[5th Chapter] Vengeance

Standard

Vengeance

Main Cast:

  • [CNBlue] Jung Yong Hwa
  • [OCs] Catherine Kim
  • [CNBlue] Lee Jong Hyun

Minor Cast:

  • [EXO-K] Kim Jong In/Kai
  • [EXO-M] Kim Jong Dae/Chen

Genre: Family, Romance, Angst, Friendship, AU, Thriller

Rating: PG-16/17

Disclaimer: Storyline, OC, and picture belong to me. The main idea of the story is inspired by manga/anime Black Butler a.k.a Kuroshitsuji. This fanfic is only a fictional story.

Note: Bagi yang tahu anime/manga Kuroshitsuji a.k.a Black Butler, pasti tahu kalau tokoh butler dalam cerita itu (re: Sebastian) is a demon. But in this fictional fic, the butler‘s character isn’t a demon like Sebastian. He is just a kind of human butler after all xD

***

[Chapter 5]

Hujan deras mengguyur permukaan bumi, menjadikan tanah yang kering menjadi basah dan berlumpur. Seorang pria dalam balutan jas hitam berdiri tegap, bertahan di tengah gempuran air yang semakin menderas.

Ia menatap batu nisan di depannya tanpa berkata-kata, segala macam emosi berkecamuk dalam benaknya. Duka, kehilangan, putus asa, dan amarah –semuanya bercampur baur menghasilkan sebuah perasaan lain yang lebih kuat.

Ia merasa dikhianati.

Pemuda itu membiarkan dirinya jatuh terhempas sementara air mata mulai mengalir menuruni pipinya tanpa kata-kata. Genangan lumpur dan air menodai pakaiannya, ujung sepatu hitamnya mulai terbalut oleh warna cokelat tanah. Semua noda yang tidak akan ia pedulikan. Kenangan dan memori yang ia simpan selama ini telah ternoda jauh lebih parah. Sebuah kotoran yang tidak mungkin bisa terhapus begitu saja.

Ia berlutut dan menyandarkan kepalanya pada batu nisan di hadapannya, gumaman putus asa mulai terlontar dari bibirnya.

“Katakan padaku bahwa semua itu bohong… Semua itu tidak benar, kan?”

Keheningan menyambutnya, desau angin yang berembus melewatinya seolah mencemoohnya karena telah berbicara pada orang mati.

“Katakan padaku! Bilang bahwa semua itu salah! Eomma, kau selalu berkata bahwa perbuatan seperti itu adalah hal yang keji, bukan? Lalu, kenapa? Kenapa kau melakukannya?”

Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, memukul batu di hadapannya untuk melampiaskan segala perasaan yang mengacaukan dirinya. Memar mulai menghiasi buku-buku jarinya, namun sekali lagi, ia tidak peduli akan hal itu.

“JAWAB AKU! AKU BUTUH PENJELASAN!!”

“A… Aku… Aku…” teriakannya mulai berubah menjadi isakan. Ia tahu bahwa semua yang telah ia lakukan terlihat bodoh. Ia tidak akan bisa mendapatkan sebuah kebenaran hanya dengan berlutut dan berteriak-teriak di depan kuburan ibunya. Namun, kehampaan telah menjeratnya. Ia telah kehilangan arah, tanpa mengetahui apa yang seharusnya ia lakukan disaat seperti ini.

Pria itu terus memukul-mukul apapun yang ada di sekelilingnya, meratap untuk diberikan jawaban. Ia tidak menghiraukan irama langkah kaki yang terdengar semakin jelas di tengah lebatnya hujan ini. Ia tidak peduli jika ada orang lain yang melihatnya dalam keadaan seperti ini dan mengiranya sudah tidak waras.

Ia hanya ingin sendirian.

Namun, detik berikutnya, keinginan itu terpatahkan oleh suara perempuan bernada cemas yang menembus gendang telinganya. Suara yang membuat ia mendongak, mendapati sesosok gadis yang selama ini selalu berempati dengan keadaannya. Gadis yang berbagi penderitaan yang sama dengannya.

“Jong Hyun-a, kau tidak apa-apa?”

Catherine Kim

Aku terus menerus menggigiti bibirku dengan perasaan cemas, sementara mataku tak henti-hentinya melirik kamar mandi yang terletak di sudut café ini.

Laki-laki itu, Lee Jong Hyun, baru sekarang aku melihatnya kehilangan kendali dan tampak sekacau ini.

Well, aku memang sudah tahu bahwa lelaki itu sama denganku. Ibu Jong Hyun sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, dan ia sama sekali tidak pernah mengetahui penyebab dibalik kematian ibunya. Aku rasa, hal itu lebih dari cukup untuk menciptakan sebuah luka di hatinya. Hanya saja, ia berbeda denganku dalam satu hal.

Aku lebih memilih untuk menyembunyikan perasaan dukaku dengan topeng dingin dan pendiam, sesuatu yang membuat semua murid di sekolahku dan orang-orang lain menjauhiku. Sedangkan Jong Hyun, ia menutup semua perasaan sedihnya dengan sifat ceria dan ramahnya. Ia tidak mengijinkan orang lain untuk melihat sisi lemah dari dirinya.

Tetapi hari ini, ketika aku melihatnya di pemakaman, ia tampak… berbeda.

Aku tidak pernah menyangka kalau kedua orangtuaku dan ibunya dimakamkan di tempat yang sama. Tadi, ketika aku hendak menyapanya setelah mengunjungi makam kedua orangtuaku, barulah aku menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dengannya.

Ia menangis, meraung, dan berteriak begitu kerasnya sehingga membuat hatiku ikut merasakan sakit yang dideritanya. Senyum yang selama ini terpasang di wajahnya lenyap begitu saja, dan untuk sesaat aku bisa merasakan bahwa ia sama sakitnya seperti diriku. Aku tak bisa menahan langkah kakiku untuk menghampirinya dan memberikan sebuah penghiburan padanya. Jong Hyun sudah sering menghiburku serta membuat hari-hariku di sekolah menjadi lebih cerah, dan aku ingin melakukan hal yang sama untuknya.

“Seharusnya kau tak perlu repot-repot,” suara itu membuatku mendongak, tersadar sepenuhnya dari lamunanku.

Jong Hyun berdiri di hadapanku, mengenakan sebuah kaos dan celana panjang yang baru saja kubeli beberapa menit yang lalu untuk mengganti bajunya yang basah kuyup karena hujan. Aku hanya mengendikkan kepalaku, memintanya agar duduk di salah satu kursi yang ada.

“Aku hanya akan menerima ucapan ‘terima kasih’ darimu,” gumamku sembari memalingkan wajah. Menggodanya, sedikit.

“Terima kasih,” ucap Jong Hyun sembari tertawa geli untuk beberapa detik saja. Beberapa saat berikutnya, senyum itu menghilang, kembali digantikan oleh perasaan duka yang mendalam.

“Aku tahu bagaimana perasaanmu,” bisikku akhirnya. Jong Hyun menatapku dalam, kemudian mengangguk singkat.

“Jong Hyun-a…

“Rasanya sakit. Dikhianati oleh orang yang sudah kau kasihi begitu rupa, sakitnya benar-benar tak tertahankan.”

Aku menelengkan kepalaku, bingung. Sesuatu telah terjadi, batinku penasaran. Jong Hyun tidak mungkin sesedih ini jika ia hanya berkunjung ke makam ibunya saja. Pasti ada suatu alasan yang telah membuatnya menjadi rapuh dan terlihat tidak waras seperti tadi.

Mungkinkah, ia sudah mengetahui alasan di balik kematian ibunya?

“Aku… tahu apa penyebab ibuku meninggal,” kata Jong Hyun seolah menegaskan isi pikiranku. Mataku sontak terfokus ke arahnya, tidak menyangka bahwa tebakanku tepat pada sasaran.

“Jadi?”

“Ibuku… meninggal karena bunuh diri,” ungkap Jong Hyun dengan suara pelan sehingga hanya aku yang bisa mendengarnya. Aku bisa menangkapnya, kegetiran dalam nada suaranya.

“Beliau berkata bahwa bunuh diri adalah perbuatan paling keji di dunia ini, namun ia sendiri memilih jalan itu untuk mengakhiri hidupnya. Kau pikir, bagaimana perasaanku?!” suara Jong Hyun meninggi dan aku sadar bahwa ia mulai dikuasai oleh emosi. Kuulurkan tanganku untuk menepuk-nepuk pundaknya perlahan, berusaha menenangkannya.

“Aku mengerti Jong Hyun-a… aku mengerti,” hanya itu yang bisa kuucapkan saat ini. Aku masih terlalu kaget untuk mencerna kenyataan yang baru saja dibeberkan Jong Hyun di hadapanku, sehingga aku sama sekali tidak bisa memikirkan kalimat lain untuk menghiburnya.

Masih menepuk-nepuk pundaknya, aku membiarkan pikiranku berkelana. Jujur saja, aku sama sekali tidak tahu bagaimana cara mengembalikan senyum ceria Jong Hyun. Aku sadar, kepedihan yang kami alami saat ini sangatlah berbeda.

Dalam kasusku, aku masih punya sebuah tujuan, sebuah pembalasan dendam untuk kuwujudkan. Ada yang bisa kulakukan untuk melampiaskan perasaan sedihku dan ada pula pihak yang dapat disalahkan atas semua kejadian yang menimpaku. Tapi dalam kasus Jong Hyun, ia tidak memiliki semua itu.

Satu-satunya orang yang bisa disalahkan olehnya adalah mendiang ibunya sendiri. Orang yang dicintainya, sekaligus dibencinya pada saat yang bersamaan. Orang yang menanamkan sebuah prinsip dan kepercayaan padanya, namun membuatnya meragukan semua kepercayaan itu di kemudian hari. Dan aku pun tahu, bahwa membenci orang yang dulunya kau sayangi tidak akan pernah mendatangkan kebahagiaan.

Drrrt… drrrt!

Kurasakan ponselku bergetar cepat, membuatku harus mengalihkan perhatian dari Jong Hyun barang sejenak saja. Aku meraih ponsel putihku, kemudian menempelkannya di telinga tanpa melihat nama sang penelepon.

“Yeoboseyo?”

Seulas senyum perlahan-lahan mulai muncul di wajahku tatkala aku mendengar suara sang penelepon. Dari sudut mataku, aku bisa melihat Jong Hyun yang tampaknya masih bermuram durja. Mungkin saja sedikit bersenang-senang bersamaku bisa menghilangkan sebagian dari kesedihannya. Aku tidak sepenuhnya yakin apakah hal ini akan berhasil; tapi setidaknya aku bisa mencoba, bukan?

“Tentu, aku akan kesana sebentar lagi. Tidak keberatan ‘kan jika aku membawa seorang teman?” ucapku cepat, mengiyakan permintaan sang penelepon.

Okay, I will see you later then,” tambahku sembari menutup ponselku. Aku kembali menatap Jong Hyun, berharap ia mau menerima ajakanku.

“Jong Hyun-a, bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat?”

***

Lee Jong Hyun

“Jong In-Oppa!! Jong Dae Oppa!!”

Masih dengan mata yang memerah akibat terlalu banyak menangis, aku memandang Catherine yang berjalan dengan riang memasuki sebuah café. Awalnya aku tidak mengerti mengapa Catherine mengajakku ke tempat ini. Kami baru saja mengunjungi sebuah café dan gadis di sampingku ini malah mengajakku untuk berkunjung ke sebuah café lain. Memangnya, makanan dan minuman di tempat ini lebih enak, ya?

“Jong Hyun-a, ayolah! Jangan mematung begitu!” teriakan Catherine menyentakkanku kembali ke realita. Aneh rasanya melihat gadis itu begitu bersemangat, tidak tenggelam dalam sisi pendiamnya seperti biasa.

“Cathy… kau…”

“Nama café ini, félicité, kau tahu makna di baliknya?”

Aku menggelengkan kepalaku, semakin bingung dengan semua ini. Aku sadar, mungkin saja Catherine tampak begitu ceria sebagai salah satu upayanya membuatku tersenyum kembali. Mau tak mau aku merasa sedikit bersalah kepadanya. Ia berusaha untuk menunjukkan sisi dirinya yang lain –sisi yang berbeda dari kebiasaannya –hanya untuk membuatku bahagia.

Happiness. That is the meaning of félicité.”

“Eh?”

Café ini adalah salah satu tempat dimana aku bisa menjadi pribadi yang seperti ini. Menjadi Catherine yang ceria. Ketika orangtuaku meninggal setahun yang lalu, aku sempat tinggal bersama mereka berdua selama beberapa bulan,” lanjutnya sembari menunjuk dua orang pria yang tadi dipanggilnya dengan nama Jong In dan Jong Dae.

“Mereka sepupuku sekaligus pemilik café ini. Well, setidaknya Jong Dae Oppa-lah yang benar-benar memiliki café ini, karena bocah ini hanya dua tahun lebih tua dariku,” ucapnya sembari tertawa geli.

“Ya! Aku memang masih muda, tapi aku sudah mengurusi café ini selama…” protes seorang laki-laki yang kuduga bernama Jong In itu terputus oleh Catherine begitu saja. Sepertinya mereka berdua memang sudah biasa berdebat satu sama lain. Catherine mengangkat tangannya, membungkam mulut Jong In sementara ia mengarahkan pandanganya ke arah laki-laki yang lebih tua.

“Jong Dae Oppa, boleh kupinjam kamarku?”

“Tentu saja. Menu seperti biasa?” balas laki-laki bernama Jong Dae itu sembari tersenyum lebar. Tampaknya, ia pun sudah biasa menyaksikan dua orang di hadapannya itu saling berdebat; tidak sepertiku yang saat ini sedang melongo lebar.

Yes, two please!”

Catherine melepaskan bekapannya pada Jong In, kemudian menarik lenganku menuju tangga yang berada di sudut café. Aku mengikutinya begitu saja, mengangguk singkat untuk menyapa kedua kakak-beradik pemilik café ini. Detik berikutnya, barulah aku menyadari bahwa Catherine mengajakku ke sebuah kamar tidur yang sudah pasti adalah miliknya.

“Kamarku, atau bisa dibilang bekas kamarku,” jelasnya sembari menghempaskan diri di atas salah satu sofa. Aku memandang ke sekeliling ruangan, menyadari bahwa kamar itu tidak bisa dibilang luas.

Kamar itu berukuran sekitar 4×4 meter, dengan cat dinding berwarna soft blue. Sebuah kasur terletak di pojok ruangan, polos tanpa penutup apapun karena sudah lama tidak digunakan. Di sudut lain, berjajar sebuah lemari pakaian, meja, dan kursi yang mungkin digunakan sebagai tempat belajar. Lantainya dilapisi karpet berwarna krem, dengan sebuah sofa kecil berwarna biru yang sekarang sedang diduduki oleh Catherine.

“Tempat ini… nyaman,” ucapku akhirnya sembari duduk di atas karpet. Sebenarnya, aku sudah tahu bahwa tempat ini memang memberi kenyamanan bagi semua orang pada detik pertama aku memasukinya. Mulai dari nama café ini –félicitésampai desain dan perabotannya yang memiliki warna-warna lembut. Begitu ringan, tenang, dan bahagia.

“Jong In Oppa dan Jong Dae Oppa juga sebatang kara sepertiku. Ketika orangtua mereka meninggal, mereka lebih memilih untuk menggunakan semua harta warisan yang mereka miliki untuk membangun café ini. Bisa dibilang, tempat ini adalah pelarian mereka dari kesedihan itu sendiri,” jelas Catherine panjang lebar.

“Dan juga tempat pelarianmu,” tambahku sembari mengedarkan pandang ke seluruh kamar milik Catherine ini.

“Ya, dan kuharap bisa menjadi tempat pelarianmu pula.”

Aku mengerjapkan mataku, tidak percaya dengan kata-kata yang baru saja terlontar dari mulutnya itu. Gadis ini benar-benar ingin membuatku tersenyum lagi setelah mengalami cobaan yang cukup berat.

“Jong Hyun-a… kau membuatku merasa disayangi. Selama ini, aku tidak pernah memiliki teman. Hidupku bergantung pada Jung Yong Hwa –butler pribadiku –dan kedua orang sepupuku itu. Tapi kau, kau membuatku merasa tidak sendirian lagi. Setidaknya untuk saat ini, aku jadi punya alasan untuk tetap tersenyum di sekolah.”

“Kau tidak tahu betapa aku menghargai segala perbuatanmu hari ini, Cathy. Kau berubah, kau tahu.”

“Aku tidak berubah! Aku memang bersikap seperti ini hanya pada orang-orang terdekatku!” bantahnya, merasa malu. Rona merah mulai menyebar di pipinya dan saat itulah aku sadar kalau aku menyukainya. Aku suka melihatnya tertawa dan merona seperti ini. Dan aku suka saat ia berkata bahwa aku adalah salah satu orang terdekatnya.

Thanks, for everything…”

Catherine mengangkat bahunya, tidak mempermasalahkan hal itu. Ia sedang berusaha mengalihkan perhatiannya dariku, menyembunyikan rasa malu yang sedang menderanya. Aku tersenyum geli –senyum tulus yang akhirnya muncul setelah aku meneteskan air mataku tanpa henti – terhibur oleh tingkahnya itu.

“Akhirnya kau tersenyum juga. Anyway, aku berani menjamin senyum itu akan bertambah lebar begitu kau merasakan orange cake buatan Jong Dae Oppa! Cake terbaik yang selalu bisa menghilangkan semua perasaan sedih dalam dirimu!”

Aku mengangkat sebelah alisku, kemudian tertawa bersamaan dengan Catherine tanpa benar-benar mengetahui apa yang sedang kami tertawakan. Gadis satu ini memang penuh kejutan, dan aku menyukainya.

***

Kejutan tidak berakhir sampai disitu. Aku baru saja melangkah menuruni tangga setelah menghabiskan berjam-jam mengobrol di kamar Catherine, ketika suara teriakan dan sorakan –sebagian besar adalah suara perempuan –menerjang pendengaranku.

“Apa yang…”

Bingung, aku mengamati seisi café yang dipenuhi gadis-gadis seusiaku, semuanya menjerit-jerit layaknya sedang melihat idola mereka. Apa yang sedang terjadi disini?

“Jong In Oppa dan Jong Dae Oppa pasti sudah memulai pertunjukkan mereka!” seruan Catherine terdengar tepat di sampingku. Kedua bola mataku mengikuti langkah-langkah Catherine yang menembus kerumunan itu, sampai akhirnya aku melihat apa sumber dari semua kegaduhan ini.

Kedua kakak sepupu Catherine itu sedang beraksi, layaknya artis idola yang sedang menunjukkan performance di atas panggung. Jong Dae memegang sebuah microphone dan menyanyikan sebuah lagu yang terdengar begitu indah. Sementara itu, Jong In pun turut serta memamerkan kebolehannya, menunjukkan berbagai gerakan dance yang seirama dengan lagu.

Aku ikut berjalan menembus kerumunan, berusaha mencari-cari sosok Catherine. Rupanya, gadis itu berdiri tepat di depan panggung kecil tempat kedua sepupunya beraksi, menyaksikan mereka dengan cengiran lebar terpampang di wajah manisnya.

“Asyik, kan?”

“Mereka berbakat kau tahu! Bisakah kau melakukannya?” teriakku berusaha mengatasi keributan yang ada. Catherine sontak memelototiku. Tentu saja, gadis itu tidak akan mau dipermalukan di atas panggung seperti ini.

Mataku terus mengamati pertunjukkan itu, sampai akhirnya sebuah benda yang tergeletak di samping speaker mengalihkan perhatianku. Sebuah gitar. Mendadak saja, aku ingin memainkan gitar itu. Melampiaskan segala perasaanku melalui alat musik yang telah kupelajari seumur hidupku. Mengalunkan nada-nada yang bisa menggambarkan kegelisahan hatiku.

“Kau mau tampil juga? Dengan gitar itu?” suara Catherine membuatku kembali tersadar dari lamunan. Aku balas menatap kedua matanya, bertanya-tanya apakah aku boleh melakukan hal itu.

Tak disangka-sangka, Catherine melambaikan tangannya dan berusaha menarik perhatian Jong Dae yang sedang bernyanyi. Ia menarik Jong Dae mendekat, kemudian mulai membisikkan sesuatu kepadanya. Bisa kulihat bahwa laki-laki itu mengangguk, menyetujui apapun rencana Catherine.

“Baiklah, salah satu teman kami akan menampilkan sebuah performance dengan gitar. Kalian tidak keberatan bukan?”

Seluruh penonton yang ada disana langsung menyetujui usul tersebut sementara Catherine mulai mendorongku ke atas panggung. Merasa sedikit tidak yakin, aku pun meraih gitar tersebut kemudian mulai memetik senar-senarnya. Menit berikutnya, aku sudah terhanyut ke dalam lagu yang kumainkan, begitu pula dengan para penonton yang ada di café itu.

Rasanya begitu nyaman dan tenang, emosi yang kurasakan seharian ini terlepas begitu saja. Seperti Catherine, aku pun mulai merasa bahwa café ini adalah tempat pelarianku. Disini, aku bisa kembali tertawa lepas dan menghabiskan waktu tanpa perlu mengkhawatirkan banyak hal. Melupakan masalah yang sedang kuhadapi barang sejenak saja, membuatku kembali merasa damai.

Aku tahu, pada saatnya nanti aku memang harus menghadapi masalah itu. Namun, bersenang-senang dan menyegarkan diri barang sejenak tidak ada salahnya, bukan?

Kupetik senar gitarku penuh semangat, seiring dengan meningkatnya perasaan senang di dalam diriku.

Untuk saat ini, aku tahu bahwa aku akan baik-baik saja.

***

Jung Yong Hwa

Aku mengenggam ponselku begitu erat, perasaan khawatir mulai memenuhi benakku. Mataku memicing, mengamati pergerakan seorang laki-laki dengan saksama. Laki-laki yang tidak lain adalah anak dari pemilik LD Corporation. Target balas dendamku untuk malam ini.

Sudah seharian penuh aku menghabiskan waktuku berkeliling kota Seoul, mencari-cari target yang saat ini sedang kuincar. Beruntunglah diriku, karena rupanya dewi keberuntungan masih berada di pihakku. Setelah berkeliling kesana kemari tanpa kenal lelah, akhirnya aku menemukan lelaki itu di tempat yang sama sekali tidak pernah kuduga sebelumnya.

Félicité café. Café milik Kim Jong Dae dan Kim Jong In, kakak sepupu dari nona Catherine.

Dan yang lebih parah, mataku baru saja menangkap sesosok gadis yang tidak lain adalah nona Catherine. Tentu saja aku paham mengapa majikanku itu bisa berada di tempat ini, karena ia memang sering berkunjung kemari. Satu-satunya hal yang tidak bisa kuterima adalah fakta bahwa Nona Cathy dan target balas dendam kami berada di satu tempat yang sama.

Nona, sadarkah kau bahwa orang yang menjadi target kita, orang yang kau benci itu, ada begitu dekat denganmu?

Kurasa tidak.

Aku melonggarkan genggamanku pada ponselku dan mendapati sebuah pesan masuk tertera di layarnya. Dari Nona Cathy.

Target kita ada di café ini? Aku akan segera keluar dan membantumu kalau begitu , Oppa! Tunggu aku!

Kuhirup udara malam dalam-dalam, kemudian mengembuskannya kembali untuk menyiapkan diriku sendiri. Balas dendam kami akan segera dimulai dalam hitungan detik. Selangkah lebih dekat menuju keberhasilan kami membuatku sedikit merasa bersemangat. Akhirnya, usaha kami mulai menampakkan hasilnya.

Oppa!”

Tampak nona Catherine berlari-lari kecil ke arahku, wajahnya diliputi semangat yang sama sepertiku. Aku tersenyum kecil, ikut berbahagia atas rencana kami yang akan segera terwujud. Sepertinya Nona Cathy pun merasa demikian, karena ia segera mengulurkan tangannya ke arahku untuk meminta sebuah senjata. Kuserahkan sebuah revolver berwarna hitam ramping kepadanya, yang langsung digenggamnya dengan mantap. Bahkan setelah setahun berlalu, aku masih merasa aneh melihat gadis semanis nona Cathy bisa memiliki keinginan balas dendam yang begitu besar.

“Nona, Anda yakin bukan?”

“Tentu! Oppa, beritahu saja aku yang mana orangnya. Kita akan membuntutinya dan mencari waktu yang tepat. And then, let the game begin.

“Nona, bermaksud membunuhnya?”

“Aku? Tentu saja tidak. Anggap saja ini hanya sebuah peringatan kecil untuk pemilik LD Corporation yang tidak bertanggung jawab itu.”

Aku mengangguk mantap, siap untuk mendampingi nona Catherine dalam misi pertama yang akan kami jalani malam ini. Dengan satu kalimat singkat, kami pun segera mengambil posisi kami untuk mengintai orang tersebut. Target kami.

“Yes, young Mistress.”

***

Catherine Kim

Detik demi detik berlalu dalam keheningan. Sejujurnya, aku merasa tidak enak kepada Jong Hyun karena telah meninggalkannya begitu saja sementara ia sedang larut dalam permainan gitarnya. Namun, aku tidak punya pilihan lain. Pesan singkat dari Yong Hwa Oppa telah mengalihkan pikiranku.

Orang yang kami cari berada di café yang sama denganku. Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan itu begitu saja, tidak ketika jalan untuk mencapai balas dendamku sudah terbentang di hadapan kami.

Dan, disinilah aku sekarang. Aku bersandar di kursi mobil, memutar-mutar sebuah revolver di antara jari-jariku. Tanganku yang lain mengetikkan sebuah pesan singkat berisi permintaan maafku pada Jong Hyun, berusaha menjelaskan bahwa ada hal yang mendadak terjadi di perusahaan milik keluargaku sehingga aku harus pulang lebih cepat. Tidak jauh dariku, Yong Hwa Oppa –yang berada di luar mobil –bersandar pada kaca jendela tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari target kami.

Lima belas menit berlalu tanpa ada sesuatu yang berarti, membuatku harus menahan kantuk yang mulai menyerang. Baru saja aku hendak memejamkan mataku barang sejenak, Yong Hwa Oppa membuka pintu mobil dalam satu sentakan, membuatku terlonjak kaget.

“Maaf, Nona. Tapi laki-laki itu baru saja berjalan keluar dari café dan berjalan menuju arah utara. Daerah di sana cukup sepi. Kita bisa menyudutkannya pada salah satu gang yang ada, lalu…”

“Aku mengerti,” tegasku singkat sembari melangkah keluar dari mobil. Dengan cepat aku pun memacu langkah-langkah kakiku, mengikuti Yong Hwa Oppa yang sudah lebih dahulu berlari.

Kami menguntit dalam diam, menyusuri deretan gedung-gedung yang semakin lama tampak semakin jarang. Bangunan-bangunan penuh sorot lampu mulai digantikan dengan gedung-gedung tua yang berfungsi sebagai gudang-gudang penyimpanan. Tidak banyak orang yang berlalu-lalang di tempat ini, persis seperti perkiraan Yong Hwa Oppa. Dari kejauhan, aku bisa melihat siluet lelaki yang kami kejar berbelok di salah satu gang.

“Tepat masuk ke dalam perangkap,” gumam Yong Hwa pelan. Aku mengulum senyum mendengar nada puas dalam kata-katanya itu.

“Ayo, kita bergerak.”

Aku melangkah maju, berbelok di salah satu gang yang diapit dua gedung tua berwarna kusam. Yong Hwa Oppa berada tepat di sampingku, sebelah tangannya menyorotkan lampu senter agar kami bisa melihat wajah orang yang akan segera kuserang. Wajah yang mewarisi darah pembunuh dari sang pemilik LD Corporation.

Wajah yang kukenal dengan sangat baik, seperti aku mengenal Yong Hwa Oppa seumur hidupku.

Tidak.

Ini semua tidak mungkin terjadi.

 

 

“Jong Hyun!?”

“Cathy?”

DORRRR!!!

***

Author’s note:

Motongnya nggak enak ya? Iya, saya tau kok xD emang sengaja biar penasaran /slapped/

Anyway, akhirnya ada lagi minor cast di chapter ini, yang (sepertinya) masih akan muncul lagi di chapter2 menjelang akhir nanti 🙂

Jadi, buat yang belum kenal sama kakak-beradik Kim pemilik Félicité café ini, author berbaik hati (?) membagi pics mereka deh xD

the angelic voice Jong Dae and dancing machine Jong In:

kayaknya, udah ketebak kan, mana yang kakak-mana yang adik? :3

Advertisements

8 thoughts on “[5th Chapter] Vengeance

  1. kimsungrin

    eh kepencet -.-
    wah first nh aku tumben wahaha.
    ajegile itu galau super banget si cath, giliran udah deket eh gataunya musuh u.u
    next next next, ditunggu yo haha.
    btw minal aidin ya 🙂

    Like

    • tsukiyamarisa

      minal aidzin jugaaa kak meg 😀
      semoga next-nya cepet deh, sebenernya chapter 7 juga udah setengah jadi kok xD

      iya nih cath galau, segalau yg nulis ff gara2 nggak tega sama bang JH :p

      Like

      • kimsungrin

        hahaha ada ada aja kau nak xD
        bagus itu yang aku harapkan biar tidak terlalu lama menunggu hoho

        Like

    • tsukiyamarisa

      *sodorin pisang*
      maaf mbak, jangan nandak2 di wp orang, ntar dikira monyet xDD #plak

      untung deh ya, saya udah ganti storyline ini FF.. tadinya emang mau dibuat mereka sedarah, tapi….
      nope, ga jadi deh :p

      Like

  2. Nahhhh benerkannnn~ itu si jonghyun orangnya *tebar confetti*
    Ini kayaknya pics duo exo khusus buat saya ya ._. *pede* *ditendang xD
    Kalo kata farah mereka sedarah, kalo kata aku tetep, matinya ibunya JH masih ada hubungan sama keluarga cath. Trus ntar ujung-ujungnya todong2an pistol *itu city hunter*

    ini kenapa jadi maen tebak2an ya xD

    Lanjut merrr 😀
    Dan saya mau protes, kenapa part 6 mesti di protect -____-“

    Like

    • jiaaah -__-” pics dua exo itu buat sayaaa, kan keduanya bias saya *hugs* *tendang intan*

      tebak2an juga gapapa kok tan, besok kita liat siapa yang bener… huehehehehe *sok misterius* *ditendang*

      dan part 6 itu aku protect gara2 aku jadi author di blog lain -__-”
      kalo nggak kuprotect takutnya ntar ada yang nge-SR dimari, jadi selama blm ku publish di blog satunya ku protect aja dulu :p

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s