[1st Chapter] Vengeance

Standard

Vengeance

Main Cast:

  • [CNBlue] Jung Yong Hwa
  • [OCs] Catherine Kim
  • [CNBlue] Lee Jong Hyun

Minor Cast: still unknown

Genre: Family, Romance, Angst, Friendship, AU, Thriller

Rating: PG-16/17

Disclaimer: Storyline, OC, and picture belong to me. The main idea of the story is inspired by manga/anime Black Butler a.k.a Kuroshitsuji. This fanfic is only a fictional story.

Note: Bagi yang tahu anime/manga Kuroshitsuji a.k.a Black Butler, pasti tahu kalau tokoh butler dalam cerita itu (re: Sebastian) is a demon. But in this fictional fic, the butler‘s character isn’t a demon like Sebastian. He is just a kind of human butler after all xD

***

[Chapter 1]

One year later…

Matahari pagi tidak kunjung menampakkan keseluruhan tubuhnya. Di ufuk timur, semburat-semburat kemerahan baru saja muncul, memecah kegelapan malam. Pagi baru saja akan datang, tetapi aktivitas-aktivitas di rumah besar itu telah dimulai sejak tadi.

Seorang laki-laki muda berusia dua puluhan tahun sedang berdiri di tengah dapur yang serba mewah. Dengan cekatan, ia mempersiapkan segala kebutuhan pagi untuk majikannya. Di seluruh penjuru rumah, beberapa pegawai lainnya pun tampak sibuk menyapu, menggosok, mengelap, dan memastikan tidak ada setitik noda pun yang bersarang di antara perabot-perabot rumah tangga yang ada. Semuanya berjalan begitu normal, seolah tidak ada yang menghiraukan fakta bahwa setahun yang lalu, sebuah pembunuhan kejam telah terjadi di rumah besar nan mewah tersebut.

Pelaku dari kejadian satu tahun yang lalu memang belum ditemukan hingga kini. Namun di bawah tangan cekatan dan terampil milik Yong Hwa –sang butler keluarga –rumah itu berhasil dikembalikan ke kondisinya semula. Semua pegawai baru di rumah itu tidak ada yang menyadari realita mengerikan yang pernah terjadi di tempat mereka bekerja sekarang. Hanya dua orang di rumah itu yang mengetahui kejadian sebenarnya, dan kini sedang merencanakan pembalasan dendam mereka.

Catherine Kim dan Jung Yong Hwa.

Yong Hwa meletakkan setangkup roti sandwich di atas piring, kemudian bergegas membuat susu hangat. Setelah ini, tugasnya adalah membangunkan sang Nona Besar dan menyiapkan segala keperluan sekolahnya. Tugas-tugas pagi yang terlihat wajar untuk dilakukan oleh seorang butler. Tugas-tugas kecil untuk menutupi tugas Yong Hwa yang sebenarnya. Mencari informasi tentang pembunuhan yang terjadi setahun lalu.

Yong Hwa mendesah keras. Sudah setahun ini ia menggali informasi dari berbagai sumber, namun hasilnya sama saja. Belum ada bukti kuat yang menunjukkan siapa pelaku sebenarnya dan apa motif mereka dalam membunuh kedua orangtua Catherine. Bahkan polisi pun tampaknya mulai menyerah dalam mengusahakan penyelesaian kasus ini.

Tok! Tok! Tok!

Yong Hwa mengetuk pintu kamar Catherine perlahan, kemudian mendorong pintunya hingga terbuka. Manik matanya dengan cepat menangkap sosok Catherine yang sedang duduk bersila di atas kasurnya, kedua bola matanya bergerak cepat membaca berkas-berkas yang ada di hadapannya.

“Nona Cathy, Anda sudah bangun?” sapa Yong Hwa sembari melangkah masuk. Dari seluruh pekerja di rumah itu, hanya Yong Hwa-lah yang diijinkan untuk memanggil gadis itu dengan nama kecilnya, Cathy.

“Ya. Oppa, ini berkas-berkas yang kau kumpulkan semalam?”

Yong Hwa melangkah mendekati Catherine, kemudian ikut membaca kertas-kertas yang sedang diteliti oleh Catherine. Kertas itu berisi informasi-informasi yang telah Yong Hwa kumpulkan dari kantor kepolisian setempat.

“Benar, Nona. Tapi seperti yang Anda lihat, para polisi…”

“Belum banyak mendapatkan perkembangan…” gumam Catherine sambil membalik-balik tumpukan kertas di hadapannya dengan kesal.

Yong Hwa memandang wajah murung gadis di hadapannya itu. Wajah yang tidak mengenal kata lelah, sekaligus putus asa. Gadis itu masih tetap pada keinginannya setahun yang lalu, membalaskan dendam keluarganya.

“Sebaiknya Nona bersiap-siap sekarang agar tidak terlambat. Saya akan mencari informasi lebih lanjut lagi setelah mengantar Anda ke sekolah.”

“Kau benar… Dan satu lagi, Oppa, sebaiknya kita mengumpulkan juga data-data mengenai para pesaing bisnis keluargaku… Aku masih berpendapat bahwa motif di balik kasus ini adalah rasa iri terhadap perusahaan milik Papa,” lanjut Catherine sambil bangkit berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.

“Saya mengerti, Nona. Akan segera saya laksanakan.”

***

Catherine Kim

English class. My first subject for this day.

Sambil berusaha menahan kuap, aku melangkahkan kakiku memasuki ruang kelas yang masih kosong melompong. Hari masih terlampau pagi, hanya ada segelintir anak –mungkin jumlahnya kurang dari sepuluh –yang sudah berkeliaran di seluruh penjuru sekolah.

Kuletakkan tasku pada deret ketiga, tepatnya di atas bangku yang berada paling dekat dengan jendela. Setidaknya, pemandangan luar bisa membantuku untuk mengusir rasa bosan di tengah pelajaran nanti.

Bukan karena guru bahasa Inggrisku yang tidak menyenangkan, bukan pula karena materi pelajaran yang terlalu menyebalkan. Hanya saja, aku sudah terlalu bosan untuk memelajari bahasa ini. Seorang Catherine Kim yang merupakan keturunan Korea-Amerika, dan juga tinggal di Amerika hampir sepuluh tahun lamanya. Yeah, itulah aku.

Sayang sekali, bahasa Inggris merupakan pelajaran wajib di sekolahku –yang kebetulan adalah salah satu sekolah bertaraf internasional terbaik di seluruh Korea Selatan. Mau tidak mau, aku harus mengikuti pelajaran bahasa Inggris, mengulangi materi yang sama untuk kesekian kalinya. Bukan berarti aku mengeluh, lagipula nilaiku selalu berada di atas rata-rata.

Tap… tap… tap…

Terdengar langkah-langkah kaki yang sepertinya berjalan menuju kelas ini. Dan benar saja, detik berikutnya, seorang laki-laki yang belum pernah kulihat sebelumnya berjalan memasuki kelas. Salah kelaskah? Aku membatin dengan heran. Laki-laki itu juga memasang ekspresi yang kurang lebih hampir sama denganku. Ia memandang ke seluruh penjuru kelas dengan raut wajah bingung.

“Hei, kau salah kelas?”

No, I’m not. English class, right? I’m a new student here,” jawab laki-laki itu sambil memamerkan senyumnya. Murid baru rupanya, pikirku sembari mengamatinya dari atas ke bawah. Harus kuakui, bahasa Inggris laki-laki ini sangatlah lancar. Pindahan dari luar negeri, mungkin?

Right. Duduklah di kursi manapun yang kau suka,” perintahku singkat. Aku tidak terlalu suka berbasa-basi dengan orang lain –terlebih dengan yang baru saja kukenal. Lebih tepatnya, aku menutup diriku dari pergaulan yang ada di sekolah ini sejak kematian tragis kedua orangtuaku. Satu-satunya yang bisa kupercayai di dunia ini adalah butler-ku, Jung Yong Hwa.

Laki-laki itu menarik kursi yang ada di sebelahku, kemudian duduk di sana. Terserahlah, pikirku tak peduli. Aku tidak pernah berminat untuk mengurusi hal-hal sepele seperti ‘dengan siapa aku akan duduk di kelas nanti selama pelajaran berlangsung’. Tidak ada gunanya. Terlebih, biasanya aku hanya akan mengabaikan mereka.

Kulipat kedua lenganku, menjadikannya bantal untuk alas kepalaku. Kupejamkan mataku erat-erat, sementara otakku sibuk berpikir keras, mencerna segala informasi yang diberikan oleh Yong Hwa padaku tadi pagi. Salah satu dari informasi-informasi tersebut menyatakan bahwa pembunuh orangtuaku kemungkinan besar adalah pembunuh yang sudah handal dan berpengalaman. Hal itu terlihat dari betapa rapinya rencana pembunuhan itu dilaksanakan, dan juga kenyataan bahwa siapa pelaku kejadian itu tidak kunjung terungkap.

Jadi, apa lagi yang harus kulakukan sekarang? Kasus ini sudah kuselidiki selama setahun lamanya, dan aku tidak kunjung mendapatkan titik terang. Yang kudapatkan selama ini hanyalah informasi-informasi singkat mengenai pembunuhan itu sendiri. Sama sekali tidak ada petunjuk yang mengarah ke pelakunya.

Sial! Aku tidak perlu mengetahui bagaimana pembunuhan itu bisa berlangsung, bagaimana jalan kejadiannya! Aku hanya ingin tahu siapa pelakunya, agar aku bisa membalaskan dendamku!

Good morning, class,” suara berat milik Mr. Chris menarik perhatianku kembali ke dalam kelas.

We have a new student today. Please introduce yourself, Mr. Lee,” sayup-sayup aku mendengar suara Mr. Smith memberikan perintah kepada murid baru itu. Aku menolehkan kepalaku dan melihat anak baru itu sudah berdiri tegap di balik mejanya.

My name is Lee Jong Hyun. I came from London. Nice to meet you all,” ucap laki-laki itu lancar sembari membungkuk sopan, sebelum akhirnya ia kembali duduk di kursinya.

Okay, class, Mr. Lee will be one of your friends from now. Also, I want to ask for Miss Catherine’s help before we start our lesson.”

Bantuan? Bantuan apa?

What’s the matter, Sir?” tanyaku sesopan mungkin. Entah kenapa firasatku mendadak tidak enak.

It seems like both of you and Mr. Lee already known each other, right? Anyway, he is sitting next to you, Miss Catherine. So, I want you to escort Mr. Lee for his first week at school.

APA?! Mengantar siswa baru ini berkeliling sekolah selama seminggu pertama? Hal terakhir yang ingin kulakukan di sekolah ini adalah bergaul terlalu dekat dengan murid-murid lainnya. Dan sekarang, aku harus selalu bersama dengan murid baru ini selama seminggu penuh?

“Miss Catherine?”

Yes, Mr. Chris. I understand,” jawabku singkat. Mau bagaimana lagi? Aku tidak ingin guru-guru memberiku cap sebagai anak sombong dan tidak tahu diri. Aku memang pendiam dan tidak ingin berhubungan dengan siapa pun di sekolah ini. Individualistis, itulah aku. Tapi tidak, aku bukan orang yang sombong dan semena-mena.

Baiklah kalau begitu. Lagipula aku tidak punya pilihan lain, bukan? Seminggu saja. Setelah seminggu berlalu, aku akan kembali menjauhi pemuda bernama Lee Jong Hyun itu. Aku melirik Jong Hyun yang duduk di sebelahku dan kini sedang melempar senyum manis padaku.

“Mohon bantuannya, Catherine-ssi.”

Aku memalingkan wajahku tanpa membalas senyumnya itu. Sepertinya seminggu ke depan akan menjadi hari-hari terberatku di sekolah ini. Murid baru yang terlalu ramah dan sepertinya mudah bergaul dengan semua orang. Great! Aku hanya bisa berharap laki-laki bernama Lee Jong Hyun itu tidak akan berusaha menjadikan diriku sebagai salah satu temannya.

***

Aku menghentak-hentakkan kakiku dengan kesal di sepanjang koridor menuju kelas Matematika. Bagaimana bisa laki-laki yang sedang berjalan di sampingku ini memiliki jadwal pelajaran yang sama denganku selama seharian penuh? Selain itu, dugaanku sebelumnya tentang laki-laki ini rupanya benar. Ia adalah tipe orang yang ramah dan mudah bergaul. Sudah tak terhitung lagi berapa kali ia mengajakku mengobrol, yang tentu saja kuabaikan.

Tiba-tiba kurasakan saku seragamku bergetar. Aku menghentikan langkahku dan melihat satu pesan masuk yang terpampang di layar ponselku. Dari Yong Hwa oppa.

From: Yong Hwa

Nona, saya menemukan satu informasi penting mengenai kasus pembunuhan orang tua Anda.

Sontak mataku melebar saat membaca kata demi kata yang tertulis dalam pesan itu. Aku harus mengetahui informasi itu, sekarang. Lupakan tentang tugasku sebagai pengawas seorang Lee Jong Hyun di sekolah ini. Laki-laki ini tidak akan mati begitu saja hanya karena kutinggal pergi bukan?

To: Yong Hwa

Jemput aku di sekolah, sekarang!

Sent.

Buru-buru aku menoleh ke arah Jong Hyun yang ikut berhenti melangkah dan memandangiku dengan tatapan bingung.

“Maafkan aku Jong Hyun-ssi. Mendadak aku ada keperluan… err, menyangkut keluargaku. Aku harus pulang sekarang. Tidak apa ‘kan? Ruang kelas Matematika ada di sebelah sana,” jelasku cepat. Jong Hyun tampak bingung mendengar kata-kataku yang mungkin terkesan berantakan karena terburu-buru, namun laki-laki itu akhirnya mengangguk juga.

“Baiklah. Sampai bertemu besok kalau begitu,” timpal Jong Hyun sambil berjalan melewatiku menuju kelas Matematika. Aku menghela napas panjang, lega. Akhirnya aku bebas dari laki-laki itu dan bisa kembali menyelidiki kasus pembunuhan orangtuaku. Semoga saja kali ini Yong Hwa oppa membawa informasi yang benar-benar berguna.

***

Jung Yong Hwa

Kuedarkan pandanganku ke seluruh penjuru halaman sekolah, menunggu kemunculan Nona Catherine. Hari ini, penyelidikanku bisa dibilang membuahkan hasil. Setelah cukup lama bersusah payah, akhirnya aku berhasil menghubungi salah satu sahabat baikku yang kini bekerja sebagai jaksa. Sahabatku itu pernah mengurus sebuah kasus yang berhubungan dengan salah satu perusahaan terbesar di negeri ini. Dugaanku selama ini, perusahaan itu memiliki sangkut paut dengan kasus pembunuhan kedua orangtua Nona Catherine. Dan juga, fakta-fakta yang baru saja kuketahui dari teman baikku tadi rupanya cukup untuk mendukung kecurigaanku selama ini.

Oppa!”

Aku menoleh dan mendapati Nona Catherine sudah duduk manis di kursi penumpang. Rupanya aku terlalu sibuk melamun sampai-sampai tidak menyadari bahwa Nona Cathy sudah masuk ke dalam mobil.

“Maafkan saya karena telah menganggu sekolah Anda, Nona,” ucapku meminta maaf.

“Tidak apa kok, Yong Hwa oppa. Malahan aku bersyukur karena punya alasan untuk kabur dari sekolah,” timpal Nona Catherine sambil terkikik senang. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku melihatnya. Memang sih, majikanku ini sangatlah pintar. Aku yakin bahwa tidak masuk sekolah selama sehari saja tidak akan membuatnya ketinggalan pelajaran. Alasan itulah yang selalu dikemukakan olehnya disaat aku menegurnya tentang masalah sekolah. Dan harus kuakui, ia benar.

“Jadi?”

“Ini Nona. Seperti dugaan saya selama ini, rupanya perusahaan itu memang banyak menggunakan cara-cara yang kotor dalam bisnisnya. Hal itu tidak menutup kemungkinan bahwa mereka menyimpan rasa iri pada perusahaan orangtua Anda, kemudian memutuskan untuk melakukan aksi pembunuhan itu, bukan?” ucapku seraya memberikan sebuah map berisi file-file­ yang tadi kudapatkan.

“LD Corporation, right?”

“Ya, salah satu perusahaan terbesar di Seoul. Bergerak di bidang pariwisata dan juga pelayaran. Tapi berkas-berkas itu mengatakan, bahwa tidak semua keberhasilan mereka ditempuh dengan cara baik-baik.”

“Hmmm, korupsi pada tahun 2008 lalu, namun pimpinan perusahaan itu dibiarkan begitu saja? Mempekerjakan anak di bawah umur? Mwo?! Mereka juga bekerja sama dengan salah satu sindikat pembunuh bayaran?” pekik Nona Cathy kaget sembari mempelajari kertas-kertas tersebut.

“Dan mereka tidak mendapatkan hukuman apapun hingga kini?” tanya Nona Cathy gusar. Aku bisa mendengar nada suaranya yang terlihat begitu kesal dan dipenuhi emosi.

“Belum, Nona. Sepertinya polisi belum memiliki cukup bukti untuk membawa perkara-perkara tersebut ke pengadilan. Perusahaan itu hampir selalu bisa mengelak dari tuduhan yang diberikan kepada mereka.”

Nona Catherine mengangguk mengerti mendengar penjelasanku, kemudian ia kembali larut dalam kertas-kertas tersebut. Aku membiarkannya untuk berpikir sejenak dan memutuskan langkah apa yang harus kami ambil setelahnya. Wajah Nona Catherine terlihat begitu serius, membuatnya seakan-seakan tampak beberapa tahun lebih tua daripada usianya yang sebenarnya. Dan setiap melihat wajah itu, aku selalu berharap agar kasus ini cepat terselesaikan, sehingga Nona Catherine bisa kembali hidup tenang dan tersenyum bahagia. Satu-satunya hal yang kuinginkan di dunia saat ini adalah mengembalikan senyum milik Nona Cathy.

“Sepertinya… kita akan menyelidiki yang satu ini terlebih dahulu,” suara Catherine menyentakkanku kembali pada alam sadarku. Aku menoleh dan menatap sebuah artikel yang disodorkan olehnya ke depan wajahku. Headline bertuliskan ‘Benarkah Direktur LD Corporation Bekerja Sama dengan Sebuah Sindikat Pembunuh Bayaran?’ terpampang jelas di bagian atas kertas itu.

“Yang ini, Nona?”

“Ya. Meskipun artikel ini tampak seperti gosip belaka saja, tetapi paling tidak kita harus menyelidiki kebenarannya. Jika apa yang tertulis dalam artikel ini adalah benar dan bukan hanya pekerjaan orang-orangyang iseng saja, berarti kecurigaan kita terhadap perusahaan itu akan semakin kuat.”

“Saya mengerti, Nona. Kebetulan, saya memiliki seorang teman yang mengetahui banyak hal tentang sindikat-sindikat kejahatan yang ada di kota ini. Saya akan mencoba mencari informasi darinya,” jawabku dengan yakin. Aku sendiri memang sudah merencanakan untuk menyelidiki gosip itu, bahkan sebelum sang Nona Besar memerintahkannya padaku.

“Baiklah kalau begitu, oppa. Itu artinya, kita sudah mendapatkan kemajuan yang cukup berarti kan dalam kasus ini?” tanya Catherine bersemangat. Aku mengangguk dan melemparkan senyum kecilku ke arahnya.

“Saya akan berusaha keras untuk menyelesaikan kasus ini… dan membantu Anda untuk membalaskan dendam,” tambahku mantap.

“Terima kasih banyak, Oppa. Karena kau mau tetap berada di sisiku pada masa-masa susah seperti ini.”

“Nona…” panggilku pelan. Aku tahu bagaimana perasaan Nona Cathy selama ini. Ia selalu berusaha terlihat tegar dan baik-baik saja di hadapanku, padahal sebenarnya ia sangatlah lemah dan kesepian.

“Ah! Lebih baik kita pulang saja sekarang! Lagipula aku sudah lapar!” potong Nona Catherine dengan nada yang dipaksakan terdengar ceria. Aku mengangguk dan buru-buru menjalankan mobil yang sedang kami tumpangi.

Tenang saja Nona, aku, Jung Yong Hwa, tidak akan pernah meninggalkan sisimu barang sekalipun saja. Karena aku adalah butler-mu, pelindungmu, dan orang yang akan selalu membantumu.

Terlebih lagi, karena aku adalah seorang butler yang telah melanggar salah satu aturan utama dalam dunia butler.

Catherine Kim, aku akan melakukan apapun untukmu, karena aku mencintaimu.

***

Advertisements

13 thoughts on “[1st Chapter] Vengeance

  1. 1st 🙂

    nice d^^v you have improved dear! *clap clap*

    anyway, just a little correction, boleh di pake dan boleh tidak, bahasa Korea nya ‘Butler’ itu ‘Jibsa’, and since Yong Hwa itu statusnya ‘Pekerja’, harusnya sih Catherine manggil dia ‘Jibsa’ x))

    tapi kalo tetep manggil ‘Oppa’ gak papa sih, terserah kau aja xD

    naisuuu d^^b #japlish :))

    Like

    • tya_EunRim

      soal bahasa koreanya butler, itu emang saya nggak tau xD anyway, kan si Catherine ini orang korea yang ke inggris-inggrisan xD jadi ya gitu deh~

      dan soal panggilan ‘Oppa’ itu…. bakal dijelaskan belakangan xD
      ada alasannya kok kenapa catherine manggil Yong Hwa pake ‘Oppa’ dan terkadang nggak menganggap yonghwa itu kaya ‘pekerja’nya 🙂

      Like

  2. kimsungrin

    kereen, aihmak sumpeh dah mau ngomong apa ini jadi bingung xD
    kurang panjang, perasaan baru baca taunya udahan u.u tapi gapapa deh asalkan lanjutannya cepet xD
    lanjuut

    Like

    • tya_EunRim

      kurang panjang? o__O
      ini tujuh halaman word tau kak -__-” udah standar ini

      next chapter~~ ummm, 3 or 4 more days maybe xD tergantung tugas sekolah :p

      Like

  3. And I? 2nd? xD

    Aku pernah baca ff, ttg butler juga, tapi kok ceritanya si butler itu seperti orang yg bantu majikannya untuk bersikap anggun-sopan-manis- blablablabla kalo disini lebih seperti bodyguard keluarga o.O

    Firasat ku LD corporation ada hubungannya sama jonghyun “Lee” untuk L, untuk D masih mystery *lol *sok tau*

    Dan lagi *sok taunya* kayanya jonghyun nih mata-mata ato bahkan pekerja di bawah umur itu xD

    Buruan mer lanjut, mau tau apa maunya jonghyun *loh xD dan akankah cathy membalas cinta yonghwa *jeng jeng* xD

    Lanjutttt~~~
    -sekian-

    Like

    • tya_EunRim

      no dear~ you’re the third one xD

      well, butler itu sebenernya semacam kepala pelayan sih~
      dan menurutku ya, tugas utama butler itu kan mengerjakan apa yang diperintahkan ke dia + apa yang dibutuhin majikannya… so, yeah… emang disini lebih kaya bodyguard karena tugasnya yonghwa kan bantu cathy buat balas dendam xD

      LD ada hubungannya sama jonghyun? well, let’s see then~ bener apa nggaknya *sok misterius*
      jonghyun mata-mata? iya dia memata-matai hatikuuuu #digeplak #narsiskumat

      -sekian-

      Like

      • Haha, iya aku kira kedua. Brarti pas baca kameg lagi komen xD

        Oh kepala pelayan :/ kenapa di ff orang yg aku baca dia malah kayak penata rias-gerak ya ‘_’ *mungkin ff nya sedang galau*
        Ya emang siapa lagi yg mau di bantu, majikannya yang lain udah mati :/

        Yah silahkan sok misterius, kalo nggak itu judulnya kamu ngasih spoiler 😛

        Geez-_- bukannya yang itu yg memata matai hati mu merrr <,< ahahaha

        -sekian-

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s