[2nd Chapter] Vengeance

Standard

Vengeance

Main Cast:

  • [CNBlue] Jung Yong Hwa
  • [OCs] Catherine Kim
  • [CNBlue] Lee Jong Hyun

Minor Cast:

  • [MBLAQ] Lee Joon

Genre: Family, Romance, Angst, Friendship, AU, Thriller

Rating: PG-16/17

Disclaimer: Storyline, OC, and picture belong to me. The main idea of the story is inspired by manga/anime Black Butler a.k.a Kuroshitsuji. This fanfic is only a fictional story.

Note: Bagi yang tahu anime/manga Kuroshitsuji a.k.a Black Butler, pasti tahu kalau tokoh butler dalam cerita itu (re: Sebastian) is a demon. But in this fictional fic, the butler‘s character isn’t a demon like Sebastian. He is just a kind of human butler after all xD

***

[Chapter 2]

“Jadi?”

“Berapa banyak yang akan kau berikan padaku, Jung Yong Hwa?” timpal seorang laki-laki yang berdiri di hadapan Yong Hwa. Laki-laki itu memainkan sebuah pistol di tangannya dengan santai.

“Ck, kau bahkan memeras temanmu sendiri, Joon-a,” Yong Hwa berdecak kesal, sembari mengambil sebuah amplop di balik saku jasnya, kemudian memberikan amplop itu pada seorang lelaki yang tadi dipanggil ‘Joon’ oleh Yong Hwa.

“Bukannya bermaksud memeras, kau tahu sendiri kan ini pekerjaan yang berbahaya?” gumam laki-laki bernama Joon itu sembari menghitung jumlah uang yang ada di dalam amplop.

“Cukup banyak ‘kan?” tanya Yong Hwa lagi dengan nada mendesak. Ia benar-benar membutuhkan bantuan pria itu untuk menyelidiki sindikat pembunuh bayaran yang dicurigai telah bekerja sama dengan LD Corporation.

Joon menatap Yong Hwa tajam, kemudian mengangguk singkat. Jumlah yang diterima telah dirasa lebih dari cukup.

“Kita bertemu di tepi sungai Han besok malam. Jam sebelas.”

***

Jung Yong Hwa

Aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku. Suasana di sekitar sungai Han amatlah ramai, padahal jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ratusan, bahkan mungkin ribuan titik-titik lampu menerangi keadaan di sekitar sungai Han. Berpuluh-puluh pasangan muda-mudi saling menautkan tangan mereka, berjalan-jalan santai sembari mengobrol dengan senyum lebar terulas di wajah-wajah mereka. Aura hangat dan penuh kebahagiaan serasa menguar di udara. Kontras sekali dengan apa yang kurasakan saat ini.

Kusandarkan badanku pada pintu mobil, mataku tak henti-hentinya melirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Pukul sebelas lewat sepuluh menit. Dan si bodoh itu tidak kunjung menampakkan dirinya di hadapanku.

Orang yang kusebut si bodoh itu adalah salah seorang kenalanku semasa sekolah dulu. Lee Joon, atau yang lebih akrab kupanggil dengan sebutan Joon. Sejak sekolah dulu, dia memang sudah terkenal sebagai salah seorang anak berandalan di sekolah. Sering membolos, tetapi ajaibnya, dia jarang sekali mendapatkan nilai merah.

“Yong Hwa-ya!”

“Kau terlambat. Lima belas menit,” balasku dengan penekanan di setiap katanya. Joon mendengus kesal mendengar kata-kataku yang terkesan sinis itu. Tanpa membalas ucapanku, ia langsung menghampiriku dan membongkar tas miliknya di hadapanku.

“Jadi, apa rencana kita?”

“Kau lihat gedung itu?” tanya Joon padaku sembari menunjuk ke arah sebuah bangunan di seberang sungai Han. Bangunan itu tampang menjulang, dengan cat dindingnya yang berwarna abu-abu kusam. Berbanding terbalik dengan bangunan-bangunan lainnya, yang kebanyakan adalah gedung-gedung pencakar langit milik berbagai perusahaan ternama. Gedung yang ditunjuk oleh Joon itu terlihat seperti gudang tua yang sudah tidak terpakai lagi.

“Itu?”

“Ya. Dulu aku pernah masuk ke gedung itu sekali saat menghindari kejaran para berandal dari sekolah lainnya. Pada saat aku bersembunyi, ada seorang laki-laki tua yang menangkap basah dan kemudian mengusirku dari gedung itu. Baru-baru ini, aku mendapat informasi bahwa laki-laki itu adalah ketua dari Black Rose, salah satu organisasi pembunuh bayaran di Seoul.”

Aku mengangguk mengerti mendengar penjelasan Joon. Misi kita malam ini adalah mencari tahu kebenaran tentang hubungan kerjasama antara LD Corporation dan Black Rose. Jika hal itu terbukti, artinya kemungkinan bahwa LD Corporation adalah dalang dibalik pembunuhan orangtua Nona Cathy semakin besar.

“Aku akan masuk dan mencoba menyadap informasi yang kau butuhkan. Sementara kau, berjaga-jagalah di luar gedung itu,” perintah Joon sembari menyiapkan pistolnya.

“Kau yakin? Bagaimanapun juga, akulah yang membutuhkan informasi itu. Seharusnya aku saja yang masuk dan mancarinya,” bantahku sembari mengikuti langkah-langkah kaki Joon. Kini, kami sudah semakin dekat dengan bangunan yang lebih tampak seperti gudang tua itu.

“Dan mengambil resiko tertangkap dalam waktu singkat? Aku sudah pernah berkeliaran di dalam gedung itu, sudah pasti aku lebih mengenal seluk-beluknya walau hanya sedikit saja,” balas Joon dengan nada sarkastis. Harus kuakui, alasannya itu masuk akal. Aku hanya bisa mengangkat bahuku dengan pasrah dan menurutinya.

“Terserah kau saja.”

Kami berjalan mendekati halaman depan dari gedung itu. Suasana tampak sepi dan lengang. Menurut informasi yang diperoleh Joon, sebagian besar anggota Black Rose melaksanakan ‘aktivitasnya’ pada jam-jam ini. Bisa dibilang, ini adalah waktu yang tepat bagi kami untuk menyusup ke dalam markas Black Rose.

“Baik, aku akan masuk sekarang. Berjaga-jagalah di belakang meja itu,” saran Joon sembari menunjuk sebuah meja tua yang tergeletak di sudut ruangan lantai pertama. Dengan sigap, aku berlari dan menyembunyikan tubuhku di balik meja tua itu. Dari sudut mataku, aku bisa melihat punggung Joon yang mulai menghilang dari pandanganku seiring dengan langkah-langkahnya menaiki tangga menuju ke lantai dua.

Kugenggam pistolku erat-erat, sementara sebelah tanganku membawa ponsel yang kami jadikan alat komunikasi. Joon sudah berjanji akan memberiku kabar jika ia sudah menemukan informasi yang tepat. Detik demi detik berlalu dalam keheningan. Mataku tetap awas, tidak sedetik pun aku melepaskan pandanganku dari pintu masuk gedung tempat kami berada. Dalam hati, aku berharap agar tidak ada satupun anggota dari sindikat pembunuh bayaran ini yang memergoki kami.

Drrrrt!

Aku tersentak saat akhirnya merasakan getaran pada telapak tanganku. Buru-buru kubuka pesan yang dikirimkan oleh Joon itu.

From: Joon

Apa nama perusahaan yang kau curigai itu?

Huh? Tidak salah? Anak bodoh itu malah menanyakan hal seperti ini, alih-alih memberikan informasi yang berguna kepadaku. Tidak sabaran, aku pun segera membalas pesan singkat itu.

From: Joon

Bingo! Aku baru saja mendengar seseorang menyebutkan nama perusahaan yang kau curigai itu! Saat ini, aku sedang merekam semua percakapan mereka, kau tenang saja!

Sontak, aku menghembuskan napas lega saat membaca pesan itu. Akhirnya, Joon mendapatkan informasi yang benar-benar penting. Kali ini, aku sedikit menyandarkan tubuhku pada dinding di belakangku. Aku yakin, malam ini kami akan sukses dalam menyadap percakapan penting itu.

Dua puluh menit berlalu, dan aku tidak kunjung mendapatkan kabar lagi dari Joon. Sedikit perasaan cemas mulai membayangiku. Apakah Joon tertangkap? Ataukah percakapan itu memang terlalu panjang sehingga Joon terpaksa tinggal lebih lama di sana?

Dor! Dor!

Suara tembakan itu menembus gendang telingaku begitu saja, membuyarkan segala pikiranku. Panik, aku langsung bangkit berdiri dan mempersiapkan pistol di genggamanku. Keyakinanku tadi mulai memudar dan perasaan cemas menyergapku. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Joon? Bagaimanapun juga, akulah yang mengikutsertakannya dalam misi balas dendam ini. Aku yang bertanggung jawab atas nyawa Joon malam ini. Atas semua yang mungkin terjadi pada dirinya.

Drrrrt! One message received.

From: Joon

Keluar dari gedung, sekarang! Kita bertemu di dekat jembatan sungai Han! Cepat!

Aku membelalakkan mataku saat membaca pesan singkat itu. Instingku memerintahkanku untuk kabur dan menyelamatkan diri, namun kakiku seolah tidak mau menurut. Tidak, aku tidak bisa meninggalkan Joon sendirian di sini. Dia sudah berkorban demi kepentinganku, dan aku harus menolongnya.

Dengan berani, aku melangkah keluar dari balik meja persembunyianku. Kusipitkan mataku, berusaha melihat lebih jelas dengan bantuan cahaya yang remang-remang. Suara langkah kaki dan tembakan itu semakin mendekat, aku bisa mendengarnya dengan jelas. Kutodongkan pistolku ke arah tangga, tempat dimana Joon dan musuh-musuh kami mungkin akan segera muncul.

DORR!

Tepat saat Joon menginjakkan kakinya di lantai dasar, aku menarik pelatuk pistolku sekuat tenaga. Seorang laki-laki berbadan besar yang sedang mengejar Joon langsung roboh saat terkena tembakanku.

Ya! Lari, bodoh!” suara teriakan Joon membuyarkan konsentrasiku. Tampak di belakang laki-laki berbadan besar itu, serombongan pria berwajah garang lainnya sedang menodongkan pistolnya ke arah kami. Salah satu dari mereka mengarahkan ujung pistolnya ke arah Joon, siap melepaskan tembakan.

“TIDAAAK!!!”

DORR! DORR!!

Detik itu juga, aku bisa merasakan sebuah benda asing dan panas menembus kulitku. Rasa sakit dan perih itu langsung menyebar di sekujur lenganku, membuat tangan kiriku mati rasa. Sesuatu yang lengket dan berbau anyir mengalir membentuk jejak-jejak berwarna kemerahan di sekujur lengan kiriku.

“SIALAN!”

Aku mendengar Joon meraung memaki di sampingku. Tidak kalah cepat dari para penjahat itu, Joon menyambar pistolku dan menggunakannya untuk menembaki para penjahat yang sedang mengejar kami. Sebelah lengan Joon terangkat, mendorongku agar segera berlari. Susah payah, aku berusaha menutup luka di lengan kiri atasku dengan tangan kanan, dan berlari menuju pintu keluar. Kudengar langkah-langkah kaki Joon di sampingku, seiring dengan rentetan tembakan yang terus menggema di udara.

***

 “KAU INI BODOH YA?”

Aku hanya bisa meringis menahan sakit saat mendengar bentakan Joon yang menggema di dalam mobilku. Saat ini, kami telah duduk dengan aman di dalam mobil, berhasil kabur dari para pembunuh bayaran itu. Joon sedang berusaha untuk mengeluarkan peluru yang tadi menembus lengan atasku, sambil terus-menerus mengeluarkan makian dan membentakku.

“Seharusnya kau menurutiku dan langsung pergi! Bukannya malah membantuku! Aku bisa mengurus diriku sendiri!”

“Bagaimanapun juga, aku bertanggung jawab atas keselamatan dirimu, bodoh!” teriakku tak mau kalah. Padahal, aku berniat untuk membantunya melawan para penjahat itu tadi. Kenapa dia malah terus-menerus memarahiku?

“Ck, sudah kubilang, aku bisa mengurus diriku sendiri! Aku sudah terbiasa menghindari tembakan seperti itu dan kabur dari para penjahat macam mereka! Coba bayangkan, bagaimana kalau orang-orang itu berhasil membunuhmu, hah? Semua yang kita lakukan malam ini akan sia-sia! Atau, bagaimana jika mereka mengenali wajahmu? Kau itu termasuk salah satu butler yang cukup terkenal. Mereka akan dengan mudahnya mencari data dirimu, lalu mengejarmu sampai kau mati!”

Aku terperangah mendengar penjelasan panjang lebar Joon itu. Harus kuakui, penjelasannya itu cukup masuk akal juga. Aku mengatupkan mulutku rapat-rapat, menolak untuk mendebatnya lagi. Joon bisa menjadi sangat berisik dan menyebalkan disaat ada orang yang menentang jalan pikirannya.

“Ini! Lagipula kau sudah membayarku. Tentu saja aku akan bekerja sesuai dengan bayaran yang sudah kuterima,” lanjut Joon sembari melemparkan sebuah alat perekam kepadaku. Aku menekan tombol play pada alat perekam itu, dan terdengar sebuah suara berat yang sedang menyebutkan nama LD Corporation.

Seulas senyum puas mulai tersenyum di bibirku. Misi malam ini sukses, sama seperti perkiraanku tadi. Aku yakin, Nona Cathy pasti akan puas mendengarkan informasi yang kudapat ini. Kulirik Joon yang masih sibuk mengomel tanpa suara dan sibuk mengemudikan mobil yang kami tumpangi.

“Joon-a, kau tidak keberatan ‘kan mengantarkan aku dan mobil ini sampai ke rumah Nona Cathy? Aku akan membayarmu lebih nanti.”

***

Catherine Kim

Berulang kali aku berjalan mondar-mandir di depan kamar Yong Hwa oppa. Jarum jam sudah menunjukkan pukul satu malam, sementara Yong Hwa oppa sama sekali belum muncul di hadapanku. Aku khawatir. Khawatir pada keselamatan butler-ku, sekaligus orang yang sudah kuanggap sebagai keluargaku sendiri.

“Nona, tidakkah sebaiknya Anda tidur? Saya akan memberitahu Anda jika Yong Hwa pulang nanti,” tegur salah seorang pelayanku yang sedari tadi terus-menerus melemparkan sorot cemas ke arahku. Aku menggeleng tegas.

Shirheo! Aku akan menunggu sampai Yong Hwa oppa pulang!” seruku keras kepala. Entah kenapa, malam ini aku sama sekali tidak bisa tidur akibat memikirkan Yong Hwa oppa. Padahal, Yong Hwa oppa sudah sering keluar malam-malam demi mengumpulkan informasi pembunuhan orangtuaku. Namun, hari ini rasanya berbeda. Hari ini, aku merasa lebih cemas dan panik, berbeda dengan hari-hari biasanya.

“Nona Cathy?”

Akhirnya! Aku mengembuskan napas lega begitu mendengar suara yang memanggilku itu. Suara Yong Hwa oppa. Dengan cepat, aku berlari menuju ruangan depan rumahku. Tampak Yong Hwa oppa berdiri di sana, dengan senyum lebar terukir di bibirnya.

Oppa!”

“Nona, ini data yang berhasil saya…”

“Apa yang terjadi pada lenganmu?” potongku cepat sebelum Yong Hwa sempat menyelesaikan kalimatnya. Aku berjalan mendekati Yong Hwa oppa, sebelah tanganku terangkat hendak memeriksa keadaan lengan kirinya. Jas hitamnya tampak berlubang, dan kemeja putih yang dikenakannya ternoda oleh darah.

“Bukan masalah besar, Nona. Saya… hanya tergores sedikit.”

Aku mengangkat alisku, meragukan kata-kata Yong Hwa oppa barusan. Luka itu tidak tampak seperti luka goresan. Dengan hati-hati, aku berusaha membuka jas yang dia kenakan kemudian mengamati lukanya lebih dekat.

“Astaga! Kau tertembak, oppa? Dan kau bilang ini hanya luka gores?” seruku marah. Yong Hwa oppa hanya bisa meringis saat melihat amarahku yang meledak.

“Tidak perlu dibesar-besarkan, Nona. Tadi teman saya, Joon, sudah membantu saya untuk mengobati luka ini.”

“Ck, sudah kubilang agar kau berhati-hati bukan?”

“Maafkan saya, Nona Cathy. Tetapi, saya berhasil mendapatkan informasi yang Anda perlukan,” tambah Yong Hwa oppa. Ia mengulurkan sebuah alat perekam kepadaku. Aku menerima alat itu, sementara Yong Hwa oppa melemparkan senyum menenangkan ke arahku, seolah berusaha memberitahuku bahwa luka tembakan itu sebanding dengan informasi yang baru saja ia dapatkan.

“Aku tidak akan mendengarkan rekaman ini sekarang. Aku sudah mengantuk,” gumamku pelan. Tanpa memedulikan ekspresi wajah Yong Hwa oppa, aku membalikkan tubuhku dan melangkah menuju kamar tidurku.

“Biar saya antar Nona ke kamar…”

“Tidak perlu. Oppa, kau tidur dan beristirahat saja. Pergilah ke rumah sakit kalau lukamu belum juga membaik. Kau tidak perlu terus-menerus mengurusku. Aku bisa sendiri.”

“Nona, tapi saya baik-baik…”

“Berhenti mengatakan kau baik-baik saja! Pergilah beristirahat dan obati lukamu sampai kau sembuh. Ini perintah, Jung Yong Hwa!” bentakku keras. Aku bisa merasakan bulir-bulir air mata yang mengancam keluar dari sudut-sudut mataku. Kupercepat langkah kakiku, dan kubanting pintu kamarku hingga menutup. Aku membenamkan kepalaku di atas bantal, air mataku mulai mengalir menuruni kedua pipiku.

Yong Hwa oppa bodoh! Tidakkah kau tahu bahwa aku mengkhawatirkanmu? Kau memang butler-ku dan aku adalah majikanmu. Tapi aku tidak pernah menganggap hubungan di antara kita sebagai pekerja dan majikan, tidak sekalipun! Meskipun oppa selalu berkata bahwa ia bersedia melakukan apa saja untuk membantuku, aku tidak pernah memintanya untuk mengorbankan keselamatan dirinya sendiri. Yong Hwa oppa adalah orang yang sudah kuanggap sebagai keluargaku sendiri, kakak laki-laki sekaligus pelindungku sejak aku masih kecil dulu.

Ingatanku melayang ke masa lalu. Ke masa-masa dimana semuanya berjalan dengan normal dan hari-hariku selalu dipenuhi dengan canda tawa.

Ayah Yong Hwa oppa dulu juga bekerja sebagai butler keluargaku. Yong Hwa, yang memang sudah tidak memiliki ibu sejak kecil, tinggal di rumahku bersama dengan ayahnya yang setia mengabdi pada ayahku. Meskipun jarak umur kami lumayan berjauhan, dengan cepat kami menjadi dekat. Yong Hwa oppa sudah seperti kakak bagiku, yang merupakan anak satu-satunya dari keluarga Kim. Orangtuaku pun bahkan tidak berkeberatan untuk membiayai sekolah Yong Hwa oppa.

Sampai suatu hari, ayah Yong Hwa oppa meninggal dunia akibat penyakit kanker yang ternyata dideritanya. Yong Hwa –yang sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini –memilih untuk melanjutkan pengabdian ayahnya kepada keluargaku. Waktu itu, ayahku dengan senang hati menerima keputusan Yong Hwa oppa, bahkan menunjuk Yong Hwa oppa agar menjadi butler pribadiku. Kedua orangtuaku percaya sepenuhnya pada Yong Hwa oppa. Mereka yakin bahwa ia dapat melindungiku dan juga menjagaku.

Dan setahun yang lalu, ketika kedua orangtuaku meninggal akibat dibunuh, aku semakin bertambah dekat dengan Yong Hwa oppa. Ia adalah satu-satunya orang yang mengerti diriku, mengerti perasaanku. Ia adalah teman dekatku semenjak aku kecil, orang yang selalu menjagaku. Melihat Yong Hwa oppa menyiapkan keperluanku setiap pagi, membuatku kembali merasakan kasih sayang seorang ibu. Melihat Yong Hwa oppa yang selalu mengantarku kemana pun aku pergi, rasanya seperti mendapati sosok ayahku yang hidup kembali. Aku sadar, aku membutuhkannya. Ia satu-satunya orang yang bisa menggantikan segala hal yang pernah pergi menjauh dari hidupku. Kasih sayang, perhatian, dan perlindungan.

Tok! Tok! Tok!

                “Nona Cathy, boleh saya masuk?” suara Yong Hwa oppa terdengar dari balik pintu kamarku. Buru-buru aku menghapus sisa-sisa airmataku, sebelum menjawab permintaannya.

“Masuklah, tidak dikunci kok.”

“Maafkan saya, Nona. Saya tidak bermaksud membuat Nona khawatir,” gumam Yong Hwa oppa pelan. Ia berjalan menghampiriku, kemudian menepuk-nepuk puncak kepalaku dengan lembut. Aku menyukainya. Aku selalu suka disaat Yong Hwa oppa memerlakukanku seperti ini.

“Tidak apa. Hanya saja… tolong jangan membuatku khawatir lain kali. Kau memang melaksanakan perintahku, tapi aku tidak ingin kau terluka.”

“Baik, Nona. Saya mengerti. Saya…”

“Berjanjilah padaku, kau akan lebih berhati-hati. A…aku tidak bisa membayangkan jika kau tertembak lalu… lalu kemungkinan yang lebih buruk dari sekadar terluka terjadi padamu. Aku…” lagi-lagi aku merasakan airmataku kembali mengalir deras. Yong Hwa oppa menghela napas perlahan, kemudian menarikku ke dalam pelukannya.

“Saya berjanji, Nona Cathy.”

***

Lee Jong Hyun

Kupetik senar gitarku perlahan, sementara pandangan mataku menerawang ke arah luar sana. Hari sudah malam, dan lagi-lagi ayahku tidak pulang ke rumah. Hal yang sudah biasa terjadi. Aku tahu kalau ayahku adalah orang yang sibuk, tetapi tidak bisakah ia sedikit lebih memerhatikan anaknya ini?

Aku mendesah keras, jari-jariku tanpa sadar mulai memainkan sebuah lagu yang sering didendangkan oleh ibuku dulu. Pikiranku melayang, mengingat-ingat memori masa laluku. Seandainya saja aku bisa kembali ke masa empat tahun yang lalu. Masa-masa indah, disaat ibuku masih hidup.

Kuarahkan manik mataku ke sebuah lukisan besar yang terpajang di dinding kamarku. Wajah-wajah bahagia milikku, ayahku, dan ibuku balik memandangku dengan senyum bahagia terukir di bibir mereka masing-masing. Aku merindukannya… Aku rindu saat-saat dimana ada seseorang yang memerhatikanku.

Ibuku meninggal empat tahun yang lalu, disaat aku masih bersekolah di London. Ketika aku menghadiri pemakaman ibuku, ayah hanya berkata bahwa ibu meninggal karena kecelakaan. Dan sampai sekarang, aku tidak pernah tahu bagaimana tepatnya kecelakaan itu bisa terjadi. Ayahku tidak pernah mau memberikan informasi yang jelas kepadaku. Selama ini, aku hanya bisa menduga-duga bahwa ayahku menyembunyikan sesuatu.

Kupejamkan mataku, kali ini ingatanku berputar ke hari-hari yang baru saja kulalui di Seoul. Atas permintaan ayahku, aku pun pindah ke Seoul. Kupikir tidak ada salahnya, mengingat ayahku yang sudah cukup lama hidup sendiri sejak kematian ibuku. Lagipula, aku menjalani hari-hari yang lumayan menyenangkan di kota ini. Terlebih, salah seorang gadis di sekolahku telah berhasil menarik perhatianku dan juga membuatku merasa penasaran setengah mati.

Kira-kira, kapan gadis itu mau lebih membuka dirinya kepadaku dan juga memuaskan rasa penasaranku? Sudah beberapa hari ini, dia menjadi semacam pemandu jalan bagiku yang masih belum hapal letak ruang-ruang kelas di sekolah. Otomatis, kami hampir selalu melewatkan waktu bersama dan seharusnya aku juga bisa lebih mengenalnya. Tapi pada kenyataannya, tidak.

Catherine Kim, kapan kau akan berhenti membuatku penasaran seperti ini?

***

Advertisements

8 thoughts on “[2nd Chapter] Vengeance

  1. kimsungrin

    apa jangan2 eomma jonghyun meninggal gara2 appanya itu?
    malangnya nasibmu hyun oppa, aku akan menemanimu dirumah yeobo ahahaha.
    lanjutlah meer, panjangin lagi ne? kkk~ xD

    Like

    • tya_EunRim

      *lempar kak meg pake youngsaeng (?)*
      nggak usah nemenin di rumah kak, udah ada aku *usir kak meg* :p

      whaaaat? panjangin lagi?
      ini aja udah lebih panjang 2 halaman word dibanding sama chapter 1 dulu kak -___-“

      Like

      • kimsungrin

        hahaha xD parah yeee padahal kayanya masih sama deh ama yang part 2 panjangnya *dijedotin amer*
        aku suka peran yonghwa disini, cool sekali beliau (?) abisnya jonghyun masih sedikit kesohor (?) nya wkwkwkw
        lanjut ppali ^^

        Like

      • tya_EunRim

        sama kak~ aku juga suka sama yonghwa dimari xDD
        lanjutnya kalo udah kelar ulangan ya kak u,u

        ulangan di sekolah + laporan + tugas numpuk nih T T

        Like

  2. Mer, ini pertanyaan ga penting, itu yg jadi poster ( ?) ceweknya juniel bukan?

    Masih nebak-nebak nih hemm kayaknya sih cathy bisa demen ama jonghyun. Trus kayaknya jonghyun itu anaknya yg punya LD. *sok tau* wkwk

    Sekian mer komen gaje, langsung ke next chapter xD

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s