[3rd Chapter] Vengeance

Standard

Vengeance

Main Cast:

  • [CNBlue] Jung Yong Hwa
  • [OCs] Catherine Kim
  • [CNBlue] Lee Jong Hyun

Minor Cast:

  • No one for this chapter

Genre: Family, Romance, Angst, Friendship, AU, Thriller

Rating: PG-16/17

Disclaimer: Storyline, OC, and picture belong to me. The main idea of the story is inspired by manga/anime Black Butler a.k.a Kuroshitsuji. This fanfic is only a fictional story.

Note: Bagi yang tahu anime/manga Kuroshitsuji a.k.a Black Butler, pasti tahu kalau tokoh butler dalam cerita itu (re: Sebastian) is a demon. But in this fictional fic, the butler‘s character isn’t a demon like Sebastian. He is just a kind of human butler after all xD

***

[Chapter 3]

Lee Jong Hyun

“Catherine-ssi, tunggu aku!”

Gadis itu menoleh sekilas ke arahku, kemudian memalingkan mukanya begitu saja. Tanpa berusaha peduli ataupun menolongku yang sedang membawa setumpuk buku-buku tugas milik kelas kami.

“Catherine-ssi…

“Bukannya aku bermaksud tidak sopan Jong Hyun-ssi, tetapi kau sudah satu minggu bersekolah disini. Tentunya kau tahu bukan jalan menuju ke ruang guru dan kelas-kelasmu yang berikutnya?” tanyanya dengan nada sarkastis. Ragu-ragu, aku pun mengangguk singkat. Dan sebelum aku sempat mengutarakan pendapatku, ia sudah kembali berjalan menjauhiku. Gadis aneh, batinku heran.

Dengan malas, aku melangkahkan kakiku menuju ruang guru. Bayangan wajah Catherine masih tergambar jelas di benakku. Gadis pendiam dan misterius yang tidak pernah bersosialisasi. Pada awalnya, aku mengira bahwa ia hanya bersikap dingin padaku karena kita belum saling mengenal satu sama lain. Ternyata aku salah. Seorang Catherine Kim memang selalu bersikap dingin pada semua orang di sekitarnya.

“Catherine itu memang gadis yang tak tahu diuntung!”

Sontak aku menghentikan langkah kakiku ketika mendengar suara bernada tinggi itu. Tampak dua orang gadis yang sedang berjalan menuju ke arahku sembari sibuk membicarakan Catherine. Buru-buru aku berbalik membelakangi mereka berdua dan memusatkan pandangan pada dinding putih di hadapanku. Yeah, bisa dibilang aku sedang mencuri-dengar pembicaraan dua gadis itu.

“Dia bisa menemani anak baru itu, Lee Jong Hyun, selama seminggu penuh!”

“Jadi, kau iri?”

“Tentu saja, siapa sih yang tidak mau dekat dengan laki-laki setampan dia? Meskipun hanya menemani berkeliling sekolah, aku akan melakukannya dengan senang hati!”

Tampan? Baiklah, jadi itu pandangan mereka tentangku. Boleh juga.

“Tapi, Catherine kan memang pendiam. Dia tidak pernah bergaul dengan siapa pun. Kita semua tahu ‘kan… apa yang sudah terjadi pada orangtuanya…”

“Ah, kasus itu… Yah, mungkin juga itu alasan Catherine menutup dirinya. Siapa yang tidak tertekan kalau kedua orangtuamu meninggal karena pembunuhan?”

Deg! Pembunuhan? Pembunuhan apa? Jadi Catherine itu sebatang kara?

Aku berusaha mendengarkan pembicaraan mereka lebih jauh, tetapi suara kedua gadis itu sudah tak terdengar lagi. Masih terpaku di tempatku berhenti tadi, pikiranku mulai memutar ulang kalimat demi kalimat yang baru saja kudengar tadi.

“Kita semua tahu ‘kan… apa yang sudah terjadi pada orangtuanya…”

“Siapa yang tidak tertekan kalau kedua orangtuamu meninggal karena pembunuhan?”

 Jadi itukah alasannya? Alasan seorang Catherine Kim menutup dirinya dari pergaulan teman-teman sebayanya? Masa lalu yang kelam? Otakku serasa berputar cepat saat memikirkan hal-hal yang baru saja kuketahui tadi. Rasa penasaranku membuncah dan sebersit rasa simpati mulai muncul di benakku. Pantas saja gadis itu begitu pendiam. Sifat anti sosial yang ditunjukkannya adalah topeng dari semua kesedihan yang ia rasakan.

Tetapi, pembunuhan seperti apakah yang sebenarnya terjadi pada kedua orangtua Catherine? Pertanyaan itu terus muncul di benakku, tanpa bisa kucegah. Sudah lama aku tidak tinggal di Korea, dan sudah pasti aku tidak mengetahui hal-hal semacam kasus pembunuhan yang pernah terjadi di negara ini.

Dan satu-satunya hal yang bisa membantuku untuk mencari tahu adalah…

Internet! Tepat sekali!

Seakan tersadar dari lamunan singkatku, aku segera memacu langkah kakiku menuju ruang guru untuk mengumpulkan buku-buku tugas yang masih kubawa. Setelah itu, perpustakaan sekolah adalah tujuanku. Tempat dimana aku bisa mencari tahu tentang kasus pembunuhan orangtua Catherine.

Baiklah Catherine Kim, sepertinya aku akan segera menemukan rahasia di balik sikap misteriusmu itu.

***

SEOUL –Kasus pembunuhan yang telah merengut nyawa Kim Do Jin dan Emily Lee –pemilik dari K Company, masih belum menemui titik terang. Pembunuhan tragis yang terjadi pada bulan Januari silam itu masih menyisakan misteri. Polisi masih belum bisa menemukan bukti-bukti yang mengarah pada pelaku pembunuhan kasus itu. Mereka menduga bahwa kasus pembunuhan ini melibatkan beberapa sindikat pembunuh bayaran, melihat betapa rapinya rencana pembunuhan tersebut terlaksana. Sementara itu, Catherine Kim –anak tunggal dari Kim Do Jin dan Emily Lee sekaligus satu-satunya pewaris dari K Company –masih belum bisa dimintai pendapat mengenai kasus ini. Isu yang beredar adalah kepemimpinan K Company akan dialihkan pada salah satu kerabat dari keluarga Kim, sementara menunggu sang pewaris tunggal K Company, Catherine Kim, lulus sekolah menengah dan siap mengambil alih perusahaan. 

Mataku terpaku pada artikel singkat itu, berusaha mencerna semua kalimat yang tertulis di atasnya. Entah mengapa, artikel itu telah menjelaskan semuanya, semua sikap Catherine terhadapku selama seminggu terakhir ini. Kasus pembunuhan kedua orangtuanya yang belum terpecahkan. Tidak heran Catherine Kim menjadi seorang anak yang terkesan sinis seperti itu. Siapa yang tidak tertekan, jika mengetahui kedua orangtuamu mati terbunuh dan pembunuhnya bahkan belum ditemukan hingga sekarang? Kurasa tidak ada.

Gelombang empati mulai mengalir di dalam diriku. Ya, aku berempati, bukan bersimpati pada keadaan gadis itu. Meskipun aku masih memiliki seorang ayah, pada dasarnya aku sama seperti Catherine. Aku tidak mengetahui apa penyebab sebenarnya kematian ibuku. Sama seperti Catherine yang tidak mengetahui siapa pembunuh kedua orangtuanya.

Kugerakkan kursor di layar komputer perlahan, menutup semua tab dan browser yang tadi kubuka. Aku mendesah keras, kemudian bangkit berdiri dan melangkah keluar dari perpustakaan. Ingin rasanya aku menemui Catherine sekarang, kemudian melakukan segala yang aku bisa untuk menghiburnya. Gadis itu tidak punya teman, dan aku akan dengan senang hati menjadi seorang teman yang baik baginya.

Catherine Kim, maukah kau menerimaku sebagai temanmu? Teman dekatmu?

***

Catherine Kim

Aku mengedarkan pandang ke sekeliling cafeteria sekolahku dengan perasaan kesal. Miss Hwang, guru Matematika di sekolahku, menahan kami cukup lama di kelas hanya karena sebuah soal yang tidak mampu diselesaikan oleh satupun dari kami. Setelah omelan dan ceramah panjang lebar –melibatkan omong kosong soal pentingnya Matematika dalam hidup kami –barulah ia membiarkan kami semua pergi dan beristirahat. Aku mendengus kesal saat mengingat pidato berkepanjangan Miss. Hwang tadi. Memangnya, kita akan membutuhkan semua rumus trigonometri itu dalam kehidupan sehari-hari? Tidak kan?

Dan sekarang, akibat dari pelajaran Matematika yang sangat menyita waktu itu, aku terlambat untuk jam makan siangku. Seluruh meja di cafeteria ini telah dipenuhi oleh siswa-siswa di sekolahku, tidak ada satupun meja kosong untuk kutempati sendirian. Aku tidak menyukai ini. Terlambat jam makan siang sama artinya dengan tidak mendapatkan tempat duduk yang bisa menjamin kesendirianku. Bergabung dengan murid-murid lainnya di meja yang sama hanya akan membuat mood-ku bertambah buruk dan nafsu makanku menghilang.

Kuhembuskan napas panjang –tanda aku sedang merasa sebal –kemudian berbalik ke arah pintu cafeteria. Lebih baik aku menghubungi Yong Hwa oppa dan memintanya mengirimkan makan siang untukku. Pilihan yang jauh lebih baik daripada harus berdesak-desakkan demi mendapatkan sebuah meja.

“Hei, kau tidak makan?” suara rendah itu terdengar di telingaku, membuatku langsung menoleh. Kudapati seorang Lee Jong Hyun sudah berdiri di belakangku, dengan jarak yang teramat dekat denganku.

“Tidak. Aku tidak lapar,” jawabku seketus mungkin sambil berusaha memberi jarak di antara tubuh kami berdua. Hal yang paling tidak kusukai dari laki-laki ini adalah sikapnya yang sok perhatian dan sok dekat padaku.

“Kau bohong, iya ‘kan? Aku melihatmu hendak mengantri untuk mengambil makan siangmu, lalu kau keluar lagi dari barisan saat menyadari bahwa tempat ini terlalu ramai dan kau tidak akan mendapat meja untuk kau tempati sendiri,” ucap Jong Hyun panjang lebar.

Mau tak mau aku berhenti melangkah menjauhinya, kemudian memandangnya dengan tatapan heran. Bagaimana laki-laki ini tahu? Tidak mungkin ‘kan kalau ia bisa membaca pikiranku? Itu tidak masuk akal.

“Aku tidak bisa membaca pikiranmu, kalau itu hal yang membuatmu heran.”

“A..aku…” kali ini aku tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk membalas ucapannya. Lidahku terasa kelu, dan semua kata-kata ketus yang telah kupikirkan menguap begitu saja dari otakku. Baru kali ini, ada seseorang selain Yong Hwa oppa yang bisa menebak jalan pikiranku dan mengerti isi hatiku.

Dengan perasaan tak karuan aku membalikkan badanku, kemudian melangkah keluar dari cafeteria. Aneh rasanya melihat seorang murid baru –yang bahkan baru mengenalku selama seminggu penuh –bisa menebak apa yang sedang aku rasakan. Sebelumnya, tidak ada satupun siswa yang mau mengajakku mengobrol dan bisa mengetahui jalan pikiranku dalam sekali tebak. Hanya seorang Lee Jong Hyun-lah yang bisa melakukan ini padaku.

“Catherine-ssi,  bagaimana kalau kau makan denganku?”

Lagi-lagi aku nyaris menghentikan langkahku saat mendengar suara itu memanggilku. Buru-buru aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat dan kembali berjalan cepat. Aku berusaha tidak memedulikan suara langkah kaki yang terdengar semakin dekat denganku.

“Catherine-ssi, memangnya kau tidak lapar? Sekolah baru akan berakhir pukul empat sore, dan kau tidak akan makan siang?”

“Maaf Lee Jong Hyun-ssi, tapi aku tidak la….”

Kruuuuuk!

Oh sial! Baru saja aku mau membantah ucapan pemuda menyebalkan itu, perutku sudah berbunyi keras, seolah menentang kata-kata yang telah dilontarkan oleh mulutku. Aku menatap Jong Hyun kesal, dan laki-laki itu malah tersenyum penuh kemenangan kepadaku.

“Aku…”

“Ikut aku. Kurasa, kau membutuhkan tempat yang sepi ‘kan untuk makan? Tidak seperti di cafeteria?”ucap Jong Hyun yakin sambil berjalan mendahuluiku. Sambil berusaha menelan rasa maluku, aku pun mengikuti Jong Hyun dengan setengah hati. Setidaknya laki-laki itu benar. Aku butuh makan jika aku tidak mau pingsan di tengah-tengah pelajaran nanti.

“Disini, tidak apa-apa?” suara Jong Hyun menyentakkanku kembali ke alam sadar. Aku menoleh dan mendapati kami sudah berdiri di samping lapangan basket sekolah yang tampak lenggang. Hanya ada beberapa siswa yang sedang berjalan mondar-mandir di sekitar lapangan, tapi hal itu bukanlah masalah besar. Setidaknya suasana di tempat ini lebih baik daripada di cafeteria tadi. Aku tidak perlu berdesak-desakkan dan sok bersikap akrab dengan murid-murid lainnya di tempat ini.

Kuanggukkan kepalaku perlahan, sementara Jong Hyun sudah duduk di salah satu kursi yang berada di sekitar lapangan basket. Aku mengikutinya dan melihatnya mengeluarkan sebuah kotak bekal dari dalam tasnya. Beberapa potong sandwich tersusun rapi di dalamnya, membuat perutku semakin menjerit minta diisi.

“Ini, ambil saja semaumu,” ucapnya ramah sembari menyodorkan kotak bekal itu ke arahku. Malu-malu, aku mengambil sepotong sandwich dan menggumamkan ucapan terima kasihku. Aku langsung memasukkan sandwich itu ke dalam mulutku, dan detik berikutnya aku pun mengernyit tidak suka saat merasakan ‘sesuatu’ yang kubenci berada di dalam mulutku. Selada. Sial.

“Ada apa?” tanya Jong Hyun penasaran. Aku menggeleng cepat, kemudian berusaha menelan potongan sandwich yang sudah berada di dalam mulutku ini dengan susah payah. Jong Hyun menatapku dengan pandangan aneh, kemudian mengulurkan tangannya ke arahku.

“Apa?”

“Berikan sandwich itu padaku,” pinta Jong Hyun dengan nada geli. Mau tak mau aku pun mengerutkan keningku, merasa aneh dengan permintaan tidak masuk akalnya itu. Ia memberikan sandwich ini padaku, membiarkanku menggigitnya, kemudian memintanya kembali?

“Aku bukan mau memintanya kembali,” ucap Jong Hyun, masih dengan nada geli. Laki-laki itu mengambil sandwich di tanganku, membukanya, kemudian mengeluarkan lembaran selada yang ada di dalamnya, dan menutupnya kembali sebelum mengulurkan sandwich itu padaku. Aku tertegun, heran dengan sikapnya yang serba tahu itu.

“Bagaimana kau tahu?”

“Dua hari yang lalu, saat kau makan siang di cafeteria sekolah, aku melihatmu menyingkirkan sebagian besar sayuran yang ada di piringmu. Jadi kupikir… kau juga tidak akan menyukai selada. Aku benar, bukan?”

Lagi-lagi aku terdiam, tidak ada satupun kata-kata yang terlintas di otakku untuk menanggapi kalimatnya. Lee Jong Hyun, orang ini bukan orang biasa. Dia tidak sama dengan orang-orang lainnya yang menganggapku gadis aneh dan anti sosial. Disaat semua orang menjauhiku, dia malah mendekatiku. Disaat semua orang menganggapku adalah pribadi yang tertutup, ia dapat dengan mudahnya menebak segalanya tentangku.

Entahlah, laki-laki ini membuatku merasa… nyaman? Mungkinkah itu?

Selama ini, aku selalu bergantung pada Yong Hwa oppa, satu-satunya orang yang kupercayai di dunia ini. Orang yang mengenalku luar dalam, yang bisa mengetahui apa mauku hanya dengan sekali lihat. Hanya Yong Hwa oppa yang membuatku merasa aman dan nyaman, hanya karena ia mengetahui segala hal yang berkaitan denganku dan selalu memperhatikan hal-hal kecil itu.

Dan sekarang, laki-laki asing di depanku ini… Ia bisa melakukan hal yang sama persis dengan apa yang telah Yong Hwa oppa lakukan padaku. Memperhatikan hal-hal kecil tentangku, menebak kemauanku, dan juga berusaha untuk memenuhinya. Membuatku merasa nyaman, seolah-olah kami sudah saling mengenal sejak lama.

Lee Jong Hyun… siapa sebenarnya dirimu? Kenapa kau bisa membuatku merasa seperti ini? Kenapa?

***

Jung Yong Hwa

Dengan sabar, aku menunggu Nona Cathy yang sedang sibuk mempelajari rekaman percakapan yang kudapatkan kemarin –hasil kerjaku dengan Joon. Sudah berulang kali Nona Cathy memutar ulang percakapan itu, tetapi ia tidak kunjung mengambil keputusan akan tindakan kami selanjutnya. Aku memandang majikanku itu dengan heran. Tidak biasanya ia bersikap seperti ini. Catherine yang kutahu adalah seorang gadis yang bisa mengambil setiap keputusan dengan cepat dan tegas.

“Nona, kau tidak apa-apa?”

“Mmm… yeah, aku baik-baik saja Oppa.”

“Anda yakin? Sepertinya anda sedang memikirkan sesuatu,” ucapku terus terang. Sontak, Nona Cathy pun langsung menghentikan kegiatannya, kemudian menatapku dengan pandangan yang tidak bisa kutebak.

“Nona?”

Oppa, wajarkah jika ada seseorang yang baru mengenalmu selama satu minggu… dan orang itu sudah bisa menebak isi hati dan perasaanmu?” tanya Nona Cathy dengan suara pelan. Aku tertegun sejenak mendengar pertanyaannya yang terdengar aneh itu. Tidak biasanya Nona Cathy menanyakan hal seperti ini. Apa ada sesuatu yang terjadi di sekolah?

“Yah… meskipun hal itu tidak bisa dibilang wajar, tapi bukan tidak mungkin ‘kan hal itu terjadi?”

“Kau benar Oppa, tapi…”

“Tapi?”

“Tapi jika orang itu bisa membuatmu merasa nyaman, seakan-akan kalian adalah kawan lama… Mungkinkah itu?”

Aku menghela napas panjang, kemudian menatap Nona Cathy dalam-dalam. Mungkinkah ada seorang murid di sekolah Nona Cathy yang bisa melakukan hal ini padanya? Mendekati dan membuat Nona Cathy merasa nyaman?

“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini Nona,” tandasku akhirnya. Jujur, aku tidak tahu jawaban macam apa lagi yang harus kuberikan pada majikanku ini. Kuhembuskan napasku perlahan, kemudian kutanyakan satu pertanyaan yang membuatku penasaran sejak tadi. “Apakah ada seseorang di sekolah Nona yang bersikap seperti itu? Memperhatikan Nona maksud saya.”

“Ya, begitulah…”

Aku mengangguk mengerti, seulas senyum mulai tampak di wajahku. Catherine adalah seorang gadis yang selalu bersikap sinis dan tidak mau berteman dengan siapapun sejak kematian kedua orangtuanya. Melihat ada seorang murid yang mau mendekatinya dan mencoba berteman dengannya membuatku sedikit merasa lega. Setidaknya Nona Cathy tidak akan merasa kesepian saat di sekolah.

“Sudahlah, lupakan saja Oppa. Seharusnya kita membicarakan kasus kematian kedua orangtuaku ‘kan?”

Aku berdeham kecil, kemudian mengangguk untuk membenarkan kata-kata Catherine. Benar juga, saat ini kami sedang memikirkan kelanjutan dari kasus pembunuhan Tuan dan Nyonya Kim. Dan aku yakin, Nona Cathy tidak akan suka jika aku kembali mengungkit-ungkit masalah ‘pertemanan di sekolah’ ini. Aku bisa merasakan keengganan dan kecanggungan Nona Cathy saat ada seseorang yang mencoba berteman dengannya di sekolah. Mungkin aku hanya bisa berharap agar orang yang sedang berusaha berteman dengan Nona Cathy tidak akan menyerah semudah itu.

“Kalau begitu Oppa, mungkin ada baiknya jika kita mulai melaksanakan rencana balas dendam kita…”

Aku langsung mengalihkan pikiranku kembali ke kenyataan, memusatkan seluruh perhatianku pada kata-kata Nona Cathy.

“Balas dendam? Nona akan segera memulainya?” ujarku memastikan kebenaran perintahnya tadi. Nona Cathy mengangguk mantap, yakin akan keputusannya tersebut.

“Ya. Kita sudah yakin bahwa LD Corporation memang bekerja sama dengan sebuah sindikat pembunuh bayaran. Dan rekaman itu juga telah memberitahu kita bahwa LD Corporation dan Black Rose memang bekerja sama untuk membunuh kedua orangtuaku. Ada baiknya jika kita memulai rencana balas dendam kita dari hal yang paling sederhana terlebih dahulu.”

“Sederhana?”

Oppa, cari tahu apakah pemilik LD Corporation ini memiliki keluarga, katakanlah istri dan anak. Cari mereka, dan buat mereka celaka,” perintah Nona Cathy dengan nada tegas. Aku bisa melihat sinar matanya yang dipenuhi semangat untuk membalas dendam, membuatku kagum akan keteguhan hatinya.

“Membuat mereka celaka? Keluarga dari pemilik LD Corporation?”

“Ya. Sudah saatnya pemilik dari perusahaan sialan itu merasakan apa yang telah terjadi padaku. Aku ingin agar dia merasakan sakit yang kuderita saat aku kehilangan anggota keluargaku satu-satunya –orangtuaku. Aku akan membuatnya merasakan sakit yang setimpal, agar ia tahu bagaimana rasanya ditinggal pergi oleh orang-orang yang dicintainya, dengan cara yang tidak berperikemanusiaan.”

Aku mengulum senyumku, kemudian mengangguk yakin. Perintah telah diucapkan, dan sudah saatnya aku mulai bertindak. Orang-orang itu –mereka yang telah melukai hati Nona Catherine –akan segera merasakan sakit yang sama, sakit yang telah menghancurkan perasaan gadis yang kusayangi. Aku akan memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang bisa lolos dari tanganku. Pembalasan dendam Catherine, pembalasan dendamku, pembalasan dendam kami, akan segera dimulai.

“Yes, Young Mistress.”  

***

Advertisements

9 thoughts on “[3rd Chapter] Vengeance

    • tya_EunRim

      city hunter? bagian mana? O_o
      padahal akhir2 ini saya ga keinget city hunter, tontonan saya running man sama shinbang kok xD masa tau2 jadi city hunter 😛

      Like

      • tya_EunRim

        padahal waktu nulis bagian itu, aku malah lagi inget sama sebastian O_o
        kan sebastian juga sering disuruh-suruh ciel nyari data xD cuma ini Jong Hyun versi modern-nya (?) Sebastian xD

        Like

  1. kimsungrin

    chatrine jangan bilang gak mau jadi temen si jonghyun.. keterlaluan itu hahaha #sotoy..
    akhirnya keluar juga part ini setelah tersendat beberapa waktu yang lalu wkwkwk.
    aku suka part ini, karena Jonghyunnya banyak dan chatrine gak jutek sama jonghyun.
    jangan-jangan keluarga LD corporation itu jonghyun lagi, kyaaaaa andwae >,<
    next part, kuharap tidak selama part ini ya ^^v

    Like

    • tya_EunRim

      miaaaan, jeongmal mianhae *bows* lama banget yah nunggunya v.v
      habis aku ujian sih T.T untung sekarang udah kelar, jadi bisa nulis lagi :))

      insyaallah deh next part bisa agak cepet, asal aku ga ada remidi aja *amiiiiin*

      ngomong2 soal jutek, laper itu memang penghilang jutek kan? xDD

      Like

    • tya_EunRim

      *bows again*
      maaf kalo pendek, habis kalo dipanjangin ntar ceritanya jadi kemana2 (?) u,u

      anyway, kak min akhirnya bisa ngasih komen lagi xDD chukkae!! xDD

      Like

  2. Nah nah nah, bentar lagi terungkap siapa keluarganya si LD (?) xD

    Tuhkan tuhkan, bener nih kayaknya perkiraanku kalo si cath demen ama jonghyun. Lanjut merrr xDD

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s