

“…….Bagaimana dengan bayaran dari LD Corporation?”

“Sepertinya seorang Lee Dong Wook benar-benar tidak ingin kejahatannya terbongkar. Sudah setahun berlalu, namun pria tua itu masih terus mengirimkan uang pada kelompok kita ini agar rahasianya terjamin.”

“Aku tidak heran, mengingat pembunuhan Kim Do Jin dan Emily Lee setahun yang lalu itu memang cukup menghebohkan, bukan? Kudengar polisi masih berusaha menyelidiki kasus ini hingga sekarang.”

“Ya, itu benar. Itulah sebabnya Lee Dong Wook masih membayar kita. Dia menginginkan kita untuk membunuh setiap orang yang berusaha membongkar rahasia ini.”

“Hahaha! Pantas saja polisi tidak akan pernah bisa memecahkan kasus ini, mereka sudah terlebih dahulu menjadi onggokan mayat di tangan kita….

Aku terdiam, kembali kehilangan kata-kata. Bukti ini lebih dari cukup. Rekaman suara itu telah menjelaskan segalanya, seberapa busuk rencana ayahku dalam menghabisi keluarga Catherine. Memikirkan hal itu membuatku merasa mual dan jijik. Aku hanyalah anak dari seorang pembunuh keji, pikirku getir.     

“Sudah puas?”

Perhatianku kembali kepada Catherine yang mengucapkan pertanyaan itu dengan nada sarkastis. Ia tampak sama terlukanya sepertiku. Kebenaran ini telah menghancurkan segalanya, menghapuskan rasa percaya di antara kami. Hubungan kami tidak akan pernah sama lagi. Aku akan selalu memandang Catherine dengan perasaan bersalah yang teramat sangat di dalam hatiku, sementara ia akan selalu memandangku sebagai anak dari seseorang yang telah merenggut nyawa orangtuanya.

Tanpa menjawab pertanyaan Catherine itu, aku bangkit berdiri dan melangkah keluar dari kamar yang kutempati. Kuabaikan rasa sakit di bahuku ketika aku berderap keluar dari rumah ini. Aku butuh sendirian, aku butuh tempat dimana aku bisa memikirkan semua hal buruk yang terjadi padaku akhir-akhir ini. Aku tidak menoleh lagi untuk memandang wajah Catherine ataupun repot-repot mengucapkan salam.

Saat ini, aku hanya ingin melarikan diri dari segalanya.

***

Jung Yong Hwa

“Nona Cathy…”

Catherine menatapku, masih dengan wajahnya yang berurai air mata. Tadi, ketika ia menjelaskan semuanya kepada pemuda itu –Lee Jong Hyun –ia tampak tegar dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan menangis barang sedikitpun. Namun, ketika akhirnya laki-laki itu pergi tanpa mengucapkan apa-apa, pertahanan Nona Cathy runtuh begitu saja.

Ia berjalan lambat-lambat menghampiriku, kemudian memelukku erat. Kubalas pelukannya itu, tanganku membelai lembut rambutnya untuk memberikan suatu ketenangan. Ia terisak semakin keras, air matanya membasahi bagian depan jas hitamku.

“Dari semua orang di dunia ini… kenapa harus dia yang menjadi target balas dendamku?”

Bingung harus menjawab apa, aku hanya bisa menepuk-nepuk bahu Nona Cathy. Sejujurnya, aku pun tidak menyangka bahwa semuanya akan menjadi seperti ini. Akankah semuanya berakhir begitu saja, tanpa ada kesempatan bagi kami untuk membalaskan dendam?

“Apa yang harus kita lakukan selanjutnya, Nona?”

Nona Cathy menarik dirinya sendiri dari pelukanku, matanya tampak sembab karena terlalu banyak menangis. Ia menggelengkan kepalanya lemah, tidak tahu harus berbuat apa. Aku tahu itu, gadis sepertinya tidak akan mampu untuk melukai seseorang yang telah begitu baik padanya selama ini.

“Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Oppa,” hanya jawaban itu yang berhasil ia lontarkan. Aku terdiam, memutuskan untuk tidak mendesaknya lebih lanjut. Kami sama-sama butuh menjernihkan pikiran kami. Semuanya telah menjadi begitu rumit. Butuh waktu lama bagi kami untuk kembali mengurai benang-benang kusut yang menghubungkan semua ini.

“Mungkin… aku tidak akan pergi ke sekolah selama beberapa hari ke depan…”

“Nona, berusaha menjauhinya?”

Catherine mengangguk pelan, tampak yakin dengan keputusannya. Aku tidak bisa menyalahkannya. Setelah semua hal yang  terjadi, masuk akal jika ia ingin melarikan diri dari semuanya meskipun hanya beberapa hari saja.

“Kita akan pergi keluar kota untuk beberapa hari. Kita butuh menenangkan diri dan meninjau ulang rencana kita.”

Aku mengangguk paham, menyetujui permintaan itu sepenuhnya. Nona Cathy mengembuskan napas berat, tampak lelah dengan semua ini. Ia kembali melingkarkan tangannya di pinggangku, memelukku lebih erat dari sebelumnya.

Thanks, Oppa. Setidaknya, aku masih memiliki dirimu. Aku tidak bisa membayangkan betapa hancurnya aku jika kau tidak ada disini,” bisik Nona Cathy tulus. Seulas senyum singkat muncul di wajahku, perasaan hangat memenuhi dadaku.

Mungkin rencana kami telah gagal dan hubungan Nona Cathy dengan sahabatnya juga telah hancur berantakan. Tetapi, satu hal yang tidak akan pernah berubah adalah diriku. Aku akan selalu ada disini, di samping Nona Cathy. Meskipun dunia ini memusuhinya dan sahabatnya berpaling darinya, aku tidak akan pernah melakukan hal itu.

Karena aku, Jung Yong Hwa, berjanji untuk selalu ada di saat Nona Catherine membutuhkanku.

***

Advertisements

7 thoughts on “[6th Chapter] Vengeance

  1. kimsungrin

    first? yeaaahh 🙂
    kyaaaaaa amer bacanya gak berasa … tau tau udah tbc? >,<
    semoga cath dan jonghyun baik baik saja ya huhu dan emangnya si yonghwa enggak jatoh cinta gitu sama cath? dipeluk? dipercaya? tinggal serumah? apalagi ya? haha pokoknya selalu bersama. walaupun dia seorang butler, tapi dia tetep seorang lelaki kan? wah coba dia jatuh cinta ama cath? xD *ngelantur*
    oke next part yooo. kalo bisa kayak begininih enggak terlalu lama huahahaha 😛

    Like

    • tsukiyamarisa

      hahahaha, mungkin gara2 partnya tegang makanya gak berasa deh bacanya 😛
      yonghwa? lah yonghwa emang jatuh cinta sama cath kaaaak -,- itu pas di chapter 1 dulu kan udah dijelasin kalo yonghwa emang suka sama cath u,u

      next partnya next week ya kak 🙂 semoga aku bisa update seminggu sekali deh 🙂

      Like

      • kimsungrin

        lah maksud akumah ada adegan dia cemburu atau apa gitu mer kan lebih gregetan kayak sherinaaa >,<
        bagus nak, itu lebih baik soalnya aku penasaran gimana nasib cath dan jh wakakakak.
        kalo mereka gak temenan ya gapapa, hadirkanlah kim sung rin yang ditaksir oleh bang jh *plak* xD

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s